Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 153 – Enam Praktek 10 Praktek Bagian 3

Saudara se-Dharma sekalian, saat hati kita tenang dan damai, maka kondisi di sekitar kita pastilah terasa sangat harmonis. Ya. Dalam melatih diri, hati kita harus tenang dan damai. Hari ini kita akan mengulas tentang apa saja yang harus dipelajari dalam mempelajari ajaran Buddha. Sebelumnya, kita sudah mengulas tentang sepuluh kediaman, sepuluh keyakinan, dan sepuluh dedikasi. Banyak sekali istilah yang harus kita pahami satu per satu. Pembahasan kita tentang sepuluh kediaman sudah selesai. Selanjutnya, saya berharap kalian semua bisa terus mengingatnya

 Kita sudah membahas tentang praktik pemberian manfaat. Ini sangatlah penting. Selain membangkitkan hati penuh sukacita, kita juga harus memberi manfaat bagi orang lain karena itu berarti kita juga  memberi manfaat pada diri sendiri. Dalam melatih diri, kita harus melatih pikiran dan melakukan praktik nyata. Praktik sepuluh kediaman adalah tentang bagaimana agar batin kita berdiam teguh.

  Sekarang, kita masih harus melangkah lagi. Selain harus mempertahankan keteguhan batin, kita juga harus melakukan praktik nyata. Jadi, kita harus menumbuhkan hati penuh sukacita sekaligus memberi manfaat bagi semua makhluk. Ini semua sudah pernah kita bahas sebelumnya. Harap semua orang senantiasa bersungguh hati

 Hari ini, kita akan melanjutkan ulasan tentang praktik sepuluh praktik. Yang ketiga dari sepuluh praktik adalah praktik tanpa kebencian. Kita harus memiliki hati penuh sukacita dan selalu memberi manfaat bagi semua makhluk. Jika di dalam hati kita terdapat kebencian, maka rasa sukacita akan lenyap. Ini adalah sesuatu yang sudah pasti. Jika kita membangkitkan rasa benci, maka sukacita akan hilang karena pikiran kita hanya satu

 Jika kalian membangkitkan kebencian, secara alami rasa sukacita akan hilang. Artinya, saat membangkitkan kebencian, manusia cenderung memiliki sikap membangkang. Membangkang artinya melanggar prinsip dan menolak bimbingan. Ini semua akibat hati yang dipenuhi kebencian. Karena itu, saya selalu berkata kepada kalian bahwa kita harus senantiasa dipenuhi sukacita. Kita menerima bimbingan dengan sukacita, juga menaati prinsip dengan penuh sukacita

 Jika tak menerima bimbingan dengan hati penuh sukacita, bagaimana kita memberi manfaat kepada orang lain? Jadi, praktik ini mengajarkan kepada kita agar jangan membangkitkan hati penuh kebencian. Saat kebencian terbangkitkan, secara alami kita akan melanggar prinsip. Bahkan saat ada orang berbagi dengan kita tentang ajaran Buddha yang begitu baik, kita juga tak bisa menerimanya. Kita menolak untuk menerima ajaran. Inilah sikap membangkang. Ini bersumber dari hati yang penuh kebencian

 Mulai sekarang, kita harus sangat berhati-hati agar hati kita bebas dari kebencian. Kita harus mewujudkan praktik tanpa kebencian untuk memberi manfaat bagi dunia. Inilah yang harus kita latih. Dengan memiliki hati yang damai dan tenang, secara alami kita akan bebas dari kebencian. Setelah mendengar begitu banyak Dharma, kita hendaknya menyadarkan diri sendiri

 Sebelumnya, kita juga penah membahas tentang pencerahan setara. Pencerahan setara maksudnya hati kita dan hati Buddha pada dasarnya adalah setara. Hanya saja, sebersit pikiran menyimpang makhluk awam menyebabkan timbulnya kegelapan batin sehingga batin kita menjadi tercemar. Akibatnya, kita menciptakan banyak karma buruk dan masuk ke tataran makhluk awam. Kini kita sungguh harus sadar

 Membangkitkan kesadaran adalah bentuk pelatihan diri. Tujuan pelatihan diri adalah senantiasa meningkatkan kesadaran diri. Dengan menyadarkan diri sendiri, barulah kita bisa mencapai pencerahan yang setara dengan Buddha. Sebelumnya, saya sudah berkata bahwa hakikat kita dengan Buddha pada dasarnya tiada perbedaan. Kesadaran Buddha tidak lebih tinggi dari kita, kesadaran hakiki kita juga tidak lebih rendah dari Buddha. Asalkan mau menyadarkan diri sendiri dan bersedia menapaki jalan yang ditunjukkan oleh Buddha, kita pasti bisa melampaui tataran makhluk awam. Pada dasarnya, hakikat manusia adalah setara dengan Buddha, hanya saja manusia sudah berjalan tersesat

 Kita sangat beruntung karena bisa mendengar ajaran Buddha. Kita harus menerima ajaran Buddha yang akan menuntun kita untuk kembali dari tataran makhluk awam menuju pencerahan. Dengan demikian, barulah kita bisa menyadarkan diri sendiri. Jadi, setiap langkah Buddha bertujuan untuk membimbing kita semua bertujuan untuk membimbing setiap orang agar mengikuti jejak langkah Bodhisattva dengan tekun dan bersemangat. Untuk itu, kita harus menjaga hati dengan baik dan menyadarkan diri sendiri. barulah kita bisa menyadarkan orang lain

 Berhubung sudah tersesat, maka kita harus mengikuti jalan yang ditunjukkan oleh orang di depan kita. Dengan adanya orang yang menunjuk jalan di depan, barulah kita bisa berjalan dengan tenang. Setelah itu, kita harus mengajak orang yang ada di belakang kita untuk menapaki jalan yang benar bersama kita. Jadi, kita harus menyadarkan diri sendiri terlebih dahulu. Setelah mengetahui arah tujuan kita, barulah kita bisa membimbing orang lain untuk menapaki jalan yang sama dengan kita. Inilah yang disebut menyadarkan diri sendiri. Selain bisa menyadarkan diri sendiri, kita juga bisa menyadarkan orang lain

 Kita bisa memberi manfaat bagi diri sendiri sekaligus bagi orang lain. Kita harus mencari jalan terlebih dahulu. Setelah mengetahui jalan yang harus ditapaki, janganlah kita menapakinya sendirian. Jika berjalan sendirian, kita akan kesepian. Kita hendaknya mengajak lebih banyak orang untuk bersama-sama menapaki jalan yang luas dan lapang ini. Karena itu, kita harus menjalin jodoh baik dengan banyak orang. Untuk menjalin jodoh baik dengan banyak orang, kita harus mewujudkan praktik tanpa kebencian

 Kita harus melatih praktik tanpa kebencian agar hati kita bebas dari rasa benci dan rasa marah. Saat terjadi sesuatu dan emosi bangkit, kita harus segera meredamnya. Jika ada kemarahan di dalam hati, maka yang akan muncul selanjutnya adalah kebencian. Ini semua berawal dari kemarahan. Karena kita terus memikirkannya saat marah terhadap sesuatu, maka timbullah rasa benci. Dalam interaksi antarsesama, pastilah ada perbedaan pandangan, maka hendaknya kita berkomunikasi dengan baik dengan hati yang tenang

 Saat timbul pandangan yang berbeda, jika kita tak berkomunikasi dengan baik, maka akan memicu pertengkaran. Ini bisa saja menimbulkan gosip. “Saya yang benar, dia salah.” Akibat sebersit niat kita, kita membuat orang lain sulit membedakan yang benar dan salah. Ini juga merupakan awal dari karma buruk. Jika bisa membangkitkan hati yang damai dan tenang, secara alami kita bisa menghindari banyak masalah

 Semua masalah bermula dari pola pikir manusia. Karena diliputi kemarahan dan kebencian, manusia menjadi tak bertutur kata baik sehingga menciptakan masalah yang tak seharusnya terjadi. Jadi, praktik tanpa kebencian ini sangatlah penting bagi kita sebagai praktisi. Terlebih lagi, dalam kehidupan keluarga. Di dalam sebuah keluarga, jika ada anak yang dipenuhi kemarahan dan kebencian, secara alami dia akan melanggar etika dan menolak bimbingan orang tua. Jadi, kemarahan dan kebencian bisa mengacaukan tatanan sebuah keluarga, terlebih lagi masyarakat. Jika setiap orang di dalam masyarakat bisa menjalankan praktik tanpa kebencian, maka kondisi masyarakat pasti sangat harmonis dan bagaikan Tanah Suci yang bebas dari bencana. Jadi, beberapa kata ini berisi prinsip kebenaran yang harus kalian pahami dengan sungguh-sungguh

 Ada orang mungkin berkata, “Ini hanya bisa dilakukan oleh Bodhisattva.” “Apakah manusia bisa melakukannya?” Saya katakan pada kalian, “Bisa asalkan kita punya tekad.” Ada sekelompok Bodhisattva dunia yang berada di tengah penderitaan untuk membantu banyak orang yang hidup kesulitan. Mereka bersedia bersumbangsih bagi orang banyak. Mereka membalas kejahatan dengan kebaikan. Bukan kebaikan dibalas dengan kejahatan, melainkan kejahatan dibalas dengan kebaikan. Bagaimana agar bisa membalas kejahatan dengan kebaikan? Saya ambil sebuah contoh yang sederhana

 Di Indonesia, ada sekelompok Bodhisattva dunia yang merencanakan pembagian bantuan beras berskala besar. Berapa banyak orang yang akan menerima bantuan beras? Hampir 70.000 keluarga. Mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam. Seluruh umat beragama Islam di Indonesia menjalankan puasa di bulan Ramadan. Selama satu bulan itu, mereka tidak makan dan tidak minum pada siang hari. Setelah matahari terbenam, mereka baru berbuka puasa

 Pada pagi hari sejak matahari terbit, mereka sudah mulai berpuasa. Jika tidak makan seharian, tentu tidak banyak tenaga untuk bekerja. Jadi, pada saat-saat itu, mereka lebih banyak beristirahat, tentu penghasilan pun berkurang. Terlebih lagi, setelah berpuasa satu bulan, mereka akan merayakan Idul Fitri, mirip seperti kita merayakan Tahun Baru Imlek. Setelah selesai menjalankan ibadah puasa, mereka lalu merayakannya seperti kita merayakan Tahun Baru. Di hari libur itu, semua orang saling bersilaturahmi dan harus menjamu tamu, sama seperti kita yang harus menjamu tamu dengan berbagai jenis makanan pada Tahun Baru Imlek. Akan tetapi, pada suatu tahun, Amerika Serikat dilanda badai Tornado yang memorakporandakan daerah penghasil minyak, ditambah dengan adanya perang di Timur Tengah yang membawa gejolak di negara penghasil minyak

 Akibatnya, harga minyak dunia mengalami kenaikan. Begitu harga minyak naik, harga barang-barang pun turut naik. Perekonomian Indonesia pun terguncang. Harga barang-barang di sana naik. Di samping itu, selepas bulan Ramadan, banyak orang yang tidak memiliki pekerjaan. Akan tetapi, hari besar yang penting akan segera tiba. Jika keadaan ekonomi tidak membaik, masyarakat akan bergejolak. Jadi, beberapa pihak mengajukan permohonan kepada Tzu Chi agar Tzu Chi dapat membeli barang kebutuhan lalu menjualnya dengan harga rendah, bahkan lebih rendah dari harga beli agar beban masyarakat lebih ringan dalam memenuhi kebutuhan

 Setelah berita ini disampaikan ke Taiwan, saya lalu berkata kepada mereka bahwa kita memang seharusnya berdana saat orang berada dalam masa-masa sulit. Demi membantu masyarakat di sana, kita tidak mengadakan jual beli. Kita harus memegang prinsip ini. Jadi, kita harus benar-benar berdana. Saya sangat berterima kasih kepada insan Tzu Chi setempat

 Mereka setuju untuk mengadakan baksos besar. Gubernur setempat juga sangat berterima kasih. Tentu penerima bantuan itu adalah warga kurang mampu. Saya juga berterima kasih kepada beberapa perusahaan yang mengutus lebih dari 3.000 orang karyawannya untuk turut membantu dalam baksos itu

 Kegiatan itu diadakan serentak di beberapa titik. Para pengusaha setempat juga terjun langsung dalam kegiatan itu dan bersmubangsih secara langsung. mereka ikut mengangkat beras. Saat kegiatan itu dimulai, gubernur hadir di salah satu titik. Sebelum pembagian dimulai, beliau memberikan kata sambutan yang cukup menyentuh. Gubernur setempat berkata, “Apakah Saudara-saudara masih ingat sejarah kelam tahun 1998?” “Masih ingat?” “Di negara kita terjadi kerusuhan besar.” “Banyak orang yang rumah dan tokonya dijarah

” “Banyak rumah dibakar.” “Banyak bank dibakar.” “Banyak toko dibakar.” “Banyak hal buruk yang terjadi saat itu.” “Apakah Saudara-saudara masih ingat?” “Saat itu, sebagian besar korban berasal dari etnis Tionghoa.” “Hari ini, mereka jugalah yang akan membagikan beras untuk meringankan beban kita.” “Mereka telah banyak bersumbangsih bagi kita

” Selain mengatakan hal itu, gubernur setempat bahkan menyerukan agar semua orang membangkitan rasa syukur dan terima kasih kepada warga Tionghoa. Beliau juga mengimbau semua orang untuk tidak membeda-bedakan agama ataupun suku dan ras. Beliau berkata, “Kita harus bersyukur serta berterima kasih kepada orang-orang ini.” “Mereka telah bersumbangsih banyak bagi kita.” “Mereka membersihkan Kali Angke  dan membangun Rusun Cinta Kasih.” “Mereka tidak menyimpan dendam di hati.” “Kita harus berterima kasih

” “Kita bahkan harus berterima kasih kepada Master Cheng Yen dari Tzu Chi Taiwan dan semua insan Tzu Chi di seluruh dunia.” Sang gubernur tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih dan melontarkan pujian terhadap warga Tionghoa setempat. Meski pernah mengalami diskriminasi, pernah mengalami penolakan, dan pernah menjadi sasaran kerusuhan, mereka tidak menyimpan dendam. Mereka tidak mengungkit sejarah kelam tersebut. Jadi, inilah wujud cinta kasih. Cinta kasih berarti memberi kebahagiaan kepada semua orang di dunia dan merasa senasib sepenanggungan, tidak tega melihat orang lain berbuat salah. Selain itu, bagi praktisi Buddhis, ada satu hal lagi yang patut dikasihani, yakni bencana batin atau kemiskinan batin. Untuk mengatasi bencana dan kemiskinan batin, dibutuhkan cinta kasih dalam membimbing ke arah batin yang kaya, yakni batin yang mampu merasa puas dan bersyukur

 Ini membutuhkan teladan nyata. Jika umat Buddha memiliki hati yang lapang seperti ini, maka dendam dan kebencian akan dapat segera dilenyapkan. Dengan semangat cinta kasih dan welas asih yang dipraktikkan lewat tindakan, insan Tzu Chi membantu mereka yang dalam kesulitan. Karena itu, sang gubernur mengimbau warganya untuk senantiasa berterima kasih. Setelah memberikan kata sambutan, beliau juga turut mengangkat beras dan bersumbangsih. Beliau mengangkat beras bersama seorang Tuan Peng. Tuan Peng ini juga baru pertama kali berpartisipasi

 Tuan Peng ini juga merupakan orang ternama di Indonesia. Beliau sangat bersemangat. Selain mengutus karyawannya, beliau sendiri juga berpartisipasi. Beliau berdiri bersama gubernur dan ikut mengangkat beras. Mereka bahkan mengantarkan beras itu ke rumah penerima bantuan. Orang-orang sangat kagum kepada mereka. Ketika sang gubernur ditanya apakah beliau lelah, beliau menjawab tidak

 Beliau berkata, “Saya baru tahu berbuat baik sangat membahagiakan.” Ketika Tuan Peng ditanya, “Sebelumnya pernah melakukan ini?” “Anda lelah?” Beliau juga menjawab tidak. Meski ototnya terasa sedikit sakit, tetapi beliau sangat gembira. “Saya tak pernah sebahagia ini,” katanya. “Senang sekali.” “Melihat penerima bantuan sangat gembira, saya juga gembira.” Semua orang merasa gembira

 Inilah sukacita dalam Dharma. Setelah berdana, mereka merasakan sukacita. Mereka berkata bahwa meski saat berhasil dalam bisnis dan saat menjamu tamu mereka merasa senang, tetapi tidak pernah sebahagia saat itu. Itulah saat mereka pertama kali membuang rintangan batin. Manusia sering tak bisa mengatasi kemarahan dan kebencian. Akibat kemarahan dan kebencian, Mereka tak bisa memaafkan diri sendiri, apalagi orang lain. Para warga Tionghoa ini, contohnya Tuan Peng tadi, juga menjadi korban pada tahun 1998. Beliau menderita kerugian besar, tetapi beliau masih rela bersumbangsih. Pengusaha mana yang tak mengalami kerugian di tahun 1998? Bahkan ada yang bangkrut

 Akan tetapi, mereka masih rela terjun langsung untuk memindahkan dan membagikan beras. Selain beras, mereka juga membagikan barang kebutuhan lain. Selain beras, mereka juga membagikan minyak, gula, mi instan, biskuit, dan lain-lain agar warga bisa menjamu tamu saat bersilaturahmi di hari raya. Karena itu, pembagian bantuan ini sangat berkesan bagi warga, khususnya umat Islam di Indonesia. Jadi, Saudara sekalian, apa yang tidak dapat dilakukan? Tiada yang tidak dapat dilakukan. Lihatlah, dengan praktik tanpa kebencian, kesulitan apa yang bisa merintangi? Semua dapat diatasi dengan mudah

 Saudara sekalian, kita telah bertekad melatih diri. jika kemarahan dan kebencian belum dilenyapkan dari hati kita, maka pelatihan kita menjadi sia-sia. Jadi, kita harus selalu berusaha melenyapkan kemarahan dan kebencian dalam hati. Kita harus melatih praktik tanpa kebencian. Dengan demikian, barulah kehidupan kita bagaikan di Tanah Suci

 Jadi, harap setiap orang melatih keterampilan ini. Untuk itu, kita harus lebih bersungguh hati.

Leave A Comment