Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 166 – Enam Praktek 10 Dedikasi Bagian 5

Saudara se-Dharma sekalian, setiap hari kita selalu berdiskusi dan berbagi. Saat seseorang berbagi tentang ajaran yang tertulis di dalam Sutra, hatinya merasa sukacita. Mereka berbagi kebahagiaan ini dengan kita. Orang yang mendengar pun harus menumbuhkan rasa sukacita di dalam hati. Setelah menerima cerita inspiratif, dalam kehidupan sehari-hari kita harus membangkitkan rasa sukacita dalam setiap hal yang kita lakukan. Dengan demikian, hati kita baru akan menyatu dengan Buddha

 Belakangan ini kita selalu membahas dedikasi— memperluas dedikasi. Kita harus mengubah noda batin awam kita ke arah kemurnian hati Buddha. Saya harap setiap hari kita dapat bersumangat untuk terus melangkah maju dengan mantap. Setiap langkah kita harus sesuai Dharma. Setiap Dharma harus terukir dalam lubuk hati kita. Dari dalam lubuk hati, kita harus membangkitkan semangat untuk terus maju dengan langkah yang benar. Jika dapat melakukan ini, maka kita tidak berada jauh dari kebuddhaan

 Jadi, hari ini kita akan membahas yang kelima dari sepuluh dedikasi. Saya berbagi dengan kalian dengan sukacita, Kalian pun harus menerima dengan sukacita. Ingatlah makna dedikasi, yaitu mengubah kecil menjadi besar. Kecil berarti egois dan mementingkan kepentingan pribadi. Pikiran yang penuh ego harus kita ubah. Inilah yang dimaksud “mengubah”

 Kita harus memperluas dedikasi menjadi besar. Besar berarti bebas dari ego dan keakuan sehingga dapat mencapai kesucian dan merangkul dunia dengan cinta kasih. Inilah kondisi hati para Buddha yang juga merupakan kondisi batin yang murni. Inilah tujuan dedikasi kita. Dedikasi kelima merujuk pada seluruh dunia. Hati kita harus mengarah pada seluruh dunia

 Dunia seperti apa? Dunia para Buddha. Dikatakan bahwa jasa kebajikan para Buddha yang jumlahnya melebihi pasir Gangga adalah tidak terbatas. Inilah pahala tanpa batas. Artinya, dunia ini sangat luas. Bukan hanya luas, bahkan berjumlah tak terhingga. Saat melantunkan Sutra Amitabha, kita dapat melihat penggalan tentang persembahan kepada para Buddha yang banyaknya lebih dari 2 miliar kali pasir Gangga. Dapat kita bayangkan betapa besarnya jumlah ini

 Batin kita, dalam satu waktu dapat menjangkau banyak tanah Buddha. Batin kita setiap hari mengembara di dunia para Buddha. Para Buddha dikatakan bagai butiran pasir Sungai Gangga. Ini melambangkan jumlah yang tak terhingga. Pasir Sungai Gangga tentu sangat banyak. Karena itu, para Buddha dikatakan banyak bagai butiran pasir Gangga. Mengenai jasa kebajikan hakiki, artinya kita harus melatih batin kita. Berlatih untuk apa? Rendah hati

 Bersfat rendah hati adalah jasa (gong), bersikap sopan santun adalah kebajikan (de). Artinya, kita harus membangkitkan sifat hakiki kita dengan mengecilkan ego. Praktik kita juga harus meluas dan banyak hingga bagaikan pasir Gangga. Beberapa hari lalu saya berkata kepada kalian bahwa kita harus berada di tengah masyarakat Hati kita harus kosong dari kemelekatan, tanpa keakuan, tanpa konsep individu, tanpa konsep pribadi, tanpa konsep makhluk hidup, tiada pemikiran tentang bentuk diri. Kita harus mengosongkan hati dari segala kemelekatan, baru dapat merangkul semua makhluk di dunia. Semua ini harus dimulai dari pelatihan ke dalam batin kita. Jadi, dapat bersifat rendah hati adalah “gong”, dapat bersikap sopan santun adalah “de”

 Jika kita dapat menghormati semua orang dan hidup harmonis dengan mereka, maka kebajikan kita akan menjadi tak terhingga. Kebajikan (de) ini dapat menaungi hati semua makhluk yang tak terhingga banyaknya. Inilah yang disebut tidak terbatas. Jasa kebajikan kita dapat menginspirasi lebih banyak orang dan menyadarkan lebih banyak orang. dapat merespon batin semua makhluk. Tubuh kita dapat menyelamatkan tubuh mereka. Jadi, tubuh dan pikiran kita dapat  merespon banyak makhluk yang tak terhingga

 Inilah yang disebut pahala (gong de) tanpa batas. Demikianlah kita harus menyalurkan dedikasi. Pikiran kita harus mengarah pada Buddha, sedangkan tubuh kita harus membimbing semua makhluk. Jadi, jumlah Buddha sangat banyak bagai pasir. Tentu jumlah makhluk hidup juga tak terhingga. Jadi, pikiran kita harus mengarah pada Buddha, dan tubuh kita harus menjangkau semua makhluk. Jadi, kita harus selalu bertekad untuk membina batin kita dan bersikap sopan demi mengembangkan kebajikan kita

 Saya juga pernah berkata kepada kalian tentang keharuman kebajikan dari pelatihan diri. Kualitas pelatihan di dalam diri dapat tertampil keluar dan membuat orang merasa sukacita. Inilah kebajikan. Ini membutuhkan pelatihan ke dalam dan ke luar. Berikutnya saya akan menjelaskan tentang dedikasi pahala tanpa batas. Dikatakan, Tadi kita membahas bahwa dunia meliputi semua tempat, termasuk tanah para Buddha yang tak terhingga. Tathagata adalah sebutan bagi semua Buddha

 Para Buddha bagaikan butiran pasir. Dunia pun demikian. Jadi, pikiran kita hendaknya berada di dunia para Buddha dan hati para Buddha. Sebuah ungkapan lain berbunyi, “Hati yang murni dari para Buddha adalah hati kita yang murni tanpa batas.” Apakah Buddha Sakyamuni benar-benar berada di Dunia Saha? Meski Buddha Sakyamuni disebut sebagai guru utama Dunia Saha, tetapi Beliau datang ke Dunia Saha ini dari dunia para Buddha yang tak terhingga. Jadi, Buddha Sakyamuni juga merupakan salah satu dari Buddha yang tak terhitung banyaknya. Beliau merespon pikiran para Buddha dan datang ke Dunia Saha ini

 Karena itu, para Buddha disebut Tathagata— yang datang dari kedemikianan. Dengan tekad, Beliau datang ke Dunia Saha. Dengan praktik, Beliau merespon semua makhluk. Jadi, kutipan ini seharusnya sangat dekat dengan kehidupan kita. Tak peduli dalam kondisi apa pun, para Buddha, baik yang berada di Dunia Saha, Tanah Suci Barat Sukhavati, Tanah Suci Timur Lazuardi Murni, maupun di tempat lain di 10 penjuru, semuanya melebur menjadi satu. Meski tersebar bagai butiran pasir, tetapi sesungguhnya Mereka berasal dari kebenaran tunggal. Jadi, jika kita mampu mengarahkan pikiran kita pada suatu tempat, maka kita akan dapat membangkitkan hati Buddha dalam diri dan menjalankan praktik Buddha di tengah masyarakat

 kita akan dapat melihat dengan jelas kondisi dunia yang sebenarnya. Buddhisme, sains, dan filosofi tidak bisa dipisahkan. Ilmu pengetahuan semakin maju dan dapat membuktikan kebenaran Buddhisme. Ajaran Buddha sangat dekat dengan kehidupan semua makhluk. Seorang ilmuwan dari Amerika Serikat memanfaatkan nanoteknologi untuk melakukan penelitian

 Dia menemukan melodi di dalam sel tubuh. Sel tubuh bisa bernyanyi. Kalian mungkin berpikir, “Mana mungkin?” Saya katakan, mungkin. Fahulu saya pernah berkata, “Amati hakikat diri, dengarkan suara sendiri.” Karena itu, saat melihat artikel ini, saya sangat senang. Itu membuktikan yang saya katakan bertahun-tahun lalu. Semua orang harus mengamati hakikat diri dan sungguh-sungguh mendengar suara hati masing-masing

 Sel tubuh kita juga memiliki suara sendiri. Saat melihat bahwa ilmu pengetahuan dapat membuktikan hal ini, saya merasa sukacita. Inilah sukacita dalam Dharma. Sukacita seperti ini berasal dari dalam hati. Mungkin sel tubuh saya juga sedang bernyanyi dan tertawa. Ini yang harus selalu dibina setiap orang. Kita harus membina batin kita agar dapat selalu harmonis dengan kondisi sekitar. Jika kita dapat senantiasa mengambil kondisi bahagia dari luar dan memasukkannya ke dalam hati, maka kita akan selalu merasa bahagia

 Kalian pasti pernah melihat orang yang tersenyum meski hanya sedang duduk. “Mengapa kamu tersenyum?” “Saya sangat gembira dan senang, maka ingin terus tersenyum.” Kita dapat merasa gembira karena pengaruh dari sel-sel tubuh kita. Ilmu pengetahuan telah menemukan suara di dalam sel. Jadi, kita harus melakukan dedikasi bagi diri sendiri. Kita harus mengamati dan mengendalikan diri sendiri. Kita harus belajar untuk mengendalikan dan mengajar setiap sel dalam tubuh kita agar setiap sel ini dapat patuh dan mengeluarkan suara yang baik serta penuh kegembiraan. kita akan dapat merasakan kedamaian. Saya sering mendengar istilah “nano”. Saya terus bertanya-tanya apa arti istilah itu. Saat bertemu dengan para ilmuwan, jika mereka mengungkit tentang istilah itu, maka saya menyempatkan diri untuk bertanya apa sesungguhnya yang dimaksud “nano” itu. Mereka juga tidak dapat menjelaskan secara detail, intinya itu adalah sesuatu yang sangat kecil, tetapi memiliki potensi yang sangat besar. Inilah kesimpulannya. Kita juga hendaknya memercayai ini

 “Nano” berarti sangat kecil. Seberapa kecil? Kecil hingga bagaikan debu dan tak dapat dilihat oleh mata. Akan tetapi, ia memiliki potensi tak terhingga. Jadi, para ilmuwan di Amerika Serikat itu perlahan-lahan telah mulai menerbitkan penemuan yang menggemparkan dunia ini. Ini merupakan salah satu penemuan besar di abad 21. Inilah nanoteknologi. Nanoteknologi memiliki skala yang sangat kecil hingga tidak dapat dilihat oleh mata telanjang

 Ditemukan bahwa sel tubuh dapat bernyanyi. Kalau begitu, kita harus segera melatih sel kita agar dapat melantunkan Sutra. Kita harus selalu melatih setiap sel kita agar memiliki suara yang harmonis. Setiap pagi, saat melantunkan Sutra, kita harus berlatih untuk membangkitkan ketulusan, meresapi maknanya, dan melantunkannya sepenuh hati. Inilah yang disebut suara brahma. Suara brahma ini sangat murni tanpa ternoda, membuat yang mendengar merasa sukacita. Jadi, kita harus sungguh-sungguh melatih hal ini. Jadi, dalam artikel itu juga dikatakan bahwa ada sel yang bersuara tinggi dan rendah

 Artinya, di dalam suara setiap sel masih ada sesuatu. Sama seperti saat mendengar orang bernyanyi, kita dapat mendengar irama dalam suara itu. Artinya, ada irama di dalam irama. Irama ini dapat kita dengar jika nyanyiannya bagus. Begitu pula saat orang berbicara. Ada orang yang berbicara seperti sedang bernyanyi. Iramanya sangat enak didengar. Karena itu, ada orang berkata, “Anda berbicara seperti sedang bernyanyi, sangat enak didengar

” Ungkapan ini adalah ungkapan sebenaranya. Saat berbicara, suara adakalanya berirama. Jadi, suara manusia saat berbicara adakalanya seperti bernyanyi. Suatu kali, ada seorang musisi berkata kepada saya bahwa penulis lagu suka mendengarkan orang berbicara. Saya bertanya mengapa. Dia berkata bahwa ada orang yang iramanya berbicara tidak sama dengan orang lain. Dari sana bisa muncul ilham untuk mencipta lagu. Jadi, ini juga membuktikan bahwa di dalam nyanyian setiap sel, masih ada irama lain

 Akan tetapi, ada sebagian sel yang menyanyikan irama sedih. Para ahli menemukan bahwa ada dua jenis sel, yang satu mengeluarkan suara sukacita, sedangkan yang lain mengeluarkan suara sedih dan menderita. Saya percaya ini benar. Lihatlah, ada orang yang sangat optimis, sangat mudah dibimbing, dan sangat polos

 Saat diajari dan dibimbing, dia sangat senang dan berterima kasih. Orang seperti ini, sel-sel tubuhnya pasti memiliki nyanyian yang berirama gembira, bahagia, penuh syukur dan cinta kasih. Sel-selnya selalu penuh dengan rasa syukur. Demikian pula dengan manusianya. Batin dan tubuh fisiknya penuh dengan kemurnian dan kebajikan. Dia akan senantiasa bersyukur. Sebaliknya, jika orang itu kurang baik, maka saat orang lain berlaku baik kepadanya, dia hanya mengatakan terima kasih, lalu melupakan budi baik begitu saja, misalnya ketika pergi makan, dia membayar sesuai harga. Menurutnya, membayar adalah tanda terima kasih

 Setelah makan, dia membayar dan mengucapkan terima kasih. Hanya sekali saja. Saat orang lain memberi pelayanan, dia memberi reaksi balasan. Jika disapa kembali, setelah itu berlalu, “Beberapa hari lalu Anda makan di sini,” dia hanya menjawab, “Ya, saya sudah bayar.” Interaksi seperti ini kurang bagus. Orang yang makan itu menganggap ini sudah sewajarnya. “Anda menyiapkan makanan, saya bayar.” “Itu sudah wajar, tidak ada yang penting

” Orang zaman dahulu juga berkata bahwa cinta kasih orang tua adalah yang terbesar. Orang tua mengasihi anak-anak dan membesarkan mereka sejak kecil. Sebagian anak sangat berbakti. Di Da Ai TV pernah ditayangkan sebuah drama berjudul Ketika Gladiol Bersemi. Orang-orang sangat senang menyaksikannya. Itu karena kentalnya rasa kekeluargaan dalam drama itu

 Rasa kekeluargaan antara kakek, ayah, cucu, ibu, dan anak terasa sangat kental dalam drama tersebut. Dengan hati yang murni, anak-anak membalas budi orang tua dengan penuh syukur. Ada juga sebuah berita tentang seorang ayah yang dirawat di RS akibat pengerasan hati. Dokter memvonis bahwa organ hatinya kehilangan fungsi. Akan tetapi, dengan kemajuan ilmu kedokteraan saat ini, pencangkokan hati pun dimungkinkan. Cangkok dapat dilakukan dari donor hidup, tidak perlu mencari donor yang sudah meninggal untuk diambil hatinya. Tidak perlu

 Manusia tentu harus memiliki organ hati. Pencangkokan dapat dilakukan dari tubuh orang yang masih hidup. Begitulah keadaannya. Sang ayah ini memiliki tiga orang putra. Ketiganya sangat berterima kasih kepada sang ayah. Hubungan antara ayah dan anak ini sangat erat. Saat dokter berkata bahwa diperlukan pencangkokan hati, ketiga putra ini berebut menawarkan organ hati masing-masing. Setelah dilakukan pemeriksaan, ditemukan bahwa putra kedua memiliki kondisi fisik, golongan darah, dan faktor lain yang paling sesuai dengan sang ayah. Jadi, putra kedua ini memberikan separuh organ hatinya untuk ditransplantasikan pada ayahnya

 Hal ini sungguh merupakan sesuatu yang indah. Inilah yang disebut rasa syukur. Sang ayah mengasihi putranya sejak kecil. Setelah putranya tumbuh dewasa, saat sang ayah menderita penyakit, sebagai anak sudah sepatutnya menjaga dan merawatnya sepenuh hati. Ini sudah termasuk berbakti. Saat transplantasi harus dilakukan, dia rela memberikan sebagian organnya demi menolong ayahnya. Ini adalah berkat pengasuhan yang dilakukan hingga ke sel tubuh. Karena itu, dia sangat rela, sangat berbakti, dan bersyukur. Batin juga membutuhkan pengasuhan sel. Jadi, yang disebut melatih diri adalah membina pikiran kita. Kita harus sungguh-sungguh membina pikiran kita

 Jika tidak, jika pikiran dan tabiat kita menyimpang, maka sulit untuk meluruskannya kembali. Agar setiap sel kita penuh rasa syukur dan setiap hari dapat menyanyikan irama yang gembira dan damai serta membuat kita bahagia, dibutuhkan pembinaan yang tidak sebentar. Ini paling dapat terlihat saat seseorang menghadapi ajal. Kadang saat murid-murid saya di berbagai tempat Kadang, saat murid-murid saya di berbagai tempat tengah menjelang ajal, mereka menelepon saya dan berkata, “Master, untuk terakhir kalinya saya ingin mendengar suara Master.” Saya lalu berbicara kepada mereka lewat telepon. Lewat gagang telepon, saya dapat mendengar suara hati mereka saat menjelang ajal

 Mereka yang terbiasa melatih diri akan dapat berkata, “Master tenang saja, saya ingat dan mengerti pesan Master, saya akan kembali.” Setelah selesai berbicara, saya dapat benar-benar merasa tenang. Akan tetapi, kadang ada yang menelepon dan berkata, “Master, si A sangat menderita, mohon Master bicara dengannya sejenak.” Entah apakah dia dapat menerima nasihat lewat telepon. Suaranya terdengar menderita dan penuh ratapan. Entah apakah dalam keseharian dia telah membina sel-sel tubuhnya atau belum. Bagi orang yang sel-selnya terbina dengan baik, maka hanya dengan sedikit nasihat, mereka akan mengerti dan meminta agar saya jangan khawatir

 “Master, saya paham.” “Baik, saya mengerti.” Sesederhana itu. Begitu polos dan begitu indah. Irama selnya sangat enak didengar. Sebaliknya, mereka yang biasanya tidak menjaga pikiran dengan baik, pada saat menjelang ajal, sel-sel tubuhnya akan mengeluarkan irama yang sedih seakan tersiksa. Kehidupan memang penuh misteri. Saudara sekalian, saya harap kalian dapat menggunakan hati yang paling murni dan paling penuh sukacita untuk menerima ajaran Buddha. Apakah hari esok atau ketidakkekalan yang datang lebih dahulu? Tiada yang tahu

 Kehidupan tidaklah kekal. Setelah mendengar ajaran hari ini, hendaknya segera diterapkan hari ini juga. Selain itu, dalam setiap detik, setiap menit, setiap hari, setiap bulan, dan setiap tahun, kita tidak boleh lepas dari irama sel tubuh yang penuh sukacita. Baiklah, Saudara sekalian, kita tentu harus selalu bersungguh hati.

 

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

https://www.geocities.ws/moulmaths/

https://www.geocities.ws/digitalanam/

rp888

rp888