Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 158 – Enam Praktek 10 Praktek Bagian 8

Saudara se-Dharma sekalian, di tengah kondisi yang tenang ini, apakah hati kita memiliki rasa syukur? Kita harus bersyukur. Buddha datang ke dunia untuk menaklukkan pikiran semua makhluk. Kita beruntung dapat terlahir sebagai manusia dan mendengar ajaran Buddha. Ajaran Buddha membuat hati kita dapat selalu damai, membuat kita memahami kebenaran, dan dapat hidup harmonis dengan lingkungan. Untuk itu, kita hendaknya bersyukur

 Dengan memiliki raya syukur, kita baru bisa memiliki rasa hormat. Buddha mengajarkan kepada kita bahwa semua makhluk memiliki hakikat kebuddhaan. Setiap orang pada dasarnya adalah Buddha. Ini adalah sikap menghormati. Jadi, kita harus selalu bersyukur. Ajaran Buddha bertujuan agar kita memahami bahwa dengan menghormati orang, kita baru bisa dihormati. Jadi, rasa hormat harus dimulai dari rasa syukur

 Mengenai praktik sepuluh praktik, kita telah sampai pada yang kedelapan. Yang kedelapan adalah praktik penghormatan. Sebelumnya kita membahas praktik tanpa kemelekatan, sebelumnya lagi membahas manifestasi terampil. Semuanya saling berkaitan. Ajaran Buddha sangatlah praktis tahap demi tahap. Di jalan ini, tidak mungkin bagi kita untuk melompat langsung dari tahap pertama ke tahap kesepuluh

 Kita harus berjalan dari tahap satu, dua, tiga, empat, lima, dan seterusnya untuk sampai ke tahap sepuluh. Setiap tahap ini harus kita jalani dengan mantap. Sebelumnya kita membahas praktik tanpa kemelekatan. Di tengah masyarakat, bagaimana pun kondisinya, jika kita dapat membuang kemelekatan, memiliki semangat tanpa individu, tanpa ciri makhluk hidup, tanpa pribadi, tanpa aku, dll., kita akan hidup harmonis dengan orang lain dan dapat menyelesaikan segala sesuatu dengan baik. Bukankah saya sering mengatakan bahwa jika dapat harmonis menghadapi orang dan hal, kita berarti selaras dengan kebenaran

 Jika dapat menyelesaikan masalah dengan baik, berarti kebenaran telah diterapkan. Kunci keharmonisan terletak pada hubungan antarmanusia dan cara menghadapi masalah. Dengan keharmonisan, kita baru dapat memahami kebenaran. Jadi, jika tidak memiliki kemelekatan, kita akan dapat belajar banyak di tengah masyarakat. Sebuah ungkapan berbunyi, “Tanpa melewati masalah, kebijaksanaan tak akan tumbuh.” Saat menghadapi orang dan masalah, kebijaksanaan kita dapat terus tumbuh

 Jadi, praktik tanpa kemelekatan bertujuan untuk meningkatkan kebijaksanaan kita. Orang yang bijaksana baru dapat memiliki rasa syukur dan memiliki rasa hormat dalam segala hal. Jadi, dalam penjelasan dikatakan, Debu melambangkan kondisi. Jika kita tidak melekat, maka dalam kondisi apa pun, dalam keadaan yang berbeda-beda, kita akan tetap dapat melebur. Kita telah mengulas ini saat membahas praktik tanpa kemelekatan dan manifestasi terampil. Semua ini adalah kemampuan pengamatan dengan Prajna. Kita harus bisa mencari kesamaan dalam perbedaan dan memamahmi perbedaan dalam kesamaan

 Di tengah perbedaan, kita hendaknya bisa mencari benang merah. Kita sering mengulas bahwa kebenaran ajaran Buddha hanya satu, namun kemampuan setiap makhluk berbeda-beda. Demi membabarkan kebenaran tunggal, Buddha membuka 84.000 pintu Dharma. Jadi, kebenaran hanya satu. Inilah yang dimaksud “sama”, tetapi kemampuan setiap makhluk tidak sama, maka Buddha menggunakan berbagai cara

 Ini yang disebut “berbeda”. Jadi, di tengah banyaknya “debu”, Beliau memaparkan perbedaan. “Debu” di sini melambangkan kondisi, yakni kondisi yang beragam. Di tengah berbagai kondisi, Buddha membabarkan kebenaran tunggal dengan metode sesuai kemampuan masing-masing makhluk. Ini adalah kekuatan pengamatan dengan Prajna

 Prajna adalah kebijaksanaan. Dengan kebijaksanaan yang cemerlang, kita melihat segala sesuatu di dunia dan menganalisisnya dengan jelas. Inilah yang disebut pengamatan, yakni memahami kebenaran dengan cermat. Semuanya terlihat dengan jelas. Inilah kekuatan pengamatan dengan Prajna. Inilah kekuatan kebijaksanaan. Kebijaksanaan adalah Paramita utama dalam Enam Paramita

 Enam Paramita adalah jalan yang harus dilalui oleh makhluk awam untuk mencapai kebuddhaan. Makhluk awam harus mempraktikkan enam hal ini, maka disebut Enam Paramita dan puluhan ribu praktik. Dari keenam Paramita itu, yang terpenting adalah kebijaksanaan. Contohnya, Anda ingin berdana. Berdana sangat baik karena merupakan wujud cinta kasih, tetapi juga perlu kebijaksanaan. Jika tidak dibarengi kebijaksanaan, praktik berdana ini mungkin membawa efek negatif. Menjalankan sila juga perlu kebijaksanaan

 Jika tidak, kita tak dapat membedakan mana pedoman yang benar dan yang sesat. Dalam praktik kesabaran, kita juga memerlukan kebijaksanaan. Dalam semangat melatih diri, juga perlu kebijaksanaan. Dalam praktik konsentrasi atau meditasi, juga perlu kebijaksanaan untuk memilih. Jadi, kebijaksanaan adalah yang utama dari Enam Paramita. Kita harus tahu bahwa dengan kebijaksanaan, kita dapat mengamati segala sesuatu di dunia. Jadi, terhadap ajaran Buddha, kita harus membangkitkan rasa hormat

 Dalam praktik metode mana pun, kita harus mengikuti tahapannya dengan sungguh-sungguh. Jadi, dalam mempelajari ajaran Buddha, rasa hormat sangatlah penting. Jika kita memandang setiap orang dengan penuh kesungguhan hati, maka setiap orang akan terlihat bagai Buddha, karena pada dasarnya kita semua memiliki sifat Buddha. Karena itu, kita harus membangkitkan rasa syukur dan hormat terhadap setiap orang. Rasa hormat tak boleh kurang dalam diri praktisi. Saya sering mengulas tentang rasa hormat, rasa syukur, dan cinta kasih. Ini kedengarannya sangat sederhana

 Akan tetapi, sebagai manusia, rasa hormat tidak boleh tidak ada dalam diri kita. Tanpa rasa hormat, rasa syukur tidak akan tumbuh. tanpa rasa syukur, kita pun tak dapat menghormati orang lain. Tanpa rasa hormat dan syukur, maka tak akan ada cinta kasih. Cinta kasih kita adalah cinta kasih yang tulus, cinta kasih yang penuh kebijaksanaan, bukan membanggakan diri sendiri

 Manusia harus bisa merendahkan hati dan menghormati orang lain. Jika dapat merendahkan hati dan mengecilkan ego, barulah kita bisa menghormati orang lain, barulah kita memiliki rasa syukur, dan dapat mengembangkan cinta kasih di mana pun. Dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus sangat memperhatikan hal ini. Di dalam kitab Buddha, tercatat sebuah kisah yang berasal dari zaman Buddha. Pada masa itu, masyarakat mengalami kekacauan. Ada petapa yang merasa bahwa melatih diri berarti harus mengasingkan diri dari kekacauan itu. Setelah berhasil, baru kembali untuk membimbing orang banyak agar orang-orang dapat membuka hati dan memahami kebenaran

 Dia melatih diri dengan giat. Akan tetapi, semakin giat berlatih, dia malah semakin gusar terhadap kekacauan di masyarakat. Dia berpikir mengapa semua orang begitu bodoh. “Batin semua orang sudah menjadi gelap, masyarakat ini sudah diliputi kegelapan.” Jadi, dia mencari cara untuk membabarkan kebenaran dan membuka hati banyak orang agar hati manusia dapat kembali bersinar. Cara apa yang dia gunakan? Dia merasa kebijaksanaannya sangat tinggi, asalkan ada yang bertanya, dia akan mampu menjelaskan dengan baik dan menjawab segala pertanyaan. Jadi, dia ingin menarik perhatian orang

 Di bawah terik matahari, dia berdiri sambil membawa obor dan berteriak-teriak, “Dunia terlalu gelap!” “Terlalu gelap!” “Aku membawa obor untuk menerangi jalan kalian.” Orang-orang yang melihatnya jadi bertanya-tanya apakah dia tidak waras. Seseorang menghampirinya dan bertanya, “Ada apa denganmu?” “Jelas-jelas matahari begitu terik, jelas-jelas begitu terang, mengapa kamu membawa obor?” Dia lalu menjawab, “Karena batin semua orang sudah gelap, kalian tidak dapat melihat kebenaran, maka saya membawa obor ini untuk menerangi batin kalian.” Mendengarnya, ada orang yang tertawa terbahak-bahak, ada pula yang menggelengkan kepala. Mereka malah merasa kasihan. Setiap hari dia melakukan hal yang sama, membawa obor di bawah terik matahari sambil berteriak-teriak mengatakan dunia sudah gelap

 Buddha mengetahui hal ini, merasa bahwa sesungguhnya petapa ini memiliki niat baik. Batin semua makhluk diliputi kegelapan batin, ini memang benar. Akan tetapi, dengan cara seperti itu, mana mungkin dia bisa membimbing orang dan membuka hati mereka. Tidak mungkin. Dapat dilihat, orang ini berniat baik, tetapi kurang kebijaksanaan. Dia memiliki kesombongan

 Jadi, Buddha menjelma menjadi seorang bijak Dan menghampiri sang pembawa obor. Buddha berkata, “Benarkah kau mengetahui segala sesuatu?” Dia menjawab, “Beri tahu saya semua keraguanmu, apa pun pasti akan aku jawab.” Saat itu, Buddha lalu bertanya padanya, “Di dalam kitab kuno ada ilmu astronomi dan ilmu bumi, apakah kau memahami proses berjalannya empat musim?” “Ini terlalu dalam,” jawabnya. Ditanya mengenai astronomi, ilmu bumi, dan proses pergantian empat musim, dia tidak bisa menjawab. Buddha kembali bertanya, “Mengenai ilmu perbintangan, apakah kau mengerti?” Dia juga tidak bisa menjawab. “Kalau begitu, bagaimana dengan ilmu pemerintahan?” “Bagaimana cara memerintah negeri agar sejahtera dan damai?” “Pertanyaan lain, apabila ada kerajaan lain datang menyerang, bagaimana kau mengatur strategi untuk mengatasi serangan itu?” “Masalah-masalah duniawi seperti ini, mampukah engkau menjawabnya?” “Tidak bisa,” jawabnya. “Aku adalah petapa, tidak mengerti astronomi ataupun ilmu bumi.” “Hal-hal duniawi seperti bagaimana menjalankan pemerintahan dan mengatasi serangan luar, aku tak pernah memikirkannya

” Pada saat itu dia juga merasa malu. Ternyata pengetahuannya masih sangat sedikit. Dia kemudian meletakkan obornya dan memohon ajaran kepada Buddha dengan hati yang penuh rasa malu dan bertobat. Kemudian Buddha berkata, “Banyak orang berpengetahuan sedikit, tetapi sangat sombong dan angkuh.” “Seperti itulah dirimu.” “Engkau hanya mengerti sedikit, tetapi mengira diri tahu banyak dan begitu sombong

” “Ini sikap yang tidak seharusnya dimiliki petapa.” “Ini bagaikan orang buta membawa obor, menerangi orang lain, tetapi tidak menerangi diri sendiri.” “Engkau bagai orang buta yang membawa pelita hanya untuk menerangi orang lain, tetapi tidak menerangi diri sendiri.” “Jadi, meski membawa pelita, tetap tidak dapat melihat jalan.” “Engkau malah ingin menunjukkan jalan, ini adalah kesalahan.” “Yang diliputi kegelapan adalah dirimu sendiri

” “Siapa yang diliputi kegelapan?” “Tak lain adalah dirimu sendiri.” “Kegelapanmu lebih tebal dari orang lain.” “Yang diliputi kegelapan adalah dirimu, bukan orang lain.” “Engkau membawa obor pada siang hari dan masuk ke kerajaan besar, tetapi yang engkau ketahui hanya bagaikan debu.” Artinya, orang itu membawa obor di siang hari dan datang ke pusat keramaian dalam sebuah kerajaan besar. Dia membawa obor, tetapi sesungguhnya pengetahuannya bagai debu, sedikit sekali. Jadi, Buddha berkata, “Engkau mengira pengetahuanmu banyak dan ingin membabarkannya bagi banyak orang, tetapi sesungguhnya, yang engkau ketahui hanya sedikit bagai butiran debu yang kecil.” Buddha memberikan ajaran untuk senantiasa mengingatkan kita agar tidak seperti pembawa obor tadi

 Kita sendiri masih diliputi kegelapan batin, tetapi berpikir angkuh ingin membawa obor untuk menerangi orang lain. Ini sangat berbahaya. Kita harus membimbing diri sendiri terlebih dahulu. Kita harus terlebih dahulu menapaki jalan ini dengan benar, baru bisa membimbing orang lain menapaki jalan yang sama. Jangan saat masih belum mengenal jalan, kita sudah ingin membimbing orang lain

 Niatnya memang baik, tetapi kita juga harus memahami kebenaran. Banyak orang berbicara tentang cinta kasih. “Ada, saya punya cinta kasih.” “Apa yang telah Anda lakukan?” “Yang penting saya tidak mencelakai orang.” “Bukankah begitu sudah cukup?” Intinya, jika memiliki cinta kasih, maka harus bersumbangsih. Ada bersumbangsih, baru disebut memiliki cinta kasih

 Jika sebatas tidak mencelakai orang, itu hanya menguntungkan diri sendiri, tidak membawa manfaat bagi orang lain. Ini keliru. Luas jangkauan satu orang sangat terbatas. Satu orang hanya punya dua mata. Seberapa jauh yang dapat kita lihat? Seberapa besar kemampuan kita? Dua mata tidaklah dapat berbuat banyak. Dengan ditutupi secarik kertas tipis saja, mata kita sudah tak dapat melihat. Mata kita mungkin sangat tajam. Saat berdiri di suatu tempat, kita dapat melihat ke segala penjuru tanpa halangan, tetapi kita hanya bisa melihat sejauh jangkauan mata kita

 Kita mungkin bisa melihat di depan ada pepohonan, tetapi juga tak bisa membedakan dengan jelas jenis pohon apa yang ada di sana. Apa jenis pohon yang ada di sana tidak bisa kita lihat jelas karena terlalu jauh. Kita hanya tahu di depan ada pepohonan. Jika kita menengadah ke langit, meski dapat melihat langit cerah berwarna biru dan awan berwarna putih, namun apakah langit benar-benar biru? Seberapa luas jangkauan biru langit? Kita tak dapat mengetahuinya. Berhubung langit cukup jauh dari kita, maka saat tidak ada awan hitam dan cuaca cerah, kita melihat langit seakan berwarna biru. Sesungguhnya, langit jagat raya ini tidak berwarna. Akan tetapi, berhubung jaraknya jauh dari kita, maka kita merasa warnanya adalah biru

 Apakah warnanya benar-benar biru? Saat para astronot pergi ke luar angkasa dengan pesawat luar angkasa, setelah puluhan ribu kilometer mereka tidak melihat warna biru. Ini karena keterbatasan jangkauan penglihatan kita. Kita memang dapat melihat langit, tetapi langit hanyalah sebuah istilah. “Langit” hanyalah sebuah label. Warna biru yang kita lihat hanyalah ilusi akibat keterbatasan penglihatan

 Jadi, manusia bukan tak punya keterbatasan. Meski dalam ilmu kedokteran kini pengobatan holistik tengah marak, namun penyakit pada tubuh manusia dalam kitab Buddha dikatakan ada 404 jenis. Sesungguhnya, dari 404 jenis penyakit ini diperinci lagi hingga 84.000 jenis. Mengenai 404 penyakit jasmani dan 84.000 penyakit batin, adakah orang yang memahami semuanya? Apakah pengobatan holistik dapat menyembuhkan semuanya? Seorang doktor sekalipun hanya mendalami satu bidang tertentu saja, tidak dapat memahami semuanya

 Jadi, sebagai manusia janganlah kita sombong. Untuk benar-benar membangkitkan kebijaksanaan, kita harus memiliki kerendahan hati. Kita harus mengecilkan ego. Dengan begitu kita baru bisa bersyukur kepada setiap orang, kepada orang tua, kepada guru, kepada Tiga Permata, kepada para Buddha, dll. Dengan memiliki rasa syukur, barulah kita dapat menghormati setiap orang. Dengan memiliki rasa hormat, barulah kita dapat mengembangkan cinta kasih yang tulus. Jadi, mengenai rasa hormat, jika kita tidak dapat mengecilkan ego dan malah bersikap sombong, maka bukankah kita sama saja dengan orang yang membawa obor tadi? Jadi, kita semua harus bersungguh hati

 Jalan pelatihan sesuai ajaran Buddha ini adalah pilihan kita sendiri. Bertekad mempelajari ajaran Buddha, berarti berharap mencapai kebuddhaan. Untuk mencapai kebuddhaan, prosesnya sangatlah panjang. Dharma yang harus kita selami sangatlah dalam bagai samudra

 Saat ini kita bagaikan baru meneguk air itu sedikit demi sedikit. Masih banyak yang harus kita pelajari. Buddha juga berkata kepada Ananda, “Ananda, bukankah kau telah mendengar banyak dari-Ku?” Ananda menjawab, “Benar.” Buddha membalas, “Yang engkau dengar hanya sedikit bagaikan seujung kuku pasir yang diambil dari hamparan pasir luas

” “Ajaran-Ku bagai hamparan pasir Sungai Gangga.” “Yang telah engkau dengar hanya sebagian kecilnya saja.” Jadi, janganlah kita bersikap sombong. Tetaplah bersungguh hati selalu. 

Leave A Comment