Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 177 – Enam Praktek 10 Bhumi Bagian 5

Saudara se-Dharma sekalian, waktu terus berlalu tanpa kita sadari. Kita tinggal di tempat ini dengan empat unsur yang selaras dan dapat hidup dengan tenteram. Yang harus lebih kita syukuri adalah dapat hidup di ladang pelatihan ini dengan harmonis dan saling mengasihi. Dapat melalui hari-hari dengan bahagia, kita harus sangat bersyukur. Banyak hal yang sangat sulit di dunia ini. Kondisi makhluk awam dalam setiap waktu dan tempat di dunia ini serta dalam hubungan antarmanusia sulit untuk senantiasa tenteram tanpa masalah sedikit pun setiap hari. Akan tetapi, kita dapat berada di sini, di tempat dengan empat unsur yang selaras, dan dapat hidup tenteram, maka harus lebih bersyukur

 Lihatlah insan Tzu Chi, mereka semua saling bersatu hati. Semua orang juga sangat harmonis. Semua orang memiliki tekad yang satu, yakni memberikan cinta kasih bagi semua makhluk. Kita harus bersyukur atas semua ini. Ada ungkapan berbunyi, “Segala hal mengandung kesulitan

” Setiap hal sejujurnya memang penuh kesulitan. Di mana akar kesulitannya? Di hati manusia. Banyak orang tak bisa berdamai dengan masalah. Sesungguhnya, banyak masalah sangat sederhana, hanya saja orang tidak mau membuka hati. Karena itu, orang merasa sedih dan segalanya terasa sulit dilalui. Kesulitan ini bukan terletak pada waktu. Waktu tetap berlalu tanpa henti

 Kesulitan ini juga bukan pada ruang. Segalanya bersumber pada pikiran. Jika ada tekad, maka sesulit apa pun, pasti ada jalan keluar. Ini bergantung pada pikiran. Emosi kita selalu membedakan. Ada orang yang kita kasihi

 “Saya punya perasaan terhadapnya.” Ada pula yang tidak kita sukai. “Saya punya pikiran negatif kepadanya, saya tidak suka dan benci kepadanya.” Jadi, pandangan emosional ini memengaruhi dan menyiksa batin kita. Ini karena pikiran kita tak dapat berdamai dengan orang dan masalah. Jadi, Buddha mengajarkan kepada kita bahwa kita harus mulai berlatih dari pikiran

 Jika tidak bisa melatih pikiran, maka tiada praktik yang dapat dijalankan. Jadi, mengenai melatih diri, apa yang harus dilatih? Melatih pikiran kita. Jika kita dapat menjaga pikiran dengan baik, Jika dapat melepaskan belenggu batin, maka tiada yang tak bisa diselesaikan. Jadi, mengenai yang kelima dari Sepuluh Bhumi, itulah yang Buddha katakana. Ini disebut Bhumi Tak Terkalahkan. Suatu masalah adakalanya sulit, tetapi tetap dapat diatasi

 Saat ada masalah yang sangat sulit, tetapi kita mampu mengurus, memikul, dan mengatasinya, ini sangat tidak mudah. Dikatakan, “Saat kebijaksanaan membara melenyapkan segala sentimen, maka wujud perbedaan dan kemanunggalan tidak lagi ada.” Pada tataran makhluk awam ini sangat sulit. Sebelumnya, Bhumi keempat disebut Bhumi Kebijaksanaan Membara. Sebelum Bhumi Kebijaksanaan Membara adalah Bhumi Bebas Kotoran. Kotoran adalah noda yang mencemari

 Contohnya, sebuah lampu, saat ditutupi dengan benda kotor, benda berwarna hitam, atau benda berwarna lain, maka seterang apa pun cahaya lampu itu, Akibat “noda” warna dari luar, cahaya itu akan terlihat meredup. Jika warna yang menodai lampu itu semakin tebal hingga menutupi seluruh permukaan lampu, maka meski lampu itu tetap menyala, cahayanya tidak lagi terlihat. Inilah yang disebut kotoran, juga disebut noda. Jadi, dalam melatih diri, yang pertama kali harus dilatih adalah membersihkan noda-noda ini dengan kesungguhan dan kesabaran hingga noda-noda itu semakin memudar. Dengan begitu, perlahan-lahan cahaya tadi akan terlihat terang kembali. Jadi, saat noda-noda tadi benar-benar bersih, itulah yang disebut Bhumi Kebijaksanaan Membara

 Kebijaksanaan bagai cahaya. Jika cahaya murni ini memancar, maka akan melenyapkan kegelapan. Mengenai pandangan emosional, emosi ini sangat kompleks. Alam manusia pasti berkaitan dengan manusia. Dalam hubungan antarmanusia, pasti melibatkan perasaan. Perasaan apa? Perasaan cinta? Perasaan benci? Perasaan sebal? Ada banyak jenis perasaan

 Perasaan bagaikan seutas tali. Perasaan apa pun yang kita miliki, jika membuat kita gelap batin, maka itulah belenggu. Jika ada perasaan yang membuta, maka kita akan sangat menderita. Banyak kerisauan timbul karena kita terbelenggu emosi. Dalam hubungan antarmanusia, adakalanya perasaan cinta begitu dalam. Contohnya, di dalam keluarga, ada jalinan kasih antara orang tua dan anak. Lihatlah, saat anak masih kecil, orang tua selalu menganggap anak sebagai bagian dari dirinya sendiri

 Saat sang anak mengalami suatu hal, baik pusing, demam, flu, sakit perut, menangis, maupun yang lainnya, hari orang tua pun turut bergejolak mengikuti kondisi sang anak. Melihat anak tersenyum, orang tua baru merasa tenang. Melihat anak menangis, orang tua merasa khawatir. Jalinan perasaan antara orang tua dan anak ini sangat kuat

 Seiring sang anak bertumbuh besar, perasaan orang tua terhadap anak tetap tidak berubah, takut anak merasa lapar, takut anak kedinginan, takut anak tidak lancar dalam studi, takut anak bergaul dengan teman yang tidak baik, khawatir akan pekerjaan sang anak kelak, khawatir akan keluarganya, dll. Bagi orang tua, perasaan ini tak pernah berubah. Akan tetapi, dari sisi anak, apakah mereka juga merasakan yang orang tua rasakan terhadap mereka? Adakalanya tidak. Orang tua terus mengkhawatirkan anak, tetapi anak tidak lagi memikirkan orang tua. Jadi, dalam keluarga, adakalanya tali kasih tidak berlangsung dua arah. “Tali” ini ada yang panjang dan pendek, ada yang lurus, ada pula yang tersimpul

 Ada berbagai jenis perasaan. Akan tetapi, dari segala perasaan manusia, yang terpenting adalah menjaga kemurnian. Jika dapat menjaga kemurnian pikiran, kita tidak akan terbelenggu oleh berbagai jenis perasaan. Perasaan apa yang paling murni? Dahulu bukankah saya pernah berkata bahwa Bodhisattva harus memiliki hati anak kecil, keberanian seperti singa, dan ketahanan seperti unta. Jadi, hati yang murni seperti anak kecil sangat penting bagi pembina diri seperti kita. Seperti yang sering kita bahas, sifat hakiki kita pada dasarnya adalah murni

 Cahaya kebijaksanaan pada dasarnya dimiliki setiap orang. Contohnya seperti lampu yang kita bahas tadi. Pada awalnya cahaya lampu itu sangat terang, tetapi kini tertutup oleh noda. Seiring berjalannya waktu, noda itu semakin tebal. Mulanya, noda itu tidak ada atau mungkin lebih sedikit

 Demikian pula, hati anak kecil lebih murni daripada hati kita. Perasaan anak-anak juga sangat murni. Waktu kecil, anak-anak menempel pada orang tua. Mereke menyayangi ayah mereka dan ibu mereka. Mereka tak bisa jauh dari orang tua mereka

 Mereka merasa aman berada di sisi orang tua. Lambat laun mereka tumbuh besar. Mereka pergi menuntut ilmu. Ajaran guru masuk ke dalam batin mereka. Asalkan bertemu guru yang baik yang bisa menananamkan benih baik di dalam batinnya, maka kondisi batinnya juga akan baik. Ada seorang anak berusia sembilan tahun yang membuat saya sangat tersentuh. Ibunya bercerita tentangnya dan berkata, “Anak ini sangat beruntung

” Di sekolah, anak ini diajar oleh guru anggota Asosiasi Guru Tzu Chi. Para guru ini menggunakan Kata Renungan Jing Si dalam membimbing anak-anak. Suatu hari, saat pulang dari sekolah, di jalan, sebuah taksi menabraknya. Saat dia berjalan bersama seorang temannya, taksi ini entah mengapa tiba-tiba menabrak dua anak ini. Dua anak ini menderita luka parah. Mereka berdua adalah teman sekolah

 Kecelakaan menimpa mereka di jalan. Lalu ada orang yang mengantar mereka ke rumah sakit. Sang ibu yang merupakan calon komite Tzu Chi bercerita bahwa ananaknya mengalami luka sangat parah. Saat dirawat di UGD rumah sakit, dokter menyatakan bahwa harapannya untuk tertolong sangat kecil. Akan tetapi, dokter tetap berusaha untuk menolongnya. Di ruang perawatan intensif, tubuh anak itu dipasangi banyak selang

 Saat gurunya menjenguknya, beliau membawa foto saya dan menaruhnya di tangan anak itu. Jadi, sebelah tangan anak ini memegang foto saya, sebelah lagi dipasangi jarum infus. Dia telah diinfus berbotol-botol, tetapi tetap tak sadarkan diri. Guru ini membisikkan Kata Renungan Jing Si di telinganya. Guru ini terus membisikkan kata-kata yang baik di telinganya

 Ibunya terus menjaganya. Tujuh hari kemudian sang anak sadar. Dia lalu berkata pada ibunya, “Ibu, Kakek Guru datang menjenguk saya.” “Beliau membelai kepala saya dan berpesan bahwa saya akan sembuh.” Ibunya berkata kepadanya, “Kamu harus segera sembuh, harus lebih bersemangat.” “Kakek Guru akan segera datang ke Taichung

” “Nanti saat Kakek Gurudatang, Ibu akan mengajakmu agar dibelai oleh Kakek Guru.” Inilah janji sang ibu dan anaknya. Saat anak itu dirawat, orang tua dari teman anak itu mencari ibu anak itu untuk menuntut sang penabrak. Ibu ini berpikir, anaknya di rumah selalu berbagi Kata Renungan Jing Si. Dirinya sendiri juga sudah bergabung di Tzu Chi. Apakah masih mau menuntut orang? Timbul pergumulan dalam batinnya

 Dia berpikir untuk tidak menuntut, tetapi orang itu sudah menabrak dua anak kecil. Jadi, dia sendiri sangat bingung. Suatu hari, sopir taksi itu datang menjenguk anaknya. Berhubung anak ini sudah keluar dari ruang perawatan intensif, maka sopir taksi itu dapat menjenguknya. Bapak itu melihat anak itu dan berkata, “Nak, tolong kamu maafkan Paman.” “Paman tidak sengaja

” “Kamu harus memaafkan Paman.” Ibunya terus mendengarkan tanpa bersuara. Akan tetapi, sang anak memegang tangan bapak itu dan berkata, “Paman, saya memaafkan Paman karena guru kami berkata bahwa memaafkan orang lain berarti memperindah diri sendiri.” “Saya tak akan meminta Ibu menuntut Paman.” “Ibu juga akan memaafkan Paman.” Seorang anak kecil berusia sembilan tahun dapat mengingat kata-kata ini. “Memaafkan orang lain berarti memperindah diri sendiri

” Bijaksana sekali. Jadi, ibunya yang duduk di sampingnya juga terkejut sesaat ketika mendengarnya. Dia juga sangat tersentuh. Jadi, dia berpikir, “Jika anak saya saja begitu lapang dada, begitu polos, dan begitu penuh cinta kasih, untuk apa saya begitu perhitungan?” Dia pun berdiri dan berkata kepada sopir taksi itu, “Tenang saja, asalkan anak saya tertolong, itu sudah cukup.” “Saat itu kita semua hanya kurang beruntung.” Jadi, sopir taksi ini pun merasa tenang

 Ibu ini juga tahu bahwa sang sopir juga harus bekerja keras. Hidupnya juga sudah cukup sulit, maka dia harus bekerja sebagai sopir taksi. Jadi, ibu ini memutuskan untuk tidak menuntutnya, yang penting anaknya dapat pulih

 Ibu ini kemudian juga berbagi banyak Kata Renungan Jing Si yang sering dipelajari anaknya dari saya atau gurunya. Ibu ini mendapat pelajaran dari anaknya. Ternyata ibu ini awalnya sangat emosional dan mudah marah. Dia punya banyak ketidakpuasan terhadap keluarganya. Berkat anaknya yang berhati murni dan polos serta bajik ini, ibunya pun turut terbimbing dan berubah

 Selain anak itu sendiri yang bebas dari pandangan emosional, dia juga dapat membimbing ibunya karena berkat kemurnian hatinyalah ibunya turut terpengaruh sehingga mampu melepaskan belenggu di hati dan dapat turut merasakan kesulitan orang lain. Dia sendiri harus bekerja untuk dapat bertahan hidup, apalagi sang sopir taksi itu. Dengan pemikiran sederhana itu, sang ibu dapat mengubah semua pandangan emosionalnya. Dengan demikian, apa lagi yang dirisaukan? jika kita tidak terlalu perhitungan dan tidak merisaukan untung rugi, maka itulah kondisi kebuddhaan. Jadi, hati anak kecil harus dimiliki semua praktisi pembina diri. Ini begitu sederhana

 Dengan begitu, Bhumi Tak Terlalahkan tidak sulit dicapai. Jika Anda tidak menganggap sesuatu itu sulit, maka semuanya akan bisa diatasi. Bisa teratasi berarti bisa terselesaikan. Apa lagi yang tak dapat diselesaikan? Jika bisa diselesaikan, maka sesulit apa pun pasti ada jalan. Jika kita mampu membuang pandangan emosional, maka tiada hal yang tidak mungkin

 “Tiada yang bisa menandingi para Buddha.” Biasanya orang awam mengatakan, “Saya mana bisa melakukan itu.” “Anak saya ditabrak orang hingga luka parah, lalu saya diminta memaafkan orang itu, mana bisa.” Bisa, pasti bisa. Asalkan Anda mau membuka hati, apa yang tak dapat dilakukan? Hati Buddha berisi cinta dan welas asih yang mampu merangkul semua makhluk di dunia

 Dengan hati selapang ini, tiada hal yang tak dapat kita lakukan. Jadi, Saudara sekalian, kita harus mengatasi belenggu perasaan. Jika belenggu perasaan dapat teratasi, maka segala kesulitan pasti dapat diselesaikan. Jadi, harap semua orang senantiasa melatih diri dalam kehidupan sehari-hari. Pelatihan diri hanya terletak pada bagaimana kita menghadapi orang dan masalah dalam keseharian. Jadi, senantiasalah bersungguh hati.

Leave A Comment

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

https://www.geocities.ws/moulmaths/

https://www.geocities.ws/digitalanam/

rp888

rp888