Sanubari Teduh – 081 – Mengubah Ketersesatan Menjadi Kesadaran
Saudara se-Dharma sekalian, saya sering mengatakan bahwa segala pencapaian dicapai seiring waktu. Buah pelatihan kita juga dicapai seiring waktu. Begitu pula dengan studi akademis kita, usaha, dan karier kita. Kehidupan seseorang di dunia ini tidak akan luput dari pengaruh waktu karena waktu mencakup seluruh sendi dunia ini termasuk segala sesuatu dan kehidupan manusia. Napas kita pun bergantung pada waktu. Berapa kali kita// menarik dan mengembuskan napas dalam sedetik? Semua ini berkaitan erat dengan waktu. Terlebih lagi, pikiran kita. Segala perubahan pikiran yang terjadi, apakah tidak ada hubungannya dengan waktu? Intinya, waktu sangatlah penting bagi manusia. Akan tetapi, kita tidak menyadari dan tidak merasakan bahwa waktu begitu penting bagi kita. Kita harus selalu menghargai waktu yang ada karena waktu dapat menentukan pencapaian kita dalam pelatihan diri. Kita tak boleh menyia-nyiakan waktu. Kita harus memanfaatkannya dengan baik. Sebelumnya, kita membahas bahwa ajaran Buddha tak lain adalah bagaimana kita teguh dalam jalan pelatihan diri. Agar tekad melatih diri dapat teguh, kita harus menjaga pikiran dengan baik.
Dalam Sutra disebutkan bahwa karma dari ketamakan, kebencian, kebodohan dapat menyebabkan semua makhluk terjerumus ke alam neraka, setan kelaparan, atau binatang. Kita telah membahas ini. Oleh karena itu, noda batin dapat diidentikan dengan ketamakan, kebencian, dan kebodohan. Ketamakan, kebencian, dan kebodohan// adalah tiga racun batin. Meski terdiri atas tiga faktor, namun semuanya dapat disebut noda batin. Jadi, mereka dapat diperinci menjadi tiga, juga dapat dikelompokkan menjadi satu, yakni noda batin. Noda batin dapat dibagi menjadi tiga. Dari tiga dapat diperinci menjadi enam, dari enam menjadi delapan belas, dari delapan belas menjadi sangat banyak hingga dikatakan berjumlah 84.000. Semuanya berawal dari kegelapan batin. Dari manakah kegelapan batin ini muncul? Dari pikiran. Karena itu, saya sering mengatakan bahwa kita harus menjaga pikiran dengan baik. Jika tidak menjaga pikiran dengan baik, berbagai emosi akan timbul akibat ketamakan. kebencian, dan kebodohan ini.
Emosi muncul sebagai respon dari enam indra, Saat mata, telinga, hidung, lidah,// tubuh, dan pikiran bersentuhan dengan enam objek duniawi, timbullah kemelekatan dalam batin kita. Kesadaran kita mulai membeda-bedakan. Inilah penyebab kekacauan di dunia. Dalam hubungan antarmanusia, saat mentalitas menyimpang, maka yang terlihat adalah// seperti kondisi masyarakat sekarang ini. Banyak orang bunuh diri karena cinta. Banyak pula yang membunuh orang ataupun dibunuh orang karena cinta. Lihatlah, perasaan dan emosi sungguh merupakan belenggu yang membelenggu batin kita. Jadi, mengenai emosi, dalam berlatih di jalan Buddha, kita harus mengubah perasaan yang didasari kegelapan batin menjadi cinta kasih yang berkesadaran. Tentu, manusia tak boleh tidak berperasaan, tetapi perasaan apa yang harus dimiliki? Jika perasaan kita didasari kegelapan batin, kehidupan kita tentu akan menyimpang. Ambil cinta asmara sebagai contoh. orang tua membesarkan anak puluhan tahun. Demi memberikan segalanya bagi anak, mereka bekerja sangat keras.
Dalam Sutra Bakti Seorang Anak, ini telah dibabarkan dengan terperinci. Jika kita mengingat budi orang tua ini, bagaimana kita dapat membalasnya? Sesungguhnya, tidak akan pernah terbalas penuh. Dalam Sutra tersebut dikatakan, “Meski seseorang memanggul ayah di bahu kanan dan memanggul ibu di bahu kiri hingga bahunya terkelupas sampai ke tulang dan darahnya bercucuran, tetap tak akan dapat membalas budi orang tua.” Apakah dengan begitu//dapat membalas budi orang tua? Tidak, karena sejak anak dilahirkan, orang tua selalu memberi segalanya untuk anak. Mereka juga terus mengkhawatirkan sang anak dan bekerja keras baginya. Kini setelah mereka tua, cukupkah jika hanya memenuhi kebutuhan mereka? Tidak cukup. Akan tetapi, orang tua tidak mengharap balasan apa pun dari anak, hanya berharap anaknya sehat lahir dan batin serta berkembang dengan normal. Inilah satu-satunya harapan orang tua. Seorang murid Konfusius bertanya kepada Beliau apakah yang disebut berbakti.
Konfusius menjawab bahwa berbakti adalah tak membuat orang tua khawatir, karena satu-satunya kekhawatiran orang tua adalah kesehatan anak-anaknya. Orang tua khawatir anaknya jatuh sakit. Apakah penyakit semata-mata bersifat fisik? Penyakit fisik dapat ditangani dengan obat. Yang paling menakutkan adalah penyakit batin, yaitu pemikiran yang tidak benar. Orang berpemikiran tidak benar karena tenggelam dalam emosi dan perasaan. Hanya demi orang//yang baru dikenal beberapa hari, mereka membangkang terhadap orang tua, membuat orang tua khawatir, dan membuat orang tua menderita. Apa sesungguhnya cinta asmara ini? Mengapa dapat begitu membelenggu hingga manusia mengalami penyakit batin? Penyakit batin ini juga sangat dikhawatirkan oleh orang tua. Anak muda zaman sekarang, sejak usia belasan tahun sudah mulai tidak sungguh-sungguh belajar, dan mulai menjalin hubungan dengan lawan jenis yang kadang juga membawa masalah. Jika bukan bunuh diri, maka mencelakai orang lain. Bunuh diri, dibunuh, dan membunuh orang lain, semua berawal dari penyakit batin. Orang tua sangat khawatir. Dalam proses membesarkan anak hingga dewasa, mereka berharap anak bisa mengenyam pendidikan, kelak memiliki keluarga yang normal dan pekerjaan yang baik. Inilah harapan orang tua.
Ketidakharmonisan keluarga masa kini juga bersumber pada pikiran anggotanya. Noda batin yang ada sungguh amat banyak. Cinta asmara saja cukup membawa kerisauan. Jadi, belenggu perasaan ini dapat membuat makhluk hidup tersesat, penuh ketamakan, kebencian, dan kebodohan. Kebodohan adalah noda batin. Akibat kebodohan, semua makhluk dapat jatuh ke alam neraka, setan kelaparan, atau binatang. Kehidupan di sana sungguh menderita. Jadi, dalam berlatih di jalan Buddha,// sangatlah penting untuk menjaga pikiran dengan baik. Berikutnya, jika kita benar-benar menerima buah karma buruk di alam neraka, setan kelaparan, atau binatang, dan suatu saat penderitaan ini berakhir, berarti buah karma buruk ini telah selesai kita terima. Saat karma buruk yang menyebabkan kita terlahir di alam neraka, setan kelaparan, atau binatang sudah habis kita terima, kita akan terlahir kembali di alam manusia. Akan tetapi, kita tetap menderita karena sisa karma buruk masih ada. Di masa lampau kita telah menciptakan// banyak sekali karma buruk, maka harus menanggung derita di alam neraka, setan kelaparan, atau binatang. Jika kita menciptakan karma buruk, dengan sendirinya tidak menciptakan berkah dan tidak memperoleh buah berkah. Orang yang berbuat kejahatan, bagaimana bisa kita menciptakan kebaikan? Karena itu, mereka tidak memiliki berkah.
Kalaupun terlahir di alam manusia, akan hidup miskin dan sendirian; bersifat kejam dan bebal; menerima buah kebodohan dan ketidaktahuan. “Demikianlah akibat dari karma pikiran.” mulai hari ini, kita semua harus sungguh-sungguh bertobat. Terlahir di alam manusia,//ada orang yang tetap menderita, hidup kekurangan dan dikucilkan. Berbicara tentang kemiskinan, kita mungkin teringat para penerima bantuan Tzu Chi. Mereka adalah yang dapat langsung kita lihat. Ada pula yang belum kita lihat secara langsung, yakni banyak orang yang menderita//di seluruh dunia. Berapa banyak orang menderita dapat kita lihat? Tentu, jika kita dapat melihat mereka, kita dapat mencari cara menolong mereka agar kehidupan mereka menjadi lebih baik. Setiap hari pada pertemuan pagi kita mendengar relawan bercerita bahwa di RS Tzu Chi banyak lansia yang hidup sebatang kara. Meski memiliki anak dan keluarga, tidak ada orang yang merawat mereka. Mereka hidup dalam kesendirian. Mereka bukan hanya hidup kekurangan. Hidup kekurangan tentu sangat kasihan, namun selain miskin mereka juga kesepian. Banyak orang seperti ini. Ada pula orang yang kejam dan bebal. Orang seperti ini bersifat kejam. Meski orang lain baik terhadapnya, ia tetap tidak tersentuh dan tidak berterima kasih.
Mereka menganggap itu sudah seharusnya. Karena itu, kita melihat banyak orang yang orang tuanya bekerja keras, namun ketika dewasa, mereka tak menghargai jerih payah orang tuanya, malas bekerja dan hanya menghabiskan harta. Mereka tidak mau bekerja, namun pandai menghamburkan uang. Mereka gemar pergi ke bar atau tempat perjudian untuk mencari kesenangan sesaat. Saat pulang ke rumah, mereka hanya meminta uang kepada orang tua. Jika tidak diberikan, mereka tidak senang dan mungkin memukul bahkan membunuh orang tua. Dalam masyarakat, banyak kasus di mana orang tidak memiliki sedikit pun rasa syukur atau cinta kasih di dalam hati. Orang tua sendiri saja tega mereka bunuh, apalagi orang lain. Orang seperti ini di masa lampaunya telah banyak melakukan karma buruk dan telah terlahir di tiga alam rendah. Akan tetapi, tabiat mereka belum berubah. Contohnya, banyak orang yang melanggar hukum di masyarakat dan dijatuhi hukuman oleh pengadilan. Ketika masa hukuman selesai, mereka masih ingin membalas dendam. Mereka tidak pernah berpikir bahwa dahulu mereka pernah melukai orang dan pernah melakukan kesalahan. Mereka tidak berintrospeksi ataupun bertobat. Dalam hati mereka hanya ada dendam, kemarahan, dan kebencian.
Orang seperti ini akan dikucilkan. Mereka juga termasuk orang miskin karena selain kekurangan dari segi materi, mereka miskin cinta kasih di dalam batin, kekurangan rasa syukur, juga kekurangan rasa empati. Orang-orang seperti ini termasuk orang yang miskin dan sendirian. Sikap mental mereka tidak normal dan tidak benar. Keinginan untuk bunuh diri juga merupakan sikap mental yang tidak benar. Zaman sekarang ada penyakit yang disebut bipolar disorder, depresi, dan skizofrenia. Semuanya adalah penyakit psikis. Suatu hari, kepala rumah sakit kita dan beberapa dokter mengunjungi saya. Saat itu saya bertanya mengapa ada begitu banyak penyakit yang dapat disembuhkan dengan obat, tetapi ada satu jenis penyakit yang cenderung disembunyikan orang, bahkan si penderita tidak mau pergi berobat. Bahkan bagi mereka yang bekerja di rumah sakit, jika mereka menderita penyakit ini, yakni penyakit psikologis, mereka tidak berani memeriksakan diri// di RS tempat mereka bekerja, dan lebih memilih berobat ke RS lain. Yang menutupi penyakit ini bukan hanya diri mereka sendiri, melainkan juga keluarga mereka. Ini menyebabkan penyakit mereka semakin parah.
Akibatnya, karena kurangnya perhatian, mereka pun bunuh diri. Saya bertanya kepada para dokter tentang penyebab penyakit tersebut. Mereka menjawab bahwa// pengaruh gen adalah salah satunya. Tentu, mereka menjelaskan banyak sebab, di antaranya adalah gen. Saya bertanya, “Bukankah gen seperti karma?” Berbicara tentang gen, ia bagaikan sebutir benih, dalam ajaran Buddha disebut karma. Dari manakah karma ini berasal? Dari kegelapan batin. Jika memiliki penyakit, haruslah diakui dan segeralah mencari pengobatan. Seseorang akan sembuh asalkan mampu mengangkat tekanan hidupnya. Tekanan ini bukan ada karena kesibukan kerja. Bukan. Tekanan datang dari dalam batin sendiri. Ini adalah penyakit psikis. Penyakit ini tak akan melukai orang lain, melainkan melukai diri sendiri. Ini juga merupakan penyakit batin. Dengan kemajuan teknologi, segala jenis penyakit dapat ditangani, tetapi kadang manusia//tidak mau menerima kenyataan, maka ketika menderita sakit, mereka menyembunyikannya. Kita sering membahas tentang pertobatan. Bertobat berarti tidak menutupi kesalahan. Jika bersalah, kita harus berterus terang. Jika menyadari pemikiran kita mulai menyimpang, kita harus cepat-cepat menemui seseorang untuk menyatakan pertobatan secara terbuka. Karena itu, di dalam vihara, sering diadakan Ksama.
Persamuhan ini bertujuan agar orang lain tahu pemikiran keliru apa//yang kita miliki akhir-akhir ini. Kita memahami prinsip kebenaran, hanya saja tidak dapat berpikiran terbuka. Kita harus mencari teman yang dirasa nyaman diajak berbicara untuk menceritakan masalah kita. Mereka dapat mencari cara membantu kita. Ini juga termasuk pengakuan terbuka, tidak lagi menyimpan kerisauan di dalam hati, melainkan membuka kerisauan batin kita dan membiarkan orang lain mengetahuinya. Ini diperlukan karena meski kita mengetahui kebenaran, namun banyak kerisauan dalam batin kita dan tidak ada orang yang mengingatkan. Jika ada yang mengingatkan kebenaran yang sesungguhnya telah kita ketahui, maka meski hanya satu kalimat, kita akan sadar bahwa sesungguhnya kita tahu, tetapi tidak terpikir untuk mempraktikkan kalimat itu guna melenyapkan belenggu batin kita. Intinya, semua makhluk memiliki sifat bebal. Adakalanya, ketika dinasihati, kita tidak terima dan tetap keras kepala atau bersikap bebal. Ini merupakan akibat dari akumulasi kegelapan batin dari kehidupan ke kehidupan.
Kita tak boleh terjerumus dalam kebodohan ini. Kita membutuhkan bimbingan dari orang lain yang menunjukkan jalan. Jika tidak demikian, selamanya kita akan tenggelam dan pasti menderita, terus-menerus terlahir kembali di tiga alam rendah atau terlahir sebagai manusia yang miskin dan kesepian atau manusia yang kejam dan bebal, penuh kebodohan dan ketidaktahuan. Lingkaran buruk ini tak akan pernah berakhir. Beragam buah karma akibat noda batin ini berawal dari karma pikiran. Jadi, dalam berlatih di jalan Buddha, hal terpenting adalah menjaga pikiran dengan baik. Noda batin berasal dari pikiran. Pikiran adalah bagian dari batin kita. Batin kita diliputi noda sehingga pemikiran kita bisa menyimpang. Jadi, dalam mempelajari jalan Buddha, tidak boleh mengabaikan pikiran. Sebersit niat pikiran dapat menimbulkan 84.000 jenis noda batin. Sungguh menakutkan. Delapan puluh empat ribu melambangkan jumlah yang tak terukur. Dengan menjaga sebersit niat agar senantiasa murni dan sederhana, maka noda batin yang kompleks akan lenyap. Untuk itu, harap semua lebih bersungguh hati.