Sanubari Teduh – 103 – Empat Kondisi
Saudara Se-Dharma sekalian, dalam suasana di pagi hari ini, saat kita menenangkan hati, entah kondisi apa yang memengaruhi kita, apakah berasal dari suara burung di luar, suara kipas angin di ruangan, ataukah dari pikiran masa lalu. Kita mungkin memikirkan orang dan masalah yang kita temui kemarin atau memikirkan apa yang harus dikerjakan dan diselesaikan hari ini atau nanti. Semua pikiran ini dipengaruhi oleh kondisi luar, baik masa kini, masa lampau, maupun masa depan. Beginilah kondisi pikiran awam kita yang tidak merasa tenang dan leluasa, kebanyakan dipengaruhi oleh kondisi luar
Karena itu, kondisi penyebabnya terletak pada pikiran kita. Jika kita menerima kondisi yang baik, pikiran kita akan terus melekat padanya. Begitulah kita sebagai makhluk awam. Karena ada sebab yang mengondisikannya, maka membuat kita melekat padanya. Ada empat jenis kondisi. Pertama adalah Kondisi Sebab. Perpaduan antara sebab dan kondisi adalah hal yang sudah kita ketahui dan bicarakan setiap hari
Bicara tentang contoh sebab dan kondisi, enam indra adalah faktor sebab, dan objek luar adalah faktor pengondisi. Ketika indra mata kita melihat objek di luar, objek di luar hanyalah faktor pengondisi. Akan tetapi, karena faktor pengondisi menyebabkan timbulnya kesadaran kita, faktor-faktor mental akan mulai bereaksi sehubungan dengan objek luar yang masuk ke dalam batin kita. Karena itu, dengan enam indra sebagai penyebab, dan objek luar sebagai pengondisi, maka dari kontak tersebut muncullah kesadaran. Saat mata kita melihat objek luar tertentu, maka di hati kita akan muncul suatu kesan
Saat objek itu berlalu, sesungguhnya kesan tersebut telah tercatat di dalam batin kita. Ada yang mengatakan bahwa meski mata mengikuti objek luar, namun jangkauan penglihatannya terbatas. Sebaliknya, mengenai pendengaran, pada saat ini, meski kita tidak melihat di mana sebenarnya burung itu berada, namun berdasarkan burung yang biasa kita lihat, maka kita akan tahu bagaimana bentuknya. Dengan mengandalkan suara burung saat ini, memungkinkan kita membayangkan wujudnya. Oleh karena itu, indra telinga sangat tajam. Ia bisa mengetahui sesuatu tanpa melihat
Dia tahu keberadaan burung-burung ini, sedangkan mata baru tahu setelah melihat dan merekam wujudnya ke dalam batin. Kini wujudnya telah terekam dalam batin kita. Seperti pada pohon di belakang griya kita, ada burung-burung membuat sarang di sana. Mereka sangat lucu. Kita merekam video burung tersebut. Butuh waktu beberapa hari untuk melihat burung tersebut membuat sarang
Kita mulai merekam proses pembuatan sarang dengan sabar dan teliti melalui kamera video. Setelah sarang selesai dibuat, terlihat induk burung masuk ke sarang dan mulai bertelur. Setelah bertelur, burung betina terlihat mengerami telur. Kita dengan sabar merekam kondisi kehidupannya hingga telur menetas dan lahir anak burung. Tubuh anak burung tampak tak berbulu. Kemudian induk burung terbang keluar, lalu kembali dengan cepat
Setelah kembali, ia menyuapi anak burung. Mulut induk dan anak burung saling bersentuhan, artinya ia sedang menyuapi anaknya. Gambaran ini terlihat penuh kehangatan dan membuat kita takjub akan kondisi alam semesta. Makhluk apa pun yang bernyawa pasti mempunyai perasaan. Lihatlah jenis burung ini, curahan kasih sayang induknya terasa penuh kehangatan. Karena itu, saat adegan ini saya lihat melalui rekaman video, ia sudah tersimpan di dalam batin saya
Saat saya duduk di sini dan mendengar suara burung, maka bayangan di batin saya tentang adegan proses induk burung menyuapi anak burung akan terhubung dengan suara-suara tersebut. Ini berarti bahwa perasaan di saat ini telah dipengaruhi oleh kondisi sebelumnya. Akan tetapi, mengingat kondisi itu, timbul pula rasa takjub terhadap keluarbiasaan alam.
Nilai kasih sayang orang tua yang mulia bahkan juga dimiliki oleh hewan seperti burung, apalagi manusia. Hati kita akan berpikir demikian. Jadi, pikiran adalah faktor penyebab, dan objek luar adalah faktor pengondisi. Ketika faktor sebab dan kondisi bertemu, ia akan terserap ke dalam kesadaran kita lalu muncul keluar pada saat-saat seperti ini. Karena itu, dalam kehidupan sehari-hari kita, ketika 6 indra kita mengalami kontak dengan 6 objek, sikap batin apa yang harus kita gunakan dalam menghadapinya, dan bagaimana pula kesadaran kita meresponnya? Misalnya, kesadaran saya tadi membuat saya merasakan keluarbiasaan alam semesta dan berharganya kasih sayang. Ini adalah contoh dari indra mata dan telinga yang setiap saat bisa saling berhubungan
Selanjutnya, mengenai hidung dan objek rasa. Objek rasa adalah faktor kondisi, sedangkan hidung adalah faktor sebab. Ada rasa yang kita sukai, ada juga rasa yang tidak kita sukai. Ketika lidah mengecap makanan, Ketika lidah mengecap makanan, kita menyebutnya sebagai rasa, kini sering disebut selera. Saat makan, mungkin terasa rasa manis, asin, asam, sepet, keras, lembut, dll. Saat kita menggunakan lidah kita untuk mencicipi rasa makanan, ini juga adalah perpaduan indra, objek, dan kesadaran. Dari sini, kita mengejar apa yang kita sukai. Karena itu, saya sering berkata bahwa hanya melalui mulut saja, sudah banyak karma buruk yang kita ciptakan
Meski hanya melalui sebuah ucapan di mulut, dapat menyakiti hati orang dan membuat hati orang tertusuk-tusuk. Kita sendiri tidak merasakannya. Demi memenuhi nafsu makan, kita membunuh makhluk hidup, kita membuat nyawa mereka terancam. Bukankah ini dilakukan demi nafsu makan? Jadi, karena semua bermula dari mulut, maka mulut merupakan faktor penyebab, dan objek luar adalah faktor kondisi. Mengenai sentuhan, di saat dingin kita harus berpakaian lebih, dan di saat panas kita menggunakan kipas angin atau penyejuk ruangan. Ini merupakan perasaan terhadap sentuhan, terlebih terhadap objek yang bersentuhan langsung dengan tubuh. Orang banyak melakukan karma buruk melalui tubuh ini, seperti membunuh, mencuri, dan bertindak asusila Bukankah semua dilakukan melalui tubuh ini? Karena itu, tubuh merupakan faktor penyebab, dan objek luar juga adalah faktor kondisi. Kesadaran yang timbul dalam batin kita membuat kita menciptakan banyak karma buruk. Intinya, sebab dan kondisi ini dapat memengaruhi kita akibat noda dan kegelapan batin di masa lampau. Kebiasaan buruk yang kita miliki bertambah tebal dengan adanya kontak antara indra kita dan objek luar. Demikianlah kita terus memupuk tabiat buruk. Saya selalu berbicara tentang noda dan kegelapan batin. Mereka sangat mudah mengakibatkan munculnya benih penyebab. Ia membuat indra mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran kita melekat dan terikat pada kebiasaan buruk
Lihatlah, meski sama-sama manusia, setiap orang punya cara berjalan yang berbeda. Ini adalah kebiasaan kita. Tingkah laku juga berbeda. Ini juga adalah kebiasaan. Cara berbicara juga tidak sama. Ini juga adalah sejenis kebiasaan. Itulah mengapa kita harus mengenyam pendidikan
Tujuannya adalah mengubah tabiat kita. Jika tabiat buruk sudah berubah, maka dalam kehidupan ini, cara kita menyikapi kontak antara indra dan objek luar dengan sendirinya juga akan berubah. Segalanya akan terlihat seperti alam Buddha. Pikiran kita akan menjadi sangat lembut. Jadi, sebagai praktisi Buddhi, kita harus ingat untuk senantiasa menjaga pikiran dengan baik. Jika pikiran dijaga dengan baik, maka semua sebab dan kondisi akan dirasa sebagai berkah. Jika kita dapat bersikap penuh pengertian, dapat berlapang dada, tahu berpuas diri, dan dapat bersyukur, maka apa pun kondisi yang kita rasakan, tiada satu pun yang tidak kita syukuri, semua merupakan jodoh baik dan membahagiakan. Karena itu, kita sebagai praktisi Buddhis harus bersungguh-sungguh memahami sebab dan kondisi
Saya sering membicarakan hal ini dengan kalian. Selanjutnya, mengenai akibat. Sebab dan kondisi menimbulkan akibat. Jadi, apa pun sebab dan kondisi yang kita ciptakan, ia akan menimbulkan akibat. Karena itu, kita harus selalu waspada. Kondisi kedua adalah Kondisi Tanpa Jeda. Tanpa jeda berarti ketika suatu kondisi telah berlalu, pikiran kita masih melekat padanya secara terus-menerus. Ini dinamakan Kondisi Tanpa Jeda. Mengapa hati kita tidak bisa tenang? Karena pikiran kita terus bergerak tanpa jeda dari satu titik ke titik lain. Terlebih lagi, sebagai manusia awam, kita punya kemelekatan pada tabiat kita. Sebelumnya kita selalu membahass tentang kemelekatan nafsu keinginan. Ia dapat membuat pikiran kita tak berjeda dan tanpa henti-hentinya bergejolak
Jika kita menyukai seseorang dan telah jatuh hati kepadanya, maka meski orang ini berada jauh dari kita atau berada di suatu tempat yang tidak kita ketahui, bayangan dirinya senantiasa ada dalam pikiran kita. Rasa rindu yang terus berkesinambungan dari satu titik ke titik lain lain tanpa henti, inilah yang disebut Kondisi Tanpa Jeda. Begitu juga saat orang serius bekerja dalam melakukan suatu penelitian. Dia akan sangat fokus dan bersungguh-sungguh. Otaknya terus memikirkan masalah tersebut, dan berpikir bagaimana bisa menemukan atau memecahkan teka-teki tersebut. Dia menyelami masalah dengan sungguh-sungguh. Meski sedang berbicara dengan orang lain, otaknya masih memikirkan masalah yang sedang ditelitinya. Ini juga dinamakan Kondisi Tanpa Jeda
Singkatnya, tidak peduli baik atau buruk, begitu pikiran kita mulai melekat dengan sesuatu, maka minat kita, rasa cinta kita, kemelekatan kita, atau keterikatan kita akan selamanya tersimpan di dalam batin. Seperti contoh yang saya utarakan tadi, yakni saat melihat anak burung. Saya yakin saat kalian bicara soal anak burung, akan terbayang dalam benak saya keindahan sarang burung. Demikianlah kondisi batin kita. Asalkan kita pernah melihat sesuatu dengan perasaan yang sangat tersentuh, maka saat melihat kondisi serupa di lain waktu, bayangan kondisi sebelumnya akan terlintas lagi. Inilah yang disebut Kondisi Tanpa Jeda
Jadi, kondisi ini akan terus berkesinambungan. Setelah bekerja satu hari, jika diminta mengingat pekerjaan kemarin, kita akan mulai membayangkannya lagi. Selama 24 jam di hari kemarin, apa yang sebenarnya telah kita kerjakan akan kembali terbayang. ============= Urutannya tetap bergantung pada pikiran kita. Pikiran mengondisikannya ke peristiwa lampau dari awal hingga akhir. Jadi, dari satu pikiran ke pikiran lain akan terus muncul secara berurutan. Karena itulah, pikiran manusia awam tidak dapat menjadi tenang. Sebab akibat menjadi fungsi aktivitas kita, dan karena adanya fenomena ini, maka pikiran kacau kita akan terus menerus muncul demi masalah tersebut
Inilah keadaan manusia awam. Berhubung kondisi sebab dan kondisi ini tidak henti-hentinya berada di hati kita, maka pikiran kita menjadi tidak tenang. Kondisi ketiga adalah Kondisi Objek. Istilah kondisi dalam kondisi objek dapat berarti melekati kondisi. Sebagai contoh, ketika suatu kondisi terus berlalu, pikiran kita terus mengikuti bayangan kondisi yang berlalu tersebut. Mengikuti kondisi yang terus berlalu itu disebut melekati kondisi. Sesungguhnya kita tidak perlu melekatinya, tetapi kita tidak dapat mengendalikan diri. Ada orang yang melekati objek pemandangan
Ada yang suka melekati hubungan sesama. Ada orang berkata, “Mengapa kamu begitu suka melekati kondisi?” “Itu bukan urusan kita, namun kamu ingin melibatkan diri.” Inilah yang disebut melekati kondisi. Kita bisa saja tidak melekatinya, tetapi kita memiliki kebiasaan buruk dan ketertarikan pada hal-hal tersebut. Saat orang sedang berbicara, kita sangat suka mendengarkan orang membicarakan keburukan orang lain. Kita mendengar orang lain berkata tentang siapa yang benar dan siapa yang salah. Kita sangat suka mendengar hal-hal itu
Ini juga disebut melekati kondisi. Banyak permasalahan berawal dari kemelekatan pada kondisi. Kita tidak harus berada pada kondisi tersebut, tetapi, kita selalu tertarik padanya. Misalnya, kini banyak orang suka berwisata. Apakah memang diperlukan? Perlukah menghabiskan waktu dengan cara itu? Perlukah membuang tenaga seperti itu? Perlukah memboroskan uang seperti itu? Akan tetapi, orang suka melekati kondisi, yaitu suka melihat pemandangan. Jadi, mereka melekati kondisi ini. Kemelekatan ini bukanlah hal yang kita perlukan. Akan tetapi, itulah yang kita sukai
Ini disebut kebiasaan buruk. Misalnya, ilmuwan menciptakan pesawat untuk tujuan wisata ke luar angkasa. Sudah ada orang yang mendaftar. Kegemaran mereka adalah berwisata sepuasnya dalam kehidupan mereka. Tidak puas berwisata di daratan, lalu dilanjutkan wisata ke laut. Tidak cukup berwisata ke laut, mereka berwisata ke luar angkasa
Lihatlah manusia yang hidupnya suka melekati kondisi. Kemelekatan kondisi seperti ini, selain sangat menyia-nyiakan hidup, juga dapat menciptakan karma buruk. Kita memang tidak perlu melekati kondisi, tetapi kita punya kebiasaan buruk ini. Selain itu, mengenai kondisi, seperti yang kita bahas tadi, kesadaran muncul bergantung pada indra yang berkontak dengan objek luar. Dalam kehidupan sehari-sehari, kesadaran kita terus muncul dari hasil kontak indra kita dengan objek di luar. Jadi, ia dipengaruhi oleh kondisi luar. Saya sering berkata, kegelapan batin menimbulkan 3 wujud halus, objek sebagai kondisinya muncul 6 wujud kasar. Bukankah saya selalu berkata, kita diliputi noda dan kegelapan batin
Kebiasaan buruk ini sudah berlangsung lama. Karena itu, saat kondisi luar memengaruhi kelima agregat dan enam indra kita, akibatnya, hal-hal ini senantiasa berputar dalam keseharian itu. Sesungguhnya kalian yang duduk di sini bersama jika dapat bersungguh-sungguh, maka dengan begitu, kalian akan mampu memfokuskan kesadaran untuk mendengar Dharma dengan penuh perhatian. Seandainya kalian duduk di tempat ini dengan kesadaran yang diarahkan ke tempat lain, misalnya memikirkan hal yang kalian suka dan kalian minati, maka meski tubuh ini berinteraksi di sini, namun kesadaran kalian berada di tempat lain. Atau saat tubuh berinteraksi di sini, kesadaran kita akan melekat pada objek luar, lalu membeda-bedakan hal baik dan buruk. Seperti yang saya katakan tadi, misalnya saat ada aroma wangi yang tercium dari dapur yang sedang menggoreng tahu busuk, kita menyukainya. Jadi, kondisi itu dengan cepat memengaruhi kita hingga rasanya ingin makan. Atau sudah lama tak mencium aroma durian, lalu seseorang dengan gembira memikirkan bagaimana cara mendapatkannya. Akan tetapi, ada yang tak suka aroma durian
Saat menciumnya, mereka selalu merasa mual. Sesungguhnya durian bukan bagian dari diri saya. Mengapa kita merasakan mual yang begitu kuat? Karena kesadaran kita dipengaruhi objek luar. Indra bisa saja tidak bereaksi terhadap objek, tetapi karena adanya fungsi kesadaran, maka ia akan bereaksi. Karena itu, akan muncul perbandingan yang kuat antara rasa suka dan benci. Jadi, fungsi kesadaran adalah pengondisi, dan dunia luar adalah objek yang dikondisikan. Karena pikiran kita dapat menjadi pengondisi, sedangkan dunia luar adalah objeknya, biasanya kita sebut gejolak tubuh dan pikiran, yaitu pikiran yang bergejolak bergantung pada kontaknya dengan objek luar
Maka, terdapat reaksi dari faktor-faktor mental. Jadi, kondisi objek adalah kondisi penyebab munculnya kesadaran kita. Kita harus bersungguh-sungguh. Ketika indra kita berkontak dengan objek, apa efek yang ditimbulkan oleh kesadaran kita? Sebagai contoh, sekarang ada beberapa lansia yang sudah pikun, saat bertemu dengan cucu mereka dan sang cucu menyapa, “Nenek, ini saya.” Sang nenek bertanya,“Kamu siapa?” “Saya adalah si anu”, jawab cucunya
“Benarkah? dia sangat kecil, tapi kamu begitu besar”, ujar sang nenek. “Nenek, saya ‘kan bisa bertumbuh besar, ini benar adalah saya.” “Sekarang saya sudah bertumbuh besar.” “Oh, benar kamu ya”, jawab sang nenek
Kemudian sang nenek jalan-jalan di luar. Lalu dia disapa, “Nenek.” Sang nenek bertanya lagi, “Siapa kamu? Bukankah dia masih kecil?” Lihatlah, fungsi pikirannya saat itu dikondisikan ke masa-masa mudanya. Dahulu, otaknya sangat lincah dan cemerlang. Setelah kondisi fisiknya menurun, pikirannya kini telah berubah menjadi tumpul. Maka, dia tak mampu membedakan kondisi waktu. Pikirannya bisa terbawa ke masa lampau. Karena itu, pikirannya untuk melekati kondisi sudah tidak begitu berfungsi lagi saat ini
Kemampuan pikiran menangkap objek sudah tumpul. Akan tetapi, kebiasaan lama masih ada. Karena itu, kita harus bersungguh-sungguh. Waktu berlalu seiring dengan perubahan kondisi, tetapi kesadaran kita selamanya akan terpaku pada kondisi tersebut. Jika kita dapat melenyapkan pikiran yang terpaku pada kondisi pikiran liar, dan menggantikannya dengan pikiran jernih, maka kondisi batin kita akan menjadi sangat indah, Jadi, kita harus senantiasa bersungguh-sungguh