Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 117 – Empat Jenis Kelahiran – Bagian 3

Saudara se-Dharma sekalian, Dharma bagaikan air. Setiap orang dan setiap masalah yang kita temui setiap hari banyak yang mengganjal di dalam batin kita. Segala hal positif maupun hal negatif yang kita temui setiap hari pasti akan meninggalkan jejak di dalam batin kita. Kita hendaknya selalu menganggap setiap hal yang kita temui sebagai pendidikan. Inilah yang disebut mengubah noda batin menjadi bodhi (kebijaksanaan). Jika kita memandang segala hal dan setiap orang yang kita temui dari sisi negatif, maka air Dharma yang bersih dan jernih juga akan berubah menjadi kotor dan keruh. Saudara sekalian, kita harus menyadari bahwa kehidupan ini penuh penderitaan dan sangat singkat

 Berapakah waktu yang tersedia bagi kita untuk mendalami Dharma dan menenangkan hati? Waktu selama satu hari sangat panjang. Apakah setiap orang dan masalah yang kita temui sebagian besar kita pandang secara negatif dan membusuk di dalam hati kita? Janganlah demikian. Saat tidak bisa membedakan hal yang benar dan salah, kita harus segera berintrospeksi diri. Bukankah pada saat ini setiap harinya kita selalu membasahi batin kita dengan air Dharma yang jernih? Kita harus segera mempraktikkan Dharma ini agar bisa menyucikan batin. Sebagai makhluk awam, saat bertutur kata, bertindak, atau memikirkan sesuatu, kita selalu mudah menciptakan karma buruk. Karena itu, kita harus menjaga pikiran dengan baik. Jangan biarkan pikiran negatif terwujud ke dalam tindakan dan ucapan. Untuk itu, kita harus selalu sungguh-sungguh berintrospeksi. Semua makhluk dari empat jenis kelahiran dan enam alam kehidupan sungguh merasakan penderitaan yang tak terkira

 Selama masih mengalami empat jenis kelahiran, maka tidak mudah bagi kita untuk terbebas dari enam alam kehidupan. Akan tetapi, di antara empat jenis kelahiran, hanya manusia yang bisa membedakan benar dan salah. Di alam manusia, untuk bertemu dengan ajaran Buddha, menumbuhkan cinta kasih, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin, bukanlah hal yang mudah. Dengan mempelajari ajaran Buddha, secara perlahan-lahan kita akan menumbuhkan cinta kasih, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin. Kita juga harus bisa membedakan hal yang benar dan salah. Kita harus bisa membedakannya dengan jelas. Ada makhluk hidup yang juga mengalami kelahiran lewat rahim, namun terlahir sebagai hewan. Meski terlahir sebagai hewan, mereka juga memiliki hakikat kebuddhaan. Di dalam Sutra terdapat banyak kisah yang bisa mengingatkan manusia

 Kisah-kisah yang disampaikan oleh Buddha bukan dikarang-karang sendiri, tetapi merupakan pengalaman Buddha saat melatih diri dari kehidupan ke kehidupan. Di dalam Sutra Agama, ada sebuah kisah tentang Raja Rusa. Kisah tersebut sangat sederhana, namun maknanya sangat jelas. Pada zaman dahulu, di dalam sebuah hutan terdapat ribuan ekor rusa yang hidup bersama-sama. Di antaranya ada seekor raja rusa yang tubuhnya memiliki 5 warna yang cemerlang. Bentuk tanduknya juga sangat indah. Selain warna bulunya yang sangat indah, bentuk tanduk dan kakinya juga berbeda dengan rusa-rusa lainnya. Jadi, sekelompok rusa di hutan mengangkat rusa yang memiliki 5 warna itu sebagai raja. Dulunya seluruh hutan sangat aman dan tenteram. Para rusa hidup tanpa kekurangan rumput dan air

 Akan tetapi, pada suatu hari, seorang raja mengajak para menterinya untuk berburu. Hutan yang tadinya sangat tenteram, tiba-tiba didatangi sekelompok manusia yang memanah sembarangan. Akibatnya, rusa-rusa berlarian dan sangat ketakutan. Setiap rusa berlarian untuk menyelamatkan diri. Tentu saja, rusa yang mati juga tidak sedikit. Setelah para pemburu pergi, raja rusa melihat kondisi hutan itu menjadi sangat memprihatinkan. Ada ibu rusa yang mencari anaknya, ada pula anak rusa yang mencari ibunya

 Para rusa sudah berpencar. Ada yang jatuh ke dasar lembah, ada yang mati berlumuran darah. Saat melihat pemandangan seperti itu, raja rusa merasa sangat sedih. Ia merasa sangat bersalah karena dirinyalah yang memimpin rusa-rusa itu hingga ke hutan itu. Ia merasa ini adalah tanggung jawabnya. Ia yang memilih tempat itu, dan kini mengakibatkan rusa-rusa panik dan ketakutan serta mengalami banyak penderitaan. Karena itu, ia merasa sangat bersalah. Setelah mempertimbangkannya, ia memutuskan pergi ke istana dan mengajukan permohonan bagi rusa-rusanya

 Berhubung warna bulu raja rusa itu berbeda dengan rusa-rusa pada umumnya, maka banyak rakyat yang memerhatikannya. Baik warna bulu, tanduk, maupun kuku rusa itu, semuanya terlihat bisa membawa keberuntungan. Karena itu, tidak ada orang yang berani menghalanginya. Rusa itu pun masuk ke dalam kota, berjalan masuk ke istana, dan langsung menghadap raja. Semua orang merasa berkat kemurahan hati raja, maka ada rusa pembawa berkah yang datang. Ini petanda negara itu berserta rakyatnya penuh dengan berkah. Karena itu, saat rusa itu berjalan menuju istana, ia menerima penghormatan dari banyak orang. Setelah tiba di hadapan raja, ia langsung bersujud sambil menangis, lalu berkata kepada raja, “Nyawa rusa tidaklah berharga

” “Nyawa kami sangat kecil artinya bagaikan seekor cacing.” “Kami yang sangat lemah ini menumpang hidup di tanah milik Baginda.” “Meski bisa hidup dengan tenang dan penuh rasa syukur, tetapi dapur istana Baginda…” “Kami tahu dapur istana harus membuat berbagai hidangan yang lezat.” “Harap Baginda bisa menentukan jumlah rusa yang diperlukan setiap harinya

” “Jika Baginda menentukannya, setiap hari kami bersedia mengantar nyawa sendiri.” “Kami akan datang sendiri ke sini.” “Kami tinggal di wilayah Baginda.” “Kami tidak akan membantah perintah Baginda.” “Kami akan menuruti perintah Baginda.” “Baginda cukup memberi tahu kami berapa rusa yang dibutuhkan setiap harinya.” Setelah mendengarnya, raja merasa sangat malu dan menjawab, “Saya tidak tahu bahwa demi memenuhi kebutuhan dapur, kami telah membuat kehidupan rusa menjadi tidak tenang.” “Kini saya sudah mengetahuinya.” “Saya rasa istana kami hanya membutuhkan seekor rusa setiap harinya.” “Kini saya mengeluarkan larangan bagi setiap orang untuk berburu di hutan

” “Yang dibutuhkan oleh dapur istana hanya satu ekor setiap hari.” Setelah mendengar itu, raja rusa merasa lebih tenang. Berhubung raja telah berkata begitu, seharusnya para rusa bisa hidup dengan tenang. Raja rusa pun kembali dengan gembira dan mengumumkan hal ini kepada rakyatnya. Mengetahui bahwa rajanya kembali dengan membawa berita baik, para rusa itu pun berkumpul. Semua rusa berkumpul dan bersimpuh di hadapan raja mereka untuk mendengar kabar darinya. Raja rusa itu berkata, “Sejak zaman dahulu hingga kini, tiada kehidupan yang tidak berakhir.” “Tinggal di wilayah orang dan bergantung pada bahan pangan di sini, suatu hari kita juga pasti akan mati.” “Agar para rusa bisa hidup dengan tenang dan terus berkembang biak, lebih baik kita mengorbankan diri sendiri agar para rusa secara umum dapat lebih tenang

” Sekelompok rusa itu sangat setuju dengan pendapat sang raja. Benar, di dunia ini, siapa yang tidak akan mati? Kematian suatu hari pasti akan tiba. Jadi, para rusa setuju untuk mengorbankan diri segara bergiliran. Sejak saat itu, rusa-rusa ini mengorbankan diri mereka secara bergiliran. Rusa yang sudah tiba gilirannya akan menghadap raja mereka untuk berpamitan serta mendengar petunjuk raja rusa. Raja rusa selalu menasihati mereka, “Hari ini kamu akan mengorbankan nyawamu.” “Setiap kehidupan pasti ada batasnya.” “Saat tiba waktunya untuk mati, kamu harus menghadapinya dengan hati yang tenang dan damai.” “Hatimu harus penuh rasa syukur

” “Selama ini tempat ini telah menyediakan bahan makanan bagi kita dan menjadi tempat tinggal kita.” “Setiap makhluk akhirnya pasti akan mati.” “Selama perjalanan, teruslah melafalkan nama Buddha, jangan ada rasa dendam atau benci terhadap raja manusia.” Inilah nasihat raja rusa setiap hari kepada rusa yang akan mengorbankan diri. Setiap kali memberi nasihat, raja rusa selalu sedih hingga meneteskan air mata. Ia merasa tidak tega karena seusai ia memberi nasihat, seekor rusa akan pergi. Suatu hari, seekor rusa betina yang tengah hamil tua datang menghadap dan berlutut kepada raja sambil memohon, “Besok adalah giliran saya.” “Hari ini adalah hari terakhir saya.” “Besok saya sudah harus mengorbankan diri.” “Akan tetapi, kini saya sedang mengandung

” “Saya bukan memohon untuk diberi pengecualian, namun hanya memohon agar waktunya ditunda.” “Setelah anak saya lahir dan bisa hidup, saya akan pergi.” Raja merasa permohonan rusa betina itu sangat masuk akal. Kemudian, raja bertanya kepada rusa yang mendapat giliran berikutnya, “Apakah kamu bersedia pergi lebih awal satu hari?” Rusa itu segera menjawab dan memohon kepada raja, “Meski hanya sehari, saya tetap berharap dapat hidup lebih lama.” “Meski hanya satu hari saja, saya tetap ingin hidup.” “Saya tidak ingin mati lebih awal.” Setelah mendengar itu, raja rusa berpikir, “Benar, semua makhluk ingin hidup dan takut mati.” “Inilah sifat dasar semua makhluk hidup.” “Saya tidak mungkin memaksanya

” Akhirnya, raja rusa itu pun membuat rencana sendiri. Setelah rusa-rusa itu pergi, raja rusa meninggalkan hutan secara diam-diam. Ia kembali ke kota dan berjalan memasuki istana. Dia langsung berjalan menuju dapur istana. Juru masak istana mengenali raja rusa tersebut. Mengapa hari ini raja rusa yang datang mengantar nyawanya sendiri? Semua orang tidak mengerti. Karena itu, mereka melapor kepada raja, “Hari ini giliran raja rusa yang datang.” Raja sangat terkejut saat mendengarnya dan meminta raja rusa itu menghadap

 Kemudian, raja bertanya, “Bagaimana bisa sudah giliranmu?” “Apakah rakyat rusamu sudah habis?” Raja rusa menjawab, “Tidak.” Raja rusa pun menceritakan permohonan rusa betina serta keinginan rusa berikutnya untuk hidup barang sehari lagi. Karena itu, raja rusa mengantar nyawanya sendiri untuk mengisi kebutuhan dapur istana pada hari itu. Setelah mendengarnya, raja merasa sangat bersalah dan merasa semua makhluk hidup di dunia ini memiliki kebajikan. Meski terlahir dalam wujud rusa, tetapi mereka memiliki kebajikan seperti manusia. Jadi, kebajikan ada di dalam diri semua makhluk di dunia ini. Raja pun berkata, “Saya adalah manusia.” “Akan tetapi, selama ini saya selalu makan daging hewan yang mengorbankan diri mereka dengan pasrah

” “Saya sangat rendah jika dibandingkan dengan raja rusa.” Meskipun raja rusa ini adalah hewan, tetapi hatinya bagaikan manusia. Meskipun memiliki wujud rusa, tetapi ia bagaikan manusia yang penuh dengan kebajikan. Karena itu, raja sangat bertobat. Sejak saat itu, raja membuat pengumuman yang melarang semua rakyatnya untuk berburu atau pergi ke dalam hutan untuk melukai makhluk lain. Setelah menceritakan kisah ini, Buddha berkata, “Wahai para bhiksu, tahukah kalian raja rusa itu adalah Aku, sang raja manusia adalah Sariputra.” ======= Sutra ini mengisahkan bahwa saat melatih diri, Buddha juga pernah mengalami 4 jenis kelahiran di 6 alam kehidupan

 Buddha bukan hanya pernah terlahir di alam manusia dan lahir dari rahim ibu yang mengandung selama 10 bulan. Bukan hanya itu, Buddha juga pernah terlahir sebagai sapi, kuda, rusa, dan lain-lain. Buddha pernah mengalami empat jenis kelahiran. Demi melatih diri dan membimbing semua makhluk, Buddha harus bermanifestasi sesuai wujud makhluk hidup dan merasakan kehidupan semua makhluk. Jadi, kita harus menghormati kehidupan

 Jangan berpikir bahwa umat manusia adalah makhluk yang paling hebat. Janganlah kita menindas makhluk yang lemah. Terhadap makhluk hidup lain, kita juga harus mengasihi mereka. Terlebih lagi, antarsesama manusia, kita harus berlaku setara. Saya pernah mengulas bahwa semua makhluk adalah setara. Kita harus memperlakukan semua makhluk dengan setara. Selain itu, kita harus menghargai jalinan jodoh dan memahami hukum sebab akibat. Lihatlah, saat itu Buddha adalah seekor rusa dan Sariputra adalah raja manusia

 jalinan jodoh dari kehidupan ke kehidupan terus berlanjut tanpa henti. Karena itu, Saudara sekalian, janganlah kita bersikap sombong. Ingatlah untuk mengecilkan ego dan menghormati orang lain. Inilah tujuan sesungguhnya dari pelatihan diri kita

 Dalam melatih diri, ingatlah kewajiban kita untuk saling menghormati, saling mengasihi, bersatu hati, harmonis, dan bergotong royong. Setiap orang harus menunaikan kewajiban dan menjalankan tanggung jawabnya. Antarsesama harus saling menghormati dan mengasihi. Harap semua selalu bersungguh hati.

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

Juragan28