Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 152 – Enam Praktek 10 Praktek Bagian 2

Saudara se-Dharma sekalian, dalam kehidupan sehari-hari, saya berharap semua orang lebih mengasihi diri sendiri. Mengasihi diri sendiri dan semua makhluk, inilah yang Buddha ajarkan pada kita. Demikian pula dalam berlatih ajaran Buddha, salah satunya dalam enam praktik. Sebelumnya kita telah membahas bahwa di dalam enam praktik, dijabarkan lagi mengenai sepuluh keyakinan. Semua ini adalah pelatihan ke dalam diri. Selain itu, ada sepuluh kediaman yang bertujuan meneguhkan pikiran kita

 Kita harus lebih dahulu membangun keyakinan, lalu meneguhkan pikiran sendiri. Ini yang disebut mengasihi diri sendiri. Selain mengasihi diri sendiri, kita juga harus mengasihi orang lain. Karena itu, pembahasan kita berlanjut ke sepuluh praktik. Kita telah membahas tentang praktik sukacita. Kita harus senantiasa bersukacita. Bertekad menjadi bhiksu/bhiksuni bukan berarti hanya berlatih demi diri sendiri. Kita harus mempraktikkan Jalan Bodhisattva. Tujuan Jalan Bodhisattva adalah keluhuran tertinggi, yaitu kebuddhaan. Kita harus mengembangkan sifat luhur, moralitas, serta kualitas pelatihan diri kita untuk memengaruhi semua makhluk

 Inilah keluhuran. Kita harus tekun dan bersemangat di jalan ini, sedikit pun tidak boleh menyimpang. Inilah yang disebut kualitas pelatihan diri, pedoman dalam pelatihan diri kita. Selanjutnya, berhubung kita melatih diri di jalan ini, maka kualitas ini akan terbangun, sehingga dengan sendirinya dari hati kita terpancar keharuman moralitas. Ini menumbuhkan rasa hormat dalam diri orang lain. Inilah keharuman moralitas. Jika kita dapat mencapai kondisi itu, itulah yang disebut keluhuran tertinggi

 Semua ini terwujud lewat teladan nyata, dari ucapan dan perilaku kita. Ini termasuk memberi manfaat bagi orang lain. Jadi, inilah yang disebut sukacita. Berikutnya adalah praktik pemberian manfaat. Arti dari memberi manfaat adalah menyempurnakan karma baik kita. Yang telah kita bahas selama ini, semuanya adalah demi kebajikan. Hindari segala kejahatan, lakukan segala kebajikan, inilah penjelasan yang paling sederhana. Inti ajaran Buddha kepada kita adalah hindari kejahatan dan perbanyak kebajikan

 Selain berlatih bagi diri sendiri, kita harus memperbanyak kebajikan, juga harus menghindari kejahatan. Jadi, dalam kehidupan sehari-hari, kebajikan tidak boleh kurang. Selain dalam diri sendiri kita mengembangkan budi pekerti, kebajikan ini harus kita sebarkan keluar hingga kita mencapai kebuddhaan. Tidak hanya bagi diri kita sendiri, kebajikan ini harus kita sebarkan kepada semua makhluk. Jadi, dikatakan, “Menyebarkan keluhuran;  memberi manfaat bagi semua makhluk.” Kita bukan hanya harus membangkitkan niat baik sendiri, namun juga menyebarkan kebajikan ini agar membawa manfaat bagi semua makhluk. Kita bukan hanya menenangkan hati mereka namun juga membuat mereka mendapat manfaat dari Dharma. Lewat Dharma ini, kita melakukan praktik nyata dan membimbing mereka untuk bersama-sama berjalan dengan kita

 Kita telah mendapat sukacita dalam Dharma, dan juga berharap makhluk lain juga merasakan kebahagiaan yang sama. Sukacita dalam Dharma ini seharusnya kita semua sudah tahu. Setelah melakukan sesuatu, kita merasa damai tanpa beban. Yang paling membuat semua makhluk menderita adalah noda batin yang tebal. Dalam mempelajari ajaran Buddha, apa yang disebut pembebasan? Yakni pelepasan dari segala noda batin hingga jiwa raga kita menjadi tenang dan damai. Inilah kedamaian tanpa beban. Jika setiap hari kita dapat berada dalam kondisi ini, inilah yang disebut manfaat Dharma

 Kita berbagi tentang pencapaian batin kita agar semua orang juga memperoleh manfaat. Kita bersumbangsih dengan sukarela. Setelah bersumbangsih dengan sukarela, kita merasakan sukacita. Selamanya kita berada dalam rasa sukacita ini. Inilah yang disebut manfaat. Jadi, tidak timbul rasa jenuh

 Tanpa rasa jenuh, kita akan terus melangkah maju dan pasti tidak akan malas ataupun berhenti di tengah jalan. Kita seharusnya masih ingat Sutra Bunga Teratai bab Kota Bayangan. Buddha menggunakan perumpamaan untuk membimbing semua makhluk. Beliau menggunakan perumpamaan dengan sesuatu yang disukai semua orang, seperti emas dan perak. Beliau menggunakan perumpamaan yang bersifat duniawi, yakni menceritakan tentang seorang guru pembimbing yang memimpin sekelompok orang. Dia memberi tahu mereka bahwa di suatu tempat yang jauh terdapat sebuah kota penuh permata. Di dalam kota itu, penuh dengan emas, perak, dan permata lainya yang dapat mereka ambil sesuka hati

 Mereka yang mendengar sangat gembira. Semua orang ingin menuju ke sana. Mereka pun berjalan mengikuti guru itu tak pedui jauhnya jarak yang harus ditempuh. Akan tetapi, setelah lama berjalan, mereka mulai merasa lelah. Setelah berjalan jauh, seakan timbul rasa malas dalam hati setiap orang. Mereka merasa sudah lelah. Guru ini lalu berkata kepada semuanya, “Coba lihat, kota permata itu sudah di depan

” “Ayo, semangat!” “Sedikit lagi kita sampai.” Setelah melihat kota itu seakan sudah dekat, mereka kembali mengerahkan semangat untuk terus berjalan. Setelah tiba, semua orang sangat gembira. Mereka beristirahat sejenak. Berhubung sudah sampai, mereka berhenti sejenak. Di kota itu, Guru ini lalu berkata, “Meski kalian sudah sampai di sini, tetapi kota ini hanya perhentian sementara.” “Kota permata yang sesungguhnya masih harus kita tuju.” “Tempat ini hanya merupakan tempat untuk kita istirahat sejenak

” Setelah mendengar ini, semua berpikir, “Toh kita sudah jauh-jauh kemari, sedikit lagi kita juga akan sampai di kota itu.” Jadi, mereka kembali memicu semangat. Setelah beristirahat sejenak, tubuh mereka kembali bugar dan dapat melanjutkan perjalanan. Ini adalah perumpamaan. Buddha adalah guru pembimbing di dunia. Beliau mengajar sesuai kondisi yang ada, bagai dokter yang memberi obat sesuai penyakit. Sesungguhnya, siapakah di dunia ini yang selamanya terhindar dari penyakit? Lahir, tua, sakit, dan mati adalah hukum alam

 Buddha ingin meningkatkan kebijaksanaan kita. Beliau terlebih dahulu memberi tahu kita bahwa Beliau telah melatih diri selama tiga Asamkhyeya Kalpa. Jadi, Buddha bukanlah pendusta. Buddha selalu berkata apa adanya sesuai kebenaran. Buddha sejak awal sudah mengatakan bahwa Beliau melatih diri di dunia ini dari kehidupan ke kehidupan tanpa henti hingga selama tiga Asamkhyeya Kalpa. Jadi, Beliau membimbing makhluk yang tamak dengan kota permata bayangan tadi

 Perlahan-lahan Beliau menuntun agar semua makhluk dapat terbimbing dan memperoleh kemajuan. Akan tetapi, Beliau harus bersabar menghadapi semua makhluk yang memiliki banyak masalah. Jadi, guru pembimbing ini menggunakan metode kota bayangan seraya berkata, “Kita sudah mau tiba.” Padahal kota pertama itu hanyalah persinggahan. Jalan yang harus ditempuh masih sangat panjang untuk mengembangkan jiwa kebijaksanaan kita. Jika tidak menapaki jalan ini, kita tak akan dapat melihat pemandangan di sana. Kita harus bertekad untuk menapaki jalan ini

 Dengan menapaki jalan ini, kita baru dapat benar-benar menyadari kebenaran. Buddha juga memberi tahu kita tentang penderitaan, sebab penderitaan, lenyapnya penderitaan, dan jalan menuju lenyapnya penderitaan. Agar kita dapat menyadari penderitaan, Buddha membimbing kita untuk terjun ke tengah masyarakat untuk benar-benar melihat penderitaan. Setiap hari kita juga mendengar para relawan berbagi tentang pasien yang sakit dan menderita. Mereka yang hidup kekurangan dan sakit sungguh menderita. Selain menderita akibat penyakit, mereka juga hidup kekurangan. Kemiskinan sungguh membawa penderitaan

 Ada pula yang keluarganya tidak harmonis, suaminya tidak baik, istrinya tidak baik, anaknya tidak baik, dan sebagainya. Mereka dilanda penderitaan bertubi-tubi. Melihat penderitaan seperti itu di hadapan kita, kita pun sadar. Inilah pendidikan bagi kita. Inilah pemandangan yang kita lihat sepanjang jalan pelatihan ini. Ini adalah kebenaran, kebenaran tentang penderitaan

 Kebenaran ini bukan hanya teori. Kita dapat benar-benar melihat orang yang mengalami itu. Berhubung kita sedang melatih diri dan berada  di dalam Tzu Chi, barulah kita dapat memiliki kesempatan untuk benar-benar melihat kebenaran tentang penderitaan. Jadi, kita harus tahu bahwa untuk memperoleh manfaat Dharma, kita harus mengembangkan pikiran baik diri sendiri, mengembangkan kegigihan, dan mengembangkan kekuatan tekad. Kita harus bertekad dan berikrar. Jika memiliki tekad untuk melakukan praktik nyata, dengan sendirinya kita akan melakukannya

 Setelah melakukan, tubuh dan hati kita terasa sangat damai. Dalam menghadapi segala sesuatu atau saat ada sesuatu yang merisaukan di sekitar kita, kita dapat dengan mudah berlapang dada dan tidak perhitungan. Bukankah ini adalah cara sederhana agar hati kita selalu dipenuhi sukacita dan bebas dari kerisauan? Contohnya, saat pelatihan di wilayah utara, saya mendengar mereka berbagi dan turut merasakan sukacita dalam Dharma. Saya mendengar mereka pernah menjalani kehidupan tanpa arah. Ada yang memiliki peran sebagai suami. Dia adalah suami yang baik, tetapi istrinya gemar berjudi atau bermalas-malasan

 Berhubung ingin bersumbangsih di Tzu Chi, suaminya ini harus mempersulit diri sendiri. Dia harus menerima semua perlakuan istrinya. Saat istrinya ini kalah berjudi, dia akan memarahi suaminya saat pulang. Saat merasa lapar sepulang berjudi, dia juga akan marah jika sayuran dan nasinya dingin. Jika tidak ada makanan, dia juga akan marah. Suaminya harus menerima semua kondisi ini agar bisa terus menjalankan Tzu Chi. Jadi, dia harus selalu menyiapkan makanan yang hangat sesuai jam makan istrinya

 Dia adalah suami yang lembut. Apakah dia bisa menyadarkan istrinya? Tidak bisa. Akan tetapi, dia tetap bersabar. Kemudian dia memohon kakak iparnya untuk membantu menyadarkan istrinya. Kakak iparnya ini juga seorang Tzu Cheng. Dia dan istrinya hidup bahagia. Mereka mencoba menyadarkan adik iparnya ini, tetapi tetap tidak berhasil. Kemudian, seorang guru dari Asosiasi Guru Tzu Chi berbincang-bincang dengannya dan memberinya buku

 Saat membaca buku tersebut, dia tiba-tiba merasa sukacita. Setelah memberikan buku, guru itu mulai mengajaknya berpartisipasi dalam kegiatan Tzu Chi. Sang istri ini pun merasa, berhubung telah menerima buku dari guru itu, maka dia harus menerima ajakannya. Dia merasa tidak enak hati jika tidak ikut. Dengan pemikiran ini, dia menerima ajakan guru itu. Dalam kegiatan itu, dia melihat semua orang sangat gembira, begitu harmonis dan saling mengasihi. Saat berpartisipasi dalam kegiatan itu, dia sendiri merasa gembira. Setelah melakukan kegiatan itu, dia merasa bagai mendapat permata

 Sejak saat itu, saat ada yang mengajak ikut kegiatan lagi, dia menerimanya dengan sukacita. Dia bahkan berpesan kepada orang lain untuk mengajaknya jika ada kegiatan. Dia mulai berinisiatif. Dia adalah seorang ibu muda yang tadinya sangat keras kepala. Lihatlah, sudah tiga orang yang berusaha menyadarkannya. Akan tetapi, tidak selalu orang terdekat yang mampu menyadarkan. Tidak selalu kerabat sendiri yang mampu menyadarkan

 Yang bisa menyadarkannya malah orang lain. Ini juga bergantung pada jalinan jodoh. Dia bersumbangsih dengan penuh sukacita. Inilah praktik nyata. Asalkan dapat menemukan jalan, dia juga dapat merasakan sukacita. Ada pula seorang relawan yang setelah bergabung dengan Tzu Chi, usahanya malah menjadi tidak stabil dan mengalami kerugian besar. Akan tetapi, meski menghadapi kondisi demikian, dia tetap tekun dan bersemangat di Tzu Chi

 Ada orang yang berkata padanya, “Kamu masih terus menjalankan Tzu Chi?” “Lihat saja usahamu, sudah mengalami krisis seperti itu, kamu masih menjalankan Tzu Chi bagai mabuk.” Akan tetapi, hatinya tetap teguh. Dia merasa kerugian usaha hanyalah masalah waktu dan peluang, sama sekali tidak ada hubungan dengan Tzu Chi. “Saya ada waktu, maka saya lakukan.” “Saat melakukan, saya dapat melupakan kerisauan saya.” “Saya dapat memperoleh banyak sukacita.” “Saya masih harus lebih bersemangat.” “Usaha tidak lancar karena kondisi masyarakat

” “Karena itu, saya harus lebih bersemangat agar masyarakat lebih harmonis dan damai.” “Kerugian pribadi bukan apa-apa.” Lihatlah, dia tidak mengeluh ataupun menyesal. Inilah pemandangan yang baru dapat kita lihat jika menapaki Jalan Bodhisattva. Jadi, di dalam Sutra juga dikatakan, “Dapat memberi manfaat bagi semua makhluk.” Inilah yang disebut pemberian manfaat. Jadi, di dalam Sutra juga dibahas mengenai praktik dana yang sempurna. Ada salah satu bait di Sutra itu yang membuat saya sangat sukacita

 Isinya berbunyi, Artinya, kita harus memiliki cinta kasih. Dengan adanya cinta kasih yang tidak mementingkan hubungan kekeluargaan, kita berharap setiap orang bahagia, masyarakat damai dan tenteram. Demi kebahagiaan semua orang dan ketenteraman masyarakat, kita rela untuk terus bersumbangsih. Ini yang disebut dengan cinta kasih bersumbangsih bagi manusia dan makhluk lain. Welas asih adalah iba terhadap semua makhluk. Semua makhluk patut dikasihani karena tak bisa membedakan benar salah

 Banyak orang yang berkeyakinan sesat dan hidup menyimpang. Dengan begitu, mereka pasti menderita. Karena itu, kita tidak tega melihat mereka menderita. Jadi, welas asih adalah iba terhadap semua makhluk yang menyimpang dalam perilaku dan cara hidup. Ini yang disebut rasa senasib sepenanggungan. Sukacita Berarti bersimpati atas pencapaian orang lain. Melihat orang lain berjodoh dengan ajaran Buddha dan bertekad menapaki Jalan Bodhisattva, kita harus turut bersukacita. Melihat mereka terus tumbuh di Jalan Bodhisattva, mengubah keterampilan menjadi potensi bajik, memperluas manfaat bagi diri sendiri menjadi manfaat bagi orang banyak, kita pun turut bersukacita atas pencapaian mereka

 Melihat pencapaian orang lain, kita turut bersukacita atas kebajikan mereka. Berikutnya adalah melindungi semua makhluk. Berhubung telah membimbing orang lain menapaki Jalan Bodhisattva, kita bukan hanya harus membuat mereka bersukacita, namun juga harus melindungi mereka. Kita harus melindungi mereka agar tidak kehilangan tekad melatih diri. Jadi, kita harus selalu melindungi mereka. Berikutnya adalah melintasi langit dan bumi. Lihatlah, begitu banyak makhluk yang menderita di dunia ini

 Pada masa-masa seperti ini, insan Tzu Chi yang merupakan Bodhisattva dunia telah menyebar ke daerah-daerah bencana. Mereka tak gentar akan kesulitan demi menolong orang yang menderita. Selain itu, juga membasuh sungai dan laut. Kita bukan hanya melintasi langit dan laut, bahkan juga menyayangi lautan. Kita bukan hanya menyayangi tanah. Masih ingatkah kalian para relawan daur ulang kita membersihkan gunung dan laut? Bahkan di Pulau Liuqiu, para relawan daur ulang menggunakan perahu yang dulunya digunakan untuk menangkap ikan untuk berlayar dan memunguti sampah di tengah laut

 Bukankah ini yang dimaksud membasuh sungai dan laut? Mereka menginspirasi para nelayan di sana. Demikianlah para Bodhisattva dunia kita. Kita bisa melakukannya. Jadi, kita berdana bagi semua makhluk. Saat mereka lapar, saat mereka haus, kita memberi mereka minum. Saat mereka kedinginan, kita memberi mereka pakaian hangat. Saat mereka kepanasan, kita memberi mereka kesejukan

 Para korban bencana yang tak memiliki tempat tinggal kita berikan tempat tinggal agar mereka dapat memulihkan fisik mereka. Orang yang sakit kita berikan obat. Orang yang harus berjalan jauh dan tidak sanggup melanjutkan perjalanan kita berikan pendampingan. Adakalanya kita berikan tumpangan. Lihatlah insan Tzu Chi di Singapura dan Malaysia. Mereka melakukan hal yang sama dengan insan Tzu Chi Taiwan, yakni mengantarkan pasien penerima bantuan dengan kendaraan untuk mengambil dana bantuan

 Mereka membuat para pasien merasa bahagia. Inilah praktik dana yang sempurna, tanpa celah sedikit pun. Inilah wujud cinta kasih. Saat membaca penggalan Sutra itu, saya merasa sangat sukacita. Bukankah pemberian manfaat bagi semua makhluk ini semua sudah kita lakukan? Kita penuh sukacita. Menyadari banyaknya penderitaan di dunia, Buddha mengajarkan kepada kita untuk mempraktikkan Jalan Bodhisattva dan menolong mereka yang menderita. Semua ini tengah kita lakukan. Jadi, untuk memberi manfaat bagi semua makhluk, terlebih dahulu kita harus memberi manfaat bagi diri sendiri dengan membangkitkan sepuluh keyakinan dan sepuluh kediaman, baru kemudian menjalankan sepuluh praktik

 Untuk itu, harap semua selalu bersungguh hati.

Leave A Comment