Sanubari Teduh – 174 – Enam Praktek 10 Bhumi Bagian 3
Saudara se-Dharma sekalian, saat ini adalah saat terbaik untuk melatih diri. Bukankah batin semua orang sangat tenang? Batin yang hening akan membawa kecemerlangan. Kita setiap hari terus membahas bahwa dalam batin setiap orang ada hakikat murni. Jika kita dapat kembali pada hakikat murni ini, maka bukankah batin kita akan cemerlang? Sebelumnya kita telah membahas tentang bebas kotoran. Kotoran berarti noda. Semua makhluk tidak merasa sukacita karena memiliki batin yang ternoda. Sebelum Bhumi Bebas Kotoran, ada Bhumi Sukacita. Batin kita harus kembali pada hakikat murni, senantiasa penuh sukacita, dan tiada lagi noda batin
Akan tetapi, saat kegelapan batin muncul dan batin dipenuhi kerisauan, maka kecemerlangan hakikat sejati ini akan tertutup. Jadi, kini kita baru akan mulai melenyapkan kegelapan batin. Untuk melenyapkan kegelapan batin, sebelumnya kita sudah membahas bahwa kita harus melepaskan kemelekatan pada “perbedaan” dan “kemanunggalan”. Kita tidak boleh membedakan. Sesungguhnya, kita mungkin merasa, “Ajaran Buddha mengatakan bahwa segalanya adalah murni, Anda pada dasarnya bersifat murni, saya juga pada dasarnya murni.” Ini benar, tetapi jika kemurnian ini tercemar, maka akan jadi berbeda. Di tengah perbedaan, jika kita membedakan yang kita kasihi dan yang tidak kita kasihi, maka kita akan terus melakukan kesalahan
Jika dikatakan semua adalah setara, pelatihan diri apa lagi yang perlu dijalankan? Ini juga tidak benar. Sesungguhnya, justru karena kita semua memiliki kualitas dasar yang sama, maka setelah mengetahui kesalahan, lalu apa yang harus kita lakukan? Kita harus berubah. Jadi, kita harus jelas membedakan benar salah. Dengan demikian, maka dengan sendirinya batin kita akan kembali cemerlang. Karena itu, Bhumi selanjutnya disebut Bhumi Cahaya Cemerlang. Mengenai Bhumi Cahaya Cemerlang dikatakan, “Kekeruhan sentimen ‘kemanunggalan’ dan ‘perbedaan’ sudah dimurnikan.” Kita telah membahas hal ini
Akan tetapi, kita juga jangan berkata, “Kalau begitu, kita tidak perlu lagi mengejar kemajuan.” Ini tidak benar. Mengetahui bahwa pembedaan adalah salah, maka kita harus segera memperbaiki diri. Jika kita dapat membedakan benar dan salah dengan jelas, inilah yang disebut “pandangan kemanunggalan dan perbedaan”. Yang benar adalah benar, yang tidak benar adalah tidak benar. Untuk terbebas dari kekotoran, yang salah harus diperbaiki. Dengan demikian, kita akan mencapai kemurnian
Jadi, sering dikatakan, “Pertobatan adalah pemurnian.” Jika yang salah diperbaiki, maka tiada lagi kesalahan. Artinya sama saja. “Kecemerlangan kesadaran akar terbangkitkan.” membedakan benar dan salah dengan jelas dan memperbaiki kesalahan, maka kita akan kembali pada kebenaran sejati
Cahaya kebijaksanaan kita akan bangkit. Cahaya kebijaksanaan yang pada dasarnya kita miliki secara alami akan dapat kita bangkitkan. Jadi, dikatakan, “Kecemerlangan kesadaran akar terbangkitkan.” Kita harus mengetahui bahwa setiap orang pada dasarnya memiliki kondisi batin yang sangat cemerlang. Asalkan kita mampu menyadarinya, maka kecemerlangan batin ini akan bangkit. Karena itu, di dalam Sutra dikatakan, “Kemurnian membangkitkan kecemerlangan, inilah Bhumi Cahaya Cemerlang
” Jika batin kita murni, inilah yang dinamakan kemurnian. Jika batin berada dalam kondisi paling murni, Sama halnya dengan sebuah batu. Sebuah batu yang terlihat kasar dan biasa saja, jika dibungkus dengan pasir, maka warnanya akan sama seperti pasir. Alangkah baiknya jika kita tahu bahwa batu ini sesungguhnya sangat berharga karena mengandung giok di dalamnya. Orang yang memahami kualitas batuan, saat melihat batu yang tampak biasa saja, dapat mengerahkan keahliannya untuk terus mengasah batu tersebut sehingga semakin cemerlang. Kotoran pada kulit luar batu itu pun hilang
Bagian kasar batu tadi sudah tidak ada. Jika diasah lebih lanjut, giok di dalamnya akan terlihat. Jadi, kita harus mengasahnya hingga selesai, barulah giok itu akan terlihat. Baik batu giok maupun berlian, haruslah diasah terlebih dahulu, barulah kualitas aslinya dapat terlihat. Saat kualitas aslinya tampak, batu itu akan terlihat berkilauan. Ini sama dengan batin kita
Inilah yang disebut kemurnian membangkitkan kecemerlangan. Saat batin mencapai kondisi yang paling murni, kecemerlangan akan timbul. Inilah yang disebut Bhumi Cahaya Cemerlang. Kecemerlangan ini dimiliki kita semua. Saat batin berada dalam keadaan termurni, ia akan memancarkan kecemerlangan. Sedikit saja kegelapan dan noda batin dapat membawa penderitaan tak terkira dalam hidup
Jika kita dapat menetapkan tekad, maka kesulitan apa pun akan dapat kita selesaikan tanpa perbedaan. Karena itu, di awal dikatakan mengenai sentimen atau pandangan emosional. Manusia sering memiliki pandangan emosional sehingga melakukan berbagai diskriminasi dan membuat pikiran dipenuhi noda batin. Saya pernah melihat sebuah berita tentang seorang ibu di Yilan. Suaminya sudah meninggal dunia. Dia memiliki tiga orang anak. Dua putrinya sudah menikah, sedangkan yang ketiga adalah putra berusia 17 tahun
Khawatir ibunya terbebani, dia pergi dari Yilan ke Taipei untuk bekerja. Suatu hari, temannya mengajaknya makan. Tiba-tiba, sekelompok anak muda berkelahi dengan temannya itu. Akibat salah sasaran, anak itu pun tewas dipukuli. Saat itum sang ibu merasa sangat sedih, hidupnya terasa hancur. Jiwanya pun terganggu. Dia membeli boneka maneken dan memakaikan baju anaknya pada boneka itu
Dia sering memeluk boneka itu dan menganggapnya sebagai putranya. Kejiwaannya mulai tidak normal. Saat menjalani pemeriksaan di pengadilan, dia bertemu dengan orang tua tersangka. Ternyata mereka juga sangat menderita karena sang ayah memiliki keterbatasan fisik. Ibu dari tersangka itu harus bekerja untuk menghidupi keluarga. Anaknya tidak mau belajar dengan baik dan sering berkelahi di luar. Sang ibu ini sungguh menderita, ditambah lagi harus menghadapi masalah ini. Ibu yang anaknya meninggal berkata bahwa saat sang ibu tersangka menceritakan kondisi keluarganya dan penderitaan batinnya, berhubung sama-sama menjadi ibu, dia dapat merasakan perasaan ibu tersangka itu
Sepulangnya dari pengadilan, dia merenung, “Anak saya sudah tewas terbunuh, sedangkan anak ibu itu pembangkang.” Berhubung sama-sama memiliki hati seorang ibu, dia dapat memahami perasaan sang ibu tersangka. Suaminya sendiri sudah meninggal, sedangkan sang ibu tersangka masih memiliki suami yang sakit yang harus dirawat. Sang ibu tersangka memiliki masalah keluarga, kini ditambah masalah anaknya yang entah divonis apa oleh pengadilan. Dia berusaha memahami perasaan sang ibu tersangka dengan menempatkan diri di posisinya. Perlahan-lahan dia dapat memahaminya. Jadi, suatu hari, dia mengatakan ingin pergi menjenguk anak itu di tahanan. Para kerabat dan anggota keluarga ibu ini merasa tidak setuju karena anak itulah yang membunuh anaknya
Untuk apa dia menjenguknya? Akan tetapi, ibu ini terus berpikir dan memutuskan untuk tetap pergi menjenguk. Akhirnya, dia tetap pergi. Anak itu berada di tempat penahanan dan belum dijatuhi vonis pengadilan. Ibu korban mengunjungi tersangka ini. Anak itu terlihat tampan. Anak itu berlutut dan menyatakan penyesalan serta meminta maaf dari ibu itu karena telah membunuh anaknya. Melihat anak ini amat menyesal, ibu itu menjawab, “Saat memutuskan datang menjengukmu, hati saya sudah mulai bersiap untuk memaafkanmu
” Ibu itu membantu anak ini bangkit berdiri. Anak ini pun merasa terharu, lalu berkata, “Bolehkah Anda memeluk saya?” Anak ini meminta ibu itu untuk memeluknya. Ibu ini diam seketika, seakan melihat anaknya sendiri. Di dalam ruang tahanan, mereka berpelukan. Begitulah hati seorang ibu. Anaknya sendiri terbunuh oleh anak itu
Sebelum bertemu anak itu, sebelum datang ke pengadilan, dan sebelum melihat kondisi orang tua anak itu, dia sangat dendam. Hatinya sangat sakit. Dia tak bisa keluar dari rasa sakit itu hingga akhirnya hampir mengalami gangguan kejiwaan. Saat anak itu berada di hadapannya, dia membangkitkan hati keibuannya. Berhubung putranya sendiri sudah meninggal, dia melihat anak di hadapannya bagai anaknya, maka dia dapat memaafkannya. Dia pun keluar dari belenggu batinnya. Ganjalan dalam batinnya sudah dapat dia atasi. Kini hatinya sudah penuh sukacita dan gemar membantu orang lain
Dia menjalani kehidupannya sendiri dan kembali pada sifat keibuannya yang penuh kasih sayang. Meski anaknya telah tiada, tetapi dia tetap memiliki kasih sayang dan memberikannya pada anak yang membunuh anaknya. Dia sering mengunjungi anak itu. Ibu itu berkata pada anak ini, “Kamu harus memulai hidup baru, kelak, saat kembali ke masyarakat, kamu harus menjadi orang yang berguna.” Bukankah dia sangat bijaksana? Tanpa kebijaksanaan, dia tak akan mampu melihat masalah dengan jernih; meski dijejali banyak prinsip kebenaran, berhubung anaknya mati terbunuh, dia tidak akan merasa bersalah dan tetap bersikeras untuk menuntut keluarga tersangka. Akan tetapi, apa manfaatnya jika dia menuntut? Sikap perhitungan ini hanya menambah kegelapan batin. Di tengah kegelapan batin, apa yang dapat dia lakukan? Dia tak akan dapat berpikiran terbuka. Bagaimana jika tak dapat berpikiran terbuka? Dia akan mengalami gangguan jiwa
meski berada di pihak yang benar, pikirannya tetap tak dapat terbuka. Ini juga merupakan kegelapan batin. Inilah belenggu emosi atau sentimen. Jika manusia terbelenggu pandangan emosional, maka akan sangat menderita. Mereka akan kehilangan hakikat diri dan semakin tersesat. Beruntung, pada saat-saat seperti itu ibu itu dapat menyelamatkan diri. Siapa yang dapat menyelamatkan kita? Kita harus menyelamatkan diri sendiri
Kini dia sangat bersyukur. Dia juga bersyukur kepada putranya yang telah hidup bersamanya selama 17 tahun. Dia juga bersyukur atas jalinan jodoh pembunuhan putranya yang mengajarinya untuk mengubah ketidakrelaan menjadi rasa syukur. Dia bersykur kepada putranya yang telah menunjukkan tidak kekalnya kehidupan sehingga dia dapat memahami bahwa sifat keibuan yang mulia tidaklah egois, sifat keibuan yang mulia haruslah lapang, dapat memperluas kasih sayang terhadap anak sendiri hingga mampu mengasihi anak orang lain, juga dapat turut merasakan perasaan orang tua lain. Jadi, kini dia terus menggunakan rasa syukur dan kebijaksanaan. Meski kehilangan putranya, dia dapat menolong anak orang lain. Lihatlah, anak tersangka tadi telah tersesat, maka gemar berkelahi dengan orang lain
Saat tidak sengaja membunuh anak ibu tadi, dia memperoleh pelajaran besar. Jika dia hanya dihukum, apakah setelah bebas dia akan berubah? Belum tentu. Hatinya belum tersentuh. Dia hanya dibina di lembaga pemasyarakatan. Setelah bebas, dia mungkin mengulangi perbuatannya. Akan tetapi, ibu yang tanpa pamrih, yang berhasil keluar dari belenggu batinnya tadi, telah menjadi penyelamat anak ini. Dia membantu anak ini, menyentuh hatinya, dan membimbingnya sehingga anak ini menyadari kesalahannya dan dapat memperbaiki diri
Bimbingan seperti ini sungguh membuat orang kagum. Inilah kebangkitan cahaya kebijaksanaan. Jika tidak, bukankah ibu tadi akan terus tenggelam dalam kegelapan batin? Meski dijejali berbagai prinsip kebenaran, jika tak dapat berpikiran terbuka, dia akan tetap diliputi kegelapan dan noda batin. Jadi, inilah sentimen. Apakah noda batin menambah kegelapan batin atau menjadi cahaya kebijaksanaan, semua bergantung pada sentimen ini. Sebagai manusia, kita lebih sering tersesat karena emosi. Untuk menapaki jalan Bodhisattva, tidak melulu harus hidup membiara
Sesungguhnya, perumah tangga juga dapat mengembangkan kebijaksanaan. Kesempatan untuk mengembangkan kebijaksanaan ada lebih banyak dalam kehidupan rumah tangga karena dalam kehidupan rumah tangga, seseorang dapat melihat lebih luas. Dalam kehidupan berumah tangga, akan banyak kesempatan untuk mendengar dan melihat perdebatan mengenai benar dan salah. Di tengah keduniawian, di tengah banyaknya noda batin, jika kita dapat melihat dengan jelas yang benar dan yang salah, maka itu adalah kebijaksanaan. Banyak orang terus mengejar reputasi dan keuntungan, terus mengembangkan usaha hingga besar dari Taiwan sampai keluar Taiwan, sampai ke berbagai negara. Berhubung usahanya sangat besar, maka tidak dapat ditangani seorang diri. Meski demikian, usahanya masih terus dikembangkan
Untuk terus mengembangkan usaha, tentu diperlukan tambahan modal. Karena itu, diterbitkanlah saham. Saat usaha itu semakin besar, di antara para pemegang saham, bukankah mungkin ada perbedaaan pendapat? Apakah visi perusahaan masih sama dengan saat awal berdiri? Semakin besar perusahaan, saat diri sendiri tidak dapat mengendalikannya dan harus bergantung pada orang lain, maka banyak kerisauan akan timbul. Di masyarakat masa kini sering kita lihat perusahaan yang meski semakin besar, tetapi pertikaian antara para pemiliknya dan jumlah utangnya pada bank juga semakin besar. Lambat laun, akankah para pemegang saham ini menderita kerugian? Mungkin saja. Akan tetapi, yang paling merasakan masalahnya adalah si pemimpin atau pemilik utama. Mungkin si pemilik utama harus merelakan perusahaannya diambil orang lain. Jika perusahaannya diambil orang lain, apakah dia rela? Dia mungkin tidak rela. Lalu bagaimana? Mengajukan perkara ke meja hijau
Di meja hijau, dia merasa dirinya benar. “Saya yang dicelakai, saya adalah korban.” Di pengadilan, semua bergantung pada argumen. Jika menang berargumen, berarti Anda benar. Jika kalah berargumen, berarti Anda salah. Salah bicara satu kata saja bisa dinyatakan bersalah. Masalah duniawi sungguh berbahaya
Semua ini bergantung pada pikiran. Jika kita dapat mengubah pola pikir, menjalankan kewajiban dengan baik, dan melakukan segala sesuatu sesuai kemampuan— melakukan sesuatu yang konkret, yang dapat kita jangkau, dapat kita wujudkan, dan dapat kita pertahankan— maka usaha kita tentu akan berjalan lancar dan berada dalam kendali kita. Jika kita bergerak di luar kemampuan, Saya sering membahas tentang misi. Misi berarti bersumbangsih tanpa pamrih. Karena itu, saya selalu mengatakan terima kasih. Empat Misi Tzu Chi bergantung pada kesatuan tekad semua insan Tzu Chi. Semua orang bersumbangsih dengan cinta kasih dalam misi amal
Lihatlah badan misi amal kita. Di sana ada sekelompok Bodhisattva muda, tepatnya di Divisi Kerohanian. Mereka sangat bersungguh hati. Misi amal adalah induk dari Empat Misi Tzu Chi. Para Bodhisattva muda dalam misi ini sangat memegang teguh semangat ajaran Buddha dan mempraktikkan Jalan Bodhisattva di tengah masyarakat. Para Bodhisattva muda ini sangat bersemangat dan bersungguh hati. Mereka tidak menuntut gaji tinggi, juga tidak perhitungan soal waktu
Mereka juga melatih diri saat terjun ke tengah masyarakat. Saat badan misi lainnya membutuhkan tenaga profesional, mereka juga rela mendedikasikan diri di sana. Di dalam misi-misi ini, semua orang bersumbangsih dengan cinta kasih. Lihatlah, misi kesehatan kita juga penuh budaya humanis. Para dokter dan tim medis serta kepala RS memiliki pandangan benar. Mereka menjadikan hati Buddha sebagai hati sendiri, merawat pasien dengan semangat Buddha. Mereka menjadikan tekad Guru sebagai tekad sendiri, rela berjalan di Jalan Bodhisattva
Mereka rela pergi ke pedalaman untuk memberi pelayanan kesehatan keliling, menghibur, merawat pasien, membimbing batin mereka, dan membantu keluarga mereka. Para tenaga medis tidak hanya merawat pasien di rumah sakit. Mereka bahkan melangkah keluar, seperti membantu korban gempa di Pakistan. Para dokter rela pergi ke sana dalam tim bantuan bencana. Adakalanya meski sudah kembali ke Taiwan, mereka masih memikirkan kondisi para korban. Inilah hati Buddha dan tekad Bodhisattva yang tidak tega melihat makhluk menderita. Semua ini ada dalam badan misi Tzu Chi
Ini disebut kesatuan tekad. Begitu pula dalam misi pendidikan dan misi budaya humanis. Jika dalam menjalankan misi-misi ini kita tidak memiliki kesatuan tekad, maka akan timbul banyak kerisauan. Jika kita memiliki pandangan emosional, maka noda batin akan timbul. Begitulah kondisi sebagian besar makhluk awam, sehingga kecemerlangan batinnya tak dapat memancar. “Kemurnian membangkitkan kecemerlangan.” Meski batin makhluk awam adakalanya murni, tetapi masih belum murni sempurna. Karena itu, saat pandangan emosional muncul, penderitaan pun timbul. Noda batin pun akan bertambah banyak
Satu atau dua saja pandangan emosional timbul, akan membawa berbagai kerisauan di dalam menjalankan misi. Jadi, di badan misi mana pun, kesatuan tekad mutlak diperlukan. Dengan begitu, semua orang akan dapat menghimpun kekuatan untuk bersumbangsih bagi semua makhluk di dunia. Intinya, Bhumi Cahaya Cemerlang berkaitan dengan kecemerlangan batin. Jika kita dapat terus berjalan di jalan kebenaran yang cemerlang, maka akan seperti ibu tadi, dapat mengatasi pandangan emosional dalam dirinya. Dia bahkan dapat menolong anak orang lain. Lihatlah, menolong keluarga orang lain adalah praktik Bodhisattva dunia yang luar biasa
Saudara sekalian, dalam kehidupan rumah tangga, kita harus mengembangkan kebijaksanaan. Untuk mengasah kecemerlangan batin kita, sesungguhnya sangatlah mudah. Asalkan pola pikir berubah, maka tiada lagi kesulitan. Yang sulit adalah mengubah pola pikir diri sendiri. Jika tak mampu mengubah pola pikir dan terus terbelenggu pandangan emosional, kita akan sangat menderita
Bukan hanya membuat diri sendiri menderita, kita bahkan juga menyusahkan orang lain. tujuan mempelajari ajaran Buddha hanya satu, yakni meninggalkan noda, kotoran, dan kegelapan batin agar dapat kembali pada batin yang cemerlang. Untuk itu, semua harus selalu bersungguh hati.