Sanubari Teduh – 168 – Enam Praktek 10 Dedikasi Bagian 7
Saudara se-Dharma sekalian, waktu berlalu dengan cepat. Hari demi hari terus berganti. Akan tetapi, kita yang melatih diri apakah tetap mempertahankan arah dan semangat dari tekad kita? Kita sering membahas bahwa hati, Buddha, dan semua makhluk pada hakikatnya tiada perbedaan. Lalu, hati, Buddha, dan semua makhluk, di mana letak perbedaannya? Perbedaannya ada pada kegelapan batin kita. Begitu kegelapan batin muncul, pikiran kita akan menyimpang dan banyak melakukan perbuatan keliru. Jika pikiran kita menyimpang, keluarga pun dapat menjadi kacau. Jika setiap keluarga kacau, dénia tidak akan tenteram dan damai. Semua ini berawal dari niat pikiran manusia
Karena itu, kita harus mendengar Dharma setiap hari. Setiap hari kita harus melatih ke dalam diri dan melakukan praktik ke luar. Setelah mendengar Dharma, dibutuhkan perenungan dan pelatihan. Kita harus bersemangat melatih ke dalam diri. Dalam melakukan praktik ke luar, kita harus penuh rasa hormat. Inilah sikap kita dalam melatih diri. Kita juga sudah membahas tentang yang keenam dari sepuluh dedikasi, yakni dedikasi adaptasi akar kebajikan setara
Dunia para Buddha sama dengan dunia semua makhluk. Yang kita sebut dunia sama dengan tanah Buddha. Para Buddha bersifat murni. Batin yang murni adalah tanah Buddha. Kita percaya semua makhluk memiliki akar kebajikan, sama dengan kita. Kita pun sama dengan Buddha. Inilah yang sudah kita dengar
Hari ini kita akan membahas yang ketujuh. Dedikasi yang ketujuh adalah adaptasi setara terhadap semua makhluk. Kita harus tahu yang dimaksud adaptasi adalah beradaptasi dengan semua makhluk. Akan tetapi, semua makhluk memiliki tabiat yang berbeda-beda. Setiap orang memiliki noda batin masing-masing. Setiap orang memiliki kekeliruan perilaku masing-masing
Bagaimana kita bisa beradaptasi dengan semua makhluk ini? Beberapa hari lalu bukankah kita membahas bahwa kita harus menjaga kesadaran akar kita? Kita harus membangkitkan kesadaran awal dan kesadaran akar kita. Meski hati kita sudah meninggalkan keduniawian, tetapi kita tetap harus terjun ke tengah masyarakat. Yang ditakutkan adalah begitu kegelapan batin bangkit, kita mudah terpengaruh oleh kondisi sekitar. Berhubung dapat membangkitkan kesadaran awal dan meneguhkan kesadaran akar, maka di tengah semua makhluk kita akan mampu beradaptasi tanpa terpengaruh efek negatif. == Kita harus menghormati semua makhluk karena pada dasarnya semua setara dengan Buddha. Dengan pemikiran ini, maka dikatakan, “Semua makhluk di sepuluh penjuru memiliki hakikat yang sama denganku, pada dasarnya semuanya setara, tiada tinggi atau rendah.” Semua makhluk di sepuluh penjuru pada hakikatnya sama dengan kita. Hakikat semua makhluk adalah setara, tiada yang tinggi atau rendah, hakikat ini tidak bertambah pada makhluk suci atau berkurang pada makhluk awam, pada dasarnya adalah setara. Jadi, kita mungkin berpikir, beberapa hari ini kita terus membahas bahwa Buddha dan semua makhluk tiada perbedaan, pada dasarnya adalah setara, lalu dapatkah kita mencapai kondisi itu? Takutnya kita tidak bisa mencapainya
Karena itu, kita terus melakukan dedikasi, dari kecil ke besar. Kita harus berusaha agar hati kita semakin dekat dengan hati Buddha dan semakin memahami kondisi batin Buddha. Kita bahkan berharap hati kita dapat lebih dekat dengan hati semua makhluk serta mampu membimbing semua makhluk untuk lebih dekat dengan hati kita. Ini yang disebut “belajar sekaligus membimbing”. Ajaran Buddha tidaklah terbatas. Kita harus terus bersemangat untuk berusaha mendekati tingkatan Buddha. Kita juga harus terus bertekad dan berikrar untuk membimbing semua makhluk agar kita menjadi satu dengan Buddha dan semua makhluk. Inilah yang disebut “belajar sekaligus membimbing”
Kita harus selalu memiliki pemikiran ini. Inilah yang disebut memperluas dedikasi, berharap hati kita semakin dekat dengan hati Buddha. Artinya sama. Benih yang sebenarnya adalah benih hakikat kebuddhaan. Seperti yang dikatakan dalam bait tersebut, “Berkat pengembangan benih yang sebenarnya, akar kebajikan tumbuh.” Artinya, berhubung kita semakin mendekati hakikat sejati, akar kebajikan kita pun semakin bertumbuh. Pada umumnya orang mengatakan, tanpa melewati masalah, kebijaksanaan tak akan tumbuh. Anda harus mengalami dan merasakan langsung. Setelah mengalami dan merasakan, kebijaksanaan akan tumbuh
Jika tidak bersedia mengalami dan merasakan, tidak mau melangkah maju, maka sebanyak apa pun Dharma yang dibabarkan, kita hanya bisa mendengar dan merenungkannya, tetapi tidak dapat mempraktikkannya. Dengan begitu, selamanya kita tak dapat menyatu dengan Dharma yang kita dengar itu. Poin pentingnya ada pada pengembangan atau pelatihan. Jadi, kita harus mengembangkan benih yang sebenarnya, baru bisa menumbuhkan akar kebajikan. Jika tidak mengembangkan benih yang sebenarnya, tidak membangkitkan kesadaran awal yang murni, kita tidak akan pernah memperoleh pemahaman, Jadi, setelah menyadari ini, kita masih harus menumbuhkan akar kebajikan dengan cara terjun ke tengah masyarakat. Dengan demikian, kita menyadari bahwa semua makhluk di sepuluh penjuru memiliki hakikat sama dengan kita. Jika kita benar-benar memahami, maka kita akan tahu bahwa semua makhluk memiliki hakikat yang sama dengan kita. Hakikat semua makhluk adalah setara
Ladang pelatihan Tzu Chi berada di alam manusia ini. Jadi, kita harus melatih diri di alam manusia. Ladang pelatihan diri tak lepas dari alam manusia. Misi amal Tzu Chi sudah tersebar ke seluruh dunia. Begitu banyak bencana di dunia ini. Lihatlah, bumi ini bersifat rentan. Contohnya, saat tsunami melanda Asia Selatan dan gempa bumi melanda Pakistan, betapa banyak orang menjadi sangat menderita. Tsunami di Asia Selatan berdampak pada 12 negara
Meski beberapa negara di antaranya tidak terkena dampak yang parah, tetapi yang namanya bencana tetap membawa penderitaan. Baik di Malaysia maupun Thailand, banyak juga rumah yang tersapu air laut, banyak orang kehilangan tempat tinggal, dan terpisah dari keluarga. Meski bencananya berskala kecil, tetapi orang yang terkena dampaknya tetap menderita. Jadi, baik di Malaysia para insan Tzu Chi yang merupakan Bodhisattva dunia segera bergerak untuk mendampingi para korban selama beberapa hari dan menyediakan kebutuhan hidup mereka. Meski di sana bantuan hanya diberikan selama beberapa hari, tetapi ada pula bantuan jangka panjang di daerah bencana yang lebih parah, seperti di Aceh. Di Aceh sendiri saja, lokasi bencana terparah ada di beberapa titik di beberapa pulau yang berbeda
Selain itu, dalam satu bulan terjadi beberapa kali gempa susulan yang berskala di atas 6 Skala Richter. Gempa susulan terus terjadi dalam jangka waktu satu bulan. Relawan yang berada di daerah bencana turut merasakan penderitaan warga. Para relawan tinggal bersama mereka, merangkul mereka, menghibur mereka, mendampingi mereka, dan memberikan yang warga butuhkan. Para relawan penuh kelembutan dan rasa hormat dalam menghibur para korban agar mereka dapat menenangkan hati
Selain itu, kondisi fisik warga juga harus dipulihkan. Jika kondisi fisik pulih, barulah kehidupan mereka dapat pulih. Jadi, dalam jangka panjang, para relawan di Aceh memberi bantuan kebutuhan hidup kepada warga, menyediakan pelayanan kesehatan, dan membangun tempat tinggal. Bukankah ini perasaan senasib sepenanggungan? Bukankah ini yang disebut memahami semua makhluk? Penderitaan mereka kita rasakan bagai penderitaan kita sendiri. Para relawan mendampingi dan merawat warga serta membangun tempat tinggal
Di Sri Lanka pun begitu. Selain bantuan darurat, para relawan juga mengadakan baksos kesehatan, bahkan berusaha memulihkan kehidupan warga dengan membangun tempat tinggal bagaikan membangun tempat tinggal sendiri yang dapat dihuni dalam jangka panjang. Kita memberikan lingkungan tempat tinggal bagi mereka sesuai dengan yang mereka dambakan dan butuhkan. Kita berusaha sepenuh hati dan sekuat tenaga
Gambar-gambar yang mereka kirimkan dari sana sungguh sangat indah. Sri Lanka pada dasarnya memang sebuah tempat yang indah. Apalagi, lokasi pembangunan yang kita pilih berada di daerah yang agak tinggi. Ia bukan berada di pegunungan, melainkan di sebuah dataran, hanya saja lebih tinggi sedikit. Setelah rumah-rumah dibangun, di sana dapat terlihat dataran yang luas
Selain itu, warga setempat sangat menghargai pepohonan. Di sana banyak terdapat pohon berusia ratusan tahun yang sangat rimbun. Di sana juga terlihat lautan. Baik saat matahari terbit maupun terbenam, udara di sana sangatlah bersih. Pemerintah setempat menyediakan lahan dan kita membaginya menjadi rumah-rumah berukuran 66 meter persegi. Kita juga membuat pagar hidup dan menanam pohon
Setiap rumah berdiri di lahan masing-masing. Salah satu komisaris kehormatan kita yang juga merupakan anggota komite pembangunan mengatakan kepada saya bahwa rumah-rumah di sana bagaikan vila di Taiwan, sungguh indah. Saat mempraktikkan Jalan Bodhisattva, kita baru dapat memahami penderitaan semua makhluk. Dengan memahami penderitaan semua makhluk, barulah kita rela terjun langsung untuk memberi pendampingan dan penghiburan. Dengan begitu, kita dapat membangkitkan tekad untuk memperluas dan memperpanjang cinta kasih. Inilah cinta kasih yang berkesadaran
Berhubung telah menyadari penderitaan semua makhluk, maka kita rela untuk membantu mereka yang menderita dan terkena bencana. Kita juga membimbing mereka untuk keluar dari penderitaan. Kita berharap kehidupan mereka berubah, bebas dari penderitaan, dan penuh kebahagiaan. Untuk itu, dibutuhkan ketulusan dan kesabaran. Inilah yang disebut mengembangkan benih yang sebenarnya. Kita harus membangkitkan hati yang tulus, menumbuhkan akar kebajikan kita, dan terjun ke tengah masyarakat
Jika kita tidak dapat menyadari bahwa kita dan semua makhluk pada dasarnya setara, maka kita tidak akan memiliki empati. Dengan demikian, mana mungkin kita memiliki kesabaran? Memangnya apa hubungan mereka dengan kita? Kita pergi ke negara orang, harus penuh hormat saat memohon bantuan, saat meminta pekerja mengikuti standar kita, saat meminta penyedia bahan bangunan meningkatkan kualitas, atau saat meminta pemerintah menyediakan listrik, air, dan jalan. Untuk apa? Kita tidak ada hubungan dengan mereka. Kita datang dari Taiwan ke sana, bersikap penuh hormat dan rendah hati, serta memberi pendampingan dengan sabar, bukan demi apa-apa, hanya karena cinta kasih yang tulus. Kita memahami penderitaan mereka. Inilah yang disebut adaptasi setara terhadap semua makhluk
Di mana pun terjadi bencana di dunia, kita harus terjun ke daerah bencana untuk memberi pertolongan. Ini karena kita menghormati semua makhluk yang memiliki hakikat setara dengan kita dan Buddha. Inilah yang disebut dedikasi adaptasi setara terhadap semua makhluk. Setara berarti tidak membedakan
Inilah empati, merasa senasib sepenanggungan. Kita bukan hanya mementingkan pencapaian pribadi, melainkan harus peduli terhadap semua makhluk. Saudara sekalian, tiada cara lain dalam mempelajari ajaran Buddha selain memperluas dedikasi dari kecil ke besar. Kita harus menghormati kesadaran awal kita dan berpegang pada kesadaran akar kita
Jangan terjerumus atau terpengaruh oleh kegelapan batin semua makhluk. Meski begitu, terhadap makhluk yang menderita, kita harus berusaha menolong. Kita harus membimbing mereka. Inilah adaptasi setara terhadap semua makhluk yang sesungguhnya. Saudara sekalian, setelah mendengar Dharma, kita harus merenungkannya
Setelah itu, kita harus mempraktikkannya. Ini yang disebut mendengar, merenungkan, dan mempraktikkan. Jadi, harap semua lebih bersungguh hati. Jangan biarkan akar kebajikan semua makhluk menjadi rusak. Harap semua selalu bersungguh hati.