Sanubari Teduh – 163 – Enam Praktek 10 Dedikasi Bagian 2
Saudara se-Dharma sekalian, dari waktu sehari yang panjang, kita memiliki beberapa jam untuk menenangkan diri dan beristirahat. Saat mendengar ketukan kayu, aktivitas kita dimulai. Kita menuju ke aula, melakukan kebaktian, dan bermeditasi. Saat-saat ini sangatlah tenang dan damai. Karena itu, saat membuka mata di pagi hari, saya selalu berpikir, “Saya bersyukur.” Kemudian, pikiran selanjutnya adadalah bertekad untuk menjalankan aktivitas hari itu dengan baik. Kita harus berusaha agar setiap orang yang masuk ke Tzu Chi tidak menyesal
Untuk itu, kita harus sangat waspada dalam pikiran dan perilaku. Saat kita berada dalam kedamaian ini, ketahuilah bahwa banyak orang di luar tengah bersumbangsih bagi mereka yang menderita. Di seluruh dunia ini, Tzu Chi adalah dunia dengan matahari yang tak pernah terbenam. Ini karena adanya perbedaan waktu di dunia. Saat kita beristirahat, insan Tzu Chi di negara lain tengah beraktivitas. Mungkin setelah kita selesai beraktivitas dan beristirahat, mereka masih belum dapat beristirahat. Karena itu, kita harus senantiasa bersyukur atas kondisi kita
Terlebih lagi, setiap pagi, sebelum matahari terbit kita memiliki kondisi yang tenang untuk melatih diri dan mendengar Dharma. Bolehkah kita tidak bersyukur? Ya, bersyukur adalah bagian dari pelatihan diri. Jadi, yang kedua dari sepuluh dedikasi termasuk praktik Jalan Tengah. Dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus menapaki jalan yang lapang ini. Jalan ini sangat lurus. Saya sering mengatakan ini kepada kalian
Sutra Makna Tanpa Batas selalu mengingatkan kita bahwa berjalan di Jalan Bodhisattva berarti kita berjalan di jalan yang lurus tanpa menyimpang sedikit pun. Inilah yang disebut Jalan Tengah. Dunia ini penuh dengan perangkap. Perangkap ini berasal dari luar dan dari dalam pikiran kita sendiri. Yang berasal dari luar disebut objek. Dahulu kita juga pernah membahas tentang enam indra, enam objek, dan enam kesadaran. Jika ketiganya bergabung, dapat menyebabkan kita terjerumus dalam kesesatan
Jadi, di sini kita diingatkan untuk tidak menyimpang dari jalan ini. Berhubung kondisi luar selalu berubah tanpa henti, Kita sering menyebutnya tidak kekal, membawa derita, dan kosong. Ada orang yang setelah mendengarnya, lalu berkata, “Benar, dunia tidaklah kekal, semua hanya perpaduan semu unsur-unsur.” “Berhubung semuanya semu, tidak kekal, dan bersifat ilusif, apa lagi yang harus saya perjuangkan?” Orang ini pun menjadi malas. Ada pula sebagian orang yang hanya mementingkan hari ini saja dan tidak peduli dengan hari esok. Memang, menganggap tidak ada hari esok juga dapat mengingatkan kita tentang ketidakkekalan. Hidup hanya sebatas tarikan napas
Karena itu, kita harus tekun dan bersemangat. Ini baru benar. Kita harus tekun dan bersemangat, Juga harus mengingatkan diri sendiri bahwa segala perbuatan menanam benih karma, baik yang baik maupun yang buruk. Jika melakukan hal yang benar, maka akan menanam karma baik. Dengan karma baik, berarti kita telah menjalin jodoh baik dan berkah. Semua ini juga berasal dari perbuatan kita, juga bermula dari niat dalam hati. Jika arah kita benar, kita akan dapat menjalin jodoh baik dan melakukan hal baik
Demikianlah jika kita berada di Jalan Bodhisattva yang lapang. Orang di jalan yang menyimpang akan berpikir, “Belum tentu ada hari esok, tidak perlu berpikir terlalu banyak, untuk apa bersusah payah hari ini?” “Tidak perlu lakukan apa-apa.” Lihatlah, banyak orang bermalas-malasan dan menjalani hari-hari dengan sesuka hati. Yang lebih tersesat bahkan berkata, “Semuanya hanya ilusi, untuk apa saya berbuat baik?” “Untuk apa takut berbuat jahat, yang penting saya senang
” Kalau begini, akan semakin banyak orang jahat di dunia. Tatanan masyarakat juga akan menjadi kacau. Jadi, ketidakkekalan, kekosongan, ilusi, dan berbagai istilah lainnya, jika digunakan secara tidak tepat akan membawa kita pada penyimpangan sehingga membangkitkan niat buruk, menciptakan karma buruk, dan mengacaukan dunia, tatanan masyarakat, serta moralitas. Jadi, yang terpenting dalam mempelajari ajaran Buddha adalah kita ahrus benar-benar mengerti untuk mempraktikkan Jalan Tengah. Artinya, pemikiran kita harus benar. Dalam mempelajari Dharma, kita harus bersumbangsih secara nyata. Kita harus menyadari yang tak terkondisi, tetapi mewujudkan praktik nyata
Yang tak terkondisi adalah hakikat murni. Kita harus tahu bahwa hakikat yang murni ini adalah hakikat kebuddhaan. Kita hendaknya melampaui keduniawian dan tataran makhluk awam hingga mencapai kondisi hati yang murni. Jadi, kita harus menggunakan semangat nonduniawi untuk menjalankan misi-misi di dunia. Kita harus terjun ke tengah masyarakat. Akan tetapi, kita juga harus sadar. Setiap orang memiliki hakikat murni tanpa noda yang sama dengan Buddha, Maka janganlah membiarkan berbagai permasalahan duniawi mencemari batin kita
Jadi, kita harus mempertahankan hati yang murni saat berada di tengah umat manusia untuk bersumbangsih. Penderitaan di dunia sangat banyak. Karena itu, kita harus terjun ke masyarakat untuk menolong semua makhluk. Jadi, kita tidak boleh melekat pada nihilisme atau melekat pada kekosongan. Nihilisme menganggap segala sesuatu adalah tidak ada. Kejahatan tidak akan mendatangkan akibat. Pandangan nihilisme ini tidak boleh ada
Kita harus memahami hukum sebab akibat. Semua sebab pasti mendatangkan akibat. Sebagaimana benih ditanam, demikianlah buah yang akan dituai. Sebab dan akibat ini akan terus berlanjut dari kehidupan ke kehidupan. Namun, jika pandangan seseorang menyimpang dan mengarah pada nihilisme, menganggap segala sesuatu tidak mendatangkan akibat, maka dia tidak akan takut akan hukum karma. Kita berjalan di Jalan Tengah. Kita memahami ketidakkekalan, maka tidak perlu melekat. Jadi, terhadap segala benda materi di dunia dan segala benda yang kita anggap berharga, kita hanya memiliki hak guna, tidak punya hak milik. Tiada sesuatu pun di dunia ini yang dapat kita miliki selamanya
Karena itu, sering dikatakan bahwa kekayaan sulit bertahan lebih dari 3 generasi. Kemiskinan juga demikian. Orang yang hidup kekurangan suatu saat juga mungkin memiliki harta. Orang kaya juga belum tentu kekayaannya bertahan ke generasi berikutnya. Jadi, sering dikatakan bahwa keluarga yang berbuat baik pasti memiliki berkah lebih. Hendaklah menanam kebajikan bagi anak cucu, jangan hanya meninggalkan harta kekayaan. Inilah pesan orang zaman dahulu, sama dengan yang Buddha ajarkan pada kita
Kita harus menggunakan materi yang kita miliki untuk memberi manfaat bagi masyarakat. Inilah tujuan Buddha mengajarkan kepada kita untuk memahami hukum karma, menghargai jalinan jodoh, dan menciptakan berkah. Jika menyimpang sedikit saja dari ajaran ini, kita akan terjerumus dalam kekacauan. Menyimpang sedikit saja, kita akan tersesat jauh. Jadi, mengenai Jalan Tengah, ini adalah kebenaran. Kita harus berjalan di jalan benar ini, baru bisa menunjukkan ajaran tentang hukum sebab akibat serta tataran makhluk awam dan kebuddhaan. Jalan ini adalah Jalan Bodhisattva. Inilah Jalan Tengah
Kita harus memahami ini dengan jelas untuk membimbing semua makhluk ke Jalan Tengah. Jadi, selanjutnya dikatakan, “Kembali pada kesadaran akar, berpulang memasuki Tubuh Dharma.” Kita harus menapaki Jalan Tengah ini agar dapat kembali pada kesadaran akar. Bukankah saya pernah mengatakan bahwa Jalan Bodhisattva bagai lintasan atletik berbentuk lingkaran? Pada garis start, sesungguhnya semua makhluk dan Buddha memiliki hakikat murni yang sama. Hanya saja, akibat adanya kegelapan batin, muncul Tiga Aspek Halus dan Enam Aspek Kasar. Apakah kalian ingat tentang Tiga Aspek Halus dan Enam Aspek Kasar? Kegelapan batin kita sangat halus, yakni bersumber pada ketamakan, kebencian, kebodohan. Aspek ini tak dapat kita lihat atau sentuh. Namun, didukung oleh kondisi dunia yang kompleks, noda batin yang halus ini semakin berkembang sehingga timbullah reaksi perpaduan Enam kesadaran adalah reaksi kontak enam indra dengan enam objek luar. Jadi, pada mulanya batin kita sangat murni
Akibat sedikit kegelapan batin, kita mulai berjalan bagai menyusuri lintasan tadi, tetapi kita berjalan menyimpang dan keluar dari lintasan. Namun, untuk dapat kembali pada hakikat murni, kita harus kembali pada lintasan ini. Kita harus melanjutkan estafet ini setahap demi setahap sepanjang lintasan itu. hingga kembali pada garis start. Lintasan kita ini adalah Jalan Bodhisattva. Dalam proses melatih diri, kita harus mengikuti petunjuk Buddha. Kembali pada kesadaran akar berarti mencapai kondisi batin yang murni tanpa noda dan kembali memasuki Tubuh Dharma
Tubuh Dharma adalah murni tanpa noda. Tubuh Dharma kita bagai air jernih. Jika diletakkan dalam wadah yang bundar, bentuknya akan mengikuti wadah, tetapi airnya tetap jernih. Saat diletakkan dalam wadah yang panjang, airnya juga masih akan tetap jernih. Bagaimana pun bentuk wadahnya, air ini akan tetap jernih. Baik wadahnya berbentuk persegi maupun bundar, airnya akan tetap sama. kita semua memiliki kebijaksanaan akar yang murni seperti Buddha. Saat terjun ke tengah masyarakat dan berada di tengah kondisi masyarakat, hakikat kita tetap tidak terusak
Kita terjun ke tengah masyarakat untuk bersumbangsih bagi dunia. Kita harus bersumbangsih bagi orang-orang yang menderita. Akan tetapi, seburuk apa pun kondisinya, batin kita harus tetap tidak tercemar. Jadi, melihat yang dilakukan insan Tzu Chi, orang awam mungkin bilang itu melelahkan, tetapi insan Tzu Chi melakukan dengan sukarela dan menganggap semua itu adalah berkah. Mereka mengubah kesulitan menjadi berkah. Mereka tidak merasa kesulitan, melainkan merasa penuh berkah. Dalam bersumbangsih, mereka melakukan hal yang benar dengan sukarela. Semangat ini tidak pernah rusak
Mereka tidak pernah mengeluh, “Saya lelah, Mengapa saya harus melakukan ini?” Mereka tidak pernah perhitungan atau berkata, “Saya yang membantumu, mengapa kamu tidak berterima kasih kepada saya?” Mereka tidak berpikir begitu. Mereka juga tidak perhitungan seperti itu. Dengan demikian, mereka bebas dari kerisauan. Mereka juga tak membedakan kedudukan. Semua orang bersumbangsih dengan sukarela dan sukacita
Asalkan dapat membantu orang dan orang lain dapat tertolong, itu sudah cukup. Contohnya, para relawan rumah sakit kita Bbersumbangsih demi pasien. Selama bersumbangsih, saat melihat pasien tersenyum, para relawan juga turut gembira. Meski mereka berada dekat dengan pasien, merangkul dengan penuh welas asih dan rasa iba, serta membantu dengan hati Buddha, tetapi mereka tidak tertular. Tidak. Mereka hanya ingin membantu atas dasar welas asih agar pasien dapat merasa lebih baik dan membuka hatinya. Saat pasien dapat tersenyum dan merasa gembira, para relawan juga merasakan sukacita dalam Dharma
Saat pasien berterima kasih, para relawan merasa bersyukur karena dapat membantu pasien lepas dari penderitaan batinnya. Ini yang disebut tak terusak. Tekad kita tetap tak terusak. Kita dapat menggunakan berbagai cara untuk bersumbangsih. Inilah Jalan Tengah para Buddha dan Bodhisattva
Berjalan di Jalan Tengah berarti kita harus bersumbangsih dengan sungguh-sungguh hingga kembali pada kesadaran akar dan memasuki Tubuh Dharma. Inilah Jalan Bodhisattva. Mengenai metode, kita dapat menggunakan berbagai cara bijaksana. Kebijaksanaan murni tanpa noda disebut Tubuh Dharma. Jika kita dapat menggunakan kebijaksanaan yang murni tanpa noda dalam bersumbangsih, maka kondisi masyarakat seperti apa pun tidak akan dapat merusak tekad kita, juga tidak akan mencemari batin kita. Yang kita dapat adalah sukacita dalam Dharma
Mengenai kesadaran akar, ada sebuah penjelasan, yakni “sumber hakikat murni semua makhluk”. Ini sudah kita bahas tadi. Kita semua memiliki hakikat kebuddhaan yang murni. Jadi, hakikat semua makhluk adalah murni. “Meninggalkan pemikiran salah, hening dan bersinar”. Pemikiran salah menambah kegelapan batin kita. Kegelapan batin dan pemikiran salah ini harus selalu kita kikis
Jadi, kita harus terlebih dahulu meninggalkan segala pemikiran salah. Setiap pagi, saat melantunkan Sutra Hati, bukankah ada penggalan yang berbunyi “meninggalkan mimpi yang terbalik”. Benar, kita harus meninggalkannya
Pemikiran salah sama dengan keterbalikan. Banyak hal yang terbalik di dunia ini. Banyak orang ingin mengejar kenikmatan. Sesungguhnya, mengejar kenikmatan berarti mengikis berkah. Jika manusia bertindak sesuka hati demi kesenangan sesaat, sesungguhnya dia menciptakan karma buruk. Semua ini adalah mimpi yang terbalik
Akibat keinginan ini, manusia menciptakan sebab yang keliru. Jadi, kita harus sangat waspada. Kita harus meninggalkan pemikiran keliru, baru dapat mengikis kegelapan batin. Dengan begitu, batin kita akan hening. Jika batin kita dapat tenang dan hening, maka cahaya kebijaksanaan akan bersinar. Karena itu, dikatakan hening dan bersinar. Semua ini berawal dari batin yang hening. Setiap pagi saya mengatakan kepada kalian bahwa dalam kondisi yang hening, entah apakah kalian juga mempertahankan keheningan di dalam batin. batin kita harus hening
Dengan begitu, kebijaksanaan akan bersinar. maka dengan sendirinya kebijaksanaan akan tumbuh. Dengan begitu, kita dapat menyinari dunia. Kita akan memiliki banyak cara untuk bersumbangsih bagi orang yang menderita. Selanjutnya dikatakan, “Di seluruh alam semesta, tiada yang tak terjangkau.” Jika kebijaksanaan kita dapat bersinar, maka ia akan bagaikan matahari. Bagaikan mentari pada tengah hari, tiada tempat yang tak tersinari olehnya. Baik gunung maupun lembah sekalipun, tetap dapat tersinari
Jadi, “Di seluruh alam semesta, tiada yang tak terjangkau.” Hanya matahari yang dapat menyinari seluruh bumi. Matahari pada tengah hari bagaikan kebijaksanaan kita yang meningkat. Jika memiliki kebijaksanaan, kita akan dapat mengembangkan cinta kasih hingga ke seluruh dunia. Lihatlah, berapa banyak orang yang menderita di dunia ini? Kita yang saat ini berdiam dengan tenang di sini hendaknya tahu bahwa di tempat lain sudah banyak insan yang mulai bersumbangsih bagi mereka yang menderita. Contohnya di Pakistan. Perbedaan waktu antara Taiwan dan Pakistan adalah tiga jam, sedangkan Turki dan Taiwan berbeda enam jam. Yordania dan Taiwan seingat saya berbeda empat jam. Waktu di setiap tempat berbeda. Kita di sini pukul 5
30 pagi, sedangkan di Turki baru sekitar pukul dua belas malam. Mungkin saja di sana masih ada insan Tzu Chi yang masih bersumbangsih dan belum beristirahat. Saudara sekalian, saat kita semua beristirahat, mereka masih beraktivitas. Entah apakah saat ini mereka sudah beristirahat karena sudah tengah malam, sedangkan kita baru akan mulai beraktivitas. Karena itu, kita harus selalu bersyukur. Matahari di Dunia Tzu Chi tak pernah terbenam karena kita semua membangkitkan kebijaksanaan murni tanpa noda
Karena itulah, kita dapat menyebarkan Dharma ke seluruh dunia, ke berbagai negara yang berbeda. Meski terdapat perbedaan waktu, tetapi tekad kita tetap satu, yakni bersumbangsih bagi orang yang menderita. Inilah yang disebut “di seluruh alam semesta, tiada yang tak terjangkau.” “Aspek tunggal dari seluruh alam Dharma adalah Tubuh Dharma setara Tathagata.” Inilah kesadaran akar. Yang dimaksud aspek tunggal alam Dharma adalah dari berbagai fenomena di dunia dan beragam Dharma yang kita babarkan, sesungguhnya semua berpulang kepada satu aspek, yakni kemurnian tanpa noda, kebijaksanaan sempurna yang cemerlang, atau hakikat sejati Tathagata
Setiap orang sama-sama memiliki Tubuh Dharma yang sama dengan Buddha. Anda, saya, Buddha, kita semua sama-sama memiliki Tubuh Dharma yang murni tanpa noda. Jadi, kita harus selalu menjaga pikiran kita. Sifat dasar dari kesadaran akar ini Kita hendaknya dapat meninggalkan pemikiran salah. Jangan biarkan setiap perbuatan kita Dipengaruhi oleh pemikiran salah dan kegelapan batin
Jika menyimpang sedikit saja, maka langkah kita selanjutnya akan salah. Jadi, kita harus selalu bersungguh hati.