Sanubari Teduh – 172 – Enam Praktek 10 Bhumi Bagian 1
Saudara se-Dharma sekalian, dalam melatih diri tentu harus bersemangat. Kita harus mulai bertekad untuk melatih diri sendiri dan maju selangkah demi selangkah. Batin kita harus terbuka lapang. Dalam melatih diri, kita harus memiliki tujuan demi semua makhluk. Dengan adanya makhluk yang menderita, kita mengingatkan diri akan ketidakkekalan hidup. Dengan demikian, cinta kasih kita akan terbangkitkan dan kita dapat terus melangkah maju
Inilah cara memperluas dedikasi dari kecil ke besar. Dengan mewujudkan ini, pelatihan batin kita akan semakin maju. Sebelumnya, saat membahas sepuluh keyakinan, sepuluh kediaman, sepuluh praktik, dan sepuluh dedikasi, kita sudah memahami bahwa mempelajari ajaran Buddha harus dimulai dari keyakinan. Keyakinan adalah ibu dari segala pahala. Jadi, kita harus mulai dari membangun keyakinan
Setelah membangun keyakinan, kita harus mempertahankannya. Untuk itu, ada berbagai cara. Setelah memantapkan hati, kita harus mulai bergerak. Kita harus melangkah maju, jangan hanya berjalan di tempat. Jika kita dapat terus maju dengan semangat, maka batin kita akan lapang tanpa batas. Kita akan dapat melihat dan memahami segala hal dan segala kondisi. Buddha membimbing kita sedikit demi sedikit. Setelah memahami ajaran Buddha, kita bertekad untuk membawa manfaat bagi diri sendiri dan juga bagi orang lain
Kondisi batin Buddha sangatlah murni tanpa noda, juga merupakan keheningan yang abadi. Kita semua juga dapat mencapai kondisi itu. Kita juga dapat membimbing orang lain mencapai kondisi itu. Ini karena kita mau mempelajari ajaran Buddha. Buddha terus-menerus datang ke Dunia Saha ini tak lain untuk menyelamatkan semua makhluk. Semua makhluk mengalami penderitaan di dunia. Kita berharap dapat mengubah dunia yang keruh ini menjadi tanah suci
Dunia yang keruh adalah kondisi batin makhluk awam. Jadi, Buddha membimbing kita dengan harapan semua orang dapat memahami bahwa dunia keruh ini tidak kekal dan penuh kejahatan. Jadi, kita harus mengubah dunia keruh ini Jika kita dapat memahami ajaran ini, maka kita akan memiliki tanah suci di dalam batin. suatu kondisi yang bahagia dan penuh sukacita. Jadi, kita harus memperluas dedikasi dari kecil ke besar. Dedikasi ini juga berarti kembali pada keindahan batin kita. Semua makhluk memiliki hakikat sejati yang murni tanpa noda seperti Buddha. Kita pada dasarnya sama dengan Buddha
Semua makhluk pun pada dasarnya sama dengan kita. Jadi, dalam pembahasan sepuluh dedikasi, dibabarkan tentang kondisi batin yang murni tanpa noda. Apakah yang disebut kondisi batin yang murni? Kini kita akan mulai membahas tentang Sepuluh Bhumi. Kita harus lebih memahami Sepuluh Bhumi ini. Sepuluh Bhumi Bodhisattva adalah, pertama, Bhumi Sukacita; kedua, Bhumi Bebas Kotoran; ketiga, Bhumi Cahaya Cemerlang; keempat, Bhumi Kebijaksanaan Membara; kelima, Bhumi Tak Terkalahkan; keenam, Bhumi Manifestasi; ketujuh, Bhumi Jangkauan Jauh; kedelapan, Bhumi Tak Tergoyahkan; kesembilan; Bhumi Kebijaksanaan Bajik; kesepuluh, Bhumi Awan Dharma. Inilah sepuluh Bhumi dalam pelatihan batin kita. Kini kita harus menapak dengan mantap dan menyelami batin kita sendiri
Kita dapat mencapai kondisi batin yang tanpa noda dengan melewati pelatihan diri. Jika kita melatih diri, barulah dapat kembali pada batin tanpa noda ini. Pada dasarnya, semua orang memiliki hal ini. Batin kita pada hakikatnya tidak ternoda. Hanya saja, makhluk awam tercemar oleh noda batin
Karena itu, kita harus melatih diri mulai dari praktik keyakinan, praktik kediaman, hingga praktik dedikasi, agar dapat kembali pada keindahan batin kita. Jadi, harap kita semua bersungguh hati untuk terus maju selangkah demi selangkah hingga memasuki keindahan batin kita. Pembabaran Sepuluh Bhumi diambil dari Surangama Sutra. Ini memberi tahu kita bahwa Bukankah ini sangat sederhana? Benar, begitu sederhana dan gamblang. Ajaran Buddha memang harus gamblang seperti itu agar kita dapat memahaminya. Akan tetapi, begitu banyak istilah. Sesungguhnya, seperti apakah kondisi sukacita? Kini kita akan mendalami Bhumi Sukacita. Kita harus terlebih dahulu memahami ini
Bhumi atau tanah berkaitan dengan ladang batin kita. Batin kita harus penuh sukacita. Seharusnya kalian juga memahami ini. Ini menunjukkan bahwa kebijaksanaan Bodhisattva sesungguhnya setara dengan Buddha. Kita sering membahas hal ini. Saat saya bertanya, Buddha, Bodhisattva, dan kita makhluk awam, di mana letak perbedaannya, kalian dengan cepat menjawab tidak ada
Karena saya sering mengatakannya, maka kita semua sering mendengarnya. Setelah mendengar, adakah kita merenungkannya? Setelah merenungkan, apakah timbul pertanyaan dalam hati kita? Jika tidak ada pertanyaan atau keraguan, apakah kita mempraktikkannya? Inilah mendengar, merenungkan, dan mempraktikkan. Setelah mendengar, kita harus sungguh-sungguh merenungkan sesungguhnya, Buddha, Bodhisattva, dan kita, di mana letak perbedaannya. Sesungguhnya, dari segi hati tiada perbedaan, karena hati kita pun pada dasarnya murni. Inilah hakikat kebuddhaan. Hakikat kebuddhaan adalah kebijaksanaan tanpa noda. Intinya, istilahnya saja yang berbeda, yakni keruh dan suci. Keruh artinya sudah tercemar, tetapi pada dasarnya ia tidak berbeda dari yang suci. Hanya penggunaannya saja yang berbeda. Hakikatnya sesungguhnya adalah sama
Hanya saja, karena penggunaannya salah, ‘ maka dibedakanlah dengan berbagai istilah. Karena itu, dikatakan bahwa Bodhisattva memiliki kebijaksanaan yang sama dengan Buddha. Sesungguhnya, Bodhisattva dan Buddha pada hakikatnya adalah sama. Semua makhluk saja pada dasarnya sama dengan Buddha, apalagi Bodhisattva. Bodhisattva yang kita bahas di sini adalah Bodhisattva yang sudah berikrar. Pada tahap ini, kita sudah mulai sadar dan mulai bertekad. Kita sudah bertekad dan berikrar. Kita mendirikan ikrar agung untuk membimbing diri sendiri dan makhluk lain di tengah masyarakat. Bodhisattva seperti ini sesungguhnya sama dengan Buddha, memiliki kebijaksanaan yang sama dengan Buddha, juga pengetahuan yang sama dengan Buddha
Ajaran yang kita ucapkan dan kebenaran yang kita praktikkan seharusnya sama dengan kebenaran Buddha. Karena kita telah menerima ajaran Buddha, mendengarnya, dan merenungkannya, maka yang kita praktikkan menjadi sama dengan tujuan Buddha. Jadi, kebenaran yang kita pegang sama dengan kebenaran Buddha. Kebenaran adalah Dharma. Ajaran Buddha adalah kebenaran sejati, kebenaran yang sama dengan yang dipegang oleh Buddha. Jadi, jika kita semua memiliki kesadaran di dalam diri dan mengetahui dengan jelas posisi kita dan ke arah mana kita harus melangkah, maka kita hanya perlu berjalan maju selangkah demi selangkah. Saat mendengar ajaran Buddha, kita merasa bahwa itu adalah perkara lebih dari 2.000 tahun lalu. Akan tetapi, dahulu, Buddha juga membabarkan kebenaran dengan contoh-contoh masa lalu
Saat membabarkan Dharma lebih dari 2.000 tahun lalu, Buddha juga membabarkan tekad dan praktik para Buddha masa lampau. Ajaran itu terus diwariskan hingga saat ini. Sejak dibabarkan dari mulut Buddha, ajaran itu terus dilestarikan hingga saat ini. Meski sudah berselang lama, tetapi ajaran yang diwariskan tetap sama
Sama halnya dengan air yang jernih, jika tidak dikotori, maka miliaran tahun pun ia akan tetap jernih. Air itu akan tetap berkualitas sama sampai kapan pun. Hanya saja, air itu kini telah tercemar. Akan tetapi, sifat dasar air itu tetaplah murni. Saya teringat seorang komisaris kehormatan dari Taipei, Bapak Wang. Beliau khusus meminta seorang penjual mesin penyaring air untuk membawa sebuah mesin penyaring ke Griya Jing Si. Mulanya, diambil air yang sangat kotor dari kolam teratai kita. Teratai tumbuh di air yang berlumpur. Kita dapat melihat air itu sangat keruh. Kita lalu mengambil air keruh tersebut dan menaruhnya di sebuah ember, kemudian menyaringnya dengan mesin tersebut. Air di ember tadi terlihat kotor, tetapi setelah disaring oleh mesin tadi, hasil air yang keluar kembali sangat jernih
Ketika dimasukkan ke dalam botol, air itu terlihat seperti air mineral. Orang yang membawa mesin itu pun bersedia meminumnya. Melihatnya, Bapak Wang pun ikut minum. Air yang begitu kotor dan keruh, hanya dengan melewati proses penyaringan, sudah bisa langsung diminum. Ini membuktikan sifat dasar air yang tak berubah. Kualitas dasar air adalah jernih. Hanya saja, akibat pencemaran oleh lingkungan, air itu jadi terlihat keruh. Bukan hanya itu, bahkan di dalamnya terdapat banyak bakteri. Ini dari sisi ilmu pengetahuan zaman sekarang. Akan tetapi, dengan teknologi masa kini pula, air itu dapat dimurnikan kembali hingga seperti semula
Demikian pula dalam ajaran Buddha, Buddha membabarkan kebenaran yang tak berubah dalam banyak kalpa yang tak terhingga, yakni jangka waktu yang tak terhitung, entah jutaan, ratusan juta, atau miliaran tahun. Ini disebut masa tanpa awal. Kapan bumi ini terbentuk? Saat bumi ini terbentuk, saat gunung, sungai, dan air terbentuk, kondisinya tentu sangat murni. Hingga kini, ajaran Buddha juga masih sama. saat munculnya manusia, hingga saat ini, saat langit, bumi, dan manusia sudah ada, kebenaran ini tidak pernah berubah. Segala sesuatu memiliki hakikat yang sama. Jika kita dapat membangkitkan kebijaksanaan, maka kita akan dapat kembali pada hakikat ini
Inilah yang disebut memahami kebenaran yang sama dengan Buddha. Begitu batin kita dapat memahami ajaran kebenaran yang dibabarkan Buddha, maka kita akan segera kembali pada kondisi batin hakiki. Ini yang disebut melihat Jalan Agung. Dengan begitu, yang kita sadari dan pahami dengan kebijaksanaan kita adalah kebuddhaan. Kita akan memahami kebuddhaan dan memperoleh sukacita dalam Dharma. Sungguh, jika dalam kehidupan sehari-hari, saat berhadapan dengan orang dan masalah, kita tidak melanggar kebenaran, dan bertindak sesuai kebenaran, maka hati kita akan senantiasa penuh sukacita. Sebanyak apa pun kerisauan yang ada di dunia, sebanyak apa pun hal-hal yang tak sesuai harapan, selama batin kita dapat melihat Jalan Agung, kita akan menyatu dengan kebuddhaan. Saya sering mengatakan bahwa di antara tiga orang, kita pasti dapat menemukan guru. Siapa yang dapat mengajarkan yang terbaik dan membuat kita dapat mempraktikkan kebenaran, itulah guru terbaik. Kehidupan tidaklah kekal. Setelah menyadari ketidakkekalan, tidak akan ada lagi kemelekatan terhadap perasaan cinta dan benci
Ketika bebas dari semua ini, batin kita tidak akan terbelenggu kerisauan. Bukankah ini kondisi kebuddhaan? Kebuddhaan adalah kondisi yang cemerlang, hening, dan murni. Ini membuat batin kita selalu dipenuhi sukacita dalam Dharma. Dalam segala kondisi, kita akan tetap merasa bahagia. Contohnya, para relawan di RS Tzu Chi. Saya pernah bertanya kepada mereka, “Apakah yang terindah di dunia ini?” Senyuman pasien. Mengapa senyuman pasien? Karena kita telah berusaha maksimal untuk membuat pasien bebas dari penderitaan lahir dan batin. Kita harus berusaha membimbing pasien agar meski menderita secara fisik, tetap tidak menderita secara batin. Jika pasien dapat tersenyum, berarti cara yang kita gunakan sudah tepat
Ucapan yang kita keluarkan juga tepat. Karena itu, pasien dapat merasakannya dan dipenuhi sukacita. Dengan demikian, kita pun merasa gembira. Saat pasien bahagia, kita juga diliputi kebahagiaan dalam Dharma. Dengan mendengar ucapan kita atau melihat metode yang kita gunakan, pasien dapat memperoleh manfaat sehingga merasa bahagia. kita diliputi sukacita dalam Dharma. Berhubung cara yang digunakan berhasil, kita merasa bahagia. Batin kita akan dapat senantiasa dipenuhi sukacita
Sejak zaman Buddha hingga zaman para sesepuh Buddhis zaman dahulu, ajaran Buddha terus diwariskan dari generasi ke generasi karena kehidupan manusia sangat singkat. Saat kita menemukan ajaran Buddha, kita harus mulai merenungkannya. Setelah merenungkannya, kita harus menyebarkan semangat ini serta mempraktikkannya secara nyata. Akan tetapi, waktu kita sangat terbatas. Karena itu, kita harus mewariskan ajaran ini. Kini kita hidup di era yang penuh berkah. Ajaran yang Buddha babarkan sangat dalam. Setelah Buddha membabarkan Dharma, ajaran-Nya diwariskan oleh para sesepuh. Ajaran ini dilestarikan dalam bahasa klasik. Satu huruf saja dapat mengandung banyak makna. Banyak yang mungkin tidak kita pahami
Jadi, para sesepuh ini menguraikan ajaran sesuai pemahaman mereka dan membabarkannya bagi kita sehingga kita dapat memahami berbagai metode. Jadi, ajaran ini secara bertahap mulai dibabarkan dengan bahasa yang lebih sederhana. Kita sangat beruntung, di kemudian hari, di Tiongkok, tepatnya di Zhejiang, lahir seorang anak. Anak ini lambat laun tumbuh dewasa. Setelah melihat berbagai kondisi di dunia dan melihat berbagai fenomena ketidakkekalan, dia perlahan-lahan sadar dan memutuskan untuk melatih diri. Bhiksu muda ini lambat laun semakin memahami ajaran Buddha dan membabarkan ajaran yang dalam ini agar dapat dipahami lebih banyak orang. Beliau merangkum ajaran Buddha dan berbagai istilah Buddhis. Beliau adalah guru saya, guru pembimbing umat manusia, kakek guru kalian
Dari ajaran Mahabhiksu Tai Xu yang beliau dalami selama puluhan tahun, beliau menelurkan karya tulis yang dalam, tetapi mudah dipahami, yakni “Kompilasi Miao Yun”. “Kumpulan Karya Master Tai Xu” juga merupakan hasil suntingan beliau bersama para guru besar masa itu. Karena itu, ajaran Buddha berkembang pesat di Taiwan bagaikan sebuah pelita yang apinya senantiasa diteruskan sehingga dunia menjadi terang selamanya, karena jika api lilin ini terus diwariskan, cahayanya dapat menerangi orang yang dalam kegelapan untuk berjalan ke arah yang terang. Jadi, sedalam apakah kebenaran itu? Sesungguhnya, Master Yin Shun mengutarakan pandangannya bahwa ajaran Buddha tak lepas dari saat ini, tempat ini, dan orang ini. Seberapa luas atau seberapa banyak pun ajaran Buddha, kebenaran yang terkandung di dalamnya tidak lepas dari saat ini. Kebenaran itu ada di saat ini. Saat saya duduk dan berbicara di sini, ini juga mengandung kebenaran. Saat kalian duduk dan mendengarkan di sana, itu juga mengandung kebenaran. Inilah cara mewariskan ajaran. Inilah yang disebut prinsip
Singkat kata, baik itu bulat, segiempat, panjang, maupun pendek, prinsip kebenaran selalu ada. Baik zaman dahulu maupun sekarang, ajaran Buddha tidak pernah lepas dari saat ini. Setiap saat, setiap menit dan detik, tidak luput dari ajaran Buddha. Karena itu, kita sering membahas tentang waktu dan ruang. “Tempat” adalah di mana kita berada. Sejauh apa pun jaraknya dari kita, selama masih berada dalam jangkauan semesta, setiap tempat mengandung kebenaran yang sama. Ajaran Buddha mampu mencakup segala tempat
Kebenaran selalu sama di mana pun. “Orang” adalah Anda. Ajaran Buddha ada di hati Anda, di hati saya, dan di hati semua makhluk. Jadi, ajaran Buddha sangat dekat dengan kita, sama sekali tidak jauh. Jadi, Saudara sekalian, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus selalu ingat bahwa Master Yin Shun, guru saya, kakek guru kalian, di zaman yang tak jauh berbeda dengan kita menasihati bahwa menyucikan hati adalah prioritas pertama, memberi manfaat bagi orang adalah yang utama. Batin kita harus selalu suci. Kita juga harus terjun ke tengah masyarakat. Inilah ajaran yang mendasar
Hari ini kita kita sudah membahas bahwa jika hati kita suci, barulah kita bisa dipenuhi sukacita. Jika ingin senantiasa dipenuhi sukacita, maka tak ada cara lain, kita harus menyucikan hati kita dan membawa manfaat bagi makhluk lain. Dengan demikian, kita akan penuh sukacita. Jadi, Bhumi Sukacita berarti memperoleh sukacita dalam Dharma. Jika batin kita suci, maka kita akan dekat dengan kebuddhaan. Inilah yang disebut mencapai Bhumi pertama
Hati kita selalu penuh sukacita dalam segala kondisi. Inilah sukacita dalam Dharma, Kita harus menggunakan Dharma untuk memperoleh sukacita. Untuk itu, kita harus selalu bersungguh hati.