Sanubari Teduh – 157 – Enam Praktek 10 Praktek Bagian 7
Saudara se-Dharma sekalian, jika kondisi batin jernih, kondisi luar juga terasa jernih. Bukankah kondisi ini bagaikan tanah suci? Semua bergantung pada pikiran. Mempelajari ajaran Buddha, berarti kita harus senantiasa menjaga kejernihan pikiran, harus mengembangkan kejujuran dan ketulusan. Hati yang tulus adalah yang terindah di dunia
Jadi, dari praktik sepuluh praktik, kita sudah sampai pada yang ketujuh, yakni praktik tanpa kemelekatan. Tanpa melekat berarti melebur dalam kebenaran. Tanpa kemelekatan berarti melebur. “Berawal dari praktik manifestasi terampil, semakin meluas untuk melebur memenuhi alam semesta bagai butiran debu, dan dalam setiap butir debu terpapar sepuluh penjuru alam, namun butir debu itu tetap tidak rusak.” “Debu dan alam saling memaparkan, besar kecil tiada terintangi.” Sepertinya bait ini terasa sangat dalam. Sesungguhnya, prinsipnya cukup sederhana
Kita telah membahas tentang manifestasi terampil. Dengan manifestasi terampil, di mana pun kita berada, kita akan dapat menyesuaikan diri dan memberi manfaat bagi semua orang di sana. Kini kita lanjut ke praktik tanpa kemelekatan yang mencakup konsep tanpa aku, tanpa individu, tanpa pribadi, dan tanpa ciri makhluk hidup. Dalam kondisi apa pun, kita dapat mempraktikkan manifestasi terampil. Dengan begitu, semua orang di tempat itu akan memperoleh sukacita dan manfaat. Kini kita akan memperdalam tentang praktik tanpa kemelekatan
Mengenai praktik tanpa kemelekatan, tadi kita sempat membahas bahwa praktik ini akan melenyapkan rintangan. Tanpa kemelekatan di dalam batin, rintangan apa lagi yang bisa menghalangi kita? Tanpa keakuan, kita tak lagi memiliki kesombongan. Kita dapat merendahkan hati untuk membimbing kaum berada dan menolong kaum yang kurang mampu. Sikap merendahkan hati ini berasal dari semangat tanpa aku. Di mana-mana kita akan mendapat sambutan baik. Inilah manifestasi terampil. Ke mana pun kita pergi, akan membawa sukacita bagi orang lain
Kini kita akan mendalami cara untuk mengatasi rintangan di mana pun berada. Jika kita dapat melapangkan hati hingga seluas jagat raya, maka ke mana pun kita pergi, tak akan ada rintangan. Asalkan pikiran kita penuh kebajikan, kita tak akan terintangi saat melakukan apa pun. Setiap orang dapat tersentuh oleh perbuatan baik. Kisah seperti ini sering kita dengar dalam dunia Tzu Chi
Contohnya di Pakistan. Lima belas relawan dari lima negara tiba di Pakistan. Untuk memberikan bantuan di sana, insan Tzu Chi tentu membutuhkan suplai barang. Akan tetapi, barang yang dibutuhkan sangat banyak. Bagaimana kita yang hanya 15 orang ingin membawa banyak barang ke daerah bencana? Begitu banyak kesulitan yang dihadapi. Diperlukan komunikasi yang panjang hingga akhirnya kita dapat dengan cepat mengirimkan relawan dan barang ke sana
Sesungguhnya, Pakistan jauh dari kita. Pada hari pertama, selain para relawan yang tiba, datang pula bantuan obat-obatan, tenda, dan selimut. Baik untuk keperluan relawan maupun untuk dibagikan sebagai bantuan, semuanya harus melalui prosedur yang berlaku. Dari Taiwan, barang dikirimkan lewat Hong Kong. Barang-barang yang banyak ini harus melewati prosedur di Hong Kong. Dari Hong Kong, sebelum pengiriman berlanjut, masih ada prosedur lain
Untuk mengirimkan barang-barang itu dengan pesawat terbang juga sulit. Akan tetapi, berhubung kontribusi Tzu Chi telah banyak diketahui dunia internasional, kita dapat meminta pengusaha di Indonesia dan pengusaha berpengaruh di Pakistan untuk berkoordinasi. Mereka mengirimkan informasi bencana di Pakistan ke Hong Kong. Kita mendapat bantuan dari pengusaha Indonesia untuk berkomunikasi dengan pejabat luar negeri Pakistan di Hong Kong. Selain itu, ada bantuan dari Kerajaan Yordania karena sang permaisuri adalah orang Pakistan. Relawan Chen juga sangat dikasihi dan dihormati keluarga Kerajaan Yordania. Berhubung untuk keperluan Tzu Chi, maka Kerajaan Yordania membuka jalan kita ke Pakistan, sehingga kita memiliki akses baik udara maupun darat, ditambah pendamping lokal sebagai penerjemah
Meski menemui berbagai kesulitan, kita memiliki banyak jalinan jodoh baik. Mereka semua bersatu untuk membuka jalan bagi kita. Terlebih lagi, insan Tzu Chi sangat bijaksana dan penuh cinta kasih. Saya teringat suatu hari, sebelum relawan berangkat ke Pakistan, meski semua akses telah kita dapatkan dan duta besar Pakistan di Hong Kong tahu bahwa ada 11 orang dari Taiwan akan tiba di Hong Kong untuk mengurus prosedur dan visa, namun saat itu jam kerja kedutaan dipersingkat. Meski berada di Hong Kong, mereka tetap menjalankan ajaran agama mereka. Saat itu, kebetulan adalah bulan puasa
Jadi, tepat pukul lima sore, kedutaan akan ditutup. Pada bulan puasa, mereka tidak makan dan minum di siang hari. Setelah matahari terbenam, mereka baru boleh makan. Untuk persiapan buka puasa, kedutaan tutup pukul lima sore. Saat itu, penanggung jawab Tzu Chi Hong Kong mendampingi staf divisi kerohanian, Bing-lun, datang ke kedutaan. Mereka jelas-jelas melihat pintu kedutaan akan segera ditutup
Relawan Zhou Yu-lian sangat bijaksana. Dia berdiri di luar pintu kedutaan dan memperkenalkan diri, “Kami dari Tzu Chi Taiwan, ingin menyalurkan bantuan ke Pakistan.” “Kami akan membawa banyak barang bantuan, kami juga punya dokter, obat-obatan, dan selimut.” “Kami ingin pergi ke sana.” “Negara kalian sudah terkena bencana besar.” “Rakyat kalian sudah banyak yang menderita
” “Tegakah kalian menahan orang yang ingin pergi membantu?” Mendengarnya, pihak kedutaan merasa ada benarnya, lalu membuka pintu dan mempersilakan mereka masuk. Insan Tzu Chi menyampaikan kepada kedutaan bahwa mereka perlu mengurus visa. Dari 15 orang relawan kita, empat di antaranya berangkat dari luar Taiwan, yakni dari Malaysia, Indonesia, Yordania, dan Turki. Mereka langsung menuju Pakistan dan menunggu sebelas orang dari Taiwan. Jadi, dari lima belas orang relawan, ada sebelas yang berangkat dari Taiwan. Jika visa untuk kesebelas orang ini tidak diurus sesegera mungkin, maka mungkin harus menunggu tiga hari atau bahkan satu minggu lagi
Jadi, pertama, dibutuhkan kebijaksanaan. Dibutuhkan pula cinta kasih, baru bisa memiliki keberanian seperti itu— berani bernegosiasi dengan aparat setempat di depan gedung kedutaan. “Rakyat di negara kalian mengalami bencana yang sangat besar dan tengah menderita.” “Apakah kalian tega menahan Dia sungguh berani. Pihak kedutaan pun mempersilakan mereka masuk. Selain kekuatan cinta kasih dan keberanian, sesungguhnya insan Tzu Chi di Indonesia, Yordania, dan Turki telah membuka jalan bagi kita
Ditambah lagi, kita segera mempraktikkan manifestasi terampil, yakni segera datang ke kedutaan. Jika tidak, kedutaan mungkin sudah tutup pada pukul lima sore dan visa tidak dapat diurus cepat. Kenyataannya, kita dapat mengatasi masalah ini dengan baik. Inilah yang disebut tanpa rintangan. Ini karena kita memiliki tekad kuat untuk segera mempraktikkan manifestasi terampil. Jika bukan karena di masa lalu kita telah membentangkan jalan di berbagai tempat di dunia dan telah banyak menjalin jodoh baik sehingga mendapat pengakuan dan kepercayaan dari orang lain, maka saat ini juga tak akan mungkin ada orang-orang di berbagai negara yang membantu kita mengurus segala prosedur sehingga 15 orang relawan bisa tiba di sana. Jadi, ini yang disebut tanpa rintangan
Ini terwujud karena ketidakmelekatan, karena kita tidak membedakan ras, negara, ataupun agama. Kita tidak melekat terhadap semua ini. Meski kita adalah Buddhis, namun terhadap semua makhluk, kita tidak membedakan agama ataupun ras mereka. Kita tidak terikat pada hal-hal itu. Kita tidak melekat. Intinya, Bodhisattva muncul ketika ada penderitaan. Asalkan ada makhluk yang menderita, ke sanalah kita akan pergi menolong
Jadi, kita tidak membedakan bangsa, tidak membedakan agama, dan tidak membedakan ras. Inilah yang disebut tanpa kemelekatan. Dengan bersumbangsih tanpa kemelekatan, kita tentu tidak akan terintangi. Jadi, praktik tanpa rintangan ini terealisasi berkat manifestasi terampil dalam jangka waktu lama. Di tengah masyarakat, di daerah mana pun, semua yang kita lakukan mendapat pengakuan dan membawa kebahagiaan
Dengan manifestasi terampil seperti ini, barulah praktik tanpa rintangan dapat terwujud, jalan baru akan terbentang luas. Jadi, dalam Jalan Bodhisattva, saya sering mengatakan kepada kalian bahwa asalkan kita memiliki ketulusan dan hati Bodhisattva, maka jalan ini akan terasa lurus dan lapang. Jalan Bodhisattva adalah sebuah jalan yang sangat lurus dan lapang. Asalkan sejak awal kita tidak menyimpang dan terus melangkah maju dengan lurus, kita akan dapat selalu mempraktikkan manifestasi terampil dan dapat selalu melebur dalam segala kondisi. Jadi, dibutuhkan jangka waktu yang panjang. Jika dapat mempraktikkan manifestasi terampil ditambah ketidakmelekatan, maka kita akan dapat memperluas jangkauan kita
Karena itu, saya sering berkata kepada kalian bahwa dibutuhkan waktu yang lama untuk menapaki jalan yang panjang ini. Jadi, kapan pun dan di mana pun, kita harus membawa cinta kasih ini agar semakin meluas. Dengan memperluas jangkauan cinta kasih ini, kita akan dapat melebur dalam setiap kondisi. Jadi, dikatakan, “Semakin meluas untuk melebur terpapar sepuluh penjuru alam.” Artinya, kita harus memperluas jangkauan kita hingga ke bagian terkecil alam semesta. Dalam skala besar, tadi kita membahas negara. Tadi kita membahas tentang Pakistan yang jauh dari kita. Meski kita sudah memiliki akses ke sana, tetapi untuk mengantarkan bantuan ke sana, harus melewati berbagai tahapan akibat jauhnya jarak
Tenda harus dipesan dari Beijing. Untuk itu, jalur darat dan udara harus ditempuh. Paling tidak dibutuhkan waktu satu minggu. Setelah barang dipesan, kita harus menunggu pembuatannya, paling tidak satu bulan. Jadi, dari segi waktu, meski kita telah mendapat akses dan rintangan sudah diatasi, namun waktu yang dibutuhkan sangat panjang. Dari Turki, dikirimkan lebih dari 1.400 paket bantuan
Kemudian, tenda harus dipesan dari Beijing, lalu dikirim ke Taiwan, baru ke Pakistan. Ini membutuhkan waktu sekitar satu minggu. Jadi, mengenai ruang, bukan semata-mata jarak antarnegara yang jauh dan luas. Sesungguhnya, banyak hal-hal mendetail lainnya yang dikatakan halus bagai debu, bukan hanya hal-hal besar yang terlihat seperti jarak antarnegara. Banyak hal yang halus. Yang dimaksud halus adalah hal-hal yang kecil dan mendetail. Hal-hal seperti ini disebut halus bagai serbuk debu
Dalam kitab Buddha dikatakan bahwa ada yang lebih halus dari serbuk debu, disebut “serbuk emas”. Sebuk ini tidak terlihat secara kasatmata, sangat halus. Agar tindakan dan perbuatan baik kita tanpa kemelekatan dan meluas hingga ke berbagai tempat, maka semua seharusnya dimulai dari pikiran. Pikiran kita adalah pengenal substansi segala sesuatu. Segala sesuatu di dunia dapat kita kenali dengan pikiran kita. Meski sesuatu itu sangat halus seperti debu, meski tak dapat dilihat kasatmata, namun benda itu tetap memiliki substansi. Jika tak dapat dilihat kasatmata, kini kita bisa menggunakan mikroskop. Jadi, benda itu tetap bersubstansi meskipun sangat halus
Semuanya bergantung pada pikiran. Pikiran kitalah yang dapat merasakan dan dapat mengetahui eksistensi sesuatu meski tidak terlihat oleh mata. Inilah substansi yang halus. Hanya pikiran yang dapat mengenalinya. Lihatlah, dalam penelitian biologi atau penelitian medis
Dengan menggunakan mikroskop, kita dapat melihat bakteri, kuman penyakit, dll. Kita tak dapat melihatnya secara kasatmata, tetapi bisa dengan mikroskop. Jadi, semuanya bergantung pada pikiran. Baik mikroskop maupun teropong dan semua benda yang digunakan untuk membantu kita melihat benda yang tak kasatmata dibuat dengan mengerahkan daya pikir. Para ahli meneliti dengan segenap pikiran sehingga mampu menciptakan banyak alat yang dapat membantu penelitian lebih jauh. Semua ini juga berawal dari pikiran. Jadi, segala sesuatu bergantung pada pikiran untuk menyempurnakannya. Pikiranlah yang menentukan apakah sesuatu dapat disempurnakan atau tidak
Jadi, pikiran adalah pelopor segalanya. Tadi kita membahas praktik tanpa kemelekatan. Dalam pembahasan ini, juga diulas mengenai peleburan hingga hal terkecil. Bagaimana caranya? Kita harus menggunakan hati kita untuk memilih. Bagaimana agar kehidupan bisa menyatu dengan kondisi sekitar? Contohnya, pada sela-sela baksos pengobatan di Pakistan, dr. Qiu menelepon saya. Dia dan saya terpisah jarak yang jauh
Akan tetapi, lewat telepon saya dapat mendengar suaranya dengan jelas. Saya bertanya, “Semuanya baik-baik saja?” “Apakah kamu terkena flu?” Dia menjawab, “Ya.” “Saya terserang flu.” Saya kembali bertanya, “Lalu bagaimana?” “Saya sudah minum obat,” jawabnya. Saya berkata, “Kamu seorang dokter, apakah yang lain juga terkena flu?” “Ya, ada beberapa yang terkena flu.” “Mengapa kamu tidak menjaga mereka?” Dia menjawab, “Saya juga terkena flu, orang lain juga terkena flu
” Kami berbicara lewat telepon. Saya bertanya, “Bagaimana tempat tinggal kalian?” “Saya lihat dari foto-foto yang dikirim, tempatnya sangat memprihatinkan.” “Cuaca sangat dingin, pantas saja banyak yang terkena flu.” Dia menjawab, “Tidak, kami sudah membuat alas dari batu, kondisinya baik-baik saja.” “Kami semua sangat gembira.” Lihatlah, batu dijadikan alas tidur. Lihatlah, batu dijadikan alas tidur agar tubuh tidak menyentuh tanah, supaya saat hujan turun tidak basah karena pori-pori batu dapat menyerap air
Tujuannya agar tidak begitu lembap. Dia juga berkata bahwa mereka telah membuat alas dari batu, dan semua orang sangat gembira. Kondisinya sangat memprihatinkan. Mereka harus bekerja di siang hari, lalu malamnya tidur dalam kondisi demikian. Saya bertanya, “Bagaimana dengan makan?” “Saya lihat makanannya juga kurang baik, hanya ada tiga macam sayur.” kami makan dengan kenyang.” “Kami berterima kasih ada relawan yang memasak dengan sepenuh hati.” Intinya, mereka sangat gembira
Mereka sangat penuh pengertian dan penuh kerelaan hati. Jika rela, kita akan sukacita. Demikianlah mereka menghadapi kondisi di sana. Meski kondisi makan dan tinggal kurang baik serta banyak orang terkena flu, mereka tetap berpikiran positif. Dalam kondisi yang begitu sulit, mereka tetap penuh sukacita. Semua ini bergantung pada pikiran. Dalam kondisi seperti itu, dr
Qiu berkata bahwa dia menelepon untuk tujuan penting, yakni untuk meminta izin kepada saya. Di sana, jumlah pasien sudah stabil, setiap harinya ada sekitar 50 orang. Dia berpendapat, cukup satu orang berjaga di posko, dan yang lainnya bisa pergi ke atas gunung karena di sana banyak lansia yang tak bisa turun gunung. Orang yang terluka parah juga tak bisa turun. Ada juga anak yang mengambil obat untuk ibunya di atas gunung. Mereka hanya menjelaskan kondisinya lewat kata-kata. Ada pula suami yang mengambil obat untuk istrinya. Kondisi sang istri juga hanya diceritakan oleh sang suami
Mereka sungguh tak mampu turun gunung. Ada pula yang menderita demam. Jadi, mendengar kondisi seperti ini, para dokter merasa tak tega. Jadi, tujuannya menelepon adalah bertanya apakah saya mengizinkan mereka naik gunung. “Harus berjalan berapa lama?” Dia menjawab, “Pergi pulang sekitar dua sampai tiga jam.” “Sekali jalan perlu satu jam lebih.” Saya bertanya, “Naik mobil?” “Apakah berbahaya?” Dia menjawab, “Tidak bisa, mobil tidak bisa lewat.” “Kami harus berjalan kaki, karena selain gempa bumi, juga turun hujan lebat dan terjadi tanah longsor
” Saya berkata, “Apa tidak terlalu berbahaya?” kami akan sangat hati-hati.” “Jika tidak, masih banyak orang di sana yang terluka parah dan tak bisa turun gunung.” “Yang sakit keras juga tidak bisa turun.” “Warga lanjut usia juga tidak bisa turun.” “Kami harus bagaimana?” Saya menjawab, “Baiklah, tetapi kalian harus menjaga keselamatan diri.” “Semua orang harus baik-baik saja, pahami dahulu kondisinya dengan baik.” Begitulah percakapan kami
Saudara sekalian, bagaimana kita harus menjalani jalan hidup ini?” Jalan Bodhisattva sangatlah lurus dan lapang asalkan di dalam pikiran kita kita memiliki arah yang benar sejak awal. Janganlah kita menyimpang sedikit pun. Jalan ini sangatlah sederhana. Akan tetapi, makhluk yang menderita begitu banyak. Saat menuju ke daerah bencana, segala sesuatu tentu tidak leluasa, orang-orang di sana juga sangat menderita. Jadi, sebagai Bodhiasttva, kita harus mengatasi kesulitan ini. Kuncinya adalah pikiran kita, yakni pikiran yang penuh cinta kasih. Jadi, segala sesuatu di tiga alam dipelopori oleh pikiran
Di dunia ini, tiada kunci yang lain, tiada metode yang lain. Dalam melatih diri, kuncinya adalah pikiran, dan dunia pikiran ini sungguh halus bagai debu karena pikiran dapat mewujudkan banyak hal. Banyak hal kecil yang tidak kasatmata dan sulit dipahami hanya dapat dipahami lewat pikiran. Pikiran kita yang halus ini dapat menciptakan banyak hal, seperti membuat jarak yang jauh menjadi dekat. Contohnya, dr. Qiu ada di Pakistan, sedangkan saya di Taiwan, namun kami dapat berkomunikasi lewat telepon
Telepon juga tercipta berkat pemikiran orang, sehingga jarak menjadi semakin dekat karena suara dari jauh dapat kita dengar. Intinya, pikiran adalah pelopor segala sesuatu. Jika pikiran ini dapat mengarah pada kebajikan, maka kita tak akan terintangi dalam segala hal. Jadi, setelah mempraktikkan manifestasi terampil, berikutnya kita harus mempraktikkan konsep tanpa kemelekatan, tanpa ciri makhluk hidup, tanpa pribadi, dll. Inilah yang harus dilakukan dalam melatih diri. Dengan begitu, kita baru dapat mengembangkan kekuatan tanpa batas
Inilah yang disebut kekuatan batin. Contohnya, dr. Qiu beserta para anggota Tzu Cheng dari Yordania, Turki, Malaysia, Indonesia, dan Taiwan. Mereka berada di Pakistan, tetapi tetap dapat berbicara dengan saya. Saya bagai berada di tengah-tengah mereka. Mereka juga berkata, “Master tenang saja
” “Kami sangat gembira.” Saya dapat mendengar suara mereka. Sungguh, semua ini adalah contoh hal yang halus yang tak dapat dilihat oleh mata, tetapi dapat dipahami oleh “kekuatan batin”
Jadi, berkat kekuatan halus dari pikiran setiap orang, kita bagai menampilkan “kekuatan batin” di dunia ini. Baiklah. Saudara sekalian, kita harus selalu bersungguh hati. Segala sesuatu di tiga alam bergantung pada hati dan pikiran. Harap semua selalu bersungguh hati.