Sanubari Teduh – 112 – Empat Ketamakan Bagian 3
Saudara se-Dharma sekalian, mengendalikan tubuh lebih mudah daripada mengendalikan pikiran. Meski tubuh kita sedang duduk di sini, namun pikiran bisa saja berada di tempat lain atau sedang melekat pada berbagai masalah. Ini bergantung pada apakah setiap orang dapat selalu menjaga pikirannya dengan baik. Buddha memiliki gelar “guru penakluk”. Akan tetapi, dengan hakikat kebuddhaan yang dimiliki, apakah setiap orang dapat menjinakkan pikiran sendiri yang liar bagaikan kera atau kuda? Inilah tujuan kita melatih diri
Inilah yang harus kita capai. Meski berada di lingkungan yang tenang, jika pikiran liar kita tidak dapat dijinakkan, maka kita tetap tidak akan tenang meski duduk diam. Saya sering berkata, “Hindari kejahatan, perbanyak kebajikan.” Kita memang tidak berbuat jahat, sebaliknya kita berbuat kebajikan. Hal ini sangat mudah dilakukan jika kita hidup di lingkungan yang baik dan banyak berinteraksi dengan orang baik. Tentu karena kita dapat saling menyemangati
Kita, sekelompok orang yang melangkah bersama di Jalan Bodhisattva, kelihatannya begitu baik, namun bagaimana dengan pikiran kita? Kita mungkin berkata, “Saya sudah berbuat kebajikan, namun saya juga punya sedikit kesenangan sendiri.” Jadi, setelah melakukan perbuatan baik, banyak orang bersenang-senang sesuka hati. Beberapa tahun yang lalu, ada sekelompok Buddhis di selatan Taiwan yang suka melepas makhluk hidup. Setiap tanggal 1 dan 15 penanggalan Imlek atau Hari Waisak, mereka membeli ikan dan udang di pasar, lalu menempuh perjalanan jauh ke Waduk Shi-men untuk melepas hewan-hewan tersebut. Setelah selesai, ada yang berkata, “Ayo menyeberangkan hewan dari alam buruk.” Apa maksudnya? Mereka pergi ke restoran hasil laut untuk makan hidangan hasil laut
“Kita baru saja melepas ikan dan udang, mengapa masih mau menyantap hasil laut?” Yang mengajak menjawab, “Tadi kita melepaskan yang masih hidup, tetapi sekarang yang sudah mati harus kita seberangkan dari alam buruk.” “Untuk itu, kita memakannya.” “Setelah kita memakannya, ia akan terlahir di alam yang baik.” Sepintas terdengar masuk akal, namun mereka bukan hanya makan hasil laut, melainkan juga minum arak. Lalu ada yang bertanya, “Bukankah umat Buddha tidak minum arak?” Dia menjawab, “Siapa bilang?” “Arak terbuat dari beras, bisa meningkatkan kebijaksanaan kita.” “Arak adalah sup kebijaksanaan.” Penjelasan ini juga seolah-olah selaras dengan Dharma
Selain itu, mereka juga merokok. Teman mereka yang lain berkata, “Merokok memberi citra buruk bagi umat Buddha.” Orang itu berkata, “Siapa bilang?” “Lihat saja, bukankah kita mempersembahkan dupa di altar Buddha?” “Sesungguhnya, asap rokok bagaikan asap dupa yang membentuk kanopi awan.” Saat mereka bercerita kepada saya tentang hal yang pernah mereka lakukan itu, yaitu melepas makhluk hidup, “menyeberangkan hewan”, minum “sup kebijaksanaan”, dan membuat “kanopi awan dupa”, saya juga sangat salut dengan cara mereka menjelaskannya. Sebenarnya, mereka pintar, tetapi tak bijaksana. Meski mereka memilih makanan dari hewan yang telah mati dengan alasan agar dapat membebaskan hewan tersebut dari alam buruk, namun bukankah hewan itu juga ditangkap saat masih hidup? Jika kita tidak ingin makan daging, mereka tidak akan ditangkap. Bahkan yang lebih aneh lagi, saat mereka berencana untuk melepas 50 kilogram makhluk hidup, jika ternyata hewan yang dijual di pasar hanya ada sebanyak 12 kilogram, maka mereka akan memesan kepada pedagang untuk menangkap lagi agar cukup 50 kilogram
Demi orang yang ingin melepas makhluk hidup, pedagang harus menangkap lebih banyak hewan agar mencapai jumlah yang diinginkan. Demi niat baik kita melepas makhluk hidup, para pedagang harus meminta nelayan untuk menangkap lebih banyak ikan. Dengan begini, bukankah kita membuat orang lain menciptakan lebih banyak karma buruk? Sebenarnya, ikan-ikan dapat hidup bebas di sungai atau laut, namun lihatlah, mereka ditangkap dan dimasukkan ke dalam tong ikan. Meski mendapatkan air, coba bayangkan, ikan-ikan itu saling berdesakan dan berjuang untuk hidup dengan harapan ada yang mau melepaskan mereka. Penderitaan di saat itu sungguh tak terkira. Apalagi saat upacara melepas makhluk hidup, ikan yang ada di dalam tong dituang langsung dari tempat yang tinggi
Sebelum dituang dan dilepaskan, ikan-ikan tersebut masih harus didoakan dengan lantunan Sutra dan Mantra di bawah teriknya matahari. Setelah itu mereka baru dituangkan ke sungai. Sesungguhnya, ikan-ikan tersebut kepanasan karena terjemur matahari dan saling berimpitan di dalam tong. Mereka juga harus menunggu orang-orang selesai melakukan begitu banyak ritual sebelum dituangkan ke dalam sungai. Coba bayangkan, betapa tersiksanya mereka. Sesungguhnya, berapa yang bertahan hidup? Demikianlah cara orang-orang yang mengaku telah melakukan kebajikan, namun setelah itu, mereka berbuat sesuka hati. Marilah kita renungkan baik-baik
Meski telah melakukan kebajikan, tetapi kita tidak menghindari perbuatan buruk. Dapatkah ini disebut “perbanyak kebajikan, hindari kejahatan”? Meski melakukan kebajikan dengan melepas makhluk hidup, namun kita menciptakan lingkaran buruk yang lebih menakutkan. Pedagang harus menjual lebih banyak ikan, dan para nelayan butuh lebih banyak waktu untuk menangkap ikan. Semua ini menambah karma buruk mereka. Intinya, semua makhluk diliputi kebodohan. Meski seseorang adalah umat Buddha yang ingin melakukan kebajikan, namun juga bisa terjerumus dalam kejahatan. Demikianlah bentuk keyakinan sebagian umat Buddha yang tidak menerapkan ajaran-Nya dengan benar. Mereka sekadar mendengar berbagai istilah, seperti sup kebijaksanaan, kanopi awan dupa, dan ritual membebaskan makhluk dari alam buruk
Setelah mengetahui istilah-istilah itu, mereka menggunakannya sesuka hati. Lihatlah, dengan kecerdasan duniawi, mereka menjelaskan Dharma sesuka hati tanpa peduli benar atau salah. Mereka dengan seenaknya menyebut suatu hal sebagai perbuatan baik, sedangkan banyak pemahaman mereka yang salah. Karena itu, saya sering berbicara tentang cara mengendalikan pikiran. Praktisi Buddhis harus mempraktikkan Dharma yang diajarkan Buddha. Kita harus menghindari kejahatan dan menyayangi kehidupan semua makhluk
Kita harus membebaskan semua makhluk dari kesedihan dan penderitaan. Ini baru disebut menghindari kejahatan. Jadi, pada saat mengembangkan kebajikan, Kita juga harus hati-hati agar terhindar dari kejahatan. Sebuah ketamakan saja dapat membuat kita melakukan segala kejahatan. Sebelumnya telah kita bahas bahwa ketamakan juga berkaitan dengan pola makan kita dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya, kita akan membahas ketamakan terhadap pakaian. Sesungguhnya, berapa jumlah pakaian yang dapat dikenakan pada tubuh kita? Pakaian memiliki dua fungsi
Pertama, melindungi tubuh dari rasa dingin. Agar terhindar dari cuaca dingin dan sakit flu, demi kesehatan kita harus mengenakan pakaian. Di musim dingin, pakaian menjaga kehangatan tubuh. Di musim panas, manusia mengenakan pakaian agar lebih manusiawi. Semua hewan tidak perlu mengenakan pakaian, hanya manusia yang mengenakan pakaian, karena manusia adalah makhluk paling cerdas. Manusia memiliki budaya dan peradaban. Di zaman purba, banyak manusia primitif yang tidak mengenakan pakaian. Di zaman modern juga ada yang demikian. Mereka masih hidup terisolasi di suatu tempat yang tanpa peradaban
Mereka hidup dengan tubuh telanjang dan masih mempertahankan gaya hidup primitif. Kita hidup di zaman yang memiliki peradaban, maka kita juga harus beradab. Karena itu, manusia harus berpakaian untuk menutupi aurat. Jika kita tidak mengenakan pakaian, berarti kita tidak peduli dengan rasa malu. Pakaian berfungsi untuk menutupi tubuh kita. Jadi, dalam masyarakat yang berbudaya, kita harus memiliki rasa malu
Dengan memiliki rasa malu, kita harus menutupi tubuh kita. Tentu dalam masyarakat yang berbudaya, cara berpakaian juga bagian dari tata krama. Identitas orang dapat dilihat dari pakaiannya. Kita mengenakan pakaian sesuai dengan bidang pekerjaan kita. Inilah kondisi di zaman modern dan masyarakat yang beradab. Jika petani mengenakan jas dan turun ke sawah untuk bertani, tentu tidak sesuai. Mengenakan jas di tengah sawah sambil menarik kerbau dan menanam padi sangat tidak praktis, juga tidak sesuai dengan kondisi. Sebaliknya, jika kita mengenakan baju kasar sambil menyingsingkan celana untuk menghadiri sebuah pertemuan formal, hal ini juga tidak dibenarkan. Lihatlah Inggris, Jepang, dan Amerika Serikat
Di negara yang semakin maju, dalam acara pertemuan atau jamuan makan malam resmi, baju apa yang harus mereka kenakan? Mereka memiliki busana malam khusus. Inilah tata krama dan norma yang mereka miliki. Jadi, demi peradaban, tata krama, dan norma, kita harus mengenakan pakaian, dan yang terpenting adalah kesesuaian. Umumnya, dalam berpakaian, yang utama adalah kesesuaian, kerapian, dan kebersihan. Pakaian yang baik seharusnya seperti itu. Banyak orang menginginkan jenis pakaian yang indah. Seperti apakah pakaian yang indah? Sebelumnya telah saya katakan, harus sesuai dengan tata krama dan peradaban
Menutupi aurat adalah yang terpenting sebagai bagian dari sopan santun. Ada orang memilih jenis pakaian yang ringan, lembut, dan membuat mereka terlihat langsing. Ada orang yang merasa terlihat gemuk saat mengenakan baju tertentu. Mereka menginginkan baju yang terlihat cantik, langsing, dan berbahan halus. Kain sutra yang halus dianggap sebagai bahan terbaik di masa lampau. Akan tetapi, bahan ini terlalu mahal. Pakaian yang terbuat dari katun meski lebih kasar, sesungguhnya paling menyehatkan
Dalam suatu periode, bahan nilon, polister, dan sejenisnya sangat populer di masyarakat. Bahan-bahan tersebut sangat populer karena tidak perlu disetrika dan tetap terlihat indah saat dikenakan. Akan tetapi, kini orang kembali berkata bahwa tidak baik mengenakan pakaian berbahan nilon karena tidak menyerap keringat. Jadi, apa yang disarankan sekarang? Kembali ke yang sebelumnya, yaitu bahan katun. Alangkah baiknya jika kita dapat kembali pada cara tradisional seperti memintal dan menenun. Meski bahan kain seperti ini tampak lebih kasar, namun juga terlihat sangat indah. Sebagian orang berpakaian bukan hanya untuk menghangatkan tubuh atau menjalankan tata krama
Tujuannya melampaui semua itu. Ada orang menghabiskan ribuan dolar untuk sehelai pakaian. Saya ingat beberapa puluh tahun lalu, demi menggalang dana pembangunan rumah sakit, saya sering berkunjung ke Taipei. Saya mendengar banyak wanita yang ketika bertemu saling bertanya harga baju yang mereka kenakan. Saat itu, mereka masih belum menerima prinsip yang saya ajarkan, karena saya baru beberapa kali ke Taipei. Selesai mendengar ceramah saya, mereka suka berkumpul dan berbincang, “Bagus sekali pakaianmu hari ini.” Mereka lalu meraba-raba pakaian tersebut, dan wanita yang dipuji menjawab, “Baju ini harganya puluhan ribu dolar
” Mendengarnya, saya bertanya, “Baju apa ini?” Dia menjawab, “Baju ini dibeli dari Perancis.” Dalam hati saya berkata, “Kasihan sekali, sehelai baju saja harus susah payah dibeli dari Perancis.” “Sungguh kasihan.” Kemudian, pada suatu hari, ada seorang wanita yang membuka usaha butik. Dia sering pergi ke Amerika Serikat, Inggris, dan Perancis untuk berbelanja pakaian untuk dijual. Kebetulan dia juga ada di sana, dan berkata, “Saya membawa pulang koleksi terbaru lagi, kapan kalian mau mampir?” Lalu saya bertanya, “Bisnis apa yang kamu jalani?” “Saya menjalani jalur bisnis ini.” “Jalur bisnis apa,” tanya saya
Dia menjawab, “Saya membuka butik.” “Barang apa yang kamu jual?” Dia menjawab, “Saya menjual pakaian seperti yang mereka kenakan di sini.” “Saya dengar pakaian itu sangat mahal.” Dia berkata, “Ya, benar.” “Seorang ibu di sini sering membeli baju di butik saya.” Saya bertanya, “Benarkah baju tersebut semahal itu?” Dia menjawab, “Master, saya sungguh malu untuk mengatakannya
” “Sesungguhnya, tidak semahal itu, namun jika tidak dijual dengan harga mahal, mereka malah tidak akan membelinya.” Saya bertanya, “Mengapa?” Dia lalu memberikan contoh kepada saya. Dia berkata, “Baju yang paling murah di butik saya dijual dengan harga 5.000 dolar NT.” Saya bertanya, “Apakah baju itu sungguh bernilai 5
000 dolar NT?” Dia menjawab, “Tidak, sebenarnya cukup ratusan dolar.” “Saat membawa pulang baju itu, awalnya saya memasang harga 800 dolar NT.” “Semua orang tertarik dengan baju itu dan meraba-rabanya.” “Mereka lalu bertanya berapa harganya.” “Setelah tahu harganya 800 dolar, mereka langsung menaruhnya kembali dan mencari baju lain yang lebih mahal.” Baju murah tersebut terpajang di etalase dalam waktu yang cukup lama. Akhirnya, dia menurunkan baju tersebut dan menambahkan satu angka nol pada harganya, lalu memajangnya kembali. Dua hari kemudian, baju tersebut langsung terjual. Inilah rasa gengsi
Jika ada orang menanyakan berapa harga baju yang mereka kenakan, lalu dijawab 800 dolar NT, mereka akan merasa malu. Jika mengenakan baju seharga 8.000 dolar, orang lain akan memuji betapa indah baju itu dan akan menyentuhnya. Inilah gaya hidup wanita kaya pada saat itu. Sesungguhnya, sekelompok wanita tersebut kini selalu mengenakan seragam Bazhengdao. Saat acara formal, mereka mengenakan Qipao Tzu Chi. Pada kesempatan lain, mereka mengenakan seragam biru putih. Kini mereka mengenakan satu seragam yang sama
Bahkan, mengenai seragam Bazhengdao ini, mereka bercerita, “Master, saat kami menumpang taksi, sang sopir tidak mau menerima ongkos.” “Mengapa tidak mau,” tanya saya. Mereka menjawab, “Saat menumpang taksi, sang sopir bilang bahwa dia sangat beruntung karena ditumpangi Bodhisattva Tzu Chi, jadi dia ingin bersumbangsih bagi para Bodhisatva dengan tidak menerima ongkos.” Saya bertanya, “Jadi, kalian benar-benar tidak bayar?” “Sopir taksi itu telah bekerja keras.” Dia menjawab, “Tentu ada, saya terus menyodorkan uangnya, namun akhirnya dia meminta kami mendonasikannya ke yayasan kita.” Lihatlah, kini mereka mengenakan seragam biru putih, Bazhengdao, atau Qipao. Mengenakan Qipao pada acara formal akan membangkitkan rasa hormat orang. Semua orang berpakaian, lalu mengapa kita selalu ingin memakai pakaian yang indah agar dipuji orang, baru merasa puas? Mengapa tidak cukup jika orang menganggap kita anggun? Tampak anggun sudah cukup. Apa yang dimaksud dengan anggun? Yaitu rapi dan bersih
Dapat terlihat rapi dan bersih berarti anggun. Jadi, tubuh kita juga merupakan sebuah ladang pelatihan. Kita harus mengubah tubuh kita menjadi ladang pelatihan yang agung. Saat di berada panggung pertunjukan, orang akan mengenakan kostum tarian di tubuhnya. Sesungguhnya, citra apa yang harus kita tampilkan lewat pakaian kita? Sebagai manusia yang beradab, Sebagai manusia yang beradab, kita seharusnya berpenampilan sopan dan bersih. Saya rasa inilah yang terpenting. Kita harus mengenakan pakaian yang pantas dan tidak terlalu menonjolkan bagian tubuh. Ini juga bagian dari tata krama
Jadi, sebagai praktisi Buddhis, mengapa harus menonjolkan bagian tubuh tertentu agar dilihat orang? Inilah tanda kekotoran dan kekacauan pikiran. Di zaman modern ini, batasan kesopanan telah banyak dilanggar dan diabaikan. Kondisi seperti ini sungguh tidak baik bagi peradaban masa kini. Beradab berarti mematuhi norma. Beradab berarti mematuhi norma. Kita harus bersikap layaknya manusia, karena manusia adalah yang paling cerdas di antara semua makhluk. Manusia harus memiliki tata krama. Karena itu, kita harus belajar bersikap sesuai tata krama. bersikap sesuai tata krama
Sebagai praktisi Buddhis, kita harus belajar menjadi manusia seutuhnya. Jika tidak, bagaimana bisa mencapai kebuddhaan? Mari kita belajar menjadi manusia yang baik. Dengan begitu, baru dapat mencapai kebuddhaan. Jadi, dari segi pakaian, meski berbahan kasar, namun jika pakaian kita rapi dan bersih, itu sudah cukup baik. Janganlah menghabiskan begitu banyak energi untuk mencari pakaian indah demi pamer. Ini bukanlah sikap yang anggun. Gaya hidup yang sangat sembrono ini tidak akan membuat kita dihargai orang lain. Jadi, kita harus lebih bersungguh-sungguh.