Sanubari Teduh – 102 – Empat Keterikatan
Saudara se-Dharma sekalian, semua makhluk di alam semesta ini memiliki semacam kemelekatan pada kondisi. Kita sudah pernah membahas Empat Kemelekatan. Setelah mengalami kontak dengan objek luar, timbullah kemelekatan. Kemelekatan ini membuat manusia terikat
Jadi, dikatakan, “Menciptakan segala karma buruk karena Empat Keterikatan.” Dalam kehidupan kita sehari-hari, berbagai pandangan, pemikiran, dan opini kita dipengaruhi oleh kondisi-kondisi luar. Dengan adanya kemelekatan pada kondisi-kondisi itu, maka timbullah banyak noda batin. Lalu dengan sendirinya kita akan melakukan berbagai tindakan yang salah. Demikianlah hubungan pikiran dan kondisi luar. Karena itu, selanjutnya dibahas mengenai Empat Keterikatan. Pertama adalah keterikatan terhadap eksistensi. Kedua adalah keterikatan terhadap kekosongan
Ketiga adalah keterikatan pada eksistensi dan kekosongan. Keempat adalah keterikatan pada bukan eksistensi dan bukan kekosongan. Saat melatih diri, sulit dipungkiri pikiran kita juga bisa menyimpang. Jalan pikiran yang menyimpang, sesungguhnya bisa membuat kita tersesat. Sebelum mengenal ajaran Buddha, kebanyakan orang awam memiliki keterikatan, dan boleh dikatakan ini sudah sangat umum. Keterikatan ini memang sudah ada sejak awal
Bukankah kita pernah mendengar bahwa banyak orang yang sangat keras kepala? Memang benar. Setiap orang mungkin dapat mengatakan orang lain keras kepala karena hobi dan minat setiap orang berbeda. Jika memiliki minat, maka akan timbul rasa suka, dan cenderung terikat pada yang disukai ini. Setiap orang memiliki kegemaran masing-masing. Ada yang suka minum teh, ada yang suka minum kopi. Jika peminum teh ditawari kopi, dia akan menjawab, “Saya tidak mau.” “Saya mau teh, saya tidak suka minum kopi.” Demikian juga bagi peminum kopi, dia akan menolak minum teh dan berkata, “Bolehkah beri saya kopi saja?” Ini juga merupakan satu bentuk keterikatan
Contoh ini menjelaskan bahwa setiap orang memiliki kegemaran sehingga sulit untuk tidak melekat dan terikat, contohnya pada hal-hal kecil dalam keseharian kita, seperti kebiasaan buruk kita, kekeraskepalaan kita, kegemaran kita, dan sebagainya. Inilah yang ada dalam keseharian kita. Demikian juga dalam keluarga, meski lahir dari orang tua yang sama, namun sesama saudara juga memiliki minat yang berbeda-beda. Contohnya, saat menonton televisi, ada yang suka film seni dan budaya, ada yang suka film dokumenter, ada yang suka film silat, dan ada yang suka drama percintaan. Jadi, sesama saudara pun memiliki minat sendiri-sendiri. Mereka juga bisa bertengkar demi menonton televisi. Meski memiliki orang tua yang sama dan hidup dalam satu keluarga, namun minat dan pandangan mereka bisa berlainan
Masyarakat bahkan lebih kompleks. Lihatlah, ketidakstabilan masyarakat masa kini bukan disebabkan gejolak dalam masyarakat sendiri, melainkan karena masalah psikologi individu. Contohnya, ada seorang pengemudi, entah apa sebabnya, dia mengemudi sampai keluar jalur dan melawan arah. Saat polisi ingin menghentikannya, dia malah memacu mobilnya dengan kecepatan 120 km per jam di dalam kota. Semakin dikejar, dia semakin melaju. Kemudian polisi mengejar dari belakang sambil menembaki mobil tersebut. Dia tetap saja melaju dengan cepat
Akhirnya, setelah kakinya tertembak, barulah dia menghentikan mobilnya. Dia menyetir dengan kecepatan tinggi sehingga mobilnya menabrak sana sini, terkadang menabrak tiang, terkadang menabrak mobil lain. Saat mobilnya berhenti, pengejaran tentu sudah berlangsung sangat jauh. Selain dipenuhi bekas-bekas tembakan, akibat menabrak ke sana kemari, mobil tersebut rusak parah. Sang pengemudi sendiri juga terluka. Apa yang sesungguhnya terjadi? Menurut polisi, dia adalah seorang buronan, pengedar narkoba, atau pedagang senjata api dan barang ilegal. Jadi, pada saat razia, saat polisi memintanya berhenti, dia malah melaju semakin cepat. Polisi pun menjadi semakin panik dan terus mengejarnya hingga situasi tambah menegangkan
Akhirnya, tidak ditemukan narkoba dalam mobil, juga tidak ada senjata api ilegal. Lalu, mengapa pengemudi ini berusaha kabur sampai polisi harus mengejarnya dengan penuh risiko? Ternyata dia mabuk akibat minuman beralkohol. Masalahnya hanya sesederhana itu, yaitu mabuk dan gemar kebut-kebutan. Alkohol telah menghilangkan kesadarannya. Ditambah kegemaran kebut-kebutan, dia mengakibatkan kepanikan di jalan raya. Inilah contoh yang ada di masyarakat. Ketersesatan hidup seperti ini ditambah dengan kegemaran sehari-harinya telah menimbulkan kepanikan
Berhubung setiap orang di masyarakat memiliki minat yang berbeda dan pola pikir yang keliru, maka terjadilah kekacauan dan gejolak sosial. Bagaimana dengan negara? Begitu juga dengan hubungan antarnegara. Contohnya, pada awal abad ke-20, terdapat tentara sekutu dari 8 negara. Pada saat itu, di Taiwan selalu terjadi peperangan, dan kondisi sosial juga sangat kacau. Bahkan banyak negara juga ingin menjajah Taiwan. Itu terjadi pada abad yang lalu
Akan tetapi, pada awal abad ke-20, mulai terjadi Perang Dunia ke-2. Akibat rangkaian peristiwa ini, hubungan antarnegara menjadi sangat kompleks, dunia bagaikan panggung peperangan. Rangkaian peperangan antarnegara terus terjadi. Hingga pada tanggal 6 Agustus 1945, sebuah bom atom dijatuhkan di Hiroshima.
Betapa banyak orang yang menjadi korban. Begitu bom tersebut dijatuhkan, semua bangunan roboh dan hancur. Bangunan-bangunan yang begitu kokoh juga hancur lebur. Demikian juga dengan orang
Radiasi ledakannya saja dapat melukai dan merusak kulit, bahkan dapat mematikan seketika. Korban luka-luka lebih banyak lagi. Ratusan ribu orang tewas seketika. Jutaan orang mengalami luka permanen akibat bom di Hiroshima pada tanggal 6 Agustus 1945. Tiga hari kemudian, tepatnya tanggal 9 Agustus 1945, sebuah bom atom kembali dijatuhkan di Nagasaki. Bom atom di Nagasaki ini juga menewaskan banyak orang dan mengakibatkan kerugian yang tak terhitung. Dampak radiasi bom di Hiroshima dan Nagasaki ini masih belum hilang
Hingga saat ini, berbagai unsur pendukung pertanian di sana, baik kandungan tanah maupun udara, bahkan tumbuh-tumbuhan, jika diambil untuk dianalisis, masih ditemukan sejumlah kecil unsur-unsur kimia bom atom. Sungguh menakutkan. Ini hanyalah akibat dari pandangan segelintir orang yang menjalar ke berbagai negara. Entah apa yang mereka perebutkan. Mereka terus berperang, saling melukai, dan mengorbankan banyak rakyat tak berdosa. Dampaknya masih terasa hingga kini. Inilah yang disebut Keterikatan Eksistensi dan kemelekatan. Kemelekatan Nafsu yang dibahas sebelumnya mengakibatkan makhluk hidup selalu ingin untuk menguasai segalanya
Semua ini muncul dari kemelekatan. Jadi, pikiran yang memiliki kemelekatan akan menimbulkan perselisihan. Saat kita menginginkan sesuatu, tetapi orang lain tidak memberikannya, maka akan muncul pertikaian. Contohnya, Perang AS-Irak yang menakutkan. Jarak Amerika Serikat dan Irak begitu jauh, bahkan terpisah oleh beberapa negara, namun pesawat tempur Amerika Serikat masih mampu menjangkau dan menyerang Irak. Tentu saja, sesuai peraturan penerbangan, mereka wajib meminta izin masuk wilayah udara. Ada negara yang tidak memberi izin, ada juga negara yang memberi izin
Selain meminta izin masuk wilayah udara negara lain untuk persiapan perang di Timur Tengah, Amerika Serikat juga menggunakan wilayah sekutunya sebagai pangkalan militer untuk menempatkan pesawat tempur dan senjata. Ketika itu, Yordania mengizinkan pesawat tempur Amerika Serikat melintas di wilayah udaranya. Setelah pesawat tempur itu tiba di Irak, coba bayangkan, selain menghancurkan bangunan-bangunan bersejarah, berapa banyak keluarga yang menjadi korban, berapa banyak orang harus meninggalkan rumah dan menjadi pengungsi? Perang ini terjadi pada era modern ini. Dari berita di media massa, kita bisa melihat, mendengar, dan merasakan kita bisa melihat, mendengar, dan merasakan betapa kejam peperangan itu dan betapa mengerikan kondisi setelahnya. Sungguh sulit untuk dipulihkan. Ini hanya akibat dari pandangan segelintir penguasa pemerintahan. Ambisi dan kemelekatan, Ambisi dan kemelekatan serta sikap keras kepala serta sikap keras kepala dari segelintir orang ini telah menghancurkan negara yang begitu luas dan merusak bangunan peradaban manusia. Nyawa yang paling berharga bagi manusia, bahkan kebahagiaan keluarga menjadi hancur hanya karena pandangan segelintir orang ini. Mimpi telah hancur, kondisi rumah tangga juga berubah
Begitulah kehidupan rakyat pascaperang. Apakah setelah perang berakhir, semuanya menjadi damai kembali? Tidak, karena sebagian orang masih menyimpan benci dan dendam. Peperangan yang berkepanjangan ini telah menanamkan benih-benih dendam, kemarahan, dan kebencian di dalam hati para korban yang tak berdosa. Rakyat menjadi dendam kepada Amerika Serikat. Bukan hanya dendam terhadap negara saja, tetapi juga terhadap etnis dan agama tertentu. Begitulah, terus terbentuk jurang pemisah yang tidak pernah berakhir. Intinya, semua ini adalah akibat keterikatan
Keterikatan dan kemelekatan ini sungguh menyengsarakan. Selanjutnya, ada yang terikat pada konsep kekosongan. Mereka menganggap hidup berasal dari ketiadaan, karena manusia lahir tanpa membawa apa-apa, tanpa mengenakan pakaian sama sekali. Mereka menganggap bahwa di dunia ini tidak ada yang disebut hukum sebab akibat. Mereka menganggap bahwa setelah dilahirkan, tidak perlu berusaha lebih baik dalam hidup. Bagaimana pun cara mereka hidup, yang penting dapat hidup dengan senang, tidak peduli dengan pandangan orang lain. Di Inggris, ada seorang pria yang menganggap bahwa manusia seharusnya hidup alami apa adanya. Ia berpikir, “Semua hewan tidak perlu berpakaian, mengapa manusia harus berpakaian?” Dia pun ingin terus memberi tahu semua orang, “Hidup secara alamiah saja sudah cukup, untuk apa mengenakan pakaian?” Karena itu, dia sering keluar dengan bertelanjang
Polisi sudah 8 kali menangkapnya, tetapi dia tak kunjung jera. Dia merasa harus mensosialisasikan gaya hidup telanjang alami tersebut. Lalu dia membuat sebuah tekad, yaitu berjalan kaki dengan telanjang bulat dari utara hingga selatan Inggris. Dia tidak berpakaian sama sekali. Meski tahu polisi akan menangkapnya, dia berkata tidak akan menyerah. Satu-satunya yang dia harapkan adalah cuaca tidak berubah menjadi dingin. Ternyata dia masih takut dingin, padahal jika ingin hidup telanjang alami, semestinya tak peduli dengan kondisi cuaca. Hewan-hewan lain juga demikian, baik cuaca panas maupun dingin, pola hidup mereka tetap sama, Ini barulah pola hidup yang alami
Akan tetapi, dia malah melekat pada “kekosongan”. Dia ingin memperlihatkan kepada semua orang bahwa hidup memang harus apa adanya. Akan tetapi, dia juga khawatir jika cuaca dingin. Tentu dia harus berpakaian di cuaca dingin. Jika tidak, dia bisa mati kedinginan, apalagi saat musim dingin di Inggris. Pandangan hidup demikian juga dapat merusak tatanan sosial dalam masyarakat. Tatanan perikemanusiaan dapat dirusak oleh para nihilis yang menganggap tidak adanya hukum sebab akibat, tidak adanya moralitas, serta tidak tahu rasa malu dan etika. Hal ini juga dapat merusak tatanan sosial
Jadi, melekat pada kekosongan juga tidak benar. Selanjutnya adalah keterikatan pada eksistensi sekaligus kekosongan. Mengenai eksistensi, ini berkaitan dengan segala materi yang eksis. Seseorang akan terikat pada eksistensi karena mereka melekat pada apa yang dimiliki. “Milik saya tidak boleh diganggu, tetapi milikmu berarti milik saya juga.” Banyak orang yang berkata, “Apa yang harus diperhitungkan?” “Segala sesuatu bersifat kosong, apa yang perlu kamu perhitungkan?” “Milikmu berarti milikku juga, tetapi milikku tetaplah milikku seorang.” Saya rasa kemelekatan seperti itu juga ada. Berikutnya adalah keterikatan pada bukan eksistensi, pun bukan kekosongan. Bukan eksistensi berarti ketiadaan
Bukan kekosongan berarti eksis. Kemelekatan-kemelekatan tersebut juga adalah penyimpangan yang sering terjadi saat melatih diri. Ada orang yang ingin menaati sila, tetapi mungkin malah lebih banyak melanggarnya, seperti sebuah kisah dalam Sutra Perumpamaan. Ada seseorang yang ketika melihat petani sedang menabur benih, dia merasa tanaman petani itu begitu subur, lalu bertanya, “Mengapa tanamanmu begitu subur?” Petani tersebut lalu mengajarinya dan berkata, “Agar bisa tumbuh subur, tanaman harus diberi pupuk dan diairi.” Setelah dijelaskan, dia berkata, “Baik, saya sudah tahu caranya, saya harus mencoba metode itu.” Akan tetapi, saat dia melihat anak buahnya memberi pupuk, dia berpikir, “Cara begini tidaklah benar.” “Setelah ladang diberi pupuk dan disiram air, jika kita berjalan di atasnya, maka tanah yang terinjak akan menjadi keras.” “Selain itu, saat memberi pupuk, kaki juga akan menjadi kotor.” Jadi, dia memikirkan sebuah cara
Dia merasa tidak perlu memisahkah pupuk dan air. Dia mencampurkan pupuk, air, dan tanah menjadi satu, kemudian baru mulai bercocok tanam. Dia merasa cara ini lebih hemat tenaga. Kemudian, saat akan bercocok tanam, dia berpikir jika ladangnya diinjak-injak, tanahnya akan menjadi keras. Dia berkata, “Ini bukanlah cara yang pintar, seharusnya jangan sampai menginjak ladang.” Bagaimana caranya? Dia lalu menggunakan sebuah ranjang, duduk di atasnya untuk menabur benih. Akan tetapi, ranjangnya tidak bisa bergerak
Dia pun meminta 4 orang untuk mengangkatnya. Setelah keempat orang itu mengangkatnya, dia melanjutkan menabur benih. Coba kalian pikirkan, dia enggan menginjakkan kedua kakinya karena takut tanahnya menjadi keras, namun menyebabkan 8 kaki lain menginjaknya. Ada urutan dalam memberi pupuk dan air, namun dia pikir bisa dilakukan sekaligus. Ini tidaklah benar. Saudara sekalian, dalam melatih diri juga ada urutan dan tahapannya. Terutama dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus menerima dan menjalankan ajaran yang diwariskan guru kepada kita. Kita harus mengikuti apa yang diajarkan. Jangan seperti orang tadi yang minta diajari, namun setelah diajari, malah merasa dirinya lebih pintar
Saat menjalankan sila, kita juga harus sangat hati-hati. Jadi, janganlah melekat pada diri sendiri, karena akan selalu menimbulkan masalah. Jadi, Empat Keterikatan harus kita waspadai. Jangan terikat pada eksistensi, jangan pula terikat pada kekosongan. Kita harus menganalisis dengan bijaksana, juga jangan terikat oleh kedua-duanya
Karena itu, dalam kehidupan sehari-hari kita harus menggunakan cara yang sesuai untuk menjaga pikiran kita. Untuk itu, kita harus lebih bersungguh-sungguh.