Sanubari Teduh – 104 – Empat Kondisi Bagian 2
Saudara se-Dharma sekalian, kita terus membahas pikiran dan kondisi luar, yaitu objek di luar dan kondisi di dalam pikiran. Mengenai kondisi, baik dikatakan pikiran kita yang bersentuhan dengan objek luar maupun dikatakan objek luar yang masuk ke pikiran kita, sesungguhnya semua berhubungan dengan kesadaran. Mengenai kesadaran, jika bukan karena kesadaran melakukan pembedaan saat bersentuhan dengan objek, maka sesungguhnya objek dan pikiran adalah dua hal yang terpisah. Jadi, yang terpenting bagi kita adalah kondisi batin dan indra yang berinteraksi dengan objek, karena kesadaran muncul dari kontak indra kita dengan objek di luar yang kemudian membawa pada pembedaan. Jika kita memahami prinsip ini, maka saya pikir kita akan mengerti makna kata kondisi dalam hukum sebab akibat. Tiada pergumulan hidup yang bukan disebabkan faktor kondisi
Ada sebuah berita yang melaporkan bahwa di bagian utara Taiwan ada sepasang kekasih yang tinggal bersama. Usia wanitnya lebih tua dari sang pria. Pria ini dahulunya banyak terlibat kasus, seperti mengedarkan, memakai narkoba, percobaan pembunuhan, dll. Dia juga pernah masuk penjara. Setelah keluar dari penjara, selama beberapa bulan dia menjadi penggangguran dan tidak mempunyai tempat tinggal. Seorang teman memperkenalkan dia dengan wanita yang tinggal sendiri ini. Wanita ini sudah berusia 40 tahun lebih
Meski mempunyai anak, dia sudah bercerai dengan suaminya. Jadi, dia tinggal sendirian. Dia sendiri mengidap penyakit lupus. Umumnya, pengidap penyakit ini tidak berani keluar rumah karena takut sinar matahari. Dia menyewa sebuah rumah yang sangat luas. Jadi, melalui perkenalan dari temannya, pria yang baru keluar dari penjara dan menganggur setengah tahun lebih ini datang kepada wanita ini untuk menyewa sebagian rumah. Hubungan tuan rumah dan penyewa ini pada awalnya biasa saja, namun karena yang satu menganggur dan yang satu lagi jarang keluar rumah, maka seiring berjalannya waktu, lama-kelamaan mereka saling jatuh cinta, hingga akhirnya tinggal bersama
Setelah beberapa waktu tinggal bersama, ternyata kedua orang ini kebetulan punya kebiasaan mengonsumsi narkoba, maka mereka mengonsumsinya bersama-sama. Narkoba sangat mahal, juga merusak kesehatan dan dapat membuat orang berhalusinasi. Jadi, setelah memakai narkoba berulang kali, kesadaran mereka melemah. Akibatnya, berbicara pun bisa sampai bertengkar meski hanya demi hal-hal kecil. Biasanya mereka tidak bekerja, jadi hanya bergantung pada wanita ini. Wanita ini sendiri mengidap penyakit, kehidupannya juga tidak begitu baik. Tadinya hanya dia sendiri yang memakai narkoba
Dia pikir dengan menyewakan kamar, dapat meringankan biaya hidupnya. Tak disangka, setelah kamar disewakan, penyewanya bukan saja pengangguran, malah membuat mereka tinggal bersama. Sekarang, untuk memakai narkoba, wanita ini harus menanggung semua biaya, termasuk biaya kebutuhan sehari-hari dan biaya pembelian narkoba. Setelah mengonsumsi narkoba, kesadaran mereka menjadi lemah, lalu suka mengeluh. Masalah-masalah ini membuat mereka bertengkar. Wanita ini lalu mengambil sebilah pisau buah dan bermaksud membunuh sang pria. Tenaga pria ini lebih besar, sehingga pisau itu direbutnya
Dia menusuk dada sang wanita 3 kali. Meski wanita ini terluka parah dan darahnya terus mengalir, namun dalam kondisi demikian, dia masih tetap bernapas dan bisa bergerak. Pria ini merasa ketakutan, lalu mengambil sebuah celana dalam untuk membekap hidung dan mulut sang wanita. Maksudnya, berhubung tidak mati tertusuk, lebih baik dibekap sampai mati. Setelah itu, dia tidak tahu bagaimana cara membereskannya. Akhirnya, dia menggunakan sebuah koper tamasya yang besar. Selagi tubuh wanita ini masih hangat dan belum kaku, dia menekuk dan memasukkannya ke koper
Kemudian, dia mengikatkan tali gantungan untuk menurunkannya dari lantai 3 ke sebuah gang di belakang rumah. Memanfaatkan situasi tengah malam, dia turun ke bawah untuk mendorong koper itu masuk ke dalam lorong. Setelah itu, karena pengaruh narkoba telah reda, hatinya menjadi sangat takut dan kacau. Dia menceritakan kepada temannya bahwa dia tidak tahu harus bagaimana. Kesadaran yang melemah dan kemarahan sesaat telah menyebabkan dia melakukan hal tersebut. Dia tidak tahu harus bagaimana
Masa depan juga menjadi sangat tidak jelas. Setelah mendengarkan ceritanya, temannya berkata, “Menyerahkan diri saja, cepat lambat kamu juga akan tertangkap.” “Pergilah menyerahkan diri.” Dia berpikir itu ada benarnya, lebih baik menyerahkan diri. Kalau tidak, dia juga tidak tahu harus bagaimana ke depannya. Hati nuraninya juga merasa bersalah. Karena itu, dia pergi menyerahkan diri
Inilah sebuah faktor kondisi. Lagi pula, kita pernah membahas bahwa ketika benih sebab dan kondisi telah muncul, mereka akan saling memengaruhi. Bukankah demikian? Sebagai manusia, kita seharusnya menaati norma. Seorang wanita yang sudah menikah harus menghargai pernikahannya. Jika tidak, maka setelah bercerai, dia akan kehilangan sandaran hidup, ditambah dengan kebiasaan yang tidak baik, akhirnya menjadi pecandu narkoba. Awalnya diri sendiri sudah menanam benih yang sangat buruk, lalu ditambah lagi dengan pengaruh orang luar. Awalnya mereka tidak ada hubungan sama sekali, namun orang ini ternyata juga pemakai narkoba dan pernah mencoba membunuh orang hingga dipenjara karena melanggar hukum
Saat orang ini keluar dari penjara, pada dasarnya mereka tidak saling mengenal, mengapa malah bisa menjalin hubungan? Ini juga benar-benar tidak terduga. Mereka berdua bisa menjadi saling cocok karena sama-sama pemakai narkoba. Setelah keduanya hidup bersama, karena tidak punya sumber penghasilan, biaya hidup menjadi sangat berat. Sebaik apa pun hubungan mereka, karena adanya beban pikiran terhadap kenyataan hidup di depan mata, maka hati tak luput dari kerisauan. Narkoba membuat kesadaran tak menentu, isi hati pun diungkapkan begitu saja. Semua pertengkaran mereka berkaitan dengan masalah sehari-hari. Karena itu, mereka sering bertikai
Percekcokan kecil masih dapat dilalui begitu saja, tetapi jika bertemu masalah yang lebih besar, keduanya akan saling melukai. Ini juga diakibatkan oleh kontak antara indra dan kondisi luar yang memengaruhi kesadaran. Akibat pengaruh ini, banyak orang tidak bahagia. Jadi, sebagai praktisi Buddhis, kita harus senantiasa menjaga pikiran dengan baik. Meski dalam keseharian kita tidak terlepas dari pengaruh kondisi luar, namun kita harus menjaga kesadaran kita. Saat bersentuhan dengan objek luar, kondisi bagaimanakah yang seharusnya kita serap ke dalam batin? Sering dikatakan, “Dalam kelompok yang terdiri atas 3 orang, kita pasti dapat menemukan guru
” Ketika bertemu dengan orang yang tidak baik, keadaan yang tidak baik, kabar yang tidak baik, kondisi yang tidak baik, kita harus menjadikannya sebagai cermin bagi diri kita. Jika ada sikap kita yang tidak baik, maka bagaikan ada titik noda hitam. Dengan mengandalkan cermin ini, kita harus segera membersihkan noda tersebut. Melalui cermin ini, kita berintrospeksi apakah ada sikap yang tidak baik. ====================== Saat melihat orang lain punya perilaku yang sangat baik, rasa hormat akan timbul dari lubuk hati kita. Kita menaruh respek terhadap orang tersebut. Kita juga berharap dapat dihormati dan dicintai orang
Untuk itu, kita harus segera belajar dari keluhuran moral, tindak tanduk, dan perbuatan orang tersebut yang membuatnya sangat dihormati orang lain. Kita harus belajar darinya. Saat indra kita berkontak dengan objek luar, maka kita harus memunculkan kesadaran untuk belajar. Dengan demikian, saat indra mengalami kontak dengan objek luar, kesadaran pikiran kita dapat membedakan dengan jelas, menerima hal yang baik dan membuang hal yang buruk. Jika kita bisa melakukannya, maka setiap hari merupakan ladang pelatihan diri. Setiap hari kita belajar dalam kehidupan. Jiwa kebijaksanaan kita akan bertumbuh, noda dan kegelapan batin kita akan dapat dilenyapkan, dan hakikat diri kita yang murni akan muncul. Karena itu, kita harus memerhatikan batin kita
Janganlah lupa bahwa setelah sebab dan kondisi, di belakangnnya masih terdapat buah akibat. Jadi, kita harus menjaga niat baik dalam pikiran kita. “Kondisi tanpa jeda” telah kita bahas, yaitu kondisi pikiran yang tak terputus. Dari satu pikiran ke pikiran lain, terus berkesinambungan. Lihatlah percintaan pria dan wanita, bukankah pikiran mereka berkesinambungan? Saat seorang pria mengejar seorang wanita, adakalanya membuat keduanya sampai terluka. Jika jalinan percintaan itu tidak sesuai kehendak hati, maka dia akan membunuh pasangannya dan menghancurkan diri sendiri
Kasus seperti ini banyak terjadi di tengah masyarakat. Begitulah kita sebagai makhluk awam di dunia. Selain itu, orang yang menjadi peneliti adakalanya melekat pada apa yang ditelitinya. Jika dapat menemukan beberapa alat yang bermanfaat bagi manusia, tentu sangat baik. Seperti komputer yang kini dipakai semua orang, ia dapat menyimpan seluruh isi buku yang ada di rak buku atau perpustakaan. Semuanya dapat disimpan di dalam komputer
Dengan hanya duduk tanpa perlu bergerak, sudah banyak pengetahuan yang terpapar di hadapan kita. Tentu penemuan seperti ini sangat bagus. Ia memberi banyak kemudahan bagi orang dan dapat menambah banyak pengetahuan. Akan tetapi, komputer juga adakalanya mendatangkan kerugian besar. Sebuah berita melaporkan bahwa ada seorang pakar komputer di Eropa telah menciptakan virus perusak komputer. Ratusan ribu perusahaan menengah dan kecil yang menggunakan komputer telah dirugikan akibat virus tersebut. Sudah lama sekali orang mengandalkan komputer untuk menyimpan semua data
Lihatlah, jika benar virus menyerang perusahan besar, menengah, dan kecil, maka banyak data yang tersimpan dan sangat diandalkan oleh semua orang mungkin akan hilang. Jadi, berita itu mengatakan bahwa itu sama seperti serangan teror 11 September. Virus komputer yang menyerang dan merusak seperti itu serupa dengan serangan teror 11 September. Karena itu, negara-negara Eropa dan Barat menjadi sangat takut. Coba lihat, begitulah kesadaran pikiran yang dimiliki manusia. Sesungguhnya, bagaimana sikap yang seharusnya digunakan dalam menghadapi kehidupan? Jika kesadaran pikiran seseorang menyimpang, pengaruhnya akan sungguh besar bagi orang lain. Sebagian orang melekat pada nafsu seksual, benda materi, popularitas, kekuasaan, atau pada rasa marah dan dendam,
dan benci terhadap orang lain disebabkan oleh kesadaran yang muncul dari kontak indra dengan objek luar
Intinya, dapat dikatakan bahwa kesadaran sangat memengaruhi seluruh umat manusia. Semua ini tak lepas dari hukum sebab akibat. Karena itu, kita harus bersungguh-sungguh. Bukan hanya diri kita sendiri saja, kita juga berharap tindakan kita dapat memberi pengaruh pada orang lain agar mereka berjalan ke arah yang positif, memperbanyak kebajikan dan mengerti untuk menghindari kejahatan. umat manusia baru dapat terselamatkan. Jadi, pengertian istilah kondisi dalam Kondisi Tanpa Jeda adalah kemelekatan dan keterikatan pikiran terhadap kondisi luar. Setiap orang punya kemelekatan masing-masing sehingga menciptakan banyak noda batin
Selanjutnya, mengenai Kondisi Kondisi Objektif. Kondisi objektif, sebagaimana kita bicarakan sebelumnya, adalah objek yang terus dilekati batin. Sesungguhnya, ia tak berkaitan dengan kita, tetapi kita selalu ingin mengejarnya. Lihatlah, mengapa komputer yang tak bermasalah bisa terserang virus yang akhirnya menyebar ke banyak komputer lain? Sesungguhnya, tiada alasan yang kuat, namun orang selalu ingin melibatkan diri. Manusia turut campur dalam keseharian orang lain, ini juga dinamakan mengejar kondisi. Pada dasarnya, tidak ada hubungan apa-apa, tetapi orang selalu ingin turut campur. Inilah melekati atau mengejar kondisi
Jadi, ini disebut Kondisi Kondisi Objektif. Kondisi Kondisi Objektif ini, sesungguhnya membuat kita sangat khawatir. Selanjutnya adalah Kondisi Pendukung. Kondisi Pendukung adalah gabungan kondisi keseharian kita dengan Kondisi Sebab, Kondisi Tanpa Jeda, dan Kondisi Kondisi Objek. Semua kondisi yang bergabung secara berlapis-lapis ini disebut sebagai Kondisi Pendukung. Salah satu jenis Kondisi Pendukung adalah Kondisi Pendukung Berlawanan
Ada yang hidup dalam kondisi yang tidak diharapkan, tetapi sanggup memahami hakikat kehidupan manusia. Jadi, dengan mewaspadai kondisi tersebut, dia dapat mengambil sisi positifnya. Sebaliknya, ada orang yang kehidupannya lancar. Kondisi tersebut justru bisa membuat orang itu terjerumus. Ada orang yang menghadapi kondisi berlawanan, namun justru terpicu untuk maju. Contohnya, ada sebuah berita tentang seorang ibu yang sudah bercerai dan memiliki seorang anak. Dia sangat menyayangi anak ini
Berhubung sudah bercerai, dia menumpukan semua harapannya pada sang anak. Anak ini berusia 9 tahun. Sang ibu sangat menyayangi dan memanjakannya, juga membuat hidupnya sangat berkecukupan. Anak ini hidup dalam kondisi yang begitu baik. Meski orang tuanya telah bercerai, namun sejak kecil, dia tidak pernah hidup susah, dan apa yang diinginkannya selalu dipenuhi. Sang ibu selalu menganggap anaknya sebagai bagian dari seluruh cintanya. Kedua, dia ingin menebus kasih sayang sang anak yang tidak memiliki ayah. Karena itu, banyak sekali kebutuhan yang dia penuhi untuk sang anak baik dalam bentuk materi maupun kasih sayang
Akan tetapi, anak ini tak dididik dengan baik. Jadi, dia bisa mencuri barang. Meski punya kekayaan materi yang berlimpah, dia justru memiliki kebiasaan untuk selalu mengingini milik orang lain. Dia jadi suka mencuri. Selain suka mencuri barang, dia juga sangat tertarik dengan pornografi. Karena itu, dia suka menonton film-film porno. Dia tinggal bersama bibinya. Ketika bibinya sedang mandi, dia pun mengintipnya
Jadi, anak remaja seperti ini mendapat reaksi dari pihak sekolah dan famili. Meski sang ibu tak hentinya memenuhi segala keinginan sang anak, namun karena ada banyak reaksi yang muncul, ibunya menjadi sangat marah. Dia lalu memukul anaknya dengan perasaan sakit hati. Dia merasa pemberiannya sudah cukup banyak, tetapi mengapa anaknya masih berbuat hal-hal yang merepotkannya. ============ Padahal kekayaan materi sudah berlimpah. Berhubung anaknya tidak bisa dididik, maka dia memukulnya. Jadi, muncul konflik antara ibu dan anak. Pada hari itu, sang ibu sangat marah menerima laporan dari guru di sekolah dan dari sang bibi
Hal itu telah terjadi berulang kali, dan hari itu masalah yang sama kembali terjadi. Jadi, ibunya menggunakan alat pemukul lalat untuk memukul perut anaknya dengan keras hingga perut sang anak membengkak, bahkan sampai lebam. Dalam keadaan yang sangat marah, dia mengambil tali untuk mengikat anaknya di atas ranjang agar dia berintrospeksi. Setelah itu, sang ibu keluar rumah. Sampai pada sore hari, saat orang rumah membuka pintu kamar, anak itu ditemukan sudah tidak bernapas. Apakah ini kondisi baik ataukah buruk? Kondisi keluarganya cukup baik. Kekayaan materinya juga sangat berlimpah. Meski ada yang kurang dalam hubungan orang tuanya, namun banyak juga yang telah dia dapatkan
Mengapa meski telah memiliki banyak, tetapi masih merasa kekurangan dan ingin mencuri barang orang lain? Dia masih di usia remaja, mengapa begitu tertarik dengan pornografi? Ini juga adalah suatu masalah psikologis. Semua ini merupakan rantai sebab akibat yang tidak berkesudahan. Akibatnya, kondisi batin ibu dan anak itu menjadi tidak normal dan menyimpang. Ada orang yang menjadi abnormal karena hidup di lingkungan yang serba cukup. Ada yang justru hidup mandiri di lingkungan yang kekurangan dan penuh kesulitan. Lihatlah Guru Ma Wenzhong di Tiongkok. Keluarganya hidup kekurangan dan fisiknya penuh keterbatasan, tetapi justru karena itulah dia memiliki tekad yang kuat. Meski kondisi kesehatannya kini terus menurun, namun semangatnya telah membuat banyak anak di desanya yang tak berkesempatan belajar kini dapat mengenyam pendidikan
Guru Ma dan Guru Gu sungguh menciptakan berkah di desa mereka. Jadi, ini adalah kondisi yang berlawanan. Akan tetapi, kondisi ini dapat memicu mereka untuk maju. Jadi, kita harus memahami Kondisi Pendukung ini. Ada yang hidup dalam kondisi yang berlawanan, namun dapat meneguhkan kekuatan tekad
Ada yang hidup dalam kondisi yang lancar, tetapi malah terjerumus. Kondisi objektif dan Kondisi Pendukung ini berasal dari objek luar yang dapat menggerakkan pikiran kita. Jadi, sebagai praktisi Buddhis, kita harus bersungguh-sungguh. Kata “kondisi” ini begitu sederhana, namun dapat membawa kepelikan dalam keseharian. Di tengah peliknya kehidupan, kita harus memerhatikan pikiran kita apakah dapat menyaring kepelikan dan kegelapan batin ini dengan jelas sehingga di tengah kepelikan tersebut, kita tetap bisa memiliki kehidupan sederhana yang sesuai dengan sifat hakiki manusia yang bajik. Dengan demikian, kita dapat berbuat kebajikan, menjalin jodoh baik, dan menanam karma yang baik. Ini sangat sederhana
Jika terpengaruh oleh kepelikan itu, maka tindakan kita akan didasari noda batin. Akibatnya, tidak hanya melukai diri sendiri, bahkan juga keluarga, masyarakat, dan umat manusia. Semua ini semata-mata tercipta akibat fungsi indra dan kesadaran. Jika kita dapat memahami prinsip ini, maka setiap masalah di dunia akan terlihat sangat sederhana. Jika sebaliknya, maka setiap hal akan terlihat sulit, menjadi rintangan, dan membawa kepelikan. Jadi, ini hanya bergantung pada cara pandang kita. Harap semua lebih bersungguh hati.