Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 161 – Enam Praktek 10 Dedikasi

 

Saudara se-Dharma sekalian, di saat ini tiada yang mengganggu kita. Kita dapat berkonsentrasi melakukan kebaktian, bermeditasi, dan mendengar ceramah. Betapa kita sangat penuh berkah. Setelah menyadari berkah, kita harus menghargainya. Orang yang menghargai berkah harus menciptakan lebih banyak berkah. Sebelumnya kita sudah membahas praktik sepuluh praktik

 Sebelumnya lagi, kita membahas sepuluh kediaman. Sebelumnya lagi, kita membahas aspek-aspek pelatihan ke dalam dengan tujuan mengetahui yang baik dan jahat. Setelah mengetahui yang jahat, kita harus menjauhinya. Setelah mengetahui yang baik, kita harus melakukannya. Kejahatan membuat kita penuh dengan karma buruk. Segala karma buruk lewat tubuh bersumber dari kegelapan batin dalam pikiran. Bagaimana agar kita dapat mengubah keburukan dan memperbanyak kebajikan serta membersihkan kotoran dalam batin kita, inilah yang dibahas saat kita mengulas sepuluh kediaman dan yang sebelum-sebelumnya. Setelah itu, kita membahas sepuluh praktik

 Setelah mempertahankan niat baik dalam hati, kita harus mempraktikkannya secara nyata. Inilah yang kita ulas saat membahas sepuluh praktik. Entah apakah kalian masih ingat. Dalam praktik ini, kita harus bersemangat dan terus maju. Kita tak boleh berjalan di tempat. Buddha bergelar Yang Teragung Di Antara Makhluk Berkaki Dua. Kaki yang dimaksud adalah berkah dan kebijaksanaan. Saat kaki depan menapak, kaki belakang harus melangkah. Ini yang disebut berjalan maju

 Kita harus terus melangkah maju. Jika dapat melangkah ke arah yang benar, maka kita akan dapat melampaui tingkatan makhluk awam dan mencapai buah kesucian. Dari makhluk awam, kita dapat menjadi Buddha. Inilah yang disebut sepuluh praktik. Kalian tentunya masih ingat sepuluh praktik ini, bukan? Kita sudah membahasnya dengan terperinci. Kita sudah mengerti untuk menghindari kejahatan dan melakukan kebajikan, batin kita sudah mantap ingin mempraktikkannya, kita juga sudah tahu kita harus terus maju, maka kini kita harus memperkokoh tekad ini lagi agar kita semakin yakin bahwa kita telah melakukan kebajikan. Karena itu, banyak orang sering bertanya, “Setelah berbuat baik, sudahkah kamu melimpahkan jasa?” “Setelah melantunkan Sutra, sudahkah melakukan dedikasi?” “Setelah berdana, sudahkah melimpahkan jasa?” Pelimpahan jasa harus selalu dilakukan. Setelah melantukan Sutra, harus melimpahkan jasa

 Melimpahkan jasa untuk siapa? Seharusnya untuk hakikat sejati kita. Hati kita pada dasarnya adalah bersih, hanya saja karena tabiat buruk yang terus terpupuk, kita menjadi diliputi kegelapan batin tebal. Kini kita memiliki jalinan jodoh untuk bertemu ajaran Buddha. Dharma bagaikan air. Air ini dapat membersihkan noda batin kita, maka harus dilimpahkan bagi batin kita. Saat melantunkan Sutra, kita juga harus mendengar isinya. Selain melantunkan, kita harus menyimak isinya. Setelah itu, kita seharusnya sadar. Dengan begitu, kita akan dapat menapaki jalan yang benar yang mengarah kembali pada kondisi saat kegelapan batin belum timbul, yakni kondisi batin yang murni

 Inilah makna pelimpahan jasa atau dedikasi. Untuk itu, ada sepuluh metode yang harus dipraktikkan agar kita tidak melekat. Jika tidak, maka saat melakukan sesuatu, kita selalu berhitung-hitung berapa banyak yang telah kita lakukan. Kita hendaknya berpikir bahwa semua itu memang seharusnya kita lakukan. Jadi, kita harus kembali pada hakikat murni kita yang tanpa kemelekatan. Inilah makna dedikasi atau pelimpahan jasa. Di dalam 52 tingkatan Bodhisattva, tingkatan ke-40 disebut sepuluh dedikasi

 “Menyelamatkan semua makhluk dengan welas asih, maka disebut sepuluh dedikasi.” Tadi kita sudah membahas bahwa kita harus kembali pada hakikat sejati kita. Hati Buddha pada hakikatnya sama dengan hati semua makhluk. Buddha berbelas kasih melihat penderitaan semua makhluk. Berhubung telah bertekad untuk terus maju hingga mencapai kebuddhaan, maka kita tentu harus memiliki hati Buddha yang tidak tega melihat makhluk lain menderita. Jadi, kita harus memiliki welas asih. Praktik sepuluh kediaman yang pernah kita bahas bertujuan mengikis keduniawian kita sehingga kita dapat meneguhkan hati di jalan pelatihan diri. Inilah praktik sepuluh kediaman. Praktik ini mengajarkan kepada kita untuk mengenali tabiat buruk lalu membuangnya serta mengenali kebajikan lalu berdiam di dalamnya

 Ini mengajarkan agar kita dapat meninggalkan keduniawian dan tidak terbelenggu di dalam hal-hal duniawi sehingga dapat terbebas dari segala noda akibat lima jenis nafsu keinginan. Mulai dari praktik sepuluh kediaman, kita diajarkan untuk meninggalkan keduniawian. Praktik sepuluh kediaman dan sepuluh praktik membimbing kita agar melampaui keduniawian. Berikutnya, kita mulai maju selangkah. Banyak orang ingin meninggalkan keduniawian, tetapi hanya punya sedikit welas asih. Sepuluh kediaman dan praktik saja belum cukup. Kita memang tahu bahwa kita harus berbuat kebajikan, tetapi batin kita belum teguh. Jadi, kita kini harus memperkuatnya. Saat bersumbangsih, anggaplah itu sebagai kewajiban

 Berhubung itu merupakan kewajiban, maka kita harus lebih giat. Jadi, sepuluh kediaman membimbing kita meninggalkan keduniawian, dan sepuluh praktik membimbing kita mengembangkan welas asih. Akan tetapi, semua itu belum cukup. Jadi, kini kita harus maju selangkah lagi untuk menolong semua makhluk dengan ikrar welas asih. Kini kita harus mulai membangun ikrar welas asih. Membangun ikrar welas asih apakah berarti kita harus mengasingkan diri dari masyarakat? Meninggalkan kedunawian yang kita bahas tadi merujuk kepada batin kita, sedangkan secara fisik kita tetap berada di tengah masyarakat. Jadi, kita harus berikrar menolong semua makhluk

 Kita harus memiliki ikrar seperti ini dan tetap berada di tengah-tengah masyarakat. Kita berada di tengah masyarakat untuk membawa manfaat bagi banyak orang. Kita mendedikasikan kebajikan kita bagi semua makhluk. Dengan berpikiran seperti ini, kita memperluas dedikasi kita dari kecil menjadi besar. Jika sebelumnya kita hanya memikirkan diri sendiri, maka kini kita harus memperkuat tekad untuk mengembangkan dedikasi kita. Ini yang disebut memperluas dedikasi dari kecil ke besar. Inilah mendedikasikan kebajikan kepada semua makhluk

 Kita bukan hanya melakukan sedikit kebajikan demi manfaat diri sendiri. Bukan. Dahulu saya juga pernah mengatakan bahwa ada perbedaan antara berkah kebaikan dan berkah kebijaksanaan. Berkah kebaikan adalah buah karma baik yang Anda petik setelah berbuat baik. Inilah berkah kebaikan. Jika kita hanya berbuat baik tanpa dibarengi kebijaksanaan, maka manfaatnya sangat kecil dan hanya meliputi diri sendiri. Ini tidak cukup. Kebaikan seperti ini tidak bertahan lama

 Jadi, kita yang kini mempelajari ajaran Buddha hendaknya memperluas makna kebaikan ini. Hingga seluas apa? Hingga menjangkau semua makhluk. Kita tidak hanya mengasihi diri sendiri, tidak hanya mengasihi sesama manusia, melainkan juga mengasihi semua makhluk. Contohnya, kini para relawan Tzu Chi giat melakukan daur ulang demi melindungi bumi. Bahkan segala tumbuhan di muka bumi ini juga harus kita kasihi. Apa lagi yang tidak kita kasihi? Inilah Bodhicitta yang agung. Kita tidak hanya mengasihi diri sendiri

 Saya sering mengatakan bahwa kita harus mengasihi diri sendiri. Jika mengasihi diri sendiri, maka kita harus sungguh-sungguh melatih diri dan menjaga pikiran kita dengan baik. Kita harus bisa membedakan benar dan salah. Sesuatu yang tidak benar atau buruk harus kita hindari. Sesuatu yang benar atau baik harus berusaha kita capai. Apakah pencapaian ini untuk diri sendiri? Pencapaian ini harus demi semua makhluk. Inilah yang disebut dedikasi. Jadi, jika kita semua dapat memahami kebenaran ini, maka kita akan berada di Jalan Bodhi yang lapang dan lurus. Jalan Bodhi ini adalah jalan yang lapang, lurus, dan agung. Buddha datang ke dunia ini untuk terus membimbing kita

 Contohnya, pada suatu masa, Buddha membabarkan Dharma bagi para murid-Nya. Beliau menceritakan, di zaman Buddha masa lampau, ada seorang anak yatim. Ibunya hidup sebagai orang tua tunggal dan harus membesarkan sendiri anak ini. Akan tetapi, mereka yakin pada ajaran Buddha. Ibu ini mendidik anaknya dengan teladan nyata. Dia sering melakukan puja di vihara dan mendengar Dharma. Dia selalu mengedepankan sikap berbakti. Sang anak, sejak berusia tujuh atau delapan tahun sudah mulai bersemangat mempelajari Dharma

 Hatinya penuh ketulusan. Dia menjunjung ketulusan dan semangat. Tiada kepalsuan dalam hatinya. Dia selalu bersemangat melakukan kebajikan dan giat mempelajari Dharma setiap hari. Malam hari pun demikian. Saat tidur di malam hari, dia juga bermimpi merasa lapar dan ingin makan

 Arti mimpi ini adalah dia selalu haus akan Dharma, bagaikan seorang yang lapar Dia selalu mencari makanan batin siang dan malam. Ibu dan anak ini sangat suka mempelajari Dharma. Akan tetapi, mereka tinggal di daerah yang dikuasai seorang raja yang tidak memahami kebenaran. Sang raja sangat tamak akan harta dan rupa. Dia suka menindas rakyat dan sangat lalim. Dia gemar memeras rakyatnya. Karena itu, rakyatnya hidup sangat menderita. Banyak orang yang memendam kemarahan. Mereka hidup kekurangan dan menderita

 Sang raja berpikir, “Hidup ini tidak kekal.” “Dahulu aku banyak melakukan hal yang tidak baik.” “Setelah meninggal, akankah aku terlahir di neraka?” “Jika begitu, maka aku harus mengumpulkan lebih banyak uang, emas, perak, dan barang berharga lainnya agar pada saat ajal menjemput, aku dapat menyuap Raja Yama.” “Dengan begitu Raja Yama akan meringankan hukumanku.” Jadi, sang raja mencari cara untuk memeras lebih banyak harta dari rakyat. Rakyat sudah memberikan segalanya, tetapi kali ini raja mengumumkan bahwa siapa pun yang memberinya upeti barang sedikit, meski hanya sedikit uang atau emas, dia akan diberikan kedudukan penting, bahkan yang memberi lebih akan dinikahkan dengan putrinya. Awalnya sang raja menggunakan cara kejam, tetapi kini dia memberikan iming-iming untuk menarik hati rakyatnya. Akibatnya, rakyat semakin merasa takut. Semua orang mulai memikirkan cara

 Kemudian, anak ini suatu hari berkata pada ibunya, “Aku ingat dahulu Ibu pernah mengatakan bahwa saat Ayah meninggal dunia, kita memasukkan sebatang emas ke mulutnya.” “Sekarang bolehkah aku membuka petinya dan mengambil batangan emas itu?” Ibunya bertanya, “Untuk apa?” Sang anak menjawab, “Aku ingin mempersembahkannya kepada Raja.” Mendengarnya, sang ibu yang mengetahui kebijaksanaan anaknya tidak bertanya apa-apa lagi. Dia langsung setuju dan berkata, “Lakukanlah yang ingin kau lakukan.” Anak ini kemudian menggali makam ayahnya dan membuka peti jenazahnya. Dia lalu mengambil batangan emas dari mulut ayahnya dan segera mempersembahkannya kepada raja. Saat raja melihatnya, dia bertanya, “Dari mana kau dapatkan barang itu?” “Dari mana kau mengambilnya?” Anak ini menjawab, “Saat ayahku meninggal, kami menaruh batangan emas di mulutnya untuk menyuap Raja Yama

” “Aku ingat dahulu kami melakukan ini.” “Kini Yang Mulia membutuhkannya, maka aku membuka peti ayahku dan mengambil emas ini untuk dipersembahkan.” Raja lalu bertanya, “Berapa lama sudah ayahmu meninggal?” “Delapan hingga sembilan tahun,” jawabnya. Raja bertanya, “Jika kau mengambil emas ini, bagaimana ayahmu menjelaskan pada Raja Yama?” Sang anak kembali menjawab, Yang penting sebagai manusia kita berbuat baik, Maka berkah pasti akan mengikuti kita. Bagi yang berbuat jahat, malapetaka pasti mengikutinya. Bencana dan berkah bagaikan bayangan dan suara

 Bayangan selalu mengikuti bendanya. Suara selalu mengikuti sumbernya. Contohnya, saat berbicara, saat saya membuka mulut, suara pun keluar dari mulut saya. Saat ada barang yang jatuh, akan terdengar bunyi di lantai. Jadi, karma bagaikan bayangan dan suara. Bayangan mengikuti benda, sedangkan suara mengikuti sumbernya. Suara timbul akibat adanya gerakan

 Jadi, anak itu berkata, “Mungkinkah berlari untuk mengindari bayangan sendiri?” “Yang Mulia, mungkinkah aku menghindar dari bayanganku dengan cara berlari?” Raja menjawab, “Tentu tidak mungkin.” “Ke mana engkau pergi, bayanganmu akan berada di sana.” “Begitu pula, jika ada benda yang terjatuh, lalu kita mengusap benda itu, pasti akan menimbulkan suara.” “Tidak mungkin tidak.” “Benda yang terjatuh pasti mengeluarkan suara.” “Saat diusap setelah jatuh juga pasti mengeluarkan suara.” “Benar

” Anak itu berkata, “Demikian pula, tubuh kita adalah perpaduan empat unsur, yakni tanah, air, api, dan angin.” “Jika keempat unsur ini tidak selaras, maka penyakit akan bermunculan.” “Pada akhirnya, empat unsur ini akan terurai saat meninggal.” “Jika keempat unsur ini kehilangan keselarasan dan terurai, maka kehidupan akan berakhir.” “Kesadaran akan terpisah dari tubuh.” Saat empat unsur terurai, kesadaran akan terpisah dari tubuh. Saat kesadaran sudah terpisah dari tubuh, tubuh akan mengeluarkan banyak kotoran. Kesadaran akan mengikuti karma untuk kembali terlahir di tiga alam rendah atau alam lainnya

 Setelah kesadaran terpisah dari tubuh, ia akan berubah mengikuti alam tempatnya terlahir. Orang baik dapat terlahir di alam surga. Orang jahat mungkin jatuh ke alam neraka atau tiga alam rendah. “Tidak ada yang bisa mengubah ini.” “Keputusan Raja Yama berkaitan dengan karma.” “Segala penyuapan tidak akan berguna.” “Oleh karena itu, untuk apa Yang Mulia melakukan banyak hal buruk hingga membuat rakyat menderita?” Yang Mulia kini dapat terlahir sebagai raja tentu karena di masa lampau sering berdana.” “Karena memiliki karma baik, maka kini Yang Mulia menjadi raja

” “Yang Mulia harus menghargai berkah ini dan harus terus berdana agar rakyat hidup sejahtera.” “Dengan begitu, berkah akan bertambah.” “Kini, sebagai raja, jika Yang Mulia dapat mengasihi rakyat, maka berkah Yang Mulia akan terus berlanjut hingga ke kehidupan mendatang.” “Yang Mulia juga bisa menggunakan kebijaksanaan dan cinta kasih untuk membimbing seluruh rakyat agar mereka dapat mengarah pada ajaran baik.” “Dengan demikian, berkah dan kebijaksanaan Yang Mulia akan sempurna.” “Yang Mulia akan memperoleh berkah tak terhingga.” Mendengarnya, sang raja merasa yang dikatakan anak itu benar. “Mengapa ini tidak terpikir olehku?” “Mengapa aku begitu bodoh?” “Aku hanya memikirkan kesenangan pribadi.” “Aku hanya takut, takut setelah meninggal nanti, Raja Yama menghukumku

” “Aku hanya memiliki ketakutan, tetapi tidak menyadari banyaknya kejahatan yang aku lakukan.” Setelah melakukan kejahatan, apakah rasa takut ada gunanya? Tidak. Karma bagaikan bayangan dan suara. Jadi, sang raja merasa menyesal. Dia merasa malu dan bertobat. Lalu bagaimana dia mengungkapkan pertobatannya? Sang raja membuka gudang kerajaan dan mengembalikan semua harta benda yang pernah dirampas dari rakyat

 Dia juga membebaskan para tahanan yang dihukum karena tak mampu memberikan upeti. Sang raja pun mulai mengarahkan rakyatnya ke arah kebijaksanaan dan ajaran baik. Selesai menceritakan kisah ini, Buddha berkata, “Tahukah kalian, anak dalam cerita tadi kini adalah Aku.” “Pada kehidupan lampau-Ku, tak peduli di mana pun berada, berapa pun usia-Ku, di negara mana pun tinggal, dan dalam kondisi apa pun hidup, Aku selalu memberi manfaat bagi semua makhluk.” Jadi, sebagai praktisi Buddhis, kita pun harus demikian. Di negara mana pun dan dalam kondisi apa pun, Buddha selalu membimbing semua makhluk. Jadi, tadi kita juga membahas bahwa kita harus berada di tengah masyarakat agar dapat membawa manfaat bagi semua makhluk

 Kita tidak diajarkan untuk mengasingkan diri. Yang dimaksud meninggalkan keduniawian adalah batin kita harus bebas dari ketamakan dan noda batin. Kita harus menggunakan semangat nonduniawi ini untuk terjun ke tengah masyarakat dan memberi manfaat bagi orang banyak. Ini yang disebut memperluas dedikasi. Kalian sering mendengar saya berkata bahwa kita harus menggunakan semangat nonduniawi untuk menjalankan misi di dunia

 Ini yang disebut berada di tengah masyarakat dan membawa manfaat. Batin kita harus bebas dari keduniawian, tetapi kita sendiri harus tetap berada di tengah masyarakat untuk bersumbangsih. Dengan begitu, kita baru dapat memperluas dedikasi kita. Saudara sekalian, kita harus selalu bersungguh hati.

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

https://www.geocities.ws/moulmaths/

https://www.geocities.ws/digitalanam/

rp888

rp888