Sanubari Teduh – 120 – Lima Kediaman Mental Bagian 1
Saudara se-Dharma sekalian, waktu terus berlalu detik demi detik tanpa berhenti. Bagaimana pun, setiap orang memiliki masa lampau, masa kini, dan masa depan. Masa lampau sudah berlalu, masa sekarang terus berjalan, dan masa depan juga akan terus datang. Jadi, maksudnya adalah waktu terus berlalu. Jadi, apakah pikiran kita boleh terpaku pada satu titik waktu? Tidak bisa. Pikiran kita akan berjalan bersama waktu, terus mengalir, mengalami fase timbul, berlangsung, berubah, lenyap. Dalam kehidupan kita, segala sesuatu terus berubah dan tidak kekal. Perubahan dan ketidakkekalan ini terus membawa kerisauan bagi kita
Akibat kerisauan ini, dalam waktu yang panjang ini, berapa banyak karma buruk yang telah diciptakan oleh pikiran kita? Apa yang dimaksud kerisauan? Yaitu kekhawatiran dan ketakutan. Kekhawatiran dan ketakutan ini timbul dari nafsu keinginan. Dengan adanya nafsu dan keinginan, pikiran kita menjadi sangat khawatir. Kita khawatir tentang memperoleh dan kehilangan. Bagaimana agar bisa memperoleh? Demi keinginan, kita menghalalkan segala cara. Ini tentu membuat kita menderita. Setelah dapat, apakah kita sudah puas? Belum juga, karena kita khawatir akan kehilangan. Kerisauan terhadap mendapat dan kehilangan akan membawa ketakutan
Jadi, noda batin ini terus mengiringi perjalanan hidup kita. Contohnya, sejak kecil, sudah berapa banyak keinginan kita? Ketika dilahirkan oleh ibu, kita langsung menangis saat merasa lapar. Sangat polos. Karena merasa lapar, lalu kita meminta. Jika ingin sesuatu, kita akan meminta. Permintaan yang sederhana ini lambat laun semakin banyak seiring bertambahnya usia. Sesuai waktu dan lingkungan, kita saling meminta dan saling memberi antarsesama. Jadi, proses ini menjadi semakin rumit. Akibat semakin banyaknya keinginan dan semakin besarnya ketamakan, noda batin pun berlanjut hingga hari ini. Permintaan yang dulunya sederhana, seiring waktu terus menambah kerisauan kita
Hingga saat ini, apakah sudah berakhir? karena masih ada masa yang akan datang. Waktu masih akan terus berjalan detik demi detik, hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun. Prosesnya tetap sama, hanya saja manusianya tidak sama. Manusia akan berubah seiring waktu dan kondisi lingkungan. Kontak antara indra dan objek terus bertambah, dan inilah sumber noda batin kita. Dalam kondisi diliputi noda batin ini, kita penuh perhitungan untung rugi dan banyak keinginan, maka dalam berpikir dan bertindak, berapa banyak karma buruk yang telah kita buat? Apa yang dimaksud dengan karma buruk? Noda batin yang terkumpul dalam pikiran dan diwujudkan dalam perbuatan, itu sudah menciptakan karma buruk. Apabila ucapan dan tindakan kita merugikan orang lain, membahayakan diri sendiri, atau merusak sesuatu, maka itu sudah menciptakan karma buruk. Demikian pula, jika kita bisa memahami proses terciptanya karma, bisa mengurangi nafsu keinginan, dan mengurangi kemelekatan, maka noda batin kita dengan sendirinya tidak akan begitu banyak
Dengan demikian, ketamakan dan kemelekatan juga tidak akan timbul, sehingga karma buruk tidak tercipta. Karma juga merupakan sebuah kekuatan. Oleh karena itu, kita harus selalu waspada. Yang terpenting, kita harus sering berintrospeksi diri. Buddha banyak menasihati kita, khususnya sebagai umat perumah tangga, kita harus tahu aturan yang diajarkan Buddha kepada kita, paling tidak harus menaati 5 sila, lalu menjalankan 10 kebajikan. Bagi yang menjadi biarawan, kita harus berikrar meneladani jejak dan cara hidup Buddha sehingga kita bisa berlatih dengan tenang dan bisa mengetahui sumber awal dari ikatan karma di dunia ini. Jika mengetahuinya dengan jelas, kita pun akan tahu cara menutup pintu karma
Agar godaan duniawi tidak begitu mudah masuk ke dalam batin kita, maka kita harus menutup pintu ketamakan dan nafsu keinginan. Selain itu, kita juga harus membersihkan hati kita. Alangkah baiknya jika kita bisa benar-benar memahami perasaan cinta, benci, sayang, dan dendam, memahami ada cinta tentu ada benci, dan cinta bisa menimbulkan perasaan tidak puas antara satu sama lain, bahkan saling mendendam. Prinsip ini sudah kita ketahui. Oleh karena itu, kita harus menghilangkan cinta yang didasari nafsu seperti ini. Dengan demikian, batin kita akan menjadi suci dan tidak berkesempatan menjalin karma buruk dengan dunia luar. Berusaha menghindari jalinan karma buruk, inilah yang disebut dengan melatih diri. Akan tetapi, dalam hubungan antarmanusia, siapa yang berani menjamin sedikit pun keinginan tidak akan muncul? Siapa yang langsung sadar begitu mendengar Dharma? Setelah mendengar Dharma, jika kita bisa berikrar untuk menjalankan semua kebajikan, memberi manfaat bagi semua makhluk, serta tidak melakukan kejahatan atau kesalahan apa pun, maka ini disebut tersadarkan
Saat mendengar satu ajaran, kita sudah bisa memahami banyak hal. Kedengarannya sangat mudah. Mengenai berbuat segala kebajikan, baik saat berlatih untuk diri sendiri maupun memberi manfaat bagi dunia, kita selalu bertutur kata yang baik dan mengembangkan niat yang baik, serta menjaga etika menghadapi orang lain. Meski berlatih demi diri sendiri, paling tidak ketiga hal di atas bisa kita lakukan. Bagi kita yang bersumbangsih bagi masyarakat dan berjalan di Jalan Bodhisattva, hal apa yang belum bisa kita lakukan? Mulai dari hal yang kecil, dimulai dari niat kita saat menghadapi orang maupun segala tindakan kita, semua harus bermanfaat bagi umat manusia. Meskipun prinsip ini kedengarannya mudah, namun di dalamnya sudah mencakup semua kebajikan yang ada di dunia. Kita tidak saja harus memberi manfaat bagi masyarakat, tetapi juga harus giat melakukannya. Kedengarannya mudah, namun untuk benar-benar teguh melakukannya, sungguh tidak mudah. Banyak dari kita yang sudah mendengar dan mengetahui ajaran ini, bahkan merasa harus menjalankannya dengan lebih giat lagi
Benar, harus lebih giat, namun kenyataannya apakah kita sudah giat? Apakah kita bisa tekun dan bersemangat sepanjang waktu? Adakalanya kita harus bertanya pada diri sendiri, apakah kita sudah tekun dan bersemangat? Apakah kita sudah selalu berbuat kebajikan dan membawa manfaat bagi masyarakat? Kita juga harus selalu selalu mengingatkan diri sendiri. Oleh karena itu, kita harus selalu bertanya di dalam hati, apakah batin kita masih bergejolak, apakah kita sudah bertindak benar dan sudah bersemangat setiap saat? Jika bisa berbuat demikian, maka kita adalah orang yang sadar. Akan tetapi, sebaliknya kita membatasi diri pada tataran makhluk awam, misalnya kita akan berkata, “Itu mana mungkin, wajar jika saya melakukan kesalahan, karena saya ini orang awam, melatih diri tidak semudah itu.” Akibat pandangan itu, kita menjadi lengah, dan kekuatan untuk giat berlatih perlahan-lahan menjadi kendur. Akibat kelengahan ini, berbagai kondisi luar dengan cepat menggoda 6 indra kita, lalu indra kita tanpa disadari menerima godaan tersebut, maka terciptalah berbagai karma buruk. Oleh karena itu, kita harus selalu bertobat dan merasa malu. ========= Jika di dalam pikiran kita terdapat sedikit penyimpangan, kita harus segera melenyapkannya. Inilah yang disebut bertobat. “Dharma bagaikan air yang dapat membersihkan kotoran”, artinya adalah jika di dalam hati kita terdapat Dharma, maka air kebijaksanaan pun akan ada di hati kita. Jiwa kebijaksanaan kita membutuhkan siraman air kebijaksanaan
Jadi, air kebijaksanaan dapat selalu membersihkan noda batin kita. Artinya, jika setiap orang memiliki kebijaksanaan, maka air kebijaksanaan ini akan selalu ada di dalam hati kita. Gejolak pikiran memang sulit dihindari, namun dapat segera kita redam dengan air kebijaksanaan. Dengan begitu, ia tak akan mudah terwujud ke dalam perbuatan atau terpengaruh oleh godaan kondisi luar. Dengan demikian, kita tidak akan mudah berbuat kesalahan atau berjalan ke arah yang menyimpang. Jadi, kita harus selalu bertobat
Meski hanya melihat kesalahan kecil yang dilakukan oleh orang lain, kita juga harus mengingatkan diri sendiri. Jika timbul pikiran negatif dalam diri, kita harus segera berintrospeksi. Bisa mawas diri dan berintrospeksi, lalu berterus terang mengakui kesalahan, Kita harus selalu mengingatkan diri. Dalam Syair Pertobatan Air Samadhi dikatakan bahwa kita harus bertobat. Setelah bertobat, kita harus meningkatkan kewaspadaan, karena telah mengakumulasi keburukan sejak masa tanpa awal hingga sekarang. Masa tanpa awal bukan hanya mencakup kehidupan sekarang saja. Ketika orang tua kita melahirkan kita, kita masih sangat polos. Benar
Saat itu kita masih sangat polos. Akan tetapi, sesungguhnya dalam kehidupan sebelum kelahiran ini, kita tidaklah polos atau murni, karena dari kehidupan ke kehidupan kita terus menciptakan karma buruk. Hanya saja kita membawa benih karma ini dari kehidupan lampau ke kehidupan sekarang dan memulai hidup baru. Sama halnya sebidang tanah kosong yang di dalamnya sudah tertanam benih. Perlahan-lahan benih ini akan bertunas. Saat masih kecil, kita bagai tanah yang sudah ditanami benih itu. Apa yang ditanam, itulah yang akan dituai. Jadi, sejak benih ditanam, kita terus membawa benih ini hingga ke kehidupan sekarang. Benih karma yang kita bawa dari kehidupan lampau ini akan tumbuh bertunas, sama seperti kita yang tumbuh dari bayi
Berhubung masih kecil, benih ini harus mengandalkan kondisi lingkungan sekitar, mengandalkan nutrisi dari tanah, air, udara, sinar matahari, dll. Sama seperti manusia, masih sangat polos saat dilahirkan. Dengan adanya kekuatan karma sebagai pendorong, kita bertemu dengan berbagai kondisi seiring berjalannya hukum karma. Dengan demikian, kita terus bertemu kondisi luar yang tak hentinya mengalami kontak dengan enam indra kita. Oleh karena itu, sejak masa tanpa awal hingga hari ini, kita memiliki banyak noda batin. Noda batin ini tumbuh dari satu, tiga, empat, hingga menjadi lima. Kondisi ini disebut Lima Kediaman Mental atau Lima Kediaman Noda Batin. Apa yang maksud Lima Kediaman Mental ini? Sebelumnya, kita pernah membahas tentang Empat Kediaman Mental
Sebelumnya, Empat Kediaman Mental ini sudah pernah kita jabarkan. Dari Empat Kediaman Mental, yang pertama adalah Kediaman Segala Pandangan. Kediaman Segala Pandangan berkembang seiring bertumbuhnya diri kita. Segala kondisi sekitar kita, baik itu yang kita temui, dengar, pikir, maupun lihat, dengan sendirinya menimbulkan gangguan di dalam batin. Gangguan ini adalah noda batin. Jika batin kita terganggu, maka noda batin akan bertambah. Dengan adanya noda batin, saat indra mengalami kontak dengan objek luar, maka kesadaran kita akan bereaksi dan kita akan menciptakan karma
Kondisi dunia luar terus mengalami kontak dengan indra kita sehingga keinginan dan nafsu terus berkembang dan tidak terkendali. Meski perasaan cinta, benci, sayang, dendam tidak terlihat, namun kekuatan perasaan ini terus menjerat pikiran kita sehingga menciptakan karma buruk. Jika saat bertemu kondisi luar kita mengikuti noda batin kita, maka kita akan terus terjerumus ke dalam kegelapan batin yang lebih tebal. Jadi, kekuatan pikiran dan kegelapan batin kita sungguh sangat besar. Jika kita mengikutinya, maka apa yang akan terjadi? Kita akan menerima buah penderitaan. Jika saat timbul niat dalam pikiran kita ditambah dengan kekuatan karma yang tidak bisa kita kendalikan, kita terus mengikutinya niat tersebut, maka selama itu juga kita akan terus menciptakan karma buruk, dan buahnya adalah penderitaan. Dalam masyarakat sekarang ini, banyak cinta yang berubah menjadi dendam. Ada yang karena percintaan dengan lawan jenis, ada juga karena percintaan sesama jenis. Di surat kabar diberitakan, karena kemajuan teknologi, berkenalan sudah tidak perlu bertemu langsung, cukup dengan menggunakan internet, mulai dari saling mengirim email, hingga akhirnya janji bertemu
Di sana diberitakan, ada seorang pemuda yang menjalin pertemanan lewat internet. Dia mengira temannya adalah wanita. Lama-kelamaan, diketahui bahwa temannya adalah homoseksual. Saat saling bertemu, mereka pun bertengkar, dan día disiram air keras. Wajahnya rusak, matanya juga buta. Sedangkan pelakunya, karena panggilan hati nurani, akhirnya menyerahkan diri kepada polisi
Lihatlah, bukankah ini terjadi akibat dorongan kondisi luar? Mulanya mereka tak punya hubungan apa-apa. karena kemajuan teknologi dan adanya kegelapan batin, mereka akhirnya saling bertemu. Mereka terjerat perasaan dan kembali menciptakan karma buruk. Kini mereka menerima buah penderitaan. Dengan adanya penderitaan, mereka kembali melakukan karma buruk. Buah karma buruk akan terus bermunculan, dan jika benih karma terus ditanam, maka kejahatan ini akan semakin tebal
Saudara sekalian, ini baru yang pertama dari Lima Kediaman Mental. kita harus tahu bahwa kekuatan karma sungguh menakutkan. Pada kehidupan ini, kita sudah membawa benih karma dari kehidupan lampau. Jika dalam kehidupan sekarang kita tidak menutup pintu karma rapat-rapat dan sungguh-sungguh membersihkan noda batin kita, maka buah karmanya akan tak terbayangkan. kita sangat beruntung
Baik sebagai biarawan maupun perumah tangga, kita sungguh beruntung dapat bertemu ajaran Buddha. Ajaran Buddha bagaikan air jernih yang dapat membersihkan noda batin kita. Semoga setiap orang senantiasa sepenuh hati memancarkan mata air kebijaksanaan yang jernih dari dalam batin sehingga noda batin dapat dibersihkan. Jadi, bersungguh-sungguhlah setiap saat.