Sanubari Teduh – 170 – Enam Praktek 10 Dedikasi Bagian 9
Saudara se-Dharma sekalian, dalam kondisi yang tenang ini, keadaan sekitar kita terasa amat hening dan jernih. Pagi hari, saat orang-orang masih terlelap, para praktisi sudah berlomba dengan waktu dan menggenggam setiap detik. Di pagi hari, kita terlebih dahulu membangkitkan ketulusan. Terlebih lagi, jika batin tidak tercemar, maka batin akan senantiasa berdiam dalam kondisi tanpa rintangan, Inilah proses dalam mempelajari ajaran Buddha
Dalam mempelajari ajaran Buddha, mengendalikan pikiran sangat penting. Jika penuh kemelekatan, maka kita akan selalu risau. Bagaimana agar bebas dari kerisauan? Kita harus bebas dari kekeliruan. Jika kita dapat terbebas dari kekeliruan, maka batin kita akan bebas dari kerisauan dan segala belenggu. Jadi, dalam sepuluh dedikasi kita selalu membahas bahwa makhluk awam selalu merisaukan dan melekat pada berbagai hal serta sangat perhitungan
Kondisi batin penuh kegelapan dan noda batin itu harus kita ubah menjadi “besar”. “Besar” di sini berarti sadar. Ini yang disebut mengubah dari kecil ke besar, dari gelap batin menjadi sadar. Jika kita bisa sadar, maka apa lagi yang perlu diperhitungkan di dunia? Meski tiada yang perlu diperhitungkan, kita harus meyakini hukum karma
Sebagaimana benih yang ditanam, demikianlah buah yang akan dituai. Hukum sebab akibat selalu menjadi titik berat dalam agama apa pun. Jadi, kita tidak boleh mengabaikan hukum karma. Jika dikatakan semua adalah kosong, untuk apa kita masih melatih diri? Sungguh, mempelajari ajaran Buddha haruslah membangkitkan Hakikat sejati yang kita semua miliki. Jadi, saat membahas sepuluh dedikasi, saya tak bosan-bosannya menjelaskan bahwa kebenaran tidak lepas dari kehidupan sehari-hari. Itu adalah sebuah kondisi batin
Kita telah membahas yang kesembilan dari sepuluh dedikasi. Mengenai penggalan ini, sebelumnya saya sudah pernah menjelaskan. Batin kita harus bebas dari belenggu. Jangan sampai batin kita terbelenggu, jangan pula melekat pada kondisi yang muncul. Kemelekatan juga membawa penderitaan. Salah satunya, melekat pada pandangan sendiri, selalu merasa pandangan sendiri paling benar dan orang lain salah; merasa yang diri sendiri lakukan paling benar, orang lain tidak benar. Jika selalu menganggap diri benar dan orang lain salah, kita tidak dapat terjun ke tengah masyarakat Dan tak dapat hidup harmonis di masyarakat. Jadi, jangan terbelenggu oleh kondisi luar
Jangan melekat pada hal-hal duniawi. Jagalah indra kita. Indra yang dimaksud adalah enam indra, yakni mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran. Enam indra ini ada pada setiap manusia. Enam indra ini bersentuhan dengan enam objek. Objek adalah lingkungan sekitar kita. Di lingkungan mana pun kita berada, selama kita tidak terbelenggu, maka batin kita akan tetap bebas
Semua tempat akan menjadi tempat yang baik dan setiap orang akan dapat kita hormati. Jadi, terhadap orang lain jangan perhitungan, Terhadap lingkungan janganlah membedakan nyaman atau tidak. Dari para insan Tzu Chi kita dapat melihat keteladanan batin yang bebas dari pengaruh kondisi luar. Suatu ketika, tiga rumah sakit kita mengadakan kegiatan dalam satu hari yang sama. Di Dalin, para dokter, kepala RS, dan para kepala departemen mengajak anggota keluarga mereka untuk bersama-sama melakukan daur ulang bersama para staf. Kondisi saat itu sangat indah. Biasanya, keadaan di rumah sakit sangat ramai, sedangkan di rumah sangat nyaman, Kini mereka malah berada di tengah tumpukan sampah untuk melakukan daur ulang. Demikianlah mereka beradaptasi dengan kondisi
Demi melindungi bumi, mereka sadar pentingnya pelestarian lingkungan. Para tenaga medis kita di Hualien, Guanshan, dan Yuli, biasa menjangkau warga tidak mampu. Biasanya, dalam merawat pasien, jika ada pasien yang tak dapat pergi berobat, maka para dokterlah yang mengunjungi rumahnya. Selain mengadakan pengobatan keliling, para dokter juga membimbing batin pasien agar pasien dapat hidup dengan lebih baik. Saat melihat rumah pasien sangat kotor, kepala RS, wakil kepala RS, kepala departemen, para dokter, perawat, beserta para anggota komite kita juga membersihkan rumah itu
Kondisinya sangat kotor, bobrok, dan beraroma tidak sedap. Ada pula yang membantu pasien mandi dan mengajarkan pola hidup yang benar. Ini juga membuat orang tersentuh. Dua hari istirahat di akhir minggu mereka jadikan hari untuk melatih diri. Saat para tenaga medis ini menjalani pelatihan, mereka melakukan yang sama dengan komite, yakni mengunjungi warga kurang mampu, melakukan pengobatan keliling, membersihkan rumah pasien, dan membantu pasien mandi. Terjun ke dalam kondisi seperti itu, mereka tetap bersukacita
Inilah yang disebut terbebas dari belenggu indra dan objek. Ketika ditanya bagaimana rasanya, mereka menjawab bahwa mereka sangat gembira. Mereka masih ingin berpartisipasi kembali. Dengan semangat cinta kasih, maka tiada yang dilekati. Saya juga mendengar laporan dari RS Tzu Chi Xindian. Pada hari itu para staf juga digerakkan
Dokter, perawat, terapis, fisioterapis, beserta para Tzu Cheng dan anggota komite yang berjumlah belasan orang mengunjungi sebuah keluarga. Di keluarga ini ada orang tua yang sakit, dan yang merawatnya juga sudah tua. Suami istri dalam keluarga itu sudah tua. Meski menderita sakit, dia tidak bisa pergi berobat. Terlebih lagi, dia menderita trakeostomi. Memindahkan tubuhnya saja sudah sulit, apalagi harus menjalani fisioterapi. Jadi, dokter, terapis, fisioterapis, para sukarelawan, yang berjumlah belasan berkunjung ke rumah mereka untuk memberi perhatian kepada suami istri ini
Selain membantu mereka melakukan fisioterapi, kita juga membersihkan rumah mereka. Lihatlah, inilah yang disebut bebas dari belenggu indra dan objek. Ini yang disebut dedikasi pembebasan tanpa belenggu dan kemelekatan. Ini adalah kondisi batin yang harus dicapai dalam melatih diri. Jadi, sesungguhnya ini tidak sulit, sebaliknya begitu sederhana. Untuk itu, dibutuhkan pengembangan cinta kasih. Ada pula kisah dalam Sutra Buddha
Suatu ketika, Buddha berada di Taman Anathapindada bersama para petapa dan anggota Sangha. Beliau membabarkan tentang ketulusan cinta kasih. Dikisahkan pada masa lampau, ada seorang raja di sebuah kerajaan. Beliau sangat murah hati. Beliau memimpin kerajaan dengan cinta kasih. Di kerajaannya, tiada hukuman apa pun. Rakyat sepenuhnya dibimbing untuk murah hati, adil, bersopan santun, dan bijaksana. Mereka diajarkan cara bersikap terhadap orang tua, anak, orang banyak, masyarakat, dan lainnya, serta cara berbakti dan bertata krama
Demikianlah sang raja mengatur negara. Suatu hari, sang raja berkeliling di kota. Beliau melihat semua keluarga sangat bahagia. Terlebih lagi, rakyatnya sangat makmur. Beliau sangat gembira. Selain itu, tanaman pangan juga tumbuh subur. Tiba-tiba ada seseorang yang menghampiri sang raja dengan sikap merasa malu dan bersalah
Dia membungkuk di hadapan raja, lalu berkata, “Yang Mulia, saya adalah orang berdosa.” Raja lalu bertanya, “Kesalahan apa yang kamu lakukan?” Dia menjawab, “Saya pernah mencuri.” “Saya pernah mengambil milik orang lain.” “Mengapa kamu melakukan itu?” Dia menjawab, “Karena saya lapar.” “Saya miskin, maka terpaksa mencuri.” Saat itu raja kembali bertanya, “Kamu pernah mencuri, tetapi perkara ini sudah berlalu, mengapa kamu mengungkitnya di depan saya?” Dia menjawab, “Meski perkaranya sudah belalu, saya tidak ditangkap, dan tidak diketahui orang, tetapi hal ini bagai belenggu di hati saya.” “Karena itu, saya tidak bahagia.” “Kebetulan hari ini saya bertemu Yang Mulia, maka saya merasa harus berterus terang atas apa yang pernah saya lakukan
” Setelah mendengarnya, raja juga merasa malu dan menyesal. Beliau berkata, “Kamu sesungguhnya seorang yang tulus dan jujur.” “Batinmu begitu murni dan tulus, hanya saja kamu terdesak oleh kemiskinan.” “Ini adalah salahku.” Beliau lalu berkata, “Rasa lapar rakyat adalah rasa laparku; rasa dingin rakyat sama dengan telanjangnya diriku.” Artinya, jika ada rakyatnya yang kelaparan, itu sama seperti beliau sendiri yang lapar; jika ada rakyat yang kedinginan, itu sama seperti beliau tidak berpakaian. “Sejujurnya, aku sangat malu.” “Aku akan berikrar kembali untuk membuat negeriku bebas dari kemiskinan dan bertambah makmur
” “Semoga tiada orang miskin di negeriku.” Jadi, beliau berkata, “Penderitaan dan kebahagiaan rakyat bergantung padaku.” “Membuat rakyat bahagia ataukah membiarkan mereka dalam kemiskinan, semua itu adalah tangung jawabku.” semua itu adalah tanggung jawabku.” “Aku bertanggung jawab untuk membuat mereka tidak menderita.” “Apakah semua dapat hidup sejahtera dan bahagia, semuanya bergantung padaku
” “Jadi, aku masih memiliki kekurangan, yakni tidak tahu bahwa di negeriku masih ada orang yang miskin dan kelaparan.” Karena itu, sang raja kembali berikrar untuk membuat negerinya bebas dari kemiskinan. Jadi, beliau melimpahkan semua tanggung jawab kepada dirinya sendiri. Beliau pun segera melihat-lihat apakah di negerinya masih ada orang yang menderita di penjara atau seperti orang tadi, begitu lurus dan tulus, tetapi batinnya merasa terpenjara akibat pernah berbuat kesalahan. Sang raja mengumumkan perintah pembebasan bagi orang-orang yang benar-benar dipenjara ataupun yang batinnya terpenjara. Baik yang batinnya terpenjara maupun yang benar-benar dipenjara, semua hendak dibebaskan
Kemudian, beliau membuka gudang kerajaan untuk berdana bagi orang-orang miskin itu agar mereka bebas dari kesulitan. Bagi yang kelaparan dan kedinginan diberi makanan. Bagi yang tak memiliki pakaian atau menderita sakit, diberikan pengobatan. Inilah ajaran Buddha. Ini adalah cerita di zaman Buddha. Kini cerita ini dibabarkan sebagai bahan pendidikan bagi kita semua. Ajaran Buddha tak lepas dari kehidupan sehari0hari
Dalam interaksi antarmanusia hendaknya ada cinta kasih yang tulus. Jika pemimpin dapat berlaku demikian, maka rakyat tidak akan kekurangan. Dharma bukan hanya diucapkan, melainkan harus dipraktikkan agar dapat benar-benar dipahami. Dengan demikian, barulah kita dapat merasakan sukacita dalam Dharma. Hidup di dunia ini, manusia tak luput dari masalah duniawi. Masalah duniawi sangatlah rumit
Jika batin kita dapat melampaui hal ini dan tidak terbelenggu oleh kondisi luar, memiliki cinta kasih yang tulus dan bijaksana, maka di dalam kondisi apa pun, kita akan selalu damai tanpa beban. Inilah dunia Bodhisattva. Inilah tanah suci Buddha. Jadi, sebagai praktisi Buddhis, kita harus senantiasa bersungguh hati.