Sanubari Teduh – 083 – Giat Memanfaatkan Masa Kini demi Membina Masa Depan
Saudara se-Dharma sekalian, Dharma bagaikan air. Sudahkah kita menggunakan air Dharma untuk menyucikan pikiran kita setiap hari? Kita harus senantiasa mawas diri, dan tekun dalam pelatihan spiritual. Bagaikan tinggal di sebuah rumah, jika kita tidak rajin merawatnya, rumah tersebut akan segera menjadi kotor, tidak rapi, dan berbau tidak sedap. Karena itu, kita perlu selalu membersihkan tubuh dan pikiran kita. Bukan hanya tubuh harus sering dibersihkan, terlebih pikiran harus dibersihkan. Tubuh kita dibersihkan dengan menggunakan air. Untuk membersihkan pikiran, kita harus menggunakan air Dharma. Buddha membabarkan Dharma selama 49 tahun, namun setelah parinirvana, tubuh Dharma dan jiwa kebijaksanaan-Nya// terus diwariskan hingga lebih dari 2.000 tahun seperti sekarang. Inilah air Dharma kebijaksanaan Buddha. Jika kita dapat menerima dan menerapkannya, batin kita dapat dibersihkan// secara berkesinambungan. Sebagian orang berkata, “Saya mengenal Dharma, hanya saja terlalu sulit dipraktikkan, berilah saya beberapa waktu.” Mereka mengetahui ajaran ini, tetapi tidak sanggup mempraktikkannya dan hendak mengulur waktu. Situasi mereka bagaikan air yang disiramkan pada sebuah batu.
Batu itu sangat kering tersengat matahari. Saat air dituangkan ke atas batu, matahari tetap bersinar dengan teriknya. Akibatnya, air tak dapat membasahi batu itu. Batu hanya terlihat basah sementara waktu. Akan tetapi, karena air tidak terserap, dengan segera ia akan menguap dan kering. Bukankah kita juga seperti ini// saat mendengarkan Dharma? Kita tahu bahwa itu adalah kebenaran, tetapi tidak benar-benar meresapinya sehingga tidak memperoleh manfaat. Hanya kenal dan tahu saja tak ada gunanya. Kita harus meresapinya ke dalam batin. Sebagaimana telah kita ketahui sebelumnya bahwa benih dan buah karma buruk berproses dalam siklus tanpa akhir. Hal ini telah dijelaskan sebelumnya. Ketidaktahuan melahirkan noda-noda batin seperti ketamakan, kebencian, kebodohan,// kesombongan, keraguan, dsb. 84.000 jenis noda batin timbul dari sebersit kegelapan batin yang tumbuh terus-menerus// dengan siklus tanpa akhir. Dengan timbulnya niat buruk,// kita melakukan kejahatan dan mendatangkan buah karma. Maka, dikatakan bahwa akibat adanya buah karma, diperolehlah buah penderitaan. Di awal telah dijelaskan bahwa siklus seperti ini tidak berujung. Karena telah mengetahuinya, maka kita harus segera bertobat. Saya terus menyerukan kepada semua orang// untuk bertobat. Bertobat bagaikan membersihkan batin.
Selama Anda rajin membersihkannya, Selama Anda rajin membersihkannya, suatu saat batin akan benar-benar bersih. Ada orang bertanya, berapa lama mereka perlu melakukan ini agar hidup mereka menjadi lebih baik dan benar-benar dapat mencapai tahap menyelamatkan diri sendiri dan orang lain. Bahkan ada sebagian orang merasa bahwa mereka sudah sangat tekun berlatih. Ketika mendengar ceramah saya, mereka setuju bahwa sungguh banyak bencana di dunia ini. Bagaimana cara yang lebih cepat untuk menyelamatkan bumi dari bencana? Mereka pun memulai pencarian dan mencoba memahami lebih banyak hal. Mereka mencari cara bagaimana agar dapat segera mencapai pencerahan sendiri agar kemudian dapat menyelamatkan orang lain. Tujuan mereka memang baik. Akan tetapi, jika menyimpang sedikit saja, akibatnya akan sangat fatal. Dalam masyarakat sekarang ini, karena begitu banyak penderitaan dan fenomena aneh, maka banyak bermunculan praktik yang mistis dan menyimpang. Contohnya, dengan kemajuan ilmu kedokteran, penyakit seseorang sudah dapat terdeteksi// dengan cepat, seperti beragam jenis tumor dan berbagai penyakit lainnya.
Banyak penyakit dapat dideteksi dengan cepat. Orang yang berpandangan benar akan mengetahui bahwa cara pengobatan ini berasal dari penelitian ilmiah, dan kita seharusnya memercayainya serta menerima perawatan sesuai prosedur. Akan tetapi, ada orang yang mendengar saja// sudah merasa takut. Bahkan ada yang berkata bahwa jika mengidap tumor,// mereka tidak ingin menjalani pembedahan. Bagi mereka, pembedahan tidak bermanfaat. Lalu apa yang mereka lakukan? Mereka mencari pengobatan alternatif karena takut dioperasi, kemoterapi, dan takut menjalani perawatan medis. Untuk semua ini, mereka mencari pengobatan alternatif. Kita mendengar banyak kasus seperti ini, dan saat penyakitnya sudah parah, terlambat bagi mereka// untuk menjalani perawatan medis. Kita sering mendengar kasus seperti ini. Sebagian orang berkata bahwa mereka berharap untuk dapat mendalami Dharma. Akan tetapi, banyak juga orang yang// menyimpang dari jalan benar. Akibatnya, mereka terjerumus ke dalam gangguan fisik dan jiwa. Sulit bagi mereka untuk berpaling. Sebagai makhluk awam, kita sudah merasakan sulitnya// memperbaiki kebiasaan buruk. Terlebih lagi, jika keyakinan menyimpang, kita akan semakin jauh tersesat. Adakalanya, temperamen kita berubah menjadi lebih buruk.
Kita sudah tidak dapat mengendalikan diri. Di masyarakat zaman sekarang,// kita sering mendengar kasus demikian. Setiap saat, jika saya mendengar Setiap saat, jika mendengar orang yang keyakinannya menyimpang atau tersesat dalam pandangan salah, kita merasa sangat khawatir. Orang seperti ini bagaikan masuk ke toilet yang berbau busuk, lalu terjatuh lagi ke dalam jamban, sehingga bertambah kotor. Inilah yang disayangkan oleh Buddha lebih dari 2.000 tahun yang lalu, saat melihat banyak makhluk menjalani hidup di tengah ketersesatan dan timbul tenggelam dalam pelatihan diri. Inilah yang paling disayangkan oleh Buddha. Karena itu, setelah berkesempatan untuk menapaki Jalan Bodhisattva yang lurus ini, kita harus memiliki keyakinan bahwa kita tidak mengambil jalan yang salah. Jadi, kita sungguh perlu memahami hukum sebab akibat. Asalkan Anda menanam satu benih karma, dengan adanya kondisi pendukung di sekitar, maka secara alami benih karma baik akan membawa kondisi yang baik, sementara benih karma buruk akan membawa kondisi yang buruk. Mata rantai ini tak akan pernah terputus dan berada di luar kendali kita. Dalam berlatih di jalan Buddha, kita harus memahami hukum karma dengan jelas.
Berhubung telah menanam berkah dari masa lalu, kini kita memiliki benih sebab dan kondisi untuk berada di lingkungan yang penuh berkah. Kondisi yang baik ini sangat membantu kita untuk menumbuhkan benih berkah. Kita seharusnya menjadi lebih giat dalam mempraktikkan jalan menuju pencerahan demi memberi manfaat bagi masyarakat. Saya percaya, hal ini sangatlah penting. Akan tetapi, kita tidak dapat terhindar dari sisa karma lampau kita yang belum berbuah. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, perbuatan buruk pada kehidupan lampau membuat kita terlahir di tiga alam rendah. Saat karma untuk hidup di tiga alam itu habis, seseorang akan terlahir di alam manusia, namun masih akan menerima sisa buah karma dan akan mengalami banyak penderitaan seperti kemiskinan, kesepian, dsb. Jika orang tersebut memiliki sedikit berkah dari masa lampau, ia akan dapat bertemu orang baik. Lihatlah para penerima bantuan Tzu Chi. Betapa banyak orang mengalami kesulitan, namun mereka yang memiliki berkah// dapat bertemu dengan insan Tzu Chi atau orang baik untuk menolong, membantu, dan mendampingi mereka. Baik kemiskinan, penyakit, maupun usia tua, apakah hanya orang-orang ini yang mengalami? Tidak. Masih ada banyak orang menderita yang belum kita temukan.
Mereka belum berjodoh dengan kita, Mereka belum berjodoh dengan kita sehingga belum berkesempatan bertemu atau karma baik mereka belum berbuah. Karena itu, mereka terus mengalami banyak penderitaan di sana. Jika seseorang dapat terbantu, berarti ia memiliki benih karma baik. Dengan begitu, barulah ia bertemu Tzu Chi. Dengan memiliki sedikit benih karma baik, barulah ia dapat menerima bantuan. Sebagian orang mungkin berkata, “Bukankah itu karma mereka sendiri?” “Barang siapa menanam benih sebab, ia harus menuai akibatnya. ” “Jika kita menolongnya, bukankah berarti melawan hukum karma?” Ketika mulai menjalankan misi Tzu Chi, saya sering mendengar umat Buddha berkata begitu. Keyakinan mereka telah menyimpang. Hukum karma yang mereka yakini adalah jika seseorang telah menanam benih sebab, maka ia harus menuai akibatnya, sehingga patutlah jika menderita. Jika kita menolong mereka, kita dianggap telah melawan hukum karma. Masih banyak orang yang berpandangan begitu hingga saat ini. Saya sungguh sedih mendengarnya. Jika telah memahami hukum karma, kita seharusnya yakin pada ucapan Buddha. Atas dasar Empat Pikiran Tanpa Bataslah Buddha datang ke dunia ini. Sebelumnya saya pernah membahas Empat Pikiran Tanpa Batas dan Enam Paramita. Ini adalah inti ajaran Buddha. Empat Pikiran Tanpa Batas adalah cinta kasih agung, welas asih agung, sukacita agung, dan keseimbangan batin agung, sering pula disebut cinta kasih tanpa batas,// welas asih tanpa batas, sukacita tanpa batas, dan keseimbangan batin tanpa batas.
Inilah Empat Pikiran Tanpa Batas. Empat Pikiran Tanpa Batas bertujuan memberi pertolongan dan kebahagiaan bagi semua makhluk. Inilah “memberikan kebahagiaan”. Inilah cinta kasih agung tanpa batas, berharap semua makhluk yang menderita dapat terbebas dari penderitaan dan mencapai kebahagiaan hakiki. Inilah cinta kasih Buddha. Para Buddha dan Bodhisattva tidak tega melihat penderitaan semua makhluk. Mereka turut merasakan//penderitaan semua makhluk. Inilah welas asih tanpa batas. Mereka mencari cara paling tepat untuk melenyapkan penderitaan semua makhluk, bahkan yang terjatuh ke neraka sekalipun. Saat masih dalam tahap melatih diri, Buddha juga pernah memberi pertolongan// bagi makhluk di alam neraka. Beliau membantu makhluk neraka menarik kereta yang sedang membara. Kisah-kisah ini dapat ditemukan dalam Sutra. Buddha juga lahir di alam binatang untuk membimbing hewan dan manusia seperti yang tercatat dalam Sutra Raja Kijang// dan Sutra Burung Merak. Begitu banyak Sutra mengisahkan bahwa selama pelatihan-Nya di Jalan Bodhisattva, Buddha pernah lahir di berbagai alam, termasuk tiga alam rendah, baik alam neraka, alam setan kelaparan,// maupun alam binatang.
Selama proses pelatihan diri itu, Beliau menyelamatkan makhluk yang menderita. Inilah prinsip kebenaran yang diajarkan Buddha. Beliau bahkan mengajar melalui teladan yang dipraktikkan secara nyata. Setelah itu, nilai praktik tersebut// dijelaskan kepada kita. Inilah yang Buddha ajarkan kepada kita. Jadi, bagaimana mungkin kita mengatakan// bahwa penderitaan seseorang adalah sudah sepatutnya? Kalian tentu ingat kisah polisi wanita yang menjadi relawan. Ketika ia melihat seorang pasien dengan banyak tato pada tubuhnya, kesan pertamanya adalah, “Dia pastilah orang jahat, sudah sepantasnya menderita sakit.” Akan tetapi, tiba-tiba ia teringat dalam ceramah pagi saya mengatakan bahwa semua noda batin dan sikap membeda-bedakan berawal dari pikiran. Ia lalu berpikir, “Meski orang ini pernah menato tubuh di masa lalu, mungkin saja kini ia telah berubah.” “Kini ia sedang sakit dan patut dikasihani.” “Saya malah bilang ia pantas mendapatkannya.” “Pemikiran saya ini sangatlah keliru.” “Sayalah yang jahat, bukan dia.” Lihatlah bagaimana ia dapat segera mengubah// cara berpikirnya. Kita harus menyadari bahwa makhluk yang menderita// membutuhkan bantuan orang lain.
Makhluk yang diliputi ketidaktahuan membutuhkan bimbingan orang lain. Derita kemiskinan membutuhkan bantuan materi. Derita spiritual membutuhkan bimbingan kebijaksanaan. Saat jatuh sakit, bukannya mengikuti perawatan standar, kita malah mencari cara-cara mistik. Hal ini sungguh berbahaya. Jadi, dalam berlatih di jalan Buddha, kita harus menempuh jalan yang lurus dan benar. Janganlah menapaki jalan yang menyimpang. Penyimpangan sedikit saja,// dapat menjerumuskan kita ke dalam kesesatan. Sampai tahap itu, sulit untuk mencari pertolongan. Karena itu, kita hendaknya bertobat. Saat menghadapi kesulitan, dengan memahami hukum karma, kita harus menerima kenyataan yang terjadi. Karena berbuat dengan sukacita di masa lalu, kini kita harus rela menerima akibatnya. Kini, kita hendaknya semakin tekun dalam berlatih dan bertobat. Kini, dalam menghadapi orang dan masalah, kita hendaknya selalu bertobat. Jika tidak bersedia bertobat, kita tak akan terbebas dari penderitaan.
Meski ingin terbebas dari penderitaan, jika pikiran penuh dengan noda batin, sampai kapan pun tidak akan terbebas. Karena itu, kita harus bertobat. Sebagaimana telah dibahas sebelumnya, kita harus bertobat dan memohon belas kasihan. Mengenai noda batin, para Buddha, Bodhisattva,// dan para suci yang tercerahkan senantiasa mencelanya. “Kami telah menjelaskan berulang-ulang, mengapa Anda masih melakukan pelanggaran?” “Beginilah prinsip kebenaran, mengapa Anda tidak dapat menerimanya?” Melihat makhluk hidup begitu tersesat, Buddha sungguh merasa iba, iba karena semua makhluk penuh kebodohan. Karena itu, Beliau menerapkan berbagai cara, dan menggunakan berbagai metode terampil untuk menunjukkan letak kesalahan kita agar kita segera memperbaiki diri.
Beliau mengingatkan kita tanpa kenal lelah. Meski tahu diri kita salah, kita tetap tidak dapat memperbaiki diri. Inilah yang disesalkan para suci. Sebagai praktisi ajaran Buddha, kita harus benar-benar memahami bahwa kita terlahir dengan membawa karma masa lalu. Sehubungan dengan kenyataan ini, kita hendaknya menerimanya. Buddha telah bersusah payah untuk terus datang ke Dunia Saha. Meski Buddha memandang semua makhluk// dengan penuh welas asih, namun para makhluk tetap diliputi kebodohan sehingga Buddha harus menegur kita. “Noda batin ini juga disebut sebagai musuh.” Untuk mengatasinya, kita harus lebih bersungguh hati dalam memahami noda batin ini. Dengan welas asih-Nya, Buddha terus menjelaskan kepada kita arti sesungguhnya dari noda batin. Beliau menghabiskan waktu yang lama untuk membabarkan tentang noda batin dan menjelaskannya dengan cara yang berbeda-beda. Di sini, kita diminta bertobat untuk membersihkan noda batin kita. Hal ini dinyatakan dengan sangat jelas. Di sini kembali diumpamakan, “Noda batin ini juga disebut sebagai musuh.” Saudara sekalian, noda batin bagaikan musuh kita. Manusia terlahir di dunia ini bergantung pada sebab dan kondisi. Dalam hubungan antarmanusia, terdapat rasa cinta, benci, sayang, dan dendam.
Mengenai cinta, cinta juga membawa penderitaan. Baik cinta keluarga, asmara, persahabatan, dan lain-lain, semuanya merupakan bentuk kemelekatan. Hal yang paling dikhawatirkan orang tua adalah kesehatan lahir batin anak-anak. Inilah yang paling orang tua khawatirkan dari diri anak-anak. Jika anak mengalami masalah atau penyimpangan psikologis, orang tua akan merasa cemas. Ketika anak jatuh sakit secara fisik, orang tua akan merasa menderita. Kerisauan akibat ikatan cinta keluarga ini sungguh merupakan penderitaan yang luar biasa. Anak-anak mungkin sehat dan berkelakuan baik, namun kehidupan ini tidaklah kekal. Kapan saja dapat muncul kejadian// yang tidak kita inginkan. Betapa banyak anak muda yang meninggal mendahului orang tua mereka. Betapa ini amat menyiksa batin orang. Betapa menyakitkan hati. Ada orang tua yang amat menyayangi anak-anak hingga selalu mengocehi mereka. Alhasil, anak bukan saja tidak sanggup memahami cinta kasih orang tua ini, melainkan juga merasa kesal terhadap orang tua.
Ada seorang pria paruh baya yang mengalami kecelakaan mobil dan menjadi lumpuh dari pinggang ke bawah sehingga harus bergantung pada kursi roda. Sebelum mengalami kecelakaan, ia menjalani kehidupan dengan semaunya sehingga membuat orang tuanya risau. Meski kecelakaan tersebut telah membuatnya tak dapat lagi// berkeliaran dan membuat khawatir, namun duduk di atas kursi roda membuat sikapnya bertambah buruk. Temperamennya semakin kasar. Bagaimana pun orang tuanya memperlakukannya, ia tetap tidak senang. Bukan hanya tidak senang, bahkan sering melempar barang ke arah mereka. Orang tuanya hanya dapat bersabar. Ayahnya kadang menegurnya beberapa kata. Akan tetapi, sedikit teguran itu pun tidak dapat ia terima. Suatu hari, saat ayahnya tidak memerhatikan, ia mengambil pisau dan menusuk sang ayah. Hati ibunya pun hancur. Sebagai anak, pernahkah ia menyesalinya? Demikianlah noda batin yang menjadi musuh. Ia masih menyimpan noda batinnya.
Bayangkanlah perasaan ibunya. Ia mencintai putra dan suaminya. Keduanya adalah orang yang paling dicintainya. Akan tetapi, merekalah membuat hatinya hancur. Bukankah sangat menderita? Demikianlah ikatan cinta keluarga. Entah di dunia ini, sesungguhnya bagaimanakah jalinan jodoh mereka. Kita sering berkata bahwa tiada yang dapat dibawa serta, hanya karma yang terus mengikuti. Itulah benih karma dari masa lampau kita yang sulit untuk kita pahami. Karma ini terus menjerat kita. Jika tidak selesai dalam kehidupan ini, maka akan berlanjut ke kehidupan mendatang. Ikatan cinta dan dendam ini sungguh menakutkan.
Karena itu, dalam berlatih di jalan Buddha, pikiran adalah yang terpenting. Kita harus menjaga pikiran dengan baik, terus-menerus bertobat,// serta tiada henti berintrospeksi. Dengan begitu, barulah kita// tak akan mengulangi kesalahan. Jika karma buruk berbuah,// terimalah dengan sukacita dan jangan menciptakan karma buruk baru. Dengan demikian, barulah kita dapat terbebas. Inilah yang senantiasa diajarkan oleh para Buddha dan para suci. kepada kita. Karena itu, kita harus selalu bersungguh hati.