Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 178 – Enam Praktek 10 Bhumi Bagian 6-1

Saudara se-Dharma sekalian, di masa-masa pergantian iklim, udara kadang dingin, kadang panas. Cuaca masih belum stabil. Kita harus memperhatikan kesehatan sendiri. Begitu pula dalam melatih diri. Berbagai hal dalam kehidupan kita mengalami pasang surut. Kadang kita bahagia, kadang kita risau

 Inilah iklim dalam kehidupan manusia. Jadi, melatih diri sama dengan menjaga kesehatan tubuh. Saat iklim dalam tubuh ini tidak stabil, kita harus memperhatikan kesehatan kita, terlebih pikiran kita sebagai makhluk awam. Dalam kehidupan yang penuh masalah ini, mana boleh kita tidak sungguh-sungguh menjaga tekad kita untuk melatih diri. Jadi, Saudara sekalian, Tekad dan pikiran keliru bagai dua rel sejajar. Saat kita berjalan di atasnya, sesungguhnya mana yang membawa pada jalan yang lapang dan indah? Mungkin saat berganti rel, jalan yang tadinya rata akan menjadi banyak rintangan dan kegelapan. Mungkin saja. Jadi, sepanjang perjalanan ini, kita harus memantapkan hati kita

 Mengenai batin kita, untuk membuat kita lebih memahaminya, Buddha membabarkan Sepuluh Bhumi. Ini agar kita memiliki metode untuk memantapkan batin kita, membuat praktik kita aman, dan membuat hati kita lapang. Inilah bimbingan bertahap Buddha bagi kita. Kita telah membahas Bhumi Tak Terkalahkan. Artinya, menjalankan yang sulit dijalankan. Semua makhluk di dunia memiliki 84.000 jenis noda batin

 Di tengah banyaknya noda batin yang kompleks, untuk terlepas dari kegelapan batin sehingga cahaya kebijaksanaan kembali memancar sungguh amat sulit. Ini karena kita adalah makhluk awam. Lihatlah para staf badan misi Tzu Chi. Mereka kembali ke Griya Jing Si. Pada pagi hari, semua mendengar Dharma dengan penuh sukacita. Mereka saling berbagi kisah. Mereka merasa itu kesempatan yang luar biasa. Setelah orang-orang berbagi kisah, mereka berbagi kesan dan perasaan sehingga membangkitkan semangat mereka di Jalan Bodhisattva Tzu Chi

 Mengenai Jalan Bodhisattva ini, mereka bertekad untuk bersama-sama menapakinya. Ini yang disebut membimbing untuk mempraktikkan Jalan Bodhisattva. Meski di siang hari mereka sangat gembira, tetapi saat akan tidur di malam hari, mereka mungkin mengalami kesulitan. Pertama, alas tidur. Di antara yang berbagi kesan dan pesan, tiada yang tak mengungkit alas tidur. Dari sini kita tahu ini sulit bagi mereka

 Selain itu, mereka harus bangun pagi. Ada yang takut terlambat bangun sehingga tidak berani tidur. Ada orang yang merasa baru saja tidur, harus kembali bangun untuk kebaktian pagi. Cuaca di musim panas masih cukup baik, tetapi di musim dingin, mereka akan lebih kesulitan. Ini yang disebut sulit dilakukan

 Mereka melakukan yang sulit dilakukan dan mengikuti semuanya secara alami tanpa ada masalah yang berarti. Inilah praktisi pembina diri. Para praktisi di vihara, sepanjang tahun seumur hidup mereka harus bangun sekitar pukul tiga pagi. Tak peduli cuaca dingin atau panas, mereka telah mengatasi segala kesulitan

 Kesulitan untuk tidur kini sudah teratasi. Jadi, tiada lagi masalah. Kita sudah bisa melakukan yang sulit dilakukan. Di dalam kehidupan sehari-hari, kita sudah dapat mengatasi kesulitan. Kesulitan ini telah kita taklukkan. Contohnya, saat diberikan tugas, kita ditanya apakah ada kesulitan. Meski kelihatannya sulit, kita yakin bisa melakukannya

 “Apakah Anda bisa mengatasinya?” “Saya bisa mengatasinya.” Inilah yang disebut mengatasi kesulitan. Inilah yang disebut menaklukkan. Jadi, Bhumi kelima disebut Bhumi Tak Terkalahkan. Sebelumnya kita telah membahas perbedaan dan kemanunggalan

 Saat dapat melampaui keduanya, kita akan dapat melenyapkan pandangan emosional terhadap pasangan, keluarga, dan orang lain. Untuk benar-benar dapat memandang setara terhadap orang yang kita kenal dan orang yang kita tidak kenal dan orang yang  kita tidak kenal tidaklah mudah. Karena itu, dikatakan, “Pandangan kemanunggalan dan perbedaan tak lagi ada.” Di awal dikatakan bahwa tiada yang sama dan tiada yang tidak sama. Tiada orang kelompok sendiri atau orang lain, tiada orang dekat atau orang jauh. Semuanya setara. Berhubung tak lagi membedakan, berarti kita tak lagi terikat pada wujud

 Tiada lagi yang dibedakan. “Hakikat murni kedemikianan pun tampak.” Kedemikianan adalah kemurnian. Hakikat sejati kita sangat murni. Saya sering mengatakan kepada kalian bahwa hakikat sejati pada dasarnya murni tak bernoda. Tak bernoda berarti murni. Hakikat sejati kita pun tampak. Jika kita bebas dari noda, hakikat kita yang cemerlang akan tampak. Seperti lampu, jika ditutupi atau dikotori sesuatu, cahayanya tak akan terpancar

 Jadi, jika kita membuang diskriminasi, cahaya kemurnian pasti akan tampak. Jika memiliki pandangan kesetaraan, kita tidak akan bersikap diskriminatif. Dengan begitu, hakikat kebuddhaan akan tampak. Intinya, perbedaan makhluk awam dan Buddha hanya terletak pada noda batin. Yang penuh noda disebut makhluk awam, sedangkan yang murni disebut Buddha. Yang memiliki ego disebut makhluk awam, yang tak punya keakuan disebut Buddha. Hanya di sinilah bedanya. Jadi, “Kebijaksanaan murni yang setara melenyapkan pandangan emosional

” Kebijaksanaan yang murni dan setara baru dapat melenyapkan pandangan emosional, bahkan perasaan yang rumit juga dapat terurai. Kita semua harus tahu bahwa selain perasaan cinta dan benci, masih ada emosi-emosi diri lainnya. Jadi, orang yang emosional kadang tidak dapat melihat kebenaran dengan jelas. Saat dipengaruhi emosi atau saat emosi sedang meningkat, kita juga tidak bisa berpikir jernih. Jadi, kecuali kita memiliki kebijaksanaan murni yang dapat melenyapkan pandangan emosional, emosi kita akan membelenggu kita atau kita akan merasa terganggu oleh masalah di luar. Asalkan kita memiliki kebijaksanaan murni, dengan sendirinya pandangan emosional akan lenyap. Bagaimana ego dan ketanpaakuan tampak? Ini bergantung pada lingkungan

 Karena itu, saya sering berkata bahwa Tzu Chi berdiri karena jalinan jodoh luar biasa. Jalinan jodoh apa? Banyaknya penderitaan di dunia ini. Bodhisattva muncul karena adanya makhluk yang menderita. Demi semua makhluk yang menderita, Buddha terus datang ke dunia. Tujuannya tak lain adalah melenyapkan noda batin semua makhluk dan membangkitkan cinta kasih setara Buddha dalam diri setiap orang. Akan tetapi, karena makhluk awam telah menutup hati, maka ego dan pandangan salah terus tumbuh sehingga menambah banyak noda batin di dunia. Noda batin dapat terwujud ke dalam tindakan. Tindakan dapat membawa kekacauan masyarakat

 Ulah manusia ini dapat menciptakan karma kolektif yang membawa bencana. Jadi, banyaknya bencana yang terjadi semua disebabkan oleh pandangan keliru manusia. Karena itu, Buddha terus datang dan mengajar di dunia demi menolong semua makhluk. Kita adalah murid Buddha. Semua orang yang telah menyatakan perlindungan adalah murid Buddha. Murid Buddha harus memikul misi Buddha. Buddha datang demi semua makhluk

 Inilah misi Buddha. Berhubung kita adalah murid Buddha, maka kita harus memikul misi ini. Inilah tujuan utama kita, yakni membangun Tzu Chi demi semua makhluk. Jadi, misi insan Tzu Chi adalah merangkul semua orang yang menderita di dunia. Saudara sekalian, lihatlah insan Tzu Chi yang merupakan Bodhisattva dunia. Di mana pun bencana terjadi, kita akan dapat melihat insan Tzu Chi yang menjangkau orang-orang yang kesulitan. Mereka mengulurkan tangan dan merangkul orang-orang yang menderita

 Inilah Bodhisattva hidup di dunia. Tingkatan Bodhisattva dicapai di alam manusia ini. Setiap orang hendaknya tidak hanya mementingkan diri sendiri. Saat orang lain tak dapat keluar dari kesulitan, kita harus membantu mereka mengatasinya karena kita memiliki berkah. Jadi, kita menjangkau mereka. Inilah Bodhisattva dunia

 Melihat para Bodhisattva ini merangkul mereka yang menderita, orang-orang sangat tersentuh. Inilah yang disebut mempraktikkan Sutra. Banyak orang sering melantunkan Sutra. Kita harus tahu bahwa Sutra adalah jalan. Karena itu, lebih baik mempraktikkan Sutra. Jadi, dalam Sutra Makna Tanpa Batas dikatakan bahwa kita hendaknya menjadi guru yang tak diundang bagi semua makhluk di dunia. Kita juga harus menjadi nakhoda perahu cinta kasih bagi mereka. Sebagai nakhoda, kita harus berusaha menyeberangkan semua makhluk dari penderitaan menuju jalan yang lapang. “Pahala Sutra Makna Tanpa Batas terletak pada tekad, praktik, welas asih, dan kebijaksanaan

” Semua orang bertekad dan melakukan praktik dengan welas asih serta kebijaksanaan. Inilah pahala dalam Sutra Makna Tanpa Batas. Kita harus melakukan praktik nyata untuk menyelamatkan dunia dari bencana. Ada bencana batin, ada pula bencana fisik. Di dunia ini, contoh bencana fisik adalah gempa di Pakistan. Setelah gempa terjadi, cuaca terus semakin dingin. Suhu udara terus menurun

 Bagaimana mereka yang kehilangan tempat tinggal harus bertahan hidup? Untuk sementara waktu, mereka dapat bertahan di dalam tenda, tetapi bagaimana saat udara semakin dingin? Jika diingat kembali, rumah-rumah di New Orleans, Amerika Serikat juga pernah digenangi banjir besar dan dihantam badai berkekuatan besar. Banyak rumah yang hancur dan roboh akibat badai dan banjir. Bahkan, saat bencana terjadi di sana, sistem keamanan pun lumpuh. Ada orang yang menjarah milik orang lain, lalu melakukan pembakaran

 Sungguh, bukan hanya bangunan fisik yang hancur, moralitas manusia juga hancur. Bahkan moralitas manusia pun dapat rusak akibat bencana. Bencana alam sudah begitu besar dan membawa penderitaan, kini ditambah ulah manusia yang menjarah. Itu adalah bencana besar. Akan tetapi, di tengah banyaknya bencana, siapa yang memberi penghiburan dan terjun ke lokasi bencana? Saya katakan, insan Tzu Chi. Warga New Orleans berusaha mengungsi ke berbagai daerah di negara bagian lain. Orang-orang yang dapat dijangkau insan Tzu Chi pasti mendapat perhatian dan rangkulan kasih. Insan Tzu Chi akan menenangkan hati mereka dan membantu mereka dari segi materi

 Tentu yang terpenting adalah penghiburan batin. Jika bukan Bodhisattva yang datang bermanifestasi, siapa yang dapat melakukan ini? Jika bukan orang yang memiliki kebijaksanaan yang cemerlang dan setara, siapa yang dapat melakukannya? Jadi, dikatakan, “Kedemikianan tidak terkondisi, kemurnian hakikat sejati tampak.” Orang yang sudah menemukan hakikat murni tidak akan mementingkan diri sendiri, melainkan bersedia bersumbangsih bagi makhluk yang menderita. Ini sungguh tidak mudah. Jadi, setelah Bhumi Tak Terkalahkan, Berikutnya adalah Bhumi Manifestasi. Hakikat kebuddhaan kita harus digunakan dan dimanifestasikan bagi semua makhluk. Di mana ada kesulitan, kita harus berada di sana. melatih diri tidaklah mudah, Akan tetapi, asalkan dapat mengubah pola pikir, kita pasti dapat mengatasi segala rintangan

 Kita harus mengatasi rintangan dengan kebijaksanaan dan terus melangkah maju. Bodhisattva Bhumi Manifestasi telah mencapai kedemikianan yang tak terkondisi dan hakikat yang murni dan cemerlang. Semoga setiap orang menyucikan hati sehingga kebijaksanaan kita dapat memancarkan kecemerlangan. Untuk itu, kita harus bersungguh hati

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

https://www.geocities.ws/moulmaths/

https://www.geocities.ws/digitalanam/

rp888

rp888