Sanubari Teduh – 101 – Empat Kemelekatan Bagian 2
Saudara se-Dharma sekalian, dalam aktivitas sehari-hari, kita berhadapan dengan berbagai kondisi. Entah apakah batin masih terpaku pada kondisi-kondisi itu. Waktu terus berlalu dengan cepat, mungkin saja batin kita masih terpaku pada kondisi-kondisi itu. Kita sebagai praktisi Buddhis, sudah seharusnya belajar untuk tidak melekat pada kondisi. Apalagi dengan berlalunya waktu, jika batin masih terpaku pada kondisi masa lalu, berarti batin kita telah melekat pada kondisi itu. Kondisi-kondisi itu senantiasa muncul dalam keseharian kita. Segala kondisi yang muncul setiap saat harus mampu kita pilah, harus mampu kita saring, dan harus mampu kita seleksi. Jika kita tidak mampu menyaringnya, maka kondisi apa pun yang muncul akan terus bersemayam dalam batin kita. Karena itu, Buddha mengajari kita melatih keterampilan untuk tidak melekat pada kondisi luar
Kemelekatan di dalam batin adalah suatu beban yang sangat berat. Karena itu, Buddha ingin kita memahaminya dengan sangat jelas, agar tidak ada noda batin yang terus membebani batin kita. Karena itu, Beliau mengajarkan bahwa kemelekatan batin ada Karena kontak dengan kondisi luar. Misalnya, kita pergi ke sebuah rumah mewah. Saat musim panas, di luar rumah sangat panas. Di dalam rumah terasa sangat sejuk. Dekorasi interiornya sangat asri. Semua barangnya tampak sangat mewah
Melihat kondisi rumah yang mewah seperti ini, kita bertanya-tanya mengapa kehidupan sang pemilik begitu baik. Kapan kita baru bisa memiliki kondisi rumah dan lingkungan seperti itu? Begitulah, batin kita melekat pada kondisi. Selanjutnya, kita akan berpikir kapan kita bisa memiliki rumah seperti itu. Bank mendorong orang mengajukan kredit rumah. Dengan adanya cara seperti itu, kita pun mengajukan permohonan kredit ke bank. Cukupkah hanya mengajukan kredit ke bank? Tidak cukup. Kita juga mencari pinjaman ke kreditor swasta. Apakah sudah cukup? Belum. Kita mencari pinjaman lagi dari rentenir
Seberapa besar kemampuan kita untuk membayar utang kepada rentenir, kreditor swasta, dan bank? Kemampuan kita tidak cukup, karena bunga pinjaman terus bertambah. Begitu rumah mewah selesai dibangun, sebelum sempat menghuninya, kita sudah dipaksa untuk membayar utang. Saat itu, bukan saja tidak sanggup membayar utang ke bank, namun juga ke kreditor swasta, apalagi kepada rentenir. Akibatnya, kita dikejar-kejar utang. Lalu apa yang dapat diperbuat? Inilah akibat Kemelekatan Nafsu Keinginan. Dengan munculnya nafsu keinginan akibat kontak dengan kondisi luar, kita menjadi melekat pada sesuatu yang tak seharusnya kita miliki. Sesuatu yang bukan milik kita, namun kita berusaha mendapatkannya, inilah Kemelekatan Nafsu Keinginan. Betapa menderitanya orang yang tamak
Kita telah membahas mengenai ketamakan terhadap rupa, suara, aroma, rasa, dan sentuhan. Kelima objek ini ada dalam keseharian kita. Saat melihat suatu objek, adakalanya dalam pikiran kita muncul rasa suka terhadap objek rupa itu. Rupa ini mencakup segala sesuatu di dunia. Seperti halnya rumah mewah tadi, juga merupakan salah satu rupa, karena ia mempunyai wujud, bentuk, dan kondisi. Begitu kita memiliki nafsu keinginan dan tamak terhadap rupa, kita sungguh akan terbelenggu olehnya. Apalagi nafsu cinta antara pria dan wanita. Nafsu seksual seperti ini mengacaukan pikiran dan membuat keluarga berantakan. Kita juga mendengar sebuah kasus tentang seorang istri yang sedang sakit dan berobat ke mana-mana. Akhirnya dia datang ke RS Tzu Chi dan ada relawan kita yang mendampinginya
Pasien ini telah mencari pengobatan ke mana-mana di bagian barat Taiwan. Dia sudah berobat ke banyak RS besar. Penyakitnya sudah memasuki stadium akhir. Dokter sudah menyatakan tak dapat menolongnya. Akhirnya dia membuat pilihan, jika hidupnya berakhir, dia berharap tubuhnya dapat didonorkan. Kemudian dia memilih RS Tzu Chi. Dia memilih untuk mendonorkan tubuhnya untuk keperluan studi patologi anatomi. Dia merasa Tzu Chi adalah sandaran terakhirnya. Jadi, dia memilih ruang rawat paliatif Tzu Chi. Dia tahu relawan di sini bisa mendampinginya
Sang suami juga menemaninya datang dengan hati yang sangat galau dan tak tahu harus bagaimana. Berhubung sudah datang, mereka didampingi dengan baik. Relawan pun mulai mendampinginya. Selama pendampingan, baru diketahui bahwa jalinan cintanya dengan sang suami dilalui dengan cukup berat. Berhubung suaminya bekerja di luar, sang istri yang di rumah sering merasa curiga. Suaminya harus melayani tamu-tamu, sedangkan sang istri merasa tidak tenang. Penyakitnya sudah memasuki stadium akhir, namun dia masih merasa khawatir. Yang dia khawatirkan adalah sang suami
Dia curiga suaminya punya wanita simpanan. Komite kita terus berbincang dengannya agar belenggu di hatinya terbuka. Dia sering membayar orang untuk membuntuti suaminya, namun orang yang dibayar mengatakan tidak ada. Ini hanya kesalahpahaman saja. Meski dikatakan hanya salah paham dan sudah membayar orang, dia masih saja khawatir. Jadi, hatinya sering diliputi rasa curiga dan kerisauan. Setelah penyakitnya bertambah parah, dia masih belum bisa melepaskan kerisauannya. Jadi, meski nyawanya sudah di ujung tanduk, dia masih saja begitu. Karena itu, komite kita terus menceritakan banyak kasus serupa kepadanya, agar belenggu hatinya dapat terbuka. Dia sudah mengerti. Dia juga tahu rasa curiga ini sangat bodoh
Akan tetapi, saat kita bertanya apa harapan terakhirnya, dia berharap anak-anaknya dapat hidup tenteram dan kelak bisa menemukan pasangan yang baik. Ini adalah harapan pertama. Harapannya yang kedua adalah mendonorkan tubuh kepada RS Tzu Chi untuk kebutuhan kelas patologi anatomi. Akan tetapi, dia berharap saat ajal tiba, dia dapat meninggal dengan tenang. Saat ditanya harapannya yang ketiga, dia agak susah mengatakannya, namun akhirnya dia mengatakan, “Saat tubuh saya dibawa ke kamar jenazah, saya tidak ingin suami saya datang melihat saya dengan membawa wanita lain.” Lihatlah, dia masih tak bisa melepaskan cinta. Hidup sudah di ujung tanduk, bahkan setelah meninggal pun dia rela mendonorkan tubuhnya ke RS untuk kebutuhan kelas patologi anatomi, tetapi tak sanggup melepaskan suaminya. Dia masih tidak berharap suaminya membawa wanita lain saat melihatnya
Kemelekatan seperti ini masih membelenggunya hingga ajal tiba. Betapa berat penderitaannya. Kemelekatan pada nafsu cinta sungguh membawa penderitaan. Tentu usaha para relawan tidak berhenti sampai di situ saja. Relawan terus membimbingnya sampai pada akhirnya dia berkata kepada sang suami, “Jika ingin menikah lagi, nikahilah orang yang baik.” “Saya merestui kamu.” Lihatlah, apakah kata-kata terakhir ini tulus dari lubuk hatinya? Tidak tahu. Menurut saya, harapannya yang tertulus adalah yang tadi disebutkan di awal
Dia masih mengkhawatirkan anak-anaknya dan berharap mereka menemukan jodoh yang baik. Dia sendiri juga merasa takut, maka berharap dapat meninggal dengan tenang. Harapannya yang ketiga sesungguhnya melukiskan kemelekatannya yang paling kuat. Dia khawatir suaminya akan menikah lagi. Ketamakan akan cinta adalah penderitaan terbesar dalam hidup. Karena itu, kita terus terbelenggu empat jenis kelahiran dan enam alam dan tidak dapat membebaskan diri. Tiada noda batin yang bukan berasal dari nafsu keinginan, terutama nafsu keinginan terhadap rupa, suara, aroma, rasa, dan sentuhan
Kita semua tahu akan hal itu. ============== Kita melekat pada suara dan kondisi lingkungan. Lihatlah, ada orang yang menyukai buah durian, sedangkan ada yang baru mencium aromanya saja sudah sangat ketakutan. Akan tetapi, ada juga orang yang suka makan durian dan tahu busuk. Mereka malah menyukai makanan seperti itu. Aroma seperti itu membuat mereka melekat pada rasanya. Demi nafsu makan, entah berapa banyak makhluk yang kita santap
Semua hal ini tidak terlepas dari kontak dengan objek luar, baik rupa, suara, aroma, maupun rasa. Karena itu, muncul berbagai kemelekatan. Jadi, Kemelekatan Nafsu Keinginan bermula dari kontak dengan kondisi luar. Selanjutnya adalah Kemelekatan Pandangan, yakni kemelekatan membuta terhadap 5 agregat. Kita selalu dibutakan oleh berbagai pemikiran, pandangan, dan gagasan. Jika bukan melekat pada kondisi di depan mata, kita melekat pada sesuatu dalam pemikiran kita. Kemelekatan membuta ini tak terlepas dari 5 agregat. Agregat rupa sudah dibahas sebelumnya Agregat rupa sudah dibahas sebelumnya, saat kita membahas objek-objek luar. Selanjutnya adalah agregat perasaan
Perasaan dapat memengaruhi arah pikiran kita. Ia juga merupakan suatu dorongan karma. Inilah agregat perasaan. Ada orang yang perasaannya biasa-biasa saja, ada pula yang perasaannya sangat kuat. Jadi, mengenai perasaan dan persepsi, begitu memiliki persepsi terhadap sesuatu, meskipun kondisi itu telah berlalu, adakalanya kita terus memikirkannya. Ada orang yang mudah melepas saat masalah berlalu. Saat suatu fenomena melintasi pikiran kita, ia akan berlalu seiring berubahnya kondisi. Demikianlah seharusnya. Akan tetapi, ada orang yang meski masalahnya sudah lewat, belum bisa keluar dari kondisi tersebut. Kondisi itu masih terus melekat dalam batin
Rasa marah, benci, dendam, dan juga cinta, semuanya masih membuat batin melekat. Demikianlah persepsi atau pencerapan kita, dapat menciptakan banyak noda batin. Jadi, proses mencerap ini berlangsung terus-menerus tanpa henti. Tentu ini memiliki sisi positif dan negatif. Jika kita bertekad dan berikrar untuk menanam benih baik di lahan batin, serta menggarapnya dengan sungguh-sungguh, maka pemikiran ini bagaikan petani yang menggarap sawah. Setiap benih akan tumbuh subur. Jika kita mempunyai niat buruk dan hati kita dipenuhi dengan pikiran buruk, maka setiap hal yang kita lakukan akan keliru. Karena itu, huruf Tionghoa “pikiran” adalah gabungan dari huruf sawah dan hati. Sawah ini bergantung pada cara kita menggarapnya
Demikianlah agregat pembentuk kehidupan– rupa, perasaan, persepsi, bentuk-bentuk pikiran. =========== Bentuk-bentuk pikiran berproses secara halus. Ia adalah proses dari berpikir. Semua proses itu akan tersimpan dan terhimpun. Apa yang tersimpan itu akan terus tumbuh. Jadi, bentuk-bentuk pikiran sangatlah halus. Kita sering membahas bentuk-bentuk pikiran yang merupakan proses yang sangat halus. Ia bagaikan planet yang ada di alam semesta ini. Setiap planet berotasi dan berevolusi tanpa berhenti sejenak pun
Begitu juga dengan bumi dan bulan dalam mengelilingi matahari. Ia memiliki gerak rotasi dan revolusi. Ini juga merupakan proses berkesinambungan. Semua tumbuhan di daratan juga demikian, terus berproses tanpa henti. Benih apa pun yang kita tanam, saat jalinan jodoh matang dan kondisi mendukung, ia akan bertunas dengan perlahan-lahan dan mulai muncul di atas permukaan tanah. Seiring dengan berjalannya waktu, berkat dukungan sinar matahari, hujan, dll., ia akan terus tumbuh dan berkembang. Kita sering tidak menyadari bahwa sesungguhnya tubuh kita juga terus berproses. Kita makan tiga kali sehari. Saat lapar, kita akan makan
Kita hanya perlu menelan makanan. Makanan yang kita telan tidak hanya berhenti di mulut. Begitu makanan masuk ke perut, ada energi yang terus bekerja. Apa pun yang kita makan, nutrisi-nutrisi di dalam makanan itu akan terserap sesuai fungsinya. Setelah proses penyerapan nutrisi, yang tersisa hanyalah kotoran. Proses buang air besar dan kecil adalah proses membuang zat-zat sisa setelah makanan kita telan dan proses pencernaan berjalan. Semua proses berlangsung tanpa kita sadari. Tubuh kita juga terus menyerap dan memilah zat-zat yang baik dan buruk untuk menunjang fungsi tubuh lainnya. proses yang begitu dekat dengan kehidupan kita juga belum tentu kita sadari
Demikian pula bentuk-bentuk pikiran, prosesnya tidak kita sadari. Ia terus berproses dan terus berubah. Jadi, agregat tersebut sangatlah halus. Segala sesuatu di dunia ini termasuk manusia sama-sama berproses. Akan tetapi, kita tidak berusaha memahaminya. Kita hanya tahu kondisi di luar diri kita. Rupa, perasaan, persepsi, bentuk-bentuk pikiran, dan kesadaran di dalam diri kita tak hentinya menimbulkan noda batin yang membawa pada terciptanya karma buruk. Benih karma itu akan tersimpan di kesadaran ke-8. Tidak ada yang dapat dibawa serta, hanya karma yang terus mengikuti. Kesadaran ke-8 inilah yang membawanya sampai ke kehidupan-kehidupan selanjutnya. Karena itu, kita harus belajar Dharma saat ini dan harus menaati sila
Sila juga harus dipahami dengan jelas. Jika tidak, ia akan menjadi sebuah kemelekatan. Jadi, kemelekatan ketiga adalah Kemelekatan pada Sila dan Ritual. Mengenai sila, pada dasarnya kita harus menaati sila. Akan tetapi, terkadang kita menyimpang. Lihatlah penganut ajaran luar. Mereka juga berbicara tentang melatih diri. Dahulu kala, ada banyak sekte agama di India. Agama di India dikelompokkan ke dalam banyak jenis, secara garis besar terbagi menjadi 96 aliran. Setiap aliran mempunyai metode yang berbeda
Ada yang berlatih dengan cara tidak makan. Ada yang berlatih dengan sarana air, yaitu berlatih dengan cara hidup di air. Ada yang berlatih dengan sarana api. Mereka berlatih dengan cara membakar diri. Mereka menyebut semua itu pelatihan diri. Di India terdapat banyak petapa ekstrem. Sebagai petapa, mereka juga hidup selibat dan harus menaati sila. Mereka melekat pada latihan sila seperti ini. Ini terjadi pada zaman Buddha. Dalam proses mencari kebenaran hidup, Buddha berkeliling ke berbagai daerah di India. Bagaimana cara Beliau hidup? Selama 5 tahun melakukan pengembaraan, kondisi seperti itulah yang Buddha lihat
Beliau bahkan melihat praktik makan kotoran anjing. Buddha merasa bahwa pelatihan seperti ini tidaklah benar. Akhirnya Beliau menjalankan pelatihan diri dengan cara mencari sebuah tempat untuk melakukan perenungan dan menenangkan pikiran. Beliau mengamati kebenaran alam semesta dan asal usul segala sesuatu. Semua itu harus diamati secara alami. Akhirnya, Buddha menemukan bahwa ada kelahiran pasti ada kematian. Di antara keduanya, ada sakit dan usia tua. Ini adalah hasil pengamatan Buddha terhadap kondisi alam semesta melalui kebijaksanaan-Nya
Beliau menguak kebenaran tentang kehidupan dan membimbing kita untuk melatih diri. Kita harus mempraktikkan Jalan Tengah. Jangan seperti orang awam yang mengumbar nafsu. Jika terus mengumbar nafsu keinginan, kita akan menciptakan banyak karma buruk. Karena itu, kita harus melatih diri dan menjalani cara hidup yang berbeda dengan orang awam. Kita harus menghindari nafsu keinginan. Kita sungguh harus mewaspadai nafsu keinginan dan pikiran kita sendiri. Jangan biarkan nafsu menguasai diri kita. Nafsu keinginan adalah noda yang sesungguhnya
Kita juga harus bersungguh-sungguh dan tidak boleh menyimpang ke arah praktik ajaran luar yang menyiksa diri sendiri. Buddha juga pernah mempraktikkannya, namun karena menyadari kesalahan praktik itu, maka Beliau segera meninggalkannya dan membersihkan diri di Sungai Nairanjana. Setelah itu, karena tubuh-Nya sangat lemah, Beliau jatuh pingsan. Setelah menerima persembahan susu kambing dari Sujata, tubuh-Nya kembali mendapatkan asupan gizi. Setelah kondisi fisiknya pulih kembali, Beliau melanjutkan pelatihan diri. Jadi, melatih diri juga harus diimbangi dengan tubuh yang sehat. Meski tidak boleh mengumbar nafsu keinginan, namun kondisi tubuh juga harus dijaga. Jadi, tubuh adalah sarana melatih diri. Terlebih lagi, orang Tionghoa amat menjunjung sikap bakti. Tubuh kita berasal dari darah ayah dan ibu. Kita tidak boleh merusaknya. Kita hendaknya memanfaatkan tubuh pemberian orang tua ini untuk melatih diri dan memberi manfaat bagi orang banyak
Inilah sikap bakti yang sesungguhnya. Jadi, melatih diri juga tidak boleh merusak tubuh. Kita harus berjalan di Jalan Tengah. Maka, dalam mempraktikkan ajaran Buddha, jangan melekat pada sila yang menyimpang. Jadi, yang ketiga adalah Kemelekatan pada Sila dan Ritual. Ini termasuk penyimpangan. Kita sendiri harus bersungguh-sungguh. Ada orang yang ingin melatih diri, namun tersesat hingga mengalami gangguan psikis. Itu juga hal yang menyedihkan. Hanya karena sedikit penyimpangan dan pandangan salah, manusia dapat tersesat dan mengalami gangguan psikis
Ini sungguh menakutkan. Yang keempat adalah Kemelekatan pada Konsep Aku, yaitu melekat pada pandangan dan kesombongan diri. Kita merasa apa yang kita lihat dan katakan adalah benar, sedangkan ucapan orang lain adalah salah. Jika merasa ada yang salah, kita tidak boleh malu untuk bertanya. Kita harus mendengar penjelasan orang lain dan membuktikannya dengan sungguh-sungguh, bukan percaya secara membuta terhadap setiap ucapan orang dan terus mengikutinya. Bukan begitu. Juga bukan berarti semua yang kita llihat dan katakan sudah pasti benar. “Kamu harus mendengarkan saya.” Juga tidak boleh seperti itu
Jadi, kita seharusnya menggunakan pemikiran yang terbuka dalam menerima kata-kata bijak orang lain. Setelah menerimanya, kita harus merenungkannya sepenuh hati. Orang lain sanggup menerapkan kata-kata ini, apakah kita juga sanggup? =========== Jika sanggup, kita baru boleh mengatakannya. Jadi, apa yang kita dengar dari para ahli dapat menambah wawasan kita, tetapi belum tentu dapat kita terapkan. Jika ingin orang lain melakukan sesuatu, kita sendiri juga harus bisa melakukannya. Setelah merenung dengan kebijaksanaan, kita dapat melakukan aksi nyata dalam keseharian untuk menginspirasi orang lain. Jika suatu ajaran tak dapat kita terapkan, ia dapat kita jadikan wawasan. Ia tidak lebih dari sebuah wawasan dan bahan pelajaran
Kita tidak perlu menolaknya. Kita bisa menerimanya sebagai wawasan. Akan tetapi, kebijaksanaan sejati diperoleh dari tindakan dan pengalaman langsung. Jadi, perlu kita ketahui bahwa jika sanggup melakukan aksi nyata, kita akan dapat membimbing orang lain. Kita harus mampu melakukan yang kita ucapkan, bukan hanya banyak bicara tanpa melakukan, lantas memaksa orang lain yang melakukan. Sikap seperti ini juga tidak benar. Jadi, kemelekatan pada pandangan pribadi, terlebih sikap sombong dalam berbicara, semuanya tidaklah benar. Jadi, Saudara sekalian, hal terpenting bagi praktisi Buddhis adalah memahami bahwa nafsu keinginan timbul akibat kontak dengan kondisi luar
Kemelekatan ini harus kita perhatikan. Baik Kemelekatan Nafsu Keinginan maupun Kemelekatan Pandangan, baik kondisi saat ini maupun kondisi yang sudah lalu, apakah kita masih terbelenggu oleh semua ini? Saat suatu masalah berlalu, dapatkah kita bedakan sisi baik dan buruknya? Kita bertekad melakukan hal yang baik, namun apakah tekad ini terus ada di hati kita? Semua ini harus sungguh-sungguh kita renungkan. Sudahkah kita melepaskan perselisihan? Kita harus sungguh-sungguh menyaring segala kondisi yang dihadapi. Selanjutnya mengenai sila, dalam pelatihan diri, Buddha pernah menetapkan sila tidak makan setelah tengah hari. Apakah kita harus melaksanakannya? Apakah hal ini benar? Sesungguhnya, ini bergantung pada stamina kita. Saat Buddha melatih diri di dunia ini, Beliau hanya secukupnya untuk mempertahankan kondisi tubuh. Metode pelatihan para praktisi di masa lalu lebih banyak berkutat pada pikiran. Mereka lebih banyak melakukan perenungan dan mendengar pembabaran Dharma dari Buddha. Tubuh mereka tidak banyak bergerak
Sesungguhnya, makan satu kali sehari sudah dapat memenuhi kebutuhan nutrisi mereka. Apakah kondisi kehidupan kita sekarang sama dengan zaman dahulu? Apakah kondisi fisik kita dan metode latihan kita juga sama? Jika tidak, maka kita harus menyesuaikan diri dengan kondisi zaman sekarang. Dengan begitu, kita tak akan melekat dan berpikir bahwa sila mutlak dijalankan seperti zaman dahulu sehingga menghalangi aktivitas keseharian kita. Begitu juga dalam tutur kata. Jadi, dalam pelatihan diri ini, aspek-aspek kemelekatan saja sudah sangat luas. Saya berharap kalian dapat menata batin pada tahapan ini dengan sungguh-sungguh. Jangan sampai suatu saat kemelekatan ini mengacaukan hidup kita. Karena itu, kita harus menyucikan pikiran. Jika pikiran kita tenang, kondisi luar tidak akan dapat menyesatkan kita dan hidup kita tidak akan menjadi kacau
Untuk itu, mari kita lebih bersungguh-sungguh.