Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 113 – Empat Ketamakan – Bagian 4

Adakalanya menciptakan segala karma buruk  akibat Empat Ketamakan. Empat Ketamakan: Ketamakan akan makanan, ketamakan akan pakaian, ketamakan akan tempat tidur, ketamakan akan obat-obatan. Saudara se-Dharma Sekalian, dalam sebuah lingkungan yang tenang, pikiran bagaikan cermin. Ketika sebuah cermin sepenuhnya ditutupi, ia tidak akan dapat merefleksikan apa pun. Jika ada debu pada cermin ini, maka terlepas dari kondisi lingkungan kita berada, refleksi dalam cermin pikiran kita akan berkabut dan tidak jelas. Ia tidak akan merefleksikan gambaran yang sesungguhnya

 Untuk menampilkan keindahan pemandangan, kita perlu membersihkan cermin dalam diri. Dengan begitu, barulah dunia akan tampak sebagaimana adanya. Demikianlah cara mempraktikkan ajaran Buddha Cermin pikiran seharusnya merefleksikan segala kondisi luar, namun ketika kondisi itu berlalu, demikian pula seharusnya bayangan pada cermin. Akan tetapi, cermin pikiran makhluk awam ditutupi oleh debu. Kondisi di luar tetaplah sama, namun cermin pikiran kita merefleksikannya dengan kabur dan tidak jelas. Bukankah makhluk awam demikian? Kita telah mendengar banyak Sutra dan ajaran, namun apakah kita telah menyelaminya di dalam batin? Sudahkah kita memahaminya? Jika kita hanya merasa sepertinya paham dan hanya mengira-ngira, maka di dalam batin kita, Dharma ini masih tidak jelas dan kabur

 Jika demikian, apa bedanya kita dengan orang yang belum sadar? Jadi, melatih diri adalah berusaha membersihkan cermin batin kita. Jika cermin batin kita ini tidak rajin dibersihkan, maka ia bukan hanya akan ternoda, melainkan debu yang menempel akan semakin banyak. Dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus mengantisipasi debu dari luar dan senantiasa tekun membersihkan debu yang sudah ada pada cermin batin kita. Inilah yang perlu kita usahakan. Pelatihan diri berarti dengan tekun Membersihkan cermin pikiran kita Semakin jernih cermin, maka Semakin jernih pikiran kita Kita tengah membahas ketamakan. Ketamakan terdengar sederhana. Kita mungkin berkata, “Saya sudah tahu, sudah tahu, ketamakan, kan?” “Tamak akan makanan, tamak akan cita rasa, Master sudah sering membahasnya

” “Ketamakan akan pakaian saya juga tahu.” “Kita seharusnya berpakaian sederhana, yang penting bisa menutupi tubuh.” “Saya sudah tahu, hidup sederhana adalah bagian dari melatih diri.” Saya percaya semua orang mengerti hal ini, namun ada yang lebih dari itu. Ada sebuah cerita dalam Sutra Perumpamaan

 Dalam Sutra Perumpamaan tentang seorang pria miskin yang hidup serba kekurangan. Suatu hari, kerabatnya mengundangnya ke pesta pernikahan. Ia berkata, “Mari, kami sedang mengadakan pesta pernikahan, kamu datanglah.” Pria miskin ini begitu gembira karena berarti dia bisa dapat makan. Sungguh kesempatan langka baginya bisa diundang ke sebuah pesta. Untuk itu, selama beberapa waktu dia bekerja sangat keras dan akhirnya mampu membeli sehelai kain kasar untuk membuat pakaian baru agar saat menghadiri pesta tersebut, dia dapat tampil layak

 Akan tetapi, dia hanya mampu membeli sehelai kain kasar, namun yang penting itu tetap baju baru, dan dia tetap sangat senang. Ketika mengenakan pakaian barunya, dia tampak sangat tampan. Dia merasa puas dan pergi ke pesta pernikahan dengan gembira. Tentu saja, saat pesta berlangsung, ada banyak teman dan kerabat yang hadir. Di pesta pernikahan itu, ada seseorang yang duduk di sebelah pria miskin ini. Dia berkata, “Kamu terlihat tampan, tetapi sayang kamu mengenakan pakaian seperti itu

” “Jika mengenakan pakaian yang berkelas, kamu akan tampak seperti orang yang mulia.” Pria miskin itu berkata, “Mana mungkin saya bisa.” “Untuk memiliki pakaian ini saja saya harus bekerja keras dalam waktu lama agar bisa membeli kain untuk membuat pakaian ini.” Teman tersebut kemudian berkata, “Jika kamu mengikuti petunjuk saya, kamu akan dapat mengubah pakaian ini menjadi pakaian yang berkelas.” Pria miskin itu sangat gembira dan segera mengikuti temannya

 Setibanya di sebuah tempat, orang itu berkata, “Kamu harus melakukan apa yang saya katakan, dengan begitu kamu pasti mendapatkannya.” “Baiklah, asalkan mendapatkannya, saya akan sangat gembira.” Temannya ini lalu menyalakan api. Ketika apinya menyala, “Lepaskanlah pakaianmu dan lemparkanlah ke dalam api.” “Dengan demikian, bahan kasar pakaian ini akan menjadi indah dan berkelas

” Pria miskin itu mengikuti kata-katanya. Dia menanggalkan satu-satunya pakaiannya dan melemparkannya ke dalam kobaran api. Api menyala begitu besar dan membakar habis pakaian tersebut. Saat api membakar pakaiannya, pria miskin itu hanya menunggu dan berharap api ini dapat membakar pakaian kasarnya dan mengubahnya menjadi pakaian berkelas

 Dia terus berdoa dengan tulus. Akan tetapi, ketika apinya padam, yang tersisa hanyalah abu, tidak ada yang lain. Pria miskin itu lalu bertanya pada temannya, “Mana pakaian indah saya?” “Di mana baju saya?” Temannya menjawab ringan, “Maaf, kamu tidak cukup tulus.” Dia pun beranjak pergi meninggalkan pria malang itu dalam kondisi tanpa pakaian dan meratap sedih. Inilah cerita yang Buddha kisahkan dalam Sutra Perumpamaan untuk menunjukkan betapa mudahnya orang percaya secara membuta

 Kisah tersebut bermakna bahwa kita terlahir sebagai manusia karena telah menciptakan karma baik di kehidupan lampau. Setelah terlahir kembali sebagai manusia, kita harus melatih diri dan giat membina kebajikan. Kita sering berkata bahwa sulit untuk terlahir sebagai manusia, terlebih untuk bertemu ajaran Buddha. Kita terlahir sebagai manusia pada kehidupan ini karena di kehidupan lampau kita telah melakukan perbuatan baik. Karena itu, kita dapat tetap terlahir sebagai manusia di kehidupan ini. Jadi, kita harus menghargai kesempatan ini dan terus melatih diri

 Kita harus terus tekun dan bersemangat membina perilaku kita. Akan tetapi, sebagian orang tidak demikian. Akibat jalinan jodoh buruk, mereka bertemu orang dengan yang berkeyakinan sesat dan menyimpang, yang mengarahkan mereka pada metode pelatihan atau arah yang salah. Jika keyakinan kita menyimpang, maka pikiran kita akan tersesat. Di zaman Buddha, kondisi agama di India sangat kompleks, karena kebijaksanaan masyarakat belum berkembang, terutama di India pada masa itu

 Akibatnya, terdapat lebih dari 90 agama yang berbeda, ada yang berlatih menggunakan api, menggunakan air, ada yang berlatih dengan tidak makan, atau makan kotoran. Terdapat banyak metode yang tak terbayangkan. Jika tidak berhati-hati, akan mudah terjerumus dalam keyakinan yang tidak benar yang membuat pikiran kita tersesat. Sebelum ditahbiskan sebagai seorang bhiksuni, saya mendengar sebuah kisah. Ada seseorang yang meyakini agama tertentu. Suatu hari, dia melakukan ritual di lantai atas sebuah rumah

 Setelah menyelesaikan ritual, dia berbalik dan melompat keluar jendela. Beruntung, lantai dua tidak begitu tinggi. Setelah dia melompat, ada orang yang segera menolongnya. Dia hanya mengalami patah kaki. Saat ditanya mengapa melompot dari gedung, dia menjawab, “Saya melihat sebuah tangga menuju surga

” “Ketika saya berdoa, saya mendengar bisikan bahwa saya bisa naik ke surga.” “Kemudian saya melihat tangga menuju surga, jadi saya mencoba memanjatnya.” “Mana saya tahu akan terjatuh.” Ini adalah kisah nyata. Hal demikian sungguh terjadi. Ini semua adalah akibat keyakinan yang membawa pada halusinasi

 Inilah yang disebut tersesat. Zaman sekarang, banyak orang berhalusinasi. Jika berkunjung ke bagian kejiwaan di sebuah RS dan berinteraksi dengan para pasien di sana, kita bisa bertemu banyak orang yang berhalusinasi. Ini adalah sebuah kondisi pikiran. Sebagian orang terlalu khawatir dan risau sehingga mengalami depresi atau bipolar disorder

 Mereka tidak dapat lagi melihat sesuatu dengan jelas. Segala kondisi yang muncul tak terlihat jelas bagaikan ada selapis debu yang menutupi mata mereka. Dengan kegelapan batin ini, apa pun kondisi yang muncul, mereka tidak dapat melihatnya dengan jelas. Semua menjadi tidak sesuai kenyataan. Jadi, apa pun yang kita katakan, mereka tak akan mendengarnya. Sebaliknya, mereka mendengar suara seperti ada yang berbisik kepada mereka atau meminta mereka melakukan sesuatu

 Jadi, di tempat yang sama, mereka berkata bahwa mereka melihat orang-orang tertentu, sementara kita tidak melihat apa-apa. Yang kita lihat adalah orang-orang di depan kita yang sedang berbicara dengan kita. Yang kita dengar juga mereka Akan tetapi, mereka tidak. Pikiran mereka sudah tersesat. Sesat artinya menyimpang. Segala sesuatu yang tidak benar disebut kesesatan. Karena itu, banyak orang suka mengatakan bahwa orang seperti itu dirasuki roh jahat dan harus melakukan ritual tertentu

 Sesungguhnya, hal ini juga salah. Orang yang memiliki halusinasi visual atau auditori perlu meminta pertolongan dari psikiater atau psikolog karena halusinasi adalah sebuah gejala penyakit yang tidak dapat disembuhkan dengan ritual. Sesungguhnya, bertahun-tahun lalu, adik laki-laki saya pernah mengalami meningitis dan dirawat di rumah sakit selama 8 bulan. Setelah keluar dari rumah sakit, akibat infeksi pada otaknya, dia menjadi sangat gelisah. Gejalanya mirip dengan bipolar disorder

 Saat itu di rumah tidak ada yang bisa menjaganya, maka kami meminta seorang pembantu untuk terus menjaganya dan mengikutinya ke mana pun dia pergi. Dengan demikian, kami dapat tenang karena jika dia berada di luar rumah, ada orang yang mendampinginya. Akan tetapi, ketika ia semakin dewasa, semakin sulit untuk menjaganya. Secara fisik dia menjadi lebih kuat. Orang tua saya mengikuti nasihat orang untuk membawanya ke kuil untuk berdoa. Mereka melakukannya

 Hal ini terjadi ketika saya masih tinggal di rumah. Orang tua saya melakukannya untuk menenangkan pikiran mereka. Apakah tindakan itu benar atau tidak, saya juga tidak tahu. Saya melihat adik saya dibawa ke kuil-kuil. Kadang, dia tinggal di sana selama beberapa hari, dikatakan untuk melepaskan roh jahat. Mereka menempelkan tubuhnya pada benda panas, bahkan memukulnya dengan bola berduri sehingga membuat tubuhnya berdarah

 Orang tua saya tidak tega melihatnya sehingga segera membawanya pulang. Apakah adik saya menjadi lebih baik? Apakah orang tua saya menyadari bahwa hal itu salah? Tidak. Saat kembali mendengar orang mengatakan ada orang pintar yang bisa menangkap roh jahat, di tengah malam mereka mengundang semacam dewa ke rumah melalui medium perantara. Mereka selalu mendengarkan orang lain yang mengatakan hal-hal berbau mistik. Pada akhirnya, kondisi adik saya masih sama. Bagi makhluk awam, baik karena terseret kondisi luar maupun metode pelatihan sendiri, sangat berisiko untuk tersesat. Jika seorang anggota keluarga atau salah satu anak mereka menderita gangguan mental atau penyakit lainnya, mereka masih akan mencari pertolongan dari dewa-dewa atau mengikuti nasihat orang lain untuk mengadakan ritual untuk mengusir roh jahat di rumah

 Saat itu, saya merasa betapa sulitnya. Di tengah malam, mereka harus menyiapkan keperluan ritual. Jika diingat kembali, dalam masyarakat masa itu banyak hal-hal seperti ini yang dilakukan di rumah masing-masing keluarga. Akan tetapi, dalam Sutra dikatakan bahwa kepercayaan agama di India juga seperti demikian. Banyak kepercayaan kompleks dan sesat. Banyak orang yang terjerumus dengan cepat. Karena itu, Sutra Perumpamaan mengajarkan bahwa kita harus tekun membina kebajikan

 Terlahir sebagai manusia, kita harus menghargai kesempatan untuk segera memupuk kebajikan dan menanam karma baik. Inilah yang seharusnya kita praktikkan. Akan tetapi, selalu ada kondisi yang memungkinkan kita terjerumus dalam ketersesatan. Kita terus mengikuti ketersesatan ini dengan bodoh, melakukan begitu saja apa yang orang lain katakan. Orang-orang yang sesat ini akan mengatakan, “Pokoknya, percaya saja pada saya.” “Saya dapat membantumu mendapatkan hal-hal baik

” “Ikuti saja nasihat saya untuk menyiksa diri.” “Dengan menyiksa diri, nanti setelah karma buruk habis terkikis, maka berkah akan datang.” “Jadi, meski saya menyuruh kamu lompat ke jurang atau dari tempat tinggi, kamu harus melompat.” “Jika saya memintamu untuk melompat ke dalam api, kamu harus menurut.” “Jika kamu menurut dan melakukan praktik seperti ini, kelak kamu akan terbebas dari tubuh fana dan dari kemiskinan seumur hidup ini.” “Jika ingin kebahagiaan abadi, kamu hanya perlu menuruti ucapan saya.” “Meski mungkin terluka atau kehilangan nyawa, kamu tetap harus percaya dan melakukannya

” “Kalaupun kamu terluka atau mati, kamu akan mendapat kebahagiaan abadi di surga Brahma.” Sebagian orang mungkin merasa, “Seumur hidup ini saya sudah sangat menderita.” “Dunia ini disebut Dunia Saha, dunia yang memerlukan ketahanan dan kesabaran untuk menghadapi penderitaan tak terkira.” “Saya harus segera berlatih agar di kehidupan mendatang saya menjadi orang kaya atau mendapat kebahagiaan kekal di surga, dan tidak lagi kembali ke alam manusia ini.” “Betapa baiknya jika saya bisa lahir di surga Brahma.” Begitulah, dalam kehidupan ini, mereka melekat pada praktik-praktik yang tidak masuk akal. Meski kita merasa praktik mereka tidak masuk akal, mereka masih tetap melekat pada ketersesatan itu

 Meski tidak sesuai kebenaran, mereka masih berharap besar pada masa depan.” Di dalam Sutra, banyak kisah tentang praktik sesat seperti itu. Berapa banyak waktu yang kita miliki dalam hidup ini? Jika saat ini kita tidak memanfaatkan tubuh ini sebagai sarana melatih diri sesuai Dharma, maka begitu menyimpang sedikit saja, kelak kita mungkin tak akan terlahir sebagai manusia, mungkin terjerumus ke dalam neraka. Jadi, dalam praktik melatih diri, apakah kita akan seperti pria miskin tadi? Kita harus selalu meningkatkan kewaspadaan dan memeriksa apakah praktik kita sudah tepat dan menjadi benih yang benar ke arah kebajikan. Hanya dengan menanam benih yang benar, kita baru dapat menuai buah yang diharapkan. Di tengah sebab dan akibat, yang terpenting adalah kondisi pendukung

 Kita harus menanam benih atau sebab yang benar, yakni yang sesuai Jalan Mulia Beruas Delapan. Di antaranya, pandangan benar adalah yang terpenting. Dengan pandangan benar, segala yang kita tanam akan merupakan karma baik. Pikiran kita tidak akan tergoda oleh hal-hal yang sesat dan buruk. Begitu pikiran ini terseret, kita akan mengikuti kejahatan dan tindakan kita akan membawa karma buruk. Jadi, kita harus memiliki pandangan benar, perbuatan benar, penghidupan benar, ucapan benar, perhatian benar, pikiran benar, usaha benar, konsentrasi benar. Inilah delapan ruas Jalan Mulia

 Jadi, dalam berlatih dan belajar, kita harus bersungguh-sungguh. Dengan penyimpangan sedikit saja, cermin pikiran kita akan menjadi buram sehingga saat menghadapi kondisi luar, perkataan orang baik malah belum tentu kita terima. Sebaliknya, godaan kemilau duniawi mungkin akan menutupi hati kita. Jika demikian, kita akan sangat menderita. Keberadaan manusia sulit untuk didapatkan Ajaran Buddha sulit untuk ditemukan Sekarang kita telah mendapatkan tubuh manusia yang berharga Kita perlu bekerja dengan tekun untuk menumbuhkan kebajikan Jika kita tidak memanfaatkan tubuh fisik ini, Ketika kita tersesat? Kehilangan kesempatan sebagai manusia, Kita mungkin tidak akan mendapatkan kesempatan kedua Jadi, kita tidak perlu tamak akan pakaian mewah. Tidak perlu. Pakaian sederhana yang terbuat dari katun yang dikenakan dengan rapi dan bersih sudah cukup

 Sungguh-sungguhlah melatih diri. Berpakaian hanyalah cara untuk menutupi tubuh kita dan menjaga kesopanan. Inilah tujuan berpakaian. Sama halnya, tubuh manusia kita tidak diperoleh dengan mudah. Berhubung kini telah terlahir sebagai manusia, kita harus menjaga kebersihan tubuh ini. Kita harus menjaga kebersihan diri agar tidak ternoda oleh pengaruh negatif

 Ketika tubuh kotor, kita harus mandi. Jika pikiran kita menyimpang atau jika perbuatan kita salah, terlebih lagi melanggar sila, maka ini juga akan merusak dan mencemari tubuh. Perbuatan salah dilakukan oleh tubuh. Karena itu, tubuh ini dapat menambah pencemaran pada diri kita. Jika perbuatan kita menyimpang, maka tubuh kita akan ternoda, Ketika tubuh kita ternoda, noda ini tidak dapat dicuci oleh air

 Noda ini dapat masuk ke dalam kesadaran ke-8 kita, bagai benih tidak baik yang ditanam di lahan. Jadi, mulai dari cara berpakaian di tubuh, kita harus menjaga pikiran kita. Jadi, mengenai pakaian, banyak orang tamak terhadap pakaian lembut. Artinya, kita tamak akan kesenangan sesaat. Akibatnya, kenikmatan sesaat ini melenyapkan benih karma baik yang telah tubuh kita tanam di kehidupan lampau yang memungkinkan kita terlahir sebagai manusia

 Seperti halnya pria miskin tadi, saat mengenakan pakaian dari bahan kasar, dia juga tampil cukup baik, selama itu sesuai dengan tata krama. Jadi, berlatih di jalan Buddha, bagaimana pun penampilan luar kita, kita harus selalu menghargai tubuh kita. Janganlah memanfaatkannya dengan keliru. Harap semua selalu bersungguh-sungguh.

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888