Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 082 – Tulus Membuang Kekotoran Batin

Saudara se-Dharma sekalian, setiap hari kita berkata tentang menjaga pikiran dengan baik. Sudahkah kita melakukannya? Tanyalah pada diri sendiri. Sebersit saja pikiran menyimpang, mungkin akan berdampak sepanjang hidup. Kesalahan yang dilakukan semasa hidup akan berdampak dari kehidupan ke kehidupan. Semua ini hanya diawali sebersit pikiran. Karena itu, Buddha mengajarkan kita untuk senantiasa mengintrospeksi diri dengan sungguh-sungguh.  Jika ada kesalahan yang kita lakukan, maka segeralah bertobat. Jika kita selamanya tidak mau  mengakui kesalahan dan bertobat, maka kita akan terlahir di tiga alam rendah. Jangka waktu di alam tersebut sangat panjang. Hal ini juga telah dijelaskan  dalam Sutra Ksitigarbha. Jangka waktu di alam rendah sangatlah panjang sehingga makhluk di alam ini tidak dapat membebaskan diri karena masa kehidupannya teramat panjang. Setelah terbebas dari tiga alam rendah dengan susah payah, kita akan terlahir kembali sebagai manusia. Kita sering berkata bahwa terlahir sebagai manusia adalah berkah.

Akan tetapi, lihatlah dunia ini, betapa banyak orang yang hidup menderita. Tentu, fenomena lahir, tua, sakit, dan mati// adalah penderitaan.  Akan tetapi, dalam berbagai aspek kehidupan, ada juga yang menderita karena kesepian meski hidup berkelimpahan. Mereka memiliki anak, tetapi tidak berbakti. Mereka juga tidak mengerti makna bersumbangsih bagi masyarakat, hingga akhirnya dikucilkan orang lain. Maka, hidup berkelimpahan namun kesepian juga merupakan penderitaan yang tak terkira. Ini disebut orang kaya yang miskin spiritual. Apakah mereka bahagia? Tidak, mereka tidak bahagia. Mereka sangat menderita. Tentu ada juga orang yang miskin secara materi sekaligus miskin secara spiritual. Bukan hanya miskin dalam hal materi, mereka juga tidak punya tempat bersandar, tidak memiliki anak,  atau anak mereka tak berbakti. Mereka hidup dalam kemiskinan. Orang seperti ini sungguh banyak. Mereka hidup miskin dan kesepian. Ada orang yang hidup berkelimpahan, namun apakah mereka merasa puas? Tidak. Mereka malah bersifat kejam dan bebal. Lihatlah masyarakat zaman sekarang, banyak remaja atau orang berusia paruh baya ke atas yang hidupnya bermasalah// bukan karena kebutuhan hidup, melainkan karena tidak memiliki cinta kasih ataupun perasaan.

Mereka memiliki sikap kasar dan kejam. Sikap ini membuat orang takut pada mereka. Sikap ini membuat orang takut pada mereka. Orang-orang akan menghindari mereka. Apakah hidup mereka bahagia? Contohnya, ada seorang polisi wanita berbagi pengalaman. Saat dia mengunjungi seorang pasien, dia merasa pasien itu bertemperamen buruk. Ketika menyapa pasien itu, dia langsung tahu orang itu bertemperamen buruk. Saat melihat tubuh orang itu penuh dengan tato, terlintas di pikiran bahwa dia adalah penjahat, orang jahat yang kini terbaring sakit. Lalu terlintas lagi di pikirannya, “Orang jahat ini pantas jatuh sakit.” Akan tetapi, muncul pemikiran lain, “Master berkata bahwa semua noda batin muncul dari pikiran.” “Apakah seseorang baik atau jahat, pikiran kita jugalah yang membedakannya.” “Kadang orang jahat juga dapat berubah, apalagi kini dia terbaring sakit.” “Saya tak patut menganggapnya// sebagai penjahat.” “Sayalah yang telah menjadi orang jahat.” “Pikiran saya sendirilah pelopornya.” Benar, mungkin orang itu pernah berpikiran sesat di masa lalu atau mungkin berperilaku menyimpang,  seperti menato sekujur tubuhnya  dengan gambar naga, burung phoenix, harimau, dan macan tutul. Ini membawa kesan menakutkan bagi orang lain. Inilah cara dirinya menunjukkan kejantanan.

Kehidupan seperti ini hanya disebabkan sedikit pikiran menyimpang sehingga dia bersifat kejam dan bebal. Pria ini pasti telah menjalani hidup dengan penuh penderitaan akibat kebodohan dan ketidaktahuannya. Dia tidak memiliki kebijaksanaan sehingga hidup dalam ketersesatan dan menapaki jalan yang salah. Ini juga merupakan wujud tabiat buruk yang dibawa dari kehidupan lampau ke kehidupan sekarang. Ditambah dengan pengaruh lingkungan, tabiatnya terkondisi untuk semakin bertumbuh. Karena itu, dalam kehidupan ini, dia kurang memiliki kelembutan, perhatian, dan pemahaman terhadap orang lain. Jadi, memiliki hati yang kejam sungguh membuat orang lain merasa takut. Karena itu,dia tidak bahagia di dunia ini. Tiada hal yang membuatnya bersukacita. Orang seperti ini sungguh diliputi kebodohan dan ketidaktahuan, tidak memiliki kebijaksanaan. Ini merupakan buah karma akibat dari noda batin. Dalam berbagai kehidupan lampaunya, mungkin saja sebelum terjatuh ke tiga alam rendah, dia pernah melakukan kejahatan, dan tabiat buruk yang terakumulasi ini tetap tidak berubah setelah dirinya terbebas dari alam rendah.

Dia belum bertobat dan memperbaiki diri. Sisa tabiat buruknya belum terkikis habis. Karena itu, saat terlahir di alam manusia, dia masih membawa tabiat lama. Tabiat buruknya masih ada. Tabiat buruk sangatlah menakutkan. Karena itu, saya sering mengatakan bahwa pada hakikatnya setiap orang memiliki hati yang sama dengan Buddha. Hati kita ini pada hakikatnya bersifat murni seperti Buddha. Jadi, manusia pada dasarnya bersifat bajik. Ini adalah kebenaran yang pasti. Hanya saja, kita masih dipengaruhi  oleh kebiasaan-kebiasaan buruk. Sebagaimana sang polisi wanita, hanya dengan melihat tato di tubuh pria itu, muncul pikiran bahwa orang itu adalah penjahat. Inilah stereotip yang ada di masyarakat selama ini. Sungguh, tubuh seseorang berasal dari orang tua. Membuat tato pada tubuh adalah tindakan merusak tubuh dan kulit. Mengapa orang ingin melakukannya? Demi kesenangan sesaat dan karena kebodohan seketika. Karena itulah, mereka membuat tanda di tubuh yang selamanya tak dapat dibersihkan.

Keinginan ini tentu juga dikarenakan oleh tabiat buruk masa lampau. Selain itu, bagi yang melihat, merasa kebiasaan tersebut tidaklah baik. Pandangan ini disebabkan oleh kebiasaan dan stereotip masyarakat, juga disebabkan oleh tabiat buruk diri sendiri yang belum terkikis habis sejak dulu. Inilah kesalingterkaitan dalam masyarakat. Jika kita memiliki jalinan jodoh yang baik untuk mengenal ajaran Buddha, maka kita akan bertemu dengan orang yang dapat membantu kita mengembangkan sukacita atau welas asih yang tidak kita miliki sebelumnya. Lihatlah, kita juga sering mendengar    tentang banyak relawan Tzu Chi yang sebelumnya juga pernah tersesat,  karena mereka juga manusia awam yang hidup di tengah masyarakat. Akan tetapi, karena berada lingkungan Tzu Chi, banyak orang membimbing mereka dengan penuh kesabaran dan kasih sayang. Lingkungan ini juga bisa berdampak positif bagi orang yang bertabiat buruk, karena dengan adanya pendampingan, dia dapat mengubah dan memperbaiki diri. Intinya, Cinta kasih dan kebajikan yang hakiki pada dasarnya dimiliki semua orang.

Akan tetapi, untuk mengatasi tabiat buruk,// butuh waktu untuk senantiasa mengingatkan diri. Dibutuhkan juga lingkungan dan jodoh yang baik yang mendukung kita dalam proses ini. Karena itu, jangan membiarkan diri kita tersesat dan menyimpang sedikit pun karena dengan lepasnya jalinan jodoh baik, kita akan segera jauh tersesat dan kembali ke lingkungan yang sesat mengingat jalan yang baik ini belum menjadi kebiasaan kita. Jalan yang baik juga harus dibiasakan. Berhubung telah terbiasa berjalan di jalan yang buruk, maka jika tiba-tiba ingin// berjalan di jalan yang baik, tentu dibutuhkan orang yang sabar dan penuh kasih sayang untuk membimbing dan mendampingi secara terus-menerus. Setelah beberapa lama didampingi, jalan ini akan secara alami menjadi kebiasaan. Selain menjadi kebiasaan, dia juga dapat membimbing// orang lain untuk kembali ke jalan ini. banyak kesempatan bagi makhluk hidup// untuk tersesat. Untuk mengembalikan mereka pada sifat hakiki, sebaliknya butuh perjuangan. Untuk membimbing orang-orang seperti itu, diri sendiri harus memiliki keteguhan.

Karena itu, dibutuhkan kekuatan besar dari sebuah organisasi. Kunci pelatihan di jalan Buddha hanyalah terletak pada pikiran. Karena tabiat buruk telah terpelihara, maka sulit untuk mengubahnya. Karena itu, butuh tekad yang kuat. Banyak buah karma yang kita terima merupakan akibat dari noda batin. Noda batinlah yang menjadi penyebab dari semua ini. Banyak sekali noda batin yang muncul dari kegelapan batin sesaat. Kegelapan batin yang muncul sesaat dapat melahirkan banyak noda batin. Banyaknya noda batin akan menciptakan  karma buruk yang tak terhingga. Karena itu, noda batin disebut identik// dengan kegelapan batin. Kegelapan batin adalah kebodohan. Akibat kebodohan, muncullah ketidaktahuan. Ketidaktahuan lalu menghasilkan noda batin. Noda batin lalu menciptakan banyak karma. Semua ini adalah unsur yang sama yang berkembang terus-menerus hingga membawa penderitaan yang tak terkira. Syair berikutnya mengatakan, “Demikianlah akibat dari karma pikiran.” Semua hanya disebabkan sebersit pikiran. Mengenai pikiran, sesungguhnya adalah salah satu dari enam indra. Enam indra terdiri atas mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran.

Pikiran merujuk pada kesadaran berpikir. Kesadaran timbul akibat kontak dengan objek luar baik suara maupun rupa dan sebagainya. Ketika mata mengalami kontak dengan objek rupa, muncullah kesadaran melihat. Kita lalu dapat membedakan sesuatu, misalnya ini adalah pohon, rumput; ini berwarna hijau, merah, dll. Indera mata berkaitan dengan kesadaran melihat. Kesadaran melihat berkaitan dengan objek luar. Sesungguhnya, jika ditilik kembali, kesadaran bergantung pada pembedaan oleh pikiran kita. Kita membedakan yang kita sukai dan yang tidak kita sukai. Saat mendengar ucapan orang tertentu, kita bisa sangat menghargainya dan menganggapnya sebagai pelajaran bagi kita. Meski berisi kritikan, kita menerimanya dengan rasa syukur dan segera memperbaiki diri dengan mengakui kesalahan kita. Orang seperti ini dapat menerima saran orang lain dengan cepat. Kebiasaan buruknya mudah diperbaiki.

Sebaliknya, saat seseorang dengan itikad baik menasihati kita, jika pikiran menyimpang, kita akan berkata, “Memangnya kenapa?” “Yang penting saya senang.” “Saya tahu itu salah, tetapi saya senang melakukannya.” “Saya sengaja melakukannya.” Begitulah orang yang sengaja berbuat salah. Ini juga dilandasi oleh pikiran. Jadi, saat kita mengalami kontak dengan objek luar, pikiran kitalah yang membedakan baik atau buruknya. Jika tak dapat berjalan di jalan yang baik, seseorang tak akan dapat memperbaiki diri. Orang yang tak dapat memperbaiki diri akan terus menimbun karma buruk. Oleh karena itu, kita harus sungguh-sungguh berintrospeksi. Jadi, mulai saat ini, kita harus dengan tulus hati “berlindung kepada para Buddha”. Hanya dengan ajaran Buddha-lah kita dapat membersihkan noda batin kita. Buddha adalah orang yang tercerahkan. Pencerahan-Nya telah menembus kebenaran hakiki dari alam semesta. Hanya lewat kebijaksanaan Buddha kita dapat memahami kebenaran.

Karena itu, kita sepatutnya berlindung dengan tulus sepenuh hati. Sepenuh hati berarti bersungguh-sungguh. Saya sering menjelaskan// makna aksara Tionghoa “berlindung”, yakni berpaling kembali dari hitam ke putih. Putih melambangkan kebajikan. Putih melambangkan cahaya yang sangat cemerlang. Kita hidup dalam ketidaktahuan. Ketidaktahuan bagaikan kegelapan. Jika kita melihat hari sudah gelap, saat keluar rumah, kita harus membawa senter agar dapat melihat dengan jelas    jalan yang berlubang atau berair. Kita perlu senter untuk menerangi jalan karena gelapnya malam. Jika tanpa membawa senter kita berjalan keluar begitu saja, maka akan sangat berbahaya karena di luar sangat gelap. Sebaliknya, cahaya terang bagaikan siang hari. Di siang hari, saat ada sinar matahari, kita tidak membutuhkan senter saat keluar. Dengan adanya cahaya alami di luar, kita dapat mengenali jalan di depan kita. Karena itu, terang bagaikan kebijaksanaan kita. Dengan adanya kebijaksanaan, kita tidak akan berbuat salah. Kata “berpaling” merujuk pada kejahatan atau juga kegelapan. Ketidaktahuan berarti kegelapan.

Ketika pikiran kita diliputi kegelapan, semua tindakan kita menjadi keliru. Semua pemikiran dan pandangan kita// akan menyimpang. Begitu tindakan kita menyimpang, kita akan menciptakan karma buruk. Jadi, makna kata “berlindung” dalam aksara Tionghoa sungguh unik. Kini setelah berlindung pada Buddha yang telah mencapai pencerahan sempurna, maka mulai dari sekarang, kita perlu berpaling dari kegelapan batin masa lalu menuju kecemerlangan. Sama halnya dengan kondisi malam. Setelah melewati kegelapan malam ini, kita kembali berada di siang hari yang terang. Prinsipnya sama saja. Jadi, bajik berarti tidak melakukan kesalahan. Inilah kebajikan. Kita jauh dari kesalahan karena dapat melihat sekeliling kita dengan sangat jelas dan dapat memahami kebenaran dengan baik.

Jadi, kita tidak akan berbuat kesalahan. Inilah yang disebut kebajikan. Kejahatan muncul akibat// tidak memahami kebenaran. Karena itu, kita terus melakukan kesalahan yang membawa terciptanya karma buruk. Jadi, mulai sekarang, kita harus memahami bahwa mungkin saja banyak noda batin dari kehidupan lampau yang membuat kita menciptakan karma buruk. Kini kita telah mengetahui bahwa di masa lalu kita telah berbuat karma buruk dan telah berpaling darinya. Ini bagaikan seseorang yang pernah berjalan ke arah yang gelap, dan setelah memahami kebenaran, kini berpaling ke arah yang cemerlang. Berarti kita telah berpaling dari kegelapan menuju ke arah yang cemerlang. Inilah yang disebut berlindung. Makna berlindung harus meresap sepenuhnya ke dalam kehidupan kita. Dalam kehidupan kita sekarang maupun masa lampau, mungkin kita pernah keliru memanfaatkannya. Kini kita telah berlindung pada Buddha, maka kelak kita tidak boleh melakukan kesalahan lagi. Kita harus membaktikan hidup kita sejak saat ini hingga selamanya. Kita harus mendekatkan diri pada Buddha dan bertobat dengan tulus. Kesalahan yang kita lakukan di masa lalu sungguh sangat menyedihkan.

Karena itu, kita harus memulai langkah baru. Kita harus bertobat. Pertobatan bermakna pemurnian. Saya sering berkata bahwa Dharma bagaikan air. Orang yang mengerti untuk bertobat akan dapat memanfaatkan Dharma untuk menyucikan batinnya. Hukuman terbesar dalam hidup adalah penyesalan. Jika menunggu sampai berbuat kesalahan baru menyesal, itu akan terlambat. Jadi, menyadari kesalahan di masa lalu, kita harus segera membersihkannya sehingga tidak menyesal di masa mendatang. Jadi, kita harus senantiasa mempraktikkan  dan meresapi ajaran Buddha ke dalam batin kita. Jika air suci Dharma ini dapat meresap ke dalam batin kita, maka pikiran kita akan selalu murni. Untuk itu, kita harus memohon belas kasihan dan bertobat. Selanjutnya dikatakan, “Mengenai noda batin ini, para Buddha, Bodhisattva,// dan para suci yang tercerahkan mencelanya dengan berbagai cara.” Mengenai noda batin, yang dimaksud di sini sama dengan yang tadi telah dibahas, yakni ketamakan, kebencian, kebodohan, dll. yang kemudian berkembang menjadi tak terhingga, dikatakan sebanyak 84.000 noda batin. yang telah kita ciptakan. Selanjutnya dikatakan,// “Para Buddha, Bodhisattva, dan para suci yang tercerahkan,” yakni para suci yang telah memahami kebenaran.

Mereka terus menggunakan berbagai cara untuk menunjukkan kesalahan kita. Mereka menunjukkan kesalahan kita dan mengajarkan cara memperbaiki diri. Makhluk hidup banyak yang//berkemampuan tumpul. Di awal disebut dengan istilah “bebal”. Untuk meminta mereka agar segera memperbaiki diri dan menyadari kesalahan sangatlah sulit. Karena itu, dalam Sutra Teratai dikatakan bahwa selama 42 tahun pertama, Buddha hanya membabarkan metode terampil. Saat berada di dunia ini, Buddha membabarkan Dharma selama 49 tahun. Selama 49 tahun tersebut, dalam 42 tahun pertama, Buddha membabarkan banyak metode terampil sesuai dengan daya serap semua makhluk. Karena para makhluk memiliki 84.000 noda batin, maka Buddha menggunakan 84.000 metode ajaran yang sesuai dengan kemampuan mereka.

Untuk memberikan ajaran yang mengena, harus menggunakan metode terampil. Setelah mengajar selama 42 tahun, di persamuhan Saddharma Pundarika, Buddha mulai membabarkan ajaran utamanya dan menjelaskan kepada semua orang bahwa ajaran yang telah Beliau babarkan sebelumnya hanyalah metode terampil yang bertujuan membimbing para makhluk untuk masuk ke dalam pintu Buddha Dharma agar semua orang memahami kesalahan masa lalu, dan memberi tahu bahwa jika kita meninggalkan kesalahan tersebut, apa yang akan kita dapatkan. Jadi, dibabarkanlah Tiga atau Lima Kereta, yakni ajaran untuk terlahir// di alam dewa atau manusia, serta ajaran jalan Sravaka,// Pratyekabuddha, dan Mahayana. Ini karena semua makhluk selalu mengharapkan hasil dari suatu usaha, demikian pula dalam pelatihan diri. Karena itu, Buddha mengatakan bahwa metode apa yang kita gunakan untuk berlatih, buahnya akan sesuai dengan metode tersebut. Inilah metode terampil yang digunakan Buddha untuk membimbing kita agar tertarik memasuki pintu Buddha Dharma.

Akan tetapi, saat pembabaran Sutra Teratai, Buddha mengatakan bahwa sejak hari itu, Beliau akan meninggalkan metode terampil dan langsung membabarkan Jalan Bodhi yang lurus. Hanya ada satu jalan, dan ini merupakan jalan yang lapang dan lurus, yaitu Jalan Bodhisattva. Meski dahulu Buddha mengajarkan untuk mencapai kesucian tingkat pertama, kedua, ketiga, hingga Arahat, semua ini hanyalah sebuah metode terampil untuk memotivasi kita. Metode lainnya mengajarkan untuk mencari kelahiran di suatu tanah suci. Sesungguhnya,// tanah suci ada di dalam batin kita. Jadi, di mana kita mencari ajaran Buddha? Buddha dan Dharma ada dalam diri kita. Kita memiliki Tiga Permata yang hakiki. Hal terpenting adalah bagaimana dapat memahami secara jelas kebenaran sejati dalam hidup ini. Kita harus menapaki Jalan Bodhisattva. Lihatlah, insan Tzu Chi adalah sekelompok Bodhisattva dunia. Daripada membaca Sutra, mereka mempraktikkannya secara langsung dan menyaksikan// fenomena lahir, tua, sakit, dan mati.

Buddha mengajarkan kepada kita bahwa langkah awal dalam melatih diri adalah memahami Empat Kebenaran Mulia. Jika dijabarkan, Empat Kebenaran Mulia, mengandung banyak aspek yang lebih kompleks. Akan tetapi, jika hanya dijelaskan lisan, berapa banyak yang dapat diketahui? Berapa banyak yang dapat kita ketahui, dan berapa banyak yang dapat kita pahami? Lebih baik melihatnya secara langsung. Dengan mengunjungi rumah sakit,// kita dapat melihat bahwa tubuh manusia bersifat kotor dan perasaan sungguh membawa penderitaan. Selain itu, pikiran manusia sungguh tidak kekal. Lalu apakah ada “aku” yang sejati? Amatilah dengan sungguh-sungguh di RS, maka dalam sehari kita akan memahami Empat Kebenaran Mulia. Kebenaran tentang fenomena lahir, tua, sakit, dan mati juga dapat diamati di sana. Ini adalah empat fase kehidupan— lahir, tua, sakit, mati. Lihatlah, berapakah nilai tubuh kita? Di mana letak harga pandangan dan pemikiran seorang manusia? Jika mengunjungi ruang kejiwaan, kita akan melihat ada orang yang sehat, namun mengapa kejiwaannya bermasalah? Kehidupannya menjadi berantakan.

Dalam kehidupan manusia, sesungguhnya bagaimana kita mengendalikan tubuh dan pikiran agar tetap sehat? Sulit. dalam ajaran Buddha banyak penyakit makhluk hidup yang dibabarkan dengan terperinci. Tujuannya adalah menyembuhkan penyakit itu. Sumber utama penyakit kita adalah kegelapan batin. Akar dari ini semua adalah noda batin. Demikianlah, noda dan kegelapan batin adalah sumber penyakit kita. Terutama di 3 alam rendah dan alam manusia, kita mengalami berbagai penderitaan  yang sungguh menyiksa akibat karma yang tak hentinya berbuah. Setiap pagi, pada pertemuan pagi relawan,  banyak relawan berbagi tentang apa yang mereka lihat di rumah sakit. Mereka merasa hidup sungguh penuh penderitaan. Dari manakah sumber karma yang terus berbuah ini? Mungkin benar, kita tidak berbuat salah dalam kehidupan ini, tetapi karma buruk dari kehidupan lampau tak hentinya berbuah dalam kehidupan kita. Kita tidak dapat mengendalikannya. Ini sungguh menakutkan. Karena itu, Buddha menggunakan berbagai cara untuk menjelaskan prinsip itu kepada kita. Karena itu, Saudara sekalian, bertobatlah. Dharma bagaikan air. Jika batin kita sering dibersihkan oleh air jernih ini, maka saat menghadapi berbagai kondisi luar, kita dapat selalu meningkatkan kewaspadaan. Harap semua senantiasa bersungguh-sungguh.

Leave A Comment