Sanubari Teduh – 155 – Enam Praktek 10 Praktek Bagian 5
Saudara se-Dharma sekalian, kondisi batin yang hening membawa kedamaian. Saat berada dalam kedamaian, pikiran akan lurus. Saudara sekalian, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus berusaha memiliki hati yang hening
Apakah kondisi luar harus tenang lebih dahulu, baru kondisi batin kita bisa hening? Jika kondisi luar sudah tenang namun pikiran tidak lurus, maka akan tetap terasa kacau. Jadi, saat kondisi batin hening, kondisi luar akan terasa damai. Jadi, saat kondisi luar tenang, pikiran kita juga harus benar. Benar berarti sesuai jalan kebenaran. Jalan kebenaran sangat sederhana
Jalan ini hanya satu. Buddha telah mempraktikkan dan menunjukkan jalan ini kepada kita. Kita tinggal menapakinya saja. Karena itu, saya selalu bilang ini sederhana. Kesederhanaan adalah kebenaran. Artinya, jalan pelatihan diri ini sangatlah lurus dan lapang
Dengan menapaki jalan yang lurus dan lapang ini, hati kita tidak akan kacau. Hari ini kita akan mengulas praktik kelima dari sepuluh praktik. Yang kelima adalah praktik tanpa kebodohan. Mengapa manusia diliputi kebodohan? Ini karena hati manusia awam dipenuhi pikiran yang tidak-tidak. Dengan demikian, kegelapan batin pun bangkit. Ini semua bersumber dari kebodohan. Kehidupan manusia sesungguhnya sangat sederhana
Dalam hal sandang, pangan, papan, dan transportasi, berapa banyak yang kita butuhkan? Contohnya dalam berpakaian, yang terpenting adalah pakaian itu bisa menutupi tubuh dan memberi kehangatan bagi kita. Seharusnya cukup jika pakaian dapat melindungi kita dari rasa dingin atau panas, menutupi tubuh, bersih, dan rapi. Satu helai, dua helai, tiga helai seharusnya cukup. Bagi para bhiksu-bhiksuni, Buddha berkata bahwa tiga helai jubah dan satu buah mangkuk cukup bagi kita untuk hidup sederhana. Dari segi makan, para anggota Sangha di zaman Buddha hanya memiliki satu mangkuk untuk berjalan mengumpulkan dana makan dari umat. Juga sangat sederhana. Kehidupan orang zaman sekarang juga bisa sangat sederhana
Untuk bisa kenyang, kita cukup makan satu atau dua mangkuk nasi dan beberapa jenis sayur. Kita juga tak bisa makan terlalu banyak. Sederhana saja. Tempat tinggal juga bisa sangat sederhana. Asalkan bisa terlindung dari terpaan angin dan hujan, kita sudah bisa hidup dengan tenang. Untuk berjalan, kita membutuhkan sepasang kaki. Tak peduli jalan itu dilapisi emas atau perak, kita tetap membutuhkan sepasang kaki untuk berjalan
Asalkan jalan itu terhubung ke tempat tujuan kita, itu sudah cukup. Jadi, bukankah kebutuhan dasar hidup kita sangatlah sederhana? Berbagai masalah yang terjadi di dunia mengakibatkan hati manusia menjadi kacau. Pola pikir kita yang terlalu rumit memicu timbulnya kebodohan. Sebagai praktisi Buddhis, kita harus meninggalkan kebodohan. Saat kebodohan bangkit, kita harus segera melenyapkannya agar hati bisa kembali tenang dan tidak kacau
Saat pikiran kita kacau, maka akan timbul penyakit batin. Setelah terjangkit penyakit batin, tak hanya kehidupan kita yang menjadi kacau, bahkan keluarga dan masyarakat juga akan menjadi kacau. Karena itu, kita harus menjaga pikiran dengan baik. Pandangan kita, pola pikir kita, dan hati kita harus senantiasa dijaga dengan baik. Inilah yang disebut pelatihan diri. Orang pada umumnya menyebutnya pembinaan diri
Kita harus menenangkan dan mengheningkan pikiran untuk mempertimbangkan segala sesuatu dengan baik. Inilah yang disebut membina diri. Kita menyebutnya pelatihan diri. Tujuan pelatihan diri adalah melenyapkan kebodohan dan kekacauan agar kebijaksanaan kita bisa berkembang. Jika batin kita dipenuhi kebodohan dan kekacauan, bagaimana kebijaksanaan kita bisa berkembang? Kita sering mendoakan orang semoga berkembang dalam berkah dan kebijaksanaan. Semua orang memerlukan berkah, terlebih lagi kebijaksanaan. Tujuan kita mendalami ajaran Buddha adalah untuk menumbuhkan kebijaksanaan
Prinsip ini sangatlah sederhana. Setelah melenyapkan kebodohan dan kekacauan, barulah kebijaksanaan kita akan bisa bertumbuh. Jadi, kebijaksanaan sempurna berarti memahami bahwa seluruh pintu Dharma meski berbeda-beda, semuanya berpulang pada satu kebenaran. Dengan mendalami ajaran Buddha, barulah kebijaksanaan kita bisa berkembang hingga menjadi sempurna. Dengan kebijaksanaan yang sempurna, secara alami kita bisa memahami segala kebenaran. Sesungguhnya, Buddha mengajarkan berbagai metode untuk menunjukkan kepada kita bahwa jalan ini sangat sederhana. Meski tiap metode berbeda-beda, namun sesungguhnya itu semua menunjukkan jalan yang sama kepada kita
Berhubung semua makhluk memiliki sifat dan kemampuan yang berbeda-beda, maka Buddha membuka 84.000 pintu Dharma. Orang zaman dahulu berkata, banyak jalan menuju Chang’an. Sesungguhnya, seluruh pintu Dharma yang Buddha ajarkan, semua berpulang pada satu pintu yang sama, sebuah pintu yang sempurna, yakni kebenaran tertinggi. Karena itu, sering dikatakan, “Saat satu kebenaran dipahami, segala kebenaran akan disadari
” Berbagai prinsip kebenaran sesungguhnya berpulang pada satu kebenaran. Jadi, semua ini bergantung pada apakah kita memiliki kebijaksanaan sempurna, dapat memahami ajaran yang Buddha babarkan untuk membimbing kita perlahan-lahan, dan dapat menerima ajaran dengan baik. Dengan begitu, kita baru bisa memahami kebenaran. Semua ini bergantung pada pikiran kita. Kita harus menggunakan pikiran yang sederhana untuk menerima ajaran. Kita mungkin mendengar ajaran dengan pikiran yang kacau dan penuh kebodohan
Jika mendengar ajaran dengan pikiran kacau, maka sebaik apa pun ajaran yang kita temui, kita akan tetap gagal memahaminya. Jika kita dapat menerima ajaran dengan pikiran murni dan lurus, maka ajaran ini akan sangat bermanfaat. Jadi, ini bergantung pada apakah pikiran kita dapat menyatu dengan kebenaran. Dahulu saya pernah berkata bahwa hanya gemar mendengar banyak ajaran, malah sulit memahami kebenaran. Jika kita hanya berkata, “Saya suka mendengar Dharma, saya suka mengkaji Dharma, saya terus membaca buku, yang ini saya kaji, yang itu saya kaji,” maka kita akan sulit memahami kebenaran. Kita tak akan dapat benar-benar memahami kebenaran
Tidak akan. Jadi, kita harus mempertahankan tekad di jalan pelatihan hingga jalan ini terasa lapang. Saya sering berkata kepada kalian bahwa jika dapat mempertahankan tekad awal, kita pasti dapat mencapai kebuddhaan. Niat saat pertama kali bertekad untuk melatih diri adalah yang paling sederhana. Itu adalah tekad yang sederhana
Jadi, kita harus mempertahankannya. Kita harus mempertahankan tekad awal dan menjalankan praktik sesuai ajaran. Ini yang disebut mempertahankan tekad di jalan pelatihan hingga jalan ini terasa lapang. Jalan ini adalah jalan yang lapang, sangat sederhana, dan tidak rumit. Jadi, jika kita dapat melakukan ini, maka tak peduli berapa banyak ragam sifat semua makhluk dan berapa banyak metode yang Buddha ajarkan, kita akan dapat menerimanya dengan mudah. Contohnya, Buddha mengajarkan metode pelafalan nama Buddha
Apakah dengan melafalkan sepenggal nama Buddha karma buruk akan langsung lenyap? Bukan begitu. Sesungguhnya, metode ini mengajarkan kita untuk menjadi orang yang sederhana dan tidak menambah noda batin. Dengan mendengar dan melafalkan sepenggal nama Buddha, banyak kerisauan akan lenyap. Contohnya, saat dimarahi orang, kita melafalkan nama Buddha dan mengingatkan diri untuk tidak marah. Dengan begitu, kita tak akan membalas. Contoh lain, saat ada orang yang bilang seseorang yang lain sedang mencurigai kita, kita segera melafalkan nama Buddha dan mengingatkan diri bahwa orang itu belum tentu berniat jahat
Dengan begitu, kita tak akan memicu masalah baru atau pertikaian. Metode pelafalan nama Buddha diajarkan agar kita dapat menjaga dan memusatkan pikiran. Ini juga disebut mempertahankan tekad melatih diri. Tujuan terpentingnya adalah kita dapat memahami hati Buddha. Bukan berarti dengan melafalkan nama Buddha bisa langsung mencapai pencerahan
Jika sembari melafalkan nama Buddha, kita tetap bersikap perhitungan, maka tak ada gunanya. Seharusnya, saat melafalkan nama Buddha, segala pemikiran yang rumit dapat segera kita lenyapkan. Kita membangkitkan pikiran yang baik. Dengan adanya pikiran baik, tutur kata juga akan baik. Dengan adanya pikiran baik tanpa niat jahat, perbuatan kita juga akan baik. Jadi, intinya adalah kebajikan
Saudara sekalian, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus belajar kesederhanaan. Semua ini berpulang pada kebenaran. Dengan begitu, kita tak akan menyimpang. Dengan pandangan yang tidak menyimpang, perilaku juga tak akan menyimpang. tindakan kita tidak akan salah. Dengan begitu, kita akan lepas dari tindakan bodoh
Setelah Buddha parinirvana, ajaran Buddha masih sangat termasyhur. Banyak raja yang memeluk ajaran Buddha dan mendukung penyebaran ajaran Buddha. Para anggota Sangha juga berlatih dengan sungguh-sungguh. Jadi, raja menjadikan anggota Sangha sebagai guru. Salah satunya adalah Raja Milinda. Beliau sangat menghormati Bhiksu Nagasena dan sering mengundang Bhiksu Nagasena untuk berdiskusi di istana
Suatu hari raja bertanya pada Nagasena apakah kebajikan harus ditanam di awal atau ditanam kemudian. Bhiksu Nagasena menjawab dengan balik bertanya apakah kita harus merasa haus terlebih dahulu baru menggali sumur atau lebih dahulu menggali sumur sebelum haus. Raja menjawab bahwa tentu saja kita harus menggali sumur terlebih dahulu agar bisa langsung minum saat haus. Benar. Nagasena kembali bertanya kepada raja, apakah kita harus lapar terlebih dahulu baru bercocok tanam ataukah bercocok tanam terlebih dahulu agar dapat menyimpan hasil panennya. kita tentu saja harus bercocok tanam terlebih dahulu. Kita harus membuat persiapan agar saat lapar kita memiliki beras untuk dimakan. Seharusnya prinsipnya seperti itu
Karena itu, Buddha mengatakan bahwa manusia harus segera berbuat baik sekarang juga, jika menunda-nunda, maka tak akan bermanfaat. Artinya, sebagai manusia, kita harus senantiasa membangkitkan niat untuk berbuat kebajikan. Jika menunggu sampai bencana tiba baru berpikir untuk melenyapkan bencana, yang artinya baru mau menciptakan berkah, yang artinya baru mau menciptakan berkah dengan berdana, apakah sempat? Tidak sempat. Jadi, jangan menunggu hingga bencana datang, kita baru memohon berkah atau menciptakan berkah. Itu sudah terlambat. Jadi, tak akan bermanfaat jika menunda-nunda. Janganlah kita meninggalkan jalan kebenaran dan beralih ke jalan sesat
Yang terpenting dalam melatih diri, saat menapaki jalan agung ini, janganlah kita sengaja melakukan penyimpangan. Ini tidaklah benar. Kita tahu bahwa jika pikiran benar, jalan kita juga akan benar; jika pikiran salah, jalan juga akan salah. Kita sering mendengar bahwa jalan kebenaran tak boleh lepas dari pikiran. Pikiran kita harus mengarah pada jalan yang benar ini. Buddha selalu mengajarkan kepada kita untuk selalu mengarah pada kebenaran
Jika dapat melakukan ini, barulah pikiran kita tidak akan bodoh atau kacau. Pikiran sungguh menakutkan. Di dalam kotak surat kita, saya melihat sebuah artikel yang sangat menyentuh. Kita memiliki sebuah rumah sakit di Fuding. Jalinan jodoh ini matang saat insan Tzu Chi berkunjung ke rumah sakit itu dan melihatnya sudah cukup tua. Insan Tzu Chi tak tega melihatnya
Kita juga tahu bahwa di RS Fuding ini, para dokter, kepala RS, dan perawat sangat yakin terhadap Tzu Chi. Saat kita mengadakan baksos, mereka juga ikut serta dan bekerja sama dengan kita. Hubungan kita dengan mereka sangat baik. Kita melihat RS ini harus merawat banyak warga setempat yang sakit. Rumah sakit itu harus merawat seluruh warga yang sakit di sana. Akan tetapi, kondisi RS itu sangat memprihatinkan. Kita juga tak tega melihatnya
Jadi, kita membangun gedung baru bagi mereka. agar saat mereka memberi pelayanan medis, keamanan para pasien lebih terjamin dengan fasilitas yang lebih memadai. Jadi, kita menghimpun kekuatan dari para donatur di Hong Kong, Tiongkok, dan Taiwan. Mereka menyambut baik rencana kita. Mereka pun mengumpulkan dana untuk membangun gedung rumah sakit. Saya sangat bersyukur. Setiap kali menemukan kasus pasien, insan Tzu Chi pasti membawanya ke RS itu
Para staf di RS itu sangat bersatu hati dan harmonis, sama dengan para staf RS kita di Taiwan. Setelah menemukan kasus yang memerlukan bantuan, insan Tzu Chi akan melaporkannya ke RS itu. Ada seorang anak perempuan muda. Di sekolah, dia adalah siswi berprestasi, tetapi sifatnya cukup angkuh dan keras kepala. Suatu hari dia bertengkar dengan kakaknya. Karena emosi sesaat, dia melompat dari lantai tiga rumahnya, lalu dilarikan ke rumah sakit Tzu Chi Fuding. Dia dirawat di departemen ortopedi di lantai 10 rumah sakit
Berdasarkan vonis dokter, anak itu dapat diselamatkan, tetapi anak berusia belasan tahun ini berkemungkinan mengalami kelumpuhan permanen karena tulang bagian bawahnya terluka parah. Saat dia dirawat di rumah sakit, para dokter dan perawat sangat memperhatikannya. Berhubung tidak tega kepada anak itu, perawat melaporkan kasus ini kepada Tzu Chi. Relawan kita segera pergi menjenguk dan berinteraksi dengannya. Mereka menjalin jodoh baik dengannya. Setelah berselang beberapa waktu, anak ini diperbolehkan pulang. Tubuh bagian bawahnya tak bisa bergerak
Relawan kita pun sangat bersungguh-sungguh. Anak ini baru berusia belasan tahun, otaknya masih sangat cemerlang, dia juga sangat berprestasi di sekolah. Jika harus terus berbaring di tempat tidur, bagaimana jadinya? Jadi, insan Tzu Chi kembali mendiskusikan kasus ini kepada para dokter dan kepala rumah sakit. Pihak rumah sakit lalu menunjuk seorang koordinator. Beliau adalah dr. Ma. Kepala RS menyampaikan kasus ini kepada dr
Ma dan memintanya bekerja sama dengan insan Tzu Chi. Jadi, dibentuklah satu tim yang terdiri atas ahli fisioterapi, ahli tulang, dan ahli saraf. Para dokter memeriksa anak ini, membantunya menjalankan terapi, dan mengarahkan ibu sang anak untuk membantu anaknya melakukan terapi. Setelah beberapa waktu, tulangnya dapat dibungkukkan. Tulangnya sudah dapat dibungkukkan sedikit. Meski belum dapat bergerak leluasa dan pergerakannya belum signifikan, namun ini menunjukkan adanya harapan
Anak perempuan ini sangat gembira dengan adanya pendampingan dan perhatian dari insan Tzu Chi serta dokter. Jadi, dr. Liu bertanya padanya, “Jika waktu bisa diputar kembali, saat bertengkar dengan kakakmu, apakah kamu akan lompat dari atas gedung?” Dia menjawab, “Saya sekarang sangat takut.” “Waktu tak akan pernah bisa diputar kembali.” “Sekarang saya sangat takut.” Jadi, fisiknya diobati, dia juga mendapat pendidikan batin. Sekelompok insan Tzu Chi di sana sangat memperhatikannya
Dia sudah tertolong dan hatinya sudah terbuka. Selain itu, lututnya juga sudah dapat digerakan sedikit. Dia dapat melakukan terapi sendiri. Kesempatannya untuk bisa berdiri kembali sudah lebih besar. Lagi pula, prestasi belajarnya sangat baik dan banyak mendapat penghargaan. dr. Liu juga menyemangatinya, “Kamu jangan terus berbaring di tempat tidur.” “Kamu harus mengulang pelajaran
” “Meski sedang cuti sekolah, tetapi jangan sampai tinggal kelas, kamu harus tetap mengejar ketinggalan.” Dia pun menyetujuinya. Kebodohan dan kekacauan pikiran hanya timbul sesaat. Lihatlah, sebersit pikiran gegabah membuat anak perempuan ini berkemungkinan lumpuh seumur hidup. Beruntung, ada sekelompok orang baik yang merupakan Bodhisattva dunia, yang mendampingi dan membimbing batinnya serta membantu terapi fisiknya sehingga dia memiliki harapan. Demikianlah cara kita mempelajari kebenaran. Mempelajari kebenaran berarti berusaha menyelaraskan batin kita agar jauh dari kebodohan dan kekacauan. Inilah yang harus dipelajari sebagai praktisi Buddhis. Jika tidak, maka pikiran menyimpang yang timbul sesaat dapat membawa dampak yang tak terbayangkan. Mempelajari ajaran Buddha sangat sederhana
Kita berada dalam lingkungan yang hening, namun pikiran kita juga harus benar. Jadi, jika hanya gemar mendengar banyak ajaran, malah sulit memahami kebenaran. “Dengan mempertahankan tekad, jalan ini akan terasa lapang.” Jadi, pikiran tak boleh menyimpang sedikit pun
Baiklah, semua harus lebih bersungguh hati.