Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 159 – Enam Praktek 10 Praktek Bagian 9

Saudara se-Dharma sekalian, saat kondisi tenang dan hening, apakah batin kita jernih? Jika batin kita bisa hening dan jernih, maka tekad kita yang luas dan luhur dapat senantiasa dipertahankan. Jika kita senantiasa ingat kutipan Sutra ini, saya percaya kondisi batin kita pasti jernih. Dengan hati yang jernih, kita baru bisa bertekad tanpa tergoyahkan selamanya. Ini adalah kondisi yang dibutuhkan dalam melatih diri. Yang kesembilan dari praktik sepuluh praktik adalah praktik ajaran baik. Mengenai ajaran atau Dharma yang baik, sering dikatakan bahwa Dharma tiada besar kecil

 Sesungguhnya, setiap Dharma terlihat sederhana. Sesungguhnya, ia mengandung kebenaran yang dalam. Akan tetapi, jika Anda merasa itu sangat dalam, sesungguhnya ia tak terlepas dari kehidupan kita sehari-hari. Jadi, Dharma tak dibedakan besar kecilnya ataupun dalam dangkalnya. Dharma dapat diterapkan saat menghadapi orang dan masalah. Inilah ajaran baik. Sebuah ungkapan berbunyi, menghormati guru, menaati ajaran. Jika murid tidak menghormati guru, dia tidak akan menghormati ajarannya

 Jadi, di awal kita membahas praktik penghormatan. Kini kita akan membahas praktik ajaran baik. Jika dapat menghormati, maka Dharma akan ada di hati kita. Dengan begitu, kita baru bisa menjalankan ajaran baik. Jadi, mengenai ajaran baik dikatakan, Jadi, mengenai ajaran ini, kita harus memiliki rasa hormat di dalam hati. Dengan demikian, kita dapat memperoleh kebijaksanaan. Jika kita dapat memanfaatkan dan menghormati setiap ajaran; jika setiap ajaran dapat kita hormati tanpa membedakan, maka kita akan dapat memiliki kebijaksanaan untuk mengamati secara mendalam

 Pengamatan mendalam adalah pengamatan dengan kebijaksanaan sehingga segala sesuatu terlihat jelas. Segala Dharma nonduniawi dan kebenaran yang tertinggi secara alami terjangkau oleh kebijaksanaan kita dan dapat terus kita lihat dengan jelas. Segala kebenaran alam semesta dapat dipahami lewat kebijaksanaan pengamatan mendalam. Jadi, kita seharusnya senantiasa menghormati ajaran ini di dalam hati. Dengan begitu, kebijaksanaan baru akan tumbuh dan kita dapat mengamati kebenaran alam semesta dengan sangat jelas. kita akan dapat menampilkan kualitas sempurna

 Ini berkaitan dengan pelatihan diri dan kualitas batin kita. Kita tengah melatih diri. Jika jalan ini dapat kita tapaki dengan mantap tanpa menyimpang, maka di Jalan Bodhisattva ini, kita dapat memancarkan kecemerlangan batin sehingga dapat melihat kebenaran alam semesta. Bukan hanya melihat, kita bahkan dapat memahaminya sehingga mampu menghadapi orang dan masalah dengan harmonis. Ini disebut keharuman kualitas batin atau moralitas kita. Jika kita dapat menapaki jalan ini dengan baik, maka sifat luhur akan terpancar dari diri kita

 Ini adalah kualitas yang sempurna. Sering saya katakan bahwa jika masalah dan manusia dapat dihadapi dengan harmonis, berarti kita telah sesuai dengan kebenaran. Kita telah melebur. Kita telah melebur dengan masalah, melebur dengan manusia, dan melebur dengan kebenaran. Inilah kemampuan untuk melebur

 Kemampuan kita sudah sampai pada tahap dapat melebur dalam segala hal, melebur dengan setiap orang, Inilah kemampuan atau kualitas. Para Buddha di sepuluh penjuru sama dalam hal ini, membabarkan Dharma dengan mengandalkan peleburan. Baik di masa lalu, masa kini, maupun masa depan, para Buddha di 10 penjuru mengacu pada kebenaran tentang peleburan ini sebagai ajaran-Nya. Para Buddha semuanya sama mengajarkan kebenaran yang tidak berubah. Inilah yang harus kita pelajari

 Mempelajari ajaran Buddha bukanlah perkara satu kehidupan saja, melainkan dari kehidupan ke kehidupan. Jika kita dapat sungguh-sungguh mempertahankan tekad di jalan ini, maka kita akan dapat menapakinya dengan baik. Ajaran Buddha terpapar dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita sering membahas bahwa Buddha terus datang ke dunia sepanjang masa yang tak terhitung. Sejak belum mencapai kebuddhaan, saat mencapai, dan hingga saat ini, Buddha tak pernah meninggalkan Dunia Saha. Di dunia ini Makhluk hidup diliputi banyak penderitaan

 Para Buddha dan Bodhisattva tidak tega melihatnya sehingga terus datang ke dunia ini. Jadi, sejak dahulu, sejak masa lampau, bahkan sejak berkalpa-kalpa lalu, Mereka terus datang ke dunia ini. Karena itu, di dalam Kitab Jataka kita dapat melihat Buddha bermanifestasi dalam wujud berbagai makhluk demi membimbing semua makhluk. Ini Buddha lakukan sejak masa lampau yang tanpa awal hingga masa depan yang tak terbatas. Ini menandakan bahwa Buddha terus-menerus berada di Dunia Saha. Karena itu, kita menyebut-Nya Guru Agung Dunia Saha, Buddha Sakyamuni. Guru agung kita di Dunia Saha ini adalah Buddha Sakyamuni. Dharma-Nya senantiasa ada di dunia

 Tubuh Dharma-Nya senantiasa ada di dunia, tubuh perwujudan-Nya pun demikian, senantiasa hadir di dunia sesuai kondisi. Karena itu, kita harus senantiasa membangkitkan rasa hormat. Orang-orang di sekitar Anda mungkin saja adalah perwujudan Buddha dan Bodhisattva. Terlebih lagi, Buddha memberi tahu kita bahwa kita harus menggunakan kebijaksanaan setara dan perilaku yang penuh hormat dalam menghadapi setiap orang dan hal. Jadi, sekarang saya juga ingin berbagi tentang salah satu kisah kehidupan masa lampau Buddha. Pada zaman dahulu, ada seorang anak berusia tujuh tahun

 Dia hidup dalam keluarga penggembala sapi. Suatu hari dia menggiring sapi-sapinya  ke padang rumput yang sangat luas. Di tempat itu, dari kejauhan terdengar orang melantunkan Sutra. Timbul rasa sukacita dalam hatinya. Setelah dia melihat ke sekelilingnya, ternyata ada sebuah vihara

 Jadi, dia mendiamkan sapi-sapinya di tengah padang rumput, lalu dirinya sendiri berlari ke arah vihara sumber suara lantunan Sutra tadi. Dia masuk ke dalam vihara tersebut dan melihat ternyata ada seorang bhiksu yang tengah membabarkan Dharma bagi sekelompok bhiksu lainnya. Dia pun terus berjalan mendekat sampai ke hadapan bhiksu itu, lalu memberi hormat. Setelah memberi hormat, dengan penuh tata krama dia duduk untuk mendengarkan Dharma. Dia sangat senang bisa mendengar ajaran Buddha. Saat mendengar satu kalimat, dia mampu memahami banyak kebenaran

 Adakalanya, saat bhiksu itu selesai membabarkan Dharma, dia pun bertanya. Sang bhiksu berkata kepada anak itu, “Kamu bertanya hanya untuk main-main atau benar ingin belajar dengan tulus?” Anak ini menjawab, “Dharma adalah kebenaran tertinggi, mana boleh main-main dalam mempelajari Dharma?” “Aku bersungguh-sungguh.” Demikianlah, dia terus berdiskusi Dharma dengan sang bhiksu. Sang bhiksu sendiri merasa anak ini sangat luar biasa, sepertinya di banyak kehidupan lampaunya, sang anak sudah mengumpulkan banyak pengetahuan. Dari ucapan anak tersebut, sang bhiksu juga mendapat banyak pelajaran. Mereka merasakan sukacita dalam Dharma

 Sang bhiksu penuh rasa sukacita, begitu juga dengan sang anak. Setelah memberi hormat, anak itu lalu pergi. Setelah meninggalkan vihara dan tiba kembali di padang rumput, dia tak dapat menemukan sapi-sapinya. Dia segera mencari sapinya hingga masuk ke dalam hutan. Ternyata ada harimau muncul dan membuat sapi-sapinya berlarian. Di antara sapi-sapinya, ada yang sudah terluka, ada pula yang sudah berlari jauh. Sapi-sapi itu kelihatan sangat ketakutan

 Anak ini pun segera bergegas untuk menolong sapi-sapinya. Akan tetapi, harimau menerkam anak ini. Anak ini pun meninggal. Tak lama kemudian, alkisah ada sebuah keluarga lain di kota. Keluarga ini adalah keluarga kaya dan terpandang. Sang kepala keluarga memiliki banyak istri

 Istri pertamanya mengandung. Sejak mengandung, sang istri ini entah mengapa menjadi gemar melantunkan Sutra. Lantunannya membuat orang merasa kagum, tetapi tidak memahami maknanya. Orang-orang di daerah itu melihat keluarga ini memiliki banyak pelayan, memiliki banyak istri, serta banyak pengawal, maka mereka merasa takut. Mereka tidak mengerti apa yang dilantunkan oleh nyonya tersebut. Mereka tidak mengerti itu adalah Dharma. Semua yang nyonya itu lantunkan tidak bisa dipahami orang pada umumnya

 Kepala rumah tangga ini pun sangat khawatir. Dia mengira istrinya mungkin kerasukan setan. Dia terus merasa khawatir. Sudah banyak dokter yang diundang, tetapi semua tak dapat menemukan penyakitnya. Suatu hari, seorang bhiksu lewat di depan rumahnya. Bhiksu itu merasa mendengar sebuah suara yang sangat indah. Karena itu, dia berdiri di depan rumah itu untuk mendengarkan lantunan Sutra yang indah

 Sang bhiksu sangat gembira mendengar lantunan ajaran yang indah yang keluar dari rumah itu. Saat itu, sang pemilik rumah keluar. Akan tetapi, saat melihat sang bhiksu, pemilik rumah ini tidak menyapa. Bhiksu ini merasa heran. Jika bisa melantunkan Sutra, berarti keluarga ini seharusnya adalah umat Buddha. Lalu mengapa sang tuan rumah tidak menunjukkan sikap hormat saat bertemu bhiksu? Sang bhiksu merasa heran

 Biasanya, umat Buddha sangat menghormati anggota Sangha, tetapi mengapa pemilik rumah itu tidak? Jadi, dia merasa keheranan, lalu berinisiatif untuk bertanya, “Permisi, Tuan, apakah keluargamu umat Buddha?” “Apakah kalian sering mendengar Dharma?” Sang tuan rumah menggelengkan kepala. Dia berkata bahwa dia tidak tahu apa itu ajaran Buddha. “Tetapi saya mendengar lantunan Sutra di rumah Anda.” “Itu istri saya.” “Entah mengapa, sejak mengandung hingga sekarang, tiada yang mengerti apa yang keluar dari mulutnya.” “Apa kebenaran yang dia ucapkan, kami semua tidak mengerti.” Bhiksu ini lalu menjawab, “Izinkan saya bertemu dengannya

” “Baiklah, silakan.” “Tolong Anda periksa dia, setan apa yang merasuki tubuhnya?” Saat sang bhiksu masuk, sang nyonya langsung bersujud dengan penuh hormat. Dia berlutut di hadapan sang bhiksu dan mulai berdiskusi tentang ajaran Buddha. Mereka berdiskusi dengan penuh sukacita. Lalu, sang tuan rumah juga merasa heran mengapa mereka berdua berdiskusi dengan begitu penuh sukacita. Dia lalu bertanya kepada sang bhiksu, dan bhiksu ini menjawab, “Semua yang istrimu ucapkan adalah ajaran kebenaran yang luar biasa.” “Selamat!” “Dia sedang mengandung, maka kelak anak yang dia lahirkan seharusnya adalah seorang bijak

” Sang bhiksu meminta tuan rumah menjaga istrinya baik-baik. Tuan rumah ini pun sangat gembira dan segera memberi persembahan kepada bhiksu tadi. Bhiksu ini kemudian kembali ke vihara dan berbagi tentang hal ini kepada bhiksu lainnya. Ini adalah hal yang luar biasa. Hari demi hari berlalu. Sepuluh bulan kemudian, anaknya pun lahir. Saat sang anak akan lahir, ibu ini beranjali dan berlutut, lalu melahirkan dengan lancar. Bayi yang baru lahir ini juga beranjali dan berada dalam posisi membungkuk seakan juga sedang berlutut. Sejak saat itu, sang ibu berangsur-angsur normal dan tidak lagi melantunkan Sutra

 Dia sudah kembali seperti biasa. Saat itu, sang bhiksu mendengar kabar lahirnya sang anak. Dia sangat menantikannya. Akhirnya, tuan rumah itu mengundang sang bhiksu ke rumahnya dan mengabarkan tentang kelahiran putranya. “Setelah melahirkan, istri saya sudah kembali seperti sediakala.” “Mohon Guru berkunjung ke rumah saya dan melihat putra saya.” Bhiksu ini pun mengajak para bhiksu lainnya untuk berkunjung ke rumah tuan tadi

 Bhiksu ini menggendong sang anak. Saat melihatnya, bhiksu ini merasa di masa depan anak ini benar-benar akan menjadi guru pembimbing umat manusia. “Dia adalah orang bijak, kelak jika berjodoh, aku juga ingin menerima ajarannya.” Sang tuan rumah sangat gembira. Di hari itu dia memberi persembahan kepada Sangha. Sejak itu, waktu terus berlalu. Anak ini pun terus tumbuh

 Sejak kecil, dia sudah sangat bijaksana. Kebijaksanaannya melampaui orang dewasa. Cara hidupnya dan pola pikirnya berbeda dengan orang pada umumnya. Saat anak itu berusia tujuh tahun, sang bhiksu kembali datang membawa rombongan. Melihat sang bhiksu, anak ini merasa seakan pernah mengenalnya dan segera bernamaskara. Dia seperti bertemu seorang teman lama

 Mereka duduk dan mulai berdiskusi Dharma. Saat sang bhiksu dan sang anak berdiskusi, para bhiksu lain pun turut merasa gembira. Mereka merasa itu sangat luar biasa. Anak semuda itu dapat berdiskusi Dharma dengan sesepuh mereka. Terlebih lagi, setiap ucapannya mengandung kebijaksanaan di atas rata-rata. Sang bhiksu lalu meninggalkan rumah itu. Kisah ini selesai sampai di sini

 Buddha lalu menjelaskan, “Ketahuilah, dalam kisah tadi, bhiksu itu adalah Mahakasyapa yang melatih diri di zaman Buddha masa lalu, sedangkan anak itu adalah Aku, saat ini adalah Buddha Sakyamuni.” di masa lalu, Aku mendengar ajaran Mahayana dari bhiksu ini.” Mahayana berarti ajaran Kendaraan Agung. “Saat mendengar ajaran Mahayana dari bhiksu itu, dalam batin-Ku timbul kekaguman dan pemahaman.” “Saat itu timbul kekaguman dalam batin-Ku

” “Aku merasa Dharma ini sangat baik.” Jadi, dalam batin timbul kekaguman dan pemahaman, dan rasa sukacita yang tak pudar. Saat mendengar lantunan Sutra , anak itu merasa sukacita. Hingga saat dia terlahir kembali, rasa sukacita dan kekagumannya tetap ada. Dia memperoleh pemahaman dalam batin dan merasa sangat gembira. Dia tak pernah meninggalkan rasa sukacita ini. Sama sekali tidak pernah. Dia tidak lupa tentang semangat kehidupan lampaunya

 Sejak saat itu, dia terus bersemangat di tengah rasa sukacita setelah mendapat pemahaman. Dia tidak pernah melupakannya. Dia benar-benar sadar akan kehidupan lampaunya. Dia senantiasa ingat kehidupan lampaunya. Meski telah berselang satu kehidupan, dia tetap masih ingat Dharma yang dia diskusikan dengan sang bhiksu. Akhirnya, dia mencapai pencerahan tertinggi yang setara. Sejak bertemu bhiksu itu, anak ini terus menumbuhkan kebijaksanaan hingga tercerahkan

 Karena itu, dikatakan, “Kebajikan dari sekali mendengar saja demikian, Terlebih lagi kebajikan praktisi sejati.” Artinya, dengan hanya mendengar saja, dia memperoleh sukacita dan akhirnya melatih diri pantang mundur dan terus bersemangat. Dari kehidupan ke kehidupan, dari kehidupan lampau ke kehidupan sekarang, dia senantiasa ingat akan tekadnya. Dengan demikian, kebijaksanaan baru bisa bertumbuh hingga akhirnya mencapai pencerahan tertinggi. Hanya dengan sekali mendengar, dia dapat terus mengingat kebajikan ini, sedangkan kita setiap hari mendengar Dharma. Setiap hari kita tengah melatih diri

 Setiap hari kita tengah menghormati Dharma. Tentu saja jasa kebajikan kita lebih besar. Saudara sekalian, sungguh, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus memiliki rasa hormat. Jika kita dapat menghormati Dharma yang berisi kebajikan dan dapat menyerap ajaran baik ini ke dalam hati dan perbuatan kita, maka secara alami kita akan memperoleh kebijaksanaan, dapat melihat kebenaran dengan jelas, serta memiliki kualitas yang sempurna. Jika setelah mendengar Dharma, kita dapat memperoleh pemahaman dan senantiasa dipenuhi sukacita, maka seperti yang sering kita katakan bahwa dengan mempertahankan tekad awal, kita pasti dapat mencapai kebuddhaan. Jika dapat selalu bersukacita mendengar Dharma, kita akan memperoleh kebijaksanaan. Jadi, mengenai praktik ajaran baik, intinya adalah di dalam hati kita harus ada rasa hormat terhadap Dharma

 Inilah yang tidak boleh kurang dalam proses pelatihan diri kita. Jadi, harap semua selalu bersungguh hati.

Leave A Comment