Sanubari Teduh – 099 – Empat Arus
Saudara se-Dharma sekalian, kita sudah membicarakan Empat Kediaman Mental. Kita terus membahas tentang batin. Batin harus dikelola dengan baik. Jika tidak dikelola dengan baik, batin kita akan menimbulkan masalah. Saya sering mengungkit tentang 4 unsur alam. Semua masalah dan bencana timbul akibat ketidakselarasan 4 unsur alam, yaitu tidak selarasnya unsur tanah, air, api, dan angin
Kondisi tubuh yang tidak sehat juga akibat dari ketidakselarasan 4 unsur. Timbul lenyapnya pikiran dalam batin kita juga akibat 4 jenis noda batin yang mempertebal kegelapan batin. Jika batin tidak dikelola dengan baik, pemikiran dan pandangan kita akan menyimpang, dan masalah akan bermunculan. Jadi, faktor terpenting dalam melatih diri adalah mengelola batin. Sungguh, batin harus dikelola dengan baik. Berikutnya, dibahas mengenai Empat Arus. “Adakalanya menciptakan segala karma buruk akibat Empat Arus
” Istilah arus merujuk pada gejolak batin. Batin kita harus teguh dan berkonsentrasi. Sebagaimana diketahui, dengan mematuhi sila, batin baru dapat mencapai konsentrasi. Konsentrasi akan menumbuhkan kebijaksanaan. Akan tetapi, makhluk awam sering tidak sanggup mengendalikan batin dengan baik sehingga mengalami banyak gangguan. Gangguan ini adalah noda batin yang timbul karena pengaruh objek luar. Kita selalu mengejar nafsu kesenangan sesaat, sehingga kondisi kesenangan ini pun menimbulkan gangguan batin. Jadi, yang pertama dari Empat Arus Batin adalah “Arus Nafsu Keinginan”
Arus Nafsu Keinginan muncul dari ketamakan makhluk awam di Alam Nafsu. Kita mengejar kesenangan sesaat di depan mata dan menganggap bahwa selama kita senang, apa saja boleh kita lakukan. Kita berbuat sesuka hati. Hal ini tentu dapat menyesatkan batin kita. Jadi, penglihatan sesat dapat menjerumuskan batin.
Segala rupa dapat menyesatkan indra penglihatan kita karena mata kita tidak henti-hentinya mengalami kontak dengan objek luar. Kesesatan penglihatan kita ini berasal dari kegelapan batin, karena mata yang berkontak dengan objek luar menyebabkan batin kita bergejolak. Maka, disebut penglihatan sesat menggoyahkan batin
Kesenangan ini menyesatkan penglihatan kita, lalu menyebabkan batin kita bergejolak dan selanjutnya menimbulkan noda-noda batin. Karena itu, kegelapan batin merupakan belenggu yang menimbulkan noda batin, dan membuat batin bergejolak. Kondisi ini disebabkan oleh indra yang berkontak dengan objek luar dan pada gilirannya membuat batin bergejolak. Bergejolak berarti tak dapat berkonsentrasi dan terus terombang-ambing. Jika batin seorang praktisi goyah, berarti kekuatan konsentrasinya belum cukup. Biasanya dalam menghadapi berbagai masalah, kita jelas-jelas tahu harus menaati peraturan dan sila, serta menjaga kemurnian batin kita agar tidak dipengaruhi objek suara dan rupa. Gosip apa pun yang dibicarakan orang lain, kita tidak akan membiarkannya menggoyahkan batin kita. Ini barulah pelatihan yang sesungguhnya. Ada ungkapan berbunyi, gosip terhenti pada orang bijak
Kata-kata yang dilontarkan orang lain belum tentu kita sukai. Kalaupun kita suka, belum tentu itu merupakan hal yang baik. Karena itu, batin kita sering terpengaruh oleh kata-kata yang kita tidak suka atau gosip yang akhirnya menodai batin kita. Kita harus berlatih hingga seperti ungkapan gosip terhenti pada orang bijak. Kita harus senantiasa meningkatkan kewaspadaan. Batin kita harus mencapai konsentrasi, barulah kebijaksanaan dapat tumbuh. Jika gosip tidak benar-benar dihindari, maka batin kita tidak akan bisa tenang
Dalam kehidupan masyarakat umumnya, rupa tak hanya merujuk pada paras wajah atau bentuk luar dari segala sesuatu.
Yang paling merisaukan dari rupa adalah nafsu seksual. Nafsu seksual kadang dapat merusak tatanan sosial. Ada sebuah berita melaporkan bahwa ada seorang gadis berusia 17 tahun, dua tahun lalu berkenalan dengan seorang kakek berusia 70-an tahun. Jika terhitung sejak dua tahun lalu, berarti gadis itu masih berumur 15 tahun. Kakek tua ini sepatutnya bisa menjadi kakek gadis ini. Akan tetapi, dua tahun yang lalu, mereka yang memiliki selisih umur setingkat kakek dan cucu ini saling berkenalan dan menjalin hubungan. Gadis ini hanya mau menikah dengan sang kakek. Tanpa pertimbangan panjang, sang kakek lalu menceraikan istrinya dan mengabaikan penolakan anak dan cucunya
Percintaan ini telah membutakan hati gadis dan kakek ini. Coba pikirkan, nafsu asmara ini dapat mengacaukan tatanan kehidupan. Jadi, mengenai rupa, selain merujuk pada segala sesuatu di dunia yang memiliki wujud dan dapat membuat batin kita bergejolak, yang paling menakutkan adalah nafsu seksual. Percintaan pria dan wanita atau sesama jenis Inilah yang disebut Arus Nafsu Keinginan. Ia dapat membutakan hati kita hingga kita diliputi noda dan kegelapan batin. Selanjutnya, ia membuat kehidupan kita dipenuhi masalah dan penderitaan. Gejolak yang kedua adalah Arus Eksistensi. Mengenai eksistensi, lihatlah kita sebagai makhluk awam yang tidak mampu menahan godaan nafsu
Akibatnya, muncul berbagai perbuatan yang merusak tatanan moral kehidupan. Setelah melakukan perbuatan buruk, keresahan akan mengusik ketenangan kita. Jika kita dapat menaati peraturan dan bertindak sesuai dengan norma kehidupan, maka batin akan menjadi sangat tenteram. Jika mengabaikan norma kehidupan, noda batin akan bermunculan. Setiap saat, noda batin ini dapat merusak konsentrasi dan kedisiplinan diri kita. Jadi, batin tidak boleh bergejolak. Jika batin bergejolak, kita sungguh dapat melanggar norma kehidupan
Mengabaikan norma kehidupan akan membuat hidup menderita. Batin akan menjadi terbelenggu. Batin yang tadinya dikatakan bergejolak, kini mulai diliputi noda yang membuat pikiran semakin terbelenggu sehingga kita tidak bisa meloloskan diri darinya. Jadi, arus kedua adalah Arus Eksistensi, yaitu gejolak yang telah menghasilkan eksistensi noda batin. Yang ketiga adalah Arus Pandangan, yaitu gejolak yang muncul akibat adanya pandangan. Berhubung kita telah melakukan kesalahan, batin kita menjadi terbelenggu
Noda batin menutupi pikiran. Segenap hati kita akan ditutupi oleh noda batin. Lihatlah betapa banyak orang yang takut kesalahannya diketahui orang lain. Inilah yang sering saya katakan, “Noda batin menutupi pikiran”. Semakin bersalah, orang akan semakin berbohong dan semakin berusaha lari dari kenyataan. Batinnya akan semakin gelap. Jadi, inilah akibat dari pandangan keliru. Lihatlah barisan insan Tzu Chi yang begitu panjang
Sebagian dari mereka juga pernah menjalani hidup yang keliru, namun mereka dapat segera berpaling. Setelah berbuat salah, kita harus berusaha membebaskan batin kita. Kita harus membuka hati kita. Satu-satunya cara adalah bertobat secara terbuka. Karena itu, dalam kebaktian agama Buddha, terutama saat kebaktian malam, pertobatan besar dilakukan secara terbuka. Manusia sulit terhindar dari kesalahan. Mungkin kita telah berbuat kesalahan tertentu. Karena itu, dalam naskah pertobatan disebutkan berbagai kesalahan yang dapat terjadi di dunia
Karena itu, kita di vihara, setiap hari selalu membaca naskah pertobatan. Pertobatan harus dilakukan secara terbuka. Sesungguhnya, jika hanya membaca dan melantunkan pertobatan di mulut saja, apakah kita sudah menyerapnya ke dalam hati? Apakah ia sudah membuat batin kita waspada? Kita membacanya di hadapan Buddha, namun apakah kita sendiri telah menyerap maknanya ke dalam hati? Jika sudah meresap dalam hati, kita akan dapat meningkatkan kewaspadaan dan dapat segera memperbaiki diri. Akan tetapi, kebanyakan orang merasa syair yang mereka baca tidak berkaitan dengan mereka dan menganggapnya sebagai ritual saja, atau ada yang menganggap bahwa membaca Sutra dapat membantu orang terhindar dari bencana. Kita berpikir bahwa membaca Sutra dapat menghindarkan diri atau orang lain dari bencana. Membaca Sutra dapat melenyapkan bencana, pandangan ini tidaklah benar. Sutra adalah jalan kebenaran, dan jalan ini haruslah dipraktikkan. Sutra bagaikan sebuah jalan
Berhubung ia adalah jalan kebenaran, maka saat membaca Sutra, kita bagai melihat peta. Dengan demikian, saat menilik masa lalu, kita dapat mengetahui apakah jalan kita salah. Saat melangkah ke depan, kita dapat berhati-hati dalam menapakinya. Jika melangkah di jalan yang salah, kita harus segera memutar haluan. Jika arah kita sudah benar, kita juga harus melangkah dengan waspada. Inilah makna sebenarnya dari membaca Sutra. Hanya dengan membaca Sutra, kita tak dapat menghindarkan orang lain dari bencana. Hanya dengan membaca Sutra, juga tak dapat menghindarkan diri dari bencana
Tujuan membaca Sutra adalah meningkatkan kewaspadaan, agar kita mengetahui hal-hal apa saja yang merupakan perbuatan salah. Inilah tujuan terpenting dari membaca Sutra. Akan tetapi, kadang kita hanya membacanya secara sambil lalu saja. Saat membaca Sutra di depan rupang Buddha, kita terus berkata, “Aku akan bertobat, aku akan berikrar.” Meski kita terus berkata demikian, rupang Buddha yang terbuat dari kayu tidak akan bereaksi sama sekali. Apa pun kesalahan kita, ia tetap tak bereaksi. Hal yang terpenting adalah pemahaman kita harus naik setingkat, yakni memandang setiap orang sebagai Buddha
Jadi, kondisi batin kita harus ditingkatkan hingga pada pemahaman bahwa kita sendiri juga adalah Buddha, setiap orang yang kita temui adalah Buddha. Buddha pernah berkata bahwa hati, Buddha, dan semua makhluk pada hakikatnya tiada perbedaan. Asalkan batin kita bersih, kita dapat kembali pada hakikat kebuddhaan. Pada hakikatnya, kita adalah Buddha, namun karena batin kita penuh dengan noda, maka kita masih disebut orang awam. Akan tetapi, kita harus menghormati orang lain, karena jika batin mereka bersih, maka mereka tiada bedanya dengan Buddha. Lagi pula, mereka dapat bersumbangsih bagi masyarakat, maka kini mereka adalah Bodhisattva. Jadi, kini berarti kita bertemu dengan begitu banyak Buddha dan Bodhisattva untuk mengungkapkan kesalahan masa lalu kita dengan berkata,”Saya menyadari kesalahan saya, terima kasih telah menuntun saya ke Jalan Bodhisattva.” “Kini saya akan giat menapaki Jalan Bodhisattva dan bertobat atas kesalahan masa lalu
” “Kini saya akan menjaga kemurnian batin saya.” “Di hadapan kalian, saya membuka kesalahan masa lalu saya, kini saya berikrar untuk bertobat.” “Mohon kalian menjadi saksi, saya akan memperbaiki diri dan merealisasikan ikrar saya.” Inilah pertobatan dan ikrar yang terbaik. Karena semua orang memiliki rasa malu, mereka akan berkata, “Saya telah membuka seberapa buruk diri saya dahulu, dan telah berjanji di hadapan kalian.” “Kini saya harus benar-benar berubah.” “Jika saya mengingkarinya, kalian mungkin memberi tahu orang lain tentang keburukan saya di masa lalu.” Jika sekarang saya tidak memperbaiki diri, kalian akan mengatakannya kepada orang lain dan saya akan ditertawai, maka saya harus terus mengingatkan diri saya
” Dengan demikian, pandangan kita baru dapat benar-benar berubah dan kita akan terbebas dari belenggu batin. Jika kita mendengar seseorang berkata, “Ada yang bilang kamu seperti itu,” Anda mampu menjawab, “Memang benar, saya sudah mengaku di depan orang banyak.” Dengan begitu, kita juga merasa tanpa beban. Meski pernah berbuat salah di masa lalu, jika kita mengakuinya secara jujur, maka kita tidak perlu lagi takut ketahuan dan hati pun tidak akan terbelenggu kerisauan. Dengan begitu, pandangan kita baru bisa terbuka. Jadi, Arus Pandangan disebabkan oleh kondisi batin yang terbelenggu oleh noda dan kerisauan. Asalkan belenggu tersebut lepas, maka pandangan pun akan terbuka. Inilah yang disebut Arus Pandangan
Ia adalah pembelenggu di Tiga Alam. Jadi, noda batin ini timbul setelah melakukan kesalahan, yakni saat batin merasa terbelenggu. Kondisinya kira-kira seperti itu. Selanjutnya adalah Arus Kegelapan Batin. Kegelapan batin juga merupakan pembelenggu pikiran di Tiga Alam. Segala pikiran sesat di depan mata saat ini, masa lalu, maupun akan datang, semuanya bersumber dari kegelapan batin. Jadi, saat kita membedakan yang baik dan buruk, ini berkaitan dengan masa lalu, masa kini, dan akan datang. Berbagai kondisi yang kita hadapi, baik yang baik maupun yang buruk, dapat membuat pandangan dan pemikiran kita tersesat oleh kegelapan batin
Kondisi ini akan terus berkembang dan terakumulasi dari masa lalu, sekarang, hingga akan datang. Noda batin ini akan terus terakumulasi. Saya sering berkata, “Tiada yang bisa dibawa serta, hanya karma yang terus mengikuti.” Kehidupan kita sekarang adalah hasil dari kekuatan karma masa lampau yang bertemu kondisi pendukung saat ini. Akibatnya, benih karma yang kita bawa bereaksi dengan kondisi pendukung yang ada sehingga menghasilkan kekuatan yang tidak bisa kita kendalikan. Karena itu, tanpa mampu mengendalikan diri, kita kembali menanam benih yang buruk dan mengikat jalinan jodoh buruk lagi. Kelak, karma ini akan kembali berbuah
Belenggu pandangan dan noda batin ini akan menumbuhkan sesuatu dalam diri kita. Apakah itu? Kebencian dan nafsu keinginan. Kebencian akibat kegelapan batin ini akan kembali bergelut dan berkembang. Inilah yang disebut Arus Kegelapan Batin. Sebagai praktisi Buddhis, kita harus mengetahui bahwa gejolak dari kegelapan batin ini memiliki kekuatan untuk menyeret kita hingga menciptakan karma buruk lewat tubuh dan ucapan. Kekuatan ini sangat luar biasa. Jika tak mampu mengendalikannya, ia akan membuat batin kita terus terpengaruh oleh berbagai kondisi. Kita pernah membahas 7 jenis kejahatan, yaitu 4 jenis karma buruk ucapan yang terdiri atas berdusta, omong kosong, bergunjing, dan berkata-kata kasar, ditambah 3 karma buruk lewat tubuh, yaitu membunuh, mencuri, dan berbuat asusila
Tujuh kejahatan ini disebabkan oleh belenggu pandangan dan pemikiran serta belenggu kegelapan batin. Ketamakan, kebencian, dan kebodohan terus menyeret kita sehingga kita terus berkutat di Tiga Alam tanpa bisa membebaskan diri. Jadi, pandangan sangatlah penting. Kita ambil sebuah contoh, dalam satu bagian Sutra Perumpamaan, dikisahkan ada seorang sesepuh yang tiba-tiba ingin makan buah amra (mangga). Jenis buah ini tumbuh di India. Dia memberi uang kepada pelayannya dan berkata, “Tolong belikan saya buah amra.” Sang pelayan mengambil uang dan segera bersiap. Sesepuh itu berpesan sekali lagi, “Kamu harus pilih yang manis, cicipi terlebih dahulu
” “Jika manis, barulah membelinya.” Berhubung telah dipesankan demikian, sang pelayan pun pergi berbelanja. Dia lalu bertanya kepada pedagang, “Apakah buahnya manis?” Pedagang menjawab, “Manis, dijamin manis.” Sang pelayan bertanya, “Yang mana yang manis?” Pedagang buah menjawab, “Semuanya manis, semua dipetik dari pohon yang sama.” “Semuanya dipetik dari satu pohon yang sama, jadi semuanya manis.” “Jika tak percaya, Anda boleh mencobanya.” Sang pelayan lalu menggigit satu buah dan berkata,”Benar, sangat manis.” “Akan tetapi, saya baru mencoba satu buah, padahal saya harus membeli banyak
” “Apakah yang lainnya manis semua?” “Tentu saja,” kata sang pedagang. “Kalau begitu, biar saya cicipi satu lagi.” “Semua buah yang akan saya beli akan saya cicipi untuk memastikannya.” Sang pelayan tmemilih sekeranjang besar dan berkata,”Semuanya manis, saya sudah mencicipnya.” Kemudian dia kembali ke rumah dengan gembira dan berkata kepada tuannya, “Dijamin manis, karena sudah saya coba.” Sang tuan membuka keranjang dan berkata, “Wah, kamu telah menggigit setiap buah.” “Benar,” jawab sang pelayan, “bukankah Tuan berpesan demikian?” “Jadi, saya mencoba semuanya, rasanya sangat manis
” Apa maksud dari perumpamaan ini? Ini mengumpamakan sifat makhluk awam. Jika mendengar orang berkata bahwa praktisi Buddhis harus mempraktikkan sila, samadhi, dan kebijaksanaan, maka kita harus bisa melaksanakannya. Selanjutnya, kita juga harus berdana. Dengan begitu, kita baru mendapatkan berkah. Sila membantu kita mencapai samadhi dan kebijaksanaan. Berdana akan menghasilkan berkah. Akan tetapi, orang awam akan berpikir, “Benarkah praktik sila akan mencapai samadhi, dan kebijaksanaan, dan berdana akan membawa berkah?” “Ini benar atau bohong?” “Saya harus mendapat berkah dahulu, baru saya mau berbuat kebajikan.” “Jika belum memperoleh berkah, bagaimana saya bisa menciptakan berkah?” Karena itu, mereka tidak percaya bahwa kita akan memperoleh manfaat setelah bersumbangsih
Orang awam yang pikirannya lebih sempit akan berkata, “Mendapat dulu, baru saya mau memberi.” Kita sering mendengar banyak orang berkata, “Saya akan berdana setelah saya cukup uang.” Kapankah mereka akan merasa cukup? Sering dikatakan bahwa manusia selalu merasa kurang setelah memiliki. Kapan baru dapat merasa cukup? Memberi lebih bahagia daripada menerima. Berdana tidaklah dinilai dari jumlahnya. Asalkan ikhlas sesuai kemampuan, itu sudah benar. Akan tetapi, orang awam tak berpikir demikian. Mereka berpikir, “Setelah harta saya banyak, baru saya bisa bersumbangsih
” Inilah yang disebut pandangan salah. Dalam kehidupan ini, kita menghadapi banyak kondisi yang mengakibatkan timbulnya nafsu keinginan. Nafsu keinginan mengacaukan tatanan hidup dan membawa derita. Penderitaan itu akan membelenggu kita. Setelah batin terbelenggu, pandangan salah dan pikiran sesat akan semakin bertumpuk. kita takut orang lain tahu. Sungguh menderita. Akibatnya, noda batin yang tebal ini terus bergejolak dalam hidup kita. Karena itu, dikatakan, “Menciptakan segala karma buruk akibat Empat Arus
” Saudara sekalian, kita harus bersungguh-sungguh menjaga pikiran kita dengan baik, jangan biarkan gejolak batin memengaruhi kita hingga keluar dari jalan benar. Jadi, bersungguh-sungguhlah setiap saat.