Sanubari Teduh – 114 – Empat Ketamakan – Bagian 5
Saudara se-Dharma sekalian, setiap hari kita berbicara tentang pikiran. Pikiran sesungguhnya adalah pelopor segala sesuatu. Jika pikiran seseorang tahu berpuas diri, maka dia memiliki berkah. Jika sebaliknya, dia akan menghadapi masalah. Sesungguhnya, bagi orang yang tahu berpuas diri, tidur beralas tanah pun bagaikan berada di surga. Bagi orang yang tidak tahu berpuas diri, hidup di surga pun bagaikan di neraka. Jadi, surga dan neraka juga hasil ciptaan pikiran
Orang yang tahu berpuas diri selalu merasa berbahagia di mana saja. Sebelumnya kita telah membahas ketamakan– ketamakan atas makanan dan pakaian. Selanjutnya adalah ketamakan atas tidur. Untuk tidur, orang tinggal berbaring saja. Perlukah memilih-milih mana tempat yang nyaman, mana yang tidak? Ada orang berkata, “Saya sulit tidur jika ranjang saya diganti.” “Saya terbiasa tidur di ranjang saya sendiri dan pada posisi tertentu.” Mereka sulit tidur di ranjang yang berbeda. Apakah sungguh demikian? Jika kita mengantuk, berbaring di mana pun bisa tertidur
Mengapa sulit tidur di ranjang berbeda? Ini adalah kemelekatan terhadap milik pribadi. Sebagian orang berkata, “Saat bepergian, saya harus membawa selimut dan bantal saya sendiri.” “Mengapa?” Karena tak terbiasa dengan milik orang lain. Milik sendiri terasa lebih nyaman. Bukankah ini merupakan bentuk kemelekatan? Ini adalah kemelekatan terhadap kepemilikan. Selanjutnya, sebagian orang sangat melekat pada empuk atau kerasnya kasur. Mereka merasa kasur yang keras tidak bagus
“Saya harus tidur di kasur yang empuk dan berukuran besar, modelnya juga harus indah dan trendi.” Jika kita melihat di toko mebel zaman sekarang, tersedia segala jenis dan model tempat tidur, bahkan ada yang berbentuk bundar. Bagaimana orang dapat tidur di ranjang bundar? Mereka bilang model tersebut sedang populer. Dengan memodifikasi bentuknya, barang tersebut akan lebih mudah terjual. Terkadang saya merasa heran. Berapa ukuran maksimal tubuh seseorang? Setelah sibuk seharian, manusia beristirahat di malam hari. Beristirahat di malam hari bertujuan untuk menjaga kesehatan kita agar dapat pulih dari keletihan akibat kerja keras sepanjang hari. Hanya itu saja
Sebagian orang bersedia menghabiskan uang ratusan ribu dolar atau bahkan lebih untuk sebuah ranjang. Seperti apakah ranjang tersebut? Apa bedanya antara tidur di ranjang mahal dengan ranjang biasa? Batas keinginan orang di dunia ini sungguh tak terbayangkan. Ada orang yang mampu hidup sederhana dan merasa puas dengan ranjang yang hanya berharga ribuan dolar NT atau bahkan lebih murah. Mereka dapat saja tidur di ranjang apa pun. Saya melihat sebuah berita. Sebuah media meliput seseorang yang mereka sebut sebagai manusia liar. Dia tinggal di sebuah gua selama puluhan tahun. Tidak ada jalan menuju guanya
Dia hanya mengandalkan rantai besi untuk keluar masuk dari guanya. Dia menggunakan rantai tersebut untuk turun atau memanjat ke atas gua. Di sana terdapat banyak tikus, dan tikus-tikus itu sangat gemuk. Ketika wartawan menemukan pria ini dan mengunjungi tempat tinggalnya, mereka menemukan bahwa dia bukanlah manusia liar. Dia sama seperti kita. Dia juga berbicara dengan bahasa yang sama seperti kita. Dia hanya merasa bahwa hidup seperti itu sangat menyenangkan bagi dirinya
Dia merasa dapat menjalin hubungan dengan tikus-tikus itu dengan cukup baik. Dia berkata, “Tikus-tikus itu tidak sembarang menggigit barang milik saya.” “Demikianlah cara saya hidup, berantakan dan kotor.” Kemudian dia berkata, “Ketika tikus-tikus itu lapar, mereka akan meminta makanan dari saya.” Tikus-tikus itu memang terlihat gemuk dan berlari ke sana kemari dengan bebas. Manusia dan tikus juga bisa hidup bersama dengan bahagia
Tanpa memiliki peralatan modern, dia hanya menggunakan seutas rantai untuk naik atau turun dari tempat tinggalnya. Dia merasa bahagia menjalani hidup demikian. Dia pun tetap dapat bertahan hidup. Akan tetapi, ada orang yang amat mempersoalkan tempat tinggal dan tempat tidur. Demikianlah kita sebagai makhluk awam. Saat diliputi kegelapan batin, muncul rasa gengsi dalam hati kita
Ketika rasa gengsi muncul, ketamakan mulai muncul. Ketika ketamakan muncul, penderitaan yang dirasakan sungguh tak terkira. Benda materi apa pun selamanya tak akan pernah memuaskan kita. Karena itu, kita tak pernah merasa puas. Hal ini sungguh mengakibatkan penderitaan. Kebahagiaan atau penderitaan diciptakan oleh pikiran. Jika seseorang berpuas diri, maka dia memiliki berkah
Jika sebaliknya, maka dia akan menghadapi masalah. Pada masa kehidupan Buddha, ada sebuah pegunungan yang juga dekat dengan tepi laut. Di sana ada sebuah desa kecil yang dihuni oleh sekitar 20 hingga 30 keluarga. Para penduduk desa ini menjalani hidup dengan berburu dan menangkap ikan. Mereka berburu di pegunungan atau memancing ikan di laut. Para pria akan pergi bekerja di pagi hari, dan para wanita merawat anak-anak di rumah, tiada kegiatan lain
Buddha merasa bahwa hidup mereka tidaklah bermakna sama sekali, apalagi mereka hidup dari berburu. Jadi, Buddha memutuskan untuk mengunjungi desa ini. Saat tiba di desa tersebut, Beliau memilih sebuah pohon rindang dan duduk di bawahnya. Saat itu bertepatan dengan tengah hari. Sinar matahari menembus rimbunnya dedaunan pohon tersebut dan menyinari Buddha. Sekelompok wanita melihat pohon tersebut dari kejauhan. Biasanya, mereka membawa anak-anak mereka untuk berteduh di bawah pohon tersebut
Mengapa hari ini pohon itu tampak istimewa? Sepertinya berbeda dengan hari-hari sebelumnya, saat anak-anak mereka bermain di bawah pohon tersebut. Jadi, mereka bermaksud untuk kembali ke pohon itu lagi. Dari kejauhan, mereka melihat cahaya kelap-kelip di ujung dahan pohon. Saat mereka berjalan semakin dekat, di bawah pohon tersebut terlihat pancaran cahaya yang lembut. Itu bukanlah cahaya terik matahari, melainkan cahaya yang sangat lembut. Saat semakin mendekat, mereka melihat seseorang duduk di bawah pohon dengan sangat agung
Mereka sangat terkejut dan mengira Beliau adalah seorang dewa. Pada saat itu, mereka belum tahu yang disebut Buddha. Mereka hanya mengenal konsep dewa, dan tidak pernah melihat pria ini sebelumnya. Dengan adanya Beliau yang duduk di sana, seluruh pohon itu menjadi berbeda dan membuat senang orang yang melihatnya. Dengan cahaya yang dipancarkan-Nya, mereka mengira Beliau adalah dewa. Mereka pun menyebarkan berita ini ke seluruh keluarga. Setiap wanita yang ada di sana pergi ke pohon itu bersama anak-anak mereka
Setelah Buddha melihat bahwa sebagian besar wanita dan anak-anak telah berkumpul di sekitar-Nya, Beliau pun tersenyum dengan penuh kasih sayang. Beliau mulai membabarkan Dharma tentang 5 sila kepada mereka. Para wanita dan anak-anak mendengarkannya dengan khidmat dan hening. Pemandangan itu sangat indah. Waktu terus berlalu, dan senja pun tiba tanpa mereka sadari
Senja hari menandakan saatnya para pria dari setiap keluarga kembali ke rumah. Setiap hari, saat para suami pulang ke rumah, para istri biasanya sudah menunggu, sudah menyelesaikan pekerjaan rumah, bahkan sudah menyiapkan makanan. Akan tetapi, pada hari itu tak seorang pun yang ada di rumah. Sesungguhnya, di manakah para istri? Para suami keluar untuk mencari mereka. Akhirnya, mereka melihat bahwa para istri dan anak-anak duduk di bawah pohon dengan hening sambil mendengarkan seorang pria berbicara
Karena itu, para suami tersebut sangat marah. Mereka berteriak dari kejauhan sambil mendekat ke arah pohon tersebut. Mendengar kedatangan suami mereka, para istri menjadi ketakutan, karena suami mereka sangat kasar. Para suami tersebut berpikir bahwa setiap hari mereka telah bekerja keras untuk berburu, sehingga layak untuk dilayani. Mereka menganggap istri patut melayani. Ini adalah hal yang pantas bagi mereka. Ketika mendengar teriakan suami mereka, mereka menjadi ketakutan dan baru menyadari matahari sudah terbenam
Saat itu, Buddha menenangkan para wanita dengan sikap yang sangat lembut. Biasanya, ketika para suami memanggil, para istri akan merespon dengan cepat. Akan tetapi, hari itu berbeda. Saat para suami berjalan semakin mendekat ke bawah pohon, mereka melihat cahaya lembut dan seorang pria yang sangat berwibawa sedang duduk di tengah-tengah. Buddha memanggil mereka dengan suara yang penuh kedamaian. Para pria yang awalnya berbicara kasar mulai berubah menjadi tenang. Mereka mulai duduk seperti para istri dan menjadi tenang dengan sendirinya. Mereka pun duduk di sekitar Buddha
Buddha melanjutkan khotbah-Nya. Awalnya Beliau mengajarkan 5 sila kepada para istri. Setelah kedatangan para suami, Beliau mulai mengajarkan 10 kebajikan. Mereka mendengar ajaran 5 sila dan 10 kebajikan dengan penuh perhatian. Setelah Buddha menyelesaikan khotbah-Nya, salah seorang pria berdiri dan bertanya kepada Buddha, “Sebenarnya Anda dewa dari mana?” Buddha menjawab, “Aku bukan dewa.” “Aku adalah manusia, manusia yang tercerahkan.” Mereka lalu bertanya, “Pencerahan apa yang telah Anda raih?” Buddha berkata, “Aku telah menyadari kebenaran segala sesuatu di alam semesta dan siklus kelahiran kembali.” “Benarkah ada kelahiran kembali,” tanya mereka
Buddha berkata, “Ya, ada kelahiran kembali.” “Setelah meninggal dunia, seseorang dapat terlahir kembali di surga, neraka, alam setan kelaparan, atau alam binatang.” Mereka lalu merenung, jika seseorang meninggal dunia, dia akan terlahir kembali di surga, neraka, atau alam kehidupan lainnya, yaitu alam hantu kelaparan dan alam binatang. Apakah ini benar? Buddha lalu menjelaskan lagi kepada mereka. Setelah itu, mereka berkata, “Jika memang demikian, bukankah berarti hewan yang sering kita lihat dan buru ini adalah mereka yang lahir di alam binatang?” “Ya,” jawab Buddha. Kemudian Buddha berkata, “Kalian telah banyak membunuh dan menciptakan banyak karma buruk
” dan bertanya, “Bagaimana kami dapat bertahan hidup tanpa berburu atau memancing?” “Tidak membunuh adalah sifat murah hati; jagalah ucapan dan pikiran.” “Kalian harus selalu mengingat bahwa tidak membunuh berarti memiliki moralitas dan menumbuhkan kebajikan dalam hati kita.” “Kita tidak boleh sembarang mengucapkan kata-kata kasar.” Buddha mengetahui bahwa para pria di sana sangat kasar dan keras terhadap keluarga mereka sendiri. Karena itu, Buddha mulai mengajari mereka untuk menjaga ucapan dan pikiran dengan baik agar mereka tidak mudah memaki orang dan menjaga pikiran. Buddha melanjutkan, “Ketika tiada pembunuhan yang terjadi, manusia tak perlu takut ke mana pun pergi
” “Jika dapat merealisasikan hal ini, maka kehidupan kita akan tenteram dan nyaman.” “Tak ada yang perlu kita khawatirkan lagi.” “Praktikkan kemurahan hati dan cinta kasih, tolonglah semua makhluk dengan kasih sayang.” “Mulai sekarang, perilaku kita harus dilandasi kebajikan.” “Kita harus memiliki cinta dan welas asih yang luas.” “Semua makhluk memiliki kehidupan, kita seharusnya mengasihi mereka
” Dengan begitu, manusia akan selalu terberkahi dan tenang di saat tidur ataupun terjaga. Dengan begitu, mereka akan memperoleh berkah. Berkah akan selalu ada di hati mereka, sehingga mereka tidak perlu berpikir bahwa dengan tidak berburu mereka tidak akan dapat bertahan hidup. Buddha berkata, “Jika dalam hati kalian ada cinta kasih dan tekad untuk menolong semua makhluk, maka berkah akan selalu bersama kalian.” “Di mana pun kalian tidur, di mana pun kalian tinggal, kalian akan selalu merasa damai.” “Orang baik akan dilindungi para dewa dan memperoleh keuntungan di mana pun berada
” Para dewa melindungi orang yang baik, sehingga di mana pun kalian berada, akan memperoleh keuntungan. Buddha membimbing mereka agar dapat membangkitkan cinta kasih dan melindungi makhluk hidup. Beliau juga menjelaskan kepada mereka bahwa tinggal di mana pun bukanlah masalah. Selama dapat memiliki hati yang damai, kita akan damai saat tidur ataupun berjaga. Ketika membaringkan diri untuk tidur, kita juga akan merasakan kedamaian. Akan tetapi, setelah itu, mereka masih khawatir dengan penghidupan mereka
Meski Buddha telah menginspirasi mereka dengan cinta kasih, namun mereka masih berpikir realistis. Mereka bertanya, “Apakah mengasihi hewan saja sudah cukup?” “Bagaimana dengan mata pencaharian kami?” “Jangan khawatir, kalian dapat mengubah mata pencaharian kalian di sini.” “Kalian tidak harus memancing atau berburu.” “Jika berpindah ke tempat lain, kalian dapat hidup dengan damai secara alami.” “Jika kalian tidak dapat pindah, kalian terpaksa harus berburu.” “Jadi, kalian harus memilih tempat tinggal
” Buddha kemudian berjanji kepada mereka untuk meminta raja mengizinkan para keluarga ini meninggalkan daerah tersebut agar dapat tinggal di suatu tempat yang nyaman untuk memperoleh penghidupan. Jadi, Buddha memohon kepada Raja Bimbisara. Raja juga adalah murid Buddha, karena itu dia membantu orang-orang itu untuk berpindah dari tempat berburu ke wilayah yang lebih ramai dengan berbagai aktivitas kehidupan. Inilah kisah yang terjadi pada zaman Buddha. Baik terhadap orang yang tinggal di desa, kota, maupun hutan dan gunung, Buddha sangat peduli. Jika Buddha dapat membimbing orang-orang ini untuk berhenti berburu, maka semua hewan yang ada di hutan dapat hidup dengan tenang
Orang-orang ini dapat hidup di permukiman dan memperoleh mata pencaharian. Jadi, kedua belah pihak dapat hidup damai. Demikianlah cara Buddha mengasihi dan membimbing orang-orang tersebut. Bukankah kita sebagai praktisi Buddhis juga harus demikian? Sebaik apa kondisi kehidupan yang kita inginkan? Seberapa hangat tempat tidur yang kita inginkan? Orang yang penuh kasih menghindari pembunuhan, ucapan dan pikirannya selalu terjaga. Ketika tidak ada pembunuhan yang terjadi, seseorang tidak perlu takut ke mana pun. Berlatih kebajikan dan mengasihi semua makhluk, maka berkah akan selalu bersama kita. Kita akan merasa tenang saat tidur atau terjaga
Para dewa melindungi orang yang bajik. Di mana pun mereka, akan ada manfaat yang diperoleh. Sebelumnya telah kita bicarakan bahwa di zaman modern pun ada orang yang hidup primitif di gua. Di sana tidak ada akses jalan dan tangga. Dia hidup damai dengan sekawanan tikus. Demikianlah cara dia hidup. Pada zaman Buddha, sekitar 2.000 tahun lalu, sekelompok orang hidup di hutan dengan memancing dan berburu.
Setelah dibimbing untuk meninggalkan hutan dan pindah ke wilayah permukiman, mereka juga dapat hidup normal. Di zaman sekarang ini, sebagian orang memanjakan diri mereka dengan berbagai jenis tempat tidur. Ada yang mengeluh ranjang mereka terlalu keras atau kurang modern. Mereka terlalu boros dengan gaya hidup mewah. Hidup seperti ini juga didorong oleh ketamakan. Singkatnya, sebagai praktisi Buddhis, kita harus belajar untuk melenyapkan ketamakan
Selanjutnya adalah ketamakan pada obat-obatan. Kesehatan yang baik sangat berharga, namun untuk memiliki kesehatan yang baik, kita cukup menjaga keseimbangan gizi makanan. Sebagian orang bertindak berlebihan dalam merawat tubuh mereka. Mereka terlalu banyak mengonsumsi nutrisi. Lihatlah, kini betapa banyak orang ingin menurunkan berat badan. Berbagai penyakit seperti hipertensi, diabetes, dll., semuanya disebabkan oleh kelebihan makan dan terlalu banyak nutrisi. Ada orang yang merawat tubuh secara berlebihan
Bahkan mereka yang sehat dan mendapat asupan gizi yang cukup masih ingin merawat kecantikan tubuh, seperti menghilangkan noda hitam di wajah atau memutihkan wajah dengan cara dermabrasi, serta menggunakan krim wajah yang mahal. Akibatnya, wajah mereka malah rusak sehingga harus mencari pertolongan medis atau mengajukan tuntutan. Kemudian ada orang memanjakan diri dengan makanan yang lezat. Setelah menghabiskan uang untuk program diet, mereka kembali makan tanpa kendali. Banyak orang seperti itu. makan tiga kali sehari dengan gizi yang seimbang sudah cukup. Jangan mengambil lebih dari yang kita butuhkan
Sebagian orang suka menyimpan makanan suplemen kesehatan. Banyak produk baru seperti ini yang mereka beli dari luar negeri. Sesungguhnya, hidup sederhana sudah cukup. Dalam keseharian kita, gaya hidup sederhana paling menyehatkan. Gaya hidup yang bersih dan sederhana tidak hanya baik bagi tubuh, namun juga baik bagi pikiran. Ketika tubuh kita sehat, kita dapat menjaga kemurnian diri. Mengenai makanan, pakaian, tempat tinggal, maupun nutrisi bagi tubuh, sesungguhnya adalah hal yang sederhana, namun kita sering membuatnya menjadi rumit. Ketika kehidupan kita menjadi rumit, maka kita akan menjadi tidak sehat
Selain tidak sehat secara pikiran, tubuh kita juga menjadi tidak sehat. Jika kita membuat hidup kita menjadi rumit, akan muncul noda batin dan kegelapan batin yang membuat hidup kita menjadi tidak sehat. Hidup sederhana menyeimbangkan tubuh dan pikiran. Ketika tubuh dan pikiran murni dan bersih, kita akan sehat secara alamiah. Jadi, yang terpenting untuk kita sadari adalah bahwa noda dan kegelapan batin tercipta lewat kehidupan kita sehari-hari. Karena itu, jika setiap orang dapat menyeimbangkan hidup mereka dengan makanan, pakaian, tempat tinggal, dan obat-obatan yang cukup dan sederhana, mereka akan dapat hidup dengan sehat. Tubuh dan pikiran mereka akan menjadi murni
Untuk itu, kita harus selalu bersungguh-sungguh.