Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 173 – Enam Praktek 10 Bhumi Bagian 2

Saudara se-Dharma sekalian, dalam kondisi yang hening ini, apakah batin kita mengarah pada kebenaran? Apakah jalan kita sudah benar? Ini harus senantiasa kita renungkan. Jadi, di dalam Sutra sering dikatakan, Kita telah membahas tentang Bhumi Sukacita. Ini adalah yang pertama dari Sepuluh Bhumi. Bagaimana agar dapat merasakan sukacita? Jika batin kita dapat menyatu dengan hati Buddha, maka dengan sendirinya pikiran kita akan bebas dari noda batin

 Tanpa noda batin, kita akan damai tanpa beban serta dipenuhi sukacita dalam Dharma. Jadi, yang terpenting dalam mempelajari ajaran Buddha adalah mencapai kondisi damai tanpa beban. Hari ini kita akan membahas Bhumi kedua. Bhumi kedua adalah Bhumi Bebas Kotoran. Saat membaca penjelasannya, kita mungkin tidak terlalu paham. Jika tidak paham, kita harus lebih bersungguh hati

 Kita harus memahaminya dari kondisi kebuddhaan. Dengan begitu, kita akan memahaminya. Jika kita dapat memasuki kondisi kebuddhaan, maka kita akan memahaminya dengan jelas. Kita harus memahami bahwa meski segala sesuatu berbeda, tetapi dapat melebur dalam kemanunggalan. Kita tahu bahwa semua makhluk diliputi noda batin. Berapa banyak noda batin? 84.000 noda batin

 Banyak sekali. Karena itu, kita harus menggunakan metode terampil. “Meski segala sesuatu berbeda, tetapi dapat melebur dalam kemanunggalan.” Noda batin semua makhluk berbeda-beda. Karena itu, kita harus menggunakan berbagai metode untuk membimbing mereka kembali pada kemanunggalan. Akan tetapi, berikutnya dikatakan, “Jika melihat kemanunggalan, maka bukan bebas kotoran.” Artinya, jika kita dapat melihat kemanunggalan, maka sesungguhnya tiada sesuatu pun yang harus bebas dari kekotoran. Pada dasarnya semua adalah murni. Dengan demikian, apa yang harus bebas kotoran? Kotoran apa yang harus ditinggalkan? Jadi, “Saat kemanunggalan ini juga lenyap, inilah yang disebut bebas kotoran.” Jadi, terhadap penggalan ini, jika kita berusaha memahaminya dengan lebih sungguh-sungguh, maka kita akan memahami bahwa Buddha datang ke dunia dan mengajarkan banyak metode hanya karena beragamnya noda batin semua makhluk

 Jadi, Dharma berbeda-beda karena noda batin yang berbeda-beda pula. Jadi, dikatakan bahwa murni dan kotor berbeda. Mungkin ini lebih mudah dipahami. Metode Dharma dibabarkan untuk mengatasi noda batin yang beragam. Ini karena kemampuan setiap makhluk berbeda-beda. Orang yang berkemampuan lebih tajam mampu mengikis noda batinnya perlahan-lahan. Jadi, Dharma pada dasarnya adalah murni, hanya saja karena kita ternoda oleh noda batin, maka kemanunggalan ini berubah menjadi keragaman. Dalam bahasa Mandarin, kebijaksanaan disebut “zhihui”

 “Zhi” adalah kemampuan untuk membedakan. “Hui” adalah kebijaksanaan yang tidak membedakan. Meski “hui” tidak membedakan dan meski hati, Buddha, dan semua makhluk pada hakikatnya tiada perbedaan, tetapi jika hakikat ini ternoda, maka perbedaan akan muncul. Berhubung noda batin berbeda-beda, demikian pula metode Dharma, harus beragam mengikuti beragamnya noda batin. Oleh karena itu, timbullah perbedaan antara murni dan kotor. Jadi, “Jika tidak ternoda,  hakikat tetap murni

” Berhubung hakikat tidak ternoda, maka ia tetap murni. Dengan demikian, tiada kekotoran yang harus ditinggalkan. Kalian seharusnya memahami penjelasan ini. Mempelajari ajaran Buddha berarti menerima ajaran Buddha di tengah rumitnya noda batin kita. Jadi, kita harus melepaskan berbagai noda batin dan meningkatkan pandangan kesetaraan kita. Jadi, kita harus memandang setara semua makhluk, berbelas kasih terhadap semuanya, dan tidak membeda-bedakan

 Jangan membedakan kaya atau miskin. Status sosial hendaknya tidak didiskriminasi. Setiap orang memiliki hakikat yang murni. Setiap orang pada dasarnya memiliki hakikat yang mulia, istimewa, dan berharga seperti Buddha. Jadi, semua adalah setara. Hanya saja, akibat kekuatan karma, noda batin semakin bertambah. Jadi, jika berada pada kondisi kebuddhaan, kita akan memandang semua makhluk dengan setara, tiada status sosial tinggi atau rendah

 Saat melihat makhluk yang menderita dan berkarma buruk berat, kita harus membangkitkan welas asih. Kita tidak membedakan diri sendiri dan orang lain. Karena itu, kita sering berkata bahwa seluruh dunia adalah satu keluarga. Sesungguhnya, hidup di dunia ini, kita menghirup udara yang sama. Kita juga tinggal di tempat yang sama, yakni di atas bumi ini. Meski dipisahkan oleh gunung dan lautan, tetapi tanah sesungguhnya tidak terpisah. Di dasar laut lempeng daratan masih menyambung. Pegunungan Himalaya yang berketinggian 8 000 m juga berada di tanah yang sama di bumi ini.

Jadi, meski lautan sangat dalam dan gunung sangat tinggi, semua berada di bumi yang sama, apa yang perlu dibedakan? Jadi, kita seharusnya memandang semua makhluk bagai keluarga sendiri. Jika dapat melakukan ini, kita tak akan membeda-bedakan orang yang berbeda suku bangsa dengan kita, berada dekat dengan kita, memiliki dendam dengan kita, atau berada jauh dari kita. Terhadap orang yang berbeda suku bangsa, kita tetap dapat merangkul mereka bagai keluarga. Ini yang disebut seluruh dunia adalah satu keluarga. Jika kita dapat melakukan ini, maka tidak ada diskriminasi. Karena itu, saya sering menyatakan terima kasih kepada insan Tzu Chi di seluruh dunia yang memiliki kesatuan tekad untuk menjalankan misi di seluruh dunia

 Di mana terjadi bencana, mereka menjalankan tekad  di sana. Tekad apa? Tekad Bodhisattva. Mereka memiliki hati yang sama. Hati apa? Hati Buddha. Setiap orang begitu dekat dengan hati Buddha dan berjalan di Jalan Bodhisattva

 Misi ini tak dapat diwujudkan hanya dengan sedikit orang, melainkan memerlukan banyak orang. Ini yang disebut membutuhkan kekuatan banyak orang. Di tengah masyarakat, jika kekuatan semua orang dapat dihimpun, maka semua makhluk yang menderita di dunia akan dapat tertolong. Karena itu, saya selalu bersyukur. Contohnya pada 8 Oktober 2005, di Pakistan terjadi gempa yang berlangsung beberapa detik, tetapi membawa kerusakan yang sangat parah. Ini sungguh bencana yang menggemparkan. Apakah dapat menyadarkan semua orang akan ketidakkekalan? Yang tersesat tetap tersesat, yang sadar tetap sadar

 Bagi yang dekat dengan hati Buddha, dan bertekad mempraktikkan Jalan Bodhisattva, mereka akan sadar bahwa seluruh dunia adalah satu keluarga. Jika bukan kita yang menolong, siapa lagi? Dengan kekuatan ikrar yang telah kita buat, kita mengulurkan kekuatan. Apakah satu orang saja cukup? Tidak cukup. Apakah dua orang cukup? Apakah kekuatan orang satu daerah saja cukup? Masih tidak cukup. Jadi, insan Tzu Chi di Taiwan tidak hanya segera membentuk tim bantuan bencana, melainkan juga tim dokter dan tenaga medis yang dibagi dalam dua gelombang. Tim gelombang pertama dan tim gelombang kedua saling meneruskan estafet cinta kasih

 Jadi, mereka berangkat dari Taiwan. Selain itu, ada pula relawan dari Malaysia, Indonesia, Turki, dan Yordania. Insan Tzu Chi dari 5 negara ini berkumpul untuk menuju daerah bencana di Pakistan. Mereka berkumpul di Pakistan. Para relawan dari lima negara ini menghimpun kekuatan bersama. Setiap orang dari mereka memiliki keistimewaan masing-masing. Contohnya, Chen Qiu-hua dari Yordania. Dia datang dengan dukungan pangeran Yordania. Dia bekerja untuk pangeran Yordania. Dia selalu tersenyum setiap saat, sangat ramah dan penuh kehangatan

 Dia sangat dekat dengan keluarga kerajaan. Dengan status dan postur tubuhnya yang seperti itu, dia tetap penuh welas asih dan pergi ke Pakistan. Di sana juga banyak organisasi dari PBB. Dengan adanya orang-orang yang istimewa di Tzu Chi, banyak orang yang merasa bahwa organisasi Tzu Chi cukup berbeda dari yang lain. Ada pula Hu Guang-zhong dari Turki. Dia adalah seorang umat Islam yang taat. Dia adalah seorang umat Islam yang taat, tetapi sangat bersungguh hati bersumbangsih di Tzu Chi tanpa membedakan. Ini juga suatu keistimewaan

 Ada pula relawan dari Indonesia. Selama  bertahun-tahun, insan Tzu Chi di Indonesia telah banyak bersumbangsih di tengah banyaknya gejolak masyarakat. Bahkan, mereka menormalisasi Kali Angke dan membangun Rusun Cinta Kasih. Mereka mengubah masyarakat yang penuh gejolak menjadi masyarakat yang damai. Dengan pengalaman ini, mereka bergabung dengan insan Tzu Chi dari negara lainnya untuk membantu Pakistan. Selain itu, ada pula insan Tzu Chi Malaysia. Meski kondisi masyarakat di Malaysia terbilang damai, tetapi angka kemiskinan di sana juga sangat tinggi

 Mereka juga pernah menyalurkan bantuan ke Sri Lanka saat bencana tsunami. Saat itu mereka bekerja sama dengan tim medis dari Taiwan. Mereka juga berpengalaman dalam misi bantuan internasional. Insan Tzu Chi dari lima negara ini memiliki keistimewaan masing-masing. Mereka berkumpul dan berangkat ke Pakistan dalam tim pertama. Mereka memiliki tekad yang sama. Itu sungguh perpaduan yang indah. Selain itu, ada pula tim kedua. Di tim kedua ada Wakil Kepala RS Chien. Beliau sangat bersemangat

 Beliau membawa satu tim dokter dari RS Tzu Chi Dalin, Xindian, dan Hualien. Ada juga apoteker, ahli anestesi, dan tenaga ahli lainnya. Mereka semua adalah tenaga medis dan para relawan yang berpengalaman. Tim ini menerima estafet cinta kasih dari tim pertama dan langsung bergerak mengerahkan kemampuan terbaik mereka. Kondisi di daerah bencana itu sangat sulit karena medan yang bergunung-gunung. Rumah-rumah sudah rata dengan tanah dan tertimbun reruntuhan. Jadi, kondisi para warga sangat sulit. Perbedaan suhu siang dan malam di sana juga sangat besar

 Pada siang hari di sana sangat panas, sedangkan pada malam hari sangat dingin. Mereka hanya dinaungi tenda tipis dan harus tidur di tanah. Sulit sekali. Mereka harus hidup di tengah kondisi sulit. Para tenaga medis tentu lebih kesulitan. Kondisi lingkungan di sana sangat buruk. Bahkan alat penyangga infus pun tak ada

 Mereka harus menggantungkan botol infus pada ranting pohon, sedangkan pasien berbaring di bawah pohon. Di tengah kondisi sulit seperti itu, para relawan mengerahkan kemampuan mereka. Terlebih lagi, mereka tidak hanya melayani di posko, melainkan juga harus menjangkau pasien dengan menempuh medan yang sulit. Setiap langkah mereka lalui dengan penuh kesulitan. Selain itu, pengiriman bantuan harus melalui jalur udara dan dilanjutkan lewat darat. Ini juga sangat sulit. Akan tetapi, para relawan tetap teguh. Mereka membagikan tenda dan selimut. Meski bantuan itu hanya membantu sementara waktu, tetapi para relawan sudah berusaha maksimal

 Intinya, meski kita semua adalah setara, tetapi dalam menolong orang dan menyucikan hati manusia, tetap diperlukan berbagai cara yang berbeda. Ini tidaklah mudah karena penderitaan semua makhluk amat beragam. Terlebih lagi, noda batin juga beragam. Meski Buddha terus mengatakan bahwa semua makhluk adalah setara dan tidak dibedakan dari status sosial, tetapi penderitaan mereka amat beragam. Untuk mengatasinya, juga dibutuhkan beragam cara. Jadi, jika kita melekat pada kesetaraan, tidak menggunakan metode yang sesuai, dan hanya berpegang kaku pada satu metode, “Kita harus menyebarkan cinta kasih, harus berbelas kasih kepada mereka,” maka untuk mengulurkan tangan ke Pakistan, membantu para korban, menghibur mereka, merangkul mereka, dan memberi bantuan darurat, bisakah kita lakukan? Tidak bisa. Kita harus menggunakan metode terampil, seperti mengandalkan pesawat terbang dan transportasi darat. Kita menggunakan pesawat terbang dan mobil untuk dapat menjangkau mereka. Kita juga harus menggunakan sarana seperti ini

 Jadi, dengan berbagai cara terampil, kita berusaha menjangkau mereka yang menderita agar penderitaan mereka dapat dilenyapkan sehingga mereka juga dapat seperti kita, yakni mendekati kondisi Buddha yang damai. Dalam prosesnya, tentu ada perbedaan. Jika melekat pada kesetaraan, maka kita tak akan dapat terbebas dari kekotoran. Sesungguhnya, setelah meninggalkan kekotoran, kita akan mencapai kemurnian. Namun, jika segala sesuatu pada dasarnya murni, maka tiada yang perlu ditinggalkan. Jadi, kita harus memahami dan benar-benar menyadari apa yang disebut “berbeda” dan “manunggal”. Sesungguhnya, keduanya tidaklah berbeda

 Mengapa harus ada perbedaan? Buddha berkata, Mungkin kita berpikir bagaimana segala perbedaan dapat melebur menjadi kemanunggalan. Ini kita rasa tidak mungkin. Karena itu, kita harus menggunakan Dharma. Jika kita melihat segalanya sebagai murni dan setara, maka tiada yang perlu ditolong. Kenyataannya, semua makhluk memiliki penderitaan beragam. Jadi, Saudara sekalian, kadang kala teks Sutra tampak membingungkan. Akan tetapi, kita harus mendalaminya dengan sungguh-sungguh. Karena itu, saya selalu berkata kita harus selalu bersungguh hati.

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

https://www.geocities.ws/moulmaths/

https://www.geocities.ws/digitalanam/

rp888

rp888