Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 100 – Empat Kemelekatan Bagian 1

Saudara se-Dharma sekalian, dalam suasana yang tenang dan hening, pikiran akan senantiasa lebih jernih. Bagaimana kondisi batin kita saat mengalami kontak dengan kondisi luar, seharusnya kita tahu dengan jelas. Misalnya, dalam suasana yang sangat tenang, jika ada suara batuk dari satu orang saja, kita akan mendengarnya dengan jelas. Akan tetapi, dalam suasana yang gaduh, berapa banyak pun orang yang batuk, kita tetap tidak merasakannya. Begitulah, dalam kondisi yang hening, batin mampu membedakan kondisi dengan jelas

 Batin kita senantiasa melekat  pada kondisi luar. Akibatnya, batin mudah terpengaruh oleh kondisi tersebut. Betapa banyak orang mudah terpengaruh kondisi luar hingga noda batin mereka semakin bertumpuk.  Sungguh sangat menderita. Karena itu, sebagai praktisi Buddhis, kita harus belajar menjernihkan pikiran kita. Kondisi apa pun yang muncul, batin kita harus mampu menyaringnya

 Dalam kondisi yang baik, pahamilah apa yang dimaksud kondisi baik. Dalam kondisi yang buruk, pahami juga apa yang disebut buruk. Misalnya, saat mendengar pembabaran Sutra atau mengikuti pelajaran, kita juga harus sanggup membedakan topik apa saja yang diberikan. Mendengar pembabaran Sutra memang baik karena Sutra adalah jalan kebenaran, dan jalan ini harus dipraktikkan. Jalan ini sangatlah lapang dan lurus. Bagaimana kita menjalaninya? Akan tetapi, jika salah menafsirkan jalan ini, kita mungkin akan berjalan menyimpang

  Karena itu, kita harus menyerap materi pelajaran dengan sungguh-sungguh. Siapa pun yang memberikan pelajaran, kita juga harus menggunakan batin yang jernih untuk menyaringnya. Terkadang, pembicara menekan suaranya dan terkadang memperingan suaranya. Saat suara pembicara lebih ditekan atau diperingan, mungkin pendengar yang mengikuti pelajaran menyerapnya dengan pemahaman yang berbeda, sehingga pandangan menjadi menyimpang. Contohnya, suatu ketika, dr. Chien,  wakil ketua RS Tzu Chi di Dalin, pernah berbagi mengenai laporan tentang dampak dari memakai dasi

 Beliau berkata bahwa penulis artikel tersebut menjelaskan bahwa orang yang sering memakai dasi mudah terserang glaukoma. Untung saja, dr. Chien membaca artikel tersebut. Beliau pun segera mencari dokter mata untuk melakukan eksperimen. Beliau mencari seseorang yang tidak memakai dasi untuk diukur tekanan matanya, kemudian memintanya memakai dasi dan mengukur ulang tekanan matanya. Hasil ukuran tekanan mata saat orang memakai dasi dan tidak tetaplah sama, tidak berubah sedikit pun. Begitulah, beliau mengutarakan bahwa ada artikel yang membahas kasus seperti ini. Beliau sendiri adalah seorang dokter. Saya selalu menekankan kerapian dan tata krama

 Sesungguhnya, cara berpakaian adalah satu bentuk tata krama terhadap orang lain. Karena itu, jika hendak bertemu dengan orang, namun pakaian kita tidak rapi, berarti kita tidak menyayangi diri sendiri dan tidak menghormati orang lain. Jika kita tidak menyayangi diri sendiri dan tidak menghormati orang lain, barulah kita mungkin berpakaian tidak pantas. Ini adalah bentuk tata krama atau etika yang harus dimiliki manusia. Akan tetapi, orang zaman sekarang sangat tidak sopan dan tidak mengerti bahwa berpakaian adalah bagian dari tata krama dan seni sebagai manusia. Karena itu, saya sering menekankan bahwa sebagai manusia, kita harus bersikap pantas dan menjaga kepribadian diri serta bisa mencintai diri sendiri. Bukan hanya mencintai diri sendiri atau menjaga kepribadian saja, namun juga harus menghormati orang lain

 Jika bisa demikian, hidup ini baru dapat dijalani dengan lancar. Karena itu, saya selalu menekankannya. Jadi, dr. Chien juga sungguh-sungguh mensosialisasikan hal ini. Ketika melihat artikel tersebut, beliau bertanya apakah ada kontradiksi; apabila benar memakai dasi menyebabkan glaukoma, apakah masih mau menekankan tata krama? Untuk membuktikan artike itu benar atau tidak, maka beliau melakukan eksperimen dan ternyata artikel tersebut tidak terbukti. Memakai dasi atau tidak, tekanan mata tetap sama

 Ini membuktikan bahwa glaukoma tidak ada kaitan dengan memakai dasi. Setelah mendengar penjelasannya, saya juga berpikir apakah eksperimen dr. Chien saja sudah cukup. Karena itu, saat pulang ke Hualien, sepanjang jalan saya terus berpikir. Akhirnya, terpikir oleh saya bahwa yang menderita glaukoma belum tentu laki-laki. Laki-laki juga belum tentu memakai dasi

 Bahkan banyak juga wanita yang menderita glaukoma. Jadi, tidak ada kaitan dengan memakai dasi. Ketika saya tiba di rumah sakit, saat naik lift saya melihat seorang dokter muda yang juga berdasi, tetapi memakainya agak longgar. Lalu, saya mengencangkan dasinya sambil bertanya mengapa tidak dikencangkan. Dia menjawab, “Maaf, maaf.” Saya bilang, berpakaian rapi adalah tata krama

 Seandainya saya tidak merenung sepanjang jalan dan dr. Chien tidak melakukan eksperimen, serta jika tidak terpikir bahwa penderita glaukoma belum tentu orang yang memakai dasi, maka saya tidak akan dengan tenang memintanya untuk mengencangkan dasinya. Terlalu longgar terlihat kurang bagus. Sebaiknya dikencangkan sedikit, namun tentu jangan terlalu kencang. Kemudian, kepala RS Tzu Chi, dr. Lin menceritakan sebuah kisah yang berkaitan dengan dasi

 Ini terjadi di Inggris. Orang Inggris sejak kecil harus berpakaian rapi saat ke sekolah dan harus memakai dasi. Dari sekolah dasar hingga kuliah, mereka harus memakai jas, bahkan sampai lulus sekolah dan terjun ke masyarakat. Ada seseorang yang berumur setengah baya, dia sering sakit kepala. Matanya hampir menonjol keluar, tetapi setelah diperiksa, tidak ditemukan adanya penyakit. Lantas, mengapa dia sering sakit kepala? Terutama saat menjelang sore, matanya serasa akan menonjol keluar

 Suatu hari, dia pergi membuat jas. Pembuat jas lalu mengukur tubuhnya dan menulis ukuran kerahnya adalah 17 inci. Akan tetapi, bapak ini berkata, “Tidak, ukuran kerah saya 16 inci.” Kata pembuat jas, “Menurut pengukuran saya 17 inci.” Bapak itu menjawab, “Pokoknya 16 inci, buatkan saja 16 inci.” Pembuat jas lalu berkata, “Saya buatkan yang ketat sesuai keinginan Anda, tetapi jika nanti Anda sakit kepala dan mata Anda menonjol, jangan salahkan saya.” Demikianlah kisah tersebut

 Jika cerita ini dikaitkan dengan jas dan dasi, dapat kita ketahui bahwa jika memakai dasi dengan tidak benar dan terlalu longgar akan terlihat tidak rapi. Jika mengikatnya terlalu kencang, misalnya sampai sakit kepala dan mata menonjol, ini bukan salah orang lain, melainkan diri sendirilah yang mengikat terlalu ketat. Jadi, masalahnya bukan pada memakai dasi. Karena itu, kita harus bersikap cerdas. Mungkin ada sebagian orang saat melihat artikel tersebut, berhubung tidak suka berpenampilan rapi, maka menyebarkan artikel itu dan mengatakan sisi buruk dari memakai dasi. Orang Inggris dan negara Barat telah biasa berpakaian rapi dan memakai dasi sejak lebih dari 400 tahun lalu. Akan tetapi, satu artikel saja mungkin dapat memengaruhi pandangan masyarakat zaman sekarang, bahkan saya sendiri

 Meski dr. Chien sudah menjelaskan bahwa dokter mata mengatakan tidak masalah, namun masih ada keraguan dalam hati saya. Suatu ungkapan berbunyi, “Satu orang mengatakan kebohongan, puluhan ribu orang menganggapnya benar.” Meski hanya satu orang yang mengatakan, meski hanya sebuah artikel, mungkin membuat banyak orang menganggap benar. Ini sangat berbahaya. Akan tetapi, gosip berhenti pada orang bijak. Batin kita harus bisa memilah berbagai kondisi luar

 Kondisi yang benar haruslah kita manfaatkan. Jika salah, kita harus mencari penjelasannya. Setelah menemukan bukti dan penjelasannya, kita harus mencari tahu kebenarannya. Jadi, batin adakalanya melekat pada kondisi luar. Kini kita akan membahas syair selanjutnya, “Menciptakan segala karma buruk akibat Empat Kemelekatan.” Kemelekatan berarti keterikatan. Saat kita mengalami kontak dengan objek luar, seperti mendengar suara, melihat rupa, dan sebagainya, kita mungkin melekat pada semua itu. Baik saat melihat artikel, mengikuti pelajaran, dan sebagainya, kita semua melekat pada kondisi tersebut. Jika pikiran menyimpang sedikit saja, kita akan mudah percaya pada hal yang tidak benar

 Ketika seseorang mengabarkan hal yang tidak benar, banyak orang menganggapnya benar. Ini termasuk salah satu kemelekatan. Ada 4 jenis kemelekatan. Pertama adalah Kemelekatan Nafsu Keinginan. Mengenai nafsu keinginan, awal dari munculnya noda dan kegelapan batin adalah nafsu keinginan.   Beberapa hari ini kita selalu mengatakan, baik manusia maupun hewan begitu dilahirkan, pasti memiliki keinginan pertama untuk makan. Jadi, Kemelekatan Nafsu Keinginan adalah ketamakan

 Ketamakan terhadap apa? Objek suara, rupa, aroma, rasa, dan sentuhan. Saat melihat objek luar, misalnya melihat orang yang kita sukai, kita mulai mengejarnya dan rela mananti sampai kapan pun. Semua keinginannya rela kita turuti. Inilah ketamakan dan kemelekatan pada rupa. Nafsu seksual masa kini amatlah merajalela. Ini juga ketamakan terhadap rupa. Atau mungkin dalam keseharian kita, ada orang yang berjodoh dan tidak berjodoh dengan kita. Yang berjodoh dengan kita akan kita sukai dan semua ucapannya selalu kita anggap benar

 Yang tidak berjodoh dengan kita tidak akan kita sukai. Meski setiap ucapannya benar, kita akan menganggapnya omong kosong belaka. Ini pun kemelekatan pada jalinan jodoh, sehingga membeda-bedakan orang yang ditemui. Mengenai kemelekatan pada suara, banyak orang terbuai kesenangan akan musik dan tarian. Jika ditanya untuk apa ke tempat hiburan, mereka menjawab mau mendengarkan lagu.  Menghabiskan waktu di tempat hiburan demikian juga merupakan ketamakan. Selain itu, objek suara juga datang dari orang yang berdusta, omong kosong, dan bergunjing

 Omong kosong biasanya paling disukai. Apakah omong kosong itu? Yaitu ucapan yang enak didengar atau kata-kata pujian orang kepada kita, seperti, “Kamu sangat baik, ucapanmu sungguh enak didengar, kata-katamu sangat masuk akal,” dll. Orang-orang terus memuji kita dengan mulut manis untuk memikat hati kita, dan kita akan merasa orang itu paling baik. Ketamakan akan kata-kata manis ini membuat hati kita melekat  pada ucapan-ucapan palsu yang dapat mengacaukan pikiran kita. Terkadang, mendengar kata dari satu pihak bisa menimbulkan prasangka dan kebencian kepada pihak lain. Sikap seperti ini sering terjadi. Baik dalam keluarga, masyarakat, maupun negara, selalu ada godaan dari rupa dan suara. Godaan itu membuat kita tersesat dan jalan pikiran kita pun menyimpang. Mengenai kemelekatan pada aroma dan rasa, ini berhubungan dengan apa yang kita makan, dll

 Setiap orang memiliki satu mulut. Mulut ini tidak akan pernah terisi penuh. Di dunia ini, ada sebuah lubang yang tak pernah penuh meski diisi selama puluhan tahun. Ia adalah lubang yang terletak di bawah hidung, selamanya tidak akan terisi penuh. Demi nafsu akan makanan, berapa banyak nyawa makhluk di dunia ini yang telah kita santap? Ada sebuah kisah tentang seorang pengusaha yang harus menjamu tamu setiap hari. Ketika itu, mereka memesan hidangan  yang disebut babi susu. Babi susu adalah anak babi

  yang dihidangkan secara utuh

 Bayangkan, demi kenikmatan sesaat seperti itu, berapa berat karma pembunuhan yang tercipta? Pengusaha ini gemar menikmati makanan lezat. Setiap kali memesan makanan dan menjamu tamu, dia pasti memesan banyak hidangan. Dalam setiap jamuan, dihidangkan berbagai jenis daging, baik dari yang hidup di udara, darat, maupun laut. baik yang hidup di udara, darat, maupun laut. Betapa banyak korban nyawa yang dihidangkan di atas meja makan itu. Akan tetapi, setelah menyantap babi susu, hari itu juga dia terserang stroke. Awalnya, dikira karena terlalu lelah karena setelah jamuan, dia masih pergi mengikuti sebuah pertemuan lain yang diadakan sebuah organisasi amal yang berisi inspirasi cinta kasih

 Dia mengikuti pertemuan dengan sangat senang. Jadi, setelah selesai menjamu tamu, dia lanjut pergi ke acara pertemuan tersebut, dan terserang stroke sepulangnya dari sana. Seorang anggota organisasi ini merasa bersalah karena berpikir apakah karena diundang ke acara organisasi amal ini dia menjadi terlalu letih hingga terserang stroke. Istri sang pengusaha sangat bijaksana dan berkata, “Untunglah ini terjadi setelah dia pulang dari acara amal, setidaknya dia menanam sedikit benih karma baik, karena sebelumnya dia menyantap babi susu.” “Dia memang sulit dinasihati.” “Dalam sehari, entah berapa kali dia menjamu tamu, padahal dia mengidap tekanan darah tinggi.” “Mungkin karena mengikuti pertemuan amal yang kalian adakan, hatinya merasa bahagia sehingga dia hanya mengalami stroke ringan.” “Ini adalah peringatan untuknya

” Lihatlah kedua kondisi pikiran ini, sang suami punya ketamakan terhadap hidangan daging dari begitu banyak nyawa tak berdosa selama bertahun-tahun, sedangkan sang istri begitu bijaksana. Dia sangat berpengertian dan berkata bahwa untunglah saat itu suaminya mendengarkan sedikit ajaran baik hingga niat baiknya timbul, dan karena itu, dia hanya terserang stroke ringan. Semua bergantung pada cara kita menggunakan hati untuk melihat kondisi luar dan berusaha memahaminya dengan baik. Jika menyerap kondisi yang baik, ia akan bermanfaat bagi kita. Jika melekat pada yang tidak baik, tentu tidak akan bermanfaat. Sebagaimana pasangan suami istri ini, yang satu melekat pada makanan, sedangkan yang satu lagi dapat mendengar dan berpikir dengan akal sehat. Lihatlah, sesungguhnya kondisi bagaimana yang harus kita serap untuk digunakan dalam keseharian kita? Objek rupa, suara, aroma, rasa, dan sentuhan dapat membangkitkan nafsu keinginan kita, sehingga timbullah ketamakan. Jika kita mampu memanfaatkan dengan bijaksana objek rupa, suara, aroma, rasa, dan sentuhan yang kita temui dalam keseharian, berarti kita memiliki batin yang murni dan dapat menciptakan berkah. Misalnya, insan Tzu Chi sering membantu orang membersihkan rumah. Lihatlah, saat relawan melakukan kunjungan kasih, adakalanya kondisi rumah pasien sangat kotor

 Melihat lansia tinggal dalam kondisi seperti itu, mereka merasa tidak tega. Mereka lalu bertekad untuk bersama-sama melakukan kebajikan. Mereka membawa ember, sapu, dan kain lap, lalu mengunjungi lansia itu untuk memandikannya dan membersihkan rumahnya. Setelah dibersihkan, rumah ini menjadi lebih nyaman. Kondisi rumah ini menjadi bersih dan cemerlang. Sang orang tua telah dimandikan, dan rumah juga telah bersih. Ini adalah kondisi baik yang kita ciptakan melalui objek rupa, suara, aroma, rasa, dan sentuhan. Singkatnya, kita sebagai praktisi Buddhis harus bijaksana dalam menganalisis kondisi kehidupan sekitar kita

 Yang kedua adalah Kemelekatan Pandangan, yaitu melekat secara membuta pada 5 agregat. Lima agregat terdiri atas rupa, perasaan, persepsi, bentuk-bentuk pikiran, dan kesadaran. Dalam setiap kebaktian pagi, adakalanya kita membaca Sutra Hati,  di mana dikatakan 5 agregat bersifat kosong dan pada hakikatnya adalah murni. Akan tetapi, kita sebagai orang awam melekat pada 5 agregat tersebut. Yang pertama dari lima agregat juga adalah rupa. Rupa adalah jasmani yang berkontak dengan kondisi luar. Saat rupa berkontak dengan objek luar, maka timbullah perasaan. Setelah rupa dan perasaan, selanjutnya adalah persepsi, yaitu prose analisis dalam pikiran kita. Kata persepsi dalam aksara Mandarin adalah gabungan dari aksara wujud dan pikiran. Inilah persepsi

 Sama seperti saat kalian melihat wujud saya dengan mata dan menyimpannya ke dalam pikiran kalian. Dengan begitu, kalian tahu di mana saya sedang duduk sekarang dan apa warna baju yang sedang saya pakai. Dengan demikian, wujud saya sudah masuk ke penglihatan kalian, sehingga rupa ini sudah teranalisis dan terekam di dalam pikiran kalian. Inilah yang disebut persepsi. Karena itu, kalian dapat merasakan bagaimana persepsi kalian terhadap pakaian saya, apakah pantas atau tidak, apakah bagus atau tidak. Semua ini adalah perasaan dari pembedaan. Jika merasa itu pantas, kalian menjadi senang, dan kalian akan tahan duduk di sini. Jika merasa itu tidak pantas, kalian sudah pergi sejak tadi. Inilah perasaan yang muncul dari persepsi, yakni perasaan yang timbul setelah kesan dari objek luar masuk ke pikiran kita. Setelah rupa, perasaan, dan persesi, berikutnya adalah bentuk-bentuk pikiran. Misalnya, saat saya tidak senang, maka reaksi saya adalah pergi dari sini

 Jika saya senang, saya akan tetap duduk di sini dan sungguh-sungguh mendengarkan. Inilah bentuk pikiran yang terwujud ke dalam tindakan. Sesungguhnya, tindakan oleh jasmani mencakup semua tindakan dalam keseharian seperti bergerak, berbicara, dll. Saya hanya mengambil satu contoh saja. Setelah rupa, perasaan, persepsi, dan bentuk-bentuk pikiran, berikutnya adalah kesadaran. Hal baik kita simpan di dalam pikiran dan terapkan dalam keseharian. Jika kita merasa tidak baik, maka hidup kita akan sangat menderita. Begitu ketamakan muncul, berapa pun yang kita peroleh akan terasa kurang

 Jadi, manusia tak pernah merasa puas, seperti mulut kita yang tak pernah puas setelah makan selama berpuluh-puluh tahun. Ketamakan kita juga demikian, sebanyak apa pun yang kita peroleh, kita tetap tidak merasa cukup. Demikianlah kehidupan kita. Jadi, yang harus dipegang teguh praktisi Buddhis pertama adalah menaati peraturan. Peraturan dan pengetahuan yang harus kita pelajari dan serap tidak ada batasnya, namun ruang bagi perilaku dan kebiasaan buruk juga terbuka sangat lebar. Kita terus memupuk kebiasaan buruk. Semua ini merupakan potensi kemelekatan. “Dalam kelompok yang terdiri atas 3 orang kita pasti dapat menemukan guru

” Orang baik sangat banyak, demikian juga orang jahat. Kita hendaknya terus belajar dari orang baik. Pepatah mengatakan, “Hidup sampai tua, belajar sampai tua.” Di tengah interaksi dengan banyak orang, pasti ada yang dapat menjadi guru bagi kita. Banyak hal-hal baik yang tak habis kita pelajari. Demikian juga, banyak hal-hal buruk yang menyeret kita

 Kita sering terjerumus ke dalamnya. Jadi, potensi serap kita terhadap hal baik dan kemelekatan kita terhadap hal buruk sama-sama memiliki ruang yang besar. Jika arah kita menyimpang, maka setiap langkah kita menjadi keliru. Jika arah kita benar, kita dapat terus melangkah maju dan hidup kita akan memiliki harapan

 Jadi, mengenai kemelekatan, dalam kehidupan kita sehari-hari, gejolak pikiran tak dapat dihindari. Jadi, dalam jangka waktu hidup yang terbatas ini, harap semua banyak menyerap hal positif. Untuk itu, kita harus selalu bersungguh-sungguh.

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888