Sanubari Teduh – 167 – Enam Praktek 10 Dedikasi Bagian 6
Saudara se-Dharma sekalian, praktisi Buddhis disebut sebagai ladang berkah. Setiap hari kita harus menggarap ladang berkah dimulai dari ladang batin kita sendiri. Kita harus menjadi petani batin yang baik. Ini disebut praktisi yang memegang teguh kewajiban. Jadi, ajaran Buddha kepada kita dimulai dari menjadi petani yang menggarap ladang batin semua makhluk. Kemudian, kita pun menemukan bahwa pada dasarnya kita memiliki cahaya batin dan ladang batin di dalam diri masing-masing. Setelah belajar cara menggarap ladang ini dari Buddha, kita semua hendaknya menggarap ladang batin masing-masing, baru kemudian menyebarkan ajaran ini untuk membimbing semua makhluk
Jika setiap orang dapat menggarap ladang batin, saling membabarkan Dharma, menanam benih yang baik, dan menuai hasil yang baik pula, maka bukankah dunia ini akan menjadi tanah suci? Jadi, untuk mengubah dunia yang keruh menjadi tanah suci, kita harus menjadi petani batin yang giat. Dalam sepuluh dedikasi, Artinya, kita harus melakukan berbagai praktik. Para Buddha di masa lalu, masa kini, dan masa depan memulai pelatihan diri bagaikan menanam sebutir benih. Di atas ladang batin yang baik, Mereka menaburkan benih yang baik pula. Setelah itu, Mereka memulai praktik dan sungguh-sungguh menggarap ladang itu
Ladang batin ini telah ditanami benih, maka tumbuhlah buah sesuai benihnya. Dengan adanya benih sebab yang ditanam di ladang yang digarap dengan sungguh-sungguh, maka buah pun tumbuh. Dengan melepaskan satu, kita memperoleh banyak. Artinya, dengan menanam sebutir benih di tanah yang baik dan sungguh-sungguh menggarapnya, maka benih ini akan tumbuh, berbunga, dan berbuah lebat. Ini menandakan bahwa pelatihan kita sudah membuahkan hasil. Hasil dari pelatihan diri adalah Nirvana
Berlatih sejak berada pada tataran makhluk awam, bukankah tujuan kita adalah mencapai kebuddhaan? Benar. Untuk menuju kebuddhaan dari tingkatan awam, dibutuhkan benih penyebab. Benih yang baik ini harus ditanam di atas tanah yang baik pula, barulah tujuan kita dapat tercapai. Hasil yang kita peroleh sesuai hukum sebab akibat ini adalah hasil dari pelatihan diri kita, yakni Nirvana. Sesungguhnya, di dalam penjelasan, dijelaskan lebih lanjut mengenai dedikasi, yakni dedikasi akar kebajikan adaptasi setara. Mengenai akar kebajikan, saat kita ingin mulai melatih diri, kita juga harus mulai dari benih sebabnya
Benih ini pada dasarnya sudah kita miliki. Setiap hari saya mengatakan bahwa kita memiliki benih kebuddhaan yang setara dengan Buddha. Anda, saya, dan setiap orang adalah setara. Jika kita dapat memahami kebenaran ini, maka saat itu juga kita menyatu dengan Buddha, karena makhluk awam dan Buddha hanya dibatasi oleh kegelapan batin. Jika kegelapan batin ini dapat kita singkirkan, maka kita adalah sama dengan Buddha, yaitu orang yang telah sadar. Tidaklah sulit untuk mengubah kesesatan menjadi kesadaran
Yang paling sulit adalah menyadarkan diri sendiri untuk memandang setiap orang dengan setara dan percaya bahwa semua orang memiliki akar kebajikan. Meski kita percaya setiap orang memiliki akar kebajikan, tetapi saat berhadapan dengan orang dan masalah, kondisi yang ada kadang tetap sangat kompleks. Akibatnya, kita sulit untuk melatih diri. Meski kita percaya setiap orang memiliki hakikat baik yang setara, tetapi setelah terombang-ambing di enam alam kelahiran kembali, ketebalan noda batin setiap orang berbeda-beda. Ada orang yang noda batinnya sangat tebal, ada pula yang sudah berjalan ke jalan kesadaran dan mulai membersihkan cermin batinnya
Mereka tahu bahwa batin mereka telah tercemar, maka mulai membersihkannya sedikit demi sedikit dan menumbuhkan benih baik yang baru. Akan tetapi, ada orang yang masih diliputi noda batin yang tebal. Tabiatnya sangat buruk. Orang seperti ini, bagaimana bisa bekerja sama dengan orang lain? Tentu, kita akan memilih orang yang tabiatnya sudah berubah ke arah yang baik. Jika tabiatnya belum berubah, maka saat kita memercayakan suatu hal kepadanya, dia mungkin tak dapat menyelesaikannya dengan baik
Begitulah, di tengah masyarakat, untuk belajar benar-benar menjalankan praktik Bodhisattva dan membimbing semua orang dengan berbagai metode terampil bukanlah hal yang mudah. Meski kita tahu bahwa kita harus memandang setara semua orang, tetapi kita juga harus tahu cara membedakan benar salah dan memahami tabiat orang apakah sudah berubah ke arah yang lebih baik. Ini sangat sulit. Jadi, mempelajari ajaran Buddha sangat mudah, membimbing semua makhluk baru sulit
Jika tidak, Buddha tidak perlu terus-menerus datang ke Dunia Saha ini untuk menjadi guru semua makhluk. Karena semua makhluk berwatak keras, maka Buddha harus menunggu kesempatan untuk memberikan ajaran di saat yang tepat. Jika kondisinya belum matang, tidak mungkin bisa memberikan ajaran bagi mereka. Di sinilah sulitnya membimbing orang lain dan terjun ke tengah masyarakat. Inilah kesulitan terbesar
Jadi, berikutnya dikatakan, “Berlandaskan hakikat kebuddhaan, membangkitkan benih berbagai praktik.” Kita harus berangkat dari hakikat kebuddhaan dan mulai menanam benih lewat berbagai praktik melatih diri. Dari mana berbagai praktik ini dimulai? Kita sering membahas Enam Paramita. Semua makhluk memiliki hakikat sejati yang murni. Akan tetapi, begitu tercemar, semua makhluk akan terus menyimpang dari sifat hakiki yang sama menjadi begitu banyak tabiat yang berbeda-beda. Karena itu, Buddha menggunakan berbagai metode
Ada enam metode yang disebut Enam Paramita, enam metode untuk membimbing orang. Akan tetapi, dari enam metode ini, untuk menghadapi beragam sifat orang, dikembangkanlah berbagai praktik. Sebelumnya kita pernah membahas bahwa semua makhluk memiliki 84.000 noda batin. Karena itu, Buddha membuka 84.000 pintu Dharma. Inilah yang disebut metode terampil yang diwujudkan ke dalam berbagai praktik. Berbagai praktik ini menjadi benih yang sebenarnya
Benih yang sebenarnya berarti hakikat sejati. Kita berangkat dari hakikat kebuddhaan, Dimulai dari sumber ini, kita melakukan berbagai praktik. Kita menggunakan berbagai cara untuk menyebarkan benih kebuddhaan hingga menyatu dengan hati semua makhluk. Bukankah kita pernah membahas bahwa sel-sel tubuh kita harus sungguh dibina. Berapa banyak sel yang membentuk tubuh kita? Lebih dari ratusan juta, banyak sekali, tidak terlihat secara kasatmata. Sebuah inti sel bisa berkembang menjadi banyak
Intinya, kita harus lebih dahulu membina ke dalam diri. Jika kita dapat melakukan pembinaan ke dalam, maka di dalam tubuh kita akan terdapat sel baik yang tak terhitung. Akan tetapi, sel-sel itu juga menyimpan banyak kuman penyakit yang tidak baik. Jadi, saat sel-sel tubuh kita sehat dan saling berinteraksi dengan baik, maka tubuh kita akan sehat. Meski banyak sel yang mati dan terbentuk, Meski banyak sel yang mati dan terbentuk, semua proses itu berjalan lancar. Jika interaksi antarsel tidak harmonis maka empat unsur dalam tubuh tak akan selaras
Tubuh merupakan sebuah mikrokosmos. Di dalam masing-masing sel mikrokosmos ini, terdapat mikrokosmos yang lebih kecil lagi. Jadi, “dunia kecil” ini adakalanya juga tidak selaras. Jadi, Buddha terus mengingatkan kita bahwa Banyak “dunia” yang bagaikan debu, bahkan lebih halus dari debu, tidak dapat dilihat secara kasatmata. Diperlukan mikroskop dengan perbesaran puluhan kali lipat untuk dapat melihat semuanya. Jumlahnya bahkan bisa sangat mengejutkan. Begitulah, di dalam makrokosmos ini juga terdapat mikrokosmos, banyak pula “dunia” yang sangat kecil
Jadi, kita kadang menyebutkan tentang dunia yang bagaikan pasir Sungai Gangga. Ada begitu banyak dunia dengan berbagai kehidupan di dalamnya. Untuk membuat semuanya selalu harmonis sungguh sulit. Karena itu, kita harus menggunakan berbagai cara. Lihatlah, orang zaman sekarang, hanya karena satu penyakit, harus meminum berbagai jenis obat agar bisa sembuh dan menumbuhkan lebih banyak sel baik serta menghilangkan sel buruk. Ini adalah proses penyembuhan
Penyakit pada tubuh tentu harus diobati. Penyakit dalam masyarakat pun demikian. Untuk menyembuhkan penyakit masyarakat, tentu ada cara tersendiri. Caranya adalah kita harus melatih diri. Kita telah bertekad mengemban misi Buddha dan menerima ajaran Buddha
Buddha bagaikan petani batin yang menginspirasi kita sehingga kita paham bahwa ladang batin ini harus kita garap dengan baik. Dengan memahami cara mengolah batin sendiri, kita baru dapat menggarap ladang batin masyarakat. Untuk itu, tentu dibutuhkan banyak cara. “Membangkitkan benih berbagai praktik, memanifestasikan kendaraan tunggal jalan penghentian.” Mengenai penghentian dan kendaraan tunggal, sesungguhnya semua Dharma berhakikat satu. Meski dikatakan ada 84
000 pintu Dharma, tetapi semua menunjuk pada satu jalan kendaraan tunggal. Kendaraan tunggal inilah yang disebut Mahayana. Saat kita melatih diri, di saat bersamaan kita juga harus membimbing semua makhluk. Ini yang disebut “mencari dan membimbing”. Mengenai penghentian, pada dasarnya batin kita sangat hening. Hanya saja, begitu noda batin muncul, kita jadi melakukan banyak karma buruk dan akhirnya menderita. Mengenai penderitaan, kita harus tahu bahwa penderitaan muncul karena adanya akumulasi sebab
Karena menciptakan banyak karma buruk, maka kita menderita. Semua ini bersumber dari diri kita sendiri. Kita harus mencari cara untuk melenyapkannya. Kita harus melatih diri. Meski tahu bahwa dunia ini sangat kompleks dan sangat rumit, tetapi kita harus berusaha mengurai kerumitan ini dengan mencari cara untuk bisa membedakan yang benar dan salah. Saat menghadapi orang yang berpandangan salah, kita harus memberi pengertian
Setelah orang itu mengerti, kita harus membimbingnya ke arah yang benar. Jika orang yang berpandangan salah kita biarkan untuk terus melakukan kesalahan, maka dia akan semakin menyimpang. Karena itu, terlebih dahulu kita harus memintanya untuk berhenti dan berintrospeksi. Setelah berintrospeksi, baru melangkah lagi. Sama halnya saat kita melatih diri, banyak orang berkata, “Jika saya tersadar setelah tersesat, maka saya akan menjadi Buddha.” Benarkah? Sesungguhnya, kesadaran harus dibarengi dengan praktik
Saat memulai praktik pelatihan diri, apakah arah kita benar? Jika tidak, maka kita harus mengulang dan kembali ke titik awal. Jadi, untuk dapat memanifestasikan kendaraan tunggal jalan penghentian, kita harus memahami penderitaan dan sebab penderitaan. Kini kita tengah mempraktikkan pengakhiran dari penderitaan. Kita harus mengakhiri kesalahan masa lalu untuk mempertahankan sifat-sifat baik dan murni. Inilah sumber dari jalan pelatihan diri yang kita sebut benih yang sebenarnya. Sama halnya, jika ingin menanam padi, kita harus memilah padi-padi yang tak berisi agar dapat memperoleh bibit unggul. Setelah tanah diolah, kita lalu mulai menyemai padi
Proses ini memiliki alur. Jadi, kita harus tahu bahwa setiap orang harus memulai dari landasan kebenaran yang merupakan sumber dari segalanya. Kemudian, kita harus melangkah maju dan menjalankan berbagai praktik. Kita berada di tengah masyarakat, tetapi tidak boleh lepas dari benih hakikat sejati yang murni. Dengan begitu, kita akan memiliki semangat kendaraan agung (Mahayana) untuk melatih diri sendiri dan membimbing makhluk lain. Kendaraan berarti bergerak. Kita bergerak dari satu titik ke titik lain
Dengan cara ini, kita terus bergerak maju. Contohnya, adakalanya kita naik mobil, pesawat terbang, atau sepeda motor. Semua kendaraan itu adalah alat. Demikian pula, dalam melatih diri, kita harus menggunakan alat untuk menemukan cara melenyapkan penderitaan. Setelah menemukannya, Kita harus bergerak sesuai jalan itu. Karena itu, dikatakan, “Praktik bermula dari kebenaran.” Praktik yang dimaksud adalah praktik melatih diri
Bagaimana kita menapaki jalan pelatihan ini? Kita harus berangkat dari kebenaran. Kebenaran ini mengarahkan kita pada benih sebab yang harus kita tanam hingga kita memperoleh buah pencerahan. Praktik kita harus berlandaskan kebenaran, barulah kita dapat berkembang. Jika tidak memulai dari sumber awal yang benar, maka kita tidak akan dapat melangkah maju. Untuk dapat melangkah maju, kita harus melenyapkan sebab penderitaan. Sumber dari terciptanya karma buruk harus kita temukan. Kita harus menangani sebab ini satu per satu
Ini yang disebut penanganan. Setelah itu, kita dapat kembali pada kebenaran. Jadi, dikatakan bahwa memperlakukan semua makhluk dengan setara, dapat menghasilkan buah pelatihan diri. Kita harus tahu bahwa makhluk hidup amat beragam. Kita harus mengenali sifat dan kemampuan mereka. Kita harus memahami semua makhluk. Kita harus menghormati setiap orang
Kita harus memiliki rasa syukur, rasa hormat, dan cinta kasih. Di tengah beragam makhluk hidup, Kita harus bersyukur pada semuanya, bahkan terhadap orang yang jahat sekalipun. Kita harus percaya bahwa mereka juga memiliki akar kebajikan. Kita percaya pada dasarnya mereka sama dengan kita, memiliki hakikat sejati yang murni. Kita harus bersyukur kepada mereka, kita harus menghormati mereka. Akan tetapi, bagaimana cara kita menghormati mereka? Kita harus menggunakan banyak cara. Ada 84.000 cara
Kita harus menggunakan banyak cara untuk mengasihi mereka. Jika tidak memiliki cinta kasih, kita tidak akan mampu bersyukur dan bersikap hormat kepada mereka. Jadi, kita harus lebih dahulu menumbuhkan cinta kasih, baru bisa menghormati setiap orang mengingat mereka juga memiliki akar kebajikan dan hakikat kebuddhaan. Ada begitu banyak orang yang kita temui, maka kita harus bersyukur kepada mereka semua. Masalah apa pun yang kita hadapi, kita harus tetap bersyukur sehingga pertikaian pun dapat dihindari. Jika dapat merealisasikan hal ini, maka inilah keheningan atau penghentian. Jika masih terlibat pertikaian, maka kita akan menghadapi kesulitan
Saudara sekalian, sebutir benih sangatlah kecil, tetapi dapat berkembang menjadi besar. Jadi, kita tidak boleh meremehkan setiap bersit niat yang bagaikan benih ini. Kita harus menggarap ladang batin kita dengan sepenuh hati. Jika ladang batin kita dapat digarap dan diolah dengan baik, maka benih yang ditanam di dalamnya pasti akan bertunas dan tumbuh menjadi pohon hingga berbunga dan berbuah. Dengan begitu,benih ini pun menjadi berlipat ganda. Jadi, kita harus melakukan dedikasi yang setara
Meski kita memiliki banyak masalah, memiliki banyak kerisauan, jika kita dapat berpikir bahwa setiap orang memiliki akar kebajikan, Maka kita akan dapat bersyukur serta menghormati dan mengasihi mereka. Baiklah, semua ini kedengarannya sangat dalam, tetapi kalian semua telah memahami tentang landasan kebenaran. Kita dapat mempraktikkan berbagai cara, tetapi tidak lepas dari benih sebab yang sebenarnya, yakni benih hakikat sejati. Jadi, dalam kehidupan kita sehari-hari, kita harus menerapkan berbagai cara dalam menghadapi orang dan masalah. Inilah intinya. Saya berbagi tentang ini dengan kalian semua dengan harapan kalian dapat selalu bersungguh hati.