Sanubari Teduh – 179 – Enam Praktek 10 Bhumi Bagian 6-2
Saudara se-Dharma sekalian, kondisi hati kita sangat tenang. Setiap pagi saya merasa saat-saat ini paling menyenangkan. Saat kondisi luar dan batin menyatu, inilah kondisi yang paling indah. Karena itu, kita harus berusaha agar batin kita senantiasa hening dalam setiap kondisi tanpa terusik nod abating. Jika kita dapat melenyapkan noda batin, jika batin kita berada dalam keheningan, maka seperti apa pun kondisi di luar, tak akan membawa kekacauan bagi batin kita. Jika kita harus bergantung pada kondisi luar untuk membuat batin kita tenang, ini berarti keterampilan kita belum cukup
Dalam kondisi tenang, kita juga harus selalu menjaga ketenangan batin kita, bahkan kita harus maju selangkah lagi, yakni saat kondisi luar tidak tenang, batin kita harus tetap tak tergoyahkan. Inilah keterampilan yang sesungguhnya. Sama seperti cahaya bulan di langit, asalkan kita berjalan keluar dan melihat ada cahaya bulan, maka segala kondisi di luar akan terlihat. Bulan bersinar lebih terang pada saat purnama, dan lebih redup saat bulan sabit. Purnama dan bulan sabit hanyalah kondisi. Kondisi itu pun selalu berubah baik karena perputaran bumi maupun perputaran bulan sendiri. Karena itu, ada bulan purnama dan bulan sabit. Sesungguhnya, bulan tetap tidak berubah
Bukan hanya bulan, matahari pun begitu. Matahari juga demikian. Jadi, bendanya pada dasarnya tetap, hanya saja kondisinya yang berubah. Begitu pula dengan hakikat sejati kita, hanya saja kondisi luar terus berubah. Jadi, matahari dan bulan tetap pada bentuknya yang semula. Sebaliknya, pikiran kita tidak dapat teguh di tengah perubahan kondisi. Pikiran kita tidak bisa tidak terpengaruh kondisi. Begitulah batin makhluk awam. Sesungguhnya, jika kita dapat berlatih hingga pikiran kita tak terpengaruh kondisi, maka ia akan sama seperti matahari dan bulan yang selalu bulat
Untuk mengembangkan kemampuan ini, kita harus sangat bersungguh hati. Mengenai Bhumi Manifestasi, juga dibahas mengenai hakikat murni diri kita. Seperti yang tadi kita bahas, saat kondisi luar berubah, kita pun ikut terpengaruh. Kemurnian pun berubah menjadi ternoda. Karena itu, di dalam pembahasan Sepuluh Bhumi, hanya ada satu hal yang ingin disampaikan kepada kita, yakni batin harus dijaga kemurniannya. Sebelumnya telah dibahas tentang Bhumi Kebijaksanaan Membara. Artinya, kebijaksanaan telah memancar. Dengan demikian, hakikat sejati kita seharusnya juga tampak pada saat itu, bagaikan matahari yang terbit setelah malam berlalu, keadaan pun menjadi terang benderang. Demikian pula, sesungguhnya batin kita menyimpan potensi yang tidak terhingga
Kita memiliki cahaya hakikat sejati yang lapang dan setara. Akan tetapi, kondisi luar membuat hakikat ini tertutup. Akibatnya, kita hanya melihat kondisi luar dan tidak melihat ke dalam batin. Setelah kebijaksanaan membara terealisasi, maka kebijaksanaan ini akan menyinari batin kita. Dengan begitu, hakikat sejati kita pun tampak. Bagaimana sebenarnya sifat hakiki kita? Mampu merangkul semuanya. Merangkul artinya tidak membeda-bedakan. Kita tidak membedakan orang yang dikasihi atau yang dibenci
Kita telah memahami bahwa pertemuan antarmanusia adalah berkat jalinan jodoh. Orang yang sangat kita kasihi sekalipun suatu hari pasti akan berpisah dengan kita saat jalinan jodoh berakhir. Ini adalah hukum alam. Ada pula orang yang menjalin jodoh tidak baik. Mulanya hubungan mereka baik-baik saja, hingga suatu saat timbul masalah dan timbullah kebencian yang tidak ada habisnya. Di dalam keluarga sering ada kondisi seperti ini. Suami dan istri sering bertengkar
Jika dikatakan tidak mencintai pasangan mereka, tidak juga. Dalam pertemuan pagi relawan, saya sering mendengar kisah seperti ini. Akan tetapi, jika salah satu jatuh sakit, pasangannya juga sangat khawatir. Namun, saat berbicara, mereka malah sering adu mulut. Mereka jelas saling mencintai, tetapi saat berbicara selalu berujung pada pertengkaran. Beginilah hubungan “benci tetapi sayang”
Ini adalah hubungan yang sangat kompleks. Akan tetapi, ada pula jenis lainnya. Meski hidup sebagai satu keluarga, mereka mengutuk pasangannya cepat pergi. Bahkan, yang lebih parah, ada yang mencelakai orang demi harta. Demi uang, mereka tak peduli hubungan keluarga. Ini semua akibat noda batin. Inilah pembedaan yang dibuat makhluk awam. Dengan orang yang disuka, mereka berharap dapat selalu bersama
Jika dapat sefrekuensi saat berbicara, mereka akan suka terhadap orang itu. Jika tidak sefrekuensi, mereka akan menolaknya. Suka dan tidak suka dibedakan dengan jelas. Jadi, inilah diskriminasi. Saat hati merasa nyaman dengan seseorang, kita sangat mengasihinya. Saat merasa tidak nyaman, kita menolaknya. Inilah perbedaan cinta dan benci. Perasaan cinta bisa sangat dalam. Kebencian pun dapat berubah menjadi dendam
Hal duniawi ini tidak jelas dan tidak akan habis dibahas. Kini, setelah cahaya batin kita memancar, kita telah dapat memahami semuanya dengan jelas. Cinta tidak berlangsung selamanya, begitu pula dengan kebencian dan dendam. Kalau begitu, untuk apa kita begitu perhitungan? “Yang ini saya suka, yang ini saya tidak suka.” Jadi, janganlah perhitungan. Jangan pula membanding-bandingkan. Sikap perhitungan dan membandingkan membuat kegelapan batin kita semakin bertambah. Jika kita dapat meredakan segala emosi akibat cinta dan benci, maka kita tak akan lagi membeda-bedakan
Tidak akan ada lagi pembedaan seperti itu. Tiada yang sangat kita sukai atau sangat kita benci. Semua itu bukanlah perasaan yang kekal. Kita memahaminya. Segala sesuatu pasti berlalu. Rasa cinta atau suka pasti akan berlalu, rasa benci juga akan berlalu. Semua akan berlalu seiring waktu
Jika kita dapat melihat semua ini dengan jelas, maka apa lagi yang kita risaukan? Segala hal akan berlalu. Karena tahu semuanya akan berlalu, maka janganlah menyimpan rasa benci di hati, juga jangan melekat. Ini yang disebut “tak lagi ada”. Tak ada lagi perbedaan. Tak ada lagi yang paling kita kasihi, dan tak ada lagi yang paling kita benci. Semuanya akan berlalu. Jika dapat merealisasikan ini, maka hakikat murni kita akan termanifestasi. Hakikat sejati kita yang murni dan cemerlang akan tampak. Banyak orang mencari kebenaran sejati. Ke mana mencarinya? Sesungguhnya, ada di dalam batin kita. Asalkan kita tidak perhitungan terhadap masa lalu, baik karena kehilangan sesuatu yang dikasihi maupun bertemu sesuatu yang dibenci, maka tidak akan timbul kerisauan dalam batin kita
Dengan begitu, batin kita akan selalu murni. Kemurnian ini akan terus termanifestasi dalam kehidupan kita sehari-hari. Jadi, di dalam Sutra dikatakan, “Kedemikianan tak terkondisi, kemurnian hakikat sejati tampak.” Tidak terkondisi berarti tiada di masa lalu, tidak terlihat, dan tidak dapat diraba. Yang ada hanya perasaan. Sesungguhnya, tiada yang terbentuk. Semuanya hanya perasaan
Tiada sesuatu yang berwujud. Karena itu, jika kita bisa tidak melekat, maka kita akan mencapai kedemikianan. Kita tak bisa mencapainya karena kemelekatan. Jelas-jelas pada dasarnya semua adalah kosong, tiada sesuatu yang muncul dengan sendirinya. Hanya karena berbagai sebab dan kondisi yang berpadu, sesuatu timbul dan membuat kita senang atau sebaliknya. Hanya begitu saja
Sesungguhnya, pada mulanya, semuanya adalah kosong, tidak dapat kita lihat, yang ada hanya energi. Karena itu, dikatakan segala sebab musabab bersifat kosong. Janganlah kita melekat, karena pada dasarnya tiada sesuatu pun. Contohnya, saat kita duduk di sini, baik cuaca dingin maupun panas, ada sesuatu yang selalu ada saat kita duduk. Kita dapat merasakan dingin atau panas, tetapi kita tidak merasakan sesuatu ini. Sesuatu ini adalah udara
Jika sirkulasi udara baik, kita dapat duduk dengan nyaman di sini. Baik dingin maupun panas, kita tetap dapat duduk dengan nyaman. Jika kita menutup ventilasi udara, kita akan mengalami kesulitan bernapas. Jadi, kita harus tahu bahwa ada sesuatu yang tidak kita lihat meski sering kita temui dalam keseharian. Ini disebut kekosongan. Akan tetapi, sesuatu ini tetap memiliki hakikat
Hakikat ini tidak terlihat. Inilah kekosongan. Meski kelihatannya tidak ada apa-apa, tetapi dapat membuat orang merasa menderita. Sesuatu yang membuat orang menderita inilah yang disebut sebab musabab. Sesungguhnya, semua sebab ini adalah kosong. Jadi, inilah yang disebut tak berkondisi. Ia bukan sesuatu yang dapat kita pegang atau lihat sebentar
Sesuatu yang tak berwujud ini disebut yang tak berkondisi. Akan tetapi, kita seakan merasakan sesuatu. Ini yang disebut kegelapan batin. Banyak hal yang tak dapat kita lihat, tetapi kita malah merasa risau karenanya. Jika semua ini lenyap, maka kedemikianan yang tak terkondisi akan tampak. Hakikat sejati pun murni kembali. Karena semua noda batin ini tiada lagi, maka hakikat yang murni dengan sendirinya memancar dan tampak. Intinya, banyak hal yang sesungguhnya sederhana
Kebijaksanaan murni yang setara sesungguhnya dimiliki oleh kita semua. Kebijaksanaan haruslah memandang setara. Jadi, dikatakan, “Kebijaksanaan murni yang setara melenyapkan pandangan emosional.” Jika pandangan emosional dapat dilenyapkan, maka tiada lagi keakuan. Inilah yang kita sebut memperluas dedikasi saat membahas sepuluh dedikasi. Kita harus bisa melepas keakuan atau ego. Sesuatu yang sudah berlalu biarlah berlalu. Di manakah kita harus meletakkan makna dan nilai kehidupan kita? Kita harus meletakkannya pada semua makhluk
Kita harus bersumbangsih bagi semua makhluk di dunia dan mengembangkan makna hidup kita. Ini tentu juga membutuhkan jalinan jodoh. Kita membutuhkan sebuah jalinan jodoh istimewa. Karena itu, kita memiliki Tzu Chi. Tzu Chi bukan hanya ada di suatu tempat tertentu. Ia tersebar di seluruh dunia. Banyak penderitaan di dunia ini. Di mana pun insan Tzu Chi berada, mereka pasti menolong orang yang menderita. Di mana pun bencana terjadi, Bodhisattva dunia akan tiba di sana
Bodhisattva ini dapat terlihat oleh mata, dapat mengulurkan tangan untuk menghibur dan merangkul warga. Mereka adalah Bodhisattva hidup. Mereka merangkul semua makhluk yang menderita di dunia. Tanpa adanya jalinan jodoh istimewa, tanpa adanya wadah yang mengakomodasi, maka sebesar apa pun cinta kasih kita, ia hanya akan berdampak pada lingkungan sekitar. Insan Tzu Chi di suatu negara yang tergolong sejahtera berkata kepada saya, “Master, di sana sulit untuk berbuat amal.” “Mengapa?” “Tingkat kesejahteraan di sana sudah bagus, dana amal entah harus digunakan untuk apa.” Saya berkata kepada mereka, “Kalau begitu pergilah ke negara yang membutuhkan.” Contohnya, insan Tzu Chi dari Kanada. Kanada tergolong negara yang tenteram
Orang-orang menunjukkan cinta kasih dengan bersumbangsih. Untuk bersumbangsih, tentu harus ada penerima. Berhubung tidak ada penerima, maka kesempatan bersumbangsih di sana sangat sedikit. Karena itu, saat terjadi bencana tsunami di Asia, Relawan Ho segera menghubungi saya dan bertanya, “Master, bolehkah kami pergi ke Sri Lanka?” “Saya ingin membawa sekelompok orang penuh berkah dari Kanada untuk menciptakan berkah.” Saya menyetujuinya. Jadi, ada insan Tzu Chi dari Amerika Serikat, Malaysia, Singapura, dan negara lain dengan total delapan negara pergi ke Sri Lanka. Lalu, melihat ketidakkekalan di dunia dan begitu banyak orang yang menderita, welas asih orang-orang dari Kanada tadi pun terbangkitkan
Sepulangnya ke Kanada, mereka berbagi kepada semua orang bahwa kehidupan sungguh tidak kekal. Penderitaan di dunia sungguh banyak. Kehidupan warga pascabencana sangat memprihatinkan. orang-orang ini terus berbagi. Saat Badai Katrina menerjang New Orleans, insan Tzu Chi Kanada kembali bertanya pada saya, “Bolehkah saya membawa sekelompok orang dari Kanada?” “Mereka semua mendaftarkan diri dengan antusias.” “Bolehkah kami pergi ke Amerika Serikat?” “Pergilah.” Mereka pun pergi
Mereka dibagi ke dalam dua tim yang pergi bergantian. Mereka berada di AS selama lebih dari setengah bulan. mereka kembali berbagi dengan warga setempat. Mereka berusaha menyadarkan orang-orang bahwa meski AS adalah negara adidaya, tetapi saat alam tidak selaras dan bencana terjadi, negara kuat seperti AS pun tak kuasa menolaknya. Saya pernah mengatakan bahwa kita harus ingat bahwa di tengah bencana yang menggemparkan, kita harus sadar dan mengambil hikmahnya. Mereka sangat antusias. Dari laporan wartawan dan berita di radio, saya mendengar bahwa mereka terus-menerus berbagi tentang kebenaran akan ketidakkekalan dan telah menginspirasi banyak orang. Banyak orang yang merasa semua manusia hendaknya mawas diri dan berhati tulus
Inilah yang terjadi di Kanada. Hakikat murni dalam diri mereka sudah tampak. Mereka tahu bagaimana cara mengulurkan tangan bagi orang-orang yang menderita dan mengembangkan makna kehidupan ini. Jadi, mereka mampu merangkul semua makhluk di dunia. Pahala Sutra Makna Tanpa Batas terletak pada tekad, praktik, welas asih, dan kebijaksanaan. Dalam Sutra Makna Tanpa Batas, terdapat bab Sepuluh Pahala. Isinya tak lepas dari tekad, praktik, welas asih, dan kebijaksanaan. Intinya, kita harus bersumbangsih secara nyata. Kita harus membimbing semua makhluk keluar dari penderitaan lahir batin
Ada orang yang meski hidupnya baik-baik saja, tetapi batinnya dipenuhi noda dan kerisauan. Memiliki banyak uang, berkedudukan tinggi, dan berkuasa belum tentu menjamin kebahagiaan hidup. Orang tua yang memiliki banyak anak juga belum tentu beruntung. Adakalanya banyak anak membawa banyak masalah. Selain itu, banyak harta juga bisa membawa banyak kerisauan karena saat memiliki banyak harta, kita juga merasa takut kehilangan. Jadi, bencana batin ini sering kali ada. Demikianlah kondisi makhluk awam. Perasaan cinta, benci, dan dendam adakalanya sulit terurai. Inilah yang disebut bencana batin
Ada pula orang yang bertemperamen buruk dan sangat mudah marah serta menyimpan dendam. Di bumi ini sering terjadi tanah longsor atau gunung meletus. Dalam batin manusia sendiri juga adakalanya terjadi tanah longsor Inilah yang terjadi dalam batin manusia. Jika batin tidak dapat tenang, maka kita tidak akan bisa membantu korban bencana. Kita harus menolong diri sendiri terlebih dahulu. Kita harus menolong diri sendiri dan mengembalikan kedamaian batin. Untuk itu, dibutuhkan cara
Jika dapat menemukan orang yang berjodoh yang dapat membimbingnya untuk melihat kebenaran dengan jelas, maka dengan bimbingan ini, seseorang akan dapat berintrospeksi. Dengan begitu, dia dapat menolong batinnya sendiri. Selain itu, ada pula bencana alam. Dalam ketidakkekalan yang terjadi sekejap itu, banyak orang kehilangan anggota keluarga dan kehilangan harapan masa depan. Baik dalam bencana batin maupun bencana fisik, dibutuhkan adanya orang yang menolong. Jika insan Tzu Chi bertambah satu orang, maka kekuatan pun akan bertambah untuk menjalankan misi mulia membangun sebuah keluarga besar hingga seluruh dunia menjadi satu keluarga
Kita harus menggerakkan ini di seluruh dunia. Semoga setiap orang dapat melenyapkan kegelapan dan noda batin. Semoga setiap orang dapat kembali pada kebenaran. Semoga hakikat sejati dapat memancar dan melenyapkan pandangan emosional. Semoga setiap orang dapat mengembangkan makna dan potensi kehidupan masing-masing. Inilah tujuan ajaran Buddha bagi kita
Jadi, mengenai Bhumi Manifestasi, kita diajarkan untuk sungguh-sungguh membangun kemurnian batin sehingga dapat melihat kebenaran dengan jelas. Jangan biarkan terjadi tanah longsor atau gunung meletus dalam batin kita. Terlebih lagi, jangan sampai terjadi banjir atau badai dalam batin kita. Untuk itu, kita harus sungguh-sungguh menjaga batin kita
kemurnian hati kita yang pada dasarnya sangat indah akan tampak. Kita semua pada dasarnya memiliki kecemerlangan cinta kasih yang sama dengan Buddha. Jadi, harap semua selalu bersungguh hati.
.