Sanubari Teduh – 094 – Tiga Jenis Kekeliruan
Saudara se-Dharma sekalian,setiap hari, topik diskusi kita tidak terlepas dari masalah noda batin. Sungguh, kehidupan manusia diliputi noda batin,karena itulah terdapat penderitaan. Jika tidak memiliki noda batin yang mendorong kita melakukan karma buruk,mana mungkin kita mengalami penderitaan? Mengapa makhluk di Dunia Saha disebut makhluk yang harus menahan sabar? Karena dunia ini penuh dengan penderitaan. Jadi, kita harus belajar untuk bersabar menahan penderitaan. Dengan begitu, kita baru dapat hidup dengan damai dan tenteram. Jika tidak dapat bersabar, kita akan mudah menghancurkan diri kita. Kita sering mendengar kasus bunuh diri. Saya merasa hidup seperti itu amat disayangkan. Hanya karena tidak dapat berpikir jernih dan tidak mampu menahan penderitaan, mereka melakukan karma buruk besar yang membawa penderitaan lebih besar kelak. Ini karena bunuh diri berarti menghancurkan diri sendiri,dan ini adalah pikiran yang beracun. Meski demikian, seseorang mungkin berpikir,”Aku hanya menghancurkan diri sendiri dan tidak membuat orang lain terluka.””Jadi, aku tidak bersalah.””Dengan bunuh diri, semua masalah selesai.” Pendapat ini sungguh salah. Justru karma buruk ini lebih berat karena tubuh kita berasal dari darah kedua orang tua kita. berasal dari darah kedua orang tua kita.Jadi, ketika melukai tubuh kita,berarti kita melukai tubuh warisan orang tua kita. Jadi, bunuh diri adalah tindakan yang dilandasi pikiran buruk dan beracun, juga merupakan tindakan tidak berbakti, karena kita menghancurkan tubuh yang diberikan oleh orang tua kita. Jadi, akan menciptakan lagi satu karma buruk akibat tak berbakti.
Orang zaman dahulu berkata, “Rambut dan kulit pemberian orang tua janganlah dirusak.”Zengzi, salah seorang murid Konfusius, seumur hidup sangat sederhana dan amat berbakti. Konfusius sangat memujinya. Dia juga sangat dihormati murid-muridnya. Menjelang ajalnya, Zengzi meminta murid-muridnya untuk memeriksa apakah kaki, tangan, serta anggota tubuhnya yang lain memiliki luka atau goresan. Murid-muridnya melakukan apa yang dia minta dan memeriksa seluruh tubuhnya dan memeriksa seluruh tubuhnya. Kemudian, mereka berkata kepadanya,”Guru, tiada satu pun goresan di tubuh Guru.”Saat mendengarnya, Zengzi menjawab,”Kalau begitu, aku dapat mati dengan tenang.”Dia tersenyum lega dan berkata,”Dalam hidupku, aku telah menjaga dengan baik tubuh yang diberikan oleh orang tuaku, jadi aku tidak bersalah kepada mereka,dan tidak mengecewakan mereka.” Dengan sikap ini, kita dapat melihat bahwa berbakti adalah dasar dari kebajikan manusia. Para bijak dari masa lalu juga mengajarkan nilai bakti. Apa yang dimaksud dengan berbakti?”Orang tua paling mengkhawatirkan anak-anaknya. “Jadi, selama tidak membuat orang tua khawatir,maka kita disebut telah berbakti. Orang tua sangat peduli dengan kondisi fisik maupun mental kita. Selain khawatir kita jatuh sakit atau cedera,yang juga mereka khawatirkan adalah kita sakit secara mental. Meski orang tua telah berusia 100 tahun dan anak-anaknya berusia 80 tahun,mereka tetap saja masih khawatir terhadap anak mereka yang berusia 80 tahun ini. Jika kita sungguh berbakti, janganlah membiarkan orang tua kita khawatir.Jadi, orang tua paling mengkhawatirkan anak-anaknya.
Berbakti kepada orang tua berarti tidak membuat mereka khawatir.Ini juga termasuk tindakan berbakti. Karena itu, sebagai praktisi Buddhis, kita harus menjaga pikiran kita dengan baik. Jika kita selalu merasa tidak puas terhadap setiap orang dan masalah yang kita hadapi, pikiran kita akan mudah terganggu dan penyakit mental akan bermunculan. Jika muncul penyakit mental seperti depresi atau bipolar disorder,seseorang akan kehilangan kendali diri,akibatnya dia melukai orang dan diri sendiri. Penyakit seperti ini berawal dari pikiran dan terwujud dalam perbuatan. Baik melukai orang lain maupun diri sendiri,ini adalah perbuatan jahat dan tidak berbakti. Karena itu, penderitaan yang dialami seseorang akibat dari hasil perbuatannya. Tentang Derita Sengsara dan Derita Kelapukan, sebelumnya sudah kita bahas. Selanjutnya adalah derita akibat perubahan kondisi. Mengenai kondisi atau bentuk-bentuk pikiran ini,kita sering membahas Lima Agregat yang bersifat kosong tanpa inti.
Salah satu dari Lima Agregat adalah bentuk-bentuk pikiran. Lima Agregat terdiri atas bentuk, perasaan,persepsi, bentuk-bentuk pikiran, dan kesadaran. Mengenai bentuk-bentuk pikiran,ia berproses dengan sangat halus dan merupakan kondisi yang selalu berubah. Segala sesuatu di dunia ini selalu berproses. Dari semua yang dapat kita lihat,tiada satu pun yang bersifat tetap, tiada satu pun yang bersifat tetap. Tidak ada. Segalanya terus berproses dan berubah. Cobalah lihat,setiap planet di alam semesta ini selalu berputar. Bumi dan bulan yang paling kita kenal serta planet-planet lain seperti Mars, Jupiter, dll.,juga terus bergerak sama seperti Bumi. Jadi, benda angkasa apa pun di alam semesta,baik bulan, matahari, planet Jupiter, Merkurius,Mars, maupun planet Bumi, semuanya terus bergerak tanpa henti. Demikianlah kondisi yang terus berubah. Meskipun kita tinggal di bumi,namun tanpa kita sadari,bumi bergerak terus-menerus. Ketika ketidakselarasan empat unsur alam mengakibatkan gempa bumi dan pergerakan lempeng-lempeng tektonik,guncangan tersebut terasa sangat jelas. Jadi, kita dapat merasakan pergerakan bumi ketika terjadi bencana yang diakibatkan oleh ketidakselarasan unsur alam. Pada kondisi yang normal,baik dalam pergantian musim maupun hari,semua juga terus berubah dan berproses. Ketika empat unsure selaras,proses perubahan ini cenderung tidak terasa. Begitu juga dengan manusia. Ketika rambut kita sedang tumbuh,kita tidak merasakannya. Begitu juga dengan kuku kita yang terus tumbuh. Apakah mereka tumbuh di siang hari ataukah di malam hari? Pada menit, detik, atau hari keberapa mereka tumbuh hingga panjang, kita tidak tahu. Akan tetapi, metabolisme tubuh terus berproses, sel-sel tubuh terus tumbuh dan mati. Intinya, tubuh kita secara konstan mengalami proses penuaan.
Pertumbuhan di mulai sejak kecil hingga dewasa. Setelah dewasa, masa pertumbuhan berhenti. Kemudian kita mulai memasuki usia paruh baya sampai usia tua. Secara perlahan, tubuh kita mulai menua. Kita sendiri tidak menyadarinya. Ketika 4 unsur dalam tubuh tidak selaras dan penyakit mulai bermunculan,kita baru merasakan penderitaan dari perubahan. Sesungguhnya, bukan hanya itu. Contohnya, saat kita menanam sebutir kacang. Saat ditanam, ia jelas hanya sebutir biji. Setelah Anda tanam di dalam tanah,dua hari kemudian coba perhatikan lagi,sudah ada sedikit retakan di tanah. Lihatlah lagi pada hari berikutnya,tunasnya telah keluar dari tanah. Cobalah perhatikan terus,kecambah akan tampak berbeda setiap harinya. Akan tetapi, kapan perubahan tersebut terjadi? Setelah berproses terus dalam perubahan,tumbuhlah bunga di atas tunas tersebut,sedangkan bagian bawahnya mulai menjalar masuk ke dalam tanah dan tumbuh menjadi kacang.Jadi, meski fenomena alam dan prinsip kerja alam sangat menakjubkan,tetapi tidak terlepas dari proses perubahan.
Ketika saya mengikuti rapat proyek RS di Yuli,salah satu konsultan proyek kita berkata, “Bangunan kita cukup bagus,tetapi kita mungkin harus mengevaluasi kembali apakah semen yang digunakan terlalu banyak.”Maksudnya, bangunan tersebut terlalu kokoh. Dengan menguranginya, kita dapat menekan biaya. Penasihat lain kemudian berkata,”Menurut peraturan konstruksi saat ini, sekian ton saja sudah dianggap memenuhi standar yang berlaku, apalagi kita telah melampauinya,berarti bangunan kita pasti lebih kokoh.”Kita melakukan ini karena saat ini para peneliti yang menganalisis bangunan-bangunan masa lampau menemukan bahwa campuran bahan semen, pasir,dan batu dari bangunan-bangunan lama mulai terurai dan keropos setelah sekian lama. Jadi, bangunan rumah sakit kita harus ditekankan segi keamanannya,dan harus tetap kokoh selama ribuan tahun. Itulah sebabnya, kita harus memperbanyak semen ke dalam campuran pasir dan batu. Jadi, dalam perbandingannya, penggunaan jumlah semen lebih banyak, sedangkan pasir dan batu dikurangi. Tentu bangunannya akan menjadi lebih kokoh. Mengikuti standar yang berlaku dapat menghasilkan bangunan yang cukup kokoh,tetapi jika dapat membuatnya lebih kuat lagi dan memperlambat laju pengeroposan,maka usia bangunan akan lebih panjang.
Tentu saja kita harus mengetahui bahwa meski sebuah bangunan telah dibuat dengan standar yang berlaku,namun seiring berjalannya waktu,ia juga tetap mengalami pelapukan. Material dan tiang bangunan adalah benda mati. Pasir, batu, dan semen yang dicampur hingga menjadi struktur bangunan,semuanya adalah benda mati. Meski begitu, ia juga berproses dalam perubahan dan mengalami penuaan seiring berlalunya waktu. Baik makhluk hidup maupun benda mati,segala sesuatu di dunia ini mengalami proses perubahan.Begitu juga kehidupan manusia.Kita telah mendiskusikan fase pembentukan,keberlangsungan, kerusakan, dan kehancuran. Fase kerusakan terjadi karena proses perubahan. Segala sesuatu berubah seiring dengan waktu. Di dunia ini, benda apa pun akan mengalami pelapukan seiring dengan berjalannya waktu. Bumi juga mengalami hal yang sama. Jadi, dunia memiliki fase pembentukan, keberlangsungan, kerusakan, dan kehancuran. Manusia mengalami fase lahir, tua, sakit, dan mati. Semua ini adalah proses perubahan kondisi. Semua ini tidak terlepas dari proses perubahanyang berlangsung dengan sangat halus. Meski proses tersebut sedang berlangsung,kita tidak merasakannya. Bahkan saat tubuh mengalami penuaan,kita juga tidak menyadarinya. Ia berubah dengan cara yang sangat halus. Karena itu, dari 3 jenis penderitaan,yang terakhir adalah “Derita Perubahan Kondisi”. Mengetahui perubahan ini,apakah kita semua masih dapat berkata bahwa kita baik-baik saja, kita tidak menderita,dan memiliki rencana ribuan tahun?Jika kita hanya mementingkan diri sendiri dalam membuat rencana ribuan tahun,apakah itu memungkinkan? Tidak mungkin,karena diri pun tidak kekal. Kehidupan manusia hanya beberapa puluh tahun,apalagi ketidakkekalan bisa datang kapan saja,jangankan beberapa puluh tahun, bahkan beberapa hari pun sulit ditentukan, mana mungkin “aku” dapat hidup ribuan tahun. Akan tetapi, kita dapat bekerja demi manfaat umat manusia. Meski suatu hari bumi juga akan mengalami kerusakan dan kehancuran,namun masa tersebut masih sangat lama dan dihitung dengan satuan kalpa. Jika setiap orang di dunia ini dapat memiliki hati, pikiran, dan perbuatan yang baik, setiap orang dapat menyayangi bumi ini,menghargai negara,masyarakat, dan keluarga,serta menjunjung nilai perbuatan sendiri, maka membuat rencana ribuan tahun yang bermanfaat bagi dunia tentu akan memungkinkan.
Banyak sekolah yang telah berdiri selama lebih dari satu atau dua abad. Pendidikan yang ada di masa sekarang juga merupakan warisan dari orang-orang sejak ratusan tahun atau bahkan ribuan tahun yang lalu. Jadi, orang-orang dari masa lalu telah membukakan jalan demi generasi mendatang. Ini adalah misi mereka. Bukankah Konfusius mengajar demi kebaikan generasi mendatang? Bukankah Buddha membabarkan Dharma demi kebaikan makhluk di masa mendatang? Jadi, jika kita dapat melampaui ego pribadi, maka sifat ini akan berlangsung langgeng. Jika masih melekat pada kemelekatan diri,kita tidak akan terbebas dari 4 fase, yaitu pembentukan, keberlangsungan, kerusakan, dan kehancuran pada materi; fase lahir, tua, sakit, dan mati pada tubuh;fase lahir, tua, sakit, dan mati pada tubuh;serta fase timbul, berlangsung, berubah,dan lenyap pada pikiran. Proses perubahan ini bukanlah sesuatu yang dapat kita lihat. Itulah realitas kehidupan yang merupakan hukum alam, suatu kebenaran yang tak lekang oleh waktu. Jadi, kita harus berusaha memahaminya. Segala pengejaran kepentingan pribadi tidak ada yang kekal. Selanjutnya dikatakan,”Adakalanya menciptakan segala karma buruk akibat dorongan Tiga Jenis Kekeliruan.”Kekeliruan adalah pandangan terbalik, seperti menganggap yang tidak kekal sebagai kekal. Seperti yang telah kita bahas sebelumnya, adakah yang kekal di dunia ini? Tidak ada yang kekal. Kedua, menganggap kebahagiaan semu sebagai kebahagiaan sejati. Apakah yang membahagiakan di dunia ini? Adakah kebahagiaan yang abadi? Ada pepatah mengatakan bahwa kesenangan berlebihan berujung kesedihan.Kebahagiaan duniawi dapat membuat orang lupa diri. Kebahagiaan seperti ini akan menciptakan banyak karma buruk dan penderitaan. Kesenangan berlebihan dapat berujung kesedihan karena manusia cenderung lupa diri. Inilah pandangan keliru semua makhluk. Di mana letak kebahagiaan di dunia ini? Meskipun ada kebahagiaan, perasaan itu berlalu dengan cepat bagai awan dan asap. Akan tetapi, demi kebahagiaan sesaat itu,orang-orang melakukan banyak hal yang menyebabkan penyesalan mendalam. Mereka menganggap yang tidak kekal sebagai kekal dan yang bukan kebahagiaan sebagai kebahagiaan. Lihatlah kondisi masyarakat kita sekarang, betapa banyak orang yang telah mengganggu tatanan sosial dengan mengonsumsi narkoba. Mengapa mereka melakukan itu? Setelah kecanduan,orang pasti menderita. Semua orang tahu hal ini. Mereka memakai narkoba hanya karena ingin tahu. Setelah mencobanya, mereka berkata bahwa rasanya seperti melayang. Kita tentu tidak tahu seperti apa rasanya, namun menurut penuturan para pemakai,itulah yang mereka rasakan. Akan tetapi, berapa lama perasaan itu bertahan? Meski merasakan sesuatu yang berbeda,namun bagi orang lain, mereka terlihat bagai orang gilayang tak bisa mengendalikan diri.
Mereka tidak sadar akan kondisi nyata dan berbicara tidak masuk akal, atau karena tidak sanggup mengendalikan diri, mereka bertingkah laku aneh. Mereka merasa seperti melayang di udara. Orang lain melihatnya seperti tidak normal. Efek ini bukan hanya berhenti sampai di sana. Jika tidak melanjutkan pemakaian narkoba, mereka akan sangat menderita. Ada yang terlihat kejang-kejang, gemetaran,sangat menderita. Meski banyak orang telah melihat kondisi ini, namun di masih ada saja orang yang terjerumus. Beberapa di antaranya ingin berhenti,namun harus menjalani rehabilitasi berkali-kali karena belum dapat mengontrol diri. Orang yang kecanduan narkoba tidak hanya merusak kesehatan mereka sendiri,tetapi juga menghancurkan semangat mereka. Tekad mereka akan melemah. Mereka sudah kehilangan keteguhan tekad. Meski telah direhabilitasi dengan susah payah, saat meninggalkan pusat rehabilitasi, mereka tak mampu menolak ajakan sesama pecandu. Hanya dengan diajak sekali,mereka mulai memakai narkoba lagi. Betapa menderitanya. Betapa bodohnya. Selain narkoba yang membawa penderitaan,alkohol juga merupakan racun lambat. Lihatlah, betapa banyak peminum alkohol yang paru-paru, hati, jantung, limpa, dan lambungnya rusak akibat racun dalam alkohol. Alkohol masuk ke dalam organ tubuh dan meracuninya perlahan-lahan. Intinya,ketika orang menjadi pecandu alkohol, jika tidak minum, mereka akan gemetaran dan sangat sengsara. Sulit untuk meminta mereka berhenti minum. Akan tetapi, para pemabuk ini juga tahu bahwa saat dalam keadaan mabuk, mereka terlihat seperti bukan manusia.
Awalnya mereka berjalan dengan tegap dan masuk ke dalam bar dengan pakaian rapi. Ketika pulang, dasinya sudah tampak mengendur,pakaiannya terlihat miring, dan dadanya tersingkap. Betapa kusut penampilannya. Sebenarnya, dia sendiri juga melihatnya dan sadar akan hal itu. Hanya saja, rasa malunya hilang perlahan-lahan karena efek alkohol. Jadi, meski tahu dengan jelas bahwa hal ini sangat memalukan, namun ketika sedang mabuk,mereka bisa saja berbaring di tengah jalan atau buang air sembarangan di tempat umum. Ada orang yang seperti itu. Akan tetapi, saat sadar, dia akan merasa malu mendengar ucapan orang tentang dirinya. Hanya saja, perasaan malu tersebut sudah makin melemah. Lihatlah, minuman beralkohol tidak bergerak di dalam botol,tetapi hati oranglah yang tergerak dan tergoda hingga tidak mampu mengendalikan diri. Terlebih lagi, benda inidapat meracuni tubuh manusia dan menjatuhkan integritas orang. Akan tetapi, mereka telah berpandangan keliru dan tidak mampu melepaskan diri.Mereka merasa senang melakukan itu.Bayangkan,apakah itu adalah kebahagiaan?Selain minuman beralkohol,selanjutnya adalah perjudian. Perjudian membuat orang lupa waktu.
Coba pikirkan, selain menyia-nyiakan waktu dan menguras vitalitas tubuh,setelah kalah dalam judi,betapa banyak orang yang rumah tangganya hancur , bahkan reputasi mereka juga jatuh. Para pejudi sangat memahami akibat dari perjudian, namun ketika sedang berjudi,mereka berkata bahwa mereka sangat gembira. Mereka juga tak dapat menahan diri sehingga tergoda oleh perjudian.Ini sungguh kehidupan yang keliru, tetapi orang-orang begitu terlena dan berpikir,”Aku merasa bahagia. “Semuanya tertuju pada “aku”. Sesungguhnya, mereka tidak menyadari bahwa”aku” ini bersifat tidak kekal. Jadi, orang keliru menganggap yang tidak kekal sebagai kekal dan yang bukan kebahagiaan sebagai kebahagiaan. Mereka melekat pada ego dan berpikir, Bayangkan, bukankah sikap seperti ini merupakan suatu pandangan keliru? Menganggap yang tidak kekal sebagai kekal, menganggap yang bukan kebahagiaan sebagai kebahagiaan,dan melekat pada “aku” yang semu di tengah ketanpaakuan. Mereka tidak tahu kebenaran sejati yang bersifat tidak timbul dan tidak lenyap, yaitu kondisi batin yang suci. yaitu kondisi batin yang suci. Mereka tidak dapat mencapai kondisi itu karena tidak memahami kebenaran. Jadi, mereka akan terus-menerus bergelut di dalam derita ketidakkekalan. Karena itu, hidup mereka penuh penderitaan. Baik tiga jenis penderitaan maupun tiga jenis kekeliruan,semuanya membawa terciptanya karma buruk. Saudara sekalian,semua ini adalah bagian dari noda dan kegelapan batin. Dapat dilihat betapa noda dan kegelapan batin membawa kerugian besar bagi manusia. Bukan hanya bagi manusia,tetapi juga bagi semua makhluk di dunia ini. Semuanya berawal dari noda dan kegelapan batin. Karena itu, kita harus selalu bersungguh hati dan waspada terhadap noda dan kegelapan batin. Jangan biarkan mereka muncul dalam batin. Jadi, marilah kita semua bersungguh-sungguh.