Sanubari Teduh – 115 – Empat Jenis Kelahiran Bagian 1
Mempelajari ajaran Buddha bertujuan untuk tersadarkan. Kita harus sadar terhadap segala sesuatu, bahkan harus menghormati kehidupan. Sebagai praktisi Buddhis, kita harus sungguh-sungguh terhadap hidup ini. Dari mana hidup ini berasal? Apa tujuan kita lahir di dunia ini? Kita harus mengetahuinya dengan jelas. Karena itu, terhadap kebenaran yang dalam tentang bagaimana kita datang, bagaimana kita pergi, ke mana kita pergi, dan dari mana kita datang, kita harus lebih giat mendalaminya. Terdapat beberapa jenis kelahiran makhluk hidup. Bagi makhluk hewan dan manusia saja, terdapat 4 jenis kelahiran, yang pertama adalah kelahiran melalui rahim, contohnya seperti manusia
Dengan bersatunya sel sperma dan telur, janin dikandung selama sepuluh bulan, dan kita akhirnya lahir. Kita tidak tahu dari mana kita berasal. Ke mana akan pergi kelak, kita lebih tidak tahu lagi. Berhubung sudah dilahirkan, kini yang terpenting adalah hendak ke mana. Ini sangat penting. Mempelajari Dharma, kita harus sungguh-sungguh merenungkan ke mana kita ingin pergi kelak
Inilah yang sangat penting. Karena itu, kita harus menyelidiki hidup ini. Makhluk hidup bukan hanya manusia yang lahir melalui perpaduan sel sperma dan telur serta dikandung selama 10 bulan, masih ada lagi makhluk lain, misalnya jenis makhluk-makhluk yang tubuhnya ditutupi bulu. Makhluk apakah itu? Yaitu hewan unggas dan ternak seperti, sapi, kuda, kambing, kera, anjing, rusa, dan hewan lain yang tak terhitung jumlahnya. Kita harus menghormati setiap kehidupan. Sebenarnya, bukan manusia saja yang takut mati, semua makhluk yang telah dilahirkan berharap dapat terus bertahan hidup. Dengan kata lain, semua makhluk yang hidup sama dengan manusia, berharap dapat panjang umur, bahkan kekal. Karena itu, ada ungkapan berbunyi, “Ingin hidup, takut mati
” Makhluk apa yang tidak takut mati? Bahkan seekor semut, nyamuk, atau binatang kecil yang terlihat oleh kita juga takut mati. Nyamuk yang sedang mengisap darah saja sangat waspada. Begitu hendak kita pukul, ia segera terbang. Suara dengungan seekor nyamuk sering membuat kita menjadi marah. Kadang seekor nyamuk dapat membuat manusia tidak bisa menahan diri untuk mengusir atau memukulnya. Ini menandakan bahwa semua makhluk memiliki kesadaran dan kewaspadaan serta takut akan kematian. Mereka bisa menggigit manusia, namun jika Anda bereaksi hendak memukulnya, mereka akan segera terbang dengan waspada. Inilah maksudnya bahwa semua makhluk takut akan kematian
Hidup manusia tidak selalu berjalan mulus. Setelah 10 bulan dalam kandungan, tidak semua bayi terlahir dengan sehat. tidak semua bayi terlahir dengan sehat. Yang terlahir dengan tubuh cacat juga sangat banyak. Ada lagi, mungkin masih segar dalam ingatan kita, yaitu kembar siam asal Filipina. Lihatlah, mereka terlahir dalam kondisi serba sulit. Bisa kita bayangkan bagaimana perasaan kedua orang tuanya yang kekurangan ini
Bukan hanya orang tuanya saja, bahkan para kerabatnya di dalam masyarakat desa yang sederhana ini juga merasa kelahiran bayi kembar siam ini adalah pembawa petaka. Karena itu, para kerabatnya pun selalu menjaga jarak dengan mereka. Terlebih lagi, keluarga ini hidup kekurangan. Dapat kita bayangkan tekanan batin yang dialami orang tuanya. Beruntung, mereka bertemu dr. Leh, ketua TIMA Filipina. Beliau mengirim informasi kepada kita
Setelah menerima informasi tersebut, saya segera meminta bantuan RS Tzu Chi untuk menganalisis kondisi kedua anak dalam foto itu apakah mungkin dilakukan operasi pemisahan agar mereka dapat memperoleh kebebasan, meneruskan kehidupan yang sehat, dan kembali memiliki harapan. Lewat diskusi para ahli bedah yang dipimpin oleh Wakil Kepala RS Chang, dinyatakan bahwa operasi dapat dilakukan. Dengan demikian, kita segera mengirim tenaga medis bagian anak dan radiologi ke rumah sakit di Filipina untuk mempelajari keadaan mereka. Tubuh kedua anak ini saling menempel, namun bagaimana dengan organ dalamnya? Misalnya, organ-organ vital seperti jantung, hati, ginjal, limpa, dll., apakah juga ada yang menempel? dr. Lee dari bagian radiologi dan dr. Peng dari bagian anak bersama-sama pergi ke Filipina untuk melihat bayi kembar siam tersebut. Setelah dianalisis, sepertinya bisa dioperasi
Meski hasil analisis menunjukkan bahwa selaput jantung dan organ hati mereka saling menempel, namun dengan teknologi kedokteran sekarang masih bisa dioperasi. Setelah dilakukan simulasi berkali-kali, kita meminta bayi tersebut dibawa ke Taiwan. Wakil Kepala RS Lu, yang juga merupakan pengurus TIMA, beserta ketua TIMA Filipina, dr. Leh, dr. Lu, dan beberapa relawan Tzu Chi seperti Relawan Tsai, ketua Tzu Chi Filipina, bersama-sama membawa anak tersebut ke Taiwan. Insan Tzu Chi Filipina dengan cinta kasih yang tulus menyiapkan keperluan ibu dan anak tersebut dan mengantarkan mereka ke Bandara Internasional Filipina. Dengan didampingi para insan Tzu Chi, mereka tiba di Taiwan
Insan Tzu Chi Taiwan menyambung cinta kasih ini
dengan menjemput mereka di bandara dan mengantar mereka ke Taipei untuk beristirahat. Keesokan harinya mereka tiba di Hualien. Begitu banyak orang memerhatikan mereka. Cinta kasih dan pendampingan dari tim medis beserta insan Tzu Chi dicurahkan kepada kedua anak ini dan ibu mereka. Mulanya, mereka mengalami kurang gizi, tubuh mereka pun sangat kurus. Setelah tiba di Taiwan, dengan perawatan yang sungguh-sungguh, berat badan sang ibu bertambah sekitar 5 kg saat akan pulang ke Filipina
Demikian juga dengan kembar siam tersebut yang awalnya berberat badan sekitar 12 kg, menjelang operasi pemisahan, berat badan mereka sudah naik menjadi 15 kg. Setelah melalui serangkaian perawatan dan pemberian gizi yang memadai, akhirnya pada tanggal 28 Juni mereka berhasil dipisahkan melalui operasi. Usia kedua anak ini sejak dilahirkan hingga saat dioperasi belum genap satu tahun. Operasi dilakukan 2 hari sebelum ultah pertama mereka. Hari itu juga merupakan momen bersejarah bagi ruang bedah RS Tzu Chi Hualien, di mana tim medis Tzu Chi melakukan pembedahan bagi kedua anak itu. Ini merupakan momen bersejarah bagi kedua anak itu, juga bagi RS Tzu Chi Hualien. Saat itu, semua orang sangat khawatir, karena operasi ini sebenarnya menggunakan jarum laser yang ditusukkan pelan-pelan hingga belasan ribu tusukan
Pemisahan lever kembar siam ini dilakukan
dengan teliti sehingga tidak mengeluarkan darah. Karena itu, kondisi kesehatan kedua anak ini sangat baik. Setelah operasi berhasil, kejadian ini menarik perhatian banyak media, maka diadakanlah jumpa pers. Saat jumpa pers, terlihat keramahan dan kesatuan hati dari tim medis Tzu Chi yang saling memuji. Mereka saling memuji dengan tulus tanpa merasa merekalah yang berjasa. Dokter bedah memuji ahli anestesi, demikian juga sebaliknya. Singkatnya, di dalam jumpa pers tersebut, seluruh tim saling memuji, saling mengagumi, “Ini berkat keahlian beliau, ini berkat jasa beliau,” tanpa mengklaim jasa sendiri
Inilah yang disebut cinta kasih universal tanpa pamrih. Kita dapat melihat kedua kembar siam ini telah berhasil dipisahkan, masing-masing ditempatkan dalam satu ranjang, dan penjahitan bekas operasi telah dilakukan. Melihat saat-saat itu, sesungguhnya apa yang disebut kebahagiaan? Inilah saat-saat yang membahagiakan. Awalnya kita sungguh mengkhawatirkan dan mencemaskan kedua anak ini, namun setelah mereka berhasil dipisahkan, terasa seakan-akan matahari yang tertutup awan gelap tiba-tiba cerah kembali, dan cahaya kebahagiaan segera terpancar dari dalam hati. Kedua anak ini berhasil dipisahkan. Meski ketika itu merasa senang, tetapi kita masih sedikit cemas mengingat saat masih menempel, mereka hanya bisa terbaring dan berpelukan saja, tidak pernah duduk atau membalikkan badan. Dalam kondisi tubuh yang menempel, mereka tidak mampu membalikkan badan
Karena itu, mereka tidak pernah berdiri dan tidak mampu berdiri. Karena itu, kita khawatir, apakah setelah dipisahkan mereka bisa bergerak bebas? Apakah mereka bisa duduk? Apakah mereka bisa berdiri? Apakah mereka bisa berjalan? Inilah yang kita khawatirkan setelah operasi berhasil. Karena itu, kita meminta agar rumah sakit mengizinkan mereka tetap di rumah sakit untuk menjalani proses pemulihan. Daya hidup kedua anak ini sangat kuat. Beberapa hari kemudian, saat mengajari salah satunya duduk, kita bisa melihat dari tayangan video bahwa dia belum bisa duduk, dan tidak tahu cara duduk. Akan tetapi, lambat laun dia bisa duduk. Melihat anak ini bisa duduk, kita pun sangat senang
Kemudian terlihat yang satu lagi sudah mampu membalikkan badan sendiri. Ini juga sangat menggembirakan. Selanjutnya terlihat lagi mereka duduk di alat latihan berjalan. Kaki mereka sudah mulai bisa melangkah, dan alat itu juga ikut bergerak, terkadang bergerak menyamping, terkadang bergerak mundur, dan terkadang berlari ke depan. Bagaimana pun gerakan mereka, melihat mereka bisa bergerak membuat hati kita terharu. Beberapa waktu ini kita bahagia untuk mereka. Kita terharu dan gembira karena telah membantu mereka memperoleh kebebasan. Masih banyak lagi yang membuat kita gembira
Tiga hari setelah kedua anak ini menjalani operasi pemisahan, tepatnya pada tanggal 1 Juli, kita merayakan ulang tahun mereka. Pada tanggal 21 Agustus 2003, mereka keluar dari rumah sakit dan kembali ke Filipina. Tahukah kalian betapa meriah sambutan yang mereka terima? Banyak pengusaha Filipina yang datang, termasuk suami istri senator. Sungguh meriah sekali. Selain menjemput kedua anak ini, agenda mereka yang terpenting adalah mengunjungi Tzu Chi, karena di Filipina mereka hanya sekadar tahu saja. Mereka tidak tahu bahwa misi amal dan misi kesehatan Tzu Chi begitu baik. Mereka merasa ingin tahu dan ingin lebih mengenal Tzu Chi yang telah membantu pemisahan kembar siam asal Filipina itu
Mereka ingin lebih memahami struktur badan misi kesehatan kita. Dengan keingintahuan yang kuat, mereka datang dengan 30 orang rombongan. Selain datang berkunjung, mereka juga mendampingi ibu dan kedua anak tersebut kembali ke Filipina. Hari itu, lobi RS Tzu Chi begitu ramai. Semua orang diliputi kegembiraan. Meski sangat bersukacita, namun banyak orang merasa tidak rela karena kedua anak yang menggemaskan ini akan segera pulang ke Filipina. Terlihat perawat rumah sakit yang telah merawat mereka selama 4 bulan ini meneteskan air mata. Tim dokter dan ahli fisioterapi, serta semua personel yang berhubungan dengan proses pemulihan kedua anak ini, semuanya datang mengelilingi dan tidak rela untuk berpisah
Demikian juga dengan relawan kita. Mereka juga memberi pendampingan yang tidak kalah dibanding para dokter. Mereka bahkan juga memerhatikan keluarga anak ini di Filipina, memerhatikan kondisi sang ibu selama berada di Taiwan, serta memerhatikan keperluan si kembar pascaoperasi, seperti makanan dan pakaian agar mereka dapat pulih dengan cepat. Mereka mengajari si kembar melakukan berbagai gerakan. Jadi, relawan dan tim dokter saling melengkapi dalam memberikan pendampingan. Intinya, kedua anak ini sangat beruntung meski pada kehidupan lampau mereka mungkin telah menjalin sebuah jodoh yang membuat mereka lahir menempel, memiliki orang tua yang tinggal di pedesaan dalam kondisi yang amat sulit. Karena jalinan jodoh itu, mereka terlahir di daerah terpencil. Warga di sana masih sangat polos. Begitu melihat bayi kembar siam ini, mereka langsung menganggap kedua kembar siam ini sebagai pembawa sial
Mereka melihat kelahiran si kembar sebagai pertanda kurang baik. Orang tuanya terpaksa membawa mereka ke kota, dan jalinan jodoh telah mempertemukan mereka dengan Tzu Chi di sebuah rumah sakit. Jika bukan karena berjodoh dengan Tzu Chi, kembar siam ini tidak mungkin bisa menjalani operasi pemisahan karena penghasilan sang ayah hanya sekitar 30 dolar NT (Rp10.000) per hari. Dari pekerjaannya, sang ayah hanya mendapat upah minim, dan upah ini belum tentu dia terima setiap hari. Dia harus menghidupi 4 orang. mana mungkin bisa membiayai operasi pemisahan
Seperti yang saya katakan, meski kedua anak ini memiliki jalinan jodoh kurang baik dengan terlahir dari orang tua yang kekurangan, namun dalam kehidupan lampau, mereka pasti pernah berbuat kebajikan dan menjalin jodoh baik dengan banyak orang sehingga dalam usia belum genap setahun, mereka bertemu dengan Tzu Chi. Saat kita menerima berita tentang mereka, mereka baru berusia sekitar 3 bulan. Kita menerima beritanya pada Januari 2003. Karena itu, insan Tzu Chi bergerak cepat mengirim data-data ke Taiwan. Setelah sepakat, kita mengirim tim dokter ke Filipina. Setelah pulang dan melakukan simulasi bedah, diputuskan bahwa mereka bisa dipisahkan. Lalu administrasi mereka ke Taiwan pun segera diurus
Waktu untuk segala proses dari sejak kita menemukan mereka tidak sampai 3 bulan. Dalam waktu 2 bulan lebih, kita membawa mereka ke Taiwan. Coba bayangkan, dalam kehidupan lampau mereka, meski telah menanam karma yang kurang baik, namun mereka tentu juga pernah menciptakan berkah yang luar biasa. Sekarang mereka sudah kembali ke Filipina, dan insan Tzu Chi Filipina melanjutkan estafet cinta kasih ini. Kita memberi mereka tempat tinggal di Manila agar sang ayah bisa bekerja dan kedua anak ini bisa terus menjalani pemulihan di rumah sakit. Mereka akan tumbuh besar dan bersekolah. Mungkin saja kedua anak yang lucu ini kelak akan berkunjung ke Taiwan lagi, dan mungkin saat itu mereka sudah kuliah. Bahkan kelak, mereka mungkin berada dalam barisan Bodhisattva Tzu Chi
Teringat sang ibu, saat melihat operasi pemisahan melalui video, saat melihat operasi pemisahan melalui video, dia melihat proses pembedahan hati. dia melihat proses pembedahan hati. Ketika melihat hati tersebut, dia sangat ketakutan, karena organ hati manusia ternyata terlihat sama dengan hati binatang. Sejak itu, dia bertekad untuk bervegetarian. Ibu ini berikrar untuk bervegetarian. Memang benar, hidup harus saling menghormati
Terlebih lagi, manusia harus melindungi segenap alam dan semua makhluk. Terlebih antarsesama manusia, harus hidup berdampingan dengan cinta kasih. Pendampingan yang diberikan insan Tzu Chi kepada kembar siam ini bukan sebatas saat mereka datang ke Taiwan hingga pulang ke Filipina saja. Tentu, dalam jangka panjang insan Tzu Chi akan terus memberi perhatian dan pendampingan. Saudara sekalian, misteri kehidupan sangat menakjubkan. apa yang kita perbuat pada kehidupan lampau sudah tidak bisa ubah, namun bisa dipastikan bahwa kita akan menuai apa yang kita tanam. Ada sebab pasti ada akibat. Ini adalah sesuatu yang pasti
Jadi, yang terpenting adalah bagaimana menghadapi masa depan. kita harus sungguh-sungguh sadar dengan apa yang telah kita perbuat dalam kehidupan ini. Ke mana kita hendak pergi kelak? Bagaimana caranya? Ini semua sangatlah penting. Jadi, kita harus lebih bersungguh-sungguh.