Sanubari Teduh – 164 – Enam Praktek 10 Dedikasi Bagian 3
Saudara se-Dharma sekalian, setiap pagi kita selalu membahas tentang hati. Setiap hari saya berkata kepada kalian bahwa hati, Buddha, dan semua makhluk pada dasarnya tiada perbedaan. Sepertinya setiap hari saya selalu mengingatkan bahwa manusia dan Buddha pada hakikatnya sama. Sesungguhnya, hati kita semua dan hati Buddha apakah sudah dekat dan menyatu? Jika hati kita dapat menyatu dengan hati Buddha, maka tidak aka nada lagi perbedaan. Pertanyaannya, seperti apakah hati ini? Hati ini adalah hati yang murni dan cemerlang, hening dan tanpa noda
Inilah hati Buddha. Kita telah membahas tentang Jalan Tengah. Sebelum membahas Jalan Tengah, kalian seharusnya masih ingat bahwa kita membahas tentang menyelamatkan semua makhluk. Semua makhluk dan Buddha pada hakikatnya adalah setara. Mengapa bisa berbeda antara Buddha dan makhluk awam? Hanya Karena satu hal, yakni kegelapan batin. Yang penuh kegelapan batin disebut makhluk awam
Yang sadar disebut Buddha. Perbedaannya hanya antara kegelapan batin dan kesadaran. Kini kita berada dalam tataran makhluk awam yang penuh kegelapan batin. Kita memiliki kesadaran awal. Artinya, kita harus mulai sadar. Kita harus mulai sadar untuk kembali pada kondisi batin yang sama dengan Buddha, yang artinya kembali pada kesadaran akar kita. Kita harus mulai dari titik awal
Kita harus mulai dari tingkatan awam dan berjalan hingga titik akhir, yakni kebuddhaan. Untuk mencapai tingkatan Buddha dari tataran makhluk awam, kita harus melewati proses menyelamatkan semua makhluk. Tekad kita harus dimulai dari menyelamatkan semua makhluk. Jarak antara makhluk awam dan tingkatan Buddha masih jauh. Di jalan yang panjang ini, arah kita tak boleh menyimpang sedikit pun. Artinya, kita harus berjalan di Jalan Tengah
Ini yang pernah kita bahas. Jadi, jika kita berlatih di Jalan Tengah, barulah kita dapat kembali pada kesadaran akar. Mengenai kesadaran akar, dari kesadaran awal menuju kesadaran akar, kebenaran apa yang harus kita pahami? Ini sudah dibabarkan dengan jelas bagi kita. Ini adalah hal yang sederhana. Arti dari kesadaran akar adalah kesadaran yang sudah kita miliki sejak dahulu. Kita memilikinya bukan hanya pada kehidupan ini. Dari kehidupan ke kehidupan, pada dasarnya kita sudah memiliki kesadaran akar yang cemerlang dan murni yang terus mengikuti kita. Dari kehidupan ke kehidupan, kesadaran ini tak pernah hilang
Karena itu, ia disebut senantiasa berdiam. Artinya, tidak timbul tidak lenyap. Kesadaran ini tidak lebih banyak pada Buddha, dan tidak lebih sedikit pada makhluk awam. Jadi, hakikat kesadaran kita dan Buddha adalah setara. Jadi, kesadaran ini selalu ada. Baik pada kehidupan lampau, kehidupan sekarang, baupun kehidupan yang akan datang, kesadaran akar selalu ada pada setiap orang. Demikianlah kesadaran akar. Sayangnya, setitik kegelapan batin membuat kita membangkitkan ketamakan, kebencian, kebodohan, dll. Akibat munculnya kegelapan batin, semua makhluk diliputi berbagai noda batin. Ada 84.000 noda batin. Dari ketamakan, kebencian, dan kebodohan saja, bisa timbul berbagai noda batin lainnya
Noda batin ini terus berkembang hingga 84.000 jenis, bahkan tak terhingga. Karena itu, Buddha harus menggunakan kebijaksanaan-Nya untuk mengatasi segala noda batin makhluk awam ini dengan membuka 84.000 metode terampil yang digunakan untuk membimbing semua makhluk sesuai dengan noda batin mereka masing-masing. Kita sering mendengar tentang angka 84.000. Berhubung ada 84.000 noda batin, maka dibukalah 84.000 metode terampil
Inilah wujud cinta dan welas asih Buddha demi membimbing semua makhluk. Karena itu, disebutkan tentang dedikasi setara semua Buddha. Mengenai dedikasi setara semua Buddha, semua Buddha merujuk pada kesadaran akar. Kita semua harus terlebih dahulu memahami kebijaksanaan dari kesadaran awal. Untuk dapat memahami kebenaran di balik kesadaran akar, kini kita harus mencari jalan kembali. Kita harus memulainya dari kesadaran awal
Kita harus membangkitkan kebijaksanaan kita karena dari 84.000 metode terampil, salah satunya bertujuan untuk mengatasi kebodohan. Bodoh berarti tidak sadar. Jadi, kita harus punya kesadaran awal. Alangkah baiknya jika kita dapat menyatukan kesadaran awal ini dengan kesadaran akar. Kita semua tahu bahwa kita memiliki kesadaran akar yang sama dengan Buddha, Hanya saja kini kita harus mulai mencarinya kembali. Jadi, sesungguhnya kesadaran awal dan kesadaran akar adalah sama
Kita harus bisa menyatukannya. Saat saya berkunjung ke Taichung, saya melihat dua buah batu besar. Dua buah batu besar ini terlihat seperti sepasang. Namun, setelah diteliti lebih lanjut, dua buah batu ini seharusnya adalah satu. Kemudian saya bertanya apakah batu itu dibelah menjadi dua. Orang yang berdiri di samping saya dan Prof. Chen segera menjawab, “Bukan
” “Yang satu ditemukan di suatu tempat, sedangkan yang satu lagi di tempat lain.” “Keduanya diambil dari lokasi berbeda dan diletakkan berpasangan seperti ini.” Saya lalu bertanya, “Kalian tidak merasa dua batu ini bagaikan satu batu yang dibelah?” Mereka menjawab, “Benar, kami juga merasa begitu.” “Entah sudah berapa lama batu ini terkubur sangat dalam.” “Entah bentuk awalnya seperti apa.” “Mungkin dahulu batu itu berada di dasar laut atau di tempat lain, pokoknya terkubur sangat dalam.” “Saat kami menggali tanah untuk membuat fondasi, di kedalaman tertentu kami menemukan dua bongkah batu di dua tempat berbeda
” Saat itu saya juga tercengang. Dua buah batu itu jelas-jelas adalah satu, bagaikan dibelah dua dengan gergaji. Meski terpisah, batu ini tetap terlihat satu. Dari sini kita dapat melihat kira-kira bagaimana kondisi masyarakat di daerah itu pada zaman dahulu. Pada zaman batu, entah bagaimana manusia membelah batu itu. Entah mengapa batu itu dibelah menjadi dua. Akan tetapi, jaraknya tetap tidak berjauhan. Keduanya terpisah beberapa puluh meter di bawah permukaan tanah. Kini kita telah menggali tanah di sana dan mengeluarkan kembali dua batu itu
Entah sudah berapa lama batu itu terkubur. Kita dapat membayangkan, sejak waktu yang sangat lama, entah karena sebab apa, batu tersebut terkubur di sana. Entah juga mengapa dua batu itu bisa terangkat keluar sehingga dapat kembali berada saling dekat. Sungguh banyak hal yang tak terbayangkan di dunia. Jadi, dua batu itu pada mulanya adalah satu. Ini sama dengan kesadaran akar. Batu tadi pada mulanya adalah satu. Entah mengapa, entah setelah berapa lama, batu tadi mulai terbelah
Pun entah apa sebabnya kedua batu itu dapat kembali berdekatan. Pemandangan itu sungguh luar biasa. Batu itu bukan sengaja kita potong agar menjadi dua bagian. Itu bukan perbuatan orang zaman sekarang. Kalaupun itu perbuatan manusia, mungkin itu perbuatan orang zaman dahulu yang entah hidup pada zaman apa. Demikian pula, kita juga memiliki kesadaran akar yang sama dengan Buddha. Entah kapan Kita mulai diliputi kegelapan batin sehingga timbullah ketamakan, kebencian, kebodohan. Dengan begitu, noda batin pun terus bertambah
Kini kita seharusnya sangat beruntung karena berjodoh dengan ajaran Buddha, sama seperti dua buah batu tadi yang akhirnya ditemukan kembali. Kita harus menggunakan kesadaran awal kita untuk menuju pada kesadaran akhir. Kesadaran akhir adalah yang tertinggi. Kita sesungguhnya sudah memiliki kesadaran ini. Jadi, kita menggunakan kesadaran awal Untuk kembali pada kesadaran akar yang pada dasarnya sudah kita miliki. Jadi, dua hal ini, kesadaran awal dan kesadaran akar, pada dasarnya adalah satu. Kita harus dapat menyatukan keduanya kembali. Jadi, mengenai rupa, rupa adalah kondisi jasmani kita
Apakah kalian sekarang melihat saya? Ya. Ya, inilah objek rupa. Saat kalian mendengar saya berbicara, maka objek suara masuk ke dalam telinga kalian. Gerakan saya terlihat oleh mata kalian. Jadi, setelah mendengar perkataan saya, apakah kalian menyerapnya ke dalam hati? Ya atau tidak saya tidak tahu. Jika kalian menyerapnya ke dalam hati, maka itulah kesadaran awal. Kita menyadari kebenaran ini. Jadi, segala yang berada di luar batin kita adalah rupa
Batin kita dapat memperoleh kesadaran dari rupa. Karena itu, dikatakan bahwa rupa dan batin tidak mendua. Dalam hal ini, kita harus terus bersungguh hati untuk belajar dan mendalaminya. Selanjutnya dibahas mengenai manifestasi kebijaksanaan. Sesungguhnya, mengenai suara, tidak ada label pasti bagi suara. Rupa juga tidak memiliki label pasti. Dialek Taiwan menyebutnya “hsiah”, bahasa Mandarin menyebutnya “se”, bahasa Jepang menyebutnya “iro”, dan sebagainya. Jadi, label tidaklah permanen
Semua mengikuti kebijaksanaan kita untuk memberi label. Semua orang bisa menyebutkan nama dari setiap benda. Contohnya, setiap orang yang duduk di sini, bukankah semuanya disebut manusia? Namun, apakah si A dan si B sama? Tidak. Semuanya disebut manusia, tetapi kita memiliki nama masing-masing. Siapa yang memberi kalian nama? Untuk memberi nama, dibutuhkan kebijaksanaan. Mencari nama juga perlu berpikir. Jadi, bagaimana kita dapat membantu orang memberi nama? Prinsipnya sama saja. Sesungguhnya, rupa dan batin tidak mendua. Akan tetapi, kondisi setiap orang berbeda-beda
Jadi, baik kondisi luar maupun kondisi dalam batin, manusia sendirilah yang membuat pembedaan ini. Jika kita dapat memahami kebenaran ini, maka disebut Tubuh Dharma Kebijaksanaan. Pikiran kitalah yang menciptakan segalanya. Karena itu, suatu ungkapan berbunyi, “Pikiran adalah pelopor segalanya.” Semua hal bergantung pada kondisi batin. Jadi, kita harus memiliki Tubuh Dharma. Meski masih diliputi kegelapan batin, kita juga harus berlatih untuk dapat memanfaatkan Dharma
Jika kita dapat memanfaatkan Dharma, maka disebut memiliki Tubuh Dharma. Saat kita terbiasa menggunakan Dharma, maka disebut memiliki Kualitas Tubuh Dharma. Saya sering berkata bahwa orang yang berkualitas akan memperoleh, sedangkan yang bisa memperoleh berarti berkualitas. Saat Anda belajar, Anda akan memperoleh pemahaman. Setelah mendapat pemahaman, Anda harus mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Wujud kepribadian yang Anda tunjukkan itulah yang disebut kualitas. Inilah yang Anda peroleh. Setelah mempelajari suatu keterampilan, maka keterampilan itu menjadi milik kia. Orang zaman dahulu berkata bahwa mewariskan banyak harta bagi anak tidak lebih baik dari memberinya satu keterampilan. Artinya, kita harus membuatnya belajar
Setelah belajar, keterampilan yang dia peroleh akan ada selamanya. Inilah yang diperoleh setelah belajar. Setelah memperoleh keterampilan, kita harus dapat menggunakannya. Jadi, Dharma harus kita pelajari dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk membentuk suatu kebiasaan. Saya sering mengatakan pada kalian bahwa setiap orang memiliki tabiat berbeda-beda. Ada orang yang punya pembinaan diri, ada pula yang tidak. Ada orang yang memiliki kualitas pembinaan yang bisa dilihat dan dirasakan orang lain. Orang yang tak punya pembinaan diri pun demikian, mereka memiliki tabiat
Jadi, kita melatih diri untuk membuang segala tabiat buruk, sedangkan yang baik harus kita manfaatkan. Inilah Dharma. Kita harus mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Inilah kualitas. Tadi kita membahas tentang 84.000 noda batin. Kita harus mempelajari cara untuk mengatasi noda batin ini dengan kebijaksanaan. Dengan kebijaksanaan, barulah kita dapat membuka metode terampil dan tidak menyimpang dari Jalan Tengah
Jadi, mempraktikkan kebijaksanaan di Jalan Bodhisattva berarti berjalan di Jalan Tengah. Kita harus mempelajari ini. Dharma bagaikan rel. Para Buddha berpegang pada Dharma ini untuk mencapai kebuddhaan. Buddha di masa lalu, masa kini, dan masa depan menjalani praktik sesuai Dharma ini. Kita tidak boleh menyimpang darinya, baru bisa mencapai kebuddhaan. Ini yang disebut Tubuh Dharma. Tubuh Dharma ini tidak bertambah pada para Buddha, dan tidak berkurang pada semua makhluk. Tadi kita juga sudah membahas bahwa semua makhluk diliputi kegelapan batin
Mengapa disebut makhluk awam? Karena diliputi kegelapan batin sehingga memiliki pandangan keliru. Para Buddha berada dalam kedamaian karena sadar. Mengapa para Buddha begitu damai? Karena Mereka telah sadar. Mereka telah sadar sehingga senantiasa damai. Sesungguhnya, meski kegelapan batin dan kesadaran terlihat begitu jauh berbeda, tetapi pada hakikatnya adalah satu. Mengenai kesadaran dan kegelapan batin, batin yang gelap pada mulanya juga sadar. Jadi, inilah kuncinya. Sesungguhnya, keduanya adalah satu. Hati Buddha dan semua makhluk adalah sama, pada hakikatnya adalah satu, memiliki aspek kekal, sukacita, aku, dan suci
Inilah kualitas Tubuh Dharma. Apa yang dimaksud kualitas Tubuh Dharma? Yakni senantiasa diliputi kebahagiaan dan kesucian. Batin makhluk awam bersifat tidak kekal. Saat ini kita mungkin merasa bahagia, tetapi mungkin sebentar lagi kembali risau. Saat menyukai seseorang atau sesuatu, kita terus mengejar dan berusaha mendapatkannya. Setelah mengejar, jika berhasil mendapatkannya, Anda akan merasa gembira. Apakah kegembiraan ini abadi? Apakah ini kebahagiaan yang sesungguhnya? Ini sulit dikatakan. Segala sesuatu di dunia pada dasarnya tidak kekal. Kita hendaknya tidak merisaukan perihal memperoleh dan kehilangan. Akan tetapi, makhluk awam selalu ingin memiliki saat tidak memiliki
Setelah memiliki, mereka takut kehilangan. Saat kita memiliki reputasi, keuntungan, dan kekayaan yang sangat banyak, kita juga akan merasa khawatir. Kekhawatiran ini adalah penderitaan. Apa yang dikhawatirkan? Khawatir akan kehilangan. Saat belum memiliki, kita juga khawaatir. Kita memaksakan diri untuk mendapatkan uang. Kita menggunakan segala cara untuk mendapatkannya. Ini juga mendatangkan kekhawatiran
Inilah yang disebut risau demi memiliki, selalu memikirkan cara untuk memiliki. Jadi, saat belum memiliki kita ingin mendapat, dan setelah memiliki malah takut kehilangan. Batin yang penuh kerisauan ini sungguh membawa penderitaan tak terkira. Beginilah makhluk awam. Akibat kegelapan batin, mereka berpandangan keliru. Sebaliknya, para makhluk suci senantiasa berada dalam sukacita dan kesucian. Sukacita ini tidak bertambah atau berkurang, selalu sama setiap saat
Saat memiliki sesuatu, mereka berpikir cara memanfaatkannya. Saat memiliki hak guna atas sesuatu, mereka akan menggunakannya untuk membawa sukacita dan manfaat bagi orang banyak. Mereka tidak merasa kehilangan. Mereka hanya merasa sukacita. Inilah yang disebut kekal. Saat memiliki, mereka akan berdana, saat tidak memiliki, mereka juga tidak risau. Karena itu, mereka senantiasa bersukacita. Hal-hal duniawi tidak menodai batin mereka
Inilah aspek kekal, sukacita, aku, dan kesucian. Segala keuntungan dan reputasi duniawi tidak akan membuat mereka risau sama sekali. Inilah kekal, sukacita, aku, dan kesucian. Agar kita semua dapat berlatih sampai tidak lagi merisaukan hal-hal duniawi, tidak tamak. Dan tidak melekat, kita harus mulai dari tekad menyelamatkan semua makhluk. Semua makhluk di dunia diliputi penderitaan
kita harus berusaha membantu mereka. Akan tetapi, setelah membantu, batin kita harus tetap tidak melekat. Kita harus selalu sadar dan terus berjalan di Jalan Bodhisattva, di jalan benar, di Jalan Tengah. Dengan demikian, barulah kita benar-benar memperoleh Tubuh Dharma dan mempelajari segala kualitas kebajikan. Jadi, Dharma adalah cara, yakni cara untuk membantu semua makhluk tanpa membawa kerisauan bagi diri sendiri. Jadi, terhadap 84
000 noda batin semua makhluk, kita harus menggunakan 84.000 metode yang berbeda untuk mengatasinya. Saudara sekalian, mengenai sepuluh dedikasi, kita telah membahas yang pertama, kedua, dan hari ini kita telah membahas yang ketiga. Kalian harus memahami semuanya. Dengan begitu, barulah kita dapat memperoleh Kualitas Tubuh Dharma dengan segala aspeknya
Untuk itu, semua harus selalu bersungguh hati.