Sanubari Teduh – 183 – Enam Praktek 10 Bhumi Bagian 10
Saudara se-Dharma sekalian, hati Buddha tak tergoyahkan dan luas tanpa batas; hati Bodhisattva bagai awan cinta kasih yang bergerak menyelimuti semua makhluk. Kedua kalimat ini merupakan penyemangat bagi semua orang. Mengenai Sepuluh Bhumi, kini kita membahas yang kesepuluh. Sebelumnya adalah Bhumi Kebijaksanaan Bajik. Sebelum Bhumi Kebijaksanaan Bajik, kita membahas Bhumi Tak Tergoyahkan yang menggambarkan bahwa dalam mempelajari ajaran Buddha, kondisi batin kita harus terus ditingkatkan
Dari kondisi batin yang tak tergoyahkan, kita mengembangkan kebijaksanaan agar dapat meneguhkan batin kita. Bukankah saya sering mengatakan bahwa mempelajari ajaran Buddha berarti meneladani hati Buddha? Melafalkan nama Buddha juga tak lepas dari hati Buddha. Melafalkan nama Buddha berarti mengingat bahwa hati kita sama dengan hati Buddha. Dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus membina batin kita agar bisa sama dengan hati Buddha. Setelah mencapai kondisi hati Buddha, kita harus mempertahankan tekad melatih diri tanpa tergoyahkan sekaligus mengembangkan potensi bajik untuk terus berusaha. Kita harus benar-benar berusaha untuk mengembangkan potensi bajik. Untuk apa mengembangkan potensi bajik? Agar kita dapat menyesuaikan diri dengan penderitaan semua makhluk dan terjun ke tengah masyarakat. Manusia terbelenggu oleh 84.000 noda batin dan 84.000 penderitaan.
Kebijaksanaan Buddha menjawab kebutuhan semua makhluk untuk menghapuskan penderitaan dan mengikis noda batin mereka. Inilah kebijaksanaan Buddha. Jadi, setelah mencapai kondisi tak tergoyahkan, kita pun harus mengembangkan potensi kebijaksanaan bajik. Lalu apa lagi setelah kebijaksanaan bajik? Sekarang kita akan membahas tentang tingkatan “Bhumi Awan Dharma”. Kita semua tahu “awan”
Di siang hari kita bisa melihat langit biru terbentang dihiasi awan putih. Langit biru sangatlah luas. Namun, lihatlah, awan bisa bergerak. Ketika pergi ke Sanyi, dari lereng gunung, saya melihat awan bergulung-gulung di puncak gunung. Mobil terus berjalan ke atas. Sesampainya di perkebunan teh Sanyi, saya berjalan kaki di sana. Kabut menyelimuti kaki saya sehingga seperti berjalan di bentangan kabut putih
Saya tidak menghalangi gumpalan kabut putih itu. Kabut itu juga tidak menghalangi jalan saya. Dilihat dari kejauhan, ia seperti awan. Saat mendekat, kita bagai berada di atas awan. Inilah kondisi tanpa rintangan yang menunjukkan keindahan. Kita dapat berjalan maju tanpa rintangan. Seperti halnya sinar matahari di langit, saat langit cerah, matahari terlihat terik. Jika kita berjalan di atas tanah, maka tidak akan bisa tahan karena kepanasan
Jika segumpal awan datang dan menghalangi sinar matahari, maka kita akan merasa sejuk. Kita sering menyebutnya bagai “kanopi awan harum”. Awan yang indah menutupi sinar matahari yang panas. Sinar matahari tetap menyinari dunia. Sinarnya tetap menyebar ke seluruh penjuru, hanya saja tidak membuat kita merasa kepanasan. Ini semua berkat awan. Awan cinta kasih dapat menghapus noda batin dan penderitaan semua makhluk
Jadi, mengenai Bhumi Awan Dharma dikatakan, “Bodhisattva telah mencapai Bhumi kesepuluh.” Karena sebelumnya kita telah membahas yang kesembilan, maka kini kita akan membahas yang kesepuluh, di mana pelatihan diri telah sempurna. Jika setiap tingkatan kita telusuri satu per satu, maka kita akan memahaminya dengan mendalam. Hakikat sejati kita ternodai oleh kebiasaan buruk yang terpupuk dari kehidupan ke kehidupan. Tujuan kita melatih diri tidak lain adalah untuk menghapus noda tersebut. Jika noda tersebut terus dikikis, maka perlahan-lahan kadarnya akan berkurang hingga akhirnya benar-benar murni
Saat itulah hati Buddha tampak. Begitu hati Buddha tampak, berarti pelatihan kita selesai. Dalam melatih diri, kita harus mengerahkan usaha. Usaha apa? Saya sering mengatakan bahwa kita harus membina kerendahan hati di dalam diri. Ini karena batin kitalah yang perlu dibina
Saya sering membahas tentang pelatihan diri, yakni melatih pikiran, membina karakter, dan meluruskan perilaku. kita harus membina batin, mengubah ketidakdisiplinan dan kesombongan kita di masa lalu agar kita bisa bersikap rendah hati. Jika melihat orang yang sangat rendah hati, kita akan berkata, “Orang itu sangat terlatih.” Benar. Kemampuan dalam diri orang itu telah benar-benar dibina hingga bisa menjadi rendah hati. Karena bisa selalu rendah hati, maka disebut “berpahala”. Pahala perbuatannya sudah sempurna
Dia tidak hanya rendah hati, tetapi juga penuh rasa hormat, sopan kepada semua orang, berperilaku santun terhadap orang lain, berdisiplin, dan mematuhi tata krama. Jika bisa membina ke dalam batin sendiri serta rendah hati terhadap orang lain seperti itu, maka disebut memiliki pahala kebajikan sempurna. Jika pahala kebajikan telah sempurna, maka kemampuan untuk membina ke dalam diri dan kualitas yang ditampilkan ke luar sudah sempurna. Ini dinamakan “pelatihan diri sudah sempurna”. Berikutnya, “Hanya ingin membimbing dan membawa manfaat bagi makhluk lain.” Apa misi kita terhadap orang lain? Pembinaan batin sudah dilakukan dengan baik, kemampuan dalam diri kita sudah sempurna
Akan tetapi, apa yang harus kita lakukan bagi makhluk lain di luar? Apa misi kita? Berikutnya dikatakan, “Hanya ingin membimbing dan membawa manfaat bagi makhluk lain.” Kita hanya punya satu misi, yakni membimbing dan membawa manfaat bagi semua makhluk. Jika kita lihat, orang yang memiliki uang, nama, dan kekuasaan tampaknya sangat beruntung. Benar tidak? Sebenarnya, batin mereka dipenuhi oleh kerisauan. Saya sering mengatakan bahwa orang yang memiliki sesuatu khawatir akan kehilangan, orang yang tidak memiliki sesuatu khawatir tidak akan mendapatkan. Semua memiliki kerisauan atas memperoleh dan kehilangan
Seseorang mungkin sudah memiliki segalanya, tetapi dia tetap merasa sangat risau. Dia khawatir suatu hari nanti semua yang dimilikinya akan hilang. Seperti halnya sepasang suami istri yang saling menyayangi. Meski mereka saling menyayangi, tetapi mereka juga khawatir kelak bisa kehilangan dalam sekejap, baik karena berubahnya perasaan maupun meninggal dunia
Ini juga merupakan kerisauan. Memiliki rasa sayang juga merasa risau. Memiliki segala sesuatu berarti memiliki segala keriasuan karena takut kehilangan reputasi, kehilangan keuntungan, kehilangan kedudukan, dan lain sebagainya. Ini semua adalah noda batin. Jadi, memiliki segala sesuatu juga menimbulkan kerisauan akan segalanya
Ini dinamakan kekhawatiran akan kehilangan, takut akan kehilangan sesuatu. Sebaliknya, orang yang hidupnya kekurangan dan tidak memiliki apa-apa, malah khawatir tidak mendapatkan. Untuk mendapatkan sesuatu, dia menghalalkan segala cara sehingga terus tersesat dan kehilangan prinsip hidup. Akibatnya, dia tidak peduli hal-hal lain. Demi apa? Demi mendapatkan yang diinginkan. Jika tidak mendapatkannya, dia akan sangat risau. Jadi, orang yang tidak memiliki sesuatu khawatir akan tidak mendapatkan, sedangkan orang yang memiliki khawatir akan kehilangan. Sungguh menderita
Jadi, Buddha ingin membimbing semua makhluk, membimbing semua makhluk dari tengah noda batin menuju kebijaksanaan. Jadi, makhluk awam dan makhluk suci dipisahkan oleh sebuah sungai noda batin yang luas tanpa batas. Sebelumnya, saya juga sering mengatakan, “Saat sungai kemelekatan beriak, ombak lautan penderitaan akan bergelora.” Noda batin bagaikan sungai. Hanya demi memuaskan nafsu keinginan, kita dapat membuat ombak penderitaan bergelora. Ombak ini sangat besar. Ketika ombak dalam batin ini bergelora, ia akan membawa penderitaan tak terkira. Oleh karena itu, untuk mengarungi sungai noda batin yang sangat berbahaya, kejam, dan sulit dilalui ini, kita perlu membina kebijaksanaan
Hanya Buddhalah yang memiliki kebijaksanaan adiduniawi. Karena itu, Buddha datang ke dunia untuk membimbing makhluk awam yang diliputi noda batin agar dapat mengikis semua noda itu. Untuk menolong dan membimbing semua makhluk, dibutuhkan 84.000 pintu Dharma untuk mengobati 84.000 noda batin
Inilah cinta kasih dan welas asih Buddha dalam membimbing semua makhluk. Tidak hanya menolong dan membimbing, Buddha juga memberi manfaat bagi semua makhluk. Karena ada banyak makhluk menderita yang harus diselamatkan, maka Buddha menggunakan perumpamaan “cinta kasih agung bagai awan”. Kita sering berkata, “Awan cinta kasih menyelimuti alam semesta.” Artinya, meski matahari bersinar terik, tetapi asalkan tertutup oleh awan, maka panasnya akan berkurang. Selain panasnya berkurang, kita juga bisa melihat pemandangan langit biru dan awan putih yang indah
Jadi, dikatakan bahwa hati Buddha bagaikan langit biru yang luas tak terbatas. Hati Bodhisattva bagai awan cinta kasih yang menyelimuti semesta. Ia bisa membuat orang-orang yang berada di bawah terik matahari mendapatkan kesejukan. Inilah tingkatan Buddha dan Bodhisattva dalam Sepuluh Bhumi. Mereka bisa menyelimuti alam semesta dan membuat semua orang dapat meredam dan mengikis noda batin. ========= Jadi, “Meski memberi manfaat bagi makhluk lain, batin tetap hening tak tergoyahkan.” Bodhisattva berada di tengah umat manusia
Dia harus berusaha keras sepenuh hati di tengah banyak makhluk yang penuh noda batin. Bagaimana pun kondisi yang dihadapinya, hatinya harus tetap tidak tergoyahkan. Meski kita tengah berusaha menyelamatkan semua makhluk, tetapi sebagian dari mereka keras kepala dan sulit dibimbing. Sama seperti orang tua. Cinta kasih orang tua terhadap anak mereka sangat mendalam. Melihat sang anak terpengaruh hal buruk dan tersesat, sebagai orang tua tentu harus membimbing
Jika anak tidak bisa dibimbing, orang tua akan risau. Akan tetapi, Bodhisattva menganggap semua makhluk di dunia sebagai anak sendiri. Setiap orang sama seperti anak kita sendiri. Dengan hati Bodhisattva seperti ini, kita menghadapi semua makhluk dan membimbing mereka dengan sepenuh hati agar mereka bisa terbimbing. Artinya, kita berharap dengan metode yang kita ajarkan, mereka bisa mengubah diri sendiri. Ini yang disebut “terbimbing”. Setelah berhasil menggunakan cara ini untuk mengubah pikiran mereka, mereka pun menerapkannya
Setelah itu, noda batin mereka pun teratasi. Dengan demikian, kita akan bersukacita. Jadi, saat menghadapi orang yang keras kepala dan sulit dibimbing, kita harus terus berusaha. Meski mereka sulit dididik dan dibimbing, kita harus tetap sabar mendampingi mereka. Kita sering membahas tentang memberi penghiburan dan pendampingan. Benar. Ini seperti orang dewasa melihat anak kecil terluka
Mereka segera menuntunnya. Ketika anak itu menangis, kita segera menghiburnya, “Tidak apa-apa.” “Jangan menangis.” Setelah menghibur mereka dengan cinta kasih, kita juga harus mendampingi mereka. Intinya, hati Bodhisattva sungguh lapang dan selalu berpikir untuk memberi manfaat bagi semua makhluk. Memberi berarti mengembangkan cinta kasih kita. Saat mempraktikkan hal ini di tengah masyarakat, kita harus membawa manfaat bagi semua makhluk. Namun, saat dihadapkan dengan kondisi apa pun, hati kita tetap tidak tergoyahkan
Inilah hati Bodhisattva yang teguh, seperti hati Buddha yang tak tergoyahkan. Buddha dan Bodhisattva menggunakan banyak cara tak lain untuk menyelamatkan semua makhluk. Jadi, inilah “Bhumi Awan Dharma”. Dengan kebijaksanaan tanpa batas, Bodhisattva mengamati, mencapai pencerahan, merealisasi manifestasi Samadhi, dan memahami Dharma nan agung. Ini karena Bodhisattva telah mencapai kondisi hati Buddha yang tak tergoyahkan. Mereka merealisasi banyak manifestasi, seperti manifestasi kebijaksanaan. Ini semua telah kita bahas sebelumnya
Manifestasi kebijaksanaan ini tidak terbatas. Dengan kebijaksanaan membara tanpa batas ini, kita mengamati semua makhluk dengan saksama. Dengan begitu, Samadhi pun termanifestasi. Samadhi berarti meditasi, konsentrasi benar, dan tindakan benar. Batin kita sudah tidak bergejolak. Meski kondisi di luar kacau balau, tetapi batin kita tetap berada dalam meditasi, tidak terpengaruh oleh kondisi luar sehingga memahami Dharma yang agung. Kita sudah memperoleh banyak Dharma. Pintu Dharma yang Buddha bukakan untuk kita sudah kita telusuri satu per satu
Karena itu, kini kita harus mempraktikkannya secara nyata. Tubuh Dharma bagaikan awan yang menyelimuti semua makhluk, sempurna dan bebas. Mematahkan segala rintangan ke arah kebebasan dalam segala sesuatu dan merealisasi aspek kebebasan aktivitas dari kedemikianan, inilah yang dinamakan Bhumi Awan Dharma yang mematahkan rintangan dan merealisasi kebenaran. Tubuh Dharma bagaikan awan. Kita harus berusaha mencapainya. Dharma bagaikan awan. Tadi saya bercerita bahwa saat berada di Sanyi, dari lereng gunung saya melihat awan. Sesampainya di atas gunung, awan menyelimuti tubuh kita
Saat kita berjalan maju, tidak ada halangan apa pun. Kita tidak membentur awan, awan pun tidak menghalangi kita. Ini seperti tubuh Dharma kita, sangat murni. Kondisi berjalan apa adanya tanpa saling menghalangi. Jadi, “tubuh Dharma bagaikan awan” merupakan sebuah perumpamaan. “Menyelimuti semua makhluk, sempurna dan bebas.” Kita bisa merangkul semua makhluk tanpa kecuali. Kita sendiri juga harus menyempurnakan kekuatan Samadhi. Dengan Samadhi, kita akan tenang dan damai
Mengenai hal ini, juga sudah sering kita bahas. Dalam kondisi apa pun, kita harus tenang dan damai. Batin kita harus tenang. Hati kita pun harus damai. Karena itu, dikatakan, “Mematahkan segala rintangan ke arah kebebasan dalam segala sesuatu.” Batin kita harus benar-benar damai dan bebas. Sungguh banyak rintangan yang secara alami menghalangi kita. Ini karena adanya kejahatan
Saat menjalankan kebaikan, ada berbagai kejahatan yang menghambat. Jadi, jika kita bisa memiliki batin yang bebas, maka secara alami semua rintangan akan terpatahkan. Rintangan yang menghambat kebebasan adalah kejahatan, sedangkan yang harus kita dapatkan adalah ajaran baik yang membawa kebebasan. Dengan begitu, kejahatan tak dapat menghalangi. “Merealisasi aspek kebebasan aktivitas dari kedemikianan.” Kita pun dapat merealisasi kebebasan dari kedemikianan. Setiap orang memiliki hakikat yang cemerlang. Ini yang disebut “Bhumi Awan Dharma yang mematahkan rintangan dan merealisasi kebenaran”
Saudara sekalian, mempelajari ajaran Buddha sesungguhnya sederhana. Semua tak lepas dari kehidupan kita. Asalkan di dalam masyarakat keteguhan hati kita tidak terpengaruh oleh noda batin yang ada di tengah masyarakat, dan kita dapat meneguhkan hati kita untuk mengembangkan potensi bajik kita, berarti jalan kita sudah benar. Jadi, semoga semua orang bisa menggunakan hati Buddha yang lapang tak tergoyahkan. Kita harus menggunakan potensi bajik yang bagai aliran awan Dharma untuk menyelimuti semua makhluk
Jadi, kita semua harus selalu bersungguh-hati.