Sanubari Teduh – 119 – Mendengarkan Dharma Menumbuhkan Jiwa Kebijaksanaan
Saudara se-Dharma sekalian, bagi seorang praktisi Buddhis, waktu sangatlah penting. Saya selalu membahas tentang waktu, ruang, dan hubungan antarmanusia. Terhadap siapa pun, saya selalu mengimbau untuk menggunakan waktu sebaik-baiknya. Jika kita bisa menggenggam waktu kita dan memanfaatkan lebih banyak ruang dalam hidup kita, maka makna kehidupan akan meningkat. Kita harus terjun ke dalam masyarakat karena pencapaian dalam pelatihan diri terletak pada interaksi antarmanusia. Saya sering mengatakan, praktisi yang tingkat kebijaksanaannya tinggi, begitu mendengar sepatah Dharma, akan mendapat banyak pemahaman. Orang yang berkebijaksanaan menengah akan mendapat satu pemahaman saat mendengar satu ajaran
Bagi orang yang berkebijaksanaan rendah, tak akan paham meski mendengar ribuan ajaran. Meskipun sudah diberi tahu ribuan kali, mereka masih belum bisa sadar. Lalu apa yang harus dilakukan? Apa boleh buat. Akan tetapi, kita berharap kalaupun kebijaksanaan kita tidak tinggi, paling tidak kita memiliki kebijaksanaan menengah. Dengan demikian, jiwa kebijaksanaan kita baru bisa bertahan. Dharma bagaikan air. Air sangat penting bagi kehidupan. Air, segala sesuatu di dunia ini membutuhkan air, manusia juga tidak bisa hidup tanpa air. Contohnya di langit. Udara di langit juga harus memiliki kadar uap air. Tanpa uap air, udara akan sangat kering. Kita sering menyebut langit biru dan awan putih
Langit yang berwarna biru disertai awan yang berwarna putih, bukankah terlihat sangat indah? Dari mana asalnya awan putih tersebut? Dari uap air. Lalu dari mana uap air itu? Tentu dari bumi. Karena bumi tidak boleh kekurangan air. Dengan adanya air, bumi baru dapat menghidupi semua makhluk. Tanaman pangan juga tidak bisa hidup tanpa air, jadi air sangat penting bagi bumi. Setelah terkena panas matahari, air akan menguap dan naik ke udara. Saat hari cerah, tampaklah langit biru berawan putih. Saat uap air terkumpul dalam kadar tertentu, didukung dengan berbagai kondisi, terjadilah hujan. Siklus air di alam ini sesungguhnya sangatlah penting
Jika bumi ini kekurangan kadar air, maka empat unsur alam tak akan selaras. Empat unsur adalah tanah, air, api, angin. Terutama di dalam udara, tidak boleh kurang unsur air, angin, panas matahari, tentu juga tak boleh kekurangan segala sesuatu di alam. Jadi, empat unsur haruslah selaras. Keselarasan tersebut sangat penting. Harap semua bersungguh hati. Segala sesuatu di bumi ini membutuhkan air. Tanaman pangan membutuhkan air. Lihatlah, di muka bumi ini, begitu banyak tempat kekurangan air dan mengalami kekeringan
Orang yang hidup di sana begitu menderita. Contohnya, tempat yang pernah kita jangkau dan dapat kita lihat, yakni Gansu di Tiongkok. Di sana, insan Tzu Chi membuat tempat penampungan air. Di sana tidak ada air tanah maupun air sungai. Tidak ada air tanah yang bisa dipompa, air gunung juga tidak bisa dialirkan ke sana, lalu bagaimana mereka bertahan hidup? Mereka bergantung kepada air hujan. Air hujan yang mengalir lewat genting ditampung dalam lubang yang digali. Di Gansu, selain air, mereka juga membutuhkan bahan pangan
Dari mana mereka memperoleh bahan pangan? Mereka tetap harus bercocok tanam. Akan tetapi, bagaimana tanaman bisa tumbuh tanpa air? Mereka sendiri juga harus memakai air. Dari mana air ini diambil? Dari tempat penampungan. Mereka sangat menghargai setiap ember air. Ketika menanam jagung, mereka hanya menyiramkan satu cangkir kecil air pada akar setiap pohon jagung agar tidak kering. Coba bayangkan, sebatang pohon jagung bertongkol dua, jika ditanam di tempat yang tidak subur, hasil panennya juga tidak bagus. Bisa kita bayangkan betapa sulitnya hidup dan bercocok tanam dengan cara demikian. Kekurangan air saja sudah sangat menderita
Ketika berkunjung ke Gansu, saat melakukan wawancara, kita menemukan sebuah keluarga. Seorang wanita dari keluarga itu pergi mengambil air. Air di dalam lubang penampungan sangat terbatas jumlahnya karena dalam setahun, musim hujan hanya datang sekali. Air yang tertampung harus digunakan untuk kebutuhan keluarga itu selama satu tahun. Mereka tentu harus sangat hemat. Jadi, wanita ini harus mendaki dan menuruni perbukitan untuk mendapatkan air
Ia mengangkat air dengan napas terengah-engah. Air dalam embernya pun sangat keruh. Meskipun ada sungai mengalir di kaki bukit, tetapi airnya sangat keruh. Kita melihatnya mengangkat seember air dan kembali mendaki gunung. Kita mendengar napasnya terengah-engah. Sejujurnya, melihat hidupnya yang demikian, tidak saja kekurangan air, kondisi ekonominya juga sulit. Laki-laki harus pergi bekerja mencari nafkah
Di rumah hanya ada orang tua dan anak-anak. Pekerjaan mengambil air harus dilakukan oleh wanita muda. Ketika diwawancarai, ia mengatakan, “Pekerjaan mengambil air adalah tanggung jawab wanita.” Sudah berapa lama ia melakukannya? Sudah puluhan tahun, dan harus melakukannya setiap hari. Jadi, sepanjang hidupnya, ia menghabiskan waktu hanya demi mengambil air. Jika tidak mengambil air, keluarganya tidak bisa hidup. Coba renungkan, kita yang terlahir di lingkungan yang baik, bukankah harus menjalani hidup dengan penuh rasa syukur dan menghargai lingkungan tempat tinggal kita? Jadi, air sangat penting. Hanya demi mempertahankan hidup saja sudah tidak mudah
Jadi, alam dan segala isinya tidak boleh kekurangan air, terlebih lagi kehidupan manusia. Tubuh kita juga terdiri atas empat unsur. Jika empat unsur ini tidak selaras, maka berbagai penyakit akan timbul. Satu saja unsur tidak selaras, ratusan penyakit akan timbul. Terkadang saat berobat, dokter berkata, “Anda harus banyak minum air, Anda kurang cairan.” Benar, kita harus banyak minum air
Tanpa cukup air, bagaimana tubuh bisa sehat? Tubuh ini tidak semata-mata butuh air sebagai suplemen. Sesungguhnya, dalam struktur tubuh ini juga terkandung kadar air. Cairan darah kita mengandung air, otot kita juga mengandung kadar air. Tanpa air, otot akan menjadi kering, bagai kulit membalut tulang,å seperti pohon tua yang layu. Tubuh kita juga demikian, tidak boleh kekurangan air. Selain perlu minum air untuk menjaga kadar air dalam tubuh, sesungguhnya uap air di udara juga sangat penting bagi kita. Jika cuaca panas dan kering, kulit kita akan gatal-gatal dan terserang penyakit. Biasanya, jika kondisi di luar seimbang antara kering dan lembap, barulah tubuh kita bisa cerah dan sehat. Jadi, air, baik terlihat maupun tidak terlihat, sangatlah penting bagi hidup kita. Kita tidak bisa hidup tanpa air, jadi kita harus menghargai sumber air
Selanjutnya, jiwa kebijaksanaan juga memerlukan air Dharma. Apa perbedaan keseharian manusia dengan makhluk lain? Manusia harus menerima pendidikan, harus memahami tata krama, serta harus tahu malu. Semua ini didapat dari pendidikan. Ini juga termasuk Dharma. Kita harus menerima pendidikan agar dalam kehidupan sehari-hari di dunia ini kita bisa menjadi manusia yang seutuhnya. Semua harus mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Sebagai manusia, kita berharap bisa melampaui semua makhluk dan hidup layaknya manusia, maka kita harus menerima pendidikan dan pembinaan batin
Dengan demikian, barulah kita tidak menyimpang dari sifat hakiki manusia. Baik dalam etika, moralitas, maupun dalam interaksi dengan orang lain, kita bisa berlaku sopan dan tahu malu berkat adanya pendidikan. Ada orang mengatakan, “Saya tidak bersekolah tinggi.” Pendidikan bukan hanya didapat dari sekolah, melainkan dalam hubungan antarsesama. Setelah dilahirkan, ibu mulai mendidik kita. Orang tua, keluarga, dan setiap orang terus mendidik kita, mengajari kita cara minum susu, membalikkan badan, merangkak, berjalan, mengajari kita cara makan yang benar, mengajarkan mana yang boleh dipakai, mana yang tidak, mana yang boleh dimakan, mana yang tidak, mana yang harus dipanggil Kakek, Nenek, Kakak, Adik, Ayah, dan Ibu
Mengerti cara berperilaku dan bertutur kata serta cara menyapa orang lain, ini disebut sopan santun. Tata krama yang manusiawi ini sudah diajarkan oleh orang tua sejak lahir. Di dalam keluarga, kakak-kakak, kakek, dan nenek kita juga terus mengajari kita, bahkan tetangga juga mengajari kita, terlebih lagi dalam masyarakat. Kapan dan di mana pun, dalam kehidupan bermasyarakat, kita senantiasa mendapat pendidikan dari orang banyak. Akan tetapi, lewat semua pendidikan ini, apakah kita sudah bisa membedakan yang baik dan buruk? Ini adalah pendidikan yang lebih dalam lagi. Karena itu, kita harus mendapat pendidikan di sekolah dan sebagainya untuk meningkatkan keterampilan. Ini merupakan pendidikan yang mengajarkan cara bertahan hidup, cara hidup di tengah masyarakat, dan cara menjadi manusia seutuhnya
Akan tetapi, sebagai manusia banyak juga dari kita yang berbuat kesalahan yang membawa penyesalan seumur hidup. jika dalam kehidupan kita sehari-hari dan dalam interaksi antarsesama kita terus menciptakan karma buruk, maka kita akan terus terlahir di tiga alam rendah, sungguh menderita. ====== Belum tentu semua orang memahaminya, tetapi kita yang tahu harus melatih diri. Untuk melatih diri, terlebih dahulu kita harus bersyukur atas kehidupan kita yang sehat ini sehingga kita dapat hidup aman dan tenteram dari kecil, masa muda, dewasa, hingga masa tua. Selain itu, saat ini kita bisa bertemu ajaran Buddha. Bukankah kita harus memanfaatkan waktu? Kita tidak tahu dalam kelahiran-kelahiran sebelumnya sudah berapa lama kita berputar-putar di 6 alam atau di 3 alam rendah. Kita juga tidak tahu berapa banyak jodoh buruk dan karma buruk yang telah kita ciptakan. Dalam kehidupan sekarang, kita benar-benar sangat beruntung karena sudah menerima ajaran Buddha, bahkan berkumpul bersama para Bodhisattva dunia
Ini adalah sebuah jalinan jodoh baik, mengapa kita tidak sungguh-sungguh menghargainya? Jadi, kita seharusnya menghargai jalinan jodoh dengan Dharma, karena jiwa kebijaksanaan harus dipelihara dengan air Dharma. Akan tetapi, kita tidak tahu berapa banyak kesalahan yang kita lakukan di masa lalu. Karena itu, kini kita harus bertobat dengan tulus. Kita harus bertobat. Dharma bagaikan air yang dapat membersihkan noda akibat karma buruk yang kita lakukan di masa lalu baik yang disengaja maupun yang tidak. Setiap perbuatan atau karma buruk yang telah kita ciptakan dan jodoh buruk yang telah kita jalin tidak akan berlalu begitu saja tanpa akibat. Benih karma ini akan terus ada
Jika jiwa kebijaksanaan kita sudah tercemar, apa yang harus dilakukan? Kita harus menyadari, menghargai, dan bertindak sesuai Dharma. Janganlah kita menyimpang dari Dharma agar tidak lagi menciptakan karma buruk baru. Selain tidak menciptakan karma buruk baru, kita juga bertobat atas karma masa lalu. Artinya, meski telah terkena kotoran dan tercemar, jika kita bisa sungguh-sungguh membersihkan batin kita dengan menggunakan kesabaran dan keterampilan sehingga kotoran tersebut hilang satu per satu, maka inilah yang disebut pertobatan. Pertobatan adalah pemurnian. Akan tetapi, bertobat bukan berarti mengucapkan pengakuan sekali saja. Kita harus bertobat dengan sepenuh jiwa raga. Kita harus berani berkata, “Saya bersalah.” Kita harus mengakui kesalahan dan membangun tekad yang teguh untuk tidak mengulangi kesalahan itu
Jadi, Saudara sekalian, jika mengetahui kesalahan tetapi tidak menyesal, maka bagai hanya menutupi noda dengan kain. Ini berarti menutupi kesalahan sendiri. Orang yang selalu berusaha menutupi kesalahan agar tidak diketahui orang lain adalah orang yang paling kasihan di dunia. Dahulu, karena belum memahami ajaran Buddha kita sudah sangat kasihan. Kini, setelah beruntung dapat bertemu ajaran Buddha, jika masih tidak mengerti untuk bertobat, maka sungguh sangat kasihan. Dharma bagaikan air yang dapat membersihkan noda. Setiap orang memiliki kebiasaan buruk. Orang yang melatih diri tetapi tidak bisa melenyapkan kebiasaan buruk adalah orang yang benar-benar kasihan. Saya sering mengatakan tidak tega, tetapi apa yang dapat dilakukan? Saya tak bisa berbuat apa-apa
Setiap orang haruslah mawas diri. Saudara sekalian, berhubung sudah bergabung di ladang pelatihan ini, sudah seharusnya kita menggenggam jalinan jodoh ini. Kita harus lebih memahami hal ini. Dharma sangatlah dalam, namun dalam kehidupan sehari-hari, bahkan udara saja juga mengandung Dharma, terlebih lagi segala perbuatan kita. Harap semuanya menjaga pikiran dengan baik. Harap semuanya selalu bersungguh-sungguh.