Sanubari Teduh – 175 – Enam Praktek 10 Bhumi Bagian 4-1
Saudara se-Dharma sekalian, Sebelumnya kita membahas Bhumi Cahaya Cemerlang. Sebelum mencapai Bhumi Cahaya Cemerlang, kita harus bebas dari kotoran, melenyapkan segala tabiat buruk yang mungkin telah kita pupuk selama puluhan tahun. Dengan begitu, batin kita baru bisa murni. Saat batin murni, baru bisa memancarkan cahaya cemerlang. Cahaya dibedakan menjadi cahaya halus, cahaya redup, dan cahaya terang. Jika batin semakin dibersihkan, maka cahayanya akan semakin terang. Yang keempat adalah Bhumi Kebijaksanaan Membara
bukan hanya memancarkan cahaya, melainkan juga membara. Karena itu, disebut Bhumi Kebijaksanaan Membara. Dikatakan, Penggalan ini cukup jelas. Ini bertujuan untuk memberi tahu kita bahwa jika kebijaksanaan kita sudah mencapai puncaknya, maka berarti kita telah mencapai kesadaran Buddha. Kita sering membahas bahwa makhluk awam batinnya diliputi kegelapanm, maka tidak dapat memahami kondisi luar. Jadi, setiap saat mereka banyak melakukan kekeliruan
Ini akibat kegelapan batin makhluk awam. Kini kita telah mempelajari ajaran Buddha. Dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus berpaling dari kegelapan batin dan menuju pada kebijaksanaan cemerlang. Untuk berpaling dari kegelapan menuju kebijaksanaan, kita harus berjalan selangkah demi selangkah menuju ke arah kebijaksanaan itu. Contohnya yang kita lakukan sekarang ini
Kita sedang berkonsentrasi mendengar pembabaran Sutra. Dari setiap kalimat dari Sutra itu, baik secara harfiah maupun makna tersirat, kita harus mendengarnya dengan sungguh-sungguh. Ini yang disebut mendengar. Dengan mendengar, kita membangkitkan pengetahuan
Kita harus banyak mendengar, baru bisa membangkitkan pengetahuan kita. Lalu kita harus merenungkan yang kita dengar. Dengan begitu, kebijaksanaan akan bertumbuh. Jika hanya mendengar, kita hanya akan tahu
Jika tidak sungguh-sungguh merenung, maka kebijaksanaan tak akan bangkit. Apa yang disebut kebijaksanaan? Yaitu melampaui perbedaan antara diri sendiri dan orang lain. Artinya, kita memahami bahwa segala sesuatu di dunia adalah satu kesatuan. Dari satu hakikat yang sama, menjadi berbagai wujud yang beraneka ragam. Sesungguhnya, begitu banyak kondisi yang beraneka ragam, jika kita telaah dengan kebijaksanaan, bukankah segala kondisi ini memiliki satu sumber yang sama? Sudah berhari-hari kita membahas bahwa segala sesuatu bersumber pada pikiran. Jika pikiran kita dapat kembali pada kebenaran sejati yang murni dan cemerlang, maka itulah kebijaksanaan
Inilah kebijaksanaan yang murni dan tidak membedakan. Jadi, mengenai kebijaksanaan cemerlang, saat kebijaksanaan berada pada puncaknya, inilah yang disebut kesempurnaan kesadaran Buddha. Mengenai kesadaran sempurna, jika kesadaran kita dapat mencapai kesempurnaan, maka kebijaksanaan dengan sendirinya akan membara, bersinar dengan sangat terang. Untuk mencapainya, kita harus bersemangat. Kini kita tahu apa yang tertulis dalam Sutra. Setelah mendengarnya, kita merasa itu masuk akal. Akan tetapi, adakah kita menjalankan ajaran ini? Jika ada, ini baru menjadi kebenaran
Jika tidak, maka hanya menjadi pengetahuan semata. Jadi, kita harus mendengar, merenung, dan mempraktikkan. Praktik harus dijalankan dengan penuh semangat. Jika Anda bersemangat dan giat, maka dengan sendirinya akan mencapai kesempurnaan. Sama halnya dengan cahaya bulan, Saat bulan sabit, cahayanya lebih redup. Saat bulan purnama, malam hari pun menjadi terang karena terangnya cahaya bulan
Prinsipnya sama saja. Jadi, dalam melatih diri, kita harus berlomba dengan waktu dan terus melangkah maju tanpa henti. Jadi, kebijaksanaan sangat penting. Jika memiliki kebijaksanaan, dengan sendirinya kita dapat melenyapkan kegelapan dan noda batin serta mengubah bahaya menjadi ketenteraman. Kalian semua seharusnya masih ingat pada tahun 1999, tepatnya tanggal 21 September, Taiwan diguncang gempa besar
Sebelum gempa terjadi, tepatnya tanggal 17 Agustus, terjadi gempa bumi di Turki. Setelah gempa terjadi di Turki dan kita menerima beritanya, kita segera merencanakan program bantuan. Jadi, kita segera mencari relawan yang berada di dekat daerah tersebut, seperti di Makedonia. Kru Da Ai TV saat itu juga tengah berada di Kosovo. Staf Divisi Kerohanian Tzu Chi dan staf Da Ai TV kebetulan tengah menyalurkan bantuan ke Kosovo. Saat itu mereka sudah kembali ke Makedonia dan tengah bersiap untuk kembali ke Taiwan. Mengetahui mereka berada di dekat perbatasan Turki, kita pun meminta mereka untuk segera meninjau kondisi Turki
Dapat dikatakan, dalam bencana gempa di Turki itu. insan Tzu Chi tiba di sana dalam hitungan jam pascagempa. Lewat komunikasi telepon, mereka membeli barang-barang kebutuhan dari daerah terdekat untuk membantu korban bencana. Dalam saat-saat itu, setelah beberapa hari kemudian, di sebuah kolom surat kabar ada sebuah artikel yang kira-kira menanyakan di mana peran Taiwan saat gempa melanda Turki. Saat melihat artikel tersebut, saya segera menghubungi staf Divisi Kerohanian dan meminta mereka menghubungi sang penulis, yaitu seorang bermarga Hu di Turki, Hu Guang-zhong
Jelas-jelas kita sudah berada di Turki, mengapa beliau yang juga di sana, malah menulis artikel seperti itu dan menyebarkannya lewat surat kabar? Jadi, saya meminta para relawan di sana untuk menghubunginya dan mengabarkan bahwa kita sudah ada di sana. Dari sana, kita berhubungan dengan Tuan Hu ini. Sejak saat itu, dia mulai memahami Tzu Chi, bahkan turut bergabung dengan Tzu Chi. Beruntung, dia menjadi penolong bagi Tzu Chi di Turki. Selain membantu kita membeli barang-barang kebutuhan dan membantu dalam hal bahasa, dia juga terus bersumbangsih tanpa henti sehingga rencana kita di sana berjalan lancar. Dia juga sangat peduli pada staf kita di sana. Jadi, sejak saat itu, dia menjalin jodoh yang tak terpisahkan dengan Tzu Chi
Dia sudah menyatu dengan Tzu Chi. Meski dia adalah seorang Muslim yang taat, tetapi terhadap organisasi Buddhis kita, dia sama sekali tidak diskriminatif. Selain itu, dia juga bersumbangsih dengan penuh rasa syukur, rasa hormat, dan cinta kasih. Keluarganya pun turut bersumbangsih. Waktu terus berlalu
Setelah menyalurkan bantuan darurat ke Turki, kita terus mencurahkan perhatian bagi warga kurang mampu di sana. Pendampingan para warga ini dijalankan oleh Tuan Hu. Dia berani memikul tanggung jawab. Waktu berlalu dengan cepat
Dua tahun kemudian, tepatnya tahun 2001, di Amerika Serikat terjadi tragedi yang menggemparkan dunia, yaitu tragedi 11 September. Saat itu dunia internasional mengalami kegemparan karena para teroris menabrakkan dua buah pesawat ke gedung WTC dalam hitungan belasan menit. Intinya, Amerika Serikat adalah negara kuat. Saat negara itu mengalami kejadian ini, korban yang jatuh juga sangat banyak. Gedung WTC runtuh hingga rata dengan tanah. Kejadian itu terjadi pada jam kantor
Berbagai perdagangan internasional dijalankan di gedung itu. Banyak orang berbakat bekerja di dalamnya. Dapat kita bayangkan, tragedi yang terjadi di saat jam kerja dengan banyaknya volume perdagangan internasional tentu membawa kerugian yang yang besar yang menggemparkan dunia. Saat itu, insan Tzu Chi AS memberikan sumbangsih besar dan mengembangkan cinta kasih. Mereka merangkul warga dan membuat warga AS dapat menenangkan hati. Para keluarga korban merasa sangat sedih dan amat terpukul. Insan Tzu Chi di sana memberikan bahu mereka sebagai tempat bersandar dan melampiaskan kesedihan. Ini yang terjadi di New York, AS pada saat itu. Meski Amerika Serikat berada jauh dari kita, saya juga merasa khawatir jika hati semua orang bergejolak dan menyebabkan ketakutan di seluruh dunia
Harapan saya hanya satu, yakni agar setiap orang tahu bahwa di tengah bencana yang menggemparkan dunia, kita harus membangkitkan kesadaran. Setiap orang hendaknya mengendalikan pikiran. Tidak perlu takut atau panik, tetapi kita harus membangkitkan ketulusan hati. Bagaimana cara kita menenangkan hati orang? Kita memiliki sebuah lagu yang diciptakan pada saat itu. Lagu itu juga dinyanyikan setiap pagi, sebelum pertemuan pagi relawan
Judulnya “Menebarkan Cinta Kasih di Dunia”. Di dalam lirik lagu ini terdapat kata-kata, “Bintang berkilauan, rembulan membisu, cahaya lembut berasal dari tekad dalam hati, welas asih adalah rumah bagi cinta kasih.” “Mereka mengasihi kita, ratap melihat bumi luka, sedih melihat makhluk menderita, mereka selamanya melipur dunia.” Kira-kira seperti itu. Lagu ini saat dinyanyikan sungguh membawa suasana khidmat dan tulus. Di tengah dunia yang gelap, masih ada bintang berkilauan di langit
Ini menggambarkan kegelapan batin semua makhluk. Di dunia ini telah terjadi tragedi yang begitu menyedihkan, tetapi di angkasa masih ada bintang-bintang yang berkilauan. Jadi, angkasa dan semesta tidak berubah. Hanya saja, banyak bencana terjadi di dunia. Bintang-bintang masih bersinar di langit, rembulan juga masih bercahaya dan membisu. Meski bulan begitu terang di langit, apa yang dapat ia katakan? Jika kita melihat ke angkasa, yang ada hanya cahaya lembut. Cahaya lembut ini bagaikan kelembutan dari dalam hati
Cahaya bulan itu bagaikan tekad hati kita. Mengenai tekad hati, tekad seperti apa yang dapat kita buat? Cinta kasih yang penuh kelembutan. Jadi, welas asih adalah rumah bagi cinta kasih. Bagaimana kita menyebarkan cinta kasih di dunia? Ini harus dimulai dari welas asih. Sesungguhnya, lagu ini sangat lembut, dapat menenangkan hati dan meredakan duka setiap orang karena lagu ini dapat membangkitkan ketulusan dan cinta kasih setiap orang. Sesungguhnya, makna lirik lagu ini ada di sini, yakni menenangkan hati orang. Jadi, kita harus berbelas kasih kepada semua orang
Jika tidak, bagaimana? Intinya, kita harus menggunakan cinta kasih untuk memandang semua makhluk dan membangkitkan rasa tak sampai hati melihat bumi terluka. Meski kita tidak banyak berucap, tetapi hati kita juga turut merasa iba melihat semua makhluk menderita. Ini adalah hati yang penuh welas asih. Jadi, lagu ini saya rasa dapat menenangkan hati orang. Jadi, kita berharap makna lagu ini dapat diterima di seluruh dunia sehingga batin orang-orang dapat menjadi tenang. Lagu ini juga dapat dinyanyikan dalam kehidupan sehari-hari
Saat batin bergejolak, batin akan kembali tenang saat menyanyikan lagu ini. Jadi, kita berharap lagu itu dapat diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, seperti bahasa Inggris, Jepang, dll. yang lebih banyak digunakan. Ada pula bahasa Arab. Saat ingin menerjemahkan ke bahasa Arab, kita teringat Tuan Hu di Turki. Jadi, para relawan segera menghubunginya untuk meminta bantuannya menerjemahkan lagu itu ke bahasa Arab
Tuan Hu tidak banyak berpikir dan langsung menerima tugas ini. Dia pun mulai menerjemahkan dengan sungguh-sungguh. Setelah menerjemahkan liriknya, dia juga tahu bahwa hasil terjemahan itu harus dapat dinyanyikan dan tidak boleh lari dari makna bahasa asalnya. Karena itu, dia sendiri khawatir apakah tata bahasanya cukup indah dan dapat sesuai dengan makna lagu itu. Dia lalu teringat seorang temannya yang dia kenal sejak masa kuliah
Kemampuan tata bahasanya sangat baik, tetapi dia tinggal di Palestina. Tuan Hu menggunakan sambungan internasional untuk meminta bantuan temannya ini memperbaiki tata bahasa terjemahannya. Mereka berdua berbicara di telepon hingga sekitar 45 menit untuk menyelami makna lagu ini dan memperindah tata bahasanya tanpa mendistorsi makna lirik aslinya. Jadi, mereka terus berdiskusi tentang keindahan kalimat dan ketepatan makna serta tata bahasa lirik itu. Mereka menghabiskan 45 menit. Setelah merasa puas akan terjemahannya, mereka mencoba menyanyikannya untuk mengetes kesesuaian lirik dan iramanya, kemudian merekamnya
Saat mereka merasa puas dengan hasilnya, ternyata waktu sudah berlalu 45 menit. Lalu, Tuan Hu dan istrinya semalaman terus mengulang lagu itu dan merasa sangat gembira. Pada pagi harinya, tuan Hu bergegas berangkat kerja. Berhubung tugas penerjemahan sudah selesai, dia pun merasa tenang
Dia berangkat kerja dengan penuh semangat. Dia menyetir mobilnya melewati jalan yang biasa dilaluinya hingga ke daerah dekat kantornya. Tiba-tiba, ada tiga sampai empat mobil mengepungnya dari depan, belakang, dan samping. Para pengepung ini satu per satu turun dari mobil. Tuan Hu pun sangat terkejut dan mengira dirinya sedang dirampok
Dia pun segera turun dari mobil. Salah satu dari pengepungnya segera mendoronya masuk ke salah satu mobil dan menutupi kepala serta wajahnya dengan sehelai kain penutup. Tuan Hu tak dapat melihat apa-apa dan tidak tahu dibawa ke mana. Dia dibawa oleh para pengepung ke tempat lain. Dia merasa waktu berjalan lambat dan sangat sulit dilalui. Dia pun tidak tahu ke arah mana dan ke tempat apa dia dibawa. Dia pun tak paham apa yang terjadi
Jadi, dia merasa sangat panik di dalam mobil. Lalu bagaimana? Saudara sekalian, ceritanya masih akan berlanjut. Cerita ini masih panjang dan waktu kita sudah tidak cukup. Besok saya akan melanjutkan cerita ini. Cerita ini adalah 24 jam paling berbahaya yang dialami oleh Tuan Hu. Saudara sekalian, kehidupan memang tidak kekal. Tadinya, Tuan Hu sangat gembira karena baru menyelesaikan sebuah misi membanggakan
Dia berangkat dengan penuh sukacita. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi. Tiba-tiba dia ditimpa kejadian seperti itu. Inilah ketidakkekalan. Bahaya dan keselamatan bagi manusia bedanya sangat tipis
Bagaimana kita menghadapinya? Batasan ini sangat tipis. Jika kita berjalan menyimpang sedikit saja, maka kita mungkin melanggar batas tipis ini. Jadi, dalam kehidupan sehari-hari, kita harus selalu mawas diri
Baik dalam ucapan maupun tindakan saat berhadapan dengan orang dan masalah, semuanya harus kita jaga. Jadi, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus selalu bersungguh hati, terlebih lagi ketidakkekalan hanya sebatas tarikan napas. Ketidakkekalan selalu ada di sekitar kita. Bolehkah kita tidak mawas diri? Jadi, kita harus selalu bersungguh hati.