Sanubari Teduh – 091 – Tiga Kebocoran Bagian 1
Saudara se-Dharma sekalian, setiap pagi adalah awal dari hari yang baru. Pada awal dari setiap hari, kita harus mengingatkan diri kita harus mengingatkan diri bahwa kemarin telah berlalu dan hari ini baru dimulai. Saat mulai beraktivitas, kita harus memastikan arah kita dengan benar. Saat berjalan, kita harus mengenal arah dan tujuan kita dengan jelas. Dengan memiliki arah tujuan yang jelas dan mulai berjalan di arah tersebut, kita tidak akan keliru. Tujuan praktisi Buddhis, baik umat perumah tangga maupun kaum monastik, tentu adalah mencapai kebuddhaan. Buddha telah mengajarkan jalan agar kita tidak terpisah dari Jalan Bodhi. Bodhi berarti pencerahan, yaitu pemahaman sempurna tentang segala sesuatu. Jadi, sebagai praktisi Buddhis, setiap hari kita harus selalu menyadarkan diri tentang bagaimana berjalan di jalan pencerahan dan mencegah timbulnya noda dan kegelapan batin yang menutupi pikiran kita. Karena itu, kita akan membahas noda batin hingga ke aspek-aspek yang lebih terperinci. Semakin terperinci pembahasan yang ada, semakin banyak pula istilah yang dipergunakan. Berhubung kita telah menjadi praktisi Buddhis, janganlah merasa jemu untuk mempelajarinya, karena semakin kita mengetahui bentuk-bentuk noda batin, kita akan semakin memahami jenis noda batin apa yang mendasari perbuatan dan ucapan kita, perbuatan dan ucapan kita. Setelah memahami semua penyakit itu, akan mudah bagi kita untuk mengobatinya.
Dahulu kala, ketika seseorang ingin mempelajari ilmu pengobatan Tiongkok, dia harus menghafal berbagai resep obat. Dia harus menghafal berbagai resep obat. Dia harus menghafal nama-nama obat tersebut dan memahami fungsi dan khasiatnya, sehingga ketika memeriksa pasien, dia tahu jenis obat apa yang harus digunakan untuk menyembuhkan penyakit mereka. Demikian pula dalam ajaran Buddha. Buddha dengan penuh welas asih telah mengajarkan 84.000 metode ajaran. Bayangkan, betapa banyak dan terperincinya 84.000 metode ajaran tersebut. Kita sungguh harus mengkaji noda batin. Kita harus menggunakan kesabaran untuk memahami noda batin apa yang timbul hari ini, setidaknya harus mengetahui nama-namanya. Setelah memahami noda batin, alangkah baiknya jika kita dapat mencegahnya agar tidak mengotori batin kita. Sebagaimana dikatakan, “Menciptakan segala karma buruk akibat Akar Tiga Racun, adakalanya menciptakan segala karma buruk akibat Tiga Kebocoran.”Istilah kebocoran di sini sama dengan pengertian kebocoran dalam ungkapan sehari-hari. Rumah yang tua akan mengalami kebocoran. Pipa air yang telah lama digunakanakan rusak dan mulai bocor. Ember yang sudah lama digunakan juga akan menjadi bocor. Singkatnya, kebocoran menggambarkan sesuatu yang telah lama digunakan sehingga mengalami kerusakan.
Buddha sering berkata tentang masa yang tanpa awal. Ini juga berarti entah berapa lama kita telah berada di enam alam kehidupan. Kita telah berada di enam alam kehidupan. Betapa banyak tabiat buruk dalam batin kita yang terus terakumulasi dari kehidupan ke kehidupan. Karena itu, banyak noda batin menjadi kebiasaan kita. Istilah lain untuk noda batin adalah kebocoran. Bocor berarti ada kekurangan atau kerusakan. Setiap orang memiliki hati dan tekad yang setara dengan Buddha. Secara hakiki, kita semua memiliki hati, tekad, dan kebijaksanaan seorang Buddha. Hati, tekad, dan kebijaksanaan seorang Buddha. Hati, tekad, dan kebijaksanaan seorang Buddha. Akan tetapi, sebagai makhluk awam, kita terus mengembara di enam alam kehidupan dan terus dinodai banyak kebiasaan buruk yang menutupi sifat hakiki kita. Kebijaksanaan kita yang pada hakikatnya setara dengan Buddha pun menjadi timbul tenggelam dan luntur oleh noda batin. Inilah kondisi kita sebagai makhluk awam.
Ada tiga jenis kebocoran batin. Pertama adalah kebocoran nafsu keinginan. Nafsu keinginan adalah suatu noda batin. Di Alam Nafsu ini, siapakah yang sejak lahir tidak memiliki nafsu keinginan? Lihatlah bayi, mereka menangis begitu dilahirkan. Setelah dimandikan dan dibungkus dalam selimut, keinginan mereka akan mulai muncul, lalu diberikan ASI. Dahulu, para bayi diberi minum akar manis. Saya dengar kini menggunakan air gula. Setelah bayi dimandikan, jika botol susu disodorkan ke mulut mereka, mereka akan menyedotnya. Hasrat akan makanan sudah ada sejak lahir. Manusia mulai dari awal kelahirannya terus dipengaruhi lingkungan masyarakat. Sejak tumbuh dari masa kanak-kanak, keinginan mereka terus bertambah keinginan mereka terus bertambah seiring dengan berjalannya waktu. Setelah beberapa puluh tahun dalam hidup ini, mereka akan memiliki semakin banyak keinginan dan ketamakan terhadap benda materi. Inilah yang disebut nafsu keinginan. Tidak sebatas benda materi saja, perasaan dan emosi juga demikian. Disebabkan oleh nafsu keinginan, banyak orang menjadi tamak terhadap kekayaan materi, ketenaran, dan keuntungan. Semua ini berasal dari nafsu keinginan. Yang lebih merisaukan adalah cinta asmara. Hal ini sangat mengganggu manusia. Dengan adanya perasaan cinta asmara, kebijaksanaan seseorang akan banyak berkurang, begitu juga pandangannya terhadap moralitas. Pada dasarnya kita memiliki welas asih dan kebijaksanaan yang setara dengan Buddha. Akan tetapi, semakin besar kemelekatan kita terhadap ketamakan dan cinta asmara, semakin besar pula kebocoran hakikat murni dalam diri kita dan welas asih yang setara dengan Buddha.
Perasaan cinta asmara akan mengurangi atau menguras nilai welas asih dan kebijaksanaan kita. Karena itu, noda batin dan sifat hakiki yang murni dalam diri kita, jika yang satu bertambah, maka yang lain akan berkurang. Ketika noda batin bertambah, kebijaksanaan akan berkurang. Kondisi berkurang ini disebut kebocoran. Lihatlah betapa banyak orang di masyarakat yang telah mengabaikan keluarga mereka demi mengejar nafsu cinta. Cinta seperti ini sungguh sulit dijelaskan. Bukankah ini tampak seperti dipengaruhi oleh kekuatan jodoh karma? Mereka akan mengejar orang yang dicintainya. Meski orang tua sangat menyayangi mereka, menggendong dan memberikan ASI sejak bayi, atau ibunya telah bekerja keras, bangun di tengah malam untuk membuatkan susu, atau ketika mereka jatuh sakit, orang tua rela berjaga di sisi mereka, menyediakan semua kebutuhan sehari-hari sampai mereka dapat hidup mandiri, namun karena dipengaruhi kekuatan jodoh karma, mereka jatuh cinta kepada seseorang dan berharap dapat hidup bersama dengan orang tersebut sepanjang waktu. Jika orang tua menolak dan merasa bahwa mereka telah membuat pilihan yang keliru,bahwa mereka telah membuat pilihan yang keliru,dalam keadaan itu mereka malah lebih memilih cinta yang baru saja terjalin ini dan rela mengabaikan jasa yang telah diberikan oleh orang tua selama 20 atau 30 tahun dalam hidup mereka. Mereka lebih rela berpaling dari cinta keluarga demi mengejar cinta asmara. Coba pikir, bukankah hati mereka telah buta? Sebagian orang tidak menyadari bahwa perasaan cinta asmara yang dirasakan juga dapat hilang dengan cepat.
Ada satu kasus yang terjadi di Filipina. Ada seorang wanita muda, dia memiliki tiga anak. Ketiga anaknya masih sangat kecil. Ketiga anaknya masih sangat kecil. Tentu dia baru memiliki anak setelah menikah. Sebelum menikah, dia dan suaminya telah menjalin cinta yang sangat intim. Akhirnya mereka pun menikah dan memiliki anak. Selama kehidupan rumah tangga mereka,meski memiliki masa-masa yang sangat bahagia, namun juga dilalui dengan cukup berat. Suatu ketika, wanita ini mengalami kecelakaan mobil hingga kakinya terluka. Meski memiliki beban ekonomi yang berat, karena tanggung jawab dan kasih sayangnya kepada anak-anaknya, maka tanpa memedulikan kondisi lukanya, dengan menahan rasa sakit dia tetap bekerja untuk melanjutkan usaha kecil-kecilan miliknya seperti menjual es lilin, dll., sekadar untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Akan tetapi, berhubung cedera kakinya tidak ditangani dalam waktu yang lama, akhirnya berkembang menjadi infeksi sumsum tulang yang sangat serius. Dia pun berobat di RS Ortopedi Nasional, Filipina. Setelah masuk rumah sakit, para dokter mengatakan bahwa kakinya harus diamputasi karena bakteri telah masuk ke dalam tulangnya. Jika tidak diamputasi, dia akan kehilangan nyawanya. Selama masa cedera,suaminya merasa tidak tahan menghadapi derita kemiskinan, maka menelantarkan istri dan anak-anaknya, serta meninggalkan keluarganya. Sang istri harus membesarkan anak-anaknya dengan menjajakan barang dagangan. Selain itu, dokter berkata bahwa jika ingin hidup, kakinya harus diamputasi. Demi anak-anaknya, dia setuju menjalani operasi untuk mengamputasi kakinya. Selama masa itu, ia merasa sangat khawatir karena memikirkan bagaimana agar anak-anaknya tidak terpisah darinya, sedangkan dia harus dirawat di rumah sakit. Apa yang dapat dia lakukan? Dia pergi ke panti asuhan untuk memohon bantuan. Dia berkata kepada kepala panti asuhan,“Mohon jaga ketiga anak saya, jangan biarkan mereka diadopsi orang lain.” Kebanyakan anak-anak di sana hanya ditampung dalam batas waktu tertentu. Jika orang tua mereka tidak datang menjemput, anak-anak itu akan masuk daftar adopsi. Karena itu, wanita muda ini memohon kepada kepala panti asuhan memohon kepada kepala panti asuhan dengan jaminan bahwa dia pasti kembali menjemput anak-anaknya. Dia berkata, “Saya pasti akan kembali.” “Bagaimanapun juga jangan biarkan anak saya diadopsi.” Setelah kepala panti asuhan menyetujuinya,pikirannya menjadi tenang dan dia pun mulai berangkat ke rumah sakit untuk menjalani amputasi kaki. Dia harus dirawat selama beberapa bulan karena infeksi sumsum tulang membutuhkan perawatan yang cukup lama.
Setiap hari, ibu muda ini menangis karena sangat merindukan anak-anaknya. Dia tidak dapat bertemu anak-anaknya meski letak panti asuhan tidak terlalu jauh dari rumah sakit. Di kota yang padat seperti itu, dibutuhkan waktu setengah jam dengan mobil. Dapat kita bayangkan bahwa letaknya tidak jauh. Akan tetapi, dia tidak dapat melihat mereka. Dia juga tidak memiliki kerabat dekat. Anak-anaknya masih kecil, sedangkan dia sendiri sedang sakit. Jadi, meski merindukan anak-anaknya, dia tidak dapat bertemu dengan mereka. Selama beberapa bulan penderitaan sang ibu sungguh tak terkira. Kebetulan pada saat itu, anggota TIMA dari Filipina sedang berada di rumah sakit ini. Di rumah sakit ini,kita juga menjalin kerja sama. Jika ada pasien yang memerlukan bantuan karena tidak mampu membayar biaya pengobatan, mereka akan melaporkannya kepada kita. Berkat jalinan jodoh inilah, kita mendapati kasus ibu muda ini. Pada awalnya,ibu ini sangat sedih setiap hari. ibu ini sangat sedih setiap hari. Dia sangat menderita. Ketika insan Tzu Chi menerima kasusnya,selain tetap membantu biaya pengobatan, juga sering membawakan makanan untuknya agar dia mendapatkan nutrisi yang cukup. Akan tetapi, hal yang terpenting adalah menghibur dan mendampinginya sepenuh hati untuk membuatnya ceria. Kita menenangkan hatinya terlebih dahulu agar dia dapat menjalani perawatan dengan baik. Selanjutnya kita membuat dia ceria. Dia mulai menyadari bahwa hidupnya ada harapan. Dia menyadari bahwa demi masa depannya,dia harus kuat,dan demi ketiga anaknya, dia harus bertahan hidup. Dengan perubahan sikap mentalnya,ditambah nutrisi yang cukup serta perawatan intensif yang dia terima, kondisi ibu ini mulai membaik.
Ketika insan Tzu Chi mengetahui betapa dia merindukan anak-anaknya,mereka mewakilinya untuk mengajukan izin kepada pihak rumah sakit. Setelah permohonan izin disetujui,mereka berkata kepadanya,“Bersiap-siaplah,saat dokter memberi tahu kapan Anda diizinkan keluar, kami akan datang menjemput Anda.”Akhirnya, dokter mengabarkan bahwa tiga hari kemudian dia boleh pergi. Insan Tzu Chi lalu berkata kepadanya, “Tiga hari lagi kami akan menjemput Anda dengan mobil.” “Kami akan membawa Anda dengan kursi roda dan Anda akan dapat melihat anak-anak.”Ibu ini merasa sangat bahagia. Saking bahagianya, dalam tiga hari itu dia tidak dapat tidur. Dia selalu berkata kepada sesama pasien,“Saya akan menemui anak-anak saya 3 hari lagi.” Keesokannya dia berkata, “Dua hari lagi.”Dua hari kemudian dia berkata lagi,“Saya akan pergi besok.” Setiap orang di rumah sakit dapat turut merasakan kegembiraannya. Dia selalu mengatakan kepada setiap orang bahwa dia akan menemui anak-anaknya.
Sukacita yang dia rasakan membuat kagum orang-orang di rumah sakit,terutama karena dia memiliki jodoh baik untuk bertemu dengan organisasi seperti Tzu Chidan relawan yang sangat baik. Dia akan berkata kepada mereka,“Ya, saya tahu ini adalah berkah saya.”“Ternyata hidup saya tidak terlalu buruk.”“Saya sangat menyadari berkah saya.” Berhubung insan Tzu Chi telah berinteraksi dan membantunya dalam waktu yang cukup lama, maka pintu hatinya mulai terbuka. Sekarang dia telah menyadari berkah dan tahu berpuas diri. Akhirnya, hari yang ditunggu tiba, beberapa insan Tzu Chi datang menjemput dengan mobil untuk mendampinginya. Saat melihat mereka datang, dia sangat gembira. Mereka telah mempersiapkan sebuah kursi roda untuknya dan membantunya naik ke atas mobil. Dia sudah tidak sabar untuk segera melihat anak-anaknya, tetapi perjalanannya tersendat oleh kemacetan.Perjalanan yang seharusnya hanya 30 menit,tidak kunjung berakhir setelah 40 menit. Dia pun mulai menangis di mobil. Dia sangat cemas, Satu menit bagaikan setahun baginya.Menit demi menit,mobil itu tetap tidak bergerak.Karena itu, dia mulai menangis. Ketika para insan Tzu Chi melihat ketidaksabaran sang ibu untuk segera melihat anak-anaknya, dan saat mereka melihatnya menangis, mereka sangat memahami perasaannya.
Mereka lalu menepuk-nepuk bahunya sebagai tanda dukungan kepadanya. Akhirnya, mereka tiba di panti asuhan. Saat turun dari mobil, mereka menggotongnya ke kursi roda. Dia segera memacu kursi rodanya ke arah pintu gerbang dan terus memanggil nama anak-anaknya. Petugas panti asuhan telah menerimakabar kedatangan seorang ibu yang ingin melihat anak-anaknya. Akan tetapi, yang dia harapkan adalah melihat anak-anaknya menunggu di depan pintu. Saat tidak melihat anak-anaknya di sana,dia terus memanggil-manggil mereka. Pegawai panti asuhan lalu memintanya untuk menunggu sekitar 5 menit. Baginya, 5 menit sangatlah lama. Apakah dia duduk di sana dengan perasaan bahagia atau cemas? Perasaannya terus bercampur aduk. Lima menit kemudian,akhirnya dia melihat anak-anaknya. Ketiga anak yang lucu tersebut berlari ke arah ibu mereka. Gambaran anak-anak memeluk ibu mereka dan sang ibu yang merangkul anak-anaknya membuat setiap orang meneteskan air mata. Baik para relawan Tzu Chi, pegawai panti asuhan, maupun setiap orang yang berada di sana, semua menangis saat melihatnya. Gambaran pertemuan kembali ibu dan anak itu semestinya dapat kita bayangkan. Lalu sang ibu memandangi setiap anaknya dan mengelus mereka dari kepala hingga kaki. Kemudian, anak-anak bercerita banyak hal. Dia juga bertanya kepada mereka,“Jika suatu hari Ayah datang untuk melihat kalian,apakah kalian akan membencinya? ”Mereka menjawab dengan tegas,“Ya, kami sangat benci pada ayah.” “ Sang ibu lalu dengan penuh kasih sayang, Sang ibu lalu dengan penuh kasih sayang berkata kepada anak-anaknya,“Kalian tidak boleh membenci Ayah.” “Dia adalah ayah kalian.” “Kita harus memiliki hati yang lapang untuk memaafkan banyak orang, apalagi ayah sendiri.” Intinya, Kata Perenungan Jing Si terus keluar dari mulut sang ibu. Dia membimbing anak-anaknya dengan hati-hati.
Insan Tzu Chi yang berada di dekatnya sangat bahagia mendengar ucapannya. Akhirnya, pendampingan mereka selama ini telah membantu menyembuhkan batinnya. Cinta kasih yang telah hilang dari dirinya telah pulih kembali. Dia telah mengerti sikap berpuas diri, toleransi, dan memaafkan. Karena itu, dia mengatakan hal-hal ini untuk mengajari anak-anaknya. Meski anak-anaknya masih kecil, setelah dinasihati dengan penuh kasih sayang, mereka pun bersedia memaafkan ayah mereka dan akan menerimanya dengan senang hati. Pertemuan kembali antara ibu dan anak ini tentu akhirnya usai juga. Selama kunjungan, sang ibu duduk di kursi roda. Saat anak-anak memeluk ibu mereka dan menyentuh kakinya,mereka bertanya,“ Ibu, mengapa kaki Ibu hilang satu? ” Sebelum sang ibu menjawab, insan Tzu Chi bergegas mengalihkan pembicaraan dan berkata bahwa mereka telah membawakan barang-barang untuk anak-anak. Mereka segera mengambil barang-barang tersebut dan menunjukkannya untuk menyenangkan anak-anak dan menenangkan hati sang ibu yang sedih karena kehilangan kakinya. Jadi, insan Tzu Chi sangat bijaksana,mereka dapat segera memulihkan perasaan kehilangan sang ibu. Dalam tujuh bulan terakhir itu, sang ibu sangat merindukan anak-anaknya. Selama masa itu, dia memendam kepedihannya. Sekarang dia terlihat sangat optimis. Selama insan Tzu Chi mendampingi dan mengajaknya berbicara, dia akan terus mengingat ucapan mereka.Ketika bertemu dengan anak-anaknya, dia dapat menerapkan apa yang dipelajari. dia dapat menerapkan apa yang dipelajari. Melihat kondisi ini, kita dapat membayangkan bagaimana kehidupannya selama ini. Lihatlah wanita ini,anak-anaknya masih sangat kecil. Dapat juga kita bayangkan, dia dan suaminya telah membangun keluarga ini dengan cinta. Meski bukan keluarga yang berada, mereka pasti pernah hidup bahagia bersama.
Akan tetapi, kehidupan tidaklah kekal. Setelah dia mengalami kecelakaan, suaminya tak kuat menanggung beban ekonomi suaminya tak kuat menanggung beban ekonomi sehingga menelantarkan anak dan istri. Sebagai istri yang masih muda, dia harus menjaga ketiga anak-anaknya sendiri. Menghadapi kenyataan hidup ditambah rasa sakit dari luka fisiknya, bagaimana dia tidak merasa benci dan marah? Akan tetapi, apa yang bisa dia lakukan? Dia tetap menunda untuk mengobati lukanya. Hingga kondisinya sudah terlalu serius,dia baru memutuskan untuk berobat. Saat itulah dia bertemu dengan insan Tzu Chi dan nasibnya mulai berubah dan nasibnya mulai berubah. Selama dapat menyadari dan menghargai berkah, Selama dapat menyadari dan menghargai berkah, pintu hatinya akan terbuka dengan sendirinya, dan dia pun benar-benar dapat menerima perhatian dan cinta kasih dari insan Tzu Chi. Karena itu,batinnya yang risau akibat semua kehilangan yang dialaminya,kini telah pulih kembali. Jadi, noda batin inilah yang disebut kebocoran,noda batin yang muncul akibat adanya sesuatu yang hilang dari hidup seseorang. Jadi, di antara noda batin kita terdapat noda batin nafsu keinginan.Selanjutnya ada noda batin eksistensi.Ketika memiliki nafsu keinganan dan mendapatkan apa yang kita kejar,kita akan merasa bahwa itulah kebahagiaan. Akan tetapi, saat penderitaan munculdan kita harus menanggung buah akibat berupa penderitaan tersebut,ini disebut noda batin eksistensi. Selanjutnya adalah noda batin ketidaktahuan atau kebocoran kegelapan batin. Pertama adalah kebocoran nafsu keinginan. Kedua adalah kebocoran eksistensi. Ketiga adalah kebocoran kegelapan bati. Kebocoran batin sama dengan noda batin. Pada awalnya, nafsu keinginan membawa kita untuk menciptakan karma. Ketika karma dan kondisi matang, muncullah akibat. Akibat tersebut menghasilkan penderitaan. Akibat dari noda batin ini menyebabkan kita semakin terbelenggu dan menciptakan lebih banyak karma buruk. Noda dan kegelapan batin kita pun akan kembali bertambah. Intinya,dalam ajaran Buddha, kebocoran merujuk pada noda batin di alam nafsu, alam rupa, dan alam tanpa rupa.
Sesungguhnya, saya merasa bahwa yang harus kita pahami adalah noda atau kebocoran batin berawal dari kegelapan batin hingga mengondisikan kita mengalami penderitaan dan akhirnya kembali mempertebal noda dan kegelapan batin. Noda dan kegelapan batin. Dengan memahami semua ini, Dengan memahami semua ini, kita hendaknya senantiasa merasa puas. Karena itu, saya sering berkata bahwa kita harus bersyukur dan tahu berpuas diri. Dengan tahu berpuas diri,noda atau kebocoran batin akan lenyap. Dengan memiliki rasa syukur,kebocoran kegelapan batin akan lenyap. Jadi, kita harus selalu bersungguh-sungguh.