Sanubari Teduh – 092 – Tiga Kebocoran Bagian 2
Saudara se-Dharma sekalian, siapakah di dunia iniyang tidak memiliki noda batin? Setiap orang di dunia ini memiliki noda batin. Berapa lama noda batin ini bertahan? Selama sehari? Selama sebulan? Setahun? Ataukah seumur hidup? Jika sehari saja noda batin timbul dalam pikiran kita, maka begitu noda batin itu terwujud ke dalam perbuatan, maka pasti akan ada akibatnya. Buah akibat ini juga akan menjadi sebab baru Buah akibat ini juga akan menjadi sebab barudan menciptakan siklus tanpa akhir dan menciptakan siklus tanpa akhir. Jadi, begitu menanam benih sebab,jika kita tidak menyadarinya,maka dari kehidupan ke kehidupan,satu benih itu akan menjadi tak terhingga karena dari satu benih sebab ini,mungkin tercipta berbagai kondisi. Ketika sebab dan kondisi bertemu,maka akibat akan berbuah. Intinya,meski kita berkata, “Noda batin saya hanya bangkit sekali saja, “sesungguhnya ketika noda batin timbul,kita harus segera waspadadan berusaha melenyapkannya. Sekali noda batin muncul, kita akan menciptakan karma. Benih ini suatu saat pasti berbuah. Jadi,noda batin timbul dari kegelapan batin. Kita harus mengetahui bahwa tiada yang sempurna dalam kehidupan ini. Kita sudah membahas sebelumnya bahwa dari 10 masalah di dunia,8 sampai 9 di antaranya tak sesuai harapan. Tiada yang sempurna di dunia ini. Tiada yang sempurna di dunia ini. Syair Pertobatan berbunyi, “Adakalanya menciptakan segala karma buruk akibat Tiga Kebocoran.”
Istilah kebocoran berkaitan dengan noda batin. Banyak hal di dunia initidak lengkap dan kurang sempura. Kebocoran berarti ketidaksempurnaan. Apa yang tidak sempurna? Kebijaksanaan kita tidak sempurna.Jika memiliki kebijaksanaan, kita tak akan memiliki noda batin. Akan tetapi, hal-hal yang baik lebih jarang kita ambil dan terapkan. Setelah mendengar pembabaran Sutra, sering kali kita cepat melupakannya. Mendengar pembabaran Sutradapat menumbuhkan kebijaksanaan kita. Akan tetapi, ajaran ini sering lewat begitu saja. Sebaliknya, saat mendengar gosip, kita bisa selalu mengingatnya tak peduli itu berkaitan dengan kitaatau tidak. Begitu kita mendengar gosip mengenai diri kita,kita akan membenci dan dendam.kita akan sangat membenci dan merasa dendam. Kita ingin membuat perhitungan.Inilah noda batin. Saat mendengar gosip tentang orang lain,kita juga bisa mengingatnya.Saat suatu hari bertemu orang tersebut,kita pun tak mampu menahan diri untuk berkata,”Saya peduli padamu,saya mendengar orang membicarakanmu.””Saya bukan sedang menyebar gosip,saya hanya bilang agar kamu tahu saja.” Seperti itulah hal-hal yang kita ingat. Inilah yang disebut noda batin.Kita terus membahas cara melenyapkan noda batindan cara untuk selalu berpengertian demi menghindari gosip.Apakah kita masih mengingat metode ini?
Banyak istilah yang disebutkan, berapa banyak yang benar-benar kita pahami dan ingat? Jadi, kalimat yang baik,ajaran yang penuh kebenaran,dan Dharma yang begitu menakjubkanamat mudah terlupakan bagi makhluk awam,bagaikan sebuah ember bocor yang tidak dapat menampung air. Ember bocor ini tak dapat menampung air,namun bisa menampung sampah. Sampah bisa ditampung,namun air jernih tidak bisa.”Tiga Kebocoran” merujuk pada noda batin di Tiga Alam.Di Alam Nafsu ada Kebocoran Nafsu.Kita adalah makhluk Alam Nafsu.Semua orang memiliki nafsu keinginan.Setiap orang memiliki ketamakan.Setiap orang memiliki ketidakpuasan. Dalam masyarakat yang memiliki nafsu tanpa batas ini,dalam dunia materiyang dipenuhi masalah antar manusia ini,jika kita memiliki nafsu keinginan,kebijaksanaan kita tak akan bertumbuh kebijaksanaan kita tak akan bertumbuh karena kita hanya terus berpikir untuk memuaskan nafsu keinginan kita. Kita akan selalu ingin memiliki lebih.Selalu ingin memiliki lebih seperti ini benar-benar merupakan penderitaan luar biasa.Yang kedua disebut Kebocoran Eksistensi. Ini adalah kebocoran di Alam Rupa,yang berarti sudah ada perbuatan yang berwujud. Kita tak perlu membahas hingga Tiga Alam. Istilah-istilahnya akan sangat banyak dan rumit. Kini kita hanya akan membahas perbuatan kita. Tadi kita telah membahas ketidakpuasan hati.Selanjutnya,kita akan membahas tindakan yang berwujud.Wujud akibat dari segala yang kita perbuat disebut “Kebocoran Eksistensi”.Contohnya, ada sebagian orang yang saat mendapat masalah baru menyesali perbuatannya dan terlambat.
Saya pernah melihat sebuah berita tentang seorang ibu di Yilan. Suatu hari seorang lelaki paruh baya tergesa-gesa mendatanginya,mengatakan bahwa putra si ibu terjatuh dari rangka konstruksi,telah dilarikan ke rumah sakit,dan membutuhkan transfusi darah sehingga si ibu harus segera membeli darah. Si ibu tua sangat panik dan bertanya,”Benarkah?””Saya harus bagaimana?”Sang pria meminta uang pada si ibu dengan alasan untuk mengurus keperluannya agar si ibu tak perlu terburu-buru ke RS. Si ibu cepat-cepat menyiapkan uang sejumlah 30.000 dolar NT (sekitar Rp9.000.000) dan menyerahkan pada si pria tadi. Saat ibu itu tiba di rumah sakit,ternyata tidak ada pasien di unit gawat darurat. Ibu itu berpikir mungkin putranya dirawat di RS lain dan bergegas ke sana. Akan tetapi, tetap tidak ada. Ia tidak dapat menemukan putranya. Ia bertanya-tanya sesungguhnya di mana putranya. Kemudian seseorang mengatakan padanya,”Siapa bilang? Dia masih di tempat kerja.””Saat saya mau menuju kemari,dia masih di sana.””Mengapa Anda panik?”Sang ibu berkata, “Benarkah?”Orang itu menjawab, “Kalau tidak percaya,saya akan meneleponnya biar Anda dengar sendiridan langsung berbicara dengannya.””Saya baru saja ke sana.”Ketika mendengar suara putranya,Ketika mendengar suara putranya,ia berkata, “Syukurlah semua baik-baik saja.””Yang penting anak saya baik-baik saja.””Lewat dari masalah ini,berarti satu buah karma sudah lunas.””Tidak apa-apa.””Biarlah ditipu 30.000 dolar NT.”
Dalam kasus ibu ini, ia mengalami saat-saat khawatir. Ini hanya kekhawatiran,bukan kerisauan atau noda batin. Sebagai seorang manusia, ketika sesuatu tiba-tiba terjadi pada anggota keluarga, tidak bisa dipungkiri akan sangat khawatir. Akan tetapi, setelah tahu anaknya selamat,setelah dapat mendengar suara anaknya,sang ibu segera bersikap positif bahwa yang penting anaknya selamat. Ini berarti satu kesulitan telah lewat dan satu karma buruk telah lunas. Meski ditipu sebesar 30.000 dolar NT, ,ini tidak menjadi masalah baginya. Kekhawatirannya sangatlah wajar.Jika dia berkata “Ya, anak saya tidak apa-apa,mengapa saya harus tertipu 30.000 dolar? “Saya kehilangan 30.000 dolar,apa yang harus saya lakukan?”Jika berpikir seperti ini, ia akan terjerumus ke dalam dendam dan kebencian. Demi 30.000 dolar NT,ia akan tidak bisa makan ataupun tidur. Ini baru disebut noda batin. Singkat kata, manusia cenderung merasakan penderitaansetelah mereka melakukan tindakan tertentu. Inilah yang disebut “Kebocoran Eksistensi”. Akan tetapi, ibu tadi sangat bijaksana. Ia sangat bijaksana dan berpikir,”Yang penting anak saya selamat.””Satu karma buruk sudah lunas.””Satu bencana telah lenyap.””Tidak apa-apa tertipu 30.000 dolar.”Meski harus hidup sederhana dan hemat,ia tidak risau. Inilah kebijaksanaan. Jadi, “Kebocoran” adalah noda batin akibat ketidaksempurnaan atau ketidakpuasan. Perasaan negatif yang dimiliki seseorang setelah suatu tindakan dilakukan,itulah yang disebut “Kebocoran Eksistensi”.
Setelah dilakukan, dampaknya tidak hanya akan terasa saat ini,melainkan menjadi lingkaran sebab akibat di dalam sebab ada akibat. Lihatlah buah yang biasa kita makan,semua mengandung biji. Biji atau benih ini berasal dari buah,namun ketika benih ditanam kembali,namun ketika benih ditanam kembali,ia akan berbuah kembali. Jadi, sebab akibat adalah siklus tanpa henti. Lihatlah, satu benih sebab mampu menghasilkan banyak buah. Karena itu, pepatah mengatakan,”Memberi satu akan mendapat sepuluh ribu.” Jika kita terus-menerus menanam benih karma buruk,.buah penderitaan pun akan berlimpah. Sedangkan untuk benih kebajikan,ini berasal dari kebijaksanaan. Jika dapat menanam sebutir benih kebajikan,kita juga akan mendapat sepuluh ribu buah,karena cinta kasih ini juga akan terus berkembang tanpa henti dan terus memberi pengaruh positif. Lihatlah di Tzu Chi. Kini barisan insan Tzu Chi begitu panjang. Mulanya, semua ini pun dimulai dari satu benih. Benih berupa sebuat niat baik ini mulai mewujud lewat tindakan nyata dan menghasilkan buah yang terlihat. Buah ini pun terus bertambah, dari 1 jadi 10, dari 10 jadi 100,dan seterusnya. Benih berkembang menjadi buah, buah pun kembali menghasilkan benih. Buah pun kembali menghasilkan benih. Lihatlah, para anggota komite Tzu Chi memiliki anggota donatur. Para anggota dapat mengikuti pelatihan dan akhirnya turut dilantik sebagai komite. Para anggota komite baru ini juga memiliki donatur. Inilah contoh sebutir benih yang baik,dapat terus berkembang tanpa henti. Hasilnya, barisan Tzu Chi kini sangat panjang. Intinya,benih adalah sebuah sebab. Dengan adanya benih sebab ini,akibat pun akan berbuah.
Berikutnya adalah “Kebocoran Kegelapan Batin”.Jika kita terus diliputi noda batinyang merupakan benih buruk,maka kegelapan batin kita akan terus bertambah.maka kegelapan batin kita akan terus bertambah. Baik di Alam Nafsu maupun Alam Rupa,baik di masa lalu, kini, maupun masa depan,noda batin ini akan terus bertambah. Inilah “Kebocoran Kegelapan Batin”. Para praktisi Buddhis harus berusaha mengatasi kebocoran ini. Kurangnya kebijaksanaan dalam diri kita juga harus segera kita atasi. Hakikat kebuddhaan murni yang pada dasarnya dimiliki setiap orang hendaknya segera kita bangkitkan. Inilah tugas praktisi Buddhis. Syair berikutnya berbunyi,”Adakalanya menciptakan segala karma buruk akibat Tiga Penderitaan.”Dari tiga jenis penderitaan,//yang pertama adalah “Derita Sengsara”. Dunia Saha ini amat penuh penderitaan. Karena itu, dunia ini disebut Dunia Saha,dunia yang makhluknya harus menahan derita. Untuk bertahan hidup di dunia ini,Untuk bertahan hidup di dunia ini,Anda harus tahan akan penderitaan. Lihatlah, adakah orang di dunia iniyang dapat mengatakan bahwa ia tidak menderita? Mereka yang merasa sama sekali tidak menderita adalah orang yang diliputi kebodohan batin. Berhubung hidup dalam kondisi bahagia yang sementara,dalam kondisi bahagia yang sementara,mereka tidak memahami penderitaan di dunia.mereka tidak memahami penderitaan di dunia. Mereka hanya terus terbuai kesenangan duniawi. Jika dapat membuka mata, mereka akan melihat begitu banyak penderitaan di dunia. Terlebih lagi, kehidupan tidaklah kekal. Kegembiraan, kesehatan, kebahagiaan, asmara,adakah yang kekal dan abadi?
Tiada satu pun yang abadi. Ambil tubuh kita sebagai contoh. Lahir, tua, sakit, mati hanyalah masalah waktu. Mungkin bagi sebagian orang,tidak sulit untuk memiliki materi,tidak sulit untuk memperoleh anak,kesehatan mereka pun cukup baik. Jika diingatkan tentang ketidakkekalan, jika diingatkan tentang ketidakkekalan, mereka menjawab, “Tak perlu berpikir sejauh itu.”Yang penting sekarang saya bernasib baik.” Akan tetapi, sesungguhnya berapa lama kondisi itu dapat benar-benar mereka nikmati? Mereka memang memiliki materi. Saya sering berkata bahwa kekayaan materi adalah kepunyaan lima pihak. Lima pihak ini termasuk bencana akibat air dan api. Sungguh, kini bencana alam semakin sering terjadi. Lihatlah efek rumah kaca,kini menjadi sebuah istilah lazim yang menggambarkan kondisi iklim abnormal.yang menggambarkan kondisi iklim abnormal. Suhu bumi terus meningkat. Setiap tahunnya, suhu udara selalu meningkat nol koma sekian derajat. Jika kondisi ini terus berlangsung, akibatnya sungguh akan menakutkan. Saya melihat sebuah berita bahwa Tiongkok bagian selatan telah mengalami cuaca panas yang sebelumnya belum pernah terjadi. Bahkan para hewan di kebun binatang sudah mulai berubah kebiasaan. Harimau di sana mulai lebih memilih makan sayuran. Saat melihat berita ini, saya merasabahkan harimau pun mengerti bahwa banyaknya bencana sekarang ini diakibatkan oleh karma membunuh. Karena itu, kini mereka mulai beralih ke pola makan vegetarian. Bahkan harimau pun mulai bervegetarian. Lihatlah, bukankah suhu udara semakin panas? Akibatnya, makan daging telah membuat harimau tidak nyaman lagi. Mungkin juga hakikat kebuddhaan harimau ini telah mengingat Buddha berkata bahwa semua makhluk memiliki hakikat yang sama. Jadi, semua makhluk memiliki hakikat yang sama dengan Buddha. Di dalam Sutra kita sering melihat kisah. Di dalam Sutra kita sering melihat kisah saat Buddha masih melatih diri di masa lampau. Meski lahir di alam binatang,hakikat kebuddhaannya tetap tidak lenyap. Meski berada di alam binatang, Dia tetap mengasihi semua makhluk. Kisah seperti ini sangatlah banyak. Kini kita dapat melihat bahwa harimau pun mulai memilih pola makan vegetarian. Mungkin cinta kasih mereka telah bangkit,mungkin juga karena suhu udara semakin panas sehingga mereka merasa tidak tahan.
Perubahan iklim adalah masalah semua orang. Jika suhu panas, semua orang akan merasakannya. Mungkin ada orang yang tetap merasa gembira karena punya uang untuk membeli penyejuk udara dan masih bisa menikmati udara sejuk di rumah.dan masih bisa menikmati udara sejuk di rumah. Akan tetapi, apakah mereka tak perlu keluar? Saat keluar setelah lama berada di ruang sejuk, tahukah kalian betapa menderitanya? Karena itu, saya terus mengimbau setiap orang untuk berusaha tidak menyalakan penyejuk. Saat keluar dari ruangan yang sejuk,rasanya akan seperti tungku api. Sebaliknya, jika terbiasa dengan cuaca di luar,maka begitu angin berembus,meskipun cuaca tetap panas,kita akan merasakan sedikit kesejukan. Jika terbiasa berada di ruangan berpenyejuk, kita tak akan mampu merasakan kesejukan angin. Kita akan tidak tahan berada di luar. Terlebih lagi, kini pemanasan global telah mengancam persediaan energi kita. Jika suatu hari kita tidak lagi memiliki air ataupun listrik,dan temperatur terus meningkat,apa yang akan kita lakukan?
Apakah kehidupan ini benar-benar bebas dari penderitaan? Terlebih lagi,adakah orang yang bisa menjamin dirinya tak akan jatuh sakit? Sakit adalah penderitaan. Penyakit tidak membedakan kaya atau miskin. Penyakit tidak membedakan tua atau muda. Lahir, tua, sakit, mati,ditambah bencana alam, tidakkah semua ini membawa penderitaan? Selain banyaknya bencana alam yang terjadi, adakalanya orang yang memiliki harta juga merasa takut. orang yang memiliki harta juga merasa takut. “Memiliki” adalah sumber kerisauan. Tanpa memiliki, batin akan tenang tanpa beban. Kerisauan akibat memiliki dapat dilihat dari banyaknya orang yang semakin menderita saat semakin kaya. Saat semakin terkenal, semakin berkedudukan, dan semakin kaya,mereka merasa tidak aman saat keluar. Mereka tetap saja risau. Dengan hilangnya kebebasan seperti ini, kebahagiaan apakah yang mereka miliki? Mereka tetap tidak bahagia. Saya sering menceritakan kisah-kisahyang saya temui saat mengunjungi penerima bantuan di masa-masa awal Tzu Chi. Kadang, saat mencari pasien di pedesaan, saya hanya perlu bertanya pada orang di sana.”Ya, saya tahu, dia tinggal tak jauh dari sini.”Saya hanya perlu menyebutkan nama. Adakalanya saya salah menyebut nama dan hanya menjelaskan ciri-ciri orang yang saya maksud,mereka menjawab, “Ah, saya tahu.””Maksud Anda adalah si A.” Semua orang mengenalnya. Dia tidak perlu mempromosikan diri, tidak perlu memasang iklan,tidak meminta orang lain mengingat siapa namanya,juga tidak memaksa orang ingat siapa dirinya. Semuanya tidak perlu. Di pedesaan,selama seseorang adalah orang baik,meskipun hidupnya kekurangan,semua orang di desa akan mengenalnya. semua orang di desa akan mengenalnya. Warga setempat pun sangat baik. Mereka akan bertanya apakah kita mengenal jalan. Jika tidak,mereka bersedia mengantar kita. Meskipun sangat kekurangan,mereka tetap saling menjaga. Adakalanya, saat tiba di rumah pasien,jika setelah dipanggil-panggil tidak ada orang yang keluar,mereka akan langsung masuk mencarinya dan mengabarkan bahwa pasien tidak di rumah. Saya menjawab, “Benarkah? Pintunya terbuka.”Mereka membalas, “Memang terbuka.” ”Buat apa dia mengunci pintu?” Dia sangat miskin, setan pun tak berani masuk, apalagi pencuri.” Lihatlah, betapa ia bebas tanpa beban. Ini karena ia tak punya apa-apa. Karena tidak memiliki,maka tidak merasakan apa-apa,tidak ada kerisauan,tidak ada kekhawatiran,dan tidak ada beban, sangat damai. Sebaliknya, saat memiliki,seperti memiliki harta atau memiliki benda berharga di dalam rumah, pintu rumah seseorang akan dibuat berlapis pintu rumah seseorang akan dibuat berlapis dan harus dibangun dengan kokoh. Dia juga harus menyewa penjaga,sungguh menderita. Ia juga akan memelihara anjing yang akan menggonggong sebelum orang mendekat. Ini juga penderitaan. Inilah caranya mewaspadai pencuri.Ia takut pencuri atau perampok.
Berikutnya adalah anak tak berbakti. Sebagian orang sangat kaya, tetapi anak mereka tidak berbakti. Mereka hanya menghambur-hamburkan uang untuk makan, berbelanja,atau berjudi. Setelah menghabiskan uang Setelah menghabiskan uang dan kalah berjudi, mereka hanya menambah beban orang tua. mereka hanya menambah beban orang tua. Ada banyak kasus seperti ini. Jadi, anak tidak berbakti juga merupakan penguras harta kekayaan. Di mana letak kebahagiaannya?Apa manfaatnya memiliki anak? Di mana letak kebahagiaan memiliki harta?
Berikutnya adalah pejabat yang korup. Adakalanya, untuk melancarkan urusan,harus terlebih dahulu memberikan sejumlah uang sebagai uang pelicin. Ketika sebuah skandal terekspos media,orang sering terpaku melihat orang-orang kaya harus mengeluarkan banyak uang untuk menyogok mereka yang memiliki jabatan atau kedudukan. Sungguh mengerikan.Lihatlah, meski harta yang dimiliki banyak,apakah dapat dinikmati seorang diri?
Sesungguhnya, berapa banyak harta yang dapat dinikmati satu orang? Setiap orang hanya memiliki satu mulut. Berapa banyak mangkuk nasi//yang dapat ia habiskan sekali makan? Setiap orang juga hanya memiliki satu tubuh.Berapa banyak pakaian//yang dapat dikenakan bersamaan? Dengan hanya memiliki satu tubuh,berapa ranjang yang dapat//kita tiduri dalam satu saat? Mengapa dalam kehidupan ini orang terus-menerus membodohi diri seperti itu? Mereka berdiam dalam zona nyaman mereka,dalam dunia mereka yang sempit.Ini adalah “Kebocoran” yang tak berwujud. Mereka hanya menghabiskan sumber daya.Ini juga merupakan suatu “Kebocoran”.Tadi kita membahas tentang “Kebocoran”.Harta yang berwujud juga bisa terkurasoleh lima pihak,yakni air, api, pencuri,anak tidak berbakti,dan pejabat korup. Mereka yang berada dalam zona nyaman hanya terus menguras sumber daya dan berkah. Mereka tidak memanfaatkan yang dimilikiuntuk mengembangkan cinta kasih. Alangkah baiknya jika mereka dapat menanam benih kebajikan,dapat menolong orang, terlebih dapat membimbing orang. Sayangnya, mereka tidak memiliki niat ini. Yang mereka miliki hanyalah ketamakan,sehingga noda batin mereka terus bertambah. Meski sementara ini mereka terlihat penuh berkah,sesungguhnya di balik berkah tersebut tersimpan penderitaan. Hingga saat berkah mereka habis dinikmati,buah penderitaan akan menghampiri. Saat itu, penderitaan akan berwujud,noda batin pun akan terus bertambah. Jadi, di Tiga Alam, sungguh tiada tempat yang benar-benar baik. Semuanya mengandung derita sengsara. Dunia ini pada dasarnya//memang mengandung penderitaan, kini ditambah dengan yang tadi kita bahas,ada penderitaan fisik dan batin.
Ada orang yang lebih dahulu khawatir sebelum sesuatu terjadi. Saat memeriksakan diri ke dokter,saat dokter mengatakan, “Ya, Anda mungkin…”Sebuah kata “mungkin” saja sudah membuatnya khawatir. Karena itu, saya sering mengatakan bahwa sebagian orang bukan mati karena sakit,melainkan mati karena takut. Mereka merasa takut dan khawatir,padahal dokter baru mengatakan “mungkin”.Mendengar kata “mungkin”,orang segera bertanya,”Lalu saya harus bagaimana?”Ketika dokter mengatakan,”Teratur minum obat, maka tidak masalah.”kita seharusnya mendengar kata “tidak masalah” ini. Jika dokter mengatakan,”Ini baru tahap awal,tidak masalah jika segera dioperasi,”kita pun seharusnya mendengar ucapan”tidak masalah jika segera dioperasi” ini. Kita seharusnya mendengar bagian itu,jangan hanya merisaukan ucapan sebelumnya. Begitu mendengar, “Mungkin ada masalah,mungkin bisa memburuk,”banyak orang langsung terkejut dan takut. Mereka sudah khawatir sebelum masalah terjadi. Mereka sudah risau sebelum terjadi apa-apa,penderitaan seperti ini sungguh tak terkira. Penderitaan ini berasal dari perasaan batin dan kesengsaraan fisik. Ini disebut “Derita Sengsara”. Hidup di dunia ini,apakah “Derita Sengsara”dapat kita rasakan? Mengetahui adanya penderitaan,kita harus mencari cara mencegahnya.
Seperti ibu tua dalam cerita tadi,ia tidak merisaukan uangnya setelah tahu bahwa anaknya selamat. Ia tidak melekat. Demikianlah kehidupan. Kekhawatiran memang sulit dihindari,namun jangan sampai diliputi noda batin. Noda batin berbeda dari kekhawatiran. Kekhawatiran adalah hal lumrah.”Aduh, mengapa bisa begitu?”Kekhawatiran seperti ini bisa saja timbul. Setelah tahu semua baik-baik saja, kekhawatiran ini akan hilang. Atau, jika sesuatu memang terjadi, kita mungkin merasa menderita,namun setelah ini berlalu, semua kembali seperti biasa, semua kembali seperti biasa. Kekhawatiran ini akan segera berlalu,sedangkan noda batin terus ada dari kehidupan ke kehidupan. Benih penderitaan ini terus mengikuti kita. Jadi, noda dan kegelapan batin adalah benih penderitaan yang sesungguhnya. Jika hanya dilanda kekhawatiran sesaat,berarti kita tengah melenyapkan karma buruk. Seperti yang ibu tadi katakan,”Dengan melewati masalah ini,berarti satu karma buruk telah lunas.”Setelah masalah itu berlalu,semuanya tak lagi ia risaukan. Dalam kehidupan, semua hanyalah perasaan yang bergantung pada pola pikir kita. Jadi, harap semuanya selalu bersungguh-sungguh. Jadi, harap semua selalu bersungguh-sungguh.