Sanubari Teduh – 118 – Empat Jenis Kelahiran – Bagian 4
Saudara se-Dharma sekalian, waktu berlalu dengan cepat. Dharma juga mengalir bagaikan air. Karena itu, saya sering berkata bahwa kita harus memanfaatkan waktu dengan baik. Kita harus menggenggam waktu dan menggunakannya sebaik mungkin. Dengan demikian, barulah kita bisa memperoleh berbagai pencapaian. Bukankah demikian juga dengan prinsip kebenaran? Meski setiap orang sepertinya tahu tentang prinsip kebenaran, tetapi untuk mempraktikkannya secara nyata bukanlah hal yang mudah. Inilah sikap manusia yang suka bermalas-malasan. Sikap bermalas-malasan menyebabkan kita mudah mengalami kemerosotan
Sungguh, kemerosotan moral terjadi tanpa kita sadari. Hal ini sungguh disayangkan. Sebelumnya kita membahas bahwa semua makhluk adakalanya menciptakan segala karma buruk akibat Empat Jenis Kelahiran. Mengenai Empat Jenis Kelahiran, semua orang dapat menghafalnya. Kita tahu Empat Jenis Kelahiran meliputi kelahiran lewat rahim, telur, kelembapan, dan kelahiran spontan. Makhluk-makhluk yang lahir dari empat jenis kelahiran disebut “semua makhluk”. Makhluk hidup dari empat jenis kelahiran ini sangatlah banyak
Tentu saja, manusia mengalami kelahiran lewat rahim. Selain manusia, sapi, kuda, kambing, rusa, dan banyak hewan lainnya juga mengalami kelahiran lewat rahim. Sebelumnya kita sudah mengulas tentang hewan dan manusia yang sesungguhnya juga memiliki hakikat yang sama dengan Buddha. Karena itu, Buddha pernah membabarkan tentang hakikat hati, Buddha, dan “semua makhluk”. Buddha bukan berkata hati, Buddha, dan “manusia”. Bukan. Buddha berkata “semua makhluk”. Ungkapan semua makhluk berarti makhluk hidup lain juga memiliki hakikat kebuddhaan. Jadi, hakikat hati, semua makhluk, dan Buddha adalah sama
Akan tetapi, di antara semua makhluk, manusia banyak yang diliputi kebodohan. Melihat kondisi semua makhluk, Buddha tentu sangat prihatin. Beliau terus datang ke Dunia Saha ini untuk membimbing semua makhluk. Buddha harus mengalami banyak kesulitan demi membimbing semua makhluk. Akan tetapi, kegelapan batin malah membuat semua makhluk terus hidup dalam ketersesatan. Akibat kemelekatan semua makhluk ini, Buddha harus mengalami berbagai kesulitan. Kita masih ingat dengan nenek di Pingdong yang kehilangan identitas. Kini kita telah tahu latar belakang nenek itu, juga tahu namanya. Lihatlah, semasa hidupnya, selain dirinya sendiri, dia masih memiliki jalinan jodoh dengan orang baik
Perjalanan hidup nenek tersebut bisa dibagi menjadi 3 tahap. Sebelum Taiwan bebas dari Jepang, kehidupan keluarganya sangat baik. Dia juga mengenyam pendidikan yang tinggi. Di sekolah, dia berkenalan dengan seorang pemuda Jepang. Pada saat itu, pemerintah Jepang mengutus banyak pejabat tinggi ke Taiwan. Tentu saja, keluarga pemuda itu juga diutus ke sini. Akan tetapi, pada saat itu, antara orang Taiwan dan orang Jepang selalu terdapat diskriminasi ras. Meski orang tua dari pihak perempuan ingin memberi restu, mereka juga tidak berdaya
Karena itu, mereka terpaksa menolaknya. Berhubung mendapat penolakan dari orang tua, dua anak muda itu memutuskan kawin lari. Pemuda itu berencana untuk membawa perempuan itu ke Jepang. Mereka pun berjanji untuk bertemu di pelabuhan. Saat kapal akan segera berlayar, perempuan itu sudah tiba, tetapi sang pemuda tidak datang. Perempuan itu terus menunggu, sedangkan kapal demi kapal terus berangkat. Dia terus menunggu setiap hari. Cinta di dalam hatinya telah menjadi kebodohan yang membutakan batinnya
Sejak saat itu, jiwanya mulai terganggu. Kehidupan ini tidaklah kekal. Kehidupan keluarganya juga mulai mengalami perubahan. Seorang kakak yang paling menyayanginya juga akhirnya meninggal dunia. kehidupannya mulai berubah. Dia menjalani hidup dengan penuh penderitaan. Demi menjaga kesucian dirinya, dia berpura-pura menjadi gila
Dia adalah orang yang waras meski pernah mengalami depresi. Setelah kakaknya meninggal dunia, dia juga tidak mau sembarang menikah. Karena itu, dia berkeliaran di jalan dan berpakaian compang-camping agar orang lain menganggapnya sakit jiwa. Dia enggan berbicara dengan orang lain. Saat ditanya, dia selalu diam saja. Hingga saat berusia lebih dari 30 tahun, di Pingdong dia bertemu seorang nenek yang sangat baik hati. Nenek itu merasa tidak tega melihat wanita yang sakit jiwa itu berkeliaran di jalan dan tidak memiliki tempat tinggal. Nenek itu merasa tidak tega
Karena itu, beliau bertekad untuk menjaganya. Beliau mengizinkannya tinggal di rumahnya dan menjaganya dengan sungguh-sungguh. Akan tetapi, wanita itu enggan memberi tahu nama aslinya, tempat tinggalnya, informasi tentang keluarganya, dll. Dia enggan memberi tahu. Demikianlah dia melewati hari-harinya. Dia tinggal di bawah loteng pada malam hari, dan pergi memungut-mungut barang di siang hari. Dia hidup bagaikan seorang imigran gelap. Sebelum sang pemilik rumah, nenek yang baik hati ini, meninggal dunia, dia berpesan kepada anaknya, “Meski kita tidak tahu siapa nama wanita itu, namun dia sudah tinggal di rumah kita selama bertahun-tahun
” “Dia bagaikan keluarga kita.” “Jika saya sudah tiada, kamu harus membantu saya menjaganya.” Putra nenek itu sangat memerhatikan dan mengasihi wanita itu. Dia pun mewakili ibunya menjaga wanita itu. Sekitar 30 tahun kemudian, pemilik rumah itu, Tuan Cai, melihat nenek itu semakin tua dari tahun ke tahun dan tubuhnya pun kurang sehat. Dia berpikir, “Suatu hari, jika nenek ini meninggal dunia atau menderita penyakit, bagaimana melaporkannya ke catatan sipil?” Jadi, Tuan Cai yang merupakan donatur Tzu Chi ini bercerita kepada anggota komite Tzu Chi, “Dari mana nenek ini berasal dan siapa namanya kami tidak tahu.” “Apa yang harus kami lakukan saat nenek itu meninggal dunia?” “Bagaimana kami memberi penjelasan ke kantor catatan sipil?” “Jaringan Tzu Chi lebih luas, apakah kalian bisa membantu saya mencari anggota keluarga nenek itu atau membantunya mengurus KTP?” Insan Tzu Chi sangat bersungguh hati. Jing Zhi dan seorang Bodhisattva lansia adalah anggota komite senior di Pingdong
Setelah mendengar cerita Tuan Cai, insan Tzu Chi langsung menerima kasus ini dan mulai mencari tahu. Akan tetapi, mereka masih tidak menemukan hasil. Setelah mempelajari lebih dalam dan mencari data di kantor catatan sipil, barulah diketahui bahwa di dalam sebuah keluarga pernah ada data yang sama seperti nenek itu. Akan tetapi, menurut catatan sipil, orang tersebut sudah meninggal dunia. Menurut data di catatan sipil, orang itu sudah meninggal dunia
Bagaimana kita mengubah data tersebut? Pegawai catatan sipil berkata bahwa harus ada anggota keluarga yang menjadi saksi. selama satu tahun tiga bulan insan Tzu Chi terus berusaha. Selain mencari anggota keluarga sang nenek, insan Tzu Chi juga harus membuktikan bahwa orang-orang itu benar anggota keluarga sang nenek dengan meminta mereka melihat sang nenek, lalu mengumpulkan mereka, dan mereka harus memiliki cerita yang sama bahwa di dalam keluarga besar mereka pernah ada kejadian seperti itu. Untuk mengumpulkan anggota keluarga yang sudah berpencar ke berbagai tempat sungguh tidak mudah. Terlebih lagi, sebagian besar kerabat-kerabat dekatnya sudah meninggal dunia. Yang tersisa hanyalah kerabat jauh. Jadi, masalah ini tak bisa hanya diurus di catatan sipil, namun juga harus melalui pengadilan. Jadi, selama satu tahun tiga bulan itu, insan Tzu Chi sangat sibuk. Tuan Cai itu juga terus mendampingi insan Tzu Chi untuk mencari informasi
Prosesnya berjalan penuh kesulitan. Akhirnya, kita berhasil menemukan keluarganya dan para saksi sehingga surat-surat kependudukan sang nenek dapat diurus. Kita sungguh berterima kasih kepada pegawai catatan sipil yang sangat bekerja keras dan bersungguh hati. Dia membongkar arsip 60 tahun yang lalu dengan sungguh-sungguh. Berkat data yang dia temukan, barulah kita bisa mendapat petunjuk. Singkat kata, ini adalah sebuah kasus yang rumit dan sangat jarang ditemui
Insan Tzu Chi, baik yang berusia lanjut maupun yang masih muda, semuanya memiliki kebijaksanaan yang setara. Asalkan ada niat, maka tiada hal yang tak mungkin dilakukan. Para insan Tzu Chi telah membuktikannya. Status sang nenek yang awalnya tercatat sebagai orang yang sudah meninggal dunia kini sudah diganti kembali. Selain itu, nama asli sang nenek kini kembali terdaftar di catatan sipil. kita pun meminta dana bantuan dari pemerintah untuk nenek ini. Kini nenek itu tinggal di panti jompo. Selain itu, setiap bulannya, dia menerima dana bantuan dari pemerintah
Insan Tzu Chi berkata bahwa sang nenek telah menganggap Tuan Cai bagai anaknya sendiri. Dana bantuan yang dia terima setiap bulannya sebagian dititipkan kepada Tuan Cai. Kabarnya, pascagempa 21 September 1999 di Taiwan, nenek itu turut mendonasikan 10.000 dolar NT. Dia juga mengerti untuk menolong orang lain. Selain itu, kini dia telah menjadi donatur bulanan Tzu Chi. Kini dia sangat sadar. Dahulu dia berpura-pura menjadi tidak waras demi menjaga kesucian dirinya dan agar tidak dilecehkan orang lain
Jadi, dia sebenarnya tidak bodoh. Sesungguhnya, dia sangat bijaksana. Akan tetapi, apakah caranya menggunakan kebijaksanaan itu benar? Tidak benar. Dia berpura-pura menjadi tidak waras demi menjaga kesuciannya, namun di tengah masyarakat, dia menjadi seperti terisolasi dan tidak berinteraksi dengan orang lain. Lihatlah, bukankah dia sudah menyia-nyiakan waktunya selama 60 tahun? Ini semua adalah akibat kebodohan batinnya sewaktu masih muda. Kemelekatannya terhadap perasaan telah membuatnya menderita. Karena itu, dia berpura-pura tidak waras. Beruntung, dia bertemu dengan orang baik
Intinya, masyarakat kita masih memiliki kehangatan. Masih ada orang penuh cinta kasih yang menganggapnya bagai keluarga sendiri dan mengizinkannya tinggal di rumahnya selama 40 tahun. Ini adalah wujud kehangatan di dunia. Keluarga itu telah menjaganya selama 40 tahun, sungguh luar biasa. Selain itu, cinta kasih Tzu Chi sungguh memandang semua makhluk dengan setara. anggota komite Tzu Chi sungguh merupakan Bodhisattva dunia. Sang nenek tak memiliki hubungan keluarga dengan kita, seluruh tubuhnya pun sangat kotor. Untuk mencari anggota keluarganya bukanlah hal yang mudah, namun insan Tzu Chi bersedia bolak-balik ke pengadilan dan catatan sipil
selama bisa membuat semua makhluk hidup tenang dan bahagia, mereka tidak gentar terhadap kesulitan. Kini sang nenek sudah memiliki nama, memiliki tempat tinggal, dan memiliki sekelompok saudara se-Dharma. Mereka selalu bersumbangsih tanpa pamrih baginya. Hati mereka sangatlah murni dan tulus. Kini mereka sering menemani sang nenek. Mereka bahkan mengajaknya menjadi donatur dan membimbingnya melafalkan nama Buddha. Kini sang nenek sudah mau berbicara dan bercanda dengan orang lain. Kini hidupnya sudah kembali normal seperti orang lain
Saudara sekalian, ini juga merupakan sejarah Tzu Chi. Saat Bodhisattva dunia menghadapi penderitaan manusia, menghadapi orang yang memiliki kemelekatan dan kebodohan batin, mereka tetap tidak menyerah. dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus bersungguh hati. Kehidupan kita bagaikan air yang terus mengalir. Jika kita tidak memanfaatkan kehidupan dengan baik dan menggunakan air Dharma untuk membersihkan hati, maka kehidupan kita akan berlalu dengan sia-sia. Jadi, ingatlah bahwa Dharma bagaikan air
Air ini harus digunakan dalam keseharian untuk menyucikan hati kita. Sebaliknya, jika kegelapan dan kebodohan batin tidak bisa kita bersihkan pada kehidupan ini, maka di kehidupan mendatang kita akan sangat menderita. Jadi, harap semua lebih bersungguh hati.