Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 165 – Enam Praktek 10 Dedikasi Bagian 4

Saudara se-Dharma sekalian, kita semua memiliki tubuh yang berada di sini, tetapi pikiran kita yang tak berwujud entah sedang mengembara ke mana. Saya rasa pikiran kita mungkin mengembara ke mana-mana dan tidak berada di sini saat ini

 Begitulah kondisi batin makhluk awam, sulit untuk terfokus pada saat ini. Akan tetapi, Buddha yang berada dalam tataran orang suci, saat tubuh-Nya berada di suatu tempat, batin-Nya juga dapat mengembarake berbagai tempat. Bedanya, saat Buddha mengamati 10 penjuru alam, yang Beliau lihat adalah kebenaran, sedangkan saat pikiran kita mengembara, yang kita pikirkan adalah ilusi. Inilah bedanya orang yang sadardan yang tersesat. Jadi, kita harus belajar untuk memperoleh kebijaksanaan sehingga batin kita dapat melingkupi sepuluh penjuru alam semesta. Akan tetapi, kita harus tetap sadar dan tidak tersesat. Inilah yang harus kita pelajari

 Mengenai sepuluh dedikasi, kita telah membahas sampai yang ke-4. Kalian seharusnya masih ingat yang pertama adalahmenyelamatkan semua makhluk. Hati Buddha selalu ada pada semua makhluk, selalu memperhatikan semua makhluk, dan selalu ada di mana-mana. Inilah yang disebut memperluas dedikasi. Semua dilakukan bukan demi diri sendiri, melainkan demi menyelamatkan semua makhluk. Jadi, dedikasi pertama adalah menyelamatkan semua makhluk

 Kedua adalah mempraktikkan Jalan Tengah. Saya sering menasihati kalian agar selalu berada di Jalan Bodhisattva dan tidak menyimpang. Ini juga berkat welas asih Buddha yang terus menasihati kita untuk berjalan di Jalan Bodhisattva. Kita harus menjalaninya dengan benar. Di jalan yang lapang dan lurus ini, kita tidak boleh menyimpang. Buddha lebih lanjut menasihati bahwa dalam memberi perhatian pada semua makhluk, kita juga tidak boleh menyimpang. Kita juga telah membahas kesadaran akar

 Kita harus paham bahwa hati, Buddha, dan semua makhlukpada hakikatnya tiada perbedaan. Hakikat ini dimiliki semua makhluk. Inilah hakikat sejati yang tertinggi. Kita semua memiliki hakikat sejati ini, hanya saja kita telahdiliputi oleh kegelapan batin sehingga semakin tersesat, menjauh dari hakikat ini, dan tak tahu cara untuk kembali. Jadi, setelah berjodoh dengan ajaran Buddha, kita harus membangkitkan kesadaran awal. Kita harus sadar atas kesalahan masa lalu

 Inilah kesadaran tahap pertama. Kita harus mulai memahami bahwa pada dasarnya kita memiliki hakikat kebuddhaan. Sama seperti kisah dalam Sutra Bunga Teratai. Ada seorang miskin yang meminta bantuan pada seorang saudagar. Saudagar ini berkata, “Di tubuhmu ada sebuah permata yang sangat berharga, engkau sesungguhnya sangat kaya.” Setelah diperiksa, ternyata benar ada sebuah permata, tetapi orang miskin itu tidak pernah tahu dan terus kelaparan serta kedinginan, sangat menderita. Bukankah kita makhluk awam seperti itu? Kita memiliki hakikat kesadaran yang murni dan kebijaksanaan yang cemerlang, tetapi mengapa kita masih tersesat dan terombang-ambing di enam alam? Sungguh menderita

 Buddha mengatakan kepada kita bahwa setiap orang memiliki hakikat kebuddhaan. Kita harus mengetahuinya dan segera membangkitkan kesadaran awal. Kita harus mulai sadar dan mengikuti jalan yang Beliau tunjukkan untuk kembali pada kesadaran akar. Hari ini, titik berat pembahasan kita adalah Kesadaran dan kebijaksanaan hakiki telah kita miliki. Bukan hanya kita miliki, melainkan sudah ada sejak awal. Kesadaran ini tetap sempurna. Bukan hanya Buddha, sesungguhnay setiap orang pun demikian

 Kesadaran dan kebijaksanaan ini sesungguhnya sangat sempurna, melingkupi segalanya, dan sangat universal. Ini yang disebut dedikasi ke segala tempat. Kebijaksanaan ini sangat sempurna dan mampu melingkupi segala penjuru. Ini juga disebut dedikasi ke segala tempat. Kebijaksanaan kita bisa menjangkau semua tempat tanpa terkecuali. Jadi, di dalam Sutra dijelaskan mengapa dedikasi ini disebutdedikasi ke segala tempat

 Kesadaran akar kita sesungguhnya sangat sempurna. Kebijaksanaan dan kesadaran kita juga sempurna dan dapat menjangkau semua tempat. Hati kita mampu menjangkau semua tempat. Jika kita dapat mulai sadar dan mulai bertekad, maka batin kita akan mampumelingkupi semua tempat. Karena itu, dikatakan, “Kebijaksanaan dari kesadaran akarmelingkupi segala penjuru.” Dengan kebijaksanaan dari pencerahan, tidak ada tempat yang tak dapat kita jangkau, tiada hal yang tidak kita ketahui, dan tiada ikrar yang tak dapat kita penuhi

 Jadi, asalkan ada tekad, kita pasti dapat memenuhi ikrar kita. Tekad dan ikrar ini muncul dari kebijaksanaan kita, yakni kebijaksanaan dari pencerahan. Dengan begitu,tiada yang tempat yang tak terlingkupi. Dengan kebijaksanaan yang sama dengan Buddha, kebenaran tertinggi pun terealisasi. Jika kita dapat memahami bahwa kita pada dasarnya memiliki hakikat kebuddhaan, jika kita dapat memahami bahwa sesungguhnya kita memiliki hakikat kesadaranyang sama dengan Buddha, maka kita akan dapat benar-benar merealisasi kebenaran tertinggi. Dengan realisasi, pencerahan, dan kesadaran ini, dalam batin kita tidak akan ada lagi keraguan

 Ini karena kita telah merealisasi kebenaran. Kita telah benar-benar melihat bahwa kita memiliki hakikat yang sama dengan Buddha. Jika kebijaksanaan yang tajam dalam diri kita semua dapat terbangkitkan dan kita dapat mencapai realisasi, maka inilah kebenaran tertinggi. Ini berarti kita telah mencapai kebenaran tertinggi. Artinya, kita telah mencapai kebuddhaan. Kita tidak lagi berbeda dengan Buddha

 Jika kita dapat merealisasi kebenaran ini, maka kita tidak berbeda dengan Buddha. Masalahnya, batin kita belum jernih. Cahaya kebijaksanaanbelum dapat memancar keluar. Jika kita memahami ini, maka kita bagaikan membersihkan cermin batin. Dalam membersihkan cermin batin ini, setiap usaha yang kita keluarkan pasti membuahkan hasil

 Setelah banyak usaha yang kita keluarkan, suatu saat cermin ini pasti menjadi bersih. Saat cermin ini bersih, ia akan dapat merefleksikan segala sesuatu dengan jelas. Jika masing-masing dari kalian membawa sebuah cermin, maka meski cerminnya berbeda-beda, saat diarahkan ke benda yang sama, saya yakin semua cermin itu akan merefleksikan kondisi yang sama. Bedanya, mungkin ada orang yang cerminnya tidak benar-benar bersih. Jika bersih, setiap cermin akan menampilkanbayangan yang sama. Demikian pula dengan batin kita. Jadi, realisasi yang kita capai tidak berbeda dengan Buddha. Jadi, di dalam Sutra dikatakan, Murni berarti cemerlang dan kebenaran adalah kebenaran tertinggi

 Jika kita dapat membangkitkan kecemerlangan dan kejernihan ini, maka kebenaran hakiki akan terpancar. Inilah kebuddhaan. Inilah dedikasi ke segala tempat. Batin kita dapat mencapai tingkatan ini. Kita harus mulai dari kesadaran awaldalam tataran makhluk awam. Kita harus mulai berusaha untuk memperluas dedikasi kita dan terus melangkah maju. Dengan demikian, kita akan menyatu dengan Buddha

 Sama dengan kita yang berlatih di alam manusia, Buddha pun demikian. Untuk mencapai kebuddhaan, kita harus berada di alam manusia. Master Yin Shun juga berkata demikian. Kebuddhaan dicapai di alam manusia. Karena banyaknya penderitaan di alam manusia dan banyaknya makhluk yang menderita, barulah dapat muncul Bodhisattvayang penuh kebijaksanaan dan cinta kasih. Kebijaksanaan murni dan cinta kasih tanpa pamrih adalah hati Bodhisattva. Contohnya, dalam bencana gempa di Pakistan, gunung dan tanah mengalami longsor

 Ini benar-benar terjadi. Saat tim bantuan pertama kita kembali, gambar-gambar yang mereka ambil di sana sungguh memperlihatkan bahwa kondisi di sana jauh lebih parah dari yang kita bayangkan. Saat kita melihat kondisi gunung di sana, lapisan luar gunung itu bagaikan terbelah. Saat melihat ke segala arah, tidak ada jalan yang bisa dilewati, yang ada hanya longsoran dari gunung. Saat para dokter inginmengadakan baksos pengobatan, jalan yang dilalui sangat sulit. Mereka harus berjalan di jalan yang berbatu-batu akibat longsor. Batu besar dan kecil memenuhi jalan, mereka tidak tahu harus lewat mana

 Diperlukan orang yang memimpin, baru bisa melewati jalan itu. Melihatnya, sungguh mengerikan. Bahkan ada foto lainnya yang menunjukkan tanah di sana terbelah. Meski masih terlihat rerumputan hijau, tetapi juga terlihat patahan di sana. Warga setempat mengatakan bahwa mulanya daerah itu adalah sebuah dataran yang dapat digunakan untuk bercocok tanam. Hanya karena gempa bumi itu, tanah di sana tidak hanya patah, tetapi juga terbelah sedalam beberapa meter

 Kekuatan alam sangat besar. Kekuatan ini mampu merusak segalanya, baik kehidupan manusia, bangunan tempat tinggal, maupun yang lainnya. Semuanya rusak dalam sekejap. Semua yang awalnya ada, kini tidak ada lagi. Selain itu, ada pulawarga yang sakit atau luka-luka

 Banyak warga yang luka-luka dan sakit, sedangkan akses jalan terputus, kondisi medan pun sangat sulit. Bagaimana para warga ini dapat ditolong? Dalam tim tanggap darurat kita yang kedua ada sekelompok dokter. Mereka melanjutkan tugas tim pertama setelah melakukan serah terima. Mereka terjun ke pedalaman. Para warga di sana sangat menderita, tidak memiliki persediaan makanan dan obat-obatan. Berkat para dokter, kita dapat melihat dan mendengar lebih banyak kisah, terutama kisah para dokter yang berketerampilan tinggidan penuh cinta kasih. Mereka menggunakan kebijaksanaan tinggi untuk memberi pelayanan bagi warga setempat. Bukan hanya keterampilan mereka yang sangat cemerlang, tetapi cinta kasih mereka pun tanpa batas

 Mereka sungguh merupakan Tabib Agung yang berhati seperti  Buddha dan Bodhisattva. Ada sebuah kisah tentang seorang penerjemah yang membantu tim pertama dan kedua. Dia sendiri juga merupakan korban bencana. Dia memohon dr. Chien untuk datang ke rumahnya dan memeriksa istrinya karena istrinya sudah menderita sakit selama beberapa hari. Istrinya terus buang-buang air hingga kekurangan cairan tubuh. Jadi, dr. Chien dan dr

 Ye membawa peralatan dan obat-obatan menuju rumah si penerjemah. Sesampainya di sana, mereka bertemu si penerjemah yang bernama Alishan. Kondisi istri Alishan ini kelihatannya sangat serius karena dia mengalami dehidrasi. Satu-satunya cara selain memberinya obat adalah menambah kadar cairan tubuhnya. Untuk menambah cairan tubuh, kedengarannya memang gampang. Akan tetapi, sesungguhnya kondisi di lapangan cukup sulit. Ternyata, para dokter tidak membawa selang infus

 Mereka tidak membawa jarum dan selang infus. Saat mempersiapkan peralatan, mereka hanya menyiapkan obat-obatan dan tidak menyiapkan jarum serta selang infus. Lalu bagaimana? Obatnya mereka bawa. Pasien itu memerlukan beberapa ratus cc obat untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya, tetapi mereka tidak memiliki selang infus. Bagaimana agar bisa Menyalurkan cairan infus itu ke dalam tubuh si pasien? Ini sungguh menguji para dokter. Saat itu mereka harus bertekad dan menggunakan kebijaksanaan. Cara apa yang mereka gunakan? Kedua dokter itu menggunakan sebuah cara

 Mereka berlutut, lalu mencari tabung suntik bervolume 10 cc. Seorang dari mereka menyedot cairan infus,dan seorang lagi menyuntikkannya. Cairan infus bervolume ratusan cc harus disalurkan lewat tabung 10 cc. Bayangkan, berapa kali mereka harus melakukannya? Berapa lama baru bisa selesai? Kedua dokter itu terus berlutut di hadapan pasien selama 45 menit. Lagi pula, tabung suntik harus terus dipegangi dan tidak boleh bergerak

 Setelah menyuntikkan obat, dokter harusmenyedot lagi obat dari tabung infus. Berhubung jarum suntik itu digunakanuntuk menusuk pembuluh darah, kemudian digunakan juga untuk menyedot obat, maka tak dapat dihindari darah dan obatsedikit menetes dari jarum itu. Para dokter mengenakan celana putih dengan kedua kaki berlutut di lantai, sedangkan tangan mereka tidak boleh lepas dari pergelangan tangan pasien. Karena itu, tangan merekakadang juga harus bertumpu pada kaki. Darah pun kadang menetes pada celana mereka. Setelah 45 menit berlalu, celana putih dokter jadi kemerahan. Pemandangan ini sungguh menyentuh. Coba kita bayangkan, biasanya tidaklah sulit untuk menginfus

 Botol cairan infus tinggal digantung dan cairan akan mengalir lewat selang ke pembuluh darah, hingga akhirnya masuk ke dalam tubuh. Akan tetapi, hanya karena kurang satu alat, semuanya menjadi sangat sulit. Kerelaan untuk menghadapi kesulitan ini merupakan cinta kasih. Meski dokter dapat mendiagnosis penyakit dan memberi resep obat yang tepat, tetapi jika mereka tidak memiliki cinta kasih, maka siapa yang mampu merendahkan hati untuk memberi pelayanan bagi keluarga itu? Meski kekurangan alat, mereka masih berusaha mencari cara. Anggota keluarga pasien sangat berterima kasih dan sangat tersentuh. Sesungguhnya, kita yang berada di Taiwan menitipkan cinta kasih kita bagi korban bencana lewat perantaraan para dokter ini

 Jadi, mereka yang bersumbangsih di sana, di satu sisi membawa cinta kasih banyak orang, di sisi lain juga membangkitkan ketulusan tanpa noda dari dalam hati. Mereka tidak memikirkan diri sendiri. Inilah cinta kasih para dokter yang bersumber padahakikat kebuddhaan dalam diri. Jika tidak memiliki semangat itu, mana mungkin mereka bisa melakukannya. Jadi, para dokteryang memberi pelayanan kesehatan di sana sungguh menghadapi banyak kesulitan dan berhasil membuat warga setempat tersentuh. Para warga setempat sangat menjunjung batasan antara pria dan wanita

 Akan tetapi, si penerjemah tadi mengizinkan para dokter untuk datang ke rumahnya dan memeriksa istrinya dari dekat. Saya sungguh tersentuh. Relawan dokumentasi kita, Lin Yan-huang, juga berkata bahwa dia merasa tersentuh. Dia sangat ingin mengabadikan pemandangan itu. Akan tetapi, di berbagai negara Islamyang pernah dia kunjungi, batasan antara pria dan wanita sangat ketat. Pemandangan seperti tadi tidak boleh difoto. Akan tetapi, si penerjemah ini malah menggandeng tangan relawan kita dan mengizinkannya untuk mengambil gambar

 Penerjemah ini sangat tersentuh dan ingin mengungkapkan rasa syukur, maka dia tidak mempermasalahkan batasan itu dan mengizinkan relawan kita mengabadikan momen tersebut agar pemandangan penuh haru inidapat dibawa pulang ke Taiwan dan dapat saya lihat. Ketulusan cinta kasih ini sungguh membuat orang tersentuh. Jadi, inilah yang disebut melingkupi semua tempat. Para dokter itu berasal dari Taiwan, hidup dengan tenang dan damai, serta melewati hari-hari dengan gembira. Mereka memiliki fasilitas lengkap di sini. Akan tetapi, mereka rela menempuh perjalanan yang begitu panjang ke daerah bencana yang penuh kesulitan, kekurangan bahan pangan, dan memiliki kondisi cuacayang jauh berbeda dengan Taiwan

 Begitu banyak kesulitan yang harus mereka hadapi, tetapi mereka rela. Lihat, bukankah ini yang disebutmelingkupi semua tempat? Meski bisa tinggal nyaman di Taiwan, mereka tetap rela pergi ke daerah bencana. Jadi, asalkan dalam hati kita ada cinta kasih, maka kita akan dapat menjangkau semua tempat. Sebagai praktisi Buddhis, kita harus belajar untuk membangkitkan kesadaran awal. Kita harus mulai menapaki jalan ini

 Sejauh apa pun perjalanan ini, asalkan tidak menyimpang, maka tidaklah sulit untuk mencapai kebuddhaan. Jadi, setiap orang hendaknya mempertahankan tekad dan kesadaran awal masing-masing. Dengan begitu,tidak sulit untuk mencapai kebuddhaan

 Intinya, kita semua harus lebih bersungguh hati.

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

https://www.geocities.ws/moulmaths/

https://www.geocities.ws/digitalanam/

rp888

rp888