Kegiatan Internasional

Tzu Chi Mengirim Bantuan Kepada Para Korban Kebakaran di UP. Campus

Relawan Tzu Chi menanggapi kejadian kebakaran di wilayah pemukiman UP. Campus, kota Quezon pada tanggal 05 Mei 2022. Dalam peristiwa naas yang menyebabkan delapan orang meninggal dunia dan lebih dari 100 keluarga terpaksa mengungsi tersebut, para relawan mencari tahu apa-apa saja yang dibutuhkan segera oleh para korban dan memberikan bantuan yang diperlukan tersebut kepada para korban. 

Foto dari udara menunjukkan seluruh lingkungan wilayah pemukiman UP. Campus rata dengan tanah setelah kebakaran pada tanggal 02 Mei 2022.

Masing-masing dari 106 keluarga korban kebakaran menerima kompor gas, baskom, 10 kg beras, kecap asin, cuka, kecap ikan, minyak goreng, garam, dan gula untuk kebutuhan memasak mereka. Mereka juga menerima selimut dan perlengkapan kebersihan seperti masker, alkohol, sabun mandi, dan sabun cuci.

Relawan Tzu Chi sedang menurunkan barang-barang yang akan didistribusikan kepada para korban kebakaran.
Selimut dan produk-produk kebersihan seperti sabun mandi, sabun cuci, alkohol, dan masker juga diberikan.
Relawan Tzu Chi mendistribusikan kompor gas, baskom, 10 kg beras, kecap asin, cuka, kecap ikan, minyak goreng, garam, dan gula kepada 106 keluarga korban kebakaran di Up. Campus.

“Berdasarkan hasil survey kami dengan masyarakat, itu adalah barang-barang yang paling mereka butuhkan saat ini,” kata relawan Tzu Chi Luis Diamante, yang termasuk diantara para relawan yang mengunjungi masyarakat sebelum hari pemberian bantuan. Banyak kelompok yang mendonasikan pakaian dan paket makanan. Pemerintah kota Quezon juga telah memberi bantuan tunai kepada keluarga yang terkena dampak kebakaran tersebut.
“Yayasan Tzu Chi menanyakan kebutuhan masyarakat karena ingin memberikan hal-hal yang bermanfaat bagi mereka,” kata Barangay Project Development Officer Jane Lapuz yang melakukan koordinasi dengan Tzu Chi untuk pemberian bantuan tersebut. Para pengungsi bertepuk-tangan gembira ketika mereka melihat kompor gas dan kebutuhan memasak yang mereka butuhkan. “Kami sangat berterima-kasih,” katanya.

"Berdasarkan hasil survey kami dengan masyarakat, itu adalah barang-barang yang paling mereka butuhkan saat ini," kata relawan Tzu Chi Luis Diamante, yang melakukan survey sebelum diadakan pemberian bantuan.
"Yayasan Tzu Chi menanyakan kebutuhan masyarakat karena ingin memberikan hal-hal yang bermanfaat bagi mereka," kata Barangay Project Development Officer Jane Lapuz. "Kami sangat berterima-kasih," tambahnya.
Para pengungsi bertepuk-tangan gembira ketika mereka melihat kompor gas dan kebutuhan memasak yang mereka butuhkan.

Para relawan pun tidak mensia-siakan kesempatan ini untuk membangkitkan semangat para korban kebakaran. “Kami dari Yayasan Tzu Chi, dan kami ada disini untuk anda di masa-masa sulit ini,” kata relawan Johnny Kwok. Ditengah pembicaraan yang menyentuh hati ini, dia mengambil jeda cukup lama dan berlinang air-mata saat mengingat percakapannya dengan anak-anak yang kehilangan teman sekolahnya karena kebakaran tersebut. “Dimana ada musibah, kami akan pergi dan membantu sebisa mungkin,” katanya menyakinkan banyak orang.
Keluarga korban kebakaran semakin tersentuh ketika para relawan memimpin mereka dalam doa yang khusyuk “Cinta dan Perhatian”. “Saya sangat tersentuh ketika mereka memainkan lagu itu,” kata Julie Valisno.

 

Ditengah pembicaraan yang menyentuh hati ini, dia mengambil jeda cukup lama dan berlinang air-mata saat mengingat percakapannya dengan anak-anak yang kehilangan teman sekolahnya karena kebakaran tersebut. "Dimana ada musibah, kami akan pergi dan membantu sebisa mungkin," katanya menyakinkan banyak orang.
Keluarga korban kebakaran semakin tersentuh ketika para relawan memimpin mereka dalam doa yang khusyuk "Cinta dan Perhatian".
Seorang pengungsi tidak kuasa menahan tangis ditengah doa.
Para korban berdoa dengan khusyuk untuk mereka yang meninggal dunia karena kebakaran tersebut.
Seorang pengungsi menundukkan kepala untuk berdoa.

Julie mengingat pagi ketika dia terbangun karena api yang membakar lingkungan mereka. Suaminya bersikeras untuk tinggal lebih lama untuk menyelamatkan barang-barang berharga milik mereka, tetapi dia menolak,” Saya mengatakan kepadanya kita akan selalu bersama apapun yang terjadi. Bahkan jika kita harus kehilangan semuanya, tidak apa-apa asalkan keluarga kita tetap bersama,” katanya sambil menangis.
Dia dan suaminya, membawa dua anak yang masih kecil, berusia dua dan tujuh tahun, berhasil keluar dari rumah mereka dengan selamat. Rumah mereka terbakar dan rata dengan tanah dan kehilangan hampir segalanya. “Saya berharap situasi ini segera berakhir dan kami dapat kembali ke rumah kami karena saya merasa kasihan kepada anak-anak,” katanya. Mereka tinggal di tenda yang berfungsi sebagai tempat penampungan sementara sambil menunggu manajemen universitas membangun kembali rumah mereka.
Julie tidak bisa tidur dengan nyenyak semenjak kebakaran tersebut. “Saya menangis setiap malam untuk situasi kami yang menyedihkan ini. Tetapi saya berkata pada diri sendiri bahwa saya bisa mengatasi ini untuk anak-anak dan keluarga saya,” katanya.
Ketika dia melihat relawan Tzu Chi, timbul harapan didalam dirinya. “Saya sangat bahagia karena kami sangat butuh kompor dan peralatan memasak untuk memasak makanan kami. Kami bersyukur karena ada orang yang peduli untuk menyumbangkannya,” katanya dengan bahagia.
Dia tersentuh dengan ketulusan para relawan. “Mereka tidak meminta imbalan apapun. Itu yang sya sukai dari orang-orang ini. Terima kasih sebesar-besarnya,” katanya kepada Tzu Chi. 

"Saya menangis setiap malam untuk situasi kami yang menyedihkan ini. Tetapi saya berkata pada diri sendiri bahwa saya bisa mengatasi ini untuk anak-anak dan keluarga saya," kata Julie Valisno yang kehilangan rumahnya akibat kebakaran. "Saya sangat bahagia karena kami sangat butuh kompor dan peralatan memasak untuk memasak makanan kami. Kami bersyukur karena ada orang yang peduli untuk menyumbangkannya," katanya dengan bahagia.
Tergerak oleh sikap dan ketulusan para relaan Tzu Chi, Julie menyumbangkan apa yang tersisa dari sedikit uangnya. "Mereka tidak meminta imbalan apapun. Itu yang sya sukai dari orang-orang ini. Terima kasih sebesar-besarnya," katanya kepada Tzu Chi.

Rasa syukur inilah yang juga mengisi hati Jocelyn Madrigal, yang kehilangan rumahnya dalam kebakaran tersebut. Mau tidak mau dirinya merasa emosional dirinya sekali lagi ditolong oleh Tzu Chi. Suaminya, Manny Caron, adalah salah satu dari ribuan pengemudi jeepney yang menerima bantuan dari Tzu Chi selama masa karantina Covid-19 pada tahun 2020, yang menyebabkan banyak warga Filipina yang kehilangan pekerjaan.  

"Tzu Chi menolong kami tiga kali selama masa pandemi. Kami tidak akan lupa akan hal tersebut," tangis Jocelyn. ""Saya meng follow anda di group Facebook dan melihat semua perbuatan anda. Disetiap musibah dimanapun, anda ada disana untuk menolong. Oleh karena itu, rasa terima-kasih dari kami untuk anda tiada akhirnya."

“Tzu Chi menolong kami tiga kali selama masa pandemi. Kami tidak akan lupa akan hal tersebut,” tangis Jocelyn. “”Saya meng follow anda di group Facebook dan melihat semua perbuatan anda. Disetiap musibah dimanapun, anda ada disana untuk menolong. Oleh karena itu, rasa terima-kasih dari kami untuk anda tiada akhirnya.”

Sumber : www.tzuchi.org.ph,
Jurnalis : Ben Baquilod,
Fotografer : Daniel Lazar, Matt Serrano,
Diterjemahkan oleh : Sik Pin.
 

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

https://www.geocities.ws/moulmaths/

https://www.geocities.ws/digitalanam/

rp888

rp888