Sanubari Teduh – 171 – Enam Praktek 10 Dedikasi Bagian 10
Saudara se-Dharma sekalian, kondisi sekitar kita sangat hening. Hakikat sejati kita adalah hening dan jernih. Inilah kondisi yang paling luar biasa. Kondisi batin kita dan kondisi sekitar demikian hening
Ini membuat kita memahami kondisi batin yang menyatu dengan kondisi luar. Kini kita membahas yang kesepuluh dari sepuluh dedikasi, berarti sudah sepuluh kali saya mengatakan bahwa untuk kembali pada hakikat sejati, kita harus memperluas dedikasi dari kecil ke besar. Kita harus meninggalkan keduniawian, tetapi tetap terjun ke tengah masyarakat. Yang dimaksud keduniawian adalah tataran makhluk awam. Banyak kerisauan mendera dalam kehidupan, perasaan cinta dan benci terus membelenggu. Inilah keduniawian
Sebagai praktisi Buddhis, kita harus maju selangkah demi selangkah. Kita harus meninggalkan keduniawian dan nafsu keinginan. Kita harus terus melapangkan hati kita agar dapat kembali pada hakikat sejati kita. Hakikat sejati ini sangat lapang tanpa batas. Dengan begitu, kita dapat menerima segala sesuatu. Saya sering berkata bahwa kita harus melapangkan hati seluas alam semesta
Kita harus melapangkan hati kita hingga bisa melingkupi alam semesta. Ini adalah sebuah ungkapan yang menggambarkan bahwa kita harus berlapang dada. Terlebih lagi, hati kita harus menjangkau semua tempat. Asalkan tempat itu memiliki tanah atau pasir, maka cinta kasih kita harus sampai ke sana. Ini yang disebut melapangkan hati seluas alam semesta. Sesungguhnya, cinta kasih kita harus disebarkan hingga seluas apa? Sampai seluas alam semesta. Jadi, inilah yang disebut segala penjuru. Demikianlah jika kita dapat kembali pada hakikat sejati
Kelapangan hati kita yang murni akan seluas apa? “Batin menyatu dengan alam Dharma, meliputi segala penjuru.” Batin kita harus menyatu dengan alam Dharma, terlebih harus meliputi segala penjuru. Kelapangan hati kita harus meliputi seluruh alam Dharma. Jadi, dikatakan, “lapang seluas angkasa, inilah yang disebut alam Dharma tanpa batas.” Inilah dedikasi ke sepuluh alam Dharma. Kita telah membahas praktik dedikasi kesepuluh
Jadi, hakikat kita harus menjangkau seluruh alam Dharma. Ini yang disebut menyatu. Menyatu berarti sama besar. Sebesar apa alam Dharma, hendaknya sama luas dengan alam semesta. Bukankah kita sering mengatakan bahwa hati, Buddha, dan semua makhluk pada hakikatnya tiada perbedaan. Jadi, dedikasi alam Dharma tanpa batas berarti kita harus memperbanyak dedikasi kita
Ini mengajarkan agar batin kita selapang alam semesta. Jadi, kita harus merealisasi hakikat ini. Inilah yang dikatakan buah dari pelatihan diri. Inilah yang sering kita dengar. Bagaimana kita melatih diri? Kita sering membahas tentang melatih kerendahan hati ke dalam dan tata krama ke luar. Inilah langkah awal pelatihan diri
Kita harus giat melatih ke dalam diri. Apa yang disebut giat? Bagaimana kita berlatih? Kita harus berlatih untuk terus memperkecil ego kita dan bersikap rendah hati. Jadi, janganlah kita bersikap sombong. Jika bersikap sombong, kita akan merasa diri ini adalah segalanya. Dengan demikian, akan ada banyak hal yang kita lekati, yang kita cintai, yang kita ingini. Semua kita pusatkan kepada diri sendiri. Dengan sikap meninggikan diri ini, orang lain akan sulit menerima kita
Jika seseorang terlalu sombong, maka siapa yang mau menerimanya? Jadi, kita harus giat. Janganlah tinggi hati. Kita harus mengecilkan ego kita dan bersikap rendah hati terhadap orang lain. Rendah hati adalah sikap yang terpuji. Inilah yang disebut pelatihan ke dalam diri
Kita harus mengembangkan kerendahan hati dan mengecilkan ego. Dengan demikian, kita akan diterima di mana pun berada. Dengan mampu mengecilkan ego, maka kita akan ada di hati setiap orang. Kita harus mengecilkan diri hingga sekecil apa? Hingga dapat masuk ke mata orang tanpa menyebabkan rasa sakit, terlebih lagi dapat masuk ke hati setiap orang. Selalu ada kita di hati setiap orang. Untuk itu, kita harus rendah hati
Melatih kerendahan hati kedengarannya mudah, tetapi membutuhkan usaha yang besar. Kita harus sungguh-sungguh memiliki kerendahan hati di dalam diri. Kapan pun, kita harus bersikap rendah hati kepada orang lain. Kita juga harus memiliki tata krama dan menaati norma. “Dengan mundur selangkah, langit akan terlihat luas.” Inilah yang disebut kebajikan (de) Mengenai jasa kebajikan (gong de), jasa apa yang kita pupuk atau latih, itulah kebajikan atau pahala yang akan kita peroleh
Jadi, dalam melatih diri kita harus mengasah keterampilan sehingga memperoleh hasil atau pahala. Hasil ini akan menjadi kualitas diri yang dapat diterima orang lain. Inilah buah pelatihan diri. Pelatihan ke dalam dan ke luar harus sejalan. Ke dalam melatih kerendahan hati, ke luar melatih tata krama. Dengan membuka hati seperti ini, tiada hal yang tak dapat kita terima dan rangkul
Hati yang lapang seperti ini adalah kebenaran sejati. Dengan ini, kita dapat meliputi segala penjuru, yang artinya menjangkau semua tempat. Inilah yang disebut melapangkan hati hingga seluas jagat raya. Adakalanya, meski hanya beberapa kalimat, kebenaran yang dikandung sesungguhnya amat dalam. Saya sudah mengatakan kepada kalian bahwa sepuluh alam Dharma meliputi empat alam suci dan enam alam makhluk awam. Inilah sepuluh alam
Empat alam suci meliputi empat jenis makhluk suci, yakni Buddha, Bodhisattva, Pratyekabuddha, Sravaka. Buddha dan Bodhisattva adalah praktisi Mahayana, memberi manfaat bagi diri sendiri dan makhluk lain; membimbing diri sendiri dan orang lain. Inilah Mahayana. Pratyekabuddha dan Sravaka adalah praktisi Hinayana. Mereka berlatih demi pencapaian pribadi dan menyucikan batin sendiri. Namun, mereka juga telah bebas dari kelahiran kembali
Karena itu, mereka termasuk makhluk suci. Itulah empat jenis makhluk suci. Sedangkan enam alam makhluk awam adalah yang sering kita bahas, yakni alam surga, alam manusia, asura, neraka, setan kelaparan, dan binatang. Inilah enam alam makhluk awam. Enam jenis makhluk awam masih terbelenggu. Empat jenis makhluk suci sudah tercerahkan, sedangkan makhluk awam masih terombang-ambing di lima alam. Lima alam meliputi alam surga, manusia, neraka, setan kelaparan, dan binatang
Semua memiliki kondisi masing-masing. Makhluk alam surga menikmati kesenangan. Agama apa pun mengajarkan bahwa orang yang memiliki keyakinan dan berbuat baik akan terlahir di surga. Jika berbuat tidak baik, mungkin terlahir kembali di alam manusia atau di alam-alam rendah lainnya. Meski terlahir di alam surga, tetapi saat usianya habis, masih dapat terlahir di alam manusia. Di dalam Sutra Buddha ada dijelaskan tentang lima tanda pelapukan makhluk alam surga. Saat berkah mereka habis, mereka juga akan terlahir kembali di alam lain, mungkin sebagai sapi, kuda, atau binatang lainnya
Setelah menikmati berkah di surga, mereka masih mungkin terlahir kembali di alam binatang. Mereka belum tentu terlahir sebagai manusia. Terlahir sebagai manusia, juga belum tentu hidup lancar sesuai harapan. Akan tetapi, dari sisi Buddhisme Humanistik, sepuluh alam ini sesungguhnya tergambar lengkap di alam manusia. Jadi, dalam melatih diri, jika kita dapat bertemu ajaran Buddha, maka kita harus bertekad mempelajarinya
Buddha memiliki hakikat sama dengan kita. Hati kita, hati Buddha, dan hati semua makhluk sesungguhnya adalah satu. Buddha datang ke Dunia Saha ini untuk membimbing umat manusia. Inilah hati Buddha. Jika kita memiliki hati Buddha, berarti kita telah kembali pada hakikat sejati yang sama dengan Buddha. Terlebih lagi, semangat Mahayana adalah menyelamatkan semua makhluk
Jika kita memiliki tekad awal untuk mencapai kebuddhaan, maka kita harus berlatih sesuai ajaran Buddha. Jadi, Buddha mengajarkan kepada kita bahwa jika ingin mencapai kebuddhaan, kita harus bertekad mempraktikkan Jalan Bodhisattva. Kita harus membangkitkan cinta kasih dan mulai menapaki Jalan Bodhisattva. Kita harus selalu memikirkan semua makhluk dan merasa iba atas penderitaan mereka. hati kita, hakikat kebuddhaan kita, akan dapat melintasi dunia Bodhisattva. Jika kita tidak dapat bertekad untuk memberi manfaat bagi diri sendiri dan orang lain, paling tidak kita berusaha lebih mendalami apakah ajaran Buddha sesungguhnya
Kalian tentu sering mendengar saya berkata bahwa Di tengah bencana yang menggemparkan, kita harus membangkitkan kesadaran. Apakah kita sudah sadar? Kita sering mendengar bahwa kehidupan tidak kekal dan bumi bersifat rentan, tetapi kita tidak kunjung sadar. Apakah kita masih punya waktu untuk melatih diri selama beberapa puluh tahun lagi? Masih? Buddha mengajarkan tentang ketidakkekalan. Kita belum tentu punya waktu, karena entah hari esok yang datang lebih dahulu ataukah ketidakkekalan yang datang lebih dahulu. Kebenaran ini sering diucapkan insan Tzu Chi. Jadi, kita semua sudah tahu tentang ketidakkekalan. Kita harus selalu mengingatkan diri tentang ketidakkekalan ini
Makhluk awam selalu berpikir masih ada hari esok atau bahkan tahun depan. Dengan begitu, kita tidak dapat giat berlatih. Lagi pula, jalinan jodoh sulit diprediksi, contohnya pasien yang dirawat di UGD, kondisinya dapat berubah dalam hitungan detik. Kehidupannya dapat berakhir dalam hitungan detik. Jika kita tidak segera menolongnya, maka dia belum tentu dapat melewati satu menit, dua menit, atau beberapa menit berikutnya
Kehidupan hanya sebatas tarikan napas. Dalam waktu singkat, jika tidak tertolong, dia dapat kehilangan nyawa. Jadi, banyak anggota komite dan Tzu Cheng sebelum dilantik harus terlebih dahulu menjadi relawan di rumah sakit. Para relawan senior mengajak dan mendampingi para calon Bodhisattva baru ini untuk menjadi relawan rumah sakit. Para relawan senior mendampingi mereka melakukan tugas kerelawanan dan memberi bimbingan sesuai kondisi. Melihat kondisi pasien, hubungan antara pasien dengan keluarga, dll., para relawan senior akan berbagi kepada calon relawan baru, “Lihatlah, hidup begitu tidak kekal
” “Lihatlah, anak-anaknya begitu berbakti.” Mereka juga berbagi tentang kondisi keluarga pasien, saat kepala keluarga jatuh sakit, bagaimana anggota keluarga merawatnya. Inilah pendampingan. Di dalam praktik Jalan Bodhisattva, Kita bukan hanya mengajarkan teori, tetapi juga mendampingi agar para calon relawan memahami dan dapat segera bertekad. Setelah bertekad, kita harus segera melakukan praktik nyata. Kita harus mendengar Dharma
Setelah mendengar Dharma, kita hendaknya sadar. Setelah sadar, kita harus melangkah maju. Inilah praktik Jalan Bodhisattva— Jadi, mengenai Pratyekabuddha dan Sravaka yang berlatih demi pencapaian pribadi, Buddha juga pernah berkomentar. Itu bukanlah tujuan akhir ajaran Buddha. Pencapaian itu belum setara dengan kebuddhaan. Untuk mencapai kebuddhaan, masih ada jalan yang harus ditempuh
Jadi, kita harus memahami hati Buddha dan bertekad mempraktikkan Jalan Bodhisattva. Jadi, empat jenis kesucian ini kita latih di alam manusia. Jadi, jangan berpikir kebuddhaan, tingkat kesucian, dan dunia Bodhisattva berada sangat jauh di luar jangkauan kita. Semua itu berada dekat dengan kita. Jadi, empat alam makhluk suci sesungguhnya juga ada di alam manusia
Praktisi tidak berada jauh dari alam makhluk suci. Ini bergantung pada bagaimana kita menjalani kehidupan sehari-hari kita. Kondisi batin kita menentukan kondisi luar. Mengenai empat jenis makhluk suci, guru saya, Master Yin Shun juga pernah berkata bahwa Ajaran Buddha tak lepas dari kehidupan kita saat ini dan di sini. Ajaran Buddha tak lepas dari saat ini dan berada di sini, di dunia tempat kita berada, di lingkungan ini juga, dan dalam kehidupan kita— Anda, saya, dan semua orang. Karena itu, kita sering membahas tentang waktu, ruang, dan hubungan antarmanusia
Semua ini mengandung ajaran Buddha. Semuanya mengandung hakikat sejati. Karena itu, guru saya juga mengatakan, “Menyucikan hati adalah prioritas pertama, memberi manfaat bagi orang adalah yang utama.” Yang terpenting dalam pelatihan diri adalah menyucikan batin kita. Batin kita tidak boleh ternoda. Hakikat sejati yang kita miliki pada dasarnya begitu murni. Hati yang suci merupakan hakikat dasar setiap orang
Hanya saja, akibat sebersit kekeliruan pada masa tanpa awal, kegelapan batin pun timbul dan menyebabkan terciptanya tiga aspek halus. Sedikit efek dari kegelapan batin ini dapat terus membesar. Saya pernah berbagi dengan kalian tentang topan yang terbentuk di permukaan laut. Pada mulanya, mungkin yang terlihat hanyalah bagaikan gelembung di tengah ombak. Saat terpengaruh oleh kondisi cuaca dan faktor-faktor pendukung lainnya, tekanan udara pun meningkat dan perlahan-lahan membentuk badai berkekuatan ringan, berkekuatan sedang, hingga berkekuatan besar. Sesungguhnya, mulanya tiada apa-apa
Mulanya cuaca sangat cerah dan lautan sangat tenang. Demikianlah kondisi cuaca dan iklim. Dengan adanya berbagai faktor dan kondisi, dampak yang ditimbulkan tidak terkendali. Demikian pula dengan lautan batin kita. Mulanya lautan ini sangat tenang. Inilah hakikat sejati kita. Hakikat sejati kita bersifat hening. Namun, akibat adanya berbagai kondisi, timbullah gelombang yang tak terkendali
Jadi, ajaran yang guru saya wariskan bagi kita sungguh dapat membuktikan ajaran Buddha. Dengan kondisi yang ada di dekat kita, beliau membuktikan ajaran yang Buddha babarkan lebih dari 2.000 tahun lalu. Banyak guru yang terus mendalami ajaran lewat proses pelatihan mereka dan hasil yang mereka peroleh. Semua ini berada dekat dengan kita. Guru saya, Master Yin Shun, juga mengatakan hal yang sama
Suara beliau masih terngiang di telinga kita. Ajaran Buddha tidak lepas dari saat ini, tempat ini, kehidupan ini. Beliau terus menasihati kita bahwa Menyucikan hati adalah prioritas pertama, memberi manfaat bagi orang adalah yang utama. Demikianlah, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus kembali pada hakikat sejati yang begitu murni. Intinya, hakikat sejati kita yang murni bagaikan sebuah cermin. Jika cermin ini kita bersihkan, maka akan dapat merefleksikan segala kondisi dengan jelas bagaikan beberapa kamera yang mengambil gambar yang sama dari arah yang sama pula
Jadi, hati kalian dan hati saya, jika dapat senantiasa suci, maka akan dapat saling merefleksikan kondisi yang sama, tidak membedakan alam surga, manusia, neraka, setan kelaparan, atau binatang. Kebahagiaan alam surga, kerisauan manusia, kebencian asura yang tak kunjung padam siang dan malam, hukuman neraka, serta penderitaan binatang dan alam setan kelaparan, semuanya dapat kita lihat di dunia ini. Singkat kata, batin kita bagaikan sebuah cermin yang bersih. Jika kita mengotorinya, maka tidak akan dapat merefleksikan bayangan dengan jelas. Jadi, sebagai praktisi Buddhis, kita hanya memiliki satu tujuan, yakni membersihkan cermin batin kita
Jika batin kita suci, Maka dengan sendirinya kita akan dapat membawa manfaat bagi makhluk lain. Saudara sekalian, mempelajari ajaran Buddha sesungguhnya sangat mudah. Asalkan dapat menyadari satu kebenaran, kita akan memahami segala hal. Untuk itu, harap semua selalu bersungguh hati.
.