Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 162 – Enam Praktek 10 Dedikasi Bagian 1

Saudara se-Dharma sekalian, saat batin menyatu dengan kondisi saat ini, apakah kalian dapat merasakan ketenangan? Baik saat sendirian maupun berada di tengah banyak orang, batin kita harus senantiasa jernih. Apakah kita sudah berada dalam tahap ini? Kita harus sering mengevaluasi diri. Dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus sering bertanya pada diri sendiri apakah batin kita senantiasa menyatu dengan kebenaran. Benar berarti tidak palsu

 Melatih diri haruslah dengan niat yang benar, bukan yang palsu. Apakah sejak awal niat kita dilandasi oleh hati Buddha? Jadi, dalam mempelajari ajaran Buddha, terlebih dahulu kita harus meneladani hati Buddha. Jika setiap orang pada dasarnya memiliki hakikat yang sama dengan Buddha, lalu mengapa kita terombang-ambing dalam kelahiran kembali? Entah sudah berapa kehidupan dan berapa lama kita terombang-ambing. Kita sekarang tidak dapat mengetahuinya. Kini kita hanya tahu bahwa kegelapan batinlah yang menyebabkan kelahiran kembali. Kita mungkin tahu bahwa mulanya batin kita bersifat murni, lalu karena berbagai sebab, batin kita mulai dipenuhi noda. Noda ini terus bertambah dan berlipat ganda

 Kini, kita harus mengikis noda dan kegelapan batin ini selapis demi selapis. Kini kita harus mengerahkan usaha keras untuk dapat kembali pada hakikat yang murni. Kita harus menjalankan praktik bertahap mulai dari sepuluh keyakinan, sepuluh kediaman, sepuluh praktik, hingga sepuluh dedikasi. Metode-metode yang kita bahas sebelumnya lebih banyak memberi manfaat bagi diri sendiri dan hanya sedikit manfaat bagi orang lain. Tentu, jika tidak pernah menjadi murid, bagaimana kita mau menjadi guru? Setiap orang harus belajar secara bertahap mulai dari TK, SD, dan seterusnya. Jadi, jangan kita mengeluh terhadap jalan yang panjang ini. Kita harus tetap bersungguh hati dan giat

 Kita harus senantiasa membersihkan cermin batin kita agar selalu jernih. Sebelumnya saya sudah mengatakan bahwa kini tujuan pembahasan kita adalah memperkuat tekad welas asih. Selain berlatih demi manfaat bagi diri sendiri, kita juga harus membawa manfaat bagi semua makhluk. Kita sudah membahas ini sebelumnya. Hari ini saya ingin berbagi kepada kalian tentang yang pertama dari sepuluh dedikasi, yakni membimbing semua makhluk. Arti dari sepuluh dedikasi adalah memperluas dedikasi kita dari kecil menjadi besar. Untuk itu, pertama kita harus membimbing semua makhluk

 Untuk membimbing semua makhluk, kita harus terjun ke tengah masyarakat. Masyarakat sangat kompleks, memiliki banyak masalah dan kerisauan. Kita harus bagaimana? Pertama, kita harus」 meninggalkan ciri makhluk hidup, kembali pada pikiran tak terkondisi, menuju jalan ke Nirvana. Inilah yang disebut menolong semua makhluk. Untuk menolong semua makhluk, kita harus meninggalkan kemelekatan pada ciri makhluk hidup

 Saat membahas praktik tanpa kemelekatan, saya juga pernah membahasnya. Buddha tidak memiliki konsep keakuan, makhluk hidup, atau individu. Jadi, Buddha tak lagi terikat oleh wujud. Ini yang disebut tanpa kemelekatan. Jadi, kita juga harus mempelajari hal ini. Saat melihat berbagai jenis makhluk hidup, terhadap orang yang kurang berjodoh, kadang melihat saja kita sudah tidak suka

 Berhubung telah bertekad menapaki Jalan Bodhisattva, maka kita hendaknya mengubah diskriminasi terhadap makhluk hidup ini menjadi welas asih. Kita harus memiliki rasa iba terhadap mereka. Setelah rasa welas asih bangkit, kita akan dapat semakin berlapang dada. Jadi, kita harus meninggalkan konsep ciri makhluk hidup. Kita tidak boleh mendiskriminasi orang yang tak berjodoh dengan kita sehingga kita tidak senang saat melihatnya. Ini karena welas asih kita telah bangkit. Sebaliknya, terhadap orang yang berjodoh, bukankah kita akan sangat mengasihinya? Benar, kita mengasihinya, tetapi kita tidak boleh pilih kasih

 Jika kita bersikap pilih kasih, maka termasuk melekat pada ciri makhluk hidup. Kita mengistimewakan orang yang kita kasihi tanpa mengindahkan yang lainnya. Ini juga kemelekatan pada ciri makhluk hidup. Ini termasuk noda batin dan ketamakan. Terhadap orang yang tidak berjodoh, kita selalu menolak mereka. Ini termasuk kebencian. Jadi, kita hendaknya tidak memendam kebencian, juga tidak menyimpan ketamakan

 Inilah hati Buddha yang murni. Ini yang disebut batin yang tak terkondisi. Inilah tujuan kita mempelajari ajaran Buddha. Kita harus selalu menjaga pikiran kita agar tidak terpengaruh kondisi. Kita sering mendengar orang berkata, “Tidak apa-apa.” “Kalau begitu, apa Anda tidak rugi?” “Tidak apa-apa.” “Dahulu Anda baik terhadap orang itu, sekarang mengapa dia begitu terhadap Anda?” Bukankah ini yang disebut tanpa kemelekatan? Orang seperti ini bebas dari kemelekatan dan noda batin

 Ini yang disebut pikiran tak terkondisi, hati yang jernih dan murni. Buddha senantiasa mempertahankan hakikat murni sehingga dapat membangkitkan kebijaksanaan tertinggi dan baru dapat membimbing semua makhluk yang berwatak keras di Dunia Saha ini. Jadi, kita hendaknya meninggalkan ciri makhluk hidup dan kembali pada pikiran tak terkondisi. Artinya, kita harus memiliki hati yang murni seperti Buddha, yakni hati yang bebas dari kemelekatan. Lalu kita harus menuju jalan ke Nirvana. Dengan demikian, batin kita baru bisa selalu hening dan jernih

 Mengenai Nirvana, ada orang berpikir, “Bukankah Nirvana berarti meninggal?” Bukan. Makna terdalam dari Nirvana adalah kondisi batin yang sangat hening atau ada yang menyebutnya “Tanah Cahaya Hening”. Ini menggambarkan kondisi batin yang hening, maka disebut “Tanah Cahaya Hening”. Sesungguhnya, kondisi ini sangat tenang dan hening tanpa adanya gejolak sedikit pun. Inilah Nirvana. Jika dapat mencapai kondisi ini, barulah kita disebut menolong semua makhluk

 Untuk dapat menolong semua makhluk, batin kita harus sangat jernih. Kita tidak boleh melekat atau terpengaruh kondisi. Kita harus meninggalkan ciri makhluk hidup agar tidak ikut terjerumus ke dalam berbagai gejolak emosi makhluk awam

 Jika terjerumus, kita akan sangat menderita. Jika terjerumus ke dalam berbagai emosi, maka kita akan sangat menderita. Karena itu, sebelumnya kita membahas berbagai metode untuk membangun tekad pelatihan diri kita. Kita telah membuka jalan bagi diri sendiri, maka kini kita harus sungguh-sungguh menapaki Jalan Bodhisattva ini. Jadi, dedikasi yang terlepas dari ciri makhluk hidup barulah dedikasi yang sesungguhnya. Inilah dedikasi yang diperluas dari kecil ke besar. Dedikasi ini juga bermakna “kembali”

 Saya sering mengatakan kepada kalian bahwa lapangan olahraga atletik berbentuk bundar. Jika kita melihat para atlet sedang berlari estafet, mereka juga menggunakan lintasan bundar. Ini sama dengan siklus kelahiran kembali. Kita harus menjalaninya tahap demi tahap. Dari tataran makhluk awam, kita tak bisa langsung kembali pada hakikat murni. Saya sering mengatakan bahwa Buddha memberi ajaran secara langsung dengan menjadi teladan nyata

 Buddha juga memulai pelatihan-Nya dengan tekad, lalu menjalankan praktik nyata mulai dari tataran makhluk awam. Karena itu, jika mendalami Sutra, kita akan sering menemukan kisah Buddha yang bermanifestasi dalam berbagai wujud untuk membangkitkan tekad makhluk lain. Sesungguhnya, dalam hati kita sudah terkandung tekad ini. Hanya saja, perlu ada orang yang mengajarkan agar kita dapat mewujudkan tekad ini menjadi sesuatu yang nyata. Jadi, Buddha datang untuk mengajar kita. Ini yang dimaksud “kembali”. Artinya, titik awal kita harus benar. Kita harus bertolak dari titik ini

 Sama halnya, meski Buddha adalah Buddha, tetapi di alam manusia, Beliau juga harus menunjukkan ciri manusia dan parinirvana pada usia 80 tahun. Apakah setelah itu, Buddha selalu berada di dalam “Tanah Cahaya Hening”? Tadi kita sudah membahas tentang Nirvana. Itu adalah sebuah kondisi batin. Buddha adalah Pembimbing Alam Manusia dan Ayah Dari Tiga Alam. Beliau adalah guru utama kita, Buddha Sakyamuni

 Beliau tak akan meninggalkan Dunia Saha. Beliau akan terus datang ke dunia ini. Saya sering berbagi tentang ini dengan kalian. Buddha wafat pada usia 80 tahun, tetapi Beliau pasti kembali lagi ke dunia dan entah sudah berapa kali. Ada orang yang berkata, “Apakah Buddha selalu wafat dalam usia 80 tahun?” Saya katakan, tidak. Beliau juga bisa muncul dalam wujud anak kecil atau bayi

 Jika kita berkunjung ke kamar bayi di RS, kita juga bisa melihat bayi yang diletakkan di dalam inkubator. Saat melihatnya, orang-orang mungkin memberi selamat pada orang tuanya dan mendoakan anak tersebut. Akan tetapi, bayi itu berada di inkubator. Kita juga mungkin berpikir, “Kasihan sekali.” “Mengapa dia harus lahir dalam kondisi seperti itu?” Kehidupan sungguh penuh penderitaan. Ini mungkin juga merupakan wujud Buddha. Buddha bisa datang sebagai bayi yang berusia pendek untuk menyadarkan manusia tentang penderitaan. Orang yang melihat bayi itu dapat terinspirasi dan tersadarkan

 Ini disebut pencerahan sebagian. Jika orang yang melihatnya merasa, “Setelah melihatnya, saya jadi sadar begitulah kehidupan manusia,” berarti dia telah bertemu wujud Buddha. Adakalanya Buddha bermanifestasi sebagai manusia yang hidup kekurangan, sakit, berusia pendek, tidak mampu berobat, atau lainnya. Karena itu, kita sering berkata bahwa kita hendaknya memperlakukan semua makhluk yang menderita dengan penuh syukur. Artinya sama, yakni setiap orang adalah Buddha. Terhadap orang yang menderita, adakalanya kita menolong mereka. Sering kali kita tidak bilang “menolong”. Kadang kita bilang “membantu”

 Terhadap penerima bantuan,  kita “memberikan cinta kasih”. Jadi, Buddha memberi tahu kita bahwa di antara semua makhluk, Buddha mungkin bermanifestasi dalam wujud menderita agar kita berkesempatan untuk bersumbangsih. Ini adalah bentuk pendidikan

 Jadi, para makhluk yang menderita adalah guru bagi para praktisi pelatihan diri. Para dokter kita juga sering berkata, “Menjadikan pasien sebagai guru.” Saya sering berkata kepada mereka, “Pasien adalah guru kita.” “Kalian bisa belajar banyak dari pasien

” Benar, pasien adalah guru. Jadi, setiap orang yang kita temui sesungguhnya tengah mendidik kita. Kapan pun kehidupan kita ini berakhir, kita pasti akan terlahir kembali dalam wujud yang berbeda. Asalkan batin kita selalu murni tanpa noda, maka wujud apa pun tidaklah penting. Jadi, dalam memperluas dedikasi, kita terus kembali ke dunia ini. Karena itu, disebut “kembali”. Orang sering berkata, “Jika bukan pada kehidupan ini, maka pada kehidupan mendatang.” Bukan hanya pada kehidupan ini saja kita harus bersumbangsih. “Usia saya sudah lanjut, kini saya sudah tiada waktu lagi, biar saya baru melatih diri pada kehidupan mendatang

” Tidak bisa. Pada kehidupan ini, Anda harus menanam benih untuk kehidupan mendatang. Jika Anda terus beralasan, “Pada kehidupan ini saya sudah tua, saya sangat sibuk, tunggu kehidupan mendatang saja,” berarti Anda tidak menanam benih pada kehidupan ini, maka bagaimana bisa terkondisi untuk berlatih pada kehidupan mendatang? Jadi, kita harus lakukan sekarang juga. Kita harus segera melatih diri. Kita harus menanam benih untuk kehidupan mendatang

 Ini juga disebut “kembali”. Kita akan terlahir “kembali” ke kehidupan mendatang. Akan tetapi, saat membahas tentang “kembali”, kalian harus mendengar dengan cermat. Buddha memiliki hati yang murni tanpa noda. Meski kita melangkah maju dalam pelatihan diri, tetapi pada akhirnya tujuan kita adalah kembali pada titik awal. Titik awal ini sangat murni tanpa noda dan tanpa kemelekatan. Inilah yang disebut “kembali”. Kita harus kembali pada hati Buddha dan tekad Bodhisattva

 Kita harus berjalan ke arah itu. Jika belum semua makhluk terselamatkan, maka selamanya kita tak akan meninggalkan Dunia Saha. Inilah arah pelatihan kita. Jadi, “Membangkitkan welas asih, menolong semua makhluk, mengembalikan kebajikan dari sepuluh praktik kepada tiga alam. Dari penggalan ini ini kita tahu bahwa kita harus terus mengembangkan kebajikan demi semua makhluk. Dalam proses melatih diri, Kita harus menuju pada “tiga alam”. “Tiga alam” berarti tiga tempat

 Ke mana hati kita harus tertuju? Pertama, pencapaian kita harus tertuju pada kebenaran sejati. Tujuan yang ingin kita capai adalah kebenaran sejati. Untuk itu, kita bertekad dan berikrar untuk terus melatih diri. Kedua, pencarian kita tertuju pada pencerahan tertinggi. adalah realisasi kebenaran sejati

 Inilah yang ingin kita capai. kita harus mencari pencerahan atau Bodhi. Jadi, pencarian kita tertuju pada   Bodhi atau pencerahan tertinggi. Bodhi adalah jalan kebenaran. Kita semua tahu, untuk mencapai tujun, kita harus menapaki jalan ini. Jadi, pencarian kita tertuju pada Bodhi atau pencerahan tertinggi. Penyelamatan kita tertuju pada semua makhluk. Jalan Bodhi bertujuan menyelamatkan semua makhluk

 Jika tidak menyelamatkan atau memberi manfaat bagi semua makhluk, maka tidak disebut Jalan Bodhisattva. Jadi, kita harus tahu bahwa kita juga harus seperti mempelajari ilmu kedokteran. Lihatlah para dokter Tzu Chi. Mengapa mereka ingin menjadi dokter? Demi menyelamatkan orang. Ini jugalah tujuan kita mempelajari ajaran Buddha. Ini memang sangat mudah diucapkan. Semua ini tak lepas dari kehidupan sehari-hari, tidak lepas dari hakikat sejati yang murni

 Dengan pikiran yang murni, tanpa pamrih, tanpa kemelekatan, dan tanpa belenggu, kita membangkitkan tekad untuk mempraktikkan Jalan Bodhisattva. Kita memiliki tujuan menolong semua makhluk. Tadi kita membahas tentang dokter. Lihatlah, mengapa dokter ingin menjadi dokter? Untuk menolong orang. Karena itulah, mereka bertekad menjadi dokter. Lihatlah para dokter di RS Tzu Chi. Saat mendengar terjadi bencana di suatu tempat atau di suatu negara dan membutuhkan bantuan pengobatan dari kita, maka meskipun penuh kesulitan, para dokter akan bergerak dengan sukarela. Contohnya, di Pakistan, pada tanggal 8 Oktober 2005, terjadi sebuah gempa dahsyat yang memakan korban tewas dan luka-luka. Kita pun segera mempersiapkan bantuan dan mencari akses untuk masuk ke sana

 Saya sangat berterima kasih kepada insan Tzu Chi dari berbagai negara yang memiliki jalinan jodoh baik yang luas sehingga memungkinkan kita untuk mendapat akses. Insan Tzu chi dari Indonesia, Turki, Yordania, dan negara lainnya turut mencari jalan dan cara agar kita dapat masuk ke Pakistan. Para relawan dari berbagai negara ini berkoordinasi dengan kantor pusat di Taiwan, lalu bersama-sama dengan insan Tzu Chi Taiwan menyalurkan bantuan ke Pakistan. Selain para anggota Tzu Cheng dan komite, para tenaga medis juga ikut serta. Relawan tim gelombang pertama berasal dari Yordania, Turki, Malaysia, Indonesia, dan Taiwan. Jumlahnya adalah lima belas orang. Mereka terlebih dahulu meninjau daerah bencana untuk memahami kondisi di sana dan segera menolong korban luka-luka. Untuk itu, para dokter juga ikut serta. Kondisi di sana sangat sulit

 Selama setengah bulan di sana, mereka sungguh menghadapi banyak kesulitan. Meski harus melintasi gunung dan perairan, mereka tetap tidak gentar. Mereka berangkat pada tanggal 18 Oktober 2005. Tim kedua berangkat pada 1 November 2005. Tim itu beranggotakan 17 orang dari Taiwan, Indonesia, dan Malaysia. Di dalamnya juga terdapat 8 orang dokter yang dipimpin oleh dr. Chien. Mereka menghadapi banyak kesulitan

 Mereka harus melewati jalur udara di tengah malam dengan pesawat terbang selama lebih dari 20 jam. Setibanya di Pakistan, hari sudah pagi. Kemudian mereka harus mulai meninjau daerah bencana. Pascabencana, banyak jalan terputus dan menjadi tidak rata. Kesulitan yang dihadapi amat banyak. Secara keseluruhan, dibutuhkan dua sampai tiga puluh jam untuk tiba di daerah bencana. Setibanya di sana, mereka langsung melakukan serah terima dengan tim sebelumnya

 Saat melakukan serah terima, tim dokter gelombang pertama menyampaikan jenis penyakit dan luka yang diderita mayoritas warga serta obat apa yang telah diberikan. Mereka membutuhkan waktu seharian untuk serah terima. Mereka saling berterima kasih dan saling menghormati. Seusai serah terima, tim pertama meninggalkan daerah bencana dan tim kedua melanjutkan tugas tim pertama. Para dokter ini sungguh berdedikasi. Mereka rela menjangkau orang yang menderita

 Menderita penyakit adalah penderitaan terbesar. Di tengah orang-orang yang menderita, para dokter mengobati mereka yang sakit. Lihat, inilah tekad dan ikrar mereka. Mereka terjun ke daerah bencana dan berada bersama-sama para warga demi membantu para korban. Mereka sendiri berprofesi sebagai dokter. Setelah 15 hari berada di daerah bencana, mereka harus kembali menjalankan tugas mereka di rumah sakit

 Lihat, inilah tekad mereka. Para dokter rela menjangkau orang sakit. Demikian pula, sebagai praktisi Buddhis, kita harus meneladani semangat ini. Kita harus mempertahankan kemurnian hati yang tanpa noda ini. Kita semua hendaknya mengikuti langkah Bodhisattva

 Kita semua harus bertekad dan berikrar untuk berada di tengah-tengah semua makhluk. Buddha Sakyamuni adalah guru pembimbing Dunia Saha ini. Selamanya Beliau tidak akan meninggalkan semua makhluk berwatak keras di sini. Jadi, Saudara sekalian, kita harus selalu bersungguh hati.

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

https://www.geocities.ws/moulmaths/

https://www.geocities.ws/digitalanam/

rp888

rp888