Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 156 – Enam Praktek 10 Praktek Bagian 6

Saudara se-Dharma sekalian, kondisi yang tenang memudahkan kita untuk melatih diri. Apakah kita hanya bisa melatih diri dengan baik saat berada di tengah kondisi hening? Sesungguhnya, kondisi luar bergantung pada pikiran kita. Jika bisa senantiasa membangkitkan hati yang damai dan bersikap penuh pengertian, maka tak peduli di luar dingin atau panas, cuaca cerah atau turun hujan. Asalkan bisa bersikap penuh pengertian, adakah kondisi yang dianggap tidak baik? Segala kondisi di luar yang tidak hening tak akan memengaruhi hati kita. Meski ada di tengah keramaian, kita tetap harus bersikap penuh pengertian dan menggenggam kesempatan untuk menjalin jodoh baik. Ini semua bergantung pada pikiran kita. Praktik yang kelima adalah praktik tanpa kebodohan

 Apakah kalian masih ingat bagaimana cara menghilangkan kebodohan? Harus dimulai dari sikap penuh pengertian. Dengan sikap penuh pengertian, kita bisa berinteraksi dengan orang lain dan menangani masalah dengan baik. Praktik sepuluh praktik yang keenam adalah praktik manifestasi terampil. Jika hati kita bisa lepas dari kebodohan, maka pikiran tidak akan kacau. Dengan begitu, kita dapat lanjut ke praktik selanjutnya, yaitu praktik manifestasi terampil

 Seperti saat berjalan, saat kaki depan melangkah, kaki belakang harus mengikuti. Dengan begitu, barulah kita bisa maju. Jadi, selain menjalankan praktik tanpa kebodohan Kita harus menjalankan praktik manifestasi terampil. Kita harus selalu bersikap penuh pengertian agar bisa berinteraksi dengan baik saat berada di tengah kerumunan orang. Artinya, jika bisa bersikap penuh pengertian, hati kita tidak akan diliputi kebodohan. Dengan demikian, kita akan mencapai kondisi yang dikatakan Buddha, yaitu tanpa aku, tanpa individu, tanpa pribadi, dan tanpa ciri makhluk hidup. Ada keakuan apa lagi? Karena adanya keakuan, manusia terbelenggu oleh kemelekatan dan kebodohan

 Jadi, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus belajar untuk lepas dari keakuan. Semua pertikaian bermula karena adanya keakuan. Karena merasa paling hebat dan merasa sangat bangga dengan dirinya sendiri, manusia sulit bekerja sama dengan baik. Agar bisa bekerja sama dengan baik, kita harus menghilangkan keakuan. Dengan demikian, barulah interaksi antarsesama bisa harmonis

 Kita juga tak boleh bersikap individualistis. Saya sering mengulas tentang waktu, ruang, dan hubungan antarmanusia. Kita semua adalah manusia. Bagaimana boleh kita membedakan-bedakan orang kaya dan orang kurang mampu? Orang kurang mampu juga adalah manusia. Baik kaya maupun miskin, mereka semua adalah manusia. Karena itu, kita harus menghormati semua orang

 Bukankah saya sering berkata bahwa jika melihat orang dengan hati Buddha, maka setiap orang adalah Buddha? Tanpa membedakan kaya atau miskin, semua orang adalah manusia. Kita harus menghormati dan mengasihi mereka karena kita semua adalah makhluk sejenis. Tanpa memandang perbedaan kaya atau miskin, kita harus bisa membimbing orang berada. Tadi kita sudah mengulas bahwa di dalam diri orang berada terdapat keakuan dan kesombongan

 Ada orang yang kaya secara materi, namun miskin cinta kasih. Mereka sangat kekurangan kasih dan cinta. Karena itu, kita harus membimbing orang berada. Buddha pernah mengulas tentang 20 hal yang sulit dilakukan manusia. Salah satunya adalah sulit orang berada untuk belajar Dharma. Kita harus mendekati orang-orang yang berada

 Kita mendekati orang berada bukan untuk menyanjung-nyanjung mereka. Karena mereka orang berada, lalu kita menyajung-nyanjung mereka. Bukan begitu. Kita mendekati mereka untuk memikirkan cara membangkitkan cinta kasih mereka. Kita ingin cinta kasih meresap ke dalam hati mereka

 Orang yang memiliki cinta kasih adalah orang yang paling memiliki berkah. Materi yang berlimpah ditambah dengan cinta kasih di dalam hati,  berkah juga akan bertambah. Kita mengajarkan kepada mereka untuk bersumbangsih agat menjadi orang yang kaya secara meteri dan spiritual. Terhadap orang yang kurang mampu, kita terlebih harus membantu mereka. Janganlah kita meremehkan kaum papa

 Saya mendengar sebuah kasus yang membuat saya merasa sangat tidak tega sekaligus membuat saya membangkitkan rasa hormat dan syukur. Di Desa Qingfeng ada sebuah keluarga yang hanya terdiri atas seorang ibu dan anak. Di desa itu, mereka berasal dari sebuah keluarga besar, tetapi kehidupan sepasang ibu dan anak itu sangat sulit. Akibat hubungan asmara yang tidak lancar, anak itu merasa sangat terpukul hingga menderita gangguan jiwa

 Dia mulai menutup diri dan tidak merawat diri dengan baik. Kesehatan sang ibu juga tidak begitu baik. Sepasang ibu dan anak itu hidup di tengah lingkungan yang sangat kotor. Sampah di sana telah terkumpul selama bertahun-tahun. Begitulah lingkungan hidup mereka. Dalam kasus ini, selain sang putri mengalami pukulan berat akibat masalah asmara, sang ibu menderita sakit, dan mereka hidup kekurangan, entah ada masalah apa lagi

 Keluarga mereka yang lain sangat menolak mereka. Saat kita menemukan kasus ini dan ingin membantu mereka, keluarga dan kerabat mereka menolaknya. Bukan hanya menolak, mereka masih memaki dengan kata-kata kasar. “Kalian orang luar, untuk apa ikut campur urusan keluarga kami?” Begitulah mereka melakukan penolakan

 Akan tetapi, cinta kasih insan Tzu Chi tetap ada. Mereka tidak menyerah. Mereka tetap bersungguh-sungguh dalam berkomunikasi dengan keluarga itu. Akhirnya, salah satu dari mereka tersentuh. Jadi, setelah tersentuh melihat usaha insan Tzu Chi, dia berkata, “Baiklah, kalian bantulah mereka.” “Jika keluarga atau kerabat kami mempersulit kalian lagi, biar saya yang urus

” Kemudian, beberapa insan Tzu Chi segera mengunjungi ibu dan anak itu. Dari kejauhan, sudah tercium aroma yang tidak sedap. Mereka tetap masuk ke dalam, tetapi sang anak tidak kelihatan, yang ada hanya ibunya. Ibu itu terlihat kurus dan lemah. Di mana putrinya? Dia mengurung diri di kamar dan tidak mau keluar. Kelihatanya, sekujur tubuhnya sangat kotor

 Begitulah keadaannya saat insan Tzu Chi pertama kali berkunjung. Bagaimana insan Tzu Chi harus menolongnya? Tentu, pertama-tama mereka harus membersihkan rumah itu. Kedua adalah membujuknya agar mengizinkan relawan membantunya membersihkan tubuh. Berikutnya adalah meyakinkan keluarganya agar mengizinkan relawan membawa anak ini berobat ke dokter. Rencananya memang terlihat baik. Perencanaan kita memang sangat jelas, tetapi menjalankannya bukanlah hal yang mudah

 Tanpa cinta kasih yang cukup, tanpa keberanian yang cukup, kita tak akan bisa melakukannya. Jadi, dibutuhkan waktu, kesabaran, dan cinta kasih untuk mendampingi mereka. Para relawan kita baik yang datang dari luar daerah maupun yang berasal dari daerah setempat, semuanya mengerahkan kekuatan cinta kasih untuk membantu mereka membersihkan rumah. Sampah yang mereka keluarkan sangat banyak hingga bertruk-truk. Yang mereka lakukan sungguh membuat orang tersentuh. Melihatnya, secara alami dalam hati kita timbul rasa syukur dan hormat

 Inilah wujud Bodhisattva hidup di dunia. Kita melihat kondisi rumah mereka berubah drastis. Kita bisa membayangkan keadaannya. Kita membuat kondisinya berbeda, bahkan membantu sang ibu mandi dan mengenakan pakaian yang bersih, lalu membantunya potong rambut. Sebelum dibersihkan, rumah mereka terlihat sangat berbeda dari orang lain. Sampah dan kotoran menumpuk di mana-mana

 Sebelum dibantu untuk mandi, tubuhnya sangat kotor dan lusuh. Setelah mandi dan potong rambut, dia tampak segar, sama seperti orang pada umumnya. Dari kasus ini, kita melihat bahwa selama insan Tzu Chi mendampingi, keluarga dan kerabat mereka menyimpan sampah batin yang tak terlihat. Mereka menolak ibu dan anak ini dan meninggalkan mereka. Ini adalah sampah batin mereka

 Mereka tak dapat menerima ibu dan anak ini. Saat insan Tzu Chi dengan penuh cinta kasih membantu ibu dan anak ini membersihkan rumah, ini bagaikan juga membersihkan sampah batin para kerabat mereka. Para kerabat ini pun akhirnya tersentuh. Mereka melihat rumah itu kembali bersih dan sampah diangkut keluar truk demi truk. Mereka juga melihat penampilan ibu dan anak ini sudah kembali bersih. Karena itu, hati kerabat mereka pun ikut bersih

 Keluarga dan kerabat mereka, terutama orang yang menjembatani kita untuk berkomunikasi dengan pihak keluarga, akhirnya juga ikut membantu para relawan. Dia bahkan berkata kepada insan Tzu Chi, “Kelak jika kalian ada kunjungan kasih dan ingin melakukan hal semacam ini, jangan lupa beri tahu saya, saya pasti mau ikut.” Lihatlah, meski kondisi setiap orang berbeda-beda, tetapi kita harus memperlakukannya dengan setara. Setiap orang memiliki pandangan masing-masing. Orang kaya memiliki pandangan sendiri

 Kita harus mencari cara untuk membimbing mereka. Orang kurang mampu juga memiliki pandangan. Adakalanya mereka menutup diri atau menjerumuskan diri sendiri. dalam kasus keluarga tadi, kita berusaha membuka pintu hati mereka. Kita juga berusaha mengubah pandangan para kerabatnya. Kita harus menginspirasi semua orang untuk sama-sama memiliki empati, apalagi terhadap keluarga sendiri

 Jadi, dengan praktik manifestasi terampil ini, kita akan dapat menunjukkan ciri yang berbeda di tengah orang banyak serta membangkitkan kesetaraan di tengah perbedaan. Contohnya insan Tzu Chi dan keluarga tadi. Mereka sama-sama manusia, bedanya adalah insan Tzu Chi tak punya keakuan dan tidak membeda-bedakan orang yang dekat atau jauh. Insan Tzu Chi tidak membedakan, tak peduli pandangan para kerabat terhadap ibu dan anak tadi. Jika insan Tzu Chi berpandangan sama seperti mereka, maka tentu akan berpikir, “Keluarganya saja tidak peduli, sedangkan kita tak punya hubungan apa-apa, untuk apa kita peduli pada mereka?” Kenyataannya, insan Tzu Chi berbeda. Jadi, kita memiliki pandangan berbeda dengan kerabat ibu dan anak tadi. Kita malah menunjukkan kepada mereka bahwa dalam hubungan antarmanusia, kita hendaknya saling mengasihi, Jadi, di tengah pandangan yang berbeda-beda tadi, agar hati kita dan hati mereka dapat meninggalkan perbedaan dan mencapai suatu kesepahaman, dibutuhkan cinta kasih

 Karena itu, disebut membangkitkan kesetaraan. Di tengah perbedaan, kita tidak menonjolkan perbedaan. Pandangan mereka memang berbeda dengan kita, tetapi kita bisa mengarahkannya menuju kesamaan. Kita tidak memandang rendah mereka. Akhirnya, mereka dapat memiliki pemikiran yang sama dengan kita. Saat kita peduli kepada ibu dan anak tadi, mereka juga merasa aneh

 “Kalian tidak punya hubungan apa-apa dengan mereka.” Akan tetapi, kita memiliki cinta kasih. Jadi, jika kita dapat menghilangkan  batasan konsep individu, konsep pribadi, atau konsep makhluk hidup, maka hati kita akan mejadi sangat lapang dan mampu merangkul segala sesuatu. Jadi, semuanya dapat melebur dan kedamaian akan tercapai asalkan kita dapat membuka pintu hati. Baik terhadap sesama manusia maupun makhluk hidup lain, kita hendaknya dapat hidup berdampingan. Baik yang sejenis maupun tidak, kita harus bisa merangkul semuanya. Inilah yang disebut manifestasi terampil

 Jika kita dapat membuka hati, maka di dalam organisasi apa pun, di tengah banyak orang dengan berbagai latar belakang, kita tetap dapat merasakan sukacita. Meski di Tzu Chi terdapat banyak relawan yang bukan dari kalangan berada, namun orang-orang berada juga sangat menyambut Tzu Chi, karena orang-orang berada ini telah dapat menerima bimbingan dari para Bodhisattva dunia yang telah mengajak mereka berbuat baik. Tadi kita sudah membahas bahwa terhadap orang yang kaya materi, insan Tzu Chi menginspirasi mereka untuk mengembangkan cinta kasih. Insan Tzu Chi mengajak mereka ikut menciptakan berkah. Dengan begitu, mereka menjadi orang yang kaya lahir batin. Jadi, di tengah orang-orang yang berada, insan Tzu Chi juga tidak terdiskriminasi, tetap mendapat sambutan. Terlebih lagi, di tengah warga kurang mampu

 Mereka bagaikan penyelamat kehidupan. Demikian pula bagi para lansia. Para lansia sangat mengasihi insan Tzu Chi. Saat kita mengunjungi panti jompo, para lansia berkata, “Mengapa lama tidak datang?” “Kami merindukan kalian.” Lihatlah, mereka juga mendapat sambutan. Saat insan Tzu Chi datang, semua orang merasa bahagia

 Terlebih lagi, terhadap makhluk lain, kita juga tidak tega melukai. Kita bahkan mengasihi mereka. Terlebih lagi, kita percaya bahwa semua makhluk di alam semesta memiliki hakikat kebuddhaan. Jadi, kita menghormati kehidupan dan menjunjung cinta kasih. Buddha berkata kepada kita bahwa kita harus sungguh-sungguh menjaga kemurnian cinta kasih dalam hati kita, menjaga cinta kasih yang hakiki dalam hati kita. Manusia hendaknya tidak terbuai nafsu keinginan

 Nafsu keinginan pribadi sangatlah berbahaya. Dengan adanya nafsu keinginan yang penuh ego ini, konsep aku, individu, makhluk hidup, dan pribadi akan muncul. Akibatnya, kita akan membeda-bedakan. Dalam Sutra Empat Puluh Dua Bagian dikatakan bahwa manusia yang penuh nafsu dan kemelekatan bagaikan berjalan melawan arah angin dengan membawa obor dan tidak bersedia melepaskannya sehingga membakar tangan sendiri. Jadi, sebagai praktisi Buddhis, kita harus selalu menyucikan hati dan pikiran. Jika pikiran tersucikan dan hati merasa damai, maka kondisi apa pun di luar tidak akan dapat memengaruhi kita

 Jika nafsu keinginan muncul, maka seperti yang Buddha katakan, itu bagaikan membawa obor melawan arah angin. Begitu angin bertiup, api itu pasti membakar tangan kita sendiri. Jadi, kita harus ingat bahwa dalam hati kita harus ada cinta kasih¾ cinta kasih yang murni tanpa ego, cinta kasih yang tanpa pamrih, tidak tega melihat makhluk lain menderita. Seperti contoh kasus tadi, anak itu memiliki perasaan cinta, tetapi cinta yang penuh kemelekatan. Karena itu, saat hubungan asmaranya tidak berjalan lancar, dia terpengaruh sampai mengalami gangguan jiwa. Kehidupan seperti ini bagaikan membawa obor melawan arah angin dan membakar tangan sendiri

 Dalam praktik Jalan Bodhisattva, tidak ada cinta yang penuh nafsu seperti ini. Yang ada adalah cinta kasih yang dapat menyembuhkan luka batin semua makhluk dan membantu mereka yang menderita. Jadi, dari satu kasus tadi, kita dapat melihat ajaran Buddha tentang praktik manifestasi terampil. Terampil artinya baik dan tidak buruk. Di tengah banyak orang dan organisasi, baik yang semisi dengan kita maupun yang tidak semisi, Tzu Chi selalu mendapat sambutan baik ketika datang. Baik di tengah perkumpulan orang berada, di tengah warga kurang mampu, maupun di tengah narapidana, kita selalu berusaha memikirkan cara untuk membimbing mereka

 Meski kita berbeda dengan mereka, kita tidak membuat mereka merasa bahwa kita berbeda dengan mereka. Kita tetap bisa berada di tengah-tengah mereka dan memberi teladan nyata yang inspiratif. Inilah yang disebut semuanya melebur dan kedamaian tercapai. Mereka merasa damai, kita juga merasa damai. Contohnya, kita akhirnya bisa membimbing keluarga tadi untuk turut berbuat baik. Kita membuat ibu dan anak tadi dapat diterima kerabatnya

 Lihatlah, kini mereka diterima para kerabat mereka. Para kerabat pun dapat menerima ibu dan anak itu. Bukankah segala perbedaan melebur di sini? Bukankah semua orang akhirnya mencapai kedamaian? Mereka merasa bahagia, kita pun bersukacita dalam Dharma. Mereka mendapat kebahagiaan, sedangkan kita mendapat sukacita dalam Dharma. Saudara sekalian, sebagai praktisi Buddhis, setiap hari kita harus bersungguh hati. Dalam kondisi apa pun, hati kita jangan sampai terpengaruh, tekad kita juga jangan sampai terpengaruh. Hati yang dimaksud adalah hati yang penuh cinta kasih. Tekad yang dimaksud adalah ikrar kita

 Kita harus memiliki cinta kasih bagai Bodhisattva Avalokitesvara dan ikrar bagai Bodhisattva Ksitigarbha. Jika bisa demikian, maka di mana pun kita berada, kita akan bisa menampilkan manifestasi terampil. Untuk itu, harap semua selalu bersungguh hati

Leave A Comment