Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 154 – Enam Praktek 10 Praktek Bagian 4

Saudara se-Dharma sekalian, saat berada dalam kondisi yang tenang dan hening, apakah kalian melihat ke dalam batin sendiri? Apakah kita memperhatikan setiap tarikan dan embusan napas kita? Di dalam pelatihan diri, ini termasuk wujud kasar. Jika nafas yang berwujud kasar saja tidak kita perhatikan, bagimana kita bisa memperhatikan bentuk pikiran yang halus? Karena itu, dalam melatih diri, semuanya tak terlepas dari bentuk-bentuk pikiran. Kita sering membahas tentang bentuk pikiran dan kondisi yang selalu berubah

 Tanpa disadari, kita melewati setiap hari. Waktu terus berlalu tanpa kita sadari. Karena itu, kita harus senantiasa meningkatkan kewaspadaan. Tindakan kita yang berwujud dan bentuk-bentuk pikiran kita yang halus, semuanya adalah objek pelatihan diri. Di dalam praktik sepuluh praktik, yang keempat adalah praktik tanpa batas. Apakah yang dimaksud praktik tanpa batas? Marilah kita lebih bersungguh hati. Kita sering mendengar istilah ini di dalam Sutra Buddha

 Akan tetapi, apakah kita sungguh-sungguh memahaminya? Kata-kata ini sangatlah sederhana. Kita harus membimbing semua makhluk sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing. Buddha datang ke dunia demi membimbing semua makhluk. Makhluk yang dimaksud tentu bukan hanya manusia. Buddha berkata bahwa semua makhluk yang bernyawa memiliki hakikat kebuddhaan. Jadi, alam manusia adalah titik pusat

 Untuk terlahir di alam surga, kalian tetap harus mempraktikkan sepuluh kebajikan. Buddha mengajarkan kepada kita bahwa jika ingin terlahir sebagai dewa, kita harus mempraktikkan sepuluh kebajikan. Dengan banyak berbuat kebajikan, kelak kalian bisa menikmati berkah di alam surga. Sebaliknya,  jika kalian ingin tetap terlahir sebagai manusia, maka kalian harus menaati lima sila. Dengan menaati lima sila, barulah pada kehidupan mendatang, kalian bisa terlahir sebagai manusia. Adakalanya, Buddha bermanifestasi sebagai makhluk di alam surga demi membabarkan Dharma di sana

 Ini karena di alam surga  kebuddhaan tak dapat dicapai. Buddha berharap mereka dapat mempertahankan kondisi batin yang murni dan jernih. Akan tetapi, para makhluk di alam surga hanya tahu menikmati berkah sehingga hakikat murni mereka cenderung tertutup. Karena itu, Buddha memanifestasikan diri untuk membimbing mereka. Di dalam Kitab Jataka juga dikisahkan Interaksi Buddha dan makhluk alam surga. Buddha berusaha membimbing para makhluk di alam surga

 Kisahnya sangat banyak. Selanjutnya adalah alam manusia. Kita sudah melihat kehidupan di alam manusia ini. Ada orang yang baik hati, hidup kaya secara materi dan batin. Mereka bagaikan makhluk di alam surga yang bisa menikmati hidup dan memiliki kekuatan untuk membantu orang lain

 Mereka hidup kaya secara materi dan batin bagai makhluk di alam dewa. Ada orang yang jauh lebih kaya dari orang yang kaya batin dan materi, yaitu para praktisi. Baik Sravaka, Pratyekabuddha, Bodhisattva, maupun Buddha, adalah buah-buah pencapaian yang diperoleh lewat pelatihan di alam manusia. Ada orang yang memiliki kondisi batin jernih dan bebas noda seperti Buddha. Mereka bisa merangkul dan membimbing semua makhluk dengan kebijaksanaan yang penuh cinta kasih. Di alam manusia banyak orang seperti itu. Karena itu, Buddha mengajarkan kepada kita bahwa jika melihat orang dengan hati Buddha, maka setiap orang adalah Buddha

 Di dunia ini terdapat banyak hal yang tak terlihat oleh mata manusia awam. Di hadapan kita, terdapat banyak kondisi seperti Buddha ataupun Bodhisattva. Lihatlah, di dalam Dunia Tzu Chi, terdapat banyak sekali Bodhisattva. Bahkan kini kita dapat melihat banyak organisasi amal dan banyak orang baik yang berkontribusi bukan demi diri sendiri, melainkan demi orang lain. Mereka juga Bodhisattva dunia. Tak peduli apa pun agama yang mereka anut, dari sudut pandang agama Buddha, mereka semua adalah orang baik

 Mereka yang berkontribusi demi orang lain, bukan demi diri sendiri, kita harus menganggap mereka sebagai Bodhisattva. Jadi, di alam manusia juga terdapat Bodhisattva. Ada pula pratyekabuddha yang memiliki tingkat kebijaksanaan sangat luar biasa, namun hanya melindungi diri sendiri. Dia tidak terjun ke tengah masyarakat. Meski memiliki kebijaksanaan yang tinggi, tetapi dia kekurangan cinta kasih. Inilah prayetkabuddha. Meski melatih diri untuk pencapaian pribadi, tetapi dia juga tidak berbuat jahat

 Berikutnya adalah Sravaka. Sravaka sangat banyak mendengar ajaran. Mereka juga memahami banyak ajaran. Meski sudah mendengar sangat banyak, tetapi mereka tidak bertindak secara nyata. Mereka hanya terus mendengar Dharma, tetapi tidak melakukan praktik nyata. Di dalam Sutra Bunga Teratai Buddha juga menyindir mereka

 Meski setiap hari berada di sisi Buddha, mereka tidak membangkitkan hati Bodhisattva untuk menolong semua makhluk. Jadi, ini juga bukan yang Buddha harapkan. Orang seperti ini juga banyak di alam manusia. Banyak orang yang hanya mendengar Sutra. Kembali ke pembahasan tentang alam surga. Tadi kita sudah membahas bahwa makhluk alam surga hanya menuai berkah yang ditanam di masa lalu

 Karena itu, mereka terlahir di surga, tetapi belum tentu suci. Batin mereka belum tentu murni. Dewa juga adakalanya takut kedudukan mereka dirampas orang lain sehingga mencari berbagai cara untuk menghalangi orang berbuat baik. Jadi, Mara ini mengganggu tekad orang lain dalam melatih diri. Di alam manusia juga demikian. Ada juga orang seperti ini, yang selalu menghalangi orang melatih diri dan membuat hati orang lain tidak tenang, contohnya, “Kamu hanya membina berkah, tidak membina kebijaksanaan

” Banyak yang seperti ini, tidak bisa turut berbahagia atas usaha orang lain. Mereka sangat memiliki berkah, tetapi tidak menjaga tutur kata dan tidak melakukan sumbangsih nyata. Inilah orang yang bagaikan hidup di surga. Pikirannya masih penuh kerumitan. Mengenai manusia, untuk menjadi manusia seutuhnya tidaklah mudah. Saya sering berkata bahwa jika kualitas sebagai manusia tercapai, kualitas sebagai Buddha juga akan tercapai

 Kita semua hendaknya dapat sungguh-sungguh melatih diri untuk menyempurnakan kualitas sebagai manusia. Ada orang yang begitu kita lihat, Kelihatannya sangat berkepribadian baik, tetapi saat mendapat masalah, dia kehilangan pengendalian diri. Jadi, dalam melatih diri, baik untuk mencapai tingkat kebuddhaan, tingkat Bodhisattva, Pratyekabuddha, maupun Sravaka, semua harus dimulai dari menjadi manusia. Dari sepuluh alam Dharma, dunia manusia ini disebut pertemuan antara lima alam. Apa yang dimaksud lima alam? Alam surga, alam manusia, neraka, alam seten kelaparan, dan alam binatang. Inilah dunia makhluk awam

 Makhluk alam surga juga termasuk awam. Manusia juga demikian. Apalagi makhluk neraka, setan kelaparan, dan binatang. Semuanya adalah makhluk awam. Jadi, di tengah lima alam ini, kita hendaknya membimbing semua makhluk sesuai kemampuan mereka. Terhadap orang yang bijaksana, kita juga harus menggunakan kebijaksanaan untuk membimbing mereka

 Terhadap orang yang menderita, kita harus menggunakan welas asih Kita membimbing orang sesuai sifat dan kemampuannya masing-masing. Karena itu, Buddha membutuhkan waktu tiga asamkhyeya kalpa untuk berlatih. Kita harus berlatih dari kehidupan ke kehidupan. Di dalam Sutra sering dikisahkan bagaimana Buddha menyelamatkan makhluk alam neraka. Lihatlah, Bodhisattva Ksitigarbha juga berikrar bahwa jika neraka tidak kosong, Beliau tak akan mencapai kebuddhaan. Dalam proses untuk mencapai kebuddhaan, Beliau berikrar sesuai kondisi makhluk neraka

 Beliau membimbing makhluk neraka. Demikianlah para Buddha dan Bodhisattva membimbing makhluk awam sesuai kondisi dan kemampuan makhluknya. Kita juga pernah mendengar Sutra Raja Rusa. Di sana dikisahkan Buddha membimbing para binatang. Jadi, dikatakan, “Tiga masa adalah setara, sepuluh penjuru dapat ditembus.” Tiga masa adalah masa lalu, masa kini, dan masa depan

 Dari masa lampau, Buddha melatih diri, senantiasa membangkitkan tekad dan menjalankan praktik nyata. Kita harus bertekad. Tekad apa? Tekad Bodhisattva. Tekad apa yang harus dimiliki Bodhisattva? Tekad praktik Enam Paramita. Praktik Enam Paramita mencakup berbagai macam praktik. Artinya, kita harus menggunakan berbagai metode untuk membimbing semua makhluk. Jadi, dibutuhkan waktu yang lama dari masa lalu, masa kini, hingga masa depan

 Dengan tekad seperti ini, kita menembus sepuluh penjuru. Sepuluh penjuru adalah timur, barat, selatan, utara, atas, dan bawah. Ini yang disebut sepuluh penjuru, sangat merata. Bumi ini berada di ruang angkasa. Di bumi ini terdapat banyak makhluk hidup. Bumi ini sangat luas, apalagi alam semesta ini

 Ia meliputi sepuluh penjuru, yakni utara, barat, selatan, utara, atas, dan bawah. Praktik kita harus seluas ini. Karena itu, saya sering berkata tentang waktu, ruang, dan hubungan antarmanusia. Semua itu mencakup alam semesta. Jadi, kita harus membimbing semua makhluk sesuai kemampuan mereka, sifat mereka, dan sesuai jenis mereka. Berbagai makhluk yang berbeda jenis harus kita bimbing dengan teladan nyata. Jadi, kita harus membimbing semua makhluk di mana pun berada dan sampai kapan pun sejak masa lalu yang tak terukur, masa kini, hingga masa depan, hingga waktu yang tak terukur

 Kita harus membangkitkan tekad ini. Dengan tekad yang penuh kesabaran ini, barulah kita dapat benar-benar melatih diri. Kita juga harus mengatasi batasan ruang. Kita harus membawa manfaat di mana pun berada. Inilah yang disebut tanpa batas. Inilah praktik tanpa batas. Kedengarannya memang sederhana, tetapi sesungguhnya mengandung banyak aspek halus. Karena itu, kita harus senantiasa bersungguh hati

 Dalam Sutra Buddha terdapat sebuah kisah tentang pelita tanpa batas

 Ini adalah sebuah perumpamaan agar kita tidak meremehkan diri sendiri. Saya pernah mengulas cerita tentang pelita. Saat seseorang menyalakan sebuah pelita, maka banyak orang dapat mengambil api dari pelita itu. Tempat yang gelap pun dapat menjadi terang. Artinya serupa dengan yang tertera dalam Sutra. Dalam Sutra itu dikatakan bahwa ini bagaikan orang yang menyebarkan Dharma kepada ratusan bahkan ribuan orang. Membabarkan Dharma bagai menyalakan pelita. Suatu ajaran yang baik harus terus kita sebarkan tanpa henti untuk membimbing ratusan bahkan ribuan orang

 Contohnya, Kata Perenungan Jing Si. Kata-kata itu mudah diingat, mudah untuk disebarkan, dan mudah diterima orang banyak. Lihatlah, betapa banyak orang yang setelah mendengar kata-kata sederhana itu kehidupannya berubah. Jadi, kita harus menyebarkan Dharma ini untuk membimbing ratusan atau ribuan orang, bahkan sampai tak terhingga. Kita harus terus menyebarkannya bagaikan sebuah pelita yang menyalakan ratusan bahkan ribuan pelita lain sampai tak terhingga sehingga cahaya terus bersinar tanpa padam. Saya ingat dahulu juga pernah menceritakan sebuah kisah

 Alkisah lebih dari seratus tahun yang lalu, di Jepang ada sebuah kuil kuno. Di dalam kuil ini tinggal seorang bhiksuni. Bhiksuni ini sudah berusia lanjut. Beliau sangat berharap ada orang yang dapat mewariskan ajarannya. Kuil ini pun membutuhkan pewaris. Di desa itu ada sebuah keluarga yang memiliki putri yang sangat mengagumkan. Sejak kecil dia suka datang ke kuil itu

 Dia juga suka menemani bhiksuni itu. Hubungan mereka sangat baik. Suatu hari dia mendengar sang bhiksuni menghela napas. Beliau memikirkan siapa yang bisa menjadi pemimpin kuil kelak dan memberi perhatian kepada warga desa agar keyakinan semua orang tidak pudar. Anak ini akhirnya bertekad menjadi bhiksuni dan menyampaikan maksud hati kepada orang tuanya. Orang tuanya merasa dia memang sejak kecil suka berada di kuil, maka mereka pun setuju

 Jadi, pada usia belasan tahun dia sudah menjadi sramaneri. Beberapa tahun kemudian, bhiksuni tua tadi merasa kondisi kesehatannya menurun. Beliau memanggil sramaneri muda itu, lalu berkata, “Saya tahu waktu saya tidak banyak lagi.” “Kamu harus segera bersungguh hati.” “Ingatlah untuk menyalakan pelita hati setiap hari.” “Nyalakan sebuah pelita setiap hari.” Dia selalu mengingat pesan gurunya. Dia selalu menyalakan pelita di altar Buddha

 Setiap hari dia menyalakan satu pelita. Kemudian, gurunya yang sudah tua ini suatu saat tiba-tiba meninggal dunia. Bhiksuni muda ini terus mengingat pesan gurunya, yakni setiap hari menyalakan pelita hati. Dia menuruti pesan gurunya ini, tetapi tidak merenungkan maknanya secara mendalam. Setiap hari dia hanya mempersembahkan pelita. Di desanya itu, dia juga sangat giat bersumbangsih. Akhirnya, tidak sedikit anak muda yang turut meninggalkan keduniawian

 Ada tujuh sampai delapan orang yang menjadi muridnya. Tahun demi tahun terus berlalu. Setiap hari dia terus menyalakan pelita. Jadi, di kuil itu, pelita dinyalakan dan diletakkan di altar Buddha hingga ke halaman luar. Waktu cepat berlalu. Dalam sekejap, 50 tahun telah berlalu. Kondisi kesehatannya juga mulai menurun. Suatu hari, dia juga memanggil murid-muridnya

 Dia berkata kepada mereka, “Tahukah kalian saya setiap hari menyalakan pelita?” “Ya, Guru.” “Tahukah kalian apa maksudnya?” “Tidak tahu.” “Bukankah hanya persembahan kepada Buddha?” “Memang persembahan tulus kepada Buddha.” “Guru saya berpesan kepada saya untuk menyalakan pelita hati.” “Saya mengira cukup memberi persembahan kepada Buddha dengan tulus.” “Akan tetapi, saya sudah tua.” “Saya sering merenung, sebenarnya apa tujuan saya melatih diri?” “Apakah hanya untuk mempersembahkan pelita?” “Apakah hanya untuk menyembah Buddha setiap hari?” “Hanya itu saja?” “Setiap hari saya merenungkan hal ini

” “Apa sesungguhnya manfaat saya melatih diri?” “Apa manfaat yang saya bawa bagi warga desa?” “Saya terus berpikir, dan kini sepertinya saya mulai sedikit sadar.” Murid-muridnya lalu bertanya, “Apakah metode latihan Guru memang mempersembahkan pelita?” Sang guru menggelengkan kepala dan berkata, “Saya teringat guru saya meminta saya menyalakan pelita hati setiap hari.” “Saya hanya menyalakan pelita yang berwujud di luar, hanya terus menambahkan minyak agar api tidak pernah padam.” “Akan tetapi, batin saya sama seperti lilin, kadang merasa bahagia, memerasa sangat tulus, namun adakalanya juga merasa risau.” “Batin saya seperti api di luar yang bisa padam.” “Saya tidak benar-benar menyalakan pelita hati.” “Pelita hati selamanya tidak akan padam.” “Jadi, bisakah kalian tolong hitung berapa pelita yang telah saya persembahkan?” Murid-muridnya segera menghitung

 Mereka berbagi tugas untuk menghitung dari altar Buddha hingga halaman kuil. Jumlahnya adalah 18.080 pelita. Bhiksuni ini lalu menghela napas dan berkata, “Ternyata hanya segitu.” “Selama lebih dari 50 tahun ini saya hanya menyalakan pelita yang berwujud.” “Jika ajal menjemput, pelita-pelita itu juga akan padam.” “Sebelum pelita-pelita di luar padam, pelita hati saya belum juga menyala,” Jadi, dia sangat menyesal, lalu wafat

 Cerita ini meski terjadi lebih dari 100 tahun lalu di sebuah kuil di Jepang, tetapi dapat kita petik hikmahnya sekarang. Mendengarnya, kita juga prihatin. Sang Guru ingin bhiksuni muda tadi menyalakan pelita hati, tetapi apakah dia benar-benar melakukannya?” Teka-teki itu baru terjawab 50 tahun kemudian. Setelah sadar, dia tidak sempat menyalakan pelita hatinya, tetapi pelita yang berwujud telah dia nyalakan sebanyak 18.080 buah. Apakah ini bermanfaat bagi dunia? yang terpenting adalah menyalakan pelita hati kita

 Kita harus terus menyebarkan Dharma. Ajaran yang baik harus terus kita sebarkan. Kata-kata baik bagaikan musim semi. Jika kita dapat selalu bertutur kata baik, maka kita bagaikan membawa musim semi ke dalam hati setiap orang. Sepenggal kata-kata baik dapat membuat orang bersukacita dalam waktu lama. Kebahagiaan dalam Dharma ini harus kita sebarkan di masyarakat

 Jadi, kita harus menyebarkan Dharma bahkan sampai tak terhingga, bukan hanya ratusan atau ribuan. Inilah yang disebut pelita tanpa batas

 Ingatlah bahwa kita harus mengembangkan praktik tanpa batas. Praktik ini harus dimulai dari dalam hati. Kita harus selalu berintrospeksi. Jangan sampai kita tak mampu berintrospeksi atau bahkan tidak sadar saat diri sedang bernapas. Apakah kita kini sedang bernapas? Kita kadang tidak menyadari hal ini, terlebih lagi terhadap pergerakan batin yang halus. Jadi, harap semua selalu bersungguh hati.

Leave A Comment