Sanubari Teduh – 093 – Tiga Penderitaan
Saudara se-Dharma sekalian, hidup sungguh banyak penderitaan. Waktu juga terus berlalu hari demi hari,sedangkan noda batin terakumulasi dan berkembang dari hari ke hari. Inilah dunia yang makhluknya harus bersabar. Seiring berlalunya waktu,noda batin yang terakumulasi menyebabkan semakin banyak penderitaan. Bukankah ini berarti harus menahan sabar? Dunia Saha adalah dunia yang makhluknya harus menahan penderitaan. Sebelumnya, kita telah membahas Tiga Penderitaan. Pertama adalah Derita Sengsara. Sungguh menderita. Di awal sudah dikatakan bahwa dunia ini memang penuh penderitaan. Hidup pada dasarnya memang penderitaan,ditambah lagi dengan penderitaan karena bencana alam dan ulah manusia, hidup benar-benar menjadi sangat menderita. Ada orang bagaikan pemimpi bodoh yang mengira bahwa terlahir sebagai manusia adalah berkah yang akan berlangsung terus-menerus. Mereka mengira kebahagiaan bersifat kekal,dan mengira akan selalu memiliki berkah. Mereka tak menyadari bahwa di balik berkah ini juga ada krisis yang terpendam,yaitu ketidakkekalan hidup. Jenis penderitaan keduaa dalah “Derita Kelapukan”.Lapuk berarti rusak. Di dunia ini, benda manakah yang bersifat abadi? Benda manakah yang dapat terus abadi tanpa lapuk?. Sejak dunia ini mulai terbentuk,segala sesuatu terus berproses dalam perubahan. Proses pelapukan dan penuaan berjalan dengan sangat halus.Pelapukan ini berlangsung tanpa kita sadari. Ambillah bumi sebagai contoh. Miliaran tahun yang lalu,kondisi bumi masih sehat dan bebas polusi. Di mana-mana terdapat pemandangan alami, hewan-hewan pun hidup di hamparan tanah yang luas ini dengan amat bebas dan leluasa.Secara perlahan, waktu terus berputar dan proses perubahan terus berlangsung. Dalam masa-masa ini,populasi manusia juga terus meningkat.
Sejak adanya kehidupan makhluk,hewan, dan manusia,mulailah timbul gejala mendukung dan merusak. Yang kuat menindas yang lemah,yang lemah dimakan yang kuat. Ini membentuk siklus buruk rantai makanan yang berlangsung hingga sekarang. Seiring berjalannya waktu,mengikuti pola hidup manusia dan makhluk lain,siklus ini semakin memburuk perlahan-lahan hingga sekarang ini. Lihatlah berapa pertumbuhan populasi manusia. Bayangkan berapa banyak pula binatang yang harus dibunuh demi memenuhi nafsu makan manusia. Pemerintah Tiongkok telah mendorong warganya untuk mengonsumsi lebih banyak nutrisi. Setiap orang dianjurkan mengonsumsi rata-rata 200 butir telur ayam per tahun. Tiongkok sendiri saja memiliki 1,3 miliar penduduk. Jika 1,3 miliar orang ini masing-masing mengonsumsi 200 butir telur,berarti 1,3 miliar dikali 200,coba bayangkan berapa jumlahnya. 260 miliar butir telur. Berapa banyak ayam yang dibutuhkan untuk menghasilkan 260 miliar telur? Untuk menghasilkan telur guna memenuhi permintaan di Tiongkok saja, berapa banyak pakan ayam yang harus disediakan? Ayam-ayam itu tidak bisa diberi pakan alami. Demi merangsang agar ayam bertumbuh pesat dan bertelur lebih banyak,maka pakannya dicampur dengan bahan kimia. Pakan berbahan kimia bisa mencemari lingkungan. Tubuh unggas juga akan terkontaminasi. Kotoran yang dihasilkan oleh hewan-hewan ini juga dapat mencemari lingkungan.Berapa banyaknya dampak buruk yang dihasilkan sungguh tidak dapat dihitung. Ini baru sebatas peternakan ayam, belum lagi masih banyak contoh lainnya.
Jika direnungkan,ini sungguh merupakan noda batin yang terus berkembang,pencemaran yang terus bertambah,serta karma buruk yang terus tercipta. Di dunia ini, Di dunia ini,seiring dengan berjalannya waktu,proses pelapukan pun terus terjadi. Kita ambil bumi sebagai contoh. Segala sesuatu di bumi memiliki empat fase,yaitu pembentukan, keberlangsungan, kerusakan, dan kehancuran. Kapankah fase pembentukan bumi berlangsung? Apakah beberapa triliun tahun lalu ataukah beberapa miliar tahun yang lalu?
Setelah bumi terbentuk, ia memasuki fase keberlangsungan. Ini berarti di alam semesta sudah terdapat planet bernama Bumi,dan bumi sudah ada di alam semesta ini. Bersama matahari, bulan, dan bintang,ia mengorbit pada lintasannya sendiri. Ia sudah ada di alam semesta. Inilah yang disebut berlangsung,bumi telah terbentuk dengan sempurna dan memenuhi syarat berkembangnya kehidupan,misalnya ada cahaya matahari dan ai. Cahaya matahari dan air merupakan elemen penting penopang kehidupan,merupakan elemen penting penopang kehidupan,ditambah udara sebagai elemen penting lainnya. Dengan begitu, makhluk hidup mulai berkembangdan hidup di atas bumi. Berbagai organisme juga mulai muncul. Inilah yang disebut fase keberlangsungan. Berbagai makhluk hidup mulai muncul dan hidup di bumi. Akan tetapi, kita juga mendengar tentang kepunahan hewan dinosaurus. Jutaan tahun yang lalu,makhluk seperti itu pernah hidup di bumi,namun lambat laun spesies ini punah. Apakah disebabkan oleh iklim ataukah akibat tindakan manusia,banyak arkeolog masih menelitinya. Mereka telah menemukan bukti bahwa hewan-hewan tersebut pernah ada. Meski pernah mengalami fase keberlangsungan,namun kini mereka telah punah. Spesies ini telah mengalami fase kerusakan dan kehancuran. Segala makhluk di bumi kita ini,sama halnya dengan dinosaurus, setelah mengalami fase keberlangsungan,lama-kelamaan juga akan punah. Setelah fase pembentukan dan keberlangsungan,lambat laun fase kerusakan akan datang. Bumi ini sendiri juga akan mengalaminya. Banyak bencana terjadi di berbagai negara,seperti gempa bumi, banjir, dan badai.seperti gempa bumi, banjir, dan badai. Semua ini merupakan bagian darifase kerusakan. Kini, dunia sedang berada di fase kerusakan. Jadi, bumi kita pernah mengalami fase pembentukan.Setelah fase pembentukan berlangsung dalam waktu yang sangat panjang, selanjutnya adalah fase keberlangsungan. Fase ini juga berlangsung dalam waktu yang lama. Setelah itu, tibalah fase kerusakan. Kerusakan terjadi karena ketidak selarasan unsur tanah, air, angin, dan api, yang menyebabkan kerusakan pada bumi. Sesungguhnya,ketidakselarasan empat unsur alam tersebut juga disebabkan oleh ulah manusia. Fase terakhir adalah kehancuran. Saat membahas tentang fase pembentukan,keberlangsungan, kerusakan, dan kehancuran,kita juga percaya bahwa suatu hari bumi akan rusak dan hancur karena adanya banjir, kebakaran, dan badai. Kini, para ilmuwan juga punya pandangan ini.Ini bukanlah hal yang mustahil.Kita sering mendengar kejadian yang menunjukkan bahwa fase kerusakan dan kehancuran benar-benar bisa terjadi.Lihatlah suatu permukiman tertentu yang terletak di sebuah gunung. Saat terjadi tanah longsor,gunung itu kehilangan separuh massanya.Betapa banyak rumah di kaki gunung tersebut dengan cepat terkubur oleh longsoran tanah.
Contohnya, di El Salvador.Sebuah gempa telah mengakibatkan tanah longsor yang mengubur sebuah desa. Lihatlah,dalam sekejap, semuanya hilang. Seluruh desa tidak ada lagi. Sungguh,dunia ini demikian tidak kekal. Segala sesuatu bersifat tidak abadi,baik tanah, gunung, sungai, rumput, pohon,maupun yang lainnya,bahkan manusia juga tidak ada yang kekal. Jadi, bumi mengalami fase pembentukan,keberlangsungan, kerusakan, dan kehancuran. Manusia mengalami lahir, tua, sakit, dan mati. Semua proses ini terus berlangsung tanpa kita sadari. Manusia terus bertambah tua dan terus didera penyakit hingga akhirnya mengalami kematian. Yang paling menakutkan adalah pikiran manusia.Pikiran kita mengalami fase timbul,berlangsung, berubah, dan lenyap. Setelah seseorang bertekad melatih diri,jika muncul kondisi tertentu yang membuatnya tergoda, tekadnya akan goyah dan pikiran buruk pun muncul. Tidaklah mudah membangkitkan tekad melatih diri. Begitu tekad ini muncul,berbagai godaan akan dirasakan. Begitulah pikiran timbul, berlangsung, berubah, dan lenyap. Untuk mempertahankan tekad melatih diri, tidaklah mudah. Pikiran memiliki fase berubah. Selain berubah,ia juga dapat lenyap,sehingga akar pelatihan kita juga lenyap.Intinya,segala bentuk pikiran memiliki fase timbul, berlangsung, berubah, lenyap,entah pikiran baik ataupun buruk. Demikianlah kehidupan,memiliki masa-masa sulit dan kerusakan. Dalam hubungan antar manusia juga ada fase kerusakan,bahkan kehidupan manusia juga mengalami fase lahir, tua, sakit, dan mati. Fase tua dan sakit sama dengan kerusakan.Organ tubuh mulai mengalami penurunan fungsi, sehingga berbagai penyakit bermunculan dan akhirnya kematian pun tiba. Akan tetapi,ada sebagian orang mati dengan sia-sia dan ada pula yang mati dengan penuh makna. Jika dapat memahami kebenaran hidup,kehidupan akan menjadi sesuatu yang abadi. Keabadian ini didasarkan pada cinta kasih.
Di kantor administrasi Sekolah Menengah Tzu ChiDi ada seorang anak muda berusia 29 tahun. Kakak perempuan dan kakak iparnya juga bekerja di badan misi Tzu Chi. Mereka adalah kaum muda yang baik,bersungguh-sungguh,dan berdedikasi dalam misi pendidikan. Tiada yang mengira sesuatu akan terjadi pada anak muda yang baru bekerja setahun ini. Ia bekerja dengan sungguh hati dan melayani orang dengan santun. dan melayani orang dengan santun. Siapa yang menduga ia mengalami kecelakaan dan harus dilarikan ke UGD? Ketika tiba di unit gawat darurat,pupil matanya telah membesar. Para dokter sudah tahu bahwa ia sulit tertolong.Ibu dan saudara-saudara kandungnya sungguh tidak kuat menerima kabar ini. Mengapa pemuda baik seperti dia mengendarai sepeda motorpada pukul dua dini hari? Ada apa sebenarnya? Tiada yang tahu. Akan tetapi, ibunya sangat bijaksana. Ia merasa tidak ada gunanya mengajukan tuntutan karena dokter telah menyatakan anaknya mengalami mati otak. Pada hari itu, saya berkata kepadanya,”Anda juga harus menjaga diri.”Mari kita mendoakan anak ini.”Jika masih berjodoh dengan kehidupan ini,dia akan baik-baik saja.””Katakan padanya bahwa jika dia pulih kembali,segeralah memanfaatkan hidupnya untuk bersumbangsih bagi orang banyak.”Para dokter dan perawat telah berusaha menyelamatkannya.”Jika tidak dapat diselamatkan,tubuhnya masih dapat menolong banyak orang.””Sebagai ibu, Anda harus bilang padanya bahwa meski jodohnya dengan kehidupan ini sudah berakhir,organ-organ tubuhnya masih dapat berfungsi dalam tubuh orang lain untuk jangka waktu yang panjang, sehingga orang lain dapat hidup lebih lama.””Anda harus membangkitkan niat dan bertekad untuk mengatakan ini kepada putra Anda.”
Sang ibu terus mengangguk tanda setuju. Saya berkata, “Anda harus bisa melakukannya.”Keesokan harinya, untuk kedua dan ketiga kalinya dokter menyatakan anak itu mati otak. Dengan bijak, sang ibu berusaha mengembangkan cinta kasihnya. Ia pun memutuskan untuk segera mendonorkan organ tubuh putranya kepada delapan orang. organ tubuh putranya kepada delapan orang. Semua organ tubuhnyadapat terus berfungsi dalam tubuh 8 orang dan memperpanjang hidup orang-orang ini.Terlebih lagi, tulangnya juga didonorkan ke bank tulang di rumah sakit kita.Tulangnya saja dapat menolong 50 sampai 60 orang. Lihatlah, satu tubuh saja dapat bermanfaat bagi 50 sampai 60 orang,bahkan 70 orang. Lihatlah, betapa berharganya. Meski dia hanya hidup di dunia ini selama 29 tahun yang singkat, namun setelah kecelakaan menimpanya, ia malah dapat mendonorkan organnya untuk menolong 60 sampai 70 orang. Sungguh mengagumkan. Nilai kehidupan dan semangatnya sungguh masih terus hidup dan berlanjut. Akan tetapi, yang paling mengagumkan adalah ibu dan keluarganya. Ibunya telah membuat keputusan yang sangat bijaksana. Kebijaksanaan seperti ini belum tentu dimiliki oleh orang pada umumnya.Ibu ini kelihatan sangat biasa, Ibu ini kelihatan sangat biasa,namun dia mampu melakukan perbuatan yang demikian luar biasa. Lihatlah di dunia ini,tidak ada seorang pun yang hidup abadi.
Segala sesuatu mengalami fase pembentukan,keberlangsungan, kerusakan, dan kehancuran.Tubuh manusia mengalami kelahiran, usia tua,penyakit, dan kematian. Semua ini adalah penderitaan. Ini adalah penderitaan akibat kelapukan. Ini adalah penderitaan akibat kelapukan.Di dunia ini,adakah yang tidak melewati empat fase ini? Adakah orang yang tidak tua, sakit, dan mati? Dalam hidup ini, kelapukan segala sesuatu atau meninggalnya seseorang adalah yang paling sulit direlakan. Semua ini paling sulit diikhlaskan. Akan tetapi, kita tetap harus mengatasinya dengan kebijaksanaan. Jika dapat mengatasinya dengan kebijaksanaan,kita akan mencapai “kekekalan”.Saudara sekalian, sebagai praktisi Buddhis,kita harus berlatih agar mampu mengubah pola pikir kita. Jika mampu melakukannya, kita akan mencapai “kekekalan”. Kita akan mampu mengatasi “Derita Sengsara”ataupun “Derita Kelapukan”. Jadi, harap semua lebih bersungguh-sungguh.