Sanubari Teduh – 169 – Enam Praktek 10 Dedikasi Bagian 8
Saudara se-Dharma sekalian, kita sering berkata bahwa jika hati suci, tanah pun menjadi suci. Pikiran adalah pelopor segala sesuatu. Kondisi sekitar kita, apakah suci dan murni? Sangat murni. Ini karena batin kita juga murni. Pikiran adalah pelopor segalanya. Karena itu, belakangan ini kita terus mendalami tentang pikiran
Pikiran awam, pikiran semua makhluk, dan pikiran Buddha pada dasarnya tidak berbeda. Akan tetapi, sebagai makhluk awam, pikiran kita telah tercemar oleh ketamakan, kebencian, kebodohan, kesombongan, dan keraguan. Lima aspek ini terus muncul hingga saat ini dan membuat pikiran kita kacau, keluarga kacau, masyarakat kacau, dan dunia pun kacau. Semua ini dimulai dari pikiran. Jadi, dalam sepuluh dedikasi, yang kedelapan adalah tentang menyatu dengan Dharma. Artinya, kita harus meninggalkan semua konsep atau ciri
Ciri apa? Kebanyakan orang melekat pada konsep individu, keakuan, pribadi, dan makhluk hidup. Dalam interaksi antarmanusia, mereka saling membedakan. Ada yang disukai, ada yang dibenci. Yang disukai terus dikejar dengan menghalalkan segala cara. Terhadap orang yang disukai, kita akan memberi segalanya dan menuruti segala kemauannya, karena kita menyukai orang itu. Terhadap yang tidak kita sukai, kita sebal, kita dendam, dan kita benci, melihatnya saja kita tidak suka. Segala ucapannya terdengar tidak menyenangkan. Saat orang itu berhasil, kita semakin tidak senang, padahal dia tidak ada masalah dengan kita
Hanya karena jalinan jodoh yang kurang baik, menyebabkan batin kita dipenuhi kebencian terhadap orang itu. Kebencian ini mungkin terwujud keluar dalam bentuk penolakan, perselisihan, dll. Bukankah semua ini berawal dari pikiran? Jadi, Buddha mengajarkan kepada kita untuk meninggalkan ciri dan konsep. Kita harus meninggalkan keakuan, ciri makhluk hidup dan individu. Kita tidak boleh membedakan. Sesungguhnya, semua makhluk tak berbeda dengan Buddha. Kita sering mengatakan bahwa semua makhluk memiliki hakikat kebuddhaan. Jadi, kita harus menghormati semua kehidupan, tidak hanya manusia. Kita harus menghormati semua makhluk
Begitulah kita harus melepaskan dualitas suka dan benci. Kita tidak boleh melekat pada yang disuka atau dibenci. Ini yang disebut menyatu dengan segala Dharma. Berbagai Dharma yang dibabarkan, semuanya merujuk pada cinta kasih yang besar. Jadi, kita harus bisa mengasihi semua makhluk dan menghormati semuanya. Dengan demikian, berarti kita “menyatu dengan segala Dharma, meninggalkan segala ciri atau konsep”. “Kondisi muncul tanpa inti, tubuh menyatu dengan kedemikianan.” Sesungguhnya, baik sesuatu yang kita sukai maupun yang kita benci, apakah inti yang ada di dalamnya? Sesungguhnya, tidak ada apa-apa
Semua muncul karena adanya perpaduan kondisi. Kondisi atau jodoh ini sesungguhnya tidak memiliki inti. Jika Anda tidak pernah bertemu dengannya, apakah di dalam hati Anda ada rasa suka? Saat belum bertemu dengannya, saat Anda belum mengenalnya dan dia belum mengenal Anda, saat masih berjauhan, adakah kondisi yang membuat risau? Sesungguhnya, kondisi ini tidak berinti. Ia tidak panjang, tidak pendek, bukan persegi, juga bukan lingkaran. Ia bukan sesuatu yang bergerak, juga bukan tidak bergerak. Semuanya bukan. Hanya saja pikiran kita yang membedakan. Timbul kemelekatan dalam batin kita, sehingga ingin selalu bersama orang itu
Ini terhadap orang yang disuka. Terhadap orang yang dibenci, kita berusaha untuk jauh darinya. Saat melihat sesuatu yang disuka, timbullah kemelekatan sehingga ingin memiliki. Terhadap sesuatu yang tidak disukai, kita ingin selalu menjauh. Apakah sesuatu itu sengaja menarik kita? Tidak, pikiran kitalah sumbernya. Karena timbul rasa suka terhadap hal itu, kita mulai mengejarnya, bukan ia yang datang kepada kita. Jadi, sesungguhnya apa yang ada? Karena itu, dikatakan bahwa kondisi muncul tanpa inti. Semuanya ini tidak memiliki inti. Sesuatu itu, orang itu, sesungguhnya tidak memiliki kaitan dengan kita
Kondisi atau jodoh ini hanyalah kekuatan penarik. Selanjutnya dikatakan, “Tubuh menyatu dengan kedemikianan.” Kita harus menghargai tubuh ini. Sebagai manusia, selama memiliki wujud, kita pasti memiliki hakikat. Hakikat sejati ini disebut kedemikianan. Karena itu, dibahas mengenai dedikasi ciri kedemikianan. Kita harus melakukan dedikasi seperti ini
Sebelumnya kita pernah membahas tentang tanah Buddha. Kita membahas dunia Buddha dan tanah para Buddha. Jika batin kita murni, maka seluruh dunia akan terlihat jernih. Segala kondisi akan terlihat murni. Saat membahas tentang tanah Buddha, dikatakan bahwa kita harus memandang setara semua makhluk. Inilah tanah Buddha. Jika kita dapat memahami bahwa semua makhluk memiliki akar kebajikan, maka janganlah membenci seorang pun. Kita harus mengingatkan diri bahwa semua orang memiliki akar kebajikan dan pada dasarnya bersifat baik, maka kita harus tetap menghormati mereka
Kita harus mengubah benci menjadi cinta kasih. Ini jugalah yang disebut memperluas dedikasi dari kecil ke besar. Dahulu kita mungkin selalu memikirkan diri sendiri. Kita memikirkan yang kita suka dan tidak. Kini, setelah melapangkan hati, kita bisa mengasihi semua orang. Cinta kasih tanpa noda inilah yang disebut dedikasi. Kita harus melakukan dedikasi sesuai dengan ciri kedemikianan. Kita harus penuh rasa hormat
Kedemikianan berarti kemurnian yang tidak ternoda. dari kecil ke besar. Kita juga harus melenyapkan noda dalam batin kita dan kembali pada kemurnian. Inilah yang disebut dedikasi ciri kedemikianan. Sepuluh dedikasi tidak lepas dari kebenaran atau kedemikianan. Kedemikianan adalah hakikat sejati kita, begitu hening, jernih, dan murni. Kita harus bersungguh hati untuk memahami kebenaran. Di balik berbagai wujud dan fenomena, kedemikianan ini tetap ada meski fenomena itu senantiasa berubah
Kini kita ingin menggali perubahan fenomena itu dan menemukan kembali hakikat sejati di dalamnya. Jadi, dalam melatih diri, kita harus mencari kembali hakikat sejati yang pada dasarnya kita miliki. Setiap orang telah kehilangan hakikat dirinya. Karena kehilangan hakikat diri, kita terjerumus ke dalam banyak kerisauan yang mengganggu diri sendiri, keluarga, masyarakat, bahkan dunia. Jadi, untuk kembali pada kedemikianan, kita harus meninggalkan kekeliruan. Inilah yang disebut “benar”. Jika kita dapat meninggalkan pikiran keliru, maka kita disebut “benar”
Tiada perbedaan disebut “kedemikianan”. Tanpa membedakan, semua akan dilihat sebagaimana adanya. Asalkan Anda tidak terpengaruh kondisi luar yang mencemari dan menjerumuskan, maka sesungguhnya kita semua sama, sama dengan Buddha, begitu murni dan benar. Ini karena kita tidak punya pikiran keliru. Kita tidak tersesat. Kondisi tidak tersesat dan tidak keliru inilah yang disebut hakikat sejati. Jadi, kita tiada perbedaan dengan Buddha. Pada dasarnya kita semua sama. Inilah yang disebut kedemikianan, demikian adanya sejak awal. Dikatakan, “Segala Dharma memiliki hakikat kedemikianan
” Segala Dharma memiliki hakikat yang sama, yakni kedemikianan. Jadi, wujud bukanlah segalanya. Wujud manusia merupakan perpaduan empat unsur. Sesungguhnya, segala sesuatu adalah perpaduan empat unsur. Jika keempat unsur ini diuraikan, maka tidak akan ada apa-apa lagi. Baik manusia maupun segala sesuatu, memiliki hakikat dasar yang sangat murni. Jadi, hakikat ini pada dasarnya murni. Karena itu, dikatakan, “Menyatu dengan segala Dharma, meninggalkan segala ciri atau konsep.” Menyatu dengan segala Dharma artinya kita harus semakin dekat dengan Dharma. Dharma yang dibabarkan Buddha pada hakikatnya sangat murni bagaikan air. Sifat air pada dasarnya murni
Berhubung sifatnya yang murni ini, segala sesuatu di dunia bergantung padanya. Akan tetapi, jika air tercemar, ia juga bisa mengotori tubuh kita. Jadi, dalam kehidupan sehari-hari kita, dalam segala aktivitas kita, jika cara yang kita gunakan dalam menghadapi orang dan masalah adalah positif, maka ia akan menampilkan hakikat murni. Jika sebaliknya, maka dapat mengacaukan masyarakat. Ini berarti kita menggunakan cara yang salah. Dalam hubungan antarmanusia, kita harus dapat mengenal Dharma dan hakikat sejati. Jika kita semua memahami Dharma dan menyadari kebenaran ini, maka perbedaan apa lagi yang diperdebatkan? Apa yang layak diremehkan? Apa yang pantas dikejar? Sesungguhnya, tidak ada
Jadi, kita harus tahu bahwa kita perlu mendekat pada kebenaran. Yang dimaksud kebenaran adalah hakikat sejati kita yang murni. Jadi, kebenaran sama dengan kedemikianan. Kedemikianan ini adalah hakikat semua makhluk. Jadi, kita harus menyatu dengan segala Dharma dan meninggalkan ciri atau konsep. Kita tidak boleh membedakan kaya miskin, tinggi rendah. Jika memiliki cinta kasih, kita tidak akan membedakan status sosial. Jadi, dikatakan bahwa “menyatu” dan “meninggalkan” sesungguhnya adalah satu. Apakah Anda menyatu dengan Dharma atau malah meninggalkan Dharma dan menyatu dengan keduniawian? Kebenaran adalah kesadaran
Setiap orang pada dasarnya memiliki kesadaran akar yang murni. Akan tetapi, kita telah berpaling dari kesadaran ini menuju kegelapan batin. Kita meninggalkan kesadaran menuju keduniawian. Kita menyatu dengan dunia yang penuh noda. Karena itu, kita pun ternoda. Kini kita harus segera berpaling dari keduniawian dan menyatu dengan kesadaran. Kita harus segera melakukannya
Berpaling berarti meninggalkan. Kita harus meninggalkan noda batin, yakni pemikiran dan cara yang salah. Kita harus kembali pada kebenaran, yakni hakikat kesadaran yang murni. Untuk itu, kita hanya perlu mengingat satu hal, yakni “menyatu dan meninggalkan”. Apakah kita mengarah pada yang benar ataukah yang salah? Metode pun ada metode yang salah, sedangkan yang benar disebut kebenaran, kebenaran dari kedemikianan. Jadi, intinya ada pada “menyatu dan meninggalkan”. Sesungguhnya, keduanya tiada perbedaan
Kita mungkin mengarah pada kesalahan. Sesungguhnya, kita sering membahas bahwa kegelapan batin memunculkan tiga aspek halus. Setiap orang memiliki hakikat kesadaran murni, hanya saja terpengaruh oleh kegelapan batin, Dalam air bisa timbul gelembung. Kita menyebutnya gelembung. Sesungguhnya, gelembung ini juga berasal dari air. Jadi, baik ombak, riak, maupun gelembung, semua hanya dibedakan oleh kekuatan dorongan yang terjadi di air. Energi air sangat besar dan terwujud sesuai kondisi yang ada. Contohnya, tsunami di Asia Selatan juga disebabkan oleh air. Mengapa bisa ada gelombang yang begitu besar? Karena di dasar laut tercipta patahan akibat gempa bumi
Air terlebih dahulu masuk ke dalam patahan itu, lalu menyembur saat patahan merapat kembali. Sumbernya sama-sama air. Akan tetapi, gempa menyebabkan gelombang air yang besar hingga terjadi tsunami. Ini disebut kondisi pendukung. Tanah pada awalnya tidak bergerak. Jadi, awalnya semua sangat tenang. Air juga sangat tenang
Akan tetapi, alam juga dipengaruhi empat unsur. Saat salah satu unsur tidak selaras, maka terjadilah gempa dan terbentuklah patahan. Air pun masuk ke dalam patahan itu. Saat patahan itu merapat, air pun menyembur. Demikianlah, beberapa kondisi ini mengakibatkan bencana. Gelombang air yang besar dapat membawa bencana yang begitu hebat. Intinya, pada dasarnya tiada kebenaran yang mendua, tiada perbedaan. Sifat dasar air hanya satu, tidak berbeda-beda. Demikian pula, metode buruk dan metode baik sama-sama metode
Hanya saja kita perlu tahu mana yang benar dan mana yang salah. Semuanya berawal dari pikiran. Karena itu, dikatakan bahwa saat batin suci, tanah pun menjadi suci. Jika batin kita tercemar sedikit saja, maka sebersih apa pun suatu tempat, kita tidak akan menyukainya. semua berawal dari pikiran. Jadi, janganlah melekat pada salah satu sisi. Kita tidak boleh mengatakan, “Saya sudah sadar, sedangkan kamu masih gelap batin
” Sesungguhnya, keduanya bagai dua sisi mata uang. Semua bergantung pada bagaimana kita menggunakan kesadaran ini dan melenyapkan kegelapan batin. Keduanya adalah satu kesatuan, bagaikan tangan kita. Saat seperti ini, yang terlihat adalah telapak, saat seperti ini adalah punggung tangan. Namun, keduanya adalah satu kesatuan. Jika telapak kedua tangan disatukan, kita menyebutnya “sikap anjali”. Prinsipnya sama. Telapak yang satu dan yang lain sama-sama telapak tangan
Hanya saja, keduanya tampak terpisah. Jika disatukan, juga akan menjadi satu kesatuan. Jadi, kita sungguh harus memahami bahwa setiap orang memiliki hakikat kesadaran yang sama dengan kedemikianan
Kedemikianan ini adalah kebenaran yang tidak ternoda. Keadaan ini sangat indah, sangat hening dan jernih. Dengan batin seperti ini, kita dapat memiliki tekad luhur. Kondisi batin seperti ini sangatlah indah. Namun, semua ini bergantung pada pikiran kita. Karena itu, harap semua selalu bersungguh hati.