Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 080 – Berpandangan Benar dan Banyak Mendengar Ajaran

Saudara se-Dharma sekalian, jalan kita dalam berlatih ajaran Buddha terkadang sangat mulus dan tanpa rintangan, tetapi banyak juga orang yang mengalami banyak kesulitan. Mereka yang menemui kesulitan selalu berkata, “Rintangan karma saya sangat berat.” Semua menyalahkan karma. Sesungguhnya, karma bermula dari pikiran. Inilah karma lewat pikiran. Jika pikiran kita tidak bergejolak, karma lewat tubuh dan ucapan tak akan ada. Jadi, semuanya bermula dari pikiran. Oleh karena itu , saya sering berkata berlatih di jalan Buddha berarti harus menjaga pikiran dengan baik. Jika kita menjaga pikiran dengan baik, secara alami tubuh dan ucapan akan terjaga. Mulut tak akan bertutur kata buruk, dan tubuh tak akan melakukan hal buruk. Semuanya berawal dari pikiran. Karma lewat tubuh dan ucapan berawal dari pikiran. “Karma pikiran ada tiga.” Ada tiga jenis karma pikiran. Pertama adalah sifat kikir dan ketamakan; kedua adalah kebencian dan kemarahan; ketiga adalah kebodohan dan kegelapan batin. Tiga jenis karma pikiran ini disebabkan oleh kebodohan dan kegelapan batin yang membawa berbagai pandangan salah. Akibat adanya kebodohan, kita tidak memahami kebenaran.

Jika pikiran kita menyimpang, berbagai pandangan keliru akan muncul. berbagai pandangan keliru akan muncul. Dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus belajar untuk berpandangan benar. Pandangan Benar sangatlah penting. Dalam Sutra Bhaisajyaguru dikatakan, “Berpandangan benar, banyak mendengar ajaran.” Jika memiliki pandangan benar, kita akan tahu bahwa banyak hal yang kita dengar sebagian adalah benar dan sebagian adalah salah. Saya sering berkata, “Dalam kelompok 3 orang, kita pasti dapat menemukan guru.” Saat bertemu dengan orang bijak, dan mendengar ucapannya, kita harus bersyukur dan berusaha menerapkannya dalam keseharian. Orang demikian adalah guru baik yang bisa mengajarkan kita cara menghadapi orang dan masalah serta cara berinteraksi antarsesama. Ucapan mereka adalah kata-kata yang baik dan dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika bertemu dengan orang// yang berpandangan keliru, dia mungkin akan berbicara banyak. Saat mendengarkannya, kita harus waspada. Jika perkataannya salah, kita harus mengingatkan diri untuk tidak terpengaruh ataupun terbawa ke arah yang salah. Jadi, orang yang dapat membedakan benar salah adalah orang yang bijaksana. Bijaksana berarti keadaan batin kita bagaikan sebuah cermin.

Jika cermin ini dibersihkan, ia akan menjadi sangat bening dan dapat merefleksikan beraneka warna dengan sangat jelas. Akan tetapi, jika cermin ini buram, tak akan bisa memantulkan bayangan dengan baik. Jalan kita seharusnya rata dan lurus, Jalan kita seharusnya rata dan lurus, tetapi jika cermin kita buram, kita akan berjalan menyimpang. Karena itu, cermin batin kita harus senantiasa dibersihkan agar tidak tercemar oleh hal-hal yang menyesatkan. Dengan begitu, kita tidak akan berbuat salah. Perbuatan salah dan pandangan keliru disebabkan oleh kebodohan batin. Karena itu, Syair Pertobatan mengatakan, “Akibat kebodohan dan kegelapan batin, timbullah pandangan salah dan segala perbuatan tidak baik.” “Oleh karena itu, di dalam Sutra dikatakan bahwa karma dari ketamakan, kebencian, kebodohan dapat menyebabkan semua makhluk terjerumus ke alam neraka, setan kelaparan, atau binatang,// dan merasakan penderitaan.” Di dalam Sutra dikatakan bahwa apabila pikiran menyimpang, kita akan melakukan perbuatan salah.

Saat itu, kita tidak akan sadar// untuk memilih yang baik dan terus melakukan hal yang salah. Inilah mengapa berbagai Sutra sering kali mengingatkan kita bahwa mengingatkan kita bahwa ketamakan, kebencian, kebodohan// yang terwujud ke dalam perbuatan akan menciptakan karma buruk. Jika ketamakan tidak muncul atau atau tidak terwujud dalam perbuatan, maka tidak ada karma buruk yang tercipta. Sebaliknya, jika ketamakan ini timbul dan terwujud ke dalam perbuatan, saat pikiran muncul, tubuh dan ucapan ikut bergejolak, maka karma buruk pun tercipta. Oleh karena itu, di sini dibahas mengenai karma akibat ketamakan, kebencian kebodohan, yakni ketamakan, kebencian, dan kebodohan yang terwujud ke dalam perbuatan sehingga menciptakan karma buruk. sehingga menciptakan karma buruk. Karma buruk ini dalat menyebabkan makhluk hidup jatuh ke alam neraka. Akibat terciptanya karma buruk, makhluk hidup dapat terjerumus ke alam neraka. Banyak konsekuensi yang tak dapat dihindari. Baik alam neraka, setan kelaparan,// maupun binatang, semuanya adalah alam rendah yang penuh penderitaan. Kita harus senantiasa waspada. Jika kebodohan batin timbul, dan kita bertindak atas dasar kebodohan itu, akibatnya kita pasti akan menderita. akibatnya kita pasti akan menderita. Tiga alam rendah adalah alam neraka, setan kelaparan, dan binatang.

Saudara sekalian, janganlah bertanya, “Apakah neraka benar-benar ada?” Banyak orang berkata, “Saya tidak dapat melihat neraka ataupun surga.” “Jadi, saya bisa berbuat sesuka hati.” Tanpa mengetahui ada tidaknya neraka, mereka berbuat sesuka hati. Kita harus percaya bahwa orang yang berbuat baik akan terlahir di surga dan orang yang berbuat jahat akan terlahir di tiga alam rendah. Ini sama halnya jika Anda berbuat baik, orang-orang akan memuji Anda. orang-orang akan memuji Anda. Saat menerima pujian, orang bisa menegakkan kepala//dan membusungkan dada karena diminta berjalan di atas panggung, menerima banyak tepuk tangan, serta penghargaan. Saat itu, seseorang akan merasa terhormat karena dipuji banyak orang. Sebaliknya, jika melakukan perbuatan buruk, bukan hanya akan dicemooh orang banyak, kita juga akan merasa takut di dalam hati. Jika kita melakukan pelanggaran, hukum mungkin juga akan menjerat kita. Bagaimana pun kita melarikan diri, kita akan dikejar untuk ditangkap. Setiap hari akan menjadi hari yang kelam Setiap hari akan menjadi hari yang kelam dan dipenuhi ketakutan. Lihatlah, bahkan di dalam batin kita ini bisa terdapat neraka dan surga. bisa terdapat neraka dan surga.

Ketika usia kita pada kehidupan ini sampai pada penghujungnya, kita akan bertanya-tanya adakah surga atau adakah neraka. “Kalaupun ada, kabarnya saat meninggal, kesadaran akan mengembara.” “Tapi ke mana?” “Jika ke neraka, bukankah boleh kalau saya menolak?” “Saya bisa bersikeras tidak mau ke neraka.” Akan tetapi, apakah mungkin? Saat kesadaran meninggalkan tubuh, kita tak dapat mengendalikan diri. Dalam Syair Pertobatan Kaisar Liang//juga dikatakan saat kita berhenti bernapas, fenomena yang muncul di hadapan adalah berbagai hal yang Anda sukai. adalah berbagai hal yang Anda sukai. Fenomena ini akan menarik Anda. Dalam kondisi terombang-ambing itu, Anda tak dapat mengendalikan diri Anda tak dapat mengendalikan diri ataupun menentukan arah tujuan. Semua ini ditentukan oleh kekuatan karma. Dalam keadaan ini, apa yang Anda akan suka akan bermanfestasi, contohnya orang yang Anda paling cintai atau hal yang paling Anda gemari. Bagi pejudi, kasino akan muncul di hadapannya.

Saat melihat kasino, si pejudi akan tertarik untuk masuk ke sana. Saat dia mencapai tujuannya dan membuka matanya, dia akan mendapati dirinya berada di neraka, alam setan kelaparan, atau alam binatang. Apakah setiap orang masih ingat kisah yang pernah saya ceritakan dahulu? Ada seorang petapa yang senantiasa memegang teguh sila. Bhiksu muda ini sangat tekun melatih diri, pembawaannya pun sangat agung. Ada seorang wanita tua yang berpikir menyokong kehidupan bhiksu pasti memperoleh pahala yang tak terhingga. Karena petapa ini telah melatih diri dengan baik meski masih belia, maka dia berpikir jika memberinya persembahan, kelak pasti akan memperoleh pahala yang tak terhingga. Dalam keluarga wanita tua ini hanya ada dia sendiri dan putrinya. Wanita ini mengundang sang petapa untuk datang ke rumahnya. Dia berkata, “Babarkanlah Sutra kepada kami, dan Anda tidak perlu khawatir//akan kebutuhan sehari-hari.” “Saya akan menyiapkan kamar yang bersih untuk Anda tinggal.” “Anda dapat berkonsentrasi melatih diri dan membabarkan Sutra bagi saya.”

Sang petapa merasa ini adalah hal yang baik, karena ia memang hanya butuh tempat berteduh, karena ia memang hanya butuh tempat berteduh, dan membabarkan Dharma memang kewajibannya. Jadi, dia menerima tawaran tersebut dan tinggal dengan keluarga kecil ini dalam lingkungan yang baik. Dia tekun melatih diri dan membabarkan Sutra. Dia tekun melatih diri dan membabarkan Sutra. Beberapa tahun kemudian, sang wanita tua berpikir bahwa sang bhiksu muda ini telah terlalu lama tinggal di satu tempat. Jika sang bhiksu tidak melihat dunia luar dan tidak memahami penderitaan di dunia, dia tidak akan mencapai buah pencerahan. Sang wanita tua pun menjadi khawatir. Dia sudah menganggapnya sebagai putranya sendiri. Dia berharap sang bhiksu dapat mengabdi sepenuhnya bagi ajaran Buddha. Akan tetapi, sang wanita juga khawatir jika sang bhiksu terjerat godaan dunia luar.

Ada banyak godaan di dalam masyarakat. Jika sang bhiksu tak sanggup menahan diri, tentu akan menghambat pelatihan dirinya. Jadi, pada suatu hari dia berkata kepada sang bhiksu muda, dia berkata kepada sang bhiksu muda, “Anda sudah sangat lama tinggal di sini dan sudah saya anggap keluarga sendiri.” “Saya berpikir bahwa Anda masih muda.” “Apakah melatih diri harus menjadi bhiksu?” “Apakah melatih diri harus menjadi bhiksu?” “Anda juga bisa menjadi umat perumah tangga.” “Saya rasa Anda dan putri saya adalah pasangan yang ideal.” “Tinggallah bersama kami dan nikahilah putri saya.” “Bagaimana menurut Anda?” Sang bhiksu amat terkejut mendengarnya. “Itu tidak mungkin.” Dia lalu berpikir, putri wanita tua itu lambat laun akan tumbuh dewasa. Jika dia terus tinggal di rumah itu, mungkin suatu hari dia akan tergoda dan mengalami kemunduran. Ini tidak boleh terjadi. Dia merasa tidak dapat tinggal lebih lama. Jadi, dia pun bertekad untuk pergi. Suatu hari, dia berkata kepada sang wanita tua, “Saya rasa saya harus pergi untuk melihat dunia luar.” “Saya tak mungkin tinggal di sini selamanya.” Sang wanita sangat gembira mendengarnya. Ini sesuai dengan harapannya.

Dia memang berharap sang bhiksu keluar melihat kondisi dunia. Dia mengajukan tawaran tadi Dia mengajukan tawaran tadi untuk menguji keteguhan sang bhiksu. Dia sangat senang sang bhiksu tidak tergoda. Dia sangat senang sang bhiksu tidak tergoda. Sang wanita lalu berkata, “Jika Anda ingin pergi melihat dunia luar, itu juga hal yang baik, tetapi Anda harus selalu menjaga tekad Anda.” “Saya tak tahu berapa lama Anda akan berkelana atau kapan Anda akan kembali ke sini.” “Saya ingin memberikan sesuatu untuk Anda.” “Jika berkenan, tinggallah dua sampai tiga hari lagi, saya akan membuatkan mantel untuk Anda.” “Di musim dingin ini cuaca di luar amat dingin, tidak seperti di dalam rumah.” “Saya akan membuatkan mantel untuk Anda.” Bhiksu ini merasa sangat berterima kasih atas kebaikan wanita tua ini dan menerimanya. atas kebaikan wanita tua ini dan menerimanya. Beberapa hari kemudian, wanita tua itu memberikan mantel tersebut dan sang bhiksu bersiap untuk//pergi pada keesokan harinya. Keesokan paginya, sang bhiksu bermeditasi seperti biasa. Dalam meditasinya, dia tiba-tiba melihat sebuah fenomena, yakni bunga teratai yang sangat besar secara perlahan muncul di hadapannya. Dia sangat takut karena tidak yakin apa arti dari itu semua. Jadi, dia mengambil loncengnya.

Jadi, dia mengambil loncengnya dan menaruhnya di atas bunga teratai itu. Lonceng tersebut lalu menghilang. Tidak yakin apa arti dari itu semua Dia merasa fenomena itu sangat aneh. Beberapa saat kemudian, saat dia selesai berkemas dan berpamitan kepada sang wanita tua, sang wanita tua berkata, “Berhati-hatilah di luar sana.” “Kemarin di dalam kandang kuda, “kuda saya melahirkan anak, tetapi entah mengapa kuda itu mati sesaat setelah lahir.” “Di dalam mulutnya terdapat lonceng ini.” “Saya mengambil dan mencucinya.” “Guru, lonceng ini tidak asing bagi saya.” Bhiksu itu sangat terkejut dan bergumam, “Lonceng ini memang milik saya.” “Lonceng ini memang miliki saya.” “Saat bermeditasi pagi tadi, “Saat bermeditasi pagi tadi, saya melihat sekuntum bunga teratai dan menaruh lonceng ini di atasnya.” “Beruntung, jika saya merasa senang dan terpikat, lalu duduk di atas bunga teratai tersebut, hari ini saya akan terlahir sebagai anak kuda.” “Sungguh menakutkan.” Jika pikiran tidak terjaga, akibatnya sungguh menakutkan.

Meski seseorang adalah bhiksu, pikiran buruk bisa saja muncul. Walaupun beliau tinggal di rumah wanita tua, memperoleh sokongan serta persembahan, dan tak perlu risau akan kebutuhan sehari-hari, ternyata pikirannya masih dapat bergejolak. Jika pikiran menyimpang muncul, ia mungkin terlahir sebagai binatang. Apabila dia menerima tawaran dari sang wanita tua untuk menikahi putrinya, dia akan terlahir sebagai binatang. Cerita ini menjadi peringatan untuk kita untuk giat melatih diri saat tubuh kita sehat dan pikiran kita masih sangat jernih dalam melihat segala kondisi yang dihadapi. dalam melihat segala kondisi yang dihadapi. Jika tidak, maka saat kegelapan batin muncul, Jika tidak, maka saat kegelapan batin muncul, kita mungkin tak dapat mengendalikan diri. Saat pikiran menyimpang timbul, ucapan dan tindakan kita juga mungkin menyimpang dan mendatangkan akibat buruk.

Karena itu, kita harus selalu mawas diri. Apakah terlahir di neraka, alam setan kelaparan, atau alam binatang, semua bergantung pada apakah dalam keseharian semua bergantung pada apakah dalam keseharian kita menciptakan karma buruk. Jika perbuatan tidak dilakukan, artinya jika muncul niat dalam pikiran, namun tidak diwujudkan dalam tindakan, maka karma ini akan dapat dikikis. Akan tetapi, jika pikiran ini terwujud ke dalam tindakan, maka karma pun akan tercipta. Karena itu, kita harus ingat bahwa segala karma berawal dari pikiran. Jika pikiran timbul dan diwujudkan ke dalam tindakan, ini bagaikan menanam sebutir benih. Saat kondisi pendukung matang, benih tersebut akan berbuah. Jadi, yang terpenting dalam pelatihan diri adalah batin kita harus senantiasa dijaga agar tetap bersih. Janganlah menanam benih yang tidak baik. Jika menanam benih yang tidak baik, maka begitu kondisinya mendukung, musimnya tiba, dan waktunya sesuai, benih tersebut akan berbuah. Saat itu kita akan menerima buah penderitaan.

Saat itu kita akan menerima buah penderitaan. Sebelumnya kita juga telah banyak membahas bahwa kesalahan tidak boleh ditutupi. Jika bersalah, kita harus memperbaiki diri. Ini bagaikan orang yang menyerahkan diri setelah melakukan pelanggaran. menyerahkan diri setelah melakukan pelanggaran. Dia telah menerima akibat dari perbuatannya di alam manusia dalam kehidupan ini juga. di alam manusia dalam kehidupan ini juga. Dengan demikian, benih karma buruknya telah timbul saat ini juga. telah timbul saat ini juga. Setelah timbul dan berbuah, benih ini akan segera hilang asalkan segera dibersihkan. Ini bagaikan mencabuti rumput di sawah. Jika ada rumput liar di sawah, Jika ada rumput liar di sawah, petani harus membuangnya agar tidak merusak tanaman padi. Setelah rumput liar dicabuti, lahan akan bersih dari rumput. Demikian pula, saat kita memiliki pemikiran menyimpang dan melakukan pelanggaran, kita harus segera bertobat secara terbuka. Jika melanggar hukum negara, kita harus menyerahkan diri. Kita akan diadili secara adil. Apa pun hukuman yang diberikan kepada kita, harus kita terima sesuai hukum yang berlaku. Setelah masa hukuman selesai, kita memulai lembaran baru.

Jika dalam hubungan antarmanusia terjadi pertikaian, perselisihan, ganjalan, atau rasa tidak senang, kita harus segera mengakui kesalahan kepada pihak lain dan berjanji untuk memperbaiki diri. Dengan begitu, pihak lain bisa memaafkan kita. Benih noda batin di dalam hatinya pun akan hilang. Perasaan yang mengganjal di hati kita juga akan lenyap. Dengan begitu, jalinan jodoh buruk pun// berubah menjadi baik. Saya teringat ketika saya mengunjungi Rumah Sakit Tzu Chi Dalin. Pascakecelakaan kereta Gunung Ali, saya pergi ke bangsal perawatan untuk menjenguk mereka yang cedera akibat kecelakaan itu. Saat saya ingin menuruni anak tangga, seorang pria muncul//di depan kantor jaga perawat.

Dia tampaknya ingin berbicara dengan saya. Saya juga merasa mengenalnya. Saya pun berjalan ke arahnya dan bertanya, “Apa yang kamu lakukan di sini?” “Apa yang kamu lakukan di sini?” “Apakah sedang menjaga seorang pasien?” Dia menjawab, “Saudara se-Dharma saya.” Istilah “saudara se-Dharma saya”ini adalah istilah yang digunakan insan Tzu Chi adalah istilah yang digunakan insan Tzu Chi dalam menyebut suami atau istri yang bersama-sama berjalan di jalan Tzu Chi. Jadi, istrinyalah yang dirawat di rumah sakit. “Apa yang terjadi dengannya?” Dia mengalami kecelakaan. Saya bertanya, “Di kamar berapa dia dirawat?” “Antarkan saya ke sana.” Saya pergi untuk melihatnya. Dia sedang berbaring di tempat tidur dan merasa senang saat melihat saya. Dia mencoba untuk duduk. Saya berkata, “Tidak perlu duduk.” Dia berkata, “Ya, dokter juga bilang begitu.” Saya bertanya, “Apa yang terjadi denganmu?” Dia menjawab, “Saat itu saya ingin menyetorkan dana bulanan ke Zhanghua.” “Saya mengendarai sepeda motor.” “Saat saya melewati sebuah mobil di tepi jalan, “Saat saya melewati sebuah mobil di tepi jalan, pintu mobilnya tiba-tiba terbuka dan mengenai saya hingga jatuh.”

“Beruntung, saat itu di tengah jalan tidak ada kendaraan yang lewat.” “Jika ada kendaraan yang menabrak saya, mungkin sekarang kondisinya berbeda.” “Saya sangat bersyukur karena saat itu tidak ada mobil yang lewat/” Saya menjawab, “Ya, syukurlah.” Daripada berkata “Kalau saja…,” lebih baik berkata, “Untung saja.” Dia melanjutkan, “Pengemudi mobil itu adalah seorang wanita.” Saya bertanya, “Apakah dia mengunjungi Anda?” “Hanya sekali,” jawabnya. “Saat datang, diaa berpakaian sangat cantik dengan perhiasan di seluruh tubuh.” “Dia hanya datang sekali dan tidak berbicara banyak.” Suaminya lalu berkata, “Sudahlah, tidak perlu dibahas.” “Kita harus bersyukur itu bukanlah kecelakaan yang fatal.” “Tidak apa-apa.” “Kita harus bersyukur.” Dia menjawab, “Tapi bagaimana bisa ia tidak menunjukkan penyesalan sedikit pun?” Suaminya kembali berkata, “Sudahlah.” “Master selalu mengingatkan kita bahwa kita harus bersyukur.” “Jika dia tidak datang, tidak apa-apa.” “Kita yang akan mengunjunginya.” “Nanti kita bawakan buah untuknya.” “Dia mungkin terkejut.” “Saat kamu sudah pulih, kita akan mengunjunginya.” Betapa senangnya saya mendengar itu. Dia melanjutkan, “Mari kita pergi ke rumahnya dan mengenalkan Tzu Chi kepadanya.” “Kita mungkin akan mendapatkan donatur baru.”

“Lihatlah betapa dia penuh pengertian.” “Lihatlah betapa dia penuh pengertian.” Dia terus berkata tidak apa-apa, yang penting lukanya tidak fatal. “Bila dia tidak datang menjenguk, biar kita yang mengunjunginya.” “Mari kita bertamu ke rumahnya.” “Dia mungkin akan menjadi donatur ke Tzu Chi.” “Mari kita mengetuk hatinya.” Lihatlah, mereka benar-benar melakukannya. Tiada kebencian dan dendam dalam hatinya. Pihak lain pun jadi tidak khawatir. Dia mengubah karma buruk menjadi berkah. Jika mereka ingin membuat perhitungan, mereka mungkin berurusan dengan pihak berwajib. Perselisihan mungkin terjadi di antara dua pihak ini. di antara dua pihak ini. Insan Tzu Chi sangatlah mengagumkan.

Saat menghadapi suatu kondisi, batin mereka mampu mengubah kondisi itu. Karma buruk dapat diubah menjadi berkah. Jika perselisihan dilanjutkan, mereka akan menjalin jodoh buruk. Mereka memilih memaafkan dan mengunjungi sang wanita agar dia tidak merasa khawatir, bahkan mengetuk hatinya untuk menjadi donatur. Dengan begitu, //sang wanita dapat menciptakan berkah. Bukankah ini berarti// mengubah karma buruk menjadi berkah? Semua ini bergantung pada pikiran. Jadi, jika pikiran kita dipenuhi dengan niat baik, kita akan dikelilingi dengan jodoh baik. Sebaliknya, jika pikiran buruk timbul, kita akan menciptakan karma buruk// melalui ucapan dan tindakan. Saat karma ini berbuah, kita mungkin jatuh ke tiga alam rendah dan hidup dalam penderitaan. Jika bhiksu tadi berpikiran menyimpang, mungkin bukan loncengnya yang berada di kandang kuda, melainkan dirinya sendiri. Banyak jeratan di dunia ini. Kita harus sungguh-sungguh waspada setiap saat. Jadi, kita harus lebih bersungguh-sungguh.

Leave A Comment